July 22, 2018

LAPORAN PENDAHULUAN EPILEPSI

LAPORAN PENDAHULUAN
EPILEPSI

LANDASAN TEORI
I.    PENGERTIAN
     Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan oleh lepasan muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi, dengan ciri khas serangan yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang secara tiba-tiba pula.
            Epilepsi adalah penyakit serebral kronik dengan karekteristik kejang berulang akibat lepasnya muatan listrik otak yang berlebihan dan bersivat reversibel (Tarwoto, 2007)
            Epilepsi adalah gangguan kronik otak dengan ciri timbulnya gejala-gejala yang datang dalam serangan-serangan, berulang-ulang yang disebabkan lepas muatan listrik abnormal sel-sel saraf otak, yang bersifat reversibel dengan berbagai etiologi (Arif, 2000)
            Epilepsi adalah sindroma otak kronis dengan berbagai macam etiologi dengan ciri-ciri timbulnya serangan paroksismal dan berkala akibat lepas muatan listrik neron-neron otak secara berlebihan dengan berbagai manifestasi klinik dan laboratorik (anonim, 2008)

II.   ETIOLOGI
Penyebab pada kejang epilepsi sebagian besar belum diketahui (Idiopatik) Sering terjadi pada:
1. Trauma lahir, Asphyxia neonatorum
2. Cedera Kepala, Infeksi sistem syaraf
3. Keracunan CO, intoksikasi obat/alkohol
4. Demam, ganguan metabolik (hipoglikemia, hipokalsemia, hiponatremia)
5. Tumor Otak
6. kelainan pembuluh darah
7. riwayat keturunan epilepsy
8. rwayat gangguan metabolism dan nutrisi/gizi
9. riwayat gangguan sirkulasi serebral
secara umum epilepsi dibagi menjadi 2 golongan, yaitu:
1. Epilepsi Primer atau epilepsi idiopatik yang sampai pada saat ini belum ditemukan penyebabnya dan sebagian besar terjadi pada anak-anak. Pada kasus ini tidak ditemukan kelainan pada jaringan otak.
2. Epilepsi Sekunder, penyebabnya diketahui, antara lain:
-     Faktor herediter, yang mengalami kelainan, seperti neurofibromatosis, hipoparatiroidisme, hipoglikemia.
-     Faktor genetik, pada kejang demam.
-     Kelainan kongenital otak, atropi, agenesis korpus kolosum.
-     Gangguan metabolik, seperti hipoglikemi, hipokalsemia, hiponatremia, hipernatremia.
-     Infeksi, radang yang disebabkan virus atau bakteri pada otak dan selaputnya, seperti toxoplasmosis, meningitis.
-     Trauma, contusio cerebri, hematoma subarachnoid, hematoma subdural.
-     Neoplasma otak dan selaputnya.
-     Kelainan pembuluh darah, malformasi dan penyakit kolagen.
-     Keracunan (timbal, kamper/kapur arus, fenotiazine).
-     Lain-lain, seperti: penyakit darah, gangguan keseimbangan hormon, degenerasi serebral.

III. PATOFISIOLOGI
Otak merupakan pusat penerima pesan (impuls sensorik) dan sekaligus merupakan pusat pengirim pesan (impuls motorik).Otak ialah rangkaian berjuta-juta neuron. Pada hakekatnya tugas neron ialah menyalurkan dan mengolah aktivitas listrik sarafyang berhubungan satu dengan yang lain melalui sinaps. Dalam sinaps terdapat zat yang dinamakan nerotransmiter. Acetylcholine dan norepinerprine ialah neurotranmiter eksitatif, sedangkan zat lain yakni GABA (gama-amino-butiric-acid) bersifat inhibitif terhadap penyaluran aktivitas listrik sarafi dalam sinaps. Bangkitan epilepsi dicetuskan oleh suatu sumber gaya listrik saran di otak yang dinamakan fokus epileptogen. Dari fokus ini aktivitas listrik akan menyebar melalui sinaps dan dendrit ke neron-neron di sekitarnya dan demikian seterusnya sehingga seluruh belahan hemisfer otak dapat mengalami muatan listrik berlebih (depolarisasi). Pada keadaan demikian akan terlihat kejang yang mula-mula setempat selanjutnya akan menyebar kebagian tubuh/anggota gerak yang lain pada satu sisi tanpa disertai hilangnya kesadaran. Dari belahan hemisfer yang mengalami depolarisasi, aktivitas listrik dapat merangsang substansia retikularis dan inti pada talamus yang selanjutnya akan menyebarkan impuls-impuls ke belahan otak yang lain dan dengan demikian akan terlihat manifestasi kejang umum yang disertai penurunan kesadaran.  

IV.   MANIFESTASI KLINIK
1. Manifestasi klinik dapat berupa kejang-kejang, gangguan kesadaran atau gangguan penginderaan
2. Kelainan gambaran EEG
3. Tergantung lokasi dan sifat Fokus Epileptogen
4. Dapat mengalami Aura yaitu suatu sensasi tanda sebelum kejang epileptik (Aura dapat berupa perasaan tidak enak, melihat sesuatu, men cium bau-bauan tak enak, mendengar suara gemuruh, mengecap sesuatu, sakit kepala dan sebagainya).
Menurut Commission of Classification and Terminology of the International League Against Epilepsy (ILAE) tahun 1981, epilepsi diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Epilepsi parsial (fokal, lokal)
a. Sawan parsial sederhana, kesadaran tetap normal:
Dengan gejala motorik
-     Fokal motorik tidak menjalar.
-     Fokal motorik menjalar (epilepsi Jackson)
-     Versif, disertai geakan memutar tubuh, mata, kepala.
-     Postural, disertai lengan atau tungkai kaku dalam sikap tertentu.
-     Fonasi, disertai dengan arus bicara terhenti atau menimbulkan bunyi-bunyian tertentu.
Dengan gejala soatosensoris atau sensoris spesial (melibatkan pancaindera)
-     Somatosensoris, timbul rasa kesemutan atau ditusuk jarum.
-     Visual, terlihat kilatan cahaya
-     Auditorius, terdengar sesuatu
-     Olfaktorius, tercium sesuatu
-     Disertai vertigo
Dengan gejala atau tanda gangguan saraf otoonom, sensasi epigastrium, pucat, berkeringat, dilatasi pupil.
Dengan gejala psikis (gangguan fungsi luhur), antara lain
-     Disfasia, mengulang suku kata, kata atau bagian kalimat.
-     Dimensia, gangguan fungsi ingatan seperti pernah mengalami, merasakan, melihat atau sebaliknya tidak pernah.
-     Kognitif, gangguan orientasi waktu.
-     Afektif, merasa sangat senang, susah, marah, takut.
-     Ilusi, perubahan persepsi benda yang dilihat,
-     Halusinasi kompleks (berstruktur), seperti mendengar ada yang berbicara, musik, melihat suatu fenomena tertentu.
b. Epilepsi parsial kompleks (disertai gangguan kesadaran)
-     Serangan parsial sederhana, diikuti gangguan kesadaran
Dengan gejala parsial sederhana disertai dengan menurunnya kesadaran
Dengan automatisme, gerakan-gerakan tak terkendali dan tidak disadari
-     Dengan penurunan kesadaran sejak permulaan serangan, hanya dengan penurunan kesadaran, automatisme.
c. Epilepsi parsial yang berkembang menjadi bangkitan umum (tonik-klonik, tonik, klonik)
-     Sawan parsial sederhana yang berkembang menjadi bangkitan umum
-     Sawan parsial kompleks yang berkembang menjadi bangkitan umum
-     Sawan parsial sederhana yang menjadi bangkitan parsial kompleks, lalu berkembang menjadi bangkitan umum.
2. Epilepsi umum (konvulsif dan non konvulsif)
a. Epilepsi lena (absence), kegiatan yang sedang dikerjakan terhenti, muka tampak membengong, bola mata dapat memutar ke atas, tidak ada reaksi saat diajak bicara, biasanya berlangsung setengah menit, dan sering dijumpai pada anak. Ciri khasnya: hanya penurunan kesadaran, dengan komponen kronik ringan, dengan komponen atonik, dengan komponen tonik, dengan automatisme, dengan komponen autonom (kombinasi).
b. Epilepsi lena tak khas, dapat disertai dengan gangguan tonus yang lebih jelas; permulaan dan berakhirnya bangkitan tidak mendadak.
c. Epilepsi mioklonik, terjadi kontraksi mendadak, sebentar, dapat kuat atau lemah sebagian otot atau semua otot, sekali atau berulang.
d. Epilepsi klonik, tidak ada komponen tonik, hanya terjadi kejang kelonjot.
e. Epilepsi tonik, tidak ada komponen klonik, otot hanya menjadi kaku.
f. Epilepsi tonik-klonik, serangan dapat diawali dengan aura, klien mendadak jatuh pingsan, otot seluruh badan kaku, kejang kaku berlangsung selama kira-kira setengah menit diikuti kejang kelonjot diseluruh badan. Bangkitan ini biasanya berhenti sendiri. Tarikan napas menjadi dalam beberapa saat lamanya. Bila pembentukan ludah meningkat saat kejang, muut menjadi berbusa karena hembusan napas kuat. Mungkin pula klien miksi. Setelah kejang selesai, klien dapat bangun dengan kesadaran yang masih rendah atau langsung menjadi sadar dengan keluhan badan menjadi pegal, lelah dan nyeri kepala.
g. Epilepsi atonik, otot seluruh badan mendadak lemas, sehingga klien terjatuh. Kesadaran tetap baik dan dapat juga menurun sebentar.
h. Status epileptikum, aktifitas kejang yang berlangsung terus menerus lebih dari 30 menit tanpa pulihnya kesadaran.
3. Epilepsi tak tergolongkan
Ialah bangkitan pada bayi yang berupa gerakan bola mata yang ritmik, mengunyah-ngunyah, gerakan seperti berwenang, menggigil,  atau pernapasan yang mendadak berhenti sejenak.

V.    KLASIFIKASI KEJANG
Kejang Parsial
·      Parsial Sederhana
Gejala dasar, umumnya tanpa gangguan kesadaran Misal: hanya satu jari atau tangan yang bergetar, mulut tersentak Dengan gejala sensorik khusus atau somatosensorik seperti: mengalami sinar, bunyi, bau atau rasa yang tidak umum/tdk nyaman
·      Parsial Kompleks
Dengan gejala kompleks, umumnya dengan ganguan kesadaran.Dengan gejala kognitif, afektif, psiko sensori, psikomotor. Misalnya: individu terdiam tidak bergerak atau bergerak secara automatik, tetapi individu tidak ingat kejadian tersebut setelah episode epileptikus tersebut lewat.
Kejang Umum (grandmal)
Melibatkan kedua hemisfer otak yang menyebabkan kedua sisi tubuh bereaksi Terjadi kekauan intens pada seluruh tubuh (tonik) yang diikuti dengan kejang yang bergantian dengan relaksasi dan kontraksi otot (Klonik) Disertai dengan penurunan kesadaran, kejang umum terdiri dari:
·      Kejang Tonik-Klonik
·      Kejang Tonik
·      Kejang Klonik
·      Kejang Atonik
·      Kejang Myoklonik
·      Spasme kelumpuhan
·      Tidak ada kejang
·      Kejang Tidak Diklasifikasikan/ digolongkan karena datanya tidak lengkap.

VI.   PENATALAKSANAAN
v Dilakukan secara manual, juga diarahkan untuk mencegah terjadinya kejang, penatalaksanaan berbeda dari satu klen dengan klien lainnya.
v Farmakoterapi
·   Anti kovulsion untuk mengontrol kejang
v Pembedahan
·   Untuk pasien epilepsi akibat tumor otak, abses, kista atau adanya anomali vaskuler
v Jenis obat yang sering digunakan
·   Phenobarbital (luminal) : Paling sering dipergunakan, murah harganya, toksisitas rendah.
·   Primidone (mysolin) : Di hepar primidone di ubah menjadi phenobarbital dan phenyletylmalonamid.
·   Difenilhidantoin (DPH, dilantin, phenytoin) : Dari kelompok senyawa hidantoin yang paling banyak dipakai ialah DPH. Berhasiat terhadap epilepsi grand mal, fokal dan lobus temporalis.
·                           Carbamazine (tegretol).
ü Mempunyai khasiat psikotropik yangmungkin disebabkan pengontrolan bangkitan epilepsi itusendiri atau mungkin juga carbamazine memang mempunyaiefek psikotropik.
ü Sifat ini menguntungkan penderita epilepsi lobus temporalis yang sering disertai gangguan tingkahlaku.
ü Efek samping yang mungkin terlihat ialah nistagmus, vertigo, disartri, ataxia, depresi sumsum tulang dan gangguanfungsi hati.
·   Diazepam.
ü Biasanya dipergunakan pada kejang yang sedang berlangsung (status konvulsi.).
ü Pemberian i.m. hasilnya kurang memuaskan karena penyerapannya lambat. Sebaiknya diberikan i.v. atau intra rektal.
·      Nitrazepam (Inogadon).
ü Terutama dipakai untuk spasme infantil dan bangkitan mioklonus.
·      Ethosuximide (zarontine).
ü Merupakan obat pilihan pertama untuk epilepsi petit mal
·      Na-valproat (dopakene)
ü  Obat pilihan kedua pada petit mal
ü  Pada epilepsi grand mal pun dapat dipakai.
ü  Obat ini dapat meninggikan kadar GABA di dalam otak.
ü  Efek samping mual, muntah, anorexia
·      Acetazolamide (diamox).
ü  Kadang-kadang dipakai sebagai obat tambahan dalam pengobatan epilepsi.
ü  Zat ini menghambat enzim carbonic-anhidrase sehingga pH otak menurun, influks Na berkurang akibatnya membran sel dalam keadaan hiperpolarisasi.
·            ACTH
ü  Seringkali memberikan perbaikan yang dramatis pada spasme infantil.

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN EPILEPSI
A.  PENGKAJIAN
Anamnese
·      Identitas klien meliputi nama, umur (kebanyakan terjadi pada bayi dan neonatus), jenios kelamin, pendidikan, alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam masuk RS, nomor register, asuransi kesehatan, dan diagnosis medis.
·      Keluhan Utama: kejang, demam.
·      Riwayat kesehatan
Riwayat keluarga dengan kejang
Riwayat kejang demam
Tumor intracranial
Trauma kepal terbuka, stroke
·      Riwayat kejang
Berapa sering terjadi kejang
Gambaran kejang seperti apa
Apakah sebelum kejang ada tanda-tanda awal
Apa yang dilakuakn pasien setelah kejang
·      Riwayat penggunaan obat
Nama obat yang dipakai
Dosis obat
Berapa kali penggunaan obat
Kapan putus obat
Pemeriksaan fisik
B1 (BREATHING)
Inspeksi apakah klien batuk,produksi sputum, sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan penngkatan frekuensi pernapasan yang sering didapatkan pada klien epilepsy disertai dengan gangguan system pernapasan 
B2 (BLOOD)
Pengkajian pada system kardiovaskuler terutama dilakukan pada klien epilepsy tahap lanjut apabila klien sudah mengalami syok
B3 (BRAIN)
Tingkat kesadaran
Tingkat kesedaran klien dan respons terhadap lingkungan adalah indicator paling sensitive untuk menilai disfungsi system persarafan. Beberapa system dogunakan untuk membuat peringkat perubahan dalam kewaspadaan dan kesadaran.
Pemeriksaan fungsi serebral
Status mental: observasi penampilan dan tingkah laku klien, nloai gaya bicara dan observasi ekspresi wajah, aktivitas motorik pada klien eplepsi tahap lanjut biasanya mengalami  perubahan status mental seperti adanya gangguan prilaku, alam perasaan dan persepsi
Pemeriksaan saraf cranial
Saraf I. Biasanya pada klien eplepsi tidak ada kelainan dan fungsi penciuman 
Saraf II. Tes ketajaman penglihatan dalam kondisi normal
Saraf III, IV, dan VI. Dengan alas an yang tidak diketahui, klien epilepsy mengeluh mengalam fotofobia,( sensitive yang berlebihan terhadap cahaya )
Saraf  V. Biasanya tidak didapatkan paralysis otot wajah dan reflex kornea biasanya tidak ada kelainan
Saraf VII. Persepsi pengecapan dalam batas normal, wajah simetris.
Saraf VIII. Tidak ditemukan adanya tuli konduktif dan tuli persepsi
Saraf IX dan X. Kemampuan menelan baik
Saraf XI. Tidak ada atrofi otot sternokleidomastoideus dan trapezius.
Saraf XII. Lidah simetris, tidak ada deviasi pada satu sisi dan tidak ada fasikulasi. Indra pengecapan normal.
System motorik
Kekutan otot menurun, control keseimbangan dan koordinasi pada eplepsi tahap lanjut mengalami perubahan
Pemeriksaan refleks
Pemeriksaan reflex dalam, pengetukan pada tendon, ligamentum, dan periosteum, derajat reflex pada respons normal
System sensorik
Basanya didapatkan perasaan raba normal, perasaan suhu normal, tidak ada perasaan abnormal dipermukaan tubuh, perasaan propriosetif normal, dan perasaan diskriminatif normal. Pada rangsang cahaya merupakan tanda khas dari epilepsy. Pascakejang sering dkeluhkan adanya nyeri kepala yang bersifat akut.
B4 (BLADDER)
Pemeriksaan pada system kemih didapatkan berkurangnya volume output urin, hal ini berhubungan dengan penurunan perfusi dan penurunan curah jantung ke ginjal
B5 (BOWEL)
Mual sampai muntah dihubungkan dengan peningkatan produksi asam lambung. Pemenuhan nutrisi pada klien pada epilepsy menurun karena anoreksia dan adanya kejang
B6 (BONE)
Pada fase akut setelah kejang biasanya ddapatkan adanya penurunan kekuatan otot dan kelemahan fisik secara umum sehingga mengganggu aktivitas perawatan diri
Pemeriksaan Diagnostik
·      CT Scan
Untuk mendeteksi lesi pada otak, fokal abnormal, serebrovaskuler abnormal, gangguan degeneratif serebral
·      Elektroensefalogram(EEG)
Untuk mengklasifikasi tipe kejang, waktu serangan
·      Magnetik resonance imaging (MRI)
·      Kimia darah:
hipoglikemia, meningkatnya BUN, kadar alkohol darah.

B.  DIAGNOSA KEPERAWATAN
§  Resiko injury b/d aktivitas kejang berulang
§  Nyeri akut yang berhubungan dengan nyeri kepala skunder respons pasca kejang
§  Deficit perawatan diri yang berhubungan dengan konfusi, malas bangun sekunder respon pasca kejang
§  ketakutan b/d terjadinya kejang berulang
§  Koping individu tidak efektif yang berhubungan dengan depresi akibat epilepsi

C.  INTERVENSI KEPERAWATAN
Resiko tinggi injuri yang berhubungan dengan kejang berulang
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam perawatan klien bebas dari injuri yang disebabkan oleh kejang dan penurunan kesadaran
Criteria hasil : klien dan keluarga mengetahui pelaksanaan kejang, menghindari stimulus kejang, melakukan pengobatan teratur untuk menurunkan intensitas kejang
Intervensi
Rasional
Kaji tngkat pengetahuan klien dan keluarga cara penanganan saat kejang
Data dasar untuk intervensi selanjutnya
Ajarkan klien dan keluarga metode mengontrol demam
Orang tua dengan anak yang pernah mengalami kejang demam harus diintstrusikan tentang metode untuk mengontrol demam ( kompres dingin, obat antipiretik )
Anjurkan kontroling pasca cedera kepala
Cedera kepala merupakan salah satu penyebab utama yang dapat dicegah. Malalui program yang memberikan keamanan yang tinggi dan tindakan pencegahan yang aman, tetapi juga mengembangkan pencegahan epilepsy akibat cedera kepala
Anjurkan keluarga agar mempersiapkan lingkungan yang aman sepert batasan ranjang, papan pengaman, dan alat suction selalu berada dekat klien
Melindungi klien bla terjadi kejang
Anjurkan untuk menghndari rangsang cahaya yang berlebihan
Klien mengalami peka terhadap rangsang cahaya yang silau. Dengan menggunakan kaca mata hitam atau menutup salah satu mata dapat membantu mengontrol masalah ini
Anjurkan mempertahankan bedrest total selama fase akut
Mengurang resiko jatuh, jika vertigo, sncope, dan ataksia terjadi
Kolaborasi pemberian terapi fenitoin (dilantin)
Untuk mengontrol menurunkan respons kejangb berulang

Nyeri akut yang berhubungan dengan nyeri kepala skunder respons pascakejang
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam setelah diberikan intervensi keperawatan keluhan nyeri berkurang/rasa sakit terkontrol
Kriteri hasil : klien dapat tidur dengan tenang, wajah rileks dank lien memverbalisasikan penurunan rasa sakit
Intervensi
Rasional
Usahakan membuat lingkungan yang aman dan tenang
Menurunkan reaksi terhadap rangsangan eksternal atau sensitivitas terhadap cahaya dan menganjurkan klien untuk beristirahat
Lakukan manajemen nyeri, dengan metode distraksi dan relaksasi napas dalam
Membantu menurunkan stimulasi sensasi nyeri
Lakukan latihan gerak aktif atau pasif sesuai kondisi dengan lembut dan hati-hati
Dapat membantu relaksasi otot-otot yang tegang dan dapat menurunkan rasa sakit/tidak nyaman
Kolaborasi pemberan analgetik
Untuk menurunkan rasa sakit.
Catatan : narkotika merupakan kontraindikasi karena berdampak tehadap status neurologis sehingga sukar untuk dikaji

Koping individu tidak efektf yang berhubungan dengan depresi akibat epilepsy
Tujuan : dalam waktu 1x24 jam setelah intervensi harga diri klien meningkat
Criteria hasil : mampu mengkomunikasikan dengan orang-orang terdekat tentang situasi dan perubahan yang sedang terjadi, mampu menyatakan penerimaan diri terhadap situasi, mengakui dan  menggabungkan perubahan ke dalam konsep diri dengan cara akurat tanpa harga diri yang negative
Intervensi
Rasional
Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan
Menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi
Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi pada klien
Beberapa klien dapat menerima dan mengatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikt penyesuaian diri, sedangkan yangn lain mempunya kesulitan membandingkan, mengenal, dan mengatur kekurangan
Anjurkan klien untuk mengekspresikanperasaan termasuk hostlty dan kemarahan
Menunjukkan penerimaan, membantu klien untuk mengenal dan mula menyesuaikan dengan perasaan tersebut
Catat ketika klien menyatakan terpengaruh seperti sekarat atau mengingkari dan menyatakan inilah kematian
Mendukung penolakan terhadap bagian tubuh atau perasaan negative terhadap gambaran tubuh dan kemampuan yang menunjukan kebutuhan dan intervensi serta dukungan emosional
Pernyataan pengakuan terhadap penolakan tubuh, mengingatka kembali fakta kejadian tentang realitas bahwa masih dapat menggunakan sisi yang sakit dan belajar mengontrol sisi yang sehat.
Membantu klien untuk melihat bahwa perawat menerima kedua bagian sebagai bagian dari seluruh tubuh. Mengizinkan klien untuk merasakan adanya harapan dan mulai menerima situasi yang baru
Bantu dan anjurkan perawatan yang baik dan memperbaiki kebiasaan
Membantu meningkatkan perasaan harga diri dan mengontrol lebih dari satu area kehdupan
Anjurkan orang yang terdekat untuk mengizinkan klien melakukan hal untuk dirinya sebanyak-banyaknya
Menghidupkan kembali perasaan kemandirian dan membantu perkembangan harga diri serta mempengaruhi proses rehablitasi
Dukung perilaku atau usaha seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitasi
Klien dapat beradaptasi tehadap perubahan dan pengertian tentang peran individu masa mendatang
Monitor gangguan tidur peningkatan kesulitan konsentrasi, letargi, dan withdrawal
Dapat mengindikasikan terjadinya depresi umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke dimana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjut
Kolaborasi : rujuk pada ahli neuropsikologi dan konseling bila ada indikasi
Dapat memfasilitasi perubahan peran yang penting untuk perkembangan perasaan


DAFTAR PUSTAKA

Doenges, E. M, Mary F.M, Alice C.G, .2002. Rencana Asuhan Keperawatan, EGC, Jakarta.
Muttaqin, Arif. 2008. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika.
Suriadi, Rita Y. 2001. Asuhan Keperawatan Pada Anak, Edisi I. Jaakarta: CV. Sagung Seto.
Ns. Hasrat Jaya Ziliwu, S.Kep/ www.scribd.com/epilepsi/gangguan-konduksi-system-saraf/ diakses tanggal 16/11/2009


No comments:

Post a Comment

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...