LAPORAN PENDAHULUAN
ANEMIA
A. Konsep Dasar Anemia
1. Pengertian Anemia
Anemia
adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar penyakit, melainkan
merupakan pencrminan keadaan suatu penyakit atau gangguan fungsi tubuh (Price,
2006). Anemia berarti kekurangan sel darah merah dapat disebabkan oleh
hilangnya darah terlalu cepat atau karena terlalu lambat produksi sel darah
merah (qyuiton, 1997).
Anemia
adalah penurunan kadar hemoglobin dalam sirkulasi darah. Ada tiga kelompok
besar anemia:
a. Perdarahan
secara berlebihan. Misalnya perdarahan saluran cerna, keluarnya darah haid
secara berlebihan, hemoroid (wasir) dan sebagainya.
b. Penurunan
atau gangguan produksi sel darah merah. Ini dapat terjadi akibat kurangnya zat
besi, vitamin B 12, dan folat.
c. Penghancuran
sel darah merah yang berlebihan, misalnya akibat penyakit talassemia dan
penyakit autoimun.
2. Penyebab Anemia
Penyebab
umum dari Anemia terjadi akibat berkurangnya hemoglobin, komponen yang
dibutuhkan untuk membawa oksigen ke seluruh organ tubuh. Karena kekurangan
oksigen maka muncul gejala kelelahan, pusing dan lain-lain. Salah satu faktor
penyebab anemia adalah gaya hidup yang kurang sehat, kurang asupan zat yang
dibutuhkan untuk pembentukan hemoglobin seperti zat besi, folat, dan vitamin
B12.
3. Tanda dan Gejala
Tergantung
jenis anemia, penyakit yang mendasarinya, serta kondisi tiap-tiap orang. Jika
anemia terjadi dalam waktu lama, maka gejalanya: mudah lelah, jantung sering
berdebar-debar (terutama saat berolahraga), napas pendek dan kepala sakit
(terutama saat berolahraga), sulit berkonsentrasi dan kepala pusing, kulit
menjadi pucat, kram kaki, insomnia.
4. Patofisiologi
Timbulnya
anemia mencerminkan adanya kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah
merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapt terjadi akibat
kekurangan nutrisi, pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat
penyebab yang tidak diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan
atau hemolisis (destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat
akibat efek sel darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah
normal atau akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan
destruksi sel darah merah.
Lisis
sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system fagositik atau dalam
system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa. Sebagai hasil samping
proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit akan masuk dalam
aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera
direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma (konsentrasi normalnya 1
mg/dl atau kurang ; kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan ikterik pada sclera.
Anemia
merupakan penyakit kurang darah yang ditandai rendahnya kadar hemoglobin (Hb)
dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah adalah membawa makanan dan
oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini kurang, maka asupan oksigen pun
akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja organ-organ penting, Salah
satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel bioneuron. Jika kapasitasnya
kurang, maka otak akan seperti komputer yang memorinya lemah, Lambat menangkap.
Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki (Sjaifoellah, 1998).
5.
Clinical Pathway
6. Pemeriksaan
Diagnostic
a.
Pemeriksaan darah lengkap :
retikulosit (jumlah darah bervariasi dari 30% - 50%), leukositos (khususnya
pada krisis vaso-oklusit) penurunan Hb/Ht dan total SDM.
b.
Pemeriksaan pewarnaan SDM :
menunjukkan sabit sebagian atau lengkap, sel bentuk bulan sabit.
c. Elektroforesis hemoglobin : mengidentifikasi adanya tipe
hemoglobin abnormal dan membedakan antara anemia sel sabit dan anemia sel
trait.
7. Penatalaksanaan Medis
Pada anemia defisiensi zat besi, folat, atau vitamin B12, maka cara
yang dapat dilakukan adalah mengonsumsi makanan yang mengandung zat tersebut.
Untuk diperhatikan:
a. Sumber
zat besi adalah daging berwarna merah (sapi, kambing, domba), buncis, sayuran
hijau, telur, kacang-kacangan, sea food. Sumber folat adalah buah segar,
sayuran hijau, kembang kol, hati, ginjal, produk olahan susu. Sebaiknya sayuran
dikonsumsi mentah atau setengah matang. Sumber vitamin B12 adalah daging dan
produk olahan susu, daging, hati, ginjal, tiram, keju, dan telur.
b. Mengonsumsi
suplemen zat besi mungkin diperlukan dalam beberapa tahun dengan mewaspadai
efek sampingnya. Kelebihan zat besi mengakibatkan kelelahan, muntah, diare,
sakit kepala, mudah tersinggung, dan muncul masalah pada persendian.
c. Vitamin
C diperlukan untuk membantu penyerapan besu di dalam saluran pencernaan,
kecuali penderita gangguan pencernaan. Sebab vitamin C bisa memperparah
penderita gangguan pencernaan.
d. Hindari
kafein, misalnya kopi atau teh dalam jumlah banyak, karena kafein dapat
mengganggu penyerapan besi di saluran pencernaan.
e. Hindari
alkohol dan obat-obatan tertentu yang dapat mengakibatkan defisiensi asam
folat.
f. Jika
Anda seorang vegetarian, konsultasikan kepada dokter atau ahli nutrisi tentang
diet untuk mencukupi kebutuhan vitamin B12. Mungkin diperlukan suplemen untuk
mencukupi kebutuhan tersebut.
g. Kekurangan
vitamin B12 juga dapat disebabkan oleh infeksi parasit, konsultasikan ke dokter
untuk mengatasi infeksi tersebut.
Hubungi dokter bila:
1) Penderita
merasakan kelelahan menetap, kesulitan bernapas, denyut nadi cepat (di atas 100
kali/menit), kulit menjadi pucat atau terdapat tanda lain terjadinya anemia.
2) Periode
menstruasi sangat mengganggu, atau terdapat penyakit perlukaan saluran cerna
(ulkus), hemoroid (wasir), atau kanker kolon (usus besar).
8. Komplikasi
Merasa
cepat lelah saat bekerja sehingga produktivitas juga menurun. Karena jantung
harus bekerja lebih keras untuk mengkompensasi kekurangan oksigen di dalam
darah akibat anemia, pada akhirnya dapat mengakibatkan serangan jantung atau stroke.
Jika anemia yang terjadi akibat defisiensi B12, secara bersamaan juga bisa
terjadi kerusakan saraf dan gangguan fungsi otak. Karena Vitamin B12 juga
dibutuhkan untuk kesehatan saraf dan fungsi otak.
B. Laporan Pendahuluan Anemia Gravis
1. Definisi
Anemia
adalah berkurangnya kadar Hb dalam darah sehingga terjadi gangguan perfusi O2
ke jaringan tubuh. Disebut gravis yang artinya berat dan nilai Hb di bawah 7
g/dl sehingga memerlukan tambahan umumnya melalui transfusi. Anemia adalah
berkurangnya hingga di bawah nilai normal sel darah merah, kualitas hemoglobin
dan volume packed red bloods cells (hematokrit) per 100 ml darah (Price, 2006 :
256).
2. Etiologi
Penyebab anemia gravis belum banyak diketahui
tetapi tersering dari anemia gravis adalah kekurangan zat gizi yang diperlukan
untuk sintesis eritrosit, antara lain besi, vitamin B12 dan asam folat.
Selebihnya merupakan akibat dari beragam kondisi seperti perdarahan, kelainan
genetik, penyakit kronik, keracunan obat, dan sebagainya.
3. Patofiologi
Timbulnya anemia gravis mencerminkan adanya
kegagalan sum-sum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau
keduanya. Kegagalan sum-sum tulang dapt terjadi akibat kekurangan nutrisi,
pajanan toksik, inuasi tumor, atau kebanyakan akibat penyebab yang tidak
diketahui. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis
(destruksi) pada kasus yang disebut terakhir, masalah dapat akibat efek sel
darah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau
akibat beberapa factor diluar sel darah merah yang menyebabkan destruksi sel
darah merah. Lisis sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam system
fagositik atau dalam system retikuloendotelial terutama dalam hati dan limpa.
Sebagai hasil samping proses ini bilirubin yang sedang terbentuk dalam fagosit
akan masuk dalam aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah
(hemolisis) segera direpleksikan dengan meningkatkan bilirubin plasma
(konsentrasi normalnya 1 mg/dl atau kurang kadar 1,5 mg/dl mengakibatkan
ikterik pada sclera. Anemia merupakan penyakit kurang darah yang ditandai
rendahnya kadar hemoglobin (Hb) dan sel darah merah (eritrosit). Fungsi darah
adalah membawa makanan dan oksigen ke seluruh organ tubuh. Jika suplai ini
kurang, maka asupan oksigen pun akan kurang. Akibatnya dapat menghambat kerja
organ-organ penting, Salah satunya otak. Otak terdiri dari 2,5 miliar sel
bioneuron. Jika kapasitasnya kurang, maka otak akan seperti komputer yang
memorinya lemah, Lambat menangkap. Dan kalau sudah rusak, tidak bisa diperbaiki
(Sjaifoellah, 1998).
4. Manifestasi Klinik
Secara umum gejala klinis anemia yang muncul
merefleksikan gangguan fungsi dari berbagai sistem dalam tubuh antara lain
penurunan kinerja fisik, gangguan neurologik (syaraf) yang dimanifestasikan
dalam perubahan perilaku, anorexia (badan kurus kerempeng), pica, serta
perkembangan kognitif yang abnormal pada anak. Sering pula terjadi abnormalitas
pertumbuhan, gangguan fungsi epitel, dan berkurangnya keasaman lambung. Cara
mudah mengenal anemia dengan 5L, yakni lemah, letih, lesu, lelah, lalai. Kalau
muncul 5 gejala ini, bisa dipastikan seseorang terkena anemia. Gejala lain
adalah munculnya sklera (warna pucat pada bagian kelopak mata bawah). Anemia
bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa
melayang. Namun pada anemia berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan
jantung(Sjaifoellah, 1998). F. Komplikasi 1. Daya tahan tubuh kurang 2. Mudah
terkena infeksi 3. Serangan jantung 4. Mudah lelah 5. Gagal Ginjal Akut
5. Pemeriksaan Penunjang
Kadar Hb, hematokrit, indek sel darah merah,
penelitian sel darah putih, kadar Fe, pengukuran kapasitas ikatan besi, kadar
folat, vitamin B12, hitung trombosit, Pemeriksaan diagnostic untuk menentukan
adanya penyakit akut dan kronis serta sumber kehilangan darah kronis.
6. Penatalaksaan Medis
a. Transpalasi
sel darah merah.
b. Antibiotik
diberikan untuk mencegah infeksi.
c.
Suplemen asam folat dapat
merangsang pembentukan sel darah merah.Obati penyebab perdarahan abnormal bila
ada.
7. Penatalaksanaan Keperawatan
1. Menghindari
situasi kekurangan oksigen atau aktivitas yang membutuhkan oksigen.
2. Diet
kaya besi yang mengandung daging dan sayuran hijau.
C. Konsep dasar Asuhan Keperawatan
Anemia
1. Pengkajian
a. Aktivitas
/ Istirahat
1) Keletihan,
kelemahan otot, malaise umum
2) Kebutuhan
untuk tidur dan istirahat lebih banyak
3) Takikardia,
takipnea ; dipsnea pada saat beraktivitas atau istirahat
4) Letargi,
menarik diri, apatis, lesu dan kurang tertarik pada sekitarnya
5) Ataksia,
tubuh tidak tegak
6) Bahu
menurun, postur lunglai, berjalan lambat dan tanda – tanda lain yang
menunjukkan keletihan
b. Sirkulasi
1) Riwayat
kehilangan darah kronis, mis : perdarahan GI
2) Palpitasi
(takikardia kompensasi)
3) Hipotensi
postural
4) Disritmia
: abnormalitas EKG mis : depresi segmen ST dan pendataran atau depresi
gelombang T
5) Bunyi
jantung murmur sistolik
6) Ekstremitas
: pucat pada kulit dan membrane mukosa (konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan
dasar kuku
7) Sclera
biru atau putih seperti mutiara
8) Pengisian
kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonsriksi
kompensasi)
9) Kuku
mudah patah, berbentuk seperti sendok (koilonikia)
10) Rambut
kering, mudah putus, menipis
c. Integritas
Ego
1) Keyakinan
agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan mis transfusi darah
2) Depresi
d. Eliminasi
1) Riwayat
pielonefritis, gagal ginjal
2) Flatulen,
sindrom malabsorpsi
3) Hematemesis,
feses dengan darah segar, melena
4) Diare
atau konstipasi
5) Penurunan
haluaran urine
6) Distensi
abdomen
e. Makanan
/ cairan
1) Penurunan
masukan diet
2) Nyeri
mulut atau lidah, kesulitan menelan (ulkus pada faring)
3) Mual/muntah,
dyspepsia, anoreksia
4) Adanya
penurunan berat badan
5) Membrane
mukusa kering,pucat
6) Turgor
kulit buruk, kering, tidak elastis
7) Stomatitis
8) Inflamasi
bibir dengan sudut mulut pecah
f. Neurosensori
1) Sakit
kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinnitus, ketidakmampuan berkonsentrasi
2) Insomnia,
penurunan penglihatan dan bayangan pada mata
3) Kelemahan,
keseimbangan buruk, parestesia tangan / kaki
4) Peka
rangsang, gelisah, depresi, apatis
5) Tidak
mampu berespon lambat dan dangkal
6) Hemoragis
retina
7) Epistaksis
8) Gangguan
koordinasi, ataksia
g. Nyeri/kenyamanan
1) Nyeri
abdomen samar, sakit kepala
h. Pernapasan
1) Napas
pendek pada istirahat dan aktivitas
2) Takipnea,
ortopnea dan dispnea
i. Keamanan
1) Riwayat
terpajan terhadap bahan kimia mis : benzene, insektisida, fenilbutazon,
naftalen
2) Tidak
toleran terhadap dingin dan / atau panas
3) Transfusi
darah sebelumnya
4) Gangguan
penglihatan
5) Penyembuhan
luka buruk, sering infeksi
6) Demam
rendah, menggigil, berkeringat malam
7) Limfadenopati
umum
8) Petekie
dan ekimosis
2. Diagnosa Keperawatan
a. Perubahan
perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler yang diperlukan
untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel.
b. Perubahan
nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan untuk mencerna
atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang diperlukan untuk
pembentukan sel darah merah (SDM) normal.
c. Konstipasi
atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan proses
pencernaan.
d. Intoleran
aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen
(pengiriman) dan kebutuhan.
e. Resiko
infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder leucopenia,
penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan).
3. Intervensi Keperawatan
a. Dx
1 : Perubahan perusi jaringan berhubungan dengan penurunan komponen seluler
yang diperlukan untuk pengiriman oksigen / nutrisi ke sel.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24
jam menunjukkan perfusi yang adekuat
Kriteria Hasil :
1) Tanda-tanda
vital stabil
2) Membran
mukosa berwarna merah muda
3) Pengisian
kapiler
4) Haluaran
urine adekuat
Intervensi
:
1) Ukur
tanda-tanda vital, observasi pengisian kapiler, warna kulit/membrane mukosa,
dasar kuku.
R/
memberikan informasi tentang keadekuatan perfusi jaringan dan membantu
kebutuhan intervensi.
2) Auskultasi
bunyi napas.
R/ dispnea, gemericik menunjukkan CHF karena regangan jantung
lama/peningkatan kopensasi curah jantung.
3) Observasi
keluhan nyeri dada, palpitasi.
R/ iskemia seluler mempengaruhi jaringan miokardial/potensial
resiko infark.
4) Evaluasi
respon verbal melambat, agitasi, gangguan memori, bingung.
R/ dapat mengindikasikan gangguan perfusi serebral karena
hipoksia
5) Evaluasi
keluhan dingin, pertahankan suhu lingkungan dan tubuh supaya tetap hangat.
R/ vasokonstriksi (ke organ vital) menurunkan sirkulasi perifer.
6) Kolaborasi
Observasi hasil pemeriksaan laboratorium darah lengkap
R/ mengidentifikasi defisiensi dan kebutuhan pengobatan/respons
terhadap terapi.
7) Berikan
transfusi darah lengkap/packed sesuai indikasi
R/ meningkatkan jumlah sel pembawa oksigen, memperbaiki
defisiensi untuk mengurangi resiko perdarahan.
8) Berikan
oksigen sesuai indikasi.
R/ memaksimalkan transpor oksigen ke jaringan.
9) Siapkan
intervensi pembedahan sesuai indikasi.
R/ transplantasi sumsum tulang dilakukan pada kegagalan sumsum
tulang/ anemia aplastik.
b. Dx.2
: Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kegagalan
untuk mencerna atau ketidak mampuan mencerna makanan / absorpsi nutrisi yang
diperlukan untuk pembentukan sel darah merah (SDM) normal.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam anak
mampu mempertahankan berat badan yang stabil
Kriteria hasil :
1) Asupan
nutrisi adekuat
2) Berat
badan normal
3) Nilai
laboratorium dalam batas normal :
Albumin : 4
– 5,8 g/dL
Hb : 11 –
16 g/dL
Ht : 31 –
43 %
Trombosit :
150.000 – 400.000 µL
Eritrosit :
3,8 – 5,5 x 1012
Intervensi :
1) Observasi
dan catat masukan makanan anak.
R/ mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi
makanan.
2) Berikan
makanan sedikit dan frekuensi sering
R/ makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan
asupan nutrisi.
3) Observasi
mual / muntah, flatus.
R/ gajala GI menunjukkan efek anemia (hipoksia) pada organ.
4) Bantu
anak melakukan oral higiene, gunakan sikat gigi yang halus dan lakukan
penyikatan yang lembut.
R/ meningkatkan napsu makan dan pemasukan oral. Menurunkan
pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemungkinan infeksi. Teknik perawatan mulut
diperlukan bila jaringan rapuh/luak/perdarahan.
5) Kolaborasi
6) Observasi
pemeriksaan laboratorium : Hb, Ht, Eritrosit, Trombosit, Albumin.
R/ mengetahui efektivitas program pengobatan, mengetahui sumber
diet nutrisi yang dibutuhkan.
7) Berikan
diet halus rendah serat, hindari makanan pedas atau terlalu asam sesuai
indikasi.
R/ bila ada lesi oral, nyeri membatasi tipe makanan yang dapat
ditoleransi anak.
8) Berikan
suplemen nutrisi mis : ensure, Isocal.
R/ meningkatkan masukan protein dan kalori.
c. Dx.
3 : Konstipasi atau diare berhubungan dengan penurunan masukan diet; perubahan
proses pencernaan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam anak
menunjukan perubahan pola defekasi yang normal.
Kriteria hasil :
1) Frekuensi
defekasi 1x setiap hari
2) Konsistensi
feces lembek, tidak ada lender / darah
3) Bising
usus dalam batas normal
Intervensi :
1) Observasi
warna feces, konsistensi, frekuensi dan jumlah.
R/ membantu mengidentifikasi penyebab / factor pemberat dan
intervensi yang tepat.
2) Auskultasi
bunyi usus.
R/ bunyi usus secara umum meningkat pada diare dan menurun pada
konstipasi.
3) Hindari
makanan yang menghasilkan gas.
R/menurunkan distensi abdomen.
Kolaborasi
4) Berikan
diet tinggi serat
R/ serat menahan enzim pencernaan dan mengabsorpsi air dalam
alirannya sepanjang traktus intestinal.
5) Berikan
pelembek feces, stimulant ringan, laksatif sesuai indikasi.
R/ mempermudah defekasi bila konstipasi terjadi.
6) Berikan
obat antidiare mis : difenoxilat hidroklorida dengan atropine (lomotil) dan
obat pengabsorpsi air mis Metamucil.
R/ menurunkan motilitas usus bila diare terjadi.
d. Dx.4
: Intoleran aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai
oksigen (pengiriman) dan kebutuhan.
Tujuan : setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam anak
melaporkan peningkatan toleransi aktivitas.
Kriteria hasil :
1) Tanda
– tanda vital dalam batas normal
2) Anak
bermain dan istirahat dengan tenang
3) Anak
melakukan aktivitas sesuai dengan kemampuan
4) Anak
tidak menunjukkan tanda – tanda keletihan
Intervensi :
1) Ukur
tanda – tanda vital setiap 8 jam
R/ manifestasi kardiopulmonal dari upaya jantung dan paru untuk
membawa jumlah oksigen adekuat ke jaringan.
2) Observasi
adanya tanda – tanda keletihan ( takikardia, palpitasi, dispnea, pusing, kunang
– kunang, lemas, postur loyo, gerakan lambat dan tegang.
R/ membantu menetukan intervensi yang tepat.
3) Bantu
anak dalam aktivitas diluar batas toleransi anak.
R/ mencegah kelelahan.
4) Berikan
aktivitas bermain pengalihan sesuai toleransi anak.
R/ meningkatkan istirahat, mencegah kebosanan dan menarik diri.
e. Dx.5
: Resiko infeksi berhubungan dengan penurunan daya tahan tubuh sekunder
leucopenia, penurunan granulosit (respons inflamasi tertekan).
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan 3 x 24 jam infek
tidak terjadi.
Kriteria Hasil :
1) Tanda
– tanda vital dalam batas normal
2) Leukosit
dalam batas normal
3) Keluarga
menunjukkan perilaku pencegahan infeksi pada anak
Intervensi
1) Ukur
tanda – tanda vital setiap 8 jam.
R/ demam mengindikasikan terjadinya infeksi.
2) Tempatkan
anak di ruang isolasi bila memungkinkan dan beri tahu keluarga supaya
menggunakan masker saat berkunjung.
R/ mengurangi resiko penularan mikroorganisme kepada anak.
3) Pertahankan
teknik aseptik pada setiap prosedur perawatan.
R/ mencegah infeksi nosokomial.
Kolaborasi
4) Observasi
hasil pemeriksaan leukosit.
R/lekositosis mengidentifikasikan terjadinya infeksi dan
leukositopenia mengidentifikasikan penurunan daya tahan tubuh dan beresiko
untuk terjadi infeksi
4. Implementasi
Implementasi disesuaikan dengan
intervensi yang telah dibuat.
5. Evaluasi Keperawatan
a. Mempertahankan
perfusi jaringan adekuat
b. Mempertahankan
asupan nutrisi adekuat dan berat badan stabil
c. Menunjukkan
pola defekasi normal
d. Mengalami
peningkatan toleransi aktivitas
e. Infeksi
tidak terjadi
DAFTAR
PUSTAKA
Doenges,
E. M, Mary F.M, Alice C.G, (2002), Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Smeltzer
C. Suzanne, Bare G. Brendo, (2002), Keperawatan Medikal Bedah, vol. 3, Jakarta,
EGC:
Hall
and Guyton, (1997), Fisiologi Kedokteran, EGC : Jakarta.
Noer
Sjaifullah H. M, (1999), Ilmu Penyakit Dalam, jilid II, FKUI, Jakarta.
Perhimpunan
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia. “Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam”.
Penerbitan IPD FKUI Pusat. Jakarta. 2007: 627 – 633.
Bakta,
I Made, Prof. Dr. “Hematologi Klinik Ringkas”. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Jakarta. 2006: 98 – 110.
No comments:
Post a Comment