July 14, 2018

LAPORAN PENDAHULUAN ARITMIA VENTRIKULER


LAPORAN PENDAHULUAN
ARITMIA VENTRIKULER

A.    PENGERTIAN
Ø  Aritmia atau gangguan irama jantung merupakan jenis komplikasi yang paling seringterjadi selama infark miokardium, yang tim,bul sebagai akibat perubahan elektrofisiologi sel-sel miokardium.
Ø  Aritmia atau istilah lainya disritmia dapat juga didefinisikan sebagai gambaran irama jantung yang tidak memenuhi kriteria irama sinus ( sinus rhythm ), yaitu irama jantung normal, yang impulsnya berasal dari nodus SA, dan disalurkan melalui system hantaran yang utuh dan normal.
Ø  Aritmia ventrikel adalah suatu kelainan irama jantung yang terjadi akibat dari Gangguan pembentukan impuls di ventrikel sebagai akibat dari penguatan automatisitas dibawah nodus atrioventrikular sehingga menyebabkan perubahandalam kecepatan denyut ventrikel ( Buku ajar Kardiologi, FK UI, hal 275 )

B.   ETIOLOGI
            Penyebab yang paling umum dari aritmia ventrikel adalah penyakit miokard (iskemi dan infark), yang disertai dengan perubahan keseimbangan elektrolit, gangguan metabolisme, toksisitas obat dan vasospasme coroner. Karena implus berasal dari ventrikel, maka tidak melalui system konduksi yang normal melainkan jaringan otot ventrikel. Hal ini menimbulkan gambaran kompleks QRS yang lebar (< 0,12 detik)
            Penyebab dasar suatu aritmia sering sulit dikenali tetapi beberapa faktor aritmogenik berikut ini dapat menjadi perhatian :
1.    Hipoksia : miokardium yang kekurangan oksigen menjadi iritabel
2.    Iskemia : infark miokard dan angina menjadi pencetus
3.    Stimulasi simpatis : menguatnya otot tonus karena penyebab apapun (hypertiroid, gagal jantung kongesti, latihan fisik dll) dapat menimbulkan aritmia.
4.    Obat–obatan : efek dari pemberian obat–obatan digitalis atau bahkan obat-obatan anti arimia itu sendiri
5.    Gangguan elektrolit : ketidak seimbangan kalium, kalsium dan magnesium
6.    Bradikardi : frekuensi jantung yang sangat lambat dapat menjadi predisposisi aritmia
7.    Regangan (stretch) : hipertrofi ventrikel
Dua jenis komplikasi infark miokardium yang harus ditanggulangi adalah :
a.    Ketidakstabilan elektris atau aritmia
b.    Disfungsi mekanik atau kegagalan pompa jantung

C.   MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejalan yang timbul pada pasien aritmia :
1.    Perubahan TD ( hipertensi atau hipotensi ); nadi mungkin tidak teratur; defisit nadi; bunyi jantung irama tak teratur, bunyi ekstra, denyut menurun; kulit pucat, sianosis, berkeringat; edema; haluaran urin menurun bila curah jantung menurun berat.
2.    Sinkop, pusing, berdenyut, sakit kepala, disorientasi, bingung, letargi, perubahan pupil.
3.    Nyeri dada ringan sampai berat, dapat hilang atau tidak dengan obat antiangina, gelisah
4.    Nafas pendek, batuk, perubahan kecepatan/kedalaman pernafasan; bunyi nafas tambahan (krekels, ronki, mengi) mungkin ada menunjukkan komplikasi pernafasan seperti pada gagal jantung kiri (edema paru) atau fenomena tromboembolitik pulmonal; hemoptisis.
5.    Demam; kemerahan kulit (reaksi obat); inflamasi, eritema, edema (trombosis siperfisial); kehilangan tonus otot/kekuatan
 Tanda – tanda aritmia ventrikel :
1.      Gambaran klinis
Pasien dengan aritmia, gejala awal yang sering ditemukan adalah :
a)      Palpitasi yaitu orang tersebut merasakan denyut jantungnya sendiri bertambah cepat atau
melambat.
b)    Tanda – tanda penurunan curah jantung seperti
§  Pasien mengeluh pusing yang disertai sinkop ( pingsan )
§  Pulsasi lemah, hemodinamik menurun, akral dingin
b)      Pasien kejang dan kesadaran menurun
2.      Gambaran electrocardiogram
Ventrikel ekstrasistol karena denyur berasal dari ventrikel, maka tidak melalui system konduksi yang normal. QRS tidak hanya premature tetapi melebar dengan gelombang T yang berlawananan didefleksinya dengan kompleks QRS. VES digambarkan melalui pola dan frekuensi timbulnya bisa jarang, kadang – kadang atau sering.

D.   KLASIFIKASI ARITMIA VENTRIKEL
Jenis – jenis aritmia ventrikel adalah :
1.      Ventrikel ekstrasistol ( VES, PVB , PVC )
Aritmia ventrikel yang terjadi sewaktu tempat ektopik di ventrikel mengalami depolarisasi spontan dan menyebabkan kontraksi ventrikel. Biasanya terjadi bila suatu bagian ventrikel mengalami iritasi atau cedera akibat kekurangan oksigen. QRS tidak hanya lebar, tetapi timbul premature dengan gelombang T yang berlawanan defleksinya dengan kompleks QRS.
Ventrikel ekstra sistol dapat mengakibatkan berkurangnya volume sekuncup,              karena ventrikel yang belum terisi penuh oleh darah saat sebelum kontraksi akibat dari VES yang biasanya timbul setiap saat dalam siklus jantung.
           Bentuk Ves yang berbahaya adalah :
         Ves lebih dari 6 kali permenit
         VES “ bigemini “ yaitu satu sinus satu VES secara bergantian
         VES “ multifokal “ yaitu memiliki dua atau lebih bentuk yang berbeda
         VES “ konsekutif “ yaitu muncul VES berurutan, dua atau lebih
         VES “ R on T “ yaitu VES yang jatuh pada gelombang T denyut sebelumnya
 2.      Ventrikel takikardi VT )
a)      Ventrikel takikardi adalah aritmia ventrikel yang terjadi sewaktu kecepatan denyut ventrikel mencapai 100 sampai 200 kali permenit.
b)      Volume sekuncup akan berkurang akibat waktu pengisian yang sangat terbatas. VT yang berlangsung lama merupakan keadaan gawat darurat yang
c)      menjadi pertanda henti jantung.
d)      Tiga atau lebih VES yang berturut-turut dapat disebut Ventrikel
e)       takikardia. Irama biasanya teratur , gelombang P tidak ada dan gelombang QRS yang lebar. VT dapat terjadi sebagai irama yang pendek dan tidak terus-
f)       menerus atau lebih panjang dan terus- menerus.
3.      Ventrikel fibrilasi VF )
                        Ventrikel fibrilasi merupakan aritmia ventrikel yang sangat ekstrim,
            paling sering mendahului kematian mendadak pada orang dewasa. VF terjadi
            bila ventrikel mengalami depolarisasi secara kacau dan cepat , sehingga ventrikel tidak berkontraksi sebagai satu unit tetapi bergetar secara inefektif. Mekanisme yang terjadi pada VF adalah jantung tidak dapat menghasilkan curah jantung , tekanan darah tidak terukur dan cardiac arrest.
                        Memiliki irama tidak teratur dengan frekwensi  yang tidak dapat dihitung, gelombang P tidak ada dan kompleks QRS lebar seta tidak teratur. Tidak ada jarak kompleks yang terlihat, hanya ada oksilasi tidak teratur dari garis dasar.
            Terdapat jenis VF kasar ( coarse VF ) dan VF halus ( fine VF ).

E.     PATOFISIOLOGI
Seperti yang sudah disebutkan diatas, aritmia ventrikel umumnya disebabkan oleh iskemia atau infark myokard.Lokasi terjadinya infark turut mempengaruhi proses terjadinya aritmia. Sebagai contoh, jika terjadi infark di anterior, maka stenosis biasanya barada di right coronary artery yang juga berperan dalam memperdarahi SA node sehingga impuls alami jantung mengalami gangguan.
Akibat dari kematian sel otot jantung ini, dapat menimbulkan gangguan pada depolarisasi dan repolarisasi jantung, sehingga mempengaruhi irama jantung. Dengan dilepaskannya berbagai enzim intrasel dan ion kalium serta penimbunan asam laktat , maka jalur-jalur hantaran listrik jantung terganggu. Hal ini dapat menyebabkan hambatan depolarisasi atrium atau ventrikel serta timbulnya aritmia. Penurunan kontraktilitas myokard akibat kematian sel juga dapat menstimulus pangaktifan katekolamin yang meningkatkan rangsang system saraf simpatis, akibatnya akan terjadi peningkatan frekuensi jantung, peningkatan kebutuhan oksigen dan vasokonstriksi. Selain itu iritabilitas myokard ventrikel juga menjadi penyebab munculnya aritmia ventrikel, baik VES< VT maupun VF.

F.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.   Elektrokardiogram ( EKG )
a). Resting EKG : rekaman EKG yang dibuat pada saat pasien berbaring atau
     istirahat
b). Exercise EKG ( stress test ) : menggunakan tread mill test atau ergocycle
     sementara irama jantung tetap dimonitor
c). Holter monitoring : monitor irama jantung yang dilakukan selama 24 jam
     dengan memasang electrode di tubuh ( dada ) pasien, sementara pasien
     tetap melakukan aktifitas harian.
d). Transtelephonic monitoring : pasien menggunakan tape recorder untuk
      merekam irama jantung dalam beberapa hari/minggu, jika pasien
      merasakan tanda- tanda aritmia, maka ia menghubungi stasiun
      monitoring.
2.      Pemeriksaan laboratorium:
a). Elektrolit : peningkatan atau penurunan kalium, kalsium dan magnesium
     dapat menyebabkan aritmia.
b). Toksisitas obat : kelebihan dosis obat-obat seperti digitalis, quinidin
     dapat menyebabkan aritmia
c). Hormon tyroid : peningkatan atau penurunan kadar tyroid serum dapat
     menyebabkan aritmia
d). Laju sedimentasi: peningkatannya dapat menunjukkan proses inflamasi
      akut : endokarditis yang dapat mencetuskan aritmia
e). Analisa gas darah : hypoksemia dapat menyebabkan aritmia
3.      Pemeriksaan foto : foto thorax dapat menunjukkan pembesaran jantung se-
hubungan dengan disfungsi ventrikel / katup
4.      Stress test : dapat dilakukan untuk mendemonstrasikan latihan yang dapat
   menyebabkan aritmia
5.      Elektrophysiologic study ( EPS )
Untuk mengetahui jenis, tipe, tempat aritmia dan respon terhadap
pengobatan dengan menggunakan catheterisasi jantung.

G. PENATALAKSANAAN
a.    Penatalaksanaan medis pada aritmia ventrikel dapat dilakukan dengan dua cara yaitu :
1.    Obat-obatan anti aritmia
Penggunaan obat-obatan anti aritmia harus berhati-hati, karena efek obat tersebut juga bisa menyebabkan aritmia atau memperburuk aritmia. Obat anti aritmia diberikan pada kondisi pasien dengan hemodinamik yang stabil.
Jenis obat-obatan yang digunakan sebagai anti aritmia ventrikel adalah:
a)       Amiodaron
Pada VT atau VF tanpa nadi diberikan 300 mg iv bolus diencerkan
20-30 cc, dapat diulang dengan dosis 150 mg selang waktu 3-5
menit sampai dosis maksimal 2,2 gram dalam 24 jam. Dapat
diberikan secara drip dengan dosis 0,5 mg/ menit
b). Lidokain
         Pada cardiac arrest dosis 1,0 – 1,5 mg/kg BB iv bolus dan dapat
         diulang dengan dosis 0,5 – 0, 75 mg/kg BB. Dapat diberikan
         perdrip dengan dosis 1-4 mg / menit.
    c). Magnesium sulfat
         Pada ventrikel fibrilasi diberikan dengan dosis 1-2 gr diencerkan 
         dalam 10 cc iv bolus dan diberikan cepat dengan memperhatikan
         efek hipotensi dan asistol.
2.   Terapi dengan listrik, meliputi:
a). Defibrilasi
            - Pengobatan dengan menggunakan aliran listrik dalam waktu yang
               singkat secara unsinkron
            - Indikasi : Ventrikel fibrilasi dan ventrikel takikardi tanpa nadi
            -  Energi pertama adalah 200 joule, kedua 200-300 joule, ketiga 360 joule
            - Jenis alat : selain defibrillator yang biasa digunakan di rumah sakit,  
             ada jenis lain dari alat ini yaitu:
             •  Automatic External defibrillator ( AED )
                Yaitu defibrillator otomatis yang dapat dipakai oleh orang awam,
                Tanpa harus mengenali gambaran EKG, karena defibrillator
                 tersebut akan secara otomatis menganalisa dan menginstrusikan
                 perlu tidaknya dilakukan defibrilasi.
             • AICD ( automatic implantable cardioverter defibrillators )
                yaitu alat defibrilasi yang ditanam dibawah kulit pasien, dan jika
                VT atau VF terdeteksi maka AICD mengeluarkan 0,05 sampai 34
                Joule listrik dan dapat berulang sampai 4 kali jika aritmia menetap.
                Menurut penelitian Robert Sheldon, seorang doctor dari Universitas
                di Kanada, AICD lebih baik dibanding pengobatan untuk pasien
                lansia, terbukti dapat menurunkan angka kematian 30 % pada pen-
               derita VF/VT.
         b). Cardioversi
              • Pengobatan yang menggunakan aliran listrik dalam waktu
                 singkat secara sinkron
              • Indikasi pada aritmia ventrikel : Ventrikel takikardi dengan
                 nadi ( + ) dan hemodinamik tidak stabil
              • Energi pertama adalah 100 joule, kedua 200 joule, ketiga 300
                 joule dan keempat 360 joule.
      3.    PTCA ( Percutaneous Transluminal Coronary Angioplasty )
     • Bertujuan membuka pembuluh darah koroner yang me-
        nyempit dengan cara dilatasi dengan kateter balon
        sehingga aliran darah pulih kembali.
     • Indikasi: ventrikel takikardi dan ventrikel fibrilasi ber-
        ulang yang berhubungan dengan iskemik miokard, syok
        kardiogenik
 Adapun penatalaksanaan menurut jenis aritmia adalah :
a). Ventrikel Ekstra sistol  ( VES  )
1.      Mengatasi penyebab aritmianya, misalnya karena gangguan elektrolit , maka elektrolit dikoreksi terlebih dahulu.
2.      Jika VES jarang sekali biasanya, biasanya tidak memerlukan agen
anti aritmia. 
3.      Jika VES sering atau > 6 x/ mnt, berurutan atau multiform diatasi
dengan agen anti aritmia seperti amniodaron atau lidokain   
b). Ventrikel takikardia ( VT )
1.      Jika pasien secara hemodinamik stabil, maka diatasi dengan agen antiaritmia
2.      Jika pasien menjadi tidak stabil, tetapi nadi (+ ) , maka dilakukancardioversi ( sinkronisasi ) dengan energi mulai dari 100 joule
3.      Jika nadi tidak teraba, maka dilakukan defibrilasi dengan energi mulai dari 200 joule.
c). Ventrikel fibrilasi
1.      Pada keadaan emergency dimana alat defibrilasi tidak siap, maka  dapat dilakukan prekordial thump ( pukulan )
2.      Jika alat defibrilasi sudah siap, segera lakukan defibrilasi dengan energi awal 200 joule, lalu 300 joule dan 360 joule
3.      Jika tidak terjadi perubahan, dapat dilakukan kompresi eks-
ternal sambil menunggu alat siap
4.      Jika aritmia terjadi secara kontinue, maka untuk jangka panjang dapat digunakan AICD.
  Penatalaksanaan perawatan secara umum bertujuan untuk :
1.      Mencegah atau mengobati aritmia yang mengancam jiwa
2.      Mencegah komplikasi lebih lanjut yang terjadi akibat aritmia dan
         penatalaksanaannya.
4.         Mendukung pasien atau keluarga dalam menerima kecemasan atau takut terhadap resiko
   situasi yang mengancam hidup.
5.      Membantu mengidentifikasi penyebab atau factor pencetus
6.      Mengkaji informasi sehubungan dengan kondisi/ prognosis / program
         pengobatan.

ASUHAN KEPERAWATAN
1.    Pengkajian
DATA SUBJEKTIF
DATA OBJEKTIF
Gambaran EKG : Ventrikel Ekstra Systole & Ventrikel Takikarda
Irama : sinus rhytm
Pemeriksaan Laboratorium :
- Kalium : 1,8 mmol/L

Data yang perlu dikaji :
a.       Data Subjektif
§  Kemungkinan pasien mengeluh nafas nya pendek dan batuk
§  Kemungkinan timbul keluhan pusing dan sakit kepala
§  Kemungkinan timbul keluhan lemah dan lelah
§  Kemungkinan pasien merasakan denyut jantung nya bertambah cepat
§  Kemungkinan timbul keluhan nyeri dada ringan – berat
§   Kemungkinan pasien mengeluhkan berkeringat
§   Kemungkinan pasien mengeluh cemas dan takut akan kematian
b.      Data Objektif
1)      Pada Pemeriksaan Fisik kemungkinan ditemukan :
  Nadi : 150-210 x / menit dan irama : regular atau ireguler
  RR : > 20 x / menit
  Bunyi napas tambahan (krekels, ronki, mengi)
  Perubahan tekanan darah : hipertensi atau hipotensi
2)      Kemungkinan ditemukan kapilary refill > 3 detik
3)      Kemungkinan ditemukan kulit pucat dan sianosis
4)      Kemungkinan ditemukan tingkat penurunan tingkat kesadaran
5)       Kemungkinan ditemukan akral dingin
6)       Pemeriksaan rontgen thorax, kemungkinan ditemukan pembesaran jantung

2.    Diagnosa Keperawatan
DATA FOKUS
PROBLEM
ETIOLOGI
DS :
Data kasus :

Data dari hasil pengkajian :
-     Pasien merasakan denyut jantung nya bertambah cepat
-     Pasien mengeluh lemah dan lelah

DO :
Data Kasus :
-     Gambaran EKG aritmia
-     Kalium : 1,8 mmol/L
Data dari hasil pengkajian :
-     Nadi : 150-210 x / menit dan irama : regular atau ireguler
-     RR : > 20 x / menit
-     Bunyi napas tambahan (krekels, ronki, mengi)
Penurunan curah jantung
penurunan kontraktilitas myokard
DS :
Data kasus :
-
DO :
Data kasus :
-     Gambaran EKG aritmia
-     Kalium : 1,8 mmol/L
Data dari hasil pengkajian :
-     Akral dingin
-     Kulit pucat dan sianosis
-     Kapilary refill > 3 detik
Gangguan perfusi jaringan
Tidak efektifnya
daya pompa jantung
DS :
Data Kasus :

Data dari hasil pengkajian :
-     Pasien mengeluh cemas dan takut akan kematian
DO :
Data kasus :
Data dari hasil pengkajian :
-     Nadi : 150-210 x / menit dan irama : regular atau ireguler
-     Kulit pucat dan sianosis
Ansietas
Takut ancaman kematian

3.    Intervensi
Dx
TUJUAN DAN KRITERIA HASIL
INTERVENSI KEPERAWATAN
1
Dx :
Penurunan curah jantung b.d penurunan kontraktilitas miokard
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan :
-     Tanda-tanda vital :
Nadi : 80 – 100x/menit
RR : 16 – 24 x/ menit
TD :120/80 x/menit
-     Gambaran EKG normal
-     Kalium : 3,5 - 5 mmol/L
MANDIRI
-   Ukur tanda-tanda vital TD, Nadi, RR tiap jam atau sesuai indikasi.
Rasional : dapat memonitor setiap perubahan hemodinamik secara cepat.
Palpasi nadi dan kaji kelainan yang timbul
Rasional : mengetahui kelainan pulsasi dan kelainan irama yang timbul
Auskultasi bunyi jantung, dan kaji irama jantung
Rasional : mengetahui kelainan bunyi jantung
Beri oksigen sesuai kebutuhan dan kolaborasi
Rasional : untuk memenuhi kebutuhan oksigen
KOLABORASI
Pantau pemeriksaan laboratorium (elektrolit)
Rasional : untuk memantau elektrolit
Kolaborasi untuk pemberian obat antiaritmia
Rasional : untuk menghentikan aritmia
Tindakan bedah sesuai indikasi
Rasional : untuk memperbaiki aliran darah koroner
2
Dx :
Gangguan perfusi jaringan b.d tidak efektifnya daya pompa jantung.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan :
-     Gambaran EKG normal
-     Kalium : 3,5 - 5 mmol/L
-      
MANDIRI
-   Monitor perubahan EKG
Rasional : mengetahui perubahan irama jantung secara continue
-   Monitor tanda-tanda vital
Rasional : untuk memonitor gangguan hemodinamik dan pernapasan secara cepat
-   Kaji bunyi jantung S3 dan S4
Rasional : untuk mengatahui timbulnya bunyi jantung yang abnormal
-   Berikan posisi semifowler
Rasional : untuk mengurangi penekanan diafragma dan melancarkan jalan napas
-   Batasi penunjung
-   Rasional : untuk mengurangi beban jantung
KOLBORASI
-   Pemeberian obat antiaritmia dan pemeberian diet
-   Rasional : untuk menghentikan aritmia dan mengatur kebutuhan kalori.
3
Dx :
Ansietas b.d takut ancaman kematian.
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam, diharapkan :
-     Gambaran EKG normal
-     Kalium : 3,5 - 5 mmol/L
MANDIRI
-   Kaji rasa takut klien
Rasional : untuk mengathui penyebab kecemasan/ketakutan
-   Kaji koping pasien dan mengidentifikasi dan mengatasi masalah
Rasional : untuk mengatahui apakah pasien menggunakan koping positif dalam mengatasi masalah
-   Bantu pasien dalam mengungapkan kecemasan
Rasional : untuk mengurangi tingkat kecemasan pasien
-   Beri informasi tentang produce tindakan, pegobatan dan lain-lain yang mencemaskan pasien
Rasional : untuk mengetahui kecemasan pasien dengan mengathui prosedur pengobatan dll


DAFTAR PUSTAKA 
         Wood, SL Froelicher, ES ( 2000 ). Cardiac Nursing, Philadelphia:
        Lippincott and Wilkins
      Tucker, RN, BSN< PHN, Susan Martin, ( 1988 ), Patient care standards, The CV Mosby Company,             ST . Louis, Washington DC, Toronto.
        Cummins, MD, MPH, MSC, Richard, ( 1999 ). Advance Cardiac
        life support American heart association
        Doengoes, Marrilyn E, ( 2000 ), Nursing Care Plans : guidelines for
Planning and documenting patient care, EGC , Jakarta
         Hudak, RN, PHD, Carolyn M, Gallo, RN< MS< Barbara M 1987 )
Critical care nursing : aholistic approach, EGC, Jakarta
        Donna D Ignatavicius, MS, RN, ( 1991 ), Medical Surgical Nursing:
A nursing process approach, Philadelpia : WB Saunders Company
        Thaler, Malcom S, The only ECG book you’ll ever need ( 1995 ),
JB. Lippincott company : Philadelphia, USA
        Rilantono, Lili Ismudiati, dkk ( 2001 ), Buku ajar Kardiologi, Fakultas Kedokteran Universitas                Indonesia

No comments:

Post a Comment

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...