March 30, 2018

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN TRAUMA BULI (VESIKA URINARIA)

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN
TRAUMA BULI-BULI (VESIKA URINARIA)

A. PENGERTIAN
Trauma buli disebut juga trauma buli-buli atau trauma vesika urinaria merupakan keadaan darurat bedah yang memerlukan penatalaksanaan segera, bila tidak ditanggulangi dengan segera dapat menimbulkan komplikasi seperti perdarahan hebat, peritonitis dan sepsis. Secara anatomi buli-buli terletak di dalam rongga pelvis terlindung oleh tulang pelvis sehingga jarang mengalami cedera. Ruda paksa kandung kemih terbanyak karena kecelakan lalu lintas atau kecelakaan kerja yang menyebabkan fragmen patah tulang pelvis mencederai buli-buli. Fraktur tulang panggul dapat menimbulkan ruptur kandung kemih (Sjamsuhidajat, 2008).
Trauma kandung kemih dapat bersifat intraperitoneal dan ekstraperitoneal. Ruptur buli ekstraperitoneal biasanya akibat tertusuk fragmen fraktur tulang pelvis pada dinding depan kandung kemih yang penuh. Cedera pada abdomen bawah sewaktu kandung kemih penuh menyebabkan ruptur buli intraperitoneal (Sjamsuhidajat, 2008).
Trauma buli-buli disebabkan oleh trauma tumpul atau penetrasi kemungkinan cidera kandung kemih bervariasi menurut isi kandung kemih penuh akan lebih mungkin terjadi perlukaan dari pada saat kandung kemih kosong (Arif Muttaqin : 211).

B. ETIOLOGI
Penyebab trauma kandung kemih adalah sebagai berikut :
Trauma tumpul pada panggul
Trauma tembus (luka tembak dan luka tusuk)
Cidera iatroganik (proses pembedahan orthopedi, ginekologi, dll)
Patah tulang panggul
Trauma obstetric (pada saat melahirkan)

C. ANATOMI FISIOLOGI
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih) (Speakman, 2008). Susunan sistem perkemihan terdiri dari:
a) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin
b) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung kemih)
c) satu vesika urinaria tempat urin dikumpulkan
d) satu uretra urin dikeluarkan dari vesika urinaria (Panahi, 2010).
Ginjal (Ren) Ginjal terletak pada dinding posterior di belakang peritoneum pada kedua sisi vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal kiri, karena adanya lobus hepatis dextra yang besar.
Fungsi ginjal Fungsi ginjal adalah memegang peranan penting dalam pengeluaran zat-zat toksis atau racun, mempertahankan suasana keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan kadar asam dan basa dari cairan tubuh, dan mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.
Fascia renalis Fascia renalis terdiri dari: a) fascia (fascia renalis), b) jaringan lemak perirenal, dan c) kapsula yang sebenarnya (kapsula fibrosa), meliputi dan melekat dengan erat pada permukaan luar ginjal.
Stuktur ginjal Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula fibrosa, terdapat korteks renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat gelap, medulla renalis di bagian dalam yang berwarna cokelat lebih terang dibandingkan korteks. Bagian medulla berbentuk kerucut yang disebut piramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang terdiri dari lubang-lubang kecil yang disebut papilla renalis (Panahi, 2010).
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus. Pelvis renalis berbentuk corong yang menerima urin yang diproduksi ginjal. Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis majores yang masing-masing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis minores. Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit fungsional ginjal. Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal. Nefron terdiri dari: glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus distal dan tubulus urinarius (Panahi, 2010).
Proses pembentukan urin Tahap pembentukan urin a. Proses filtrasi, di glomerulus. Terjadi penyerapan darah yang tersaring adalah bagian cairan darah kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll, diteruskan ke tubulus ginjal. Cairan yang disaring disebut filtrat glomerulus. b. Proses reabsorbsi Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari glukosa, sodium, klorida fosfat dan beberapa ion bikarbonat. Prosesnya terjadi secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus proximal. Sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla renalis. c. Proses sekresi Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan ke papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar (Rodrigues, 2008).
Pendarahan Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai percabangan arteri renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri renalis bercabang menjadi arteri interlobularis kemudian menjadi arteri akuarta. Arteri interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang manjadi arteriole aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus. Kapiler darah yang meninggalkan gromerulus disebut arteriole eferen gromerulus yang kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena cava inferior (Barry, 201l).
Persarafan ginjal. Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Saraf ini berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal, saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke ginjal (Barry, 2011).
Ureter Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke vesika urinaria. Panjangnya ±25-34 cm, dengan penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak pada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak pada rongga pelvis. Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakan-gerakan peristaltik yang mendorong urin masuk ke dalam kandung kemih. Lapisan dinding ureter terdiri dari:
Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
Lapisan tengah lapisan otot polos
Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa
Vesika urinaria (kandung kemih) Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk seperti buah pir (kendi). Letaknya di belakang simfisis pubis di dalam rongga panggul. Vesika urinaria dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet.
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang berfungsi menyalurkan air kemih ke luar. Pada laki-laki panjangnya kira-kira 13,7-16,2 cm, terdiri dari: a. Uretra pars prostatika b. Uretra pars membranosa c. Uretra pars spongiosa. Uretra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm. sphincter uretra terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan uretra disini hanya sebagai saluran ekskresi (Panahi, 2010).
 Urin sifat fisis air kemih, terdiri dari: a. Jumlah ekskresi dalam 24 jam ±1.500 cc tergantung dari pemasukan (intake) cairan dan faktor lainnya. b. Warna bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh. c. Warna kuning tergantung dari kepekatan, diet, obat-obatan dan sebagainya. d. Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak. e. Berat jenis 1,015-1,020. f. Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung daripada diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein member reaksi asam). Komposisi air kemih, terdiri dari:
Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea, amoniak dan kreatinin.
Elektrolit natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat.
Pigmen (bilirubin dan urobilin).
Toksin.
Hormon (Velho, 2013).
Mikturisi Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
a. Kandung kemih terisi secara progesif hingga tegangan pada dindingnya meningkat melampaui nilai ambang batas, keadaan ini akan mencetuskan tahap kedua.
b. Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan mengosongkan kandung kemih. Pusat saraf miksi berada pada otak dan spinal cord (tulang belakang). Sebagian besar pengosongan diluar kendali tetapi pengontrolan dapat dipelajari “latih”. Sistem saraf simpatis : impuls menghambat vesika urinaria dan gerak spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna konstriksi. Sistem saraf parasimpatis : impuls menyebabkan otot detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi mikturisi (Roehrborn, 2009).
Ciri-ciri urin normal. a. Rata-rata dalam satu hari l-2 liter tapi berbeda-beda sesuai dengan jumlah cairan yang masuk. b. Warnanya bening tanpa ada endapan. c. Baunya tajam. d. Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6 (Velho, 2013).

D. KLASIFIKASI
Klasifikasi trauma vesika urinaria menurut (Sjamsuhidajat, 2008) adalah :
Trauma ekstraperitoneal kandung kemih
Trauma ini biasanya berhibungan denganfraktur panggul / pelvis (89%-100%). Mekanisme cidera disebabkan oleh perforasi langsung oleh fragmen tulang panggul. Tingkat trauma kandung kemih di kaitkan langsung dengan tingkat keparahan fraktur.
Trauma intraperitonial kandung kemih
Digambarkan sebagai masuknya urine secara horizontal ke dalam kandung kemih. Mekanisme cidera adalah peningkatan tekanan intravesikel secara tiba-tiba ke kandung kemih yang penuh. Kekuatabn trauma tidak mampu di tahan oleh kekuatan dinding kandung kemih sehingga terjadi perforasi urine yang masuk ke dalam peritoneum.
Kombinasi trauma ekstraperitonial dan intraperitonial
Mekanisme cidera penetrasi memungkinkan cidera menembus kandung kemih. Hal ini menyebabkan cidera pada pelvis dan memungkinkan terjadinya peningkatan tekanan intravesikel di dalam kandung kemih.

E. MANIFESTASI KLINIS
Tanda dan gejala trauma vesika urinaria menurut (Sjamsuhidajat, 2008) adalah :
Umumnya fraktur tulang dan pelvis disertai pendarahan hebat sehingga tidak jarang penderita datang dalam keadaan anemik bahkan sampai shok. Pada abdomen bagian bawah tampak jelas atau hematom dan terdapat nyeri tekan pada daerah supra publik ditempat hematom. Pada ruptur buli-buli intraperitonial urine yang seriong masuk ke rongga peritonial sehingga memberi tanda cairan intra abdomen dan rangsangan peritonial. Lesi ekstra peritonial memberikan gejala dan tanda infitrat urine dirongga peritonial yang sering menyebabkan septisema.

F. PATOFISIOLOGI
Kurang lebih 90% trauma tumpul buli-buli adalah akibat fraktur pelvis. Robeknya buli-buli karena fraktur pelvis bisa juga terjadi akibat fragmen tulang pelvis merobek dindingnya (Gambar B). Dalam keadaan penuh terisi urine, buli-buli mudah robek sekali jika mendapatkan tekanan dari luar berupa benturan pada perut sebelah bawah. Buli-buli akan robek pada bagian fundus dan menyebabkan ekstravasasi urine ke rongga intraperitoneum (Gambar A) (Purnomo, 2009).
Keterangan gambar : (A) Intraperitoneal, robeknya buli-buli pada daerah fundus, menyebabkan ekstravasasi urine ke rongga intraperitoneum. (B) ekstraperitoneal akibat fraktur tulang pelvis (Purnomo, 2009). Fraktur adalah patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma gangguan metabolik, patologik yang terjadi itu terbuka atau tertutup. Baik fraktur terbuka atau tertutup akan mengenai serabut saraf yang dapat menimbulkan gangguan rasa nyeri. Selain itu dapat mengenai tulang sehingga akan terjadi neurovaskuler yang akan menimbulkan nyeri gerak sehingga mobilitas fisik terganggu, disamping itu fraktur terbuka dapat mengenai jaringan lunak yang kemungkinan dapat terjadi infeksi terkontaminasi dengan udara luar (Sjamsuhidajat, 2008).

G. WOC

H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Menurut Doenges (1999), pemeriksaan penunjang yang dilakukan adalah:
Pemeriksaan rontgen Menentukan lokasi / luasnya fraktur / trauma
Scan tulang, temogram, scan CT / MRI Memperlihatkan fraktur, juga dapat digunakan untuk mengidentifikasikerusakan jaringan lunak.
Hitung darah lengkap Hematokrit (Ht) mungkin meningkat (hemokonsentrasi) atau menurun(perdarahan bermakna pada sisi fraktur atau organ jauh pada trauma multiple). Peningkatan jumlah SDP (sel darah putih)adalah respons stress normal setelahtrauma.
Kreatinin Trauma otot meningkatkan bebankreatinin untuk klirens ginjal. Pemeriksaan radiologik lain untuk menunjang diagnosis adalah sistografi, yang dapat memberikan keterangan ada tidaknya ruptur kandung kemih, dan lokasi ruptur apakah intraperitoneal atau ekstraperitoneal (Sjamsuhidajat, 2008).

I. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan trauma buli-buli menurut (Purnomo, 2009) adalah :
Pada ruptur intraperitoneal harus dilakukan eksplorasi laparotomi untuk mencari robekan pada buli-buliserta kemungkinan cedera organ lain. Rongga intraperitoneum dicuci, robekan pada buli-buli dijahit 2 lapis, kemudian dipasang kateter sistostomi yang dilewatkan di luar sayatan laparotomi. Dilepaskan kateter pada hari ke 7.
Pada cedera ekstraperitoneal, robekan yang sederhana dianjurkan untuk memasang kateter 7-10 haritetapi dianjurkan juga untuk melakukan penjahitan disertai pemasangan kateter sistostomi.
Untuk memastikan buli-buli telah sembuh, sebelum melepas kateter uretra/kateter sistostomi, terlebihdahulu dilakukan pemeriksaan sistografi untuk melihat kemungkinan masih adanya ekstravasasi urin.


J. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Identitas pasien (nama, alamat, tanggal lahir, jenis kelamin)
Keluhan utama (keluhan yang sangat di rasakan oleh pasien biasanya)
Riwayat Penyakit Sekarang
Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat Penyakit Keluarga
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan Tanda-tanda Vital (meliputi tekanan darah, nadi, suhu dan RR)
Pemeriksaan kandung kemih : Setelah mengalami cedera pada abdomen sebelah bawah, pasien mengeluh nyeri pada bagian suprasimfisis, kencing bercampur darah atau mungkin pasien tidak dapat buang air kecil. Gambaran klinis yang lain tergantung pada etiologi trauma, bagian buli-buli yang mengalami cedera yaitu intra/ekstraperitoneal, adanya organ lain yang mengalami cedera, serta penyulit yang terjadi akibat trauma. Dalam hal ini mungkin didapatkan tanda fraktur pelvis (Purnomo, 2009).
Pemeriksaan IVP : memperlihatkan suatu daerah yang berwarna abu-abu di daerah trauma dan memperlihatkan ekstravasasi urine
Pemeriksaan urogram eksresi : memperlihatkan gangguan fungsi ekstravasasi urine pada daerah yang terkena
CT Scan : memperlihatkan adanya hematom retroperineal dan konfigurasi ginjal

K. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri akut
Gangguan Eliminasi urine
Hambatan Mobilitas Fisik

L. INTERVENSI KEPERAWATAN
Nyeri akut : Sensori yang tidak menyenangkan dan pengalaman emosional yang muncul secara actual atau potensial kerusakan jaringan atau menggambarkan adanya kerusakan       (Asosiasi Studi Nyeri Internasional) : serangan mendadak atau pelan intensitasnya dari ringan sampai berat yang dapat di antisipasi dengan akhiryang dapat di prediksi dengan durasi kurang dari 6 bulan.
Tujuan : setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 1x30 menit pasien dapat mengontrol nyerinya
Kriteria Hasil :
Skala nyeri berkurang
Ekspresi wajah pasien rileks
TTV dalam batas normal :
TD : 120/80 mmHg RR : 16-24x/menit
N  : 60-100x/menit S    : 36,5-37,5oC
Rencana Intervensi:

RENCANA INTERVENSI

Observasi skala nyeri

Observasi TTV

Observasi penyebab, kualitas dan waktu datangnya nyeri

Pertahankan rasa nyaman dengan pengaturan posisi

Ajarkan teknik distraksi dan relaksasi dengan bernafas melalui hidung dan mengeluarkan dari mulut

Beri penjelasan tentang penyebab nyeri

Lakukan kolaborasi dengan dokter pemberian analgetik

RASIONAL

Skala nyeri akan memperlihantkan seberapa berat nyeri yang dirasakan pasien

Pemeriksaan TTV akan mempermudah melihat keadaan umum pasien

Memantau penyebab nyeri untuk mengurangi nyeri

Pengaturan posisi akan memperlancar aliran darah


Teknik distraksi dan relaksasi memberikan rasa nyaman dan rileks

Meningkatkan pengetahuan pasien akan penyakitnya

Mempercepat proses penyembuhan pasien dengan terapi farmakologi

Gangguan eliminasi urine : Disfungsi eliminasi urine
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam gangguan eliminasi urine yang di alami pasien teratasi
Kriteria Hasil :
Pasien dapat buang air kecil secara spontan
Tidak menggunakan alat bantu kencing (kateter)
Tidak ada hematuria
Tidak ada hambatan dalam BAK
Perasaan lega setelah BAK
Rencana Intervensi:

RENCANA INTERVENSI

Obsevasi pola berkemih (Frekuensi, warna dan jumlah)

Observasi adanya darah (hematuria) dalam urine

Anjurkan pasien untuk tirah baring

Lakukan pemasangan kateter

Kolaborasi untuk melakukan tindakan pembedahan bila terjadi perdarahan dengan dokter spesialis

RASIONAL

Mengidentifikasi fungsi kandung kemih, fungsi ginjal dan keseimbangan cairan

Tanda infeksi dan dapat menyebabkan sepsis

Menurunkan metabolism tubuh untuk kesembuhan ginjal

Mengeluarkan urine bila terjadi retensi

Tindakan yang cepat dapat meminimalkan kecacatan

Hambatan Mobilitas Fisik : Keterbatasan pergerakan pada satu atau lebih ekstremitas
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam pasien dapat melakukan mobilisasi dengan mandiri dan tidak ada hambatan
Kriteria Hasil :
Pasien dapat bergerak tanpa ada hambatan
Pergerakan tidak terbatas
Melakukan mobilisasi secara mandiri
TTV dalam batas normal :
TD : 120/80 mmHg RR : 16-24x/menit
N  : 60-100x/menit S    : 36,5-37,5oC
Rencana Intervensi:

RENCANA INTERVENSI

Observasi mobilisasi dan pergerakan pasien

Pengaturan dan perubahan posisi setiap 2 jam sekali

Lakukan ROM aktif dan ROM pasif
Bantu pasien memenuhi ADL

Jelaskan tentang pentingnya latihan mobilisasi selama sakit

Lakukan kolaborasi dengan fisioterapi dan ocupasi terapi

RASIONAL

Memantau aktivitas dan tingkat bantuan yang akan di berikan

Mencegah luka decubitus dan meningkatkan sirkulasi darah

Mencegah penurunan tonus otot

Menyimpan energy untuk memperbaiki fungsi ginjal

Meningklatkan pengetahuan pasien

Mempercepat proses penyembuhan

M. REFERENSI
Herdman Heather. 2017.  Diag nosis Keperawatan NANDA. Jakarta : EGC
Moorhead Sue.  2017. Nursing Interventions And Classifications. Jakarta : EGC
Moorhead Sue.  2017. Nursing Outcomes And Classifications. Jakarta : EGC
www.JournalCideraBuli/VesikaUrinaria.com (di akses pada tanggal 14 Januari 2017 pukul 10.45 WIB)

No comments:

Post a Comment

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...