LAPORAN PENDAHULUAN
EPILEPSI
LANDASAN TEORI
I.
PENGERTIAN
Epilepsi
adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang
dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan oleh lepasan muatan
listrik abnormal sel-sel saraf otak yang bersifat reversibel dengan berbagai
etiologi, dengan ciri khas serangan yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang
secara tiba-tiba pula.
Epilepsi
adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat
lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto,
2007)
Epilepsi
adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang
dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik
abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi
(Arif, 2000)
Epilepsi
adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri
timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik
neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan
laboratorik (anonim, 2008)
II.
ETIOLOGI
Penyebab pada kejang epilepsi
sebagian besar belum diketahui (Idiopatik) Sering terjadi pada:
1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol
4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia,
hiponatremia)
5. Tumor Otak
6. kelainan pembuluh darah
7. riwayat keturunan epilepsy
8. rwayat gangguan metabolism dan nutrisi/gizi
9. riwayat gangguan sirkulasi serebral
secara
umum epilepsi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Epilepsi
Primer atau epilepsi idiopatik yang sampai pada saat ini belum ditemukan
penyebabnya dan sebagian besar terjadi pada anak-anak. Pada kasus ini tidak
ditemukan kelainan pada jaringan otak.
2. Epilepsi
Sekunder, penyebabnya diketahui, antara lain:
- Faktor
herediter, yang mengalami kelainan, seperti neurofibromatosis,
hipoparatiroidisme, hipoglikemia.
- Faktor
genetik, pada kejang demam.
- Kelainan
kongenital otak, atropi, agenesis korpus kolosum.
- Gangguan
metabolik, seperti hipoglikemi, hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia.
- Infeksi,
radang yang disebabkan virus atau bakteri pada otak dan selaputnya, seperti
toxoplasmosis, meningitis.
- Trauma,
contusio cerebri, hematoma subarachnoid, hematoma subdural.
- Neoplasma
otak dan selaputnya.
- Kelainan
pembuluh darah, malformasi dan penyakit kolagen.
- Keracunan
(timbal, kamper/kapur arus, fenotiazine).
- Lain-lain,
seperti: penyakit darah, gangguan keseimbangan hormon, degenerasi serebral.
III. PATOFISIOLOGI
Otak
merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan pusat
pengirim pesan (impuls motorik).Otak ialah rangkaian berjuta-juta
neuron. Pada hakekatnya tugas neron ialah menyalurkan dan
mengolah aktivitas listrik sarafyang berhubungan satu dengan yang lain melalui
sinaps. Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter. Acetylcholine
dan norepinerprine ialah neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni
GABA (gama-amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas
listrik sarafi dalam sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber
gaya listrik saran di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini
aktivitas listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neron-neron di
sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat
mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan
terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar kebagian
tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran.
Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat
merangsang substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan
menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian akan
terlihat manifestasi kejang umum yang disertai penurunan kesadaran.
IV.
MANIFESTASI
KLINIK
1. Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang,
gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan
2. Kelainan gambaran EEG
3. Tergantung lokasi dan sifat Fokus Epileptogen
4. Dapat mengalami Aura yaitu suatu sensasi
tanda sebelum kejang epileptik (Aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat
sesuatu, men cium bau-bauan tak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap
sesuatu, sakit kepala dan sebagainya).
Menurut
Commission of Classification and Terminology of the International League
Against Epilepsy (ILAE) tahun 1981, epilepsi diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Epilepsi
parsial (fokal, lokal)
a. Sawan
parsial sederhana, kesadaran tetap normal:
Dengan gejala motorik
-
Fokal motorik tidak menjalar.
-
Fokal motorik menjalar (epilepsi
Jackson)
-
Versif, disertai geakan memutar
tubuh, mata, kepala.
-
Postural, disertai lengan atau
tungkai kaku dalam sikap tertentu.
-
Fonasi, disertai dengan arus bicara
terhenti atau menimbulkan bunyi-bunyian tertentu.
Dengan gejala soatosensoris atau
sensoris spesial (melibatkan pancaindera)
-
Somatosensoris, timbul rasa
kesemutan atau ditusuk jarum.
-
Visual, terlihat kilatan cahaya
-
Auditorius, terdengar sesuatu
-
Olfaktorius, tercium sesuatu
-
Disertai vertigo
Dengan gejala atau tanda gangguan
saraf otoonom, sensasi epigastrium, pucat, berkeringat, dilatasi pupil.
Dengan gejala psikis (gangguan
fungsi luhur), antara lain
-
Disfasia, mengulang suku kata, kata
atau bagian kalimat.
-
Dimensia, gangguan fungsi ingatan
seperti pernah mengalami, merasakan, melihat atau sebaliknya tidak pernah.
-
Kognitif, gangguan orientasi waktu.
-
Afektif, merasa sangat senang,
susah, marah, takut.
-
Ilusi, perubahan persepsi benda yang
dilihat,
-
Halusinasi kompleks (berstruktur),
seperti mendengar ada yang berbicara, musik, melihat suatu fenomena tertentu.
b. Epilepsi
parsial kompleks (disertai gangguan kesadaran)
-
Serangan parsial sederhana, diikuti
gangguan kesadaran
Dengan gejala parsial sederhana
disertai dengan menurunnya kesadaran
Dengan automatisme, gerakan-gerakan
tak terkendali dan tidak disadari
-
Dengan penurunan kesadaran sejak
permulaan serangan, hanya dengan penurunan kesadaran, automatisme.
c. Epilepsi
parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik)
-
Sawan parsial sederhana yang
berkembang menjadi bangkitan umum
-
Sawan parsial kompleks yang
berkembang menjadi bangkitan umum
-
Sawan parsial sederhana yang menjadi
bangkitan parsial kompleks, lalu berkembang menjadi bangkitan umum.
2. Epilepsi
umum (konvulsif dan non konvulsif)
a. Epilepsi
lena (absence), kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, muka tampak
membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tidak ada reaksi saat diajak
bicara, biasanya berlangsung setengah menit, dan sering dijumpai pada anak.
Ciri khasnya: hanya penurunan kesadaran, dengan komponen kronik ringan, dengan
komponen atonik, dengan komponen tonik, dengan automatisme, dengan komponen
autonom (kombinasi).
b. Epilepsi
lena tak khas, dapat disertai dengan gangguan tonus yang lebih jelas; permulaan
dan berakhirnya bangkitan tidak mendadak.
c. Epilepsi
mioklonik, terjadi kontraksi mendadak, sebentar, dapat kuat atau lemah sebagian
otot atau semua otot, sekali atau berulang.
d. Epilepsi
klonik, tidak ada komponen tonik, hanya terjadi kejang kelonjot.
e. Epilepsi
tonik, tidak ada komponen klonik, otot hanya menjadi kaku.
f. Epilepsi
tonik-klonik, serangan dapat diawali dengan aura, klien mendadak jatuh pingsan,
otot seluruh badan kaku, kejang kaku berlangsung selama kira-kira setengah
menit diikuti kejang kelonjot diseluruh badan. Bangkitan ini biasanya berhenti
sendiri. Tarikan napas menjadi dalam beberapa saat lamanya. Bila pembentukan
ludah meningkat saat kejang, muut menjadi berbusa karena hembusan napas kuat.
Mungkin pula klien miksi. Setelah kejang selesai, klien dapat bangun dengan
kesadaran yang masih rendah atau langsung menjadi sadar dengan keluhan badan
menjadi pegal, lelah dan nyeri kepala.
g. Epilepsi
atonik, otot seluruh badan mendadak lemas, sehingga klien terjatuh. Kesadaran
tetap baik dan dapat juga menurun sebentar.
h. Status
epileptikum, aktifitas kejang yang berlangsung terus menerus lebih dari 30
menit tanpa pulihnya kesadaran.
3. Epilepsi
tak tergolongkan
Ialah bangkitan pada bayi yang
berupa gerakan bola mata yang ritmik, mengunyah-ngunyah, gerakan seperti
berwenang, menggigil, atau pernapasan
yang mendadak berhenti sejenak.
V.
KLASIFIKASI
KEJANG
Kejang Parsial
· Parsial Sederhana
Gejala
dasar, umumnya tanpa gangguan kesadaran Misal: hanya satu jari atau tangan yang
bergetar, mulut tersentak Dengan gejala sensorik khusus atau somatosensorik
seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak umum/tdk nyaman
· Parsial Kompleks
Dengan
gejala kompleks, umumnya dengan ganguan kesadaran.Dengan gejala kognitif,
afektif, psiko sensori, psikomotor. Misalnya: individu terdiam tidak bergerak
atau bergerak secara automatik, tetapi individu tidak ingat kejadian tersebut
setelah episode epileptikus tersebut lewat.
Kejang Umum (grandmal)
Melibatkan
kedua hemisfer otak yang menyebabkan kedua sisi tubuh bereaksi Terjadi kekauan
intens pada seluruh tubuh (tonik) yang diikuti dengan kejang yang bergantian
dengan relaksasi dan kontraksi otot (Klonik) Disertai dengan penurunan
kesadaran, kejang umum terdiri dari:
· Kejang Tonik-Klonik
· Kejang Tonik
· Kejang Klonik
· Kejang Atonik
· Kejang Myoklonik
· Spasme kelumpuhan
· Tidak ada kejang
· Kejang Tidak Diklasifikasikan/ digolongkan karena
datanya tidak lengkap.
VI.
PENATALAKSANAAN
v Dilakukan secara manual, juga diarahkan untuk mencegah
terjadinya kejang, penatalaksanaan berbeda dari satu klen dengan klien lainnya.
v Farmakoterapi
· Anti kovulsion untuk mengontrol kejang
v Pembedahan
· Untuk pasien epilepsi akibat tumor otak, abses, kista
atau adanya anomali vaskuler
v Jenis obat yang sering digunakan
· Phenobarbital (luminal) : Paling sering dipergunakan,
murah harganya, toksisitas rendah.
· Primidone (mysolin) : Di hepar primidone di ubah menjadi
phenobarbital dan phenyletylmalonamid.
· Difenilhidantoin (DPH, dilantin, phenytoin) : Dari
kelompok senyawa hidantoin yang paling banyak dipakai ialah DPH. Berhasiat
terhadap epilepsi grand mal, fokal dan lobus temporalis.
·
Carbamazine
(tegretol).
ü
Mempunyai
khasiat psikotropik yangmungkin disebabkan pengontrolan bangkitan epilepsi
itusendiri atau mungkin juga carbamazine memang mempunyaiefek psikotropik.
ü Sifat ini menguntungkan penderita epilepsi lobus
temporalis yang sering disertai gangguan tingkahlaku.
ü Efek samping yang mungkin terlihat ialah nistagmus,
vertigo, disartri, ataxia, depresi sumsum tulang dan gangguanfungsi hati.
· Diazepam.
ü Biasanya dipergunakan pada kejang yang sedang
berlangsung (status konvulsi.).
ü Pemberian i.m. hasilnya kurang memuaskan karena
penyerapannya lambat. Sebaiknya diberikan i.v. atau intra rektal.
· Nitrazepam (Inogadon).
ü Terutama dipakai untuk spasme infantil dan bangkitan
mioklonus.
· Ethosuximide (zarontine).
ü Merupakan obat pilihan pertama untuk epilepsi petit
mal
· Na-valproat (dopakene)
ü Obat pilihan kedua pada petit mal
ü Pada epilepsi grand mal pun dapat dipakai.
ü Obat ini dapat meninggikan kadar GABA di dalam otak.
ü Efek samping mual, muntah, anorexia
·
Acetazolamide
(diamox).
ü Kadang-kadang dipakai sebagai obat tambahan dalam
pengobatan epilepsi.
ü Zat ini menghambat enzim carbonic-anhidrase sehingga
pH otak menurun, influks Na berkurang akibatnya membran sel dalam keadaan
hiperpolarisasi.
·
ACTH
ü Seringkali memberikan perbaikan yang dramatis pada
spasme infantil.
ASUHAN KEPERAWATAN
KLIEN DENGAN EPILEPSI
A. PENGKAJIAN
Anamnese
·
Identitas
klien meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada bayi dan neonatus), jenios
kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam
masuk RS, nomor register, asuransi kesehatan, dan diagnosis medis.
·
Keluhan
Utama: kejang, demam.
·
Riwayat
kesehatan
Riwayat keluarga dengan kejang
Riwayat kejang demam
Tumor intracranial
Trauma kepal terbuka, stroke
·
Riwayat
kejang
Berapa sering terjadi kejang
Gambaran kejang seperti apa
Apakah sebelum kejang ada tanda-tanda awal
Apa yang dilakuakn pasien setelah kejang
·
Riwayat
penggunaan obat
Nama obat yang dipakai
Dosis obat
Berapa kali penggunaan obat
Kapan putus obat
Pemeriksaan
fisik
B1
(BREATHING)
Inspeksi
apakah klien batuk,produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas,
dan penngkatan frekuensi pernapasan yang sering didapatkan pada klien epilepsy
disertai dengan gangguan system pernapasan
B2
(BLOOD)
Pengkajian
pada system kardiovaskuler terutama dilakukan pada klien epilepsy tahap lanjut
apabila klien sudah mengalami syok
B3
(BRAIN)
Tingkat
kesadaran
Tingkat kesedaran klien dan
respons terhadap lingkungan adalah indicator paling sensitive untuk menilai
disfungsi system persarafan. Beberapa system dogunakan untuk membuat peringkat
perubahan dalam kewaspadaan dan kesadaran.
Pemeriksaan
fungsi serebral
Status mental: observasi
penampilan dan tingkah laku klien, nloai gaya bicara dan observasi ekspresi
wajah, aktivitas motorik pada klien eplepsi tahap lanjut biasanya mengalami perubahan status mental seperti adanya
gangguan prilaku, alam perasaan dan persepsi
Pemeriksaan
saraf cranial
Saraf
I. Biasanya
pada klien eplepsi tidak ada kelainan dan fungsi penciuman
Saraf
II. Tes
ketajaman penglihatan dalam kondisi normal
Saraf
III, IV, dan VI. Dengan
alas an yang tidak diketahui, klien epilepsy mengeluh mengalam fotofobia,(
sensitive yang berlebihan terhadap cahaya )
Saraf V. Biasanya tidak didapatkan paralysis otot wajah dan
reflex kornea biasanya tidak ada kelainan
Saraf
VII. Persepsi
pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
Saraf
VIII. Tidak
ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi
Saraf
IX dan X. Kemampuan
menelan baik
Saraf
XI. Tidak ada
atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf
XII. Lidah
simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra
pengecapan normal.
System
motorik
Kekutan
otot menurun, control keseimbangan dan koordinasi pada eplepsi tahap lanjut mengalami
perubahan
Pemeriksaan
refleks
Pemeriksaan
reflex dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, dan periosteum, derajat
reflex pada respons normal
System
sensorik
Basanya
didapatkan perasaan raba normal, perasaan suhu normal, tidak ada perasaan abnormal
dipermukaan tubuh, perasaan propriosetif normal, dan perasaan diskriminatif
normal. Pada rangsang cahaya merupakan tanda khas dari epilepsy. Pascakejang
sering dkeluhkan adanya nyeri kepala yang bersifat akut.
B4
(BLADDER)
Pemeriksaan
pada system kemih didapatkan berkurangnya volume output urin, hal ini
berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal
B5
(BOWEL)
Mual
sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan
nutrisi pada klien pada epilepsy menurun karena anoreksia dan adanya kejang
B6
(BONE)
Pada fase
akut setelah kejang biasanya ddapatkan adanya penurunan kekuatan otot dan
kelemahan fisik secara umum sehingga mengganggu aktivitas perawatan diri
Pemeriksaan Diagnostik
· CT Scan
Untuk
mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan
degeneratif serebral
· Elektroensefalogram(EEG)
Untuk
mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan
· Magnetik resonance imaging (MRI)
· Kimia darah:
hipoglikemia,
meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
§ Resiko injury b/d aktivitas kejang berulang
§ Nyeri akut yang berhubungan dengan nyeri kepala
skunder respons pasca kejang
§ Deficit perawatan diri yang berhubungan dengan
konfusi, malas bangun sekunder respon pasca kejang
§ ketakutan b/d terjadinya kejang berulang
§ Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan
depresi akibat epilepsi
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
Resiko tinggi injuri yang berhubungan dengan kejang
berulang
|
|
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam
perawatan klien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan
kesadaran
Criteria hasil : klien dan
keluarga mengetahui pelaksanaan kejang, menghindari stimulus kejang,
melakukan pengobatan teratur untuk menurunkan intensitas kejang
|
|
Intervensi
|
Rasional
|
Kaji tngkat pengetahuan klien dan
keluarga cara penanganan saat kejang
|
Data dasar untuk intervensi
selanjutnya
|
Ajarkan klien dan keluarga metode
mengontrol demam
|
Orang tua dengan anak yang pernah
mengalami kejang demam harus diintstrusikan tentang metode untuk mengontrol
demam ( kompres dingin, obat antipiretik )
|
Anjurkan kontroling pasca cedera
kepala
|
Cedera kepala merupakan salah satu
penyebab utama yang dapat dicegah. Malalui program yang memberikan keamanan
yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, tetapi juga mengembangkan
pencegahan epilepsy akibat cedera kepala
|
Anjurkan keluarga agar
mempersiapkan lingkungan yang aman sepert batasan ranjang, papan pengaman,
dan alat suction selalu berada dekat klien
|
Melindungi klien bla terjadi kejang
|
Anjurkan untuk menghndari rangsang
cahaya yang berlebihan
|
Klien mengalami peka terhadap
rangsang cahaya yang silau. Dengan menggunakan kaca mata hitam atau menutup
salah satu mata dapat membantu mengontrol masalah ini
|
Anjurkan mempertahankan bedrest
total selama fase akut
|
Mengurang resiko jatuh, jika
vertigo, sncope, dan ataksia terjadi
|
Kolaborasi pemberian terapi
fenitoin (dilantin)
|
Untuk mengontrol menurunkan
respons kejangb berulang
|
Nyeri akut yang berhubungan dengan nyeri kepala
skunder respons pascakejang
|
|
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam
setelah diberikan intervensi keperawatan keluhan nyeri berkurang/rasa sakit
terkontrol
Kriteri hasil : klien dapat tidur
dengan tenang, wajah rileks dank lien memverbalisasikan penurunan rasa sakit
|
|
Intervensi
|
Rasional
|
Usahakan membuat lingkungan yang
aman dan tenang
|
Menurunkan reaksi terhadap
rangsangan eksternal atau sensitivitas terhadap cahaya dan menganjurkan klien
untuk beristirahat
|
Lakukan manajemen nyeri, dengan
metode distraksi dan relaksasi napas dalam
|
Membantu menurunkan stimulasi
sensasi nyeri
|
Lakukan latihan gerak aktif atau
pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati-hati
|
Dapat membantu relaksasi otot-otot
yang tegang dan dapat menurunkan rasa sakit/tidak nyaman
|
Kolaborasi pemberan analgetik
|
Untuk menurunkan rasa sakit.
Catatan : narkotika merupakan
kontraindikasi karena berdampak tehadap status neurologis sehingga sukar
untuk dikaji
|
Koping individu tidak efektf yang berhubungan dengan
depresi akibat epilepsy
|
|
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam
setelah intervensi harga diri klien meningkat
Criteria hasil : mampu
mengkomunikasikan dengan orang-orang terdekat tentang situasi dan perubahan
yang sedang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi,
mengakui dan menggabungkan perubahan
ke dalam konsep diri dengan cara akurat tanpa harga diri yang negative
|
|
Intervensi
|
Rasional
|
Kaji perubahan dari gangguan
persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan
|
Menentukan bantuan individual
dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi
|
Identifikasi arti dari kehilangan
atau disfungsi pada klien
|
Beberapa klien dapat menerima dan
mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikt penyesuaian diri,
sedangkan yangn lain mempunya kesulitan membandingkan, mengenal, dan mengatur
kekurangan
|
Anjurkan klien untuk mengekspresikanperasaan
termasuk hostlty dan kemarahan
|
Menunjukkan penerimaan, membantu klien untuk
mengenal dan mula menyesuaikan dengan perasaan tersebut
|
Catat ketika klien menyatakan
terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian
|
Mendukung penolakan terhadap
bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh dan kemampuan
yang menunjukan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional
|
Pernyataan pengakuan terhadap
penolakan tubuh, mengingatka kembali fakta kejadian tentang realitas bahwa
masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang
sehat.
|
Membantu klien untuk melihat bahwa
perawat menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh. Mengizinkan
klien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi yang baru
|
Bantu dan anjurkan perawatan yang
baik dan memperbaiki kebiasaan
|
Membantu meningkatkan perasaan
harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehdupan
|
Anjurkan orang yang terdekat untuk
mengizinkan klien melakukan hal untuk dirinya sebanyak-banyaknya
|
Menghidupkan kembali perasaan
kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta mempengaruhi proses
rehablitasi
|
Dukung perilaku atau usaha seperti
peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi
|
Klien dapat beradaptasi tehadap
perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang
|
Monitor gangguan tidur peningkatan
kesulitan konsentrasi, letargi, dan withdrawal
|
Dapat mengindikasikan terjadinya
depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke dimana memerlukan
intervensi dan evaluasi lebih lanjut
|
Kolaborasi : rujuk pada ahli
neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi
|
Dapat memfasilitasi perubahan
peran yang penting untuk perkembangan perasaan
|
DAFTAR
PUSTAKA
Doenges, E. M, Mary F.M, Alice C.G, .2002. Rencana
Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan
Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Suriadi, Rita Y. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak,
Edisi I. Jaakarta: CV. Sagung Seto.
Ns. Hasrat
Jaya Ziliwu, S.Kep/ www.scribd.com/epilepsi/gangguan-konduksi-system-saraf/
diakses tanggal 16/11/2009
No comments:
Post a Comment