July 14, 2018

LAPORAN PENDAHULUAN PNEUMONIA

LAPORAN PENDAHULUAN
PNEUMONIA

A.  Pengertian
Pneumonia adalah radang parenkim paru yang disebabkan oleh mikroorganisme dan kadang non infeksi (Astuti, H.W. dan Rahmat, A.S., 2010).
Pneumonia adalah penyakit batuk pilek disertai napas sesak atau napas cepat. Penyakit ini sering menyerang anak balita, namun juga dapat ditemukan pada orang dewasa, dan pada orang usia lanjut (Misnadiarly, 2008). 

B.  Etiologi
Menurut Astuti dan Rahmat (2010), etiologi dari pneoimonia adalah:
1.  Pneumonia yang disebabkan infeksi:
a.  Virus pernapasan yang paling sering dan lazim yaitu Mycoplasma pneumoniae yang terjadi pada usia beberapa tahun pertama dan anak sekolah dan anak yang lebih tua.
b.  Bakteri Streptococcus pneumoniae, S. pyogenes, dan Staphylococcus aureus yang lazim terjadi pada anak normal.
c.  Haemophilus influenza tipe b menyebabkan pneumonia bakteri pada anak muda, dan kondisi akan jauh berkurang dengan penggunaan vaksin efektif rutin.
d.  Virus non-respiratorik, bakteri enteric gram negative, mikobakteria, Chlamydia spp, Ricketsia spp, Coxiella, Pneumocytis carinii, dan sejumlah jamur.
e.  Virus penyebab pneumonia yang paling lazim adalah virus sinsitial pernapasan (respiratory syncitial virus/ RSV), parainfluenzae, influenza dan adenovirus
2.  Pneumonia yang disebabkan penyebab non infeksi
a.  Aspirasi makanan dan/atau asam lambung.     
b.  Benda asing.
c.  Hidrokarbon dan bahan lipoid.
d.  Reaksi hipersensitivitas dan  pneumonitis
e.  Akibat obat atau radiasi
f.  Penyebab pneumonia karena bakteri cenderung menimbulkan infeksi lebih berat daripada agen non bakteri.

C.  Tanda Dan Gejala
Dalam Misnadiarly (2008), Tanda dan gejala pneumonia pada umumnya adalah:
a.  Demam
b.  Batuk disertai Sesak napas atau napas cepat
c.  Nadi berdenyut lebih cepat
d.  Dahak berwarna kehijauan atau seperti karet

D.  Patofisiologi
    Sebagian besar pneumonia didapat melalui aspirasi partikel infektif. Ada beberapa mekanisme yang pada keadaan normal melindungi paru dari infeksi. Partikel infeksius difiltrasi di hidung, atau terperangkap dan dibersihkan oleh mukus dan epitel bersilia di saluran napas. Bila suatu partikel dapat mencapai paru-paru, partikel tersebut akan berhadapan dengan makrofag alveoler, dan juga dengan mekanisme imun sistemik, dan humoral. Bayi pada bulan-bulan pertama kehidupan juga memiliki antibodi maternal yang didapat secara pasif yang dapat melindunginya dari pneumokokus dan organisme-organisme infeksius lainnya. Perubahan pada mekanisme protektif ini dapat menyebabkan anak mudah mengalami pneumonia misalnya pada kelainan anatomis kongenital, defisiensi imun didapat atau kongenital, atau kelainan neurologis yang memudahkan anak mengalami aspirasi dan perubahan kualitas sekresi mukus atau epitel saluran napas. Pada anak tanpa faktor-faktor predisposisi tersebut, partikel infeksius dapat mencapai paru melalui perubahan pada pertahanan anatomis dan fisiologis yang normal. Ini paling sering terjadi akibat virus pada saluran napas bagian atas. Virus tersebut dapat menyebar ke saluran napas bagian bawah dan menyebabkan pneumonia virus.
   Kemungkinan lain, kerusakan yang disebabkan virus terhadap mekanisme pertahan yang normal dapat menyebabkan bakteri patogen menginfeksi saluran napas bagian bawah. Bakteri ini dapat merupakan organisme yang pada keadaan normal berkolonisasi di saluran napas atas atau bakteri yang ditransmisikan dari satu orang ke orang lain melalui penyebaran droplet di udara. Kadang-kadang pneumonia bakterialis dan virus (contoh: varisella, campak, rubella, CMV, virus Epstein-Barr, virus herpes simpleks) dapat terjadi melalui penyebaran hematogen baik dari sumber terlokalisir atau bakteremia/viremia generalisata.
Setelah mencapai parenkim paru, bakteri menyebabkan respons inflamasi akut yang meliputi eksudasi cairan, deposit fibrin, dan infiltrasi leukosit polimorfonuklear di alveoli yang diikuti infitrasi makrofag. Cairan eksudatif di alveoli menyebabkan konsolidasi lobaris yang khas pada foto toraks. Virus, mikoplasma, dan klamidia menyebabkan inflamasi dengan dominasi infiltrat mononuklear pada struktur submukosa dan interstisial. Hal ini menyebabkan lepasnya sel-sel epitel ke dalam saluran napas, seperti yang terjadi pada bronkiolitis (Sudoyo, dkk, 2009).

E.  Pathway

                                                     Bakteri,
                                                          Strep. Pneumonia
 


     Bronchus

Respon imflamasi
 



Invasi kuman                                                                                       edema mukosa
 


Infeksi                                                                                                 penurunan fungsi mikosilier
 


Mobilisasi leukosit dan makrofag                                         penurunan viskositsas sputum
Penyebaran hematogen/limfogen         stimulasi hipotalamus                      sputum kental
 


Parenkim paru                         peningkatan set poiint suhu     bayi tidak mampu berdahak
Ekstravasasi dan eksudasi                                                                    akumulasi sekret
Cairan serosa di dalam alveoli                 MK:  perubahan suhu tubuh                                               
Membran alveoli tersumbat                                                                             statis    
   sputum                                                         
Ggg aliran O2 ke dalam                                                           MK: bersihan jalan nafasinefektif
Kapiler alveoli                                                                 
Hiperventilasi                                      MK:Pola nafas tidak efektif
MK: Kerusakan pertukaran gas                                                            rasa tidak nyaman dimulut
 


                                                                                                                        Mual
 


                                                                        MK: Nutrisi kurang dari kebutuhan

F. Pemeriksaan Penunjang
Menurut Mansjoer dkk (2002) pemeriksaan penunjang yang dilakukan pada pasien pneumonia adalah:
1.  Pemeriksaaan darah menunjukkaan leokositosis dengan predominan PMN atau dapat ditemukan leokopenia yang menandakan prognosis uruk. Dapat ditemukan anemia ringan atau sedang
2.  Pemeriksaan radiologis
a.  Bercak konsolidasi merata pada brongkopneumonia
b.  Bercak konsolidasi satu lobus pada pneumonia lobaris
c.  Gambaran bronkopnemonia difus atau infiltrate pada pneumonia stafilakokus
3.  Pemeriksaan cairan pleura
4.  Pemeriksaan mikrobiologik, dapat dibiak dari specimen usap tenggorok, sekresi nasofaring, bilasan bronkus atau sputum, darah, aspirasi trakea, fungsi pleura atau aspirasi paru.

G.  Penatalaksanaan
1.  Oksigen 1-2 liter per menit
2.  IVFD Dekstrose 10%: NaCl 0,9% = 3:1, + KCL 10 mEq/500 ml cairan. Jumlah cairan sesuai berat badan, kenaikan suhu, dan status hidrasi.
3.  Jika sesak tidak terlalu hebat, dapat dimulai makanan enteral bertahap melalui selang nasogastrik dengan feeding drip.
4.  Jika sekresi berlebihan dapat diberikan inhalasi dengan salin normal dan beta agonis untuk memperbaiki transport mukosilier.
5.  Koreksi gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit
6.  Antibiotic sesuai hasil biakan:
a.  Untuk kasus pneumonia community base
1)  Ampisillim 100 mg/kgBB/hari dalam 4 klai pemberian
2)  Klorampenikol 75 mg/kgBB/hari dalam 4 klai pemberian
b.  Untuk kasus pneumonia hospital base
1)  Sefotaksim 100 mg/kgBB/hari dalam 2 klai pemberian
2)  Amikasin 10-15 mg/kgBB/hari dalam 2 klai pemberian

H.  Komplikasi
1.  Abses paru
2.  Edusi pleural
3.  Empisema
4.  Gagal napas
5.  Perikarditis
6.  Meningitis
7.  Atelektasis
8.  Hipotensi
9.  Delirium
10. Asidosis metabolic
11. Dehidrasi (Misnadiarly, 2008)

I.  Masalah keperawatan dan data yang perlu dikaji
1.  Masalah Keperawatan
Bersihan jalan nafas inefektif
Pola nafas tidak efektif
Nutrisi kurang dari kebutuhan
Perubahan suhu tubuh
2.  Data Yang Perlu Dikaji:
a.  Identitas  :
Meliputi nama klien, jenis kelamin, umur, alamat, nama penanggung jawab dan lain sebagainya.
b.  Keluhan utama  :
        Sesak napas
c.  Riwayat keperawatan sekarang
1)  Didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas selama beberapa hari, kemudian mendadak timbul panas tinggi, sakit kepala / dada ( anak besar ) kadang-kadang pada anak kecil dan bayi dapat timbul kejang, distensi addomen dan kaku kuduk. Timbul batuk, sesak, nafsu makan menurun.
1) Anak biasanya dibawa ke rumah sakit setelah sesak nafas, cyanosis atau batuk-batuk disertai dengan demam tinggi. Kesadaran kadang sudah menurun apabila anak masuk dengan disertai riwayat kejang demam (seizure).
d.  Riwayat keperawatan sebelumnya:
1) Anak sering menderita penyakit saluran pernapasan atas.
2) Predileksi penyakit saluran pernafasan lain seperti ISPA, influenza sering terjadi dalam rentang waktu 3-14 hari sebelum diketahui adanya penyakit Pneumonia.
3) Penyakit paru, jantung serta kelainan organ vital bawaan dapat memperberat klinis klien.
e.  Riwayat kesehatan keluarga
1) Tempat tinggal: Lingkungan dengan sanitasi buruk beresiko lebih besar
f.  Nutrisi / cairan
1)  Nafsu makan / minum menurun, mual, muntah, kembung, turgor jelek, kulit kering.
g.  Pemeriksaan fisik
1) Sistem Pulmonal
Subyektif  : Sesak nafas, dada tertekan, cengeng
Obyektif   :
Pernafasan cuping hidung, hiperventilasi, batuk ( produktif / nonproduktif ), sputum banyak, penggunaan otot bantu pernafasan, pernafasan diafragma dan perut meningkat, Laju pernafasan meningkat, terdengar stridor, ronchii pada lapang paru,
2) Sistem Cardiovaskuler
Subyektif  : Sakit kepala
Obyektif   : Denyut nadi meningkat, pembuluh darah vasokontriksi, kualitas darah menurun
3) Sistem Neurosensori
Subyektif  : Gelisah, penurunan kesadaran, kejang
Obyektif   : GCS menurun, refleks menurun/normal,
Letargi
4) Sistem genitourinaria
Subyektif  : -
Obyektif   : Produksi urine menurun/normal,
5) Sistem digestif
Subyektif  : Mual, kadang muntah
Obyektif   : Konsistensi feses normal/diare
6)   Sistem Musculoskeletal
Subyektif  : Lemah, cepat lelah
Obyektif   : Tonus otot menurun, nyeri otot/normal, retraksi paru dan penggunaan otot aksesoris pernafasan
7) Sistem Integumen
Subyektif : -
Obyektif  : Kulit pucat, cyanosis, turgor menurun (akibat dehidrasi sekunder), banyak keringat , suhu kulit meningkat, kemerahan

J.  Diagnosa Keperawatan dan Prioritasnya
1.   Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan penumpukkan sekret pada jalan napas
2.   Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan obstruksi jalan nafas
3.   Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia
4.   Hipertermi berhubungan dengan  penyakit yang diderita
5.   Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan obstruksi jalan nafas.

K.  Rencana  Keperawatan
1.   Bersihan jalan nafas tidak efektif  berhubungan dengan penumpukkan sekret pada jalan napas.
Karakteristik :
Pernafasan cepat dan dangkal (RR>35 X per menit), bunyi nafas ronki basah, terdapat retraksi dinding dada, penggunaan otot bantu nafas, mengeluh sesak nafas, batuk produktif dengan produksi sputum yang cukup banyak.
Tujuan :
Anak menunjukkan bersihan jalan nafas yang efektif
Kriteria :
RR normal, tidak ada suara nafas tambahan, tidak menggunakan otot-otot pernafsan, tidak mengeluh sesak nafas, produksi sputum tidak ada.
Intervensi:
a.   Kaji frekuensi atau kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
Raisonal :
Takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada tidak smetris terjadi karena peningkatan tekanan dalam paru dan penyempitan bronkus. Semakin sempit dan tinggi tekanan semakin meningkat frekuennsi pernafasan.
b.   Auskultasi area paru , catat area penurunan atau tidak ada aliran udara
Rasional :
Suara mengi mengindikasikan terdapatnya penyempitan bronkus oleh sputum. Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan krekels terjadi pada area paru yang banyak cairan eksudatnya.
c.   Bantu pasien latihan nafas dan batuk efektif
Rasional :
Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan nafas yang lebih kecil. Batuk cara efektif mempermudah pengeluran dahak dan mengurangi kelelahan akibat batuk.
d.   Section sesuai indikasi
Rasional: Megeluarkan sputum secara mekanik dan mencegah obstruksi jalan nafas.
e.   Lakukan fisioterapi dada
Rasional :
Merangsang gerakan mekanik lewat fibrasi dinding dada supaya sputum mudah keluar.
f.   Berikan cairan sediknya 1000 mn/hari (kecuali kontra indikasi). Tawarkan air hangat daripada dingin.
Rasional :
Meningkatkan hidrasi sputum. Air hangat mengurangi kekentalan dahak sehingga mudah untuk  dikeluarkan.
g.   Terapi obat-obatan bronkodilator dan mukolitik melalui inhalasi (nebulizer).
Rasional :
Mempermudah pengenceran dan pembuangan secret dengan cepat.
h.   Memberikan obat bronkodilator, ekspektoran mukolitik secara oral (kalau sudah memungkinkan).
Rasional :
Mengurangi spasme bronkus, mengencerkan dahak dan   
mempermudah pengeluaran dahak melalui silis mukus pada saluran pernafasan.
i.   Koalborasi pemberian antibiotic.
Rasional :
Antibiotik membunuh mikroorganisme penyebab sehingga dapat mengurangi peningkatan produksi sputum yang merupakan sebagai akibat timbulnya peradangan.
2.   Ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan Obstruksi jalan nafas.
Karakteristik :
Batuk (baik produktif maupun non produktif) haluaran nasal, sesak nafas, Tachipnea, suara nafas terbatas, retraksi, demam, diaporesis, ronchii, cyanosis, leukositosis
Tujuan :Anak akan menunjukkan pola nafas yang efektif
Kreteria :
a.   RR dalam batas normal, suara nafas bersih dan sama pada kedua sisi, suhu dalam batas normal (36,5 – 37,2OC).
b.   Tidak ditemukan : batuk, Sianosis, haluaran hidung, Retraksi dan diaporesis.
c.   Jumlah sel darah putih normal.
d.   Rontgen dada bersih
e.   Saturasi oksigen 85%-100%.
Intervensi :
1.   Observasi : RR, suhu, suara nafas, Saturasi oksigen dan tanda-tanda keefektifan jalan napas.
Rasional :
Evaluasi dan reassessment terhadap tindakan yang akan/telah diberikan. Memonitoring perkembangan keadaan jalan napas guna pedoman tindakan selanjutnya.
2.  Lakukan fioterapi dada sesuai jadwal.
Rasional :
Mengeluarkan sekresi jalan nafas, mencegah obstruksi. Melatih otot – otot pernapasan.
3.  Berikan oksigen yang dilembabkan dan kaji keefektifan terapi
Rasional :
Meningkatkan suplai oksigen jaringan paru
4.   Berikan antibiotik dan antipiretik sesuai advis dan kaji keefektifan dan efek samping (ruam, diare).
Rasional :
Pemberantasan kuman sebagai faktor causa gangguan dan mencegah infeksi yg lebih parah guna mempercepat proses penyembuhan paru.
5.  Lakukan pengecekan hitung SDM dan photo thoraks.
Rasional :
Evaluasi terhadap keefektifan sirkulasi oksigen, evaluasi kondisi jaringan paru
6.  Lakukan suction secara bertahap.
Rasional : Membantu pembersihan jalan nafas
7.  Catat hasil pulse oximeter bila terpasang, tiap 2– 4 jam
Rasional :
Evaluasi berkala keberhasilan terapi/tindakan tim kesehatan
3.   Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia.
Tujuan :
Selama dalam perawatan klien tidak kekurangan kebutuhan nutrisi dengan kriteria : Anoreksia ( -), Berat badan Normal.
Intervensi :
a.  Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (makanan yang menarik untuk paisen)
Rasional :
Dapat meningkatkan input meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.
b.  Kaji dan monitoring terus tentang output dan intake nutrisi
Rasional :
Untuk mengetahui perkembangan intake dan output cairan sehingga dapat menentukan keputusan untuk tindakan selanjutnya.
c.  Evaluasi status nutrisi umum. Ukur berat badan dasar
Rasional :
Adnya kondisi kronis (seperti: PPOM, atau alkohilisme) atau keterbatasan keuangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap infeksi dan atau lambatnya respon terhadap terapi.
4.   Hipotermi berhubungan dengan invasi kuman ke pusat pengatur panas (Hipotalamus).
Tujuan :
Selama berada di RS, Klien akan merasa nyaman dan tidak cemas  dengan kriteria : Klien tidak rewel, klien bisa bermain dengan tenang, anak tidak ketahutan dan anak kooperatif.  
Intervensi
2.  Ciptakan situasi / area yang nyaman
Rasional : Mengurangi rasa takut klien..
3.  Berikan mainan yang sesuai.
Rasional :
Memenuhi kebutuhan bermain anak, sekaligus menggairahkan anak.
4.  Berikan cerita-cerita yang lucu dan menarik anak.
Rasional :
Menciptakan hubungan yang baik denga anak.
5.  Kaji suhu tubuh dan nadi setiap 4 jam
Rasional :
Untuk mengetahui tingkat perkembangan pasien
6.  Pantau warna kulit dan suhu
Rasional :
Sianosis menunjukkan vasokontraksi atau respon tubuh terhadp demam
7.  Berikan dorongan untuk minum sesuai pesanan
Rasional :
Peneingkatan suhu tubuh mengakibatkan IWL, sehingga banyak cairan tubuh yang keluar daan harus diimbangi pemasukan cairannya,
8.  Lakukan tindakan pendinginan sesuai kebutuhan, misal: kompres hangat
Rasional :
Demam tinggi sangat meningkatkan kebutuhan metabolik dan kebutuhan oksigen dan mengganggu oksigenasi seluler
9.  Kolaborasi untuk pemberian obat antipiretik sesuai kebutuhan
Rasional : mempercepat penurunan suhu tubuh.
5.   Gangguan pemenuhan kebutuhan oksigen berhubungan dengan obsturksi jalan nafas
Karakteristik :
Mendomenstrasikan batuk efektif dan suara nafas bersih, tidak ada dyspneu ( mampu bernafas dengan mudah ), menunjukkan jalan nafas yang paten, tidak ada suara nafas tambahan.
Tujuan :
Anak menunjukkan bersihan jalan nafas yang efektif
Kriteria :
RR normal, tidak ada suara nafas tambahan, tidak menggunakan otot-otot pernafsan, tidak mengeluh sesak nafas, produksi sputum tidak ada.
Intervensi:
a.   Kaji frekuensi atau kedalaman pernafasan dan gerakan dada.
Rasional :
Takipnea, pernafasan dangkal, dan gerakan dada tidak simetris terjadi karena peningkatan tekanan dalam paru dan penyempitan bronkus. Semakin sempit dan tinggi tekanan semakin meningkat frekuennsi pernafasan.
b.  Auskultasi area paru , catat area penurunan atau tidak ada aliran udara
Rasional :
Suara mengi mengindikasikan terdapatnya penyempitan bronkus oleh sputum. Penurunan aliran udara terjadi pada area konsolidasi dengan cairan krekels terjadi pada area paru yang banyak cairan eksudatnya.
c.  Bantu pasien latihan nafas dan batuk efektif
Rasional :
Nafas dalam memudahkan ekspansi maksimum paru-paru atau jalan nafas yang lebih kecil. Batuk cara efektif mempermudah pengeluran dahak dan mengurangi kelelahan akibat batuk.
d.  Section sesuai indikasi
Rasional: Megeluarkan sputum secara mekanik dan mencegah obstruksi jalan nafas.
e.  Lakukan fisioterapi dada
Rasional :
Merangsang gerakan mekanik lewat fibrasi dinding dada supaya sputum mudah keluar.
f.  Berikan cairan sediknya 1000 mn/hari (kecuali kontra indikasi). Tawarkan air hangat daripada dingin.
Rasional :
Meningkatkan hidrasi sputum. Air hangat mengurangi kekentalan dahak sehingga mudah untuk  dikeluarkan.
g.  Terapi obat-obatan bronkodilator dan mukolitik melalui inhalasi (nebulizer).
Rasional :
Mempermudah pengenceran dan pembuangan secret dengan cepat.
h.   Memberikan obat bronkodilator, ekspektoran mukolitik secara oral (kalau sudah memungkinkan).
Rasional :
Mengurangi spasme bronkus, mengencerkan dahak dan mempermudah pengeluaran dahak melalui silis mukus pada saluran pernafasan.
i.  Kolaborasi pemberian antibiotic.
Rasional :
Antibiotik membunuh mikroorganisme penyebab sehingga dapat mengurangi peningkatan produksi sputum yang merupakan sebagai akibat timbulnya peradangan
                                         


DAFTAR PUSTAKA
Astuti, H.W., dan Rahmat, A.S. 2010. Asuhan Keperawatan Anak dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta : CV Trans Info Media.
Misnadiarly. 2008. Penyakit Infeksi Saluran Napas Pneumonia Pada Anak, Orang Dewasa, Usia Lanjut, Pneumonia Atipik dan Pneumonia Atypik Mycobacterium. Jakarta : Pustaka Populer Obor.
Riady, S. dan Sukarmin. 2009. Asuhan Keperawatan Pada Anak. Graha Ilmu:  Yogyakarta
Sudoyo, dkk. 2009. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, edisi V. Jakarta : InternaPublishing
Suriadi, Rita Yuliana. 2006. Asuhan Keperawatan pada Anak. Jakarta : Sagung Seto
Sylvia A. Price. (2005). Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.Edisi 4 Buku 2. Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta

Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Dengan Intervensi NIC dan Kriteria Hasil NOC. Jakarta: EGC

No comments:

Post a Comment

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...