TINJAUAN TEORI
A. Konsep Penyakit DHF
1. Pengertian
Penyakit Dangue adalah infeksi akut yang disebabkan oleh
arbovirus (arthropadborn virus) dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes (Aedes albopictuse dan Aedes
aegypti). Sampai sekarang dikenal ada 4 jenis virus dangue yang dapat
menimbulkan penyakit, baik demam dangue maupun demam berdarah. Demam Berdarah
Dangue adalah penyakit yang disebabkan oleh
virus dangue I, II, II, dan IV yang ditularkan oleh nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albocpitus. (Soegijanto, 2010).
2. Penyebab
Penyebab penyakit demam berdarah dangue pada seseorang adalah
virus dangue termasuk family flaviviridae genus Flavivirus yang terdiri dari 4
serotipe, yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.
Ke empat serotip ini ada di Indonesia, dan dilaporkan bahwa serotip
virus DEN-3 sering menimbulkan wabah. Virus DEN termasuk dalam kelompok virus
yang relative labil terhadap suhu dan faKtor kimiawai lain serta masa viremia
yang pendek. Virus DEN virionnya
tersusun oleh genom RNA dikelilingi oleh nukleokapsid, ditutupi oleh suatu
selubung dari lipid yang mengandung 2 protein yaitu selubung protein E dan
protein membrane M.
3. Patofisiologi
Patofisiologi primer
DBD dan DSS adalah peningkatan
akut permeabilitas vaskuler yang mengarah ke kebocoran plasma ke dalam ruang
ekstravaskuler, sehingga menimbulkan hemokonsentrasi dan penurunan tekanan
darah. Volume plasma menurun lebih dari 20% pada kasus-kasus berat. (Gubler,
1998). Jika penderita sudah stabil dan mulai sembuh, cairan ekstravasasi
diabsorbsi dengan cepat, menimbulkan penurunan hematokrit. Perubahan hemostasis
pada DBD dan DSS melibatkan 3 faktor, yaitu perunahan vaskuler, trombositopeni,
dan kelainan koagulasi (Soegijanto, 2004).
|
8
|
4. Patogenesis
Virus dangue masuk ke
dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk Aedes
aegypty atau Aedes albopictus dengan
organ sasaran adalah organ hepar, nodus limfaticus, sumsum tulang belakang, dan
paru. Dalam peredaran darah, virus tersebut akan difagosit oleh sel monosit
perifer. Virus DEN mampu bertahan hidup dan mengadakan multifikasi dalam sel
tersebut. Infeksivirus dangue dimulai dengan menempelnya virus genomnya masuk
ke dalam sel dengan bantuan organel-organel sel, genom virus membentuk
komponen-komponenya. Setelah terbentuk, virus dilepaskan dari sel. Proses
perkembangbiakan sel virus DEN terjadi di sitoplasma sel. Infeksi oleh satu
serotip virus DEN menimbulkan imunitas protektif terhadap serotype tersebut
tetapi tidak ada cross protectif terhadap serotip virus yang lain (Kurane & Francis, 2010).
Beberapa teori mengenai terjadinya DBD dan
DSS antara lain adalah:
a. Teori Antigen Antibodi
Virus dangue dianggap
sebagai antigen yang akan bereaksi dengan antibody, membentuk virus antibody
kompleks (komplek imun) yang akan mengaktifasi komplemen. Aktifasi ini akan
menghasilkan anafilaktosin C3A dan C5A yang akan merupakan mediator yang
mempunyai efek farmakologis cepat dan pendek. Bahan ini bersifat fasoaktif dan
prokoagulant sehingga menimbulkan kebococran plasma (hipovolemik syok dan
perdarahan. (Soewandoyo, 2009).
b. Teori Infection Enhancing Antibody
Teori ini berdasarkan
pada peran sel fagosit mononuclear merangsang terbentuknya antibody
nonnetralisasi. Antigen dangue lebih banyak didapat pada sel makrofag yang
tinggal menetap di jaringan. Pada kejadian ini antibody nonnetralisasi berupaya
melekat pada sekeliling permukaan sel makrofag yang beredar dan tidak melekat
pada sel makrofag yang menetapdi jaringan. Makrofag yang dilekati antibody
nonnetralisasi akan memiliki sifat opsonisasi, internalisasi dan akhirnya sel
mudah terinfeksi.
Makrofag yang
terinfeksi akan menjadi aktif dan akan melepaskan sitokin yang memiliki sifat
vasoaktif atau prokoagulasi. Bahan-bahan mediator tersebut akan mempengaruhi
sel-sel endotel dinding pembuluh darah dan system hemostatik yang akan mengakibatkan
kebocoran plasma dan perdarahan. (Wang, 2011).
c. Teori mediator
Teori mediator didasarkan pada
beberapa hal:
1)
Kelanjutan
dari teori antibody enhancing, bahwa makrofag yang terinfeksi virus
mengeluarkan mediator atau sitokin. Fungsi dan mekanismme sitokin kerja adalah
sebagai mediator pada imunitas alami yang disebabkan oleh rangsangan zat yang
infeksius, sebagai regulator yang mengatur aktivasi, proliferasi dan
diferensiasi limfosit, sebagai activator sel inflamasi nonspesifik, dan sebagai
stimulator pertumbuhan dan deferensiasi lekosit matur.
2)
Kejadian
masa krisis pada DBD selama 48-72 jam, berlangsung sangat pendek. Kemudian
disusul masa penyembuhan yang cepat, dan praktis tidak ada gejala sisa.
3)
Dari
kalangan ahli syok bacterial, mengambil perbandingan bahwa pada syok septic
banyak berhubungan dengan mediator.
Menurut Suvatte (2008)
patogenesis DBD dan DSS
adalah masih merupakan masalah yang kontroversial. Dua teori yang banyak dianut
pada DBD dan DSS
adalah hipotesis infeksi sekunder (teori secondary heterologous infection) atau hipotesis immune enhancement.
Hipotesis ini menyatakan secara tidak langsung bahwa pasien yang mengalami
infeksi yang kedua kalinya dengan serotipe virus dengue yang heterolog mempunyai
risiko berat yang lebih besar untuk
menderita DBD berat.
Antibodi heterolog yang telah ada
sebelumnya akan mengenai virus lain yang akan menginfeksi dan kemudian
membentuk kompleks antigen antibodi yang kemudian berikatan dengan reseptor
dari membran sel leokosit terutama makrofag. Oleh karena antibodi heterolog
maka virus tidak dinetralisasikan oleh tubuh sehingga akan bebas melakukan
replikasi dalam sel makrofag. Dihipotesiskan
juga mengenai antibodi dependent enhancement (ADE), suatu proses yang akan meningkatkan infeksi
dan replikasi virus dengue di dalam sel
mononuklear. Sebagai respon terhadap infeksi tersebut, terjadi sekresi mediator vasoaktif yang kemudian
menyebabkan peningkatan permeabilitas pembuluh darah, sehingga mengakibatkan
keadaan hipovolemia dan syok (Suvatte,
2009).
Sebagai akibat
infeksi sekunder oleh tipe virus dengue
yang berlainan pada seorang pasien, respons antibodi anamnestik yang
akan terjadi dalam waktu beberapa hari
mengakibatkan proliferasi dan transformasi limfosit dengan menghasilkan titer
tinggi antibodi IgG anti dengue. Disamping itu, replikasi virus dengue terjadi
juga dalam limfosit yang bertransformasi dengan akibat terdapatnya virus dalam
jumlah banyak. Hal ini akan
mengakibatkan terbentuknya virus kompleks antigen-antibodi (virus antibody compleks) yang selanjutnya
akan mengakibatkan aktivasi sistem komplemen. Pelepasan C3a dan C5a akibat
aktivasi C3 dan C5 menyebabkan peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah
dan merembesnya plasma dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular (Suvatte, 2009).
Pada pasien dengan syok berat, volume plasma dapat
berkurang sampai lebih dari 30 % dan
berlangsung selama 24-48 jam. Perembesan plasma ini terbukti dengan adanya, peningkatan kadar hematokrit,
penurunan kadar natrium, dan terdapatnya cairan di dalam rongga serosa (efusi
pleura, asites). Syok yang tidak ditanggulangi secara adekuat, akan menyebabkan
asidosis dan anoksia, yang dapat berakhir fatal. Oleh karena itu, pengobatan
syok sangat penting guna mencegah kematian (Suvatte, 2009).
Hipotesis kedua,
menyatakan bahwa virus dengue seperti juga virus binatang lain dapat mengalami
perubahan genetik akibat tekanan sewaktu.
Virus mengadakan replikasi baik pada tubuh manusia maupun pada tubuh nyamuk. Ekspresi fenotipik dari perubahan
genetik dalam genom virus dapat
menyebabkan peningkatan replikasi virus dan viremia, peningkatan
virulensi dan mempunyai potensi untuk
menimbulkan wabah. Selain itu beberapa strain virus mempunyai kemampuan untuk
menimbulkan wabah yang besar (Suvatte,
2009).
Sebagai respon
terhadap infeksi virus dengue, kompleks antigen-antibodi selain mengaktivasi
sistem komplemen, juga menyebabkan agregasi trombosit dan mengaktivitasi sistem koagulasi melalui
kerusakan sel endotel pembuluh
darah. Kedua faktor tersebut
akan menyebabkan perdarahan pada DBD.
Agregasi trombosit terjadi sebagai akibat dari perlekatan kompleks
antigen-antibodi pada membran trombosit mengakibatkan pengeluaran ADP (adenosin
di phosphat), sehingga trombosit melekat satu sama iain. Hal ini akan menyebabkan trombosit dihancurkan oleh
RES (reticulo endothelial system) sehingga terjadi trombositopenia. Agregasi
trombosit ini akan menyebabkan pengeluaran platelet faktor III mengakibatkan
terjadinya koagulopati konsumtif (KID = koagulasi intravaskular deseminata),
ditandai dengan peningkatan FDP (fibrinogen degredation product) sehingga
terjadi penurunan factor pembbekuan. Agregasi trombosit ini juga mengakibatkan
gangguan fungsi trombosit, sehingga walaupun jumlah trombosit masih cukup
banyak, tidak berfungsi baik. Di sisi lain, aktivasi koagulasi akan menyebabkan
aktivasi factor Hageman sehingga terjadi aktivasi sistem kinin sehingga memacu
peningkatan permeabilitas kapiler yang
dapat mempercepat terjadinya syok. Jadi, perdarahan masif pada DBD diakibatkan
oleh trombositpenia, penurunan faktor pembekuan (akibat KID), kelainan fungsi
trombosit, dankerusakan dinding endotel
kapiler. Akhirnya perdarahan akan mempercepat syok yang terjadi (Suvatte, 2009).
5. Klasifikasi
WHO (1997) membagi DBD menjadi 4 (Vasanwala dkk, 2011):
a. Derajat 1
Demam
tinggi mendadak (terus menerus 2-7 hari) disertai tanda dan gejala klinis
(nyeri ulu hati, mual, muntah, hepatomegali), tanpa perdarahan spontan,
trombositopenia dan hemokonsentrasi, uji tourniquet positif.
b. Derajat 2
Derajat
1 dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau tempat lain seperti mimisan,
muntah darah dan berak darah.
c. Derajat 3
Ditemukan
kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah
(hipotensi), kulit dingin, lembab dan gelisah, sianosis disekitar mulut, hidung
dan jari (tanda-tand adini renjatan).
d. Renjatan berat (DSS) / Derajat 4
Syok berat dengan nadi tak teraba dan tekanan
darah tak dapat diukur.
6. Manifestasi
Klinis
a. Demam
Demam berdarah dengue biasanya ditandai
dengan demam yang mendadak tanpa sebab yang jelas, continue, bifasik. Biasanya
berlangsung 2-7 hari (Bagian Patologi Klinik, 2009). Naik turun dan tidak
berhasil dengan pengobatan antipiretik. Demam biasanya menurun pada hari ke-3
dan ke-7 dengan tanda-tanda anak menjadi lemah, ujung jari, telinga dan hidung
teraba dingin dan lembab. Masa kritis pda hari ke 3-5. Demam akut (38°-40° C)
dengan gejala yang tidak spesifik atau terdapat gejala penyerta seperti ,
anoreksi, lemah, nyeri punggung, nyeri tulang sendi dan kepala.
Gambar: Kurva suhu pada DHF
b. Perdarahan
Manifestasi perdarahan pada umumnya muncul
pada hari ke 2-3 demam. Bentuk perdarahan dapat berupa: uji tourniquet positif
yang menandakan fraglita kapiler meingkat (Bagian Patologi Klinik, 2009).
Kondisi seperti ini juga dapat dijumpai pada campak, demam chikungunya, tifoid,
dll. Perdarahan tanda lainnya ptekie, purpura, ekomosis, epitaksis dan
perdarahan gusi, hematemesisi melena. Uji tourniquet positif jika terdapat
lebih dari 20 ptekie dalam diameter 2,8 cm di lengan bawah bagian volar
termasuk fossa cubiti.
c. Hepatomegali
Ditemukan pada permulaan demam, sifatnya
nyeri tekan dan tanpa disertai ikterus. Umumnya bervariasi, dimulai dengan
hanya dapat diraba hingga 2-4 cm di bawah lengkungan iga kanan (Bagian Patologi
Klinik, 2009). Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya penyakit
namun nyeri tekan pada daerah tepi hati berhubungan dengan adanya perdarahan.
d. Renjatan (Syok)
Syok biasanya terjadi pada saat demam mulai
menurun pada hari ke-3 dan ke-7 sakit. Syok yang terjadi lebih awal atau
periode demam biasanya mempunyai prognosa buruk (Bagian Patologi Klinik, 2009).
Kegagalan sirkulasi ini ditandai dengan denyut nadi terasa cepat dan lemah
disertai penurunan tekanan nadi kurang dari 20 mmHg. Terjadi hipotensi dengan
tekanan darah kurang dari 80 mmHg, akral dingin, kulit lembab, dan pasien
terlihat gelisah.
7. Pemeriksaan
Penunjang
a. Darah
1) Kadar trombosit darah menurun
(trombositopenia) (≤ 100000/µI)
2) Hematokrit meningkat ≥ 20%, merupakan
indikator akan timbulnya renjatan. Kadar trombosit dan hematokrit dapat menjadi
diagnosis pasti pada DBD dengan dua kriteria tersebut ditambah terjadinya
trombositopenia, hemokonsentrasi serta dikonfirmasi secara uji serologi
hemaglutnasi (Brasier, Ju, Garcia, Spratt, Forshey, Helsey, 2012).
Gambar:
Perubahan Ht, Trombosit, dan LPB dalam perjalanan DHF
3) Hemoglobin meningkat lebih dari 20%.
4) Lekosit menurun (lekopenia) pada hari kedua
atau ketiga
5) Masa perdarahan memanjang
6) Protein rendah (hipoproteinemia)
7) Natrium rendah (hiponatremia)
8) SGOT/SGPT beisa meningkat
9) Asidosis metabolic
10)
Eritrosit
dalam tinja hampir sering ditemukan
b. Urine
Kadar albumine urine positif (albuminuria)
(Vasanwala, Puvanendran, Chong, Ng, Suhail, Lee, 2011).
c. Foto thorax
Pada pemeriksaan foto thorax dapat ditemukan
efusi pleura. Umumnya posisi lateral dekubitus kanan (pasien tidur di sisi
kanan) lebih baik dalam mendeteksi cairan dibandingkan dengan posisi berdiri
apalagi berbaring.
d. USG
Pemeriksaan USG biasanya lebih disukai pada
anak dan dijadikan sebagai pertimbangan
karena tidak menggunakan system pengion (Sinar X) dan dapat diperiksa sekaligus
berbagai organ pada abdomen. Adanya acites dan cairan pleura pada pemeriksaan
USG dapat digunakan sebagai alat
menentukan diagnose penyakit yang mungkin muncul lebh berat misalnya dengan
melihat ketebalan dinding kandung empedu dan penebalan pancreas.
e. Diagnosis Serologis
1) Uji hemaglutinasi inhibisi (Uji HI)
Tes
ini adalah gold standard pada pemeriksaan serologis, sifatnya sensitive namun
tidak spesifik artinya tidak dapat
menunjukkan tipe virus yang menginfeksi. Antibody HI bertahan dalam tubuh lama
sekali (>48 tahun) sehingga uji ini baik digunakan pada studi serologi-epidemioligi.
Untuk diagnosis pasien, Kenaikan titer konvalesen 4x lipat dari titer serum
akut atau titer tinggi (> 1280) baik pada serum akut atau konvalesen
daianggap sebagai presumtif (+) atau di dugan keras positif infeksu dengue yang
baru terjadi (Vasanwala dkk, 2011).
2) Uji komplemen fiksasi (uji CF)
Jarang
digunakan secara rutin karena prosedur pemeriksaannya rumit dan butuh tenaga
berpengalaman. Antibodi komplemen fiksasi bertahan beberapa tahun saja (sekitar
2-3 tahun).
3) Uji neutralisasi
Uji
ini paling sensitif dan spesifik untuk virus dengue. Biasanya memamkai cara
Plaque Reduction Neutralization Test (PNRT) yaitu berdasarkan adanya reduksi
dari plaque yang terjadi. Anti body neutralisasi dapat dideteksi dalam serum
bersamaan dengan antibody HI tetapi lebih cepat dari antibody komplemen fiksasi
dan bertahan lama (>4-8 tahun).
Prosedur uji ini rumit dan butuh waktu lama sehingga tidak rutin
digunakan (Vasanwala dkk, 2011).
4) IgM Elisa (Mac Elisa, IgM captured ELISA)
Banyak
sekali dipakai. Uji ini dilakukan pada hari ke-4-5 infeksi virus dengue karena
IgM sudah timbul kamudian akan diikuti IgG. Bila IgM negative uji ini perlu
diulang. Apabila hari sakit ke-6 IgM msih negative maka dilaporkan sebagai
negative. IgM dapat bertahan dalam darah samapi 2-3 bulan setelah adanya
infeksi. Sensitivitas uji Mac Elisa sedikit di bawah uji HI dengan kelebihan
uji Mac Elisa hanya memerlukan satu serum akut saja dengan spesifitas yang sama
dengan uji HI (Vasanwala dkk, 2011).
5) Identifikasi Virus
Cara
diagnostic baru dengan reverse transcriptase polymerase chain reaction (RTPCR)
sifatnya sangat sensitive dan spesifik terhadap serotype tertentu, hasil cepat
didapat dan dapat diulang dengan mudah. Cara ini dapat mendeteksi virus RNA
dari specimen yang berasal dari darah, jaringan tubuh manusia, dan nyamuk. Sensitifitas
PCR sama dengan isolasi virus namun PCR tidak begitu dipengaruhi oleh
penanganan specimen yang kurang baik bahkan adanya antibody dalam darah juga
tidak mempengaruhi hasil dari PCR (Vasanwala dkk, 2011).
8. Penatalaksanaan
a. Pre
Hospital
Penatalaksanaanprehospital
DBD bisa
dilakukan melalui 2 cara yaitu pencegahan dan
penanganan pertama pada penderita demam berdarah. DinasKesehatan Kota Denpasar
menjelaskan pencegahan yang dilakukan meliputi kegiatan pemberantasan sarang
nyamuk (PSN), yaitu kegiatan memberantas jentik ditempat perkembangbiakan
dengan cara 3M Plus:
1) Menguras dan menyikat tempat-tempat
penampungan air, seperti bak mandi / WC, drum, dan lain-lain seminggu sekali
(M1).
2) Menutup rapat-rapat tempat penampungan air,
seperti gentong air/tempayan, dan lain-lain (M2).
3) Mengubur atau menyingkirkan barang-barang
bekas yang dapat menampung air hujan (M3).
Plusnya adalah
tindakan memberantas jentik dan menghindari gigitan nyamuk dengan cara:
1) Membunuh jentik nyamuk Demam Berdarah di
tempat air yang sulit dikuras atau sulit air dengan menaburkan bubuk Temephos
(abate) atau Altosid. Temephos atau Altosid ditaburkan 2-3 bulan sekali dengan
takaran 10 gram Abate ( ± 1 sendok makan peres)
untuk 100 liter air atau dengan takaran 2,5 gram Altosid ( ± 1/4 sendok makan peres) untuk 100 liter air. Abate dan Altosid dapat diperoleh di puskesmas atau di apotik.
untuk 100 liter air atau dengan takaran 2,5 gram Altosid ( ± 1/4 sendok makan peres) untuk 100 liter air. Abate dan Altosid dapat diperoleh di puskesmas atau di apotik.
2) Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk.
3) Mengusir nyamuk dengan menggunakan obat
nyamuk
4) Mencegah gigitan nyamuk dengan memakai obat
nyamuk gosok
5) Memasang kawat kasa pada jendela dan
ventilasi
6) Tidak membiasakan menggantung pakaian di
dalam kamar
7) Melakukan fogging atau pengasapan bila
dilokasi ditemukan 3 kasus positif DBD dengan radius 100 m (20 rumah) dan bila
di daerah tersebut ditemukan banyak jentik nyamuk.
Pada orang yang
menderita demam berdarah pada awalnya mengalami demam tinggi. Kondisi demam
dapat mengakibatkan tubuh kekurangan cairan karena penguapan, apalagi bila
gejala yang menyertai adalah muntah atau intake tidak adekuat (tidak mau minum),
akhirnya jatuh dalam kondisi dehidarasi. Pertolongan pertama yang dapat
diberikan adalah mengembalikan cairan tubuh yaitu meberikan minum 2 liter/hari
(kira – kira 8 gelas) atau 3 sendok makan tiap 15 menit. Minuman yang diberikan
sesuai selera misalnya air putih, air teh manis, sirup, sari buah, susu,
oralit, shoft drink, dapat juga diberikan nutricious diet yang banyak beredar
saat ini. Untuk mengetahui pemberian cairan cukup atau masih kurang, perhatikan
jumlah atau frakuensi kencing. Frekuansi buang air kecil minimal 6 kali sehari
menunjukkan pemberian cairan mencukupi (IDAI, 2009).
Ada cara yang bisa ditempuh tanpa
harus diopname di rumah sakit, tapi butuh kemauan yang kuat untuk melakukannya.
Cara itu adalah sebagai berikut menurut WHO:
1) Minumlah air putih minimal 20 gelas berukuran sedang
setiap hari (lebih banyak lebih baik)
2) Cobalah
menurunkan panas dengan minum obat penurun panas. Parasetamol sebagai pilihan, dengan dosis 10 mg/BB/kali tidak
lebih dari 4 kali sehari. Jangan memberikan aspirin dan brufen/ibuprofen, sebab dapat
menimbulkan gastritis dan atau perdarahan.
3) Beberapa dokter
menyarankan untuk minum minuman ion tambahan ( pocari sweet )
4) Minuman lain yang disarankan: Jus jambu merah untuk
meningkatkan trombosit
5) Makanlah makanan yang bergizi dan usahakan makan dalam
kuantitas yang banyak
6)
Cara
penghitung kebutuhan cairan dapat berdasarkan rumus berikut ini :
a)
Dewasa: 50
cc/kg BB/hari
b)
Anak: Untuk
10 kg BB pertama: 100cc/kg BB/ hari
- Untuk 10 kg BB kedua: 50 cc/kg BB/ hari
- Untuk 10 kg BB ketiga dan seterusnya: 20 cc/kg BB/hari
- Untuk 10 kg BB kedua: 50 cc/kg BB/ hari
- Untuk 10 kg BB ketiga dan seterusnya: 20 cc/kg BB/hari
Jenis
minuman yang di rekomendasikan bagi penderita DBD merupakan sebagian
dari obat demam berdarah yang dimaksudkan untuk menghindari pasien dari
kekurangan cairan, antara lain :
a)
Jus Buah
Untuk mengatasi kekurangan cairan karena
demam berdarah dapat memberikan banyak cairan berupa air jus. Tidak selalu harus jus jambu biji, bisa memberikan jus buah lain seperti jus
pepaya, jeruk, atau jus mangga. Dengan kadar air dalam buah berhitung tinggi antara 65 sampai 92 persen,
sehingga bisa mensuplai atau menutupi kekurangan cairan akibat merembesnya
plasma darah keluar dari pembuluh.
b) Air Kelapa Muda
Air kelapa muda banyak megandung mineral
kalium, sodium, klorida, dan magnesium. Zat-zat ini adalah elektrolit yang
dibutuhkan tubuh untuk membantu mengatasi ancaman syok pada kondisi kekurangan
cairan. Selain kalium, juga mengandung gula, vitamin B dan C dan protein.
Komposisi gula dan mineral yang terdapat dalam air ini begitu sempurna,
sehingga memiliki keseimbangan yang mirip dengan cairan tubuh manusia.
c)
Air Heksagonal
Air heksagonal merupakan air yang banyak
mengandung oksigen, air telah banyak dikembangkan untuk membantu metabolisme
tubuh sehingga bisa menjaga stamina dan vitalitas, termasuk bagi yang menderita
demam berdarah.
d) Alang-Alang
Dalam kandungan Alang-alang terdapat manitol, glukosa, sakharosa, malic acid, citric acid, coixol, arundoin, cylindrin, fernenol, simiarenol, anemonin, asam kersik, damar, dan logam alkali. Dilihat dari kandungan-kandungan tersebut, alang-alang bersifat antipiretik (menurunkan panas), diuretik (meluruhkan kemih), hemostatik (menghentikan perdarahan), dan menghilangkan haus.
Dalam kandungan Alang-alang terdapat manitol, glukosa, sakharosa, malic acid, citric acid, coixol, arundoin, cylindrin, fernenol, simiarenol, anemonin, asam kersik, damar, dan logam alkali. Dilihat dari kandungan-kandungan tersebut, alang-alang bersifat antipiretik (menurunkan panas), diuretik (meluruhkan kemih), hemostatik (menghentikan perdarahan), dan menghilangkan haus.
Pada pasien anak yang
rentan mempunyai riwayat kejang demam maka perlu diwaspadai gejala kejang
demam. Seiring dengan kehilangan cairan akibat demam tinggi, kondisi demam
tinggi juga dapat mencetuskan kejang pada anak sehingga harus diberikan obat
penurun panas. Untuk menurunkan demam, berilah obat penurun panas. Untuk jenis
obat penurun panas ini harus dipilih obat yang berasal dari golongan
parasetamol atau asetaminophen, jangan diberikan jenis asetosal atau aspirin
oleh karena dapat merangsang lambung sehingga akan memperberat bila terdapat
perdarahan lambung. Kompres dapat membantu bila anak menderita demam terlalu
tinggi sebaiknya diberikan kompres hangat dan bukan kompres dingin, oleh karena
kompres dingin dapat menyebabkan anak menggigil. Sebagai tambahan untuk anak
yang mempunyai riwayat kejang demam disamping obat penurun panas dapat diberikan
obat anti kejang (IDAI, 2009).
IDAI (2009) menjelaskan tanda-tanda syok
harus dikenali dengan baik karena sangat berbahaya. Apabila syok tidak
tertangani dengan baik maka akan menyusul gejala berikutnya yaitu perdarahan.
Pada saat terjadi perdarahan hebat penderita akan tampak sangat kesakitan, tapi
bila syok terjadi dalam waktu yang lama, penderita sudah tidak sadar lagi.
Dampak syok dapat menyebabkan semua organ tubuh akan kekurangan oksigen dan
akhirnya menyebabkan kematian dalam waktu singkat. Oleh karena itu penderita
harus segera dibawa kerumah sakit bila terdapat tanda gejala dibawah ini:
1) Demam tinggi (lebih 39oc
ataulebih)
2) Muntah terus menerus
3) Tidak dapat atau tidak mauminum sesuai
anjuran
4) Kejang
5) Perdarahan hebat, muntah atau berak darah
6) Nyeri perut hebat
7) Timbul gejala syok, gelisah atau tidak
sadarkan diri, nafas cepat, seluruh badan teraba lembab, bibir dan kuku
kebiruan, merasa haus, kencing berkurang atau tidak ada sama sekali
8) Hasil laboratorium menunjukkan peningkatan
kekentalan darah atau penurunan jumlah trombosit
Peran serta keluarga dan masyarakat sangat
penting untuk membantu dalam menangani penyakit demam berdarah. Dinas Kesehatan
Kota Denpasar mengarahkan apabila ada penderita yang terkena demam berdarah
maka harus segera melaporkan Kadus/Kaling/Kades/Lurah atau sarana pelayanan
kesehatan terdekat bila ada anggota masyarakat yang terkena DBD.
Penelitian oleh Kandou, Grace D (2006)
pelatihan uji tourniquet bagi kader kesehatan sebagai salah satu cara deteksi
dini demam berdarah dengue memberikan gambaran bahwa setelah diberikan
penyuluhan dan simulasi pemeriksaan uji tourniquet terjadi perubahan yang
bermakna dimana para kader menjadi tahu dan paham tentang penyakit demam
berdarah Dengue serta cara deteksi dini sederhana yang dapat dilakukan sebelum
merujuk penderita ketempat pelayanan kesehatan.
b. Intra
Hospital di Unit Gawat Darurat
Pada dasarnya pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi
kehilangan cairan plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler
dansebagai akibat perdarahan. Pasien DD dapat berobat jalan sedangkan pasien
DBD dirawat di ruang perawatan biasa. Tetapi pada kasus DBD dengan komplikasi
diperlukan perawatan intensif.
Perbedaan patofisilogik utama antara DD/DBD/SSD dan penyakit
lain adalah adanya peningkatan permeabilitas kapiler yang menyebabkan
perembesan plasma dangangguan hemostasis. Gambaran klinis DBD/SSD sangat khas
yaitu demam tinggi mendadak, diastesis hemoragik, hepatomegali, dan kegagalan
sirkulasi. Maka keberhasilan tatalaksana DBD terletak pada bagian mendeteksi
secara dini fase kritis yaitu saat suhu turun (the time of defervescence) yang
merupakan ease awal terjadinya
kegagalan sirkulasi, dengan melakukan observasi klinis disertai pemantauan
perembesan plasma dan gangguan hemostasis.
Prognosis DBD terletak pada pengenalan awal terjadinya perembesan plasma, yang
dapat diketahui dari peningkatan kadar hematokrit (DepKes RI, 2005).
Fase kritis pada umumnya mulai terjadi pada hari ketiga sakit.
Penurunanjumlah trombosit sampai <100.000/pl atau kurang dari 1-2 trombosit/
Ipb (rata-rata dihitung pada 10 Ipb) terjadi sebelum peningkatan hematokrit
dansebelum terjadi penurunan suhu. Peningkatan hematokrit 20% atau lebih
mencermikan perembesan plasma dan merupakan
indikasi untuk pemberian caiaran. Larutan garam isotonik atau ringer laktat
sebagai cairan awal pengganti volume plasma dapat diberikan sesuai dengan berat
ringan penyakit. Perhatian khusus pada kasus dengan peningkatan hematokrit yang terus
menerus dan penurunan jumlah
trombosit < 50.000/41. Secara umum pasien DBD derajat I danII dapat dirawat
di Puskesmas, rumah sakit kelas D, C dan pada ruang rawat sehari di rumah sakit
kelas B danA (DepKes
RI, 2009).
1) Fase Demam
Tatalaksana DBD fase demam tidak berbeda
dengan tatalaksana DD, bersifat simtomatik dan suportif yaitu pemberian cairan
oral untuk mencegah dehidrasi.
Apabila cairan oral tidak dapat diberikan oleh karena tidak mau minum, muntah atau nyeri perut yang
berlebihan, maka cairan intravena rumatan
perlu diberikan. Antipiretik kadang-kadang diperlukan, tetapi perlu diperhatikan bahwa antipiretik tidak
dapat mengurangi lama demam pada DBD. Parasetamol direkomendasikan untuk
pemberian atau dapat di sederhanakan
seperti tertera pada Tabel 1. Rasa
haus dan
keadaan dehidrasi dapat timbul
sebagai akibat demam tinggi, anoreksia
danmuntah. Jenis minuman yang dianjurkan adalah jus buah, air teh manis, sirup, susu, serta larutan
oralit. Pasien perlu diberikan minum 50 ml/kg
BB dalam 4-6 jam pertama. Setelah keadaan dehidrasi dapat diatasi anak diberikan cairan rumatan 80-100
ml/kg BB dalam 24 jam berikutnya. Bayi yang
masih minum asi, tetap harus diberikan disamping larutan oiarit. Bila terjadi kejang demam, disamping
antipiretik diberikan antikonvulsif selama
demam (DepKes RI, 2009)
Tabel 1
Dosisi Parasetamol Menurut umur
|
Umur
(Tahun)
|
Parasetaol
(tiap kali pemberian)
|
|
|
Dosis
(mg)
|
Tablet
(1 tab = 500 mg)
|
|
|
< 1
|
60
|
1/8
|
|
1-3
|
60-125
|
1/8-1/4
|
|
4-6
|
125-250
|
1/4-1/2
|
|
7-12
|
250-500
|
1/2-1
|
Pasien harus diawasi ketat terhadap kejadian syok yang mungkin terjadi. Periode kritis adalah waktu transisi, yaitu saat suhu turun pada umumnya hari ke 3-5 fase demam. Pemeriksaan kadar hematokrit berkala merupakan pemeriksaan laboratorium yang terbaik untuk pengawasan hasil pemberian cairan yaitu menggambarkan derajat kebocoran plasma danpedoman kebutuhan cairan intravena. Hemokonsentrasi pada umumnya terjadi sebelum dijumpai perubahan tekanan darah dantekanan nadi. Hematokrit harus diperiksa minimal satu kali sejak hari sakit ketiga sampai suhu normal kembali. Bila sarana pemeriksaan hematokrit tidak tersedia, pemeriksaan hemoglobin dapat dipergunakan sebagai alternatif walaupun tidak terlalu sensitif. Untuk Puskesmas yang tidak ada alat pemeriksaan Ht, dapat dipertimbangkan dengan menggunakan Hb. Sahli dengan estimasi nilai Ht = 3 x kadar Hb (DepKes RI, 2009).
a) Penggantian Volume Plasma
Dasar patogenesis DBD
adalah perembesan plasma, yang terjadi pada fase penurunan suhu (fase a-febris,
fase krisis, fase syok) maka dasar pengobatannya adalah penggantian volume
plasma yang hilang. Walaupun demikian, penggantian cairan harus diberikan
dengan bijaksana dan berhati-hati. Kebutuhan cairan awal dihitung untuk 2-3 jam
pertama, sedangkan pada kasus syok mungkin lebih sering (setiap 30-60 menit).
Tetesan dalam 24-28 jam berikutnya harus selalu disesuaikan dengan tanda vital,
kadar hematokrit, danjumlah volume urin (DepKes RI, 2005).
Penggantian volume
cairan harus adekuat, seminimal mungkin mencukupi kebocoran plasma. Secara umum
volume yang dibutuhkan adalah jumlah cairan rumatan ditambah 5-8%. Cairan
intravena diperlukan, apabila (1) Anak terus menerus smuntah, tidak mau minum, demam tinggi
sehingga tidak rnungkin diberikan minum per oral, ditakutkan terjadinya dehidrasi
sehingga mempercepat terjadinya syok. (2) Nilai hematokrit cenderung meningkat
pada pemeriksaan berkala. Jumlah cairan yang diberikan tergantung dari derajat
dehidrasi dankehilangan elektrolit, dianjurkan cairan glukosa 5% di dalam
larutan NaCl 0,45%. Bila terdapat asidosis, diberikan natrium bikarbonat 7,46%
1-2 ml/kgBB intravena bolus perlahan-lahan (DepKes RI, 2005).
Apabila terdapat
hemokonsentrasi 20% atau lebih maka komposisi jenis cairan yang diberikan harus
sama dengan plasma. Volume dankomposisi cairan yang diperlukan sesuai cairan
untuk dehidrasi pada diare ringan sampai sedang, yaitu cairan rumatan + defisit
6% (5 sampai 8%), seperti tertera pada tabel 2 dibawah ini (DepKes RI, 2005).
Tabel 2
Kebutuhan Cairan
pada Dehidrasi Sedang
(defisit
cairan 5 – 8 %)
|
Berat
Badan waktu masuk RS ( kg )
|
Jumlah
cairan Ml/kg berat badan per hari
|
|
< 7
|
220
|
|
7-11
|
165
|
|
12-18
|
132
|
|
>18
|
88
|
Pemilihan jenis danvolume cairan yang
diperlukan tergantung dari umur dan berat badan pasien serta derajat kehilangan
plasma, yang sesuai dengan derajat hemokonsentrasi. Pada anak gemuk, kebutuhan
cairan disesuaikan dengan berat badan ideal untuk anak umur yang sama (DepKes RI, 2005).
2) Sindrom Syok Dengue
Syok merupakan Keadaan kegawatan. Cairan
pengganti adalah pengobatan yang utama yang berguna untuk memperbaiki
kekurangan volume plasma. Pasien anak akan cepat mengalami syek dansembuh
kembali bila diobati segera dalam 48 jam. Pada penderita SSD dengan tensi tak
terukur dantekanan nadi <20 mm Hg segera berikan cairan kristaloid sebanyak
20 ml/kg BB/jam seiama 30 menit, bila syok teratasi turunkan menjadi 10 ml/kg
BB (DepKes RI, 2005).
a) Penggantian Volume
Plasma Segera
Pengobatan awal cairan intravena larutan
ringer laktat > 20 ml/kg BB. Tetesan
diberikan secepat mungkin maksimal 30 menit. Pada anak dengan berat
badan lebih, diberi cairan
sesuai berat BB ideal danumur 10 mm/kg BB/jam, bila tidak ada perbaikan pemberian cairan
kristoloid ditambah cairan koloid. Apabila syok belum dapat teratasi setelah 60 menit beri cairan kristaloid
dengan tetesan 10 ml/kg BB/jam
bila tidak ada perbaikan stop pemberian kristaloid danberi cairan koloid (dekstran 40 atau plasma) 10
ml/kg BB/jam. Pada umumnya pemberian koloid
tidak melebihi 30 ml/kg BB. Maksimal pemberian koloid 1500 ml/hari, sebaiknya tidak diberikan pada saat
perdarahan. Setelah pemberian cairan resusitasi
kristaloid dankoloid syok masih menetap sedangkan kadar hematokrit turun, diduga sudah terjadi perdarahan; maka
dianjurkan pemberian transfusi
darah segar. Apabila kadar hematokrit tetap > tinggi, maka berikan darah dalam volume kecil (10 ml/kg BB/jam) dapat
diulang sampai 30 ml/kgBB/ 24
jam. Setelah keadaan klinis membaik, tetesan infuse dikurangi bertahap sesuai keadaan klinis dankadar hematokrit (DepKes RI, 2005).
b) Pemeriksaan Hematokrit untuk Memantau
Penggantian Volume Plasma
Pemberian cairan harus tetap diberikan
walaupun tanda vital telah membaik dankadar
hematokrit turun. Tetesan cairan segera diturunkan menjadi 10 ml/kg BB/jam dankemudian disesuaikan tergantung
dari kehilangan plasma yang
terjadi selama 24-48 jam. Pemasangan CVP yang ada kadangkala pada pasien SSD berat, saat ini tidak
dianjurkan lagi. Cairan
intravena dapat dihentikan apabila hematokrit telah turun, dibandingkan nilai Ht sebelumnya. Jumlah
urin/ml/kg BB/jam atau lebih merupakan
indikasi bahwa keadaaan sirkulasi membaik (DepKes RI, 2005).
Pada umumnya, cairan tidak perlu diberikan lagi setelah 48 jam syok teratasi.
Apabila cairan tetap diberikan
dengan jumlah yang berlebih pada saat terjadi reabsorpsi plasma dari ekstravaskular (ditandai dengan penurunan kadar
hematokrit setelah pemberian
cairan rumatan), maka akan menyebabkan hipervolemia dengan akibat edema paru dangagal jantung. Penurunan hematokrit
pada saat reabsorbsi plasma ini
jangan dianggap sebagai tanda perdarahan, tetapi disebabkan oleh hemodilusi. Nadi yang kuat, tekanan darah normal,
dieresis cukup, tanda vital
baik, merupakan tanda terjadinya fase reabsorbsi (DepKes RI, 2005).
c) Koreksi Gangguan
Metabolik dan Elektrolit
Hiponatremia danasidosis metabolik sering
menyertai pasien DBD/SSD, maka analisis
gas darah dankadar elektrolit harus selalu diperiksa pada DBD berat. Apabila asidosis tidak dikoreksi,
akan memacu terjadinya KID, sehingga tatalaksana
pasien menjadi lebih kompleks. Pada
umumnya, apabila penggantian cairan plasma diberikan secepatnya dan dilakukan koreksi asidosis dengan
natrium bikarbonat, maka perdarahan sebagai
akibat KID, tidak akan tejadi sehingga heparin tidak diperlukan (DepKes RI, 2005).
d) Pemberian Oksigen
Terapi
oksigen 2 liter per menit harus selalu diberikan pada semua pasien syok.
Dianjurkan pemberian oksigen dengan mempergunakan masker, tetapi harus diingat
pula pada anak seringkali menjadi makin gelisah apabila dipasang masker oksigen (DepKes RI, 2005).
e) Transfusi Darah
Pemeriksaan golongan darah cross-matching
harus dilakukan pada setiap pasien syok, terutama pada syok yang berkepanjangan
(prolonged shock). Pemberian transfusi darah diberikan pada keadaan manifestasi
perdarahan yang nyata. Kadangkala sulit untuk mengetahui perdarahan interna
(internal haemorrhage) apabila disertai hemokonsentrasi. Penurunan
hematokrit(misalnya dari 50% me.njadi 40%) tanpa perbaikan klinis walaupun
telah diberikan cairan yang mencukupi, merupakan tanda adanya perdarahan. Pemberian darah segar dimaksudkan untuk
mengatasi pendarahan karena cukup mengandung plasma, sel darah merah dan faktor
pembesar trombosit (DepKes
RI, 2005).
Plasma segar dan atau suspensi trombosit
berguna untuk pasien dengan KID dan perdarahan masif. KID biasanya terjadi pada
syok berat dan menyebabkan perdarahan masif sehingga dapat menimbulkan
kematian. Pemeriksaan hematologi seperti waktu tromboplastin parsial, waktu
protombin, dan fibrinogen degradation products harus diperiksa pada pasien syok
untuk mendeteksi terjadinya dan berat ringannya KID. Pemeriksaan hematologis
tersebut juga menentukan prognosis (DepKes
RI, 2005).
f) Monitoring
Tanda
vital dan kadar hematokrit harus dimonitor dan dievaluasi secara teratur untuk
menilai hasil pengobatan. Hal-hal yang harus diperhatikan pada monitoring
adalah:
-
Nadi,
tekanan darah, respirasi, dan temperatur harus dicatat setiap 15-30 menit atau
lebih sering, sampai syok dapat teratasi.
-
Kadar
hematokrit harus diperiksa tiap 4-6 jam sekali sampai keadaan klinis pasien
stabil.
-
Setiap
pasien harus mempunyai formulir pemantauan, mengenai jenis cairan, jumlah, dan
tetesan, untuk menentukan apakah cairan yang diberikan sudah mencukupi.
-
Jumlah
dan frekuensi dieresis
Pada pengobatan syok, kita harus yakin benar bahwa
penggantian volume intravaskuler telah benar-benar terpenuhi dengan baik.
Apabila diuresis belum cukup 1 ml/kg/BB, sedang jumlah cairan sudah melebihi
kebutuhan diperkuat dengan tanda overload antara lain edema, pernapasan
meningkat, maka selanjutnya furasemid 1 mg/kgBB dapat diberikan. Pemantauan
jumlah diuresis, kadar ureum dankreatinin tetap harus dilakukan. Tetapi,
apabila diuresis tetap belum mencukupi, pada umumnya syok belum dapat
terkoreksi dengan baik, maka pemberian dopamia perlu dipertimbangkan (DepKes RI, 2005).
B. Konsep Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
Pengkajian yang efektif
pada DHF ataupun DSS di ruang IGD didasarkan pada kemampuan analisis
kritis perawat untuk memprediksikan, mengenali dan menentukan dengan cepat
pasien dengan DSS atau potensial DSS sehingga dapat diberikan penanganan yang
cepat pula, karena keterlambatan resusitasi dapat meningkatkan resiko
mortalitas. Hal ini sangat didukung oleh pengetahuan perawat tentang hal-hal
yang harus dikaji pada pasien dengan DHF atau DSS, termasuk manifestasi klinis
yang mungkin muncul dalam setiap tahap dari penyakit tersebut. Secara umum munculnya tanda dan gejala nyeri atau tenderness pada abdomen, muntah terus menerus,
akumulasi cairan misalnya efusi pleura atai asites,perdarahan mukosa,penurunan
kesadaran : letargi, gelisah, pembesaran liver (≥2cm),peningkatan hematokrit
dengan penurunan jumlah platelet secara cepat merupakan indikator bahwa
diperlukan evaluai medis segera. CDC
(Center Disease Control and Prevention) menjelaskan bahwa fokus pengkajian
untuk kegawatan pada DHF yang dikenal dengan DSS adalah sebagai berikut (CDC, 2010):
a. Riwayat demam
Riwayat
demam yang akurat penting untuk ketepatan diagnosis dan membantu prediksi
kehilangan cairan, dan fase penyakit. Terdapat perbedaan karakteristik demam
pada :
·
DF demam
akut biasanya 2 hari atau lebih
·
DHF :
2-7 hari
·
DSS :penurunan temperatur yang tiba-tiba (>38.0°C menjadi temperatur normal atau
subnormal)
b. Tanda-tanda vital
Tanda-tanda
kegawatan/kritis adalah ketika didapatkan nadi cepat dan lemah, tekanan nadi yang sempit (TD sistolik-TD diastolik
<20mm Hg) atau hipotensi
berdasarkan tekanan darah sesuai usia.
c. Pemeriksaan fisik fokus dan manifestasi
perdarahan
Kondisi
pasien mulai kritis ketika didapatkan tanda-tanda manifestasi klinis perdarahan
atau tes torniquet positif disertai tanda munculnya asites dan atau efusi
pleura, kulitdan ekstremitas teraba
dingin, basah, kesadaran menurun (letargi atau gelisah),CRT>2 detik,
oliguria, tanda-tanda shock (Phanmeesuk & Suksin, 2009).
d. Pemeriksaan laboratorium
Untuk kewaspadaan ,didapatkannya leukopenia dengan
onset baru (WBC <5,000 cells/mm3) limfositosis danpeningkatan limfosit yang
bersifat atypical, mengindikasikan dalam 24 jam berikutnya pasien potensial
akan masuk dalam fase kritis. Sedangkan
tanda-tandapasien telah masuk fase
kritis adalah ketika tanda dan gejalapada pengkajian riwayat dan pemeriksaa
fisik diatas disertaitemuan onset yang
baru dari hasil lab sebagai berikut (Phanmeesuk & Suksin, 2009):
1) Thrombocytopenia (≤100,000 cells per mm3)
2) Hemokosentrasi ( peningkatan hematocrit ≥20%diatas
rata-rata sesuai usia atau penurunan hematocrit ≥20% dari terapi cairan yang
diperlukan, hipoproteinemia,
hipokolesterolemia
Deteksi dini menjadi sangat penting
karena kesalahan dalam mengenali tanda-tanda kritis dapat menyebabkan
keterlambatan reusitasi cepat yang dapat menyebabkan pasien masuk kedalam
komplikasi atau yang ditandai dengan perdarahan masif dan gangguan metabolisme
seperti hipokalsemia, hipoglikemia, hiperglikemia, asidosis laktat, dan
hiponatremia (CDC). Sehingga monitor ketat oleh perawat terhadap volume intravaskular, fungsi organ
vital, dan respon pasien terhadap treatment, jenis cairan yang masuk, serta
kemungkinan sumber perdarahan lainnya menjadi sangat penting. Maka, untuk keperluan tersebut maka
perawat sebagai petugas yang 24 jam didekat pasien memiliki peran yang
signifikan dalam efektifitas observasi tersebut (Phanmeesuk & Suksin, 2009).
2. Diagnosa
Keperawatan dan Intervensi
a. Diagnosa Keperawatan : Resiko shock
hipovolemik (kurangnya volume cairan) berhubungan dengan peningkatan
permeabilitas.
Ditandai dengan:perubahan status mental,
penurunan tekanan darah,peningkatan frekuensi nadi nadi, kulit/membran mukosa
kering, hematokrit meningkat, suhu tubuh meningkat, konsentrasi urin meningkat,
kelemahan.
Kriteria hasil : keseimbangan cairan dan
elektrolit dan asam basa tercapai, hidrasi adekuat.
Intervensi :
Intervensi prioritas NIC
1)
Autotranfusi pengumpulan dan reinfusi darah yang hilang
akibat perdarahan
2)
Pengelolaan
elektrolit peningkatan keseimbangan
elektrolit dan pencegahan komplikasi
akibat kadar elektrolit serum yang tidak
normal atau tidak diinginkan (misalnya : kalsium, kalium.agnesium, natrium dan
fosfat dalam serum).
3)
Pengelolaan
cairan : peningkatan dan analisis data
paisen untuk mengatur keseimbangan cairan
4)
Pengelolaan
hipovolemia : expansi volume cairan intravaskular pada pasien yang mengalami
penurunan volume.
5)
Terapi
intravena : Pemberian dan pemantauan cairan dan obat intravena
6)
Pengelolaan
syok , volume : peningkatan keadekuatan perfusi jaringan pada pasien yang
mengalami masalah volume intravaskular
yang berat
Aktifitas Keperawatan
1)
Pantau
warna, jumlah, dan frekuensi kehilangan cairan
2)
Observasi
khusus terhadap kehilangan cairan dan elektrolit yang tinggi
3)
Pantau
perdarahan
4)
Identifikasi faktor-faktor yang berkontribusi terhadap bertambah
buruknya dehidrasi
5)
Tinjau
ulang elektrolit terutama natrium, kalium dan klorida.
6)
Kaji orientasi terhadap orang, tempat dan waktu.
7)
Pengelolaan
cairan (NIC) :
a)
Pantau
status hidrasi
b)
Pantau
hasil laboratorium yang relevan dengan keseimbangan cairan
c)
Pertahankan
keakuratan asupan dan keluaran.
Pendidikan untuk pasien dan keluarga
1) Anjurkan pasien untuk melaporakan kepda perawat bila haus
Aktivitas kolaboratif :
1)
laporkan
dan catat keluaran (Output)
2)
laporkan
abnormalitas elektrolit
3)
berikan terapi
IV sesuai dengan anjuran
Aktifitas lain
1)
bersihkan mulut secara teratur,
2)
tentukan
jumlah cairan dalam 24 jam
3)
tingkatkan
asupan orla, pasang kateter bila perlu
4)
berikan
cairan sesuai indikasi
b. Diagnosa keperawatan: Peningkatan suhu
tubuh lebih dari normal berhubungan
dengan terjadinya viremia
Ditandai dengan : suhu tubuh llebih dari
normal (36.5- 37 C), kulit memerah (hiperemi), RR meningkat, kulit hangat,
tachikardi
Kriteria Hasil: Suhu tubuh Normal (365-37
C), RR dan nadi Normal, perubhan warna kulit
tidak ada.Keadaan umum cukup
Intervensi :
Intervensi prioritas NIC
1)
Pengobatan
demam pengelolaan pasien dengan
hipertermia yang disebabkan oleh faktor-faktor yang bukan dari lingkungan
2)
Regulasi
suhu mencapai dan atau untuk
mempertahankan suhu tubuh dalam rentang normal
3)
Pemantauan
tanda vital pengumpulan dan analisis
data kardiovaskluar, respirasi, suhu tubuh untuk menentukan serta mencegah
komplikasi
Aktivitas Keperawatan
1)
Pantau
aktivitas kejang
2)
Pantau
hidrasi
3)
Pantau
tkanan darah dan, nadi dan pernafasan,e
4)
Regulasi
suhu (NIC) : pantau suhu tubuh minimal
tiap 2 jam sesuai dengan kebutuhan denge
pantau warna kulit dan suhu
Pendidikan untuk pasien dan keluarga
1) Ajarkan indikasi keletihan karena panas dan
tindakan kedaruratan ynag diperlukan sesuai dengan kebutuhan
Aktifitas kolaboratif :
1) Berikan obatantipiretik sesuai dengan
kebutuhan
2) Gunakan air jangat untuk mengatasi gangguan
suhu tubuh sesuai dengan kebutuhan
Aktifitas lain :
1)
Lepaskan
pakaian yang yang berlebihn
2)
Anjurkan
asupan cairan oral
3)
Gunakan
selimut
4)
Gunakna
kompres pada aksila, kening, leher dan
lipat paha
c. Diagnosa Keperawatan: Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, diet
dan perawatan pasien DHF sehubungan dengan kurangnya informasi.
Tujuan : Pengetahuan klien/keluarga tentang proses penyakit, diet, perawatan meningkat sehingga klien/keluarga memperlihatkan perilaku yang kooperatif.
Tujuan : Pengetahuan klien/keluarga tentang proses penyakit, diet, perawatan meningkat sehingga klien/keluarga memperlihatkan perilaku yang kooperatif.
Intervensi:
1) Kaji tingkat
pengetahuan klien/keluarga tentang penyakit DHF
2) Kaji latar
belakang pendidikan klien/ keluarga.
3) Jelaskan tentang proses
penyakit, diet, perawatan dan obat-obatan pada klien dengan bahasa dan
kata-kata yang mudah dimengerti.
4) Jelaskan semua
prosedur yang akan dilakukan dan manfaatnya pada klien.
5) Berikan kesempatan
pada klien/ keluarga untuk menanyakan hal-hal yang ingin diketahui sehubungan
dengan penyakit yang diderita klien.
6) Gunakan leaflet
atau gambar-gambar dalam memberikan penjelasan.
C. Kesimpulan dan Saran
1. Kesimpulan
Demam berdarah adalah masalah kesehatan yang
serius karena hamper tiap tahun selalu ada dan bahkan kadang-kadang meningkat
tajam megarah kekajadian luar biasa (KLB). Penyakit ini disebabkan oleh virus
dengue dan ditularkan oleh nyamuk aedes aegypti. Penyakit demam berdarah dalam
keadaan gawat memerlukan pertolongan segera dan semakin cepat ditolong makin
besar kemungkinan untuk sembuh kembali. Pada seting prehospital masyarakat dan
keluarga harus waspada terhadap tanda dan gejala yang dikeluhkan oleh pasien.
Koordinasi dengan instansi terkait, missal dinas kesehatan adalah penting dalam
rangka pencegahan penularan demam berdarah. Peran masyarakat sangat penting
karena tanpa peran serta masyarakat dalam pemberantasan sarang nyamuk maka
sebesar apapun dana yang dikeluarkan dan sebagus apapun program pemerintah
tidak akan optimal dalam penanggulangan dan pemberantasan penyakit demam
berdarah.
Untuk dapat merawat pasien DBD
dengan baik, diperlukan dokter dan perawat
yang terampil, sarana laboratorium yang memadai, cairan kristaloid dankoloid,
serta bank darah yang senantiasa siap bila diperlukan. Kunci keberhasilan
tatalaksana DBD/DSS terletak pada ketrampilan para dokter untuk dapat mengatasi
masa peralihan dari fase demam ke fase penurunan suhu (fase kritis, fase syok)
dengan baik.
2. Saran
a. Diperlukan
peran masyarakat dan pemerintah secara luas untuk bersama-sama menjalankan
program-program yang telah dibuat dalam penanggulangan DBD.
b. Dibutuhkan
peran serta perawat Puskesmas sebagai lini terdepan dalam pencegahan DBD di
lingkungan masyarakat dengan deteksi dini dan peningkatan pendidikan kesehatan
masyarakat terkait DBD.
DAFTAR
PUSTAKA
Achmadi, F.U. 2010. Manajemen demam berdarah berbasis wilayah. Buletin jendela epidemiologi. 2 (1): 1 – 3
Bagian Patologi Klinik. (2009). Peran pemeriksaan laboratorium dalam diagnose Demam Berdarah Dengue.
RSUP Dr. Kariadi Semarang.
Barakah, V. F. 2012. Demam Berdarah tidak ada obatnya, Hanya andalkan cairan. Detik Health. Retrieved from: http://health.detik.com/read/2012/06/15/143241/1942274/763/ 18 April 2013
Brasier. A. R., Ju. H., Garcia. J., Spratt. H. M., Forshey. B.
M., Helsey. E. S. (2012). A three-component biomarker panel for prediction of
dengue hemorraghic fever. Am. J. Trop. Med.
Hyg. 86(2): 341-348.
CDC (Centers for Disease and Prevention). (2010). Dengue Branch.Cañada
SanJuan,PuertoRico.From:http://www.cdc.gov/dengue/clinicallab/clinical.html diakses 20 April 2013
SanJuan,PuertoRico.From:http://www.cdc.gov/dengue/clinicallab/clinical.html diakses 20 April 2013
Danny, Wiradharma. 2009. Diagnosis cepat demam berdarah dengue. Jurnal Kedokteran Trisakti., 18 (2): 78 – 79
DepKes, RI.,(2005). Pedoman
Pencegahan dan Pemberantasan Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Jakarta:
Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Dinas Kesehatan Kota Denpasar. Waspadalah penyakit demam berdarah
dengue. Retrieved from www.denpasarkota.go.id. 18 april 2013.
Gubler D.J., 1998. The Global Pandemic of Dengue/Dengue
Haemorrhagic Fever Current Status and Prospect for the Future. Dengue in
Singapore. Technical Monograph Series No.
2 WHO.
IDAI, 2009. Apa itu demam berdarah dengue. http://www.idai.or.id/kesehatananak/artikel.
18 April 2013
Khana M., Chaturvedi UC, Sharma MC, Panday VC, Mathur A., 1990. Increased Capillary Permeability
Mediated by A Dangue Virus Induced Limphokine. Immunology Mart, 69;33:449-53
Khie Chen., Herdiman, T., Pohan., Robert., 2009. Diagnosis
dan terapi cairan pada demam berdarah dengue. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta. 22. (1): 5 – 6
Dangue Virus Infection. Seminar
Imunology vol 4; 121-127.
Mujida, A.M., Ridwan, A.
2009. Pemetaan dan analisis kejadian
demam berdarah dengue di kaupaten bantaeng.
Phanmeesuk, Y., and
Suksin, W. (2009). Nursing Care of Dengue Shock
Syndrome (Case study). Medical
Journal of Srisake Surinam Buriram Hospital Vol 24 No.2.
Soegijanto Soegeng, 2004. Demam
Berdarah Dangue. Tinjauan dan Temuan Baru di Era 2003. Airlangga University
Press. Surabaya.
Soewandoyo, E. 2008. Demam Berdarah Dangue pada Orang Dewasa.
Gejala Klinik dan Penatalaksanaannya. Folia
Medika Indonesia XXXIII. Juli-September.
Suvatte V. Immunological Aspect of Dangue Haemorrhagic Fever
Studies in Thailand. South East asian J. Trop Med. Pub Haealth, 1987; 1:312-5.
Syahruman A., 1998. Beberapa Lahan Penelitian untuk
Penanggulangan Demam Berdarah Dangue. Mikrobiologi
Klinik Indonesia. Vol:3:3:87-89.
Vasanwala. F. F., Puvanendran. R., Chong. S. F., Ng. J. M.,
Suhail. S. M., Lee. K. H. (2011). Could peak proteinuria determine whether
patient with dengue fever develop dengue hemorraghic/dengue shock syndrome/- A
prospective cohort study. BMC Infectious
Diseases.
Wilkinson, Judith M. 2007. Buku
Saku Diagnosis Keperawatan dengan intrevensi NIC dan kriteria hasil NOC.
EGC. Jakarta.
World Health Organization (WHO). (2008). Guidelines for
treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in small hospitals. New
Delhi.
No comments:
Post a Comment