LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
RISIKO PERILAKU KEKERASAN (RPK)
A. DEFINISI PERILAKU KEKERASAN
Perilaku kekerasan merupakan suatu keadaan emosi yang merupakan campuran dari perasaan frustasi, benci, dan marah. Hal ini didasari keadaan emosi searah mendalam dari setiap orang sebagai bagian penting dari keadaan emosional kita yang dapat diproyeksikan ke lingkungan. Keadaan diri atau secara traktif (Patricia D. Barry ; 1998,140).
B. Factor Prodisposisi Perilaku Kekerasaan
Teori Biologic
Neurologic factor, beragam komponen dari system syaraf seperti syuap, neutransmitter, dendrit, axon terminasi, yang berperan memfasilitasi atau menghambat pesan yang mempengaruhi system syaraf agresif.
Genetic factor, factor gen yang diturunkan melalui orang tua menjadi potensi perilaku agresif,. Menurut penelitian genetic tipe XYY pada umumnya dimiliki oleh pelaku tindak criminal serta orang yang tersangkut hokum akibat perilaku agresif.
Cyrcardian rhytin (irama sirkandian tubuh), memegang peranan pada individu. Menurut penelitian pada jam tertentu manusia mengalami peningkatan kortison yaituu pada sekitar jam 09.00 WIB dan 13.00 WIB.
Biochemistry factor (factor biokimia tubuh) seperti neutransmitter diotak (epinephrin, norepinephrine, dopamine, asetikolin, dan serotonin) berperan dalam penyampaian informasi system syaraf tubuh.
Brain area disorder, gangguan pada system limbic dan lobus temporal. Sindrom otak organic, tumor otak, trauma otak, esenpantis epilepsy, sangat berpengaruh terhadap perilaku agresi atau tindak kekerasaan.
Teori Psikologi
Teori psikoanalis agresifitas dan kekerasan dapat dipengaruhi oleh riwayat tumbuh kembang seseorang (lipe spam history). Teori ini menjelaskan ketidakpuasan fase oral antara 0-2 tahun dimana anak tidak dapat kasih sayang yang cukup sehingga cenderung lebih agresif dan bermusuhan setelah dewasa.
Imitation, modering, and information processing theor, perilaku kekeasaan dapat berkembang dilingkungan yang monokrir kekerasan. Perilaku ini ditiru dari media atau lingkungan sekitar.
Learning theory perilaku kekerasaan merupakan hasil belajar individu terhadap lingkungan terdekatnya.
Teori Sosiokultural
Dalam budaya tertentu seperti ritual yang mengarah pada kekusyrikan secara tidak langsung mendorong pada sikap agresif dan ing in menang sendiri. Hal itu dipicu juga dalam maraknya demonstrasi, filui krekerasaan, mistik, dukun, dalam tayangan televisi.
Aspek Religiusitas
Kemarahan dan agresitivitas merupakan dorongan dan bisikan syetan (devil support) yang sangat menyukai kekerasaan agar manusia menyesal.
C. FAKTOR PRESIPITASI PERILAKU KEKERASAAN
Factor yang dapat mencetus perilaku kekearasan yaitu:
Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau symbol soudaritas.
Ekspresi dari tidak terpenuhi kebutuhan dasar dan kondisi social ekonomi.
Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta cenderung menggunakan kekerasaan dalam menyelesaikan masalah.
Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan menempatkan dirinya sebagai orang.
Adanya riwayat perilaku antisosial meliputi penyalahgunaan obat dan alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosi.
Kematian anggota kewarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan, dsb.
D. RENTANG RESPON MARAH
Adaptif Maladaptif
Pasif Frustasi
Asertif PK
Klien mampu mengungkapkan marah tanpa menyalahkan orang lain dan memberi kelegaan.
Klien gagal mencapai tujuan kepuasan / saat marah tidak menemukan anternatif.
Klien merasa tidak dapat mengungkapkan perasaannya, tidak berdaya dan menyerah.
Klien mengekspresikan secatra fidik, tapi masih terkontrol mendorong orang lain dengan ancaman.
Perasaan marah dan bermusuhan yang kuat dan hilang control disertai amuk yang merusak lingkungan.
E. MANIFESTASI KLINIS
Perawat dapat mengidentifikasi dan mengobservasi tanda dan gejala perilaku kekerasan melalui:
Fisik
Muka merah dan tegang
Mata melotot dan pandangan tajam
Tangan mengepal
Rahang mengatup
Wajah memerah dan tegang
Postur tubuh kaku
Pandangan tajam
Mengatapkan rahang dengan kuat
Mengepalkan tangan
Jalan mondar-mandir
Verbal
Bicara kasar
Suara tinggi, membentak atau berteriak
Mengancam secara verbal / fisik
Mengumpat dengan kata-kata kotor
Suara keras
Ketus
Perilaku
Melempar / memukul benda / orang lain
Menyerang orang lain
Melukai diri sendiri / orang lain
Merusak lingkungan
Amuk / agresif
Emosi
Tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, rasa terganggu, dendam dan jengkel, tidak berdaya, bermusuhan , mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan dan menuntut.
Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.
Spiritual
Merasa dirinya berkuasa, merasa benar, mengkritik pendapat orang lain, menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli dan kasar.
Social
Menarik diri, pengaringan, penolakan, kekerasan, ejekan, dan sindiran.
Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.
F. MEKANISME KOPING
Denial : mekanisme pertahanan ini cenderung meningkatkan marah seseorang kerena sering digunakan untuk mempertahankan harga diri akibat ketidakmampuannya.
Sublimasi : dengan cara mengalihkan rasa marah pada aktivitas lainnya.
Proyeksi : cenderung meningkatkan ekspresi marah karena individu berusaha mengekspresikan marahnya.
Formasi : perilaku pasif-agresif karena perasaannya tidak dikeluarkan akibat kemarahannya dan memodifikasi perilakunya dan menjadi agresif secara tiba-tiba
Represi : mekanisme pertahanan yang dapat menimbulkan permusuhan yang tidak disadari sehingga individu bersifat eksploatatif, manipulasi, dan ekpresi lainnya yang mudah berubah.
G. POHON MASALAH
H. DIAGNOSE KEPERAWATAN
Risiko menciderai diri sendiri dan orang lain
Risiko perilaku kekerasan (RPK)
Gangguan Konsep Diri : Harga Diri Rendah
Kerusakan Interaksi social
Defisit Perawatan Diri
Koping Individu Inefektif
Penatalaksanaan regimen terapeutik inefektif
Koping Keluarga Inefektif
Respon Pasca Trauma
I. DAFTAR PUSTAKA
Anna Budi, et.2006.proses keperawatan kesehatan jiwa (ed.2) Jakarta : EGC
Anna Budi, et.2012. keperawatan jiwa : terapi aktivitas kelompok.jakarta : EGC
Dalami ernawati, etc.2009. asuhan keperawatan klien dengan gangguan jiwa. Jakarta : TIM (Trans Info Medika)
Respati Fitri. 2012. Buku Pintar Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa . Yogyakarta : Cakrawala Ilmu
Herdiman T. Hearther. 2016. Nanda Internasional Inc. Nursing Diagnosa : Definisitions and Classification. Jakarta : EGC
Yosep Iujas, Titin Sutini. 2016. Buku Ajar Keperawatan Jiwa dan Advence Mental Health Nursing. Bandung : PT. Refika Aditama
Anonimouse. 2016. Buku Pedoman Keperawatan Jiwa. Universitas Bondowoso
No comments:
Post a Comment