BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Fistula Vesiko
Vagina banyak ditemukan di negara sedang berkembang sebagai akibat persalinan
yang lama maupun penanganan yang kurang baik. Di negara maju Fistula Vesiko
Vagina terbanyak disebabkan oleh tindakan operasi histerektomi baik secara
abdominal maupun transvaginal. (Sarwono, 2010)
Fistula Vesiko
Vagina merupakan kasus yang tidak seorangpun membayangkan akan terjadi pada
dirinya. Penderitaan pasien, bukan hanya pada fisik saja berupa mudahnya
mengalami ISK, namun memiliki dampak psikososial yang dirasakan lebih
menyakitkan. Penderita merasa terisolasi dari pergaulan, keluarga dan
lingkungan kerjanya oleh karena senantiasa mengeluarkan urine dan bau yang
tidak sedap setiap saat. Tidak jarang suami akan meninggalkannya dengan alasan
tidak terpenuhinya kebutuhan biologis dengan wajar. (Sarwono, 2010)
Kasus Fistulla
Obstetri seringkali dialami oleh para wanita dari kalangan sosio ekonomi yang
rendah dimana pada saat kehamilan dan persalinan tidak mendapat pelayanan yang
memadai sehingga persalinan berlangsung lama dan terjebak pada persalinan
kasip.
Kompresi kepala
janin pada jalan lahir akan menyebabkan dinding vagina, kandung kemih serta
urethra mengalami nekrosis dan selanjutnya akan terjadi fistula. Kehidupan
masyarakat dengan tingkat sosio ekonomi yang rendah akan menyebabkan gangguan
kekurangan gizi yang menahun, akibatnya pada saat usia reproduksi dan
melahirkan kelak akan mengalami gangguan imbang janin dan jalan lahir.
Pada kasus
seperti ini apabila tidak mendapatkan pelayanan obstetri yang memadai saat
persalinan, penderita akan mengalami persalinan kasip.
Angka kejadian
pasti di Indonesia sulit didapatkan oleh karena banyak laporan hanya
menggambarkan kejadian pada penderita yang datang ke Rumah Sakit. WHO (1991)
melaporkan angka kejadian di Afrika 55 – 80 per 100.000 kelahiran hidup. Di
Ethiopia 90 % disebabkan oleh persalinan kasip.
1.2
TUJUAN
1.2.1 Tujuan
Umum
Penulis
mampu menerapkan dan terlatih dalam melaksanakan asuhan kebidanan pada ibu post
fistuloraphy secara komprehensif.
1.2.2 Tujuan
Khusus
Setelah
melakukan asuhan
kebidanan pada ibu post fistuloraphy , mahasiswa mampu:
1. Melakukan
pengkajian objektif dan subjektif akan asuhan kebidanan pada ibu post
fistuloraphy.
2. Mampu
merencanakan tindakan guna asuhan kebidanan pada ibu post fistuloraphy.
1.3
MANFAAT
1.3.1 Bagi
Institusi Pendidikan
Sebagai
salah satu bahan referensi pada penanganan kasus pada klien dengan keperluan asuhan kebidanan pada post
fistuloraphy.
1.3.2 Bagi
Lahan Praktek
Dapat
memberikan suatu masukan dalam upaya peningkatan mutu dan pelayanan pada asuhan kebidanan pada ibu post
fistuloraphy.
1.3.3 Bagi
Penulis
Dapat
melaksanakan dan menerapkan asuhan
kebidanan pada ibu post fistuloraphy.
1.4
TEKNIK
PENGUMPULAN DATA
1.4.1 Anamnesa
Pengumpulan data
dengan cara Tanya jawab secara langsung antara petugas kesehatan dengan klien
dan keluarga.
1.4.2 Observasi
Melalukan
pengamatan langsung pada perubahan yang terjadi pada klien.
1.4.3 Studi
pustaka
Mempelajari
referensi dan makalah tentang asuhan kebidanan pada ibu post fistuloraphy.
1.4.4 Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan
klien yang meliputi inspeksi, palpasi, auskultasi dan perkusi untuk memperoleh
data objektif secara head to toe.
1.4.5 Dokumentasi
Memperoleh data dengan
melihat data dalam status klien dan catatan medik.
BAB II
TINJAUAN
TEORITIS
2.1
Pengertian
Fistula
genitourinaria adalah terbentuknya hubungan antara traktus genitalis dan
traktus urinarius. Bentuk yang tersering adalah fistula vesikovaginal dan
fistula ureterovaginal.
Fistula
vesikovaginal yaitu terbentuknya fistel atau lubang pada dinding vagina
yang menghubungkan kandung kemih dengan vagina, akibatnya urine keluar melalui
saluran vagina tanpa disadari. (Sarwono, 2010)
2.2
Etiologi
Banyak faktor yang dapat menyebabkan terjadinya Fistula Vesiko Vagina antara
lain :
1.
Komplikasi Obstetrik, yaitu terjadi
karena persalinan.
a.
Karena robekan oleh forceps,
alat-alat yang meleset atau karena sectio sesare
b.
Karena nekrosis tekanan, dimana
jaringan tertekan lama antara kepala anak dan sympisis seperti pada persalinan
dengan panggul sempit, hydrocepalus atau kelainan letak. Kalau pembukaan belum
lengkap dapat terjadi fistula cervicalis atau fistel ureter, sedangkan pada
pembukaan lengkap biasanya terjadi fistula vesico vaginalis. Pengawasan
kehamilan yang baik disertai pimpinan dan penanganan persalinan yang baik pula
akan mengurangi jumlah fistel akibat persalinan.Fistel karena perlukaan atau
robekan terjadi segera setelah partus, sedangkan fistel karena nekrosis (partus
lama) terjadi 4-7 hari post partum.
2.
Operasi Ginekologi, terjadi pada :
a.
Karsinoma, terutama karsinoma
servisis uteri
b.
Karena penyinaran : baru timbul 2-5
tahun setelah penyinaran
c.
Karena operasi ginekologis : pada
histerektomi abdominal dan vaginal atau operasi untuk prolaps dapat terjadi
perlukaan vesika urinaria. Pada histerektomi totalis dapat terjadi lesi dari
ureter atau kandung kemih.
3.
Fistula Traumatik, terjadi pada:
a.
Pada abortus kriminalis
b.
Perlukaan oleh benda-benda runcing,
misalnya karena terjatuh pada benda yang runcing.
c.
Karena alat-alat : kateter, sonde,
kuret
4.
Penyebab lain yang jarang ditemukan
seperti kondisi peradangan saluran pencernaan, penyakit chronis, trauma yang
berasal dari benda asing dan kelainan kongenital
2.3 Gejala
Secara klinis gejala Fistula Vesiko
Vagina mengalami inkontinen urine dan tidak ada rasa nyeri. Komplikasi yang
sering terjadi yaitu adanya iritasi pada daerah perineum dan paha atas,
dermatitis kronis, infeksi saluran kemih serta penumpukkan kristal (Calculi
pada buli-buli), amenorrhoe sekunder sebagai akibat sentral oleh karena depresi
berat dan endometritis. Juga dapat terjadi striktura / stenosis vagina yang
merupakan gejala yang sering bersamaan dengan fistula.
Fistula sebagai akibat trauma
obstetrik dapat timbul segera setelah persalinan atau beberapa lama setelah
persalinan, sedangkan fistula akibat tindakan operasi ginekologi 5 - 14 hari
pasca bedah.
Pada fistula yang kecil urine dapat
merembes sedikit. Gejala paling sering dari Fistula Vesiko Vagina adalah
inkontinensia total involunter yaitu adanya iritasi daerah vulva dan seringnya
terjadi ISK. Trias gejala yang timbul setelah tindakan pembedahan : sekret air
kencing, nyeri perut dan kenaikan suhu badan dapat dipastikan adanya Fistula
Vesiko Vagina.
2.4 Faktor Resiko
Faktor resiko terjadinya fistula
vesikovaginalis adalah:
a.
Persalinan lama
b.
Operasi pelvis
c.
Riwayat pelvic inflamatory disease
d.
Keganasan pelvis
e.
Endometriosis
f.
Infeksi
g.
Diabetes
h.
Perubahan anatomi pelvis
2.5 Klasifikasi
Terdapat 2 jenis fistula
vesikovaginalis, yaitu :
1. Simple vesicovaginal fistulae
a.
Ukuran fistula < 2-3 cm dan
terletak supratrigonal
b.
Tidak ada riwayat radiasi atau
keganasan
c.
Panjang vagina normal
2. Complicated vesicovaginal fistulae
a.
Mempunyai riwayat radiasi sebelumnya
b.
Terdapat keganasan pelvis
c.
Vagina pendek
d.
Ukuran fistula > 3 cm
e.
Mengenai trigonum vesika urinaria
2.6
Diagnosis
Pada Fistula
yang besar untuk membuat diagnosis tidaklah sulit oleh karena dengan mudah
dapat dilihat dan diraba, akan tetapi Fistula yang kecil sangat sulit. Untuk
itu diperlukan pemeriksaan tambahan antara lain :
1. Tes pewarnaan Urine (Test
Metilen Biru)
Dilakukan jika dengan pemeriksaan Spekulum lokasi
Fistel sukar ditentukan. Beberapa kasa diletakkan dalam vagina, kemudian
kandung kemih diisi dengan metilen biru melalui kateter sebanyak 30-50 cc.
Setelah 3 – 5 menit kasa dalam vagina dikeluarkan satu per satu dengan mudah
dapat terlihat adanya cairan metilen biru dan sekaligus dapat mengetahui lokasi
Fistula Vesiko Vagina.
2.
Cara lain yang hampir sama yaitu (
Test Tampon Moir )
Disini digunakan untuk membedakan antara Fistula Utero Vagina yang kecil
dan Fistula Vesiko Vagina.
Caranya : 150 – 200 cc larutan metilen biru dimasukkan dalam kandung kemih,
sebelumnya sudah dimasukkan 3 tampon dalam vagina. Pasien kemudian disuruh
jalan-jalan selama 10-15 menit, kemudian tampon dikeluarkan. Jika tampon bagian
bawah basah dan berwarna biru maka kebocoran dari urethra. Jika bagian tengah
basah dan berwarna kebiruan berarti dari Fistula Vesiko Vagina. Jika bagian
atas yang basah tetapi tidak berwarna biru berarti dari ureter.
3.
Endoskopi ( Cystoscopy )
Dapat membedakan lokasi dan ukuran Fistel serta derajat reaksi radang
sekitar Fistel. Banyak Fistel yang terjadi sesudah tindakan histerektomi dan
lokasi biasanya dibelakang cela intra uterin dan berhubungan dengan dinding
anterior vagina.
4.
Pemeriksaan Radiologis
IVP dilakukan untuk membedakan Fistula Vesiko Vagina atau Obstruksi Ureter
dengan retrograde Pyelogram paling bermakna untuk menentukan adanya Fistula
Vesiko Vagina. Retrograde Pyelogram dilakukan jika pada IVP ditemukan keadaan
yang abnormal atau lokasi Fistula sukar ditentukan.
2.7 Prinsip
dan Metoda Penanganan
Suatu fistula
yang diketahui 3 – 7 hari sesudah operasi dapat diperbaiki segera secara
transabdominal atau transvaginal. Tetapi fistula yang diketahui sesudah 7 – 10
hari postoperasi akan diobservasi sampai proses radang dan indurasi hilang.
Suatu fistula
postoperasi yang kecil dalam keadaan yang tenang dapat sembuh, dengan drainase
buli-buli selama 2-3 minggu. Ketika didiagnosis adanya fistula vesikovaginal
postoperasi, stent ureter segera dimasukkan dan dipasang selama 2 minggu.
Karena oedema, pemasangan ini bisa gagal dan diulangi minggu berikutnya.
Penyembuhan spontan fistula ureterovaginal dapat terjadi dimana kontinuitas
lumen ureter dan infralesi ureter normal.
Fistula yang
kecil, berukuran < 2 mm, dahulu dilakukan fulgurasi atau kauterisasi
kimia dengan drainase buli-buli. Cara ini memiliki angka kegagalan tinggi
dengan tambahan perlukaan serta kerusakan pada jaringan sekitar. Penanganan
modern fistula persisten dengan pembedahan meskipun fistula tersebut berukuran
sangat kecil.
Tidak ada
penanganan medikal yang dapat mengkoreksi fistula vesikovaginal dan fistula
ureterovaginal dengan memuaskan. Meskipun estrogen conjugated (oral atau
transvaginal) dapat memperbaiki jaringan vagina menjadi lebih lunak dan lembut
untuk persiapan reparasi fistula. Hal ini penting untuk wanita postmenopause
dan wanita dengan vaginitis atropik. Dapat juga diberikan estrogen vaginal
cream pada pasien hipoestrogenik. Estrogen vaginal cream diberikan selama 4 – 6
minggu, dosis 2 – 4 gr saat tidur sekali per minggu.
Untuk
mengurangi risiko cystitis, produksi mukus yang banyak, dan terbentuknya batu
buli-buli, maka urine diasamkan dengan diberikan Vitamin C oral 3 x 500 mg per
hari. Untuk higiene pribadi dan perawatan kulit, maka rendam duduk dengan
kalium permanganat. Untuk fistula yang kecil, dapat dilakukan pemasangan
katheter selama 4 – 6 minggu. Meskipun drainase dengan katheter atau fulgurasi
pada pinggir fistula jarang berhasil sebagai pengobatan fistula.
Prinsip Perbaikan dengan Pembedahan:
1.
Waktu. Dianjurkan menunggu selama
3-6 bulan sampai infeksi dan udem hilang. Penutupan dini saat diagnosis
ditegakkan merupakan alternatif, bilamana jaringan sekitar kering dan bebas
infeksi. Fistula akibat radiasi penutupan dilakukan sesudah 12 bulan.
2.
Posisi yang tepat sangat diperlukan,
dengan pasien biasa pada posisi litotomi dorsal sedikit Trendelenburg’s.
Sebagian besar fistula nampak pada posisi ini. Pada beberapa kasus dengan
posisi knee-chest, terutama untuk lesi vaginal anterior dengan tarikan pada
bagian belakang pubis. Asisten pada kedua sisi diperlukan, dan paparan yang
bagus didapat dengan menggunakan retraktor Sims, Breisky, atau Wertheim .
3.
Mobilisasi dan diseksi saluran
fistula dan jaringan sekitar sangat penting. Dianjurkan mengeksisi seluruh
mukosa vagina untuk menutup saluran fistula.
4.
Penutupan dengan pembedahan
dilakukan tanpa tekanan dan sebaiknya diperhatikan kedua sisinya agar tidak
terjadi tumpang tindih. Jika kemudian tidak bisa dilakukan, interposisi
jaringan flap mungkin dapat dikerjakan. Penutupan buli-buli harus kuat, dan ini
bisa diuji dengan memasukkan larutan metilen biru atau susu steril ke dalam
buli-buli.
5.
Drainase buli-buli postoperasi lebih
baik dipasang katheter suprapubis selama 10-14 hari, dan keuntungan pemasangan
katheter suprapubis dibanding katheter uretra terutama pada penurunan risiko
infeksi saluran kencing, pasien lebih nyaman, dan pengosongan dini
6.
Materi dan instrumen
Penggunaan
lampu penerang, instrumen dan materi yang memadai sangat dianjurkan. Instrumen
yang diperlukan gunting Kelly, Allis forsep, pengait, retraktor Sims, alat
penghisap ukuran kecil dan bisturi dengan pegangan panjang. Benang yang
dipakai ukuran 3-0 atau 4-0 yang diserap tubuh dengan jarum atraumatik. Gunakan
jahitan interupted karena lebih hemostatik, dan dijahit 2 lapis.
Macam-macam benang yang diserap (absorbable) :
Catgut :
diabsorbsi lengkap dalam 2 – 3 minggu
Polyglactin 910 (Vicryl) :
diabsorbsi lengkap dalam 60 – 90 hari
Polyglycolic acid (Dexon) :
diabsorbsi lengkap dalam 90 – 120 hari
Polydioxanone (PDS II) :
diabsorbsi lengkap dalam 180 hari
2.8 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan pre-operasi
a.
Konseling pasien dan keluarga
tentang keberhasilan operasi dan kompliksainya
b.
Persiapan fisik , dan
laboratorium
c.
Sebelum menentukan perencanaan
penanganan, maka harus dapat diidentifikasi dengan baik dan benar mengenai :
1.
Keadaan
organ urogenital
2.
Lokasi, ukuran dan jumlah fistula
3.
Jaringan sekitar fistula dapat atau
layak untuk penutupan fistula
4.
Fungsi
uretra dan leher buli-buli
5.
Jika ada infeksi saluran kemih harus
diobati dahulu dengan pemeriksaan kultur urine dan tes sensitivitas. Sehingga
dapat diberikan antibiotika yang tepat karena adanya fistula penderita sering
mengalami bakteriuri
d.
Jika ada peradangan pada vagina dan
proses inkrustasi pada pinggiran fistula diperlukan perawatan khusus dengan
pembilasan vagina dengan mengunakan larutan asam laktat satu sendok dilarutkan
dalam satu liter air hangat 1 -2 kali sehari. Sedangkan pembilasan buli-buli
dengan boorwater.
e.
Diberikan injeksi IM 1 mg
estradiolbenzoat setiap hari selama 1-2 minggu dilanjutkan 2 minggu pasca
bedah.
f.
Iritasi kulit genitalia eksterna dan
sekitarnya yang mengalami dermatitis diberikan salep antibiotika dan setelah
peradangan sembuh diberikan perlindungan salep zinc
2. Penatalaksanaan operasi
a. Operasi transvaginal
Reparasi
transvaginal memberikan keuntungan, perdarahan minimal, morbiditas dan
mortalitas rendah, waktu operasi lebih pendek, dan waktu pemulihan post operasi
lebih pendek. Pendekatan pervaginal mengurangi manipulasi saluran pencernaan,
mengurangi morbiditas khususnya pada pasien dengan fistula karena radiasi.
Sebelum memulai
operasi transvaginal harus terlebih dulu dilakukan seleksi terhadap jenis
fistula urogenital yang akan dioperasi .
Jenis
fistula urogenital :
a.
fistula
urethrovaginal
b.
fistula
vesikovaginal
c.
fistula
vesikoservikal
d.
fistula
ureterovaginal
Penanganan dengan pendekatan
transvaginal hanya dikerjakan pada jenis fistula urethrovaginal , fistula
vesikovaginal , fistula vesikoservikal dan tidak dilakukan pada fistula
ureterovaginal yang biasanya terjadi sebagai komplikasi histerektomi.
b.
Operasi transabdominal ( suprapubik
)
Pendekatan yang biasa dipakai oleh
ahli ginekologi adalah melalui vagina. Terdapat beberapa fistula yang tidak
bisa melalui perbaikan vagina. Jika pasien dirujuk ke ahli urologi, pendekatan
abdominal menjadi pilihan utama kecuali fistula terletak di bagian yang sangat
rendah dari vagina. Ada beberapa situasi yang oleh seorang ahli ginekologi
disarankan untuk dilakukan pendekatan abdominal :
1.
Kegagalan perbaikan berulang kali.
2.
Diameter fistula lebih dari 4 cm
3.
Daerah operasi sangat sempit, ada
scar vagina.
4.
Jika lubang fistula berdekatan
dengan muara ureter, diperlukan pemasangan ureter katheter, mobilisasi
buli-buli.
5.
Lubang ureter menutup puncak
fistula.
6.
Jika memerlukan ureteroneocystostomy
7.
Pasien menginginkan untuk
perabdominal
8.
Kontraktur vesika sehingga
diperlukan operasi tambahan membesar kapasitas vesika dengan penambahan dari
sigmoid, colon, atau ileum
Prinsip pendekatan abdominal untuk penutupan fistula
sama seperti pada pendekatan vagina. Dinding buli-buli harus dapat bergerak
bebas, dan jahitan penutup harus dua lapis dengan jahitan jelujur 3-0
poliglikolik atau kromik. Bila lubang ureter menutup puncak fistula, dipasang
stent ureter untuk mencegah perlukaan pada ureter. Pada keadaan dimana ureter
tepat di atas fistula, dilakukan pemotongan dan pemasangan kembali jauh dari
daerah penutupan. Pada kasus dengan peradangan hebat atau minimalnya
vaskularisasi perlu dilakukan pembersihan sebelumnya, omental flap atau
paravesical peritoneal flap dapat membantu proses penyembuhan.
c.
Kombinasi transvaginal dan
transabdominal
3. Penatalaksanaan pasca operasi
a.
Luka operasi penutupan fistula pada
dinding vagina dilindungi dengan sofratule selama 24 jam pasca bedah untuk
mencegah infeksi
b. Dipasang
dauer katheter selama 2 minggu agar buli-buli tetap kering sehingga buli-buli
tidak teregang.
c. Buli-buli
setiap hari dibilas dua kali dengan 50 ml larutan boorwater 3% dan instilasi
antibiotika (uronebacetin) 10 ml selama 30 menit, selama ini dauer katheter
diklem untuk sementara. Kantong penampung urin setiap 24 jam diganti yang baru
.
d. Selama 7
hari post operasi bedrest total, kemudian mobilisasi ditempat tidur miring kiri
dan ke kanan dan setelah 12-14 hari boleh jalan
e. Pada hari
ke-10 pasca bedah katheter diklem setiap 20 menit dan berikutnya diklem lebih
lama dan maksimal setiap 2 jam sekali, pada hari ke-14 katheter dilepas. Jika
penderita dapat kencing, maka penderita disuruh mengosongkan buli-buli setiap 1
jam, kemudian bertahap setiap 2-3 jam.
f. Proses
penyembuhan luka operasi dipercepat dengan injeksi IM 5 mg folikelhormon
seminggu sekali
g. Jika selama
2-3 hari setelah katheter dilepas, kencing tidak bocor lagi maka penderita
dipulangkan dan kontrol 6 minggu kemudian
h. Disarankan
tidak melakukan coitus selama 10-12 minggu setelah pulang dari rumah sakit.
Komplikasi pasca operasi :
1.
Ureter obstruksi, dapat berupa obstruksi
karena terjahit atau terlipat akibat jahitan di sekitar ureter. Dapat diketahui
dengan evaluasi cystoskopi.
2.
Perdarahan vesika, dapat terjadi
akibat perlukaan mukosa vesika. Bekuan dapat menyumbat katheter sehingga
distensi vesika yang berlebihan mengakibatkan jaringan yang baru dijahit
terbuka. Bekuan ini dapat dibersihkan dengan penghisap melalui uretra.
3.
Infeksi ,
terjadi karena invasi kuman daerah genital, umumnya gram negatip. Antibiotika
profilaksis diberikan sebelum operasi.
4.
Fistula terbuka, kegagalan penutupan
fistula biasanya diketahui hari 7 – 10, penderita mengeluh ngompol kembali.
Ganti katheter dengan ukuran lebih besar memastikan urine dapat keluar dengan
lancar, penutupan spontan diharapkan dapat terjadi. Jika tetap bocor, dilakukan
operasi ulang setelah 3 bulan.
5.
Inkontinensia , pada vesika yang
kontraktur terjadi gangguan pada sfingter, meskipun fistula sudah tertutup
baik, penderita tidak dapat menahan kencing, urine keluar spontan.
No comments:
Post a Comment