March 03, 2018

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN BATU SALURAN KEMIH

LAPORAN PENDAHULUAN
BATU SALURAN KEMIH

A. SISTEM PERKEMIHAN
Sistem kemih terdiri dari organ pembentuk air kemih dan struktur-struktur yang menyalurkan air kemih dari ginjal ke seluruh tubuh. Ginjal adalah sepasang organ berbentuk kacang yang terletak di belakang rongga abdomen, satu di setiap sisi kolumna vertebralis sedikit di atas garis pinggang. Setiap ginjal dialiri darah oleh arteri renalis dan vena renalis. Ginjal mengolah plasma yang mengalir ke dalamnya untuk menghasilkan air kemih, menahan bahan-bahan tertentu dan mengeliminasi bahan-bahan yang tidak diperlukan ke dalam air kemih. Setelah terbentuk air kemih akan mengalir ke sebuah rongga pengumpul sentral, pelvis ginjal yang terletak pada bagian dalam sisi medial di pusat (inti) kedua ginjal. Dari pelvis ginjal, air kemih kemudian disalurkan ke dalam ureter, sebuah duktus berdinding otot polos yang keluar dari batas medial dekat dengan pangkal (bagian proksimal) arteri dan vena renalis. Terdapat dua ureter yang menyalurkan air kemih dari setiap ginjal ke sebuah kandung kemih. Kandung kemih adalah sebuah kantong rongga yang dapat direnggangkan dan volumenya disesuaikan dengan mengubah-ubah status kontraktil otot polos di dindingnya dan menyimpan air kemih secara temporer. Secara berkala, air kemih dikosongkan dari kandung kemih keluar tubuh melalui saluran uretra. Uretra pada wanita berbentuk lurus dan pendek. Uretra pria jauh lebih panjang dan melengkung dari kandung kemih ke luar tubuh, melewati kelanjar prostat dan penis (Lina, Nur.2008).
Organ pada saluran kemih
Ginjal adalah organ yang berfungsi sebagai penyaring darah yang terletak di belakang dinding abdomen, terbenam dalam gumpalan lemak yang melindunginya. Ginjal terdiri dari dua bagian kanan dan kiri. Ureter merupakan saluran kecil yang menghubungkan antara ginjal dengan kandung kemih (vesica urinaria). Kandung kemih merupakan kantong muscular yang bagian dalamnya dilapisi oleh membran mukosa dan terletak di depan organ pelvis lainnya sebagai tempat menampung air kemih yang dibuang dari ginjal melalui ureter sebagai hasil buangan penyaringan darah. Saluran kemih (uretra) merupakan saluran dari vesica urinaria menuju keluar. Pada wanita panjangnya 3-4 cm sedangkan pada pria lebih panjang dan merupakan bagian organ reproduksi31. Fungsi ginjal salah satunya ditujukan untuk mempertahankan homeostasis terutama berperan dalam mempertahankan stabilitas volume dan komposisi elektrolit cairan ekstrasel (CES). Dengan menyesuaikan jumlah air dan berbagai konstituen plasma yang akan disimpan di dalam tubuh atau dikeluarkan melalui air kemih. Ginjal mampu mempertahankan stabilitas volume dan komposisi elektrolit di dalam rentang yang sangat sempit,
cocok bagi kehidupan walupun pemasukan dan pengeluaran konstituen-konstituen tersebut melalui jalan lain sangat bervariasi. Jika terdapat kelebihan air atau elektrolit tertentu di CES misalnya garam (NaCl), ginjal dapat mengeliminasi kelebihan tersebut dalam air kemih. Jika terjadi kekurangan sebenarnya tidak dapat memberi tambahan konstituen yang kurang tersebut melalui air kemih sehingga dapat menyimpan lebih banyak zat tersebut yang didapat dari makanan. Contoh utama adalah defisit H2O, walaupun seseorang tidak mengkonsumsi H2O, ginjal harus menghasilkan 1 liter H2O dalam air kemih
setiap hari untuk melaksanakan fungsi penting lain sebagai pembersih tubuh. Selain berperan penting dalam mengekskresikan keseimbangan cairan dan elektrolit, ginjal juga merupakan jalan penting untuk mengeluarkan berbagai zat sisa metabolik yang toksik dan senyawa-senyawa asing di dalam tubuh. Zat-zat itu tidak dapat dikeluarkan dalam bentuk padat, harus diekskresikan dalam bentuk cairan sehingga ginjal minimal harus menghasilkan 500 ml air kemih berisi zat sisa per hari.
Fungsi ginjal spesifik ditujukan untuk mampertahankan kestabilan
lingkungan cairan eksternal(CES).
Mempertahankan keseimbangan air dalam tubuh.
Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion cairan ekstra sel termasuk Na, Cl, K, HCO3, Ca, Mg, SO4, PO4 dan H. Fluktuasi konsentrasi sebagian elektrolit ini dalam CES dapat menimbulkan pengaruh besar.
Memelihara volume plasma yang sesuai yang berperan dalam pengaturan panjang jangka panjang tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran ginjal sebagai pengatur keseimbangan garam dan air.
Membantu memelihara kaseimbangan asam basa tubuh dengan mengeluarkan H dan HCO3 melalui air kemih.
Memelihara osmolaritas (konsentrasi zat terlarut berbagai cairan tubuh).
Mengekskresikan dan mengeliminasi produk-produk sisa (buangan) metabolisme tubuh, misalnya urea, asam urat, kreatinin. Jika dibiarkan menumpuk zat-zat tersebut bersifat toksik, terutama bagi otak.
Mengekskresikan banyak senyawa asing misalnya obat, bahan tambahan pada makanan, pestisida, dan bahan-bahan eksogen non nutrisi lainnya yang berhasil masuk ke tubuh.
Mengekskresikan eritropoetin, suatu hormon yang dapat merangsang pembentukan sel darah merah.
Mengekskresikan renin, suatu hormon enzimatik yang memicu reaksi berantai yang penting dalam proses konservasi garam oleh ginjal.
Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya
Gangguan fungsi ginjal akibat BSK pada dasarnya akibat obstruksi dan
infeksi sekunder. Obstruksi menyebabkan perubahan strukstur dan fungsi pada
traktus urinarius dan dapat berakibat disfungsi atau insufisiensi ginjal akibat
kerusakan dari paremkim ginjal

B. PENGERTIAN
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan material keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (buli-buli dan uretra) yang dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam buli-buli (batu buli- buli). Batu ini terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat dan sistein (Chang, 2009 dalam Mira, 2014).
Penyakit batu saluran kemih yang selanjutnya disingkat BSK adalah
terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan substansi yang terdapat
dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena faktor lain yang
mempengaruhi daya larut substansi. (Lina, Nur. 2008)

C. ETIOLOGI
1. Faktor intrinsik
Adalah faktor yang berasal dari dalam individu itu sendiri. Yaitu umur, jenis kelamin, genetik dan kelainan anatomis tubuh, 
Umur atau usia : semua kelompok usia mungkin mengalami penyakit ini, penyakit ini ,lebih banyak ditemukan pada kelompok usia produktif hal ini mungkin terjadi karena gaya hidup sangat mempengaruhi kelompok usia pada masa ini.
Jenis kelamin : yang lebih sering mengalami batu saluran kemih adalah laki-laki. Batu saluran kemih empat kali lebih banyak dialami oleh laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan kecuali pada batu struvit, lebih sering dialami oleh perempuan. Batu saluran kemih terbentuk pada laki-laki dengan usia sekitar 20-70 tahun dengan seseorang dan keluarga yang memiliki penyakit batu.
Genetik : dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya batu saluran kemih pada seseorang, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan batu ginjal, memiliki resiko 5,346 kali mengalami penyakit yang sama.
Sedangkan kelainan anatomis dapat menyebabkan penyakit batu saluran kemih karena dapat mempengaruhi proses eliminasi dan pembuatan urin.
2. Faktor ekstrinsik
Kondisi geografis, iklim dan cuaca memepengaruhi terbentuknya batu saluran kemih, iklim dan cuaca yang panas menyebabkan tubuh lebih banyak mengeluarkan keringat bila dibandingkan dengan urin. Jika seseorang berkeringat berat terutama dalam kondisi cuaca yang panas dan tidak mengkonsumsi cairan yang cukup maka ia meningkatkan resiko mengalami penyakit batu.
Asupan air menjadi salah satu yang penting karena mempengaruhi kekentalan urin serta pelarutan zat-zat dalam tubuh
Diet mempengaruhi terjadinya batu saluran kemih karena kelebihan zat dalam tubuh akan dibuang dalam urin sehingga mempengaruhi kekentalan urin, diet yang dapat menyebabkan pembentukan batu saluran kemih yaitu diet tinggi protein, tinggi kalsium, tinggi purin, dan tinggi oksalat.
Faktor selanjutnya adalah penggunaan obat-obatan dan jamu. Obat-obatan yang dapat mempengaruhi batu saluran kemih adalah obat yang mengandung tinggi kalsium, tinggi oksalatdan lain-lain, contohnya antasida dosis tinggi atau suplemen tinggi kalsium.
Faktor aktivitas dan pekerjaan mempengaruhi pembentukan batu saluran kemih karena sedikitnya pergerakan sesorang dapat menyebabkan statisnya urin sehingga zat-zat didalam urin memiliki kemungkinan untuk mengendap.
Infeksi saluran kemih biasanya menghasilkan batu struvit , selain itu faktor ini lebih banyak terjadi pada wanita bila dibandingkan dengan laki-laki,.


D. JENIS BATU SALURAN KEMIH
Batu Kalsium
Batu kalsium yang dapat terbentuk dalam saluran kemih ada dua macam, yaitu batu kalsium oksalat dan batu kalsium phospat. Batu kalsium oksalat lebih banyak ditemukan pada pasien bila dibandingkan dengan batu kalsium phospat. Batu kalsium oksalat terbentuk akibat tingginya kadar kalsium dan oksalat yang diekskresikan di dalam urin. Sedangkan batu kalsium phospat terbentuk karena kombinasi dan tingginya kadar kalsium alkali atau asam dalam urin sehingga menyebabkan pH urin meningkat.
Batu Asam Urat
Batu jenis ini, terjadi pada seseorang dengan kadar asam uratnya tinggi. Batu ini terbentuk pada 10 % dari klien dengan batu ginjal. Diet tinggi purin dan protein hewan adalah salah satu penyebab terjadinya batu jenis ini, batu ini dapat membuat batu asam urat sendiri ataupun dengan kalsium.
Batu struvit
Batu struvit adalah jenis batu yang terbentuk akibat infeksi dalam saluran kemih. Batu struvit lebih banyak terjadi pada wanita bila dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini mungkin terjadi karena uretra wanita lebih pendek bila dibandingkan dengan pria sehingga wanita lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih.
Batu cystine
Batu cystine adalah batu yang terbentuk akibat penyakit genetik. Penyakit genetik ini menyebabkan ginjal menghasilkan cystine di dalam urin. Terdapatnya cystine di dalam urin memungkinkan terjadnya batu jenis ini terutama jika cystine yang terbentuk terakumulasi.
Batu staghorn 
Adalah batu ginjal yang menempati lebih dari satu collecting system, yaitu batu pielum yang berekstensi ke satu atau lebih kaliks. Istilah  batu staghorn parsial di gunakan jika batu menempati sebagian cabang collecting system, sedangkan istilah batu staghorn komplit di gunakan jika batu menempati seluruh collecting system. Komposisi tersering batu cetak ginjal adalah kombinasi magnesium amonium fosfat dan kalsium karbonat

E. MANIFESTASI KLINIS
Gejala-gejala BSK menurut Lina, Nur. 2008 antara lain:
1. Nyeri 
BSK bagian atas seringkali menyebabkan nyeri karena turunnya BSK ke ureter yang sempit. Kolik ginjal dan nyeri ginjal adalah dua tipe nyeri yang berasal dari ginjal. BSK pada kaliks dapat menyebabkan obstruksi, sehingga memberikan gejala kolik ginjal, sedangkan BSK non obstruktif hanya memberikan gejala nyeri periodik. Batu pada pelvis renalis dengan diameter lebih dari 1 cm umumnya menyebabkan obstruksi pada uretropelvic juction sehingga menyebabkan nyeri pada tulang belakang. Nyeri tersebut akan dijalarkan sepanjang perjalanan ureter dan testis. Pada BSK ureter bagian tengah akan dijalarkan di daerah perut bagian bawah, sedangkan pada BSK distal, nyeri dijalarkan ke suprapubis vulva (pada wanita) dan skrotum pada (pria).
2. Hematuria
Pada penderita BSK seringkali terjadi hematuria (air kemih berwarna seperti air teh) terutama pada obstruksi ureter.
Infeksi
BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder akibat obstruksi dan stasis di proksimal dari sumbatan. Keadaan yang cukup berat terjadi apabila terjadi pus yang berlanjut menjadi fistula renokutan.
3. Demam
Adanya demam yang berhubungan dengan BSK merupakan kasus darurat karena dapat menyebabkan urosepsis.
Mual dan muntah
Obstruksi saluran kemih bagian atas seringkali menyebabkan mual dan muntah,
dapat juga disebabkan oleh uremia sekunder
Sedangkan menurut Buntaram, Muthia Arsll.2015, gejala yang terlihat pada pasien batu saluran kemih yaitu seperti nyeri yang hebat pada daerah ginjal yang nantinya akan beradiasi ke daerah lain. Selain itu juga terdapat hematuria, demam, takikardia, hipotensi, mual dan muntah.

F. PATOFISIOLOGI
Secara pasti etiologi batu saluran kemih belum diketahui dan sampai sekarang banyak teori dan faktor yang berpengaruh untuk terjadinya batu saluran kemih, yaitu: 
1. Teori Fisiko-Kimiawi 
Hal yang melatarbelakangi terbentuknya BSK ini adalah karena adanya terbentuknya proses kimia, fisika maupun gabungan fisiko kimiawi 
2. Teori Supersaturasi 
Supersaturasi air kemih dengan garam-garamnya pembentuk batu merupakan dasar terpenting dan merupakan syarat terjadinya pengendapan. Apabila kelarutan suatu produk tinggi dibandingkan titik endapannya maka terjadi supersaturasi sehingga menimbulkan terbentuknya kristal dan pada akhirnya akan terbentuk batu
3. Teori nukleasi 
Nidus atau nucleus yang terbentuk, akan menjadi inti presipitasi yang kemudian terjadi. Zat atau keadaan yang dapat bersifat sebagai nidus adalah ulserasi mukosa, gumpalan darah, tumpukan sel epitel, pus, bakteri, jaringan nekrotik iskemi yang berasal dari neoplasma atau infeksi dan benda asing 
4. Teori tidak adanya inhibitor 
Supersaturasi kalsium, oksalat dan asam urat dalam urin dipengaruhi oleh adanya inhibitor kristalisasi. Magnesium, sitrat dan 3 pirofosfat telah diketahui dapat menghambat nukleasi spontan kristal kalsium. Beberapa jenis glikosaminoglikans, seperti khondroitin sulfat dapat menghambat pertumbuhan kristal kalsium yang telah terbentuk sebelumnya. Zat lain yang mempunyai peranan inhibitor antara lain : asam ribonukleat, asam amino terutama alanin, sulfat, fluoride dan seng
5. Teori epitaksi 
Epitaksi adalah peristiwa pengendapan suatu kristal di atas permukaan kristal lain
Teori Kombinasi 
BSK dapat terbentuk berdasarkan campuran dari beberapa teori yang ada.
6. Teori Infeksi 
Teori terbentuknya BSK juga dapat terjadi karena adanya infeksi dari kuman tertentu
Teori terbentuknya batu struvit 
Batu struvit disebut juga batu infeksi mempunyai komposisi magnesium amonium fosfat. Terjadinya batu jenis ini dipengaruhi pH air kemih ≥7,2 dan terdapat amonium dalam air kemih, misalnya terdapat bakteri pemecah urea (urea splitting bacteria). Bakteri penghasil urease sebagian besar gram negatif yaitu golongan Proteus,
Klebsiela, Providensia dan Pseudomonas. Ada juga bakteri gram positif yaitu Stafilokokus, Mikrokokus dan Corinebakterium serta golongan mikoplasma, seperti T strain mikoplasma dan Ureaplasma urelithikum 
7. Teori nano bacteria 
Nano bakteria merupakan bakteri terkecil dengan diameter 50- 200 nanometer yang hidup dalam darah, ginjal dan air kemih. Dinding sel bakteri ini mengeras membentuk cangkang kalsium (karbonat apatit). Kristal karbonat apatit ini akan mengadakan agregasi dan membentuk inti batu 
8. Teori vaskuler 
Pada penderita batu saluran kemih sering didapat adanya penyakit hipertensi dan kadar kolesterol darah yang tinggi
Hipertensi
Pada penderita hipertensi 83% mempunyai perkapuran ginjal sedangkan pada orang yang tidak hipertensi yang mempunyai perkapuran ginjal sebanyak 52%. Hal ini disebabkan aliran darah pada papilla ginjal berbelok 1800 dan aliran darah berubah dari aliran laminer menjadi turbulensi. Pada penderita hipertensi aliran turbulen ini berakibat pengendapan ion-ion kalsium papilla 
Kolesterol 
Adanya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah akan disekresi melalui glomerulus ginjal dan tercampur didalam air kemih. Adanya butiran kolesterol tersebut akan merangsang agregasi dengan kristal kalsium oksalat dan kalsium fosfat sehingga terbentuk batu

G. WOC


H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urinalisa
Warna kuning, coklat atau gelap warna : normal kekuning- kuningan , abnormal merah menunjukkan hematuria ( kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor, kegagalan ginjal)
Laboratorium
Darah lengkap : Hb, Ht abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia
Hormon parathyroid mungkin menngkat bila ada gagal ginjal ( PTH merangsang reasorbsi kalsium dari tulang )
Foto KUB ( Kidney Ureter Bladder )
Menunjukkan ukuran ginjal, ureter dan bladder serta menunjukkan adanya batu disekitar saluran kemih
Endoskopi ginjal
Menentukan pelvis ginjal, dan untuk mengeluarkan batu yang kecil
USG Urologi
Untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu
EKG (Elektrokardiografi)
Menunjukkan ketidakseimbangan cairan, asam basa dan elektrolit
Foto rontgen/BOF
Menunjukkan adanya batu di dalam kandung kemih yang abnormal menunjukkan adanya kalkuli atau perubahan anatomic pada area ginjal dan sepanjang ureter.
Nyeri ketok
Nyeri ketok CVA kiri (+), nyeri pada saat perkusi pemeriksaan fisik abdomen pada area costo vertebra angel.

I. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama adalah untuk menyingkirkan batu, menetukan jenis batu, mencegah penghancuran nefron, mengontrol infeksi, dan mengatasi obstruksi yang mungkin terjadi
Terapi farmakologis dan nutrisi
Agens analgesik opioid ( untuk mencegah syok dan sinkope) dan obat-obatan anti inflamasi nonsteroid (NSAID)
Contoh : Tolmetin, Aspirin, ibuprofen.
Peningkatan asupan cairan untuk membantu pengeluaran batu, kecuali pasien mengalami muntah, pasien dengan batu ginjal harus minum delapan samapai sepuluh gelas  air setiap hari atau resepkan cairan IV untuk menjaga urine tetap encer
Untuk batu kalsium : kurangi protein diet dan asupan natrium; asupan cairan bebas ( tidak dibatasi ); medikasi untuk mengasamkan urine, seperti ammonim klorida dan diuretik tiazid jika produksi parathormon meningkat.
Untuk batu urat ; diet rendah purin dan protein terbatas; allopurinol (Zyloprim)
Untuk batu sistin  ; diet rendah protein ; alkalinisasi urine ; peningkatan cairan 
Untuk batu oksalat; encerkan urine; pembatasan asupan oksalat ( bayam, straubery, cokelat, teh, kacang)
Penatalaksanaan medis menurut Mira, 2014 yaitu:
Medikamentosa Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih kecil yaitu dengan diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu dapat keluar tanpa intervensi medis. Analgesik dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan mengusahakan agar batu dapat keluar sendiri secara spontan .
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada tindakan ini digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui tubuh untuk memecah batu.
Endourologi Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan BSK yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukan langsung kedalam saluran kemih. Alat tersebut dimasukan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit.
Tindakan Operasi Penanganan BSK, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk mengeluarkan batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan bedah dilakukan jika batu tidak merespon terhadap bentuk penanganan lainnya. Nama dari tindakan pembedahan tersebut tergantung dari lokasi dimana batu berada

J. KOMPLIKASI
Batu saluran kemih selain memicu terjadinya renal colic, ada beberapa komplikasi yang perlu diwaspadai ialah :
Sumbatan : akibat pecahan batu
Infeksi : akibat desiminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat obstruksi
Kerusakan fungsi ginjal : akibat sumbatan yang lama sebelum pengobatan dan pengangkatan batu ginjal.
CKD (Cronic Kidney Disease) : terjadi karena fungsi ginjal tidak bekerja dengan baik, sehingga darah tidak di absorbsi dan urine tidak dapat keluar maka terjadi penumpukan cairan.

K. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Anamnase:
Identitas : meliputi nama, umur, alamat pasien.
Keluhan Utama : keluhan yang paling dirasakan
Riwayat Penyakit Dahulu : pasien pernah menderita penmyakit yang sama
Riwayat Penyakit Sekarang : perjalanan penyakit dari keluhan utama sampai pasien dirawat dirumah sakit
Riwayat Penyakit Keluarga : keluarga mungkin menderita sakit seperti yang di derita pasien. 
Pemeriksaan fisik menunjukkan :
Nyeri batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan
Mual dan muntah serta kemungkinan diare
Perubahan warna urin atau pola berkemih contoh ; urine keruh dan bau menyengat bila infeksi terjadi
Gambaran hasil pemeriksaan fisik
Pengkajian 
Aktivitas atau istirahat
Pekerjaan monoton 
Pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi
Keterbatasan aktivitas atau mobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya (penyakit tak sembuh, cedera medulla spinalis)
Sirkulasi
Peningkatan Tekanan darah, nadi 
Kulit kemerahan dan hangat, pucat
Eliminasi
Riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya ( kalkulus )
Penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh
Rasa terbakar, dorongan berkemih
Diare
Olisuria, hematuria, priuria
Perubahan pola berkemih
Makanan atau cairan
Mual, muntah
Nyeri tekan abdomen 
Diet tinggi purin kalsium oksalat dan fosfat
Ketidakcukupan pemasukan cairan tidak minum air dengan cukup
Distensi abdominal, penurunan, tak adanya bising usus, muntah
Nyeri dan ketidaknyamanan
Episode akut, nyeri berat, nyeri kolik, lokasi tergantung pada lokasi batu, contoh pada panggul di rgion sudut kostovertebral dapat menyebar ke punggung, abdomn turun ke lipat paha atau genetalia
Nyeri dapat digambarkan 
sebagai akut hebat, tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain
PEMERIKSAAN FISIK HEAD TOE TOE
Kepala
Bentuk kepala, adakah kelainan, uraikan bentuk rambut seperti hitam, pendek, lurus, alopsia
Mata 
Kesimetrisan : simetris kiri dan kanan
Konjungtiva : adakah tanda tanda anemis, 
Sklera : ikterik, atau tidak
Mulut dan gigi
Rongga mulut : kotor atau tidak
Lidah kotor atau tidak 
Adakah karies gigi atau karang gigi
Thoraks dan jantung
I :Bentuk dada normal atau tidak, adakah lesi, adakah tanda – tanda retraksi  dada, kesimterisan ekspansi dada
P: Adakah nyeri tekan 
P: Bunyi normal atau tidak
A: Adakah bunyi nafas tambahan
Jantung : 
I :bentuk, ictus cordis nampak atau tidak,  adakah lesi atau tidak, 
P: adakah nyeri tekan, ictus cordis teraba atau tidak
P: normal atau tidak
A: normal atau tidak, adakah bunyi mur mur atau galop
Abdomen
I: bentuk, adanya pembesaran pada abdomen bawah bagian belakang
A:suara bising usus 
P: akan taraba masa bila keadaan sudah lanjut 
P: Timpani
Genetalia
Observasi adanya lesi, eritema, fisura, 
Adakah nyeri tekan atau massa
Rectum dan anus
I: adakah hemoroid, lesi, kemerahan
P :adakah nyeri tekan atau massa
Kulit dan integumen
Amati adanya perubahan dan pengurangan pigmentasi,pucat, kemerahan, sianosis, lesi kulit ikterik

L. POLA FUNGSI KESEHATAN
Pola persepsi dan penanganan kesehatan
Klien biasanya tinggal pada lingkungan dengan temperatur panas dan lingkungan dengan kadar mineral kalsium yang tinggi pada air. Terdapat riwayat penggunaan alkohol, obat-obatan seperti antibiotik, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinol dan sebagainya.aktifitas olahraga biasanya tidak pernah diakukan.
Pola nutrisi dan metabolisme
adanya asupan dengan diet tinggi purin, kalsium oksalat dan fosfat. Terdapat juga ketidakcukupan intake cairan. Klien BSK dapat mengalami mual muntah, nyeri tekan abdomen
Pola eliminasi 
Pada klien BSK terdapat riwayat adanya ISK kronis, adanya obstruksi sebelumnya sehingga dapat mengalami penurunan haluaran urin, kandung kemih terasa penuh, rasa terbakar saat berkemih, sering berkemih dan adanya diare
Pola istirahat-tidur
Klien BSK dapat mengalami gangguan pola tidur apabila nyeri timbul pada malam hari atau saat istirahat
Pola aktivitas
Adanya riwayat keterbatasan aktifitas, pekerjaan monoton ataupun immobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya.
Pola hubungan dan peran
di dapatkan riwayat klien tentang peran dalam keluarga dan masyarakat, interaksi dengan keluarga dan orang lain serta hubungan kerja, adakah perubahan atau gangguan.
Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat melaporkan adanya perasaan gugup atau kecemasan yang dirasakan sebagai akibat kurangnya pengetahuan tentang kondisi, diagnosa dan tindakan atau operasi
Pola kognitif-peseptual
Di dapatkan adanya keluhan nyeri, nyeri dapat akut ataupun kolik tergantung lokasi batu,
Pola reproduksi seksual
Dikaji tentang pengetahuan fungsi seksual, adakah perubahan dalam hubungan seksual karena perubahan kondisi yang dialami
Pola koping dan penanganan stress
Dikaji tentang mekanisme klien terhadap stress, penyebab stress yang mungkin diketahui, bagaimana mengambil keputusan
Pola tata nilai dan kepercayaan
Bagaimana praktek religius klien, dengan apa klien mendapatkan sumber kekuatan atau makna.

M. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri akut
Gangguan Eliminsi Urine
Retensi urine
Resti Kekurangan Volume Cairan
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari keubutuhan tubuh
Intoleransi Aktivitas
Defisiensi Pengetahuan
Ansietas

N. INTERVENSI KEPERAWATAN
Nyeri Akut :
Definisi: pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti (International Association for the Study of Pain).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam nyeri klien teratasi
KriteriaHasil : 
Memperlihatkan tekhnik relaksasi 
Skala Nyeri 0
Mengenali faktor penyebab  dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi factor tersebut
Melaporkan nyeri kepada penyedia pelayanan kesehatan
Tidak mengalami gangguan dalam  frekuensi pernafasan, frekuensi jantung, atau tekanan darah

Rencana Intervensi:

RENCANA INTERVENSI :

Manajemen nyeri

Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meiputi lokasi, karakteristik, awitan, durasi, frekuensi, kualitas,
Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan 

Observasi tanda – tanda vital

Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyamanan pada skala 0-10

Berikan informasi kepada klien dan keluarga tentang penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat procedure
Lakukan Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik sesuai indikasi dan dosis.

RASIONAL :

Mengetahui intensitas yeri yang dialami klien


Mengenali dan mengetahui tingkt nyeri yang ialami kien melalui isyarat nonverbal
Mengetahui keadaan umum klien

Mampu mengetahui dan menilai tingkat perkembangan skala nyeri yang dialami pasien

Memotivasi klien dan memberikan pengetahuan serta menambah wawasan  kepada klien dan kelurga tentang konsep nyeri

Pemberian analgesik sesuai indikasi mampu mengurangi tingkat nyeri yang dialami pasien


Gangguan Eliminasi Urin
Definisi: disfungsi pada eliminasi urine
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam masalah klien teratasi
KriteriaHasil : 
Kandung kemih kosong secara penuh
Eliminasi secara mandiri
Tidak ada spasme bladder
Pengeluaran urin tanpa nyeri
Rencana Intervensi:

RENCANA INTERVENSI :

Lakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia ( misalnya output urin, pola berkemih)
Pantau asupan dan keluaran

Pantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi

Sediakan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih ( 10 menit)

Anjurkan pasien atau keluarga untuk mencatat atau merekam hasil output urin

Lakukan kolaborasi devngan dokter pemasangan selang kateter sesuai  indikasi

RASIONAL :
Mengetahui tingkat pengeluaran urine pda pasien


Mengetahui tingkat perkembangan  asupan dan pengeluaran serta mampu untuk membandingkan keduanya

Merasakan adanya urin dan seberapa banyak berada dalam kandung kemih
memeberikan kesempatan kandung kemih untuk rangsang kemih

Mengetahui jumlah urin yang keluar

Memepermudah pasien dalm proses pengeluaran urin atau berkemih


Kekurangan Volume Cairan
Definisi: penurunan cairan intravaskuler, interstisial, atau intrasel. Diagnosa ini merujuk pada dehidrasi yang merupakan kehilangan cairan saja tanpa perubahan kadar natrium.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24  kekurangan volume cairan klien terpenuhi
KriteriaHasil :
Memiliki konsentrasi urin yang normal
Menampilkan hidrasi yang baik
Memiliki asupan cairan oral/intravena yang adekuat
Tidak menampilkan haus yang tidak normal
Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam
Rencana Intervensi:

RENCANA INTERVENSI :

Pertahankan keakuratan catatan asupan dan haluaran.

Identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit.

Pantau status hidrasi ( membran mukus, tekanan ortostatik, keadekuatan denyut nadi ).

Ajarkan keluarga tentang cara memantau asupan dan haluaran.

Berikan terapi intravena sesuai program

RASIONAL :

Mempermudah dalam observasi

mengetahui penyebab untuk menentukan intervensi penyelesaian.

mengetahui keadaan umum pasien


mengurangi risiko kekurangan voume cairan semakin bertambah.

Mengurangi kekurangan cairan

O. REFERENSI
Brunner dan Sudart. 2015. Keperawatan Medikal Bedah edisi 12. Jakarta: EGC
Huda Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Bedasarkan Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction
Lina, Nur.2008.Faktor-Faktor Risiko Kejadian Batu Saluran Kemih Pada Laki-Laki.Semarang:UNDIP
Mira.2014.Hubungan Batu Saluran Kemih Dengan Penyakit Ginjal Kronik Di Rumah Sakit An-Nur Yogyakarta Periode Tahun 2012-2013.Surakarta:UNMUH
Ratu, G dan Hardjoeno, Badji.2013. Profil Analisis Batu Saluran Kemih Di Laboratorium Patologi Klinik
Wilkinson Judith. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 9 NANDA NIC-NOC. Jakarta: EGC




December 19, 2017

Curiculum Vite

CURRICULUM VITE

SELF IDENTITY
Name : Lubbabul Jannah
Date of Birth : Bondowoso, 24 February 1997
Gender : Woman
Status : Single
Religion : Islam
Education : DIPLOMA III (DIII) Nursing Academy
Address : Jl. Raya Wringin Bondowoso
  Ds. Banyuwulu, Kec. Wringin, Kab. Bondowoso
No. Handphone : +6282331324225

FORMAL EDUCATIONS
Primary High School Banyuwulu 01 year. 2001 - 2007
Junior High School 01 Wringin year. 2007 - 2010
Vocational High School 01 Wringin year. 2010 - 2013
Diploma 3 Nursing Academi Universitas Bondowoso year. 2013 – 2016

ORGANISATIONS EXPERIENCE
Assiciation of Student Council (OSIS)
Junior High School 01 Wringin year. 2007 – 2009
Assiciation of Student Council (OSIS)
Vocational High School 01 Wringin year. 2010 – 2012
Scout (Pramuka) Bantara & Laksana year. 2010 – 2013
Student Community (IKM)
Diploma 3 Nursing Academi Universitas Bondowoso year. 2013 – 2014

WORK EXPERIENCE
May until June 2016 Practice at Hospital dr. H. Koesnadi Bondowoso
June until July 2016 Practice at Hospital DKT Jember
August until September 2016 Practice at Hospital Psychiatric Malang
December 2016 until January 2017 Practice at Hospital dr. H. Koesnadi Bondowoso
January until February 2017 Practice at Hospital Pulmonary Jember
On May training Basic Life Support at Hospital Saiful Anwar Malang
June until July 2017 Practice at Hospital Soebandi Jember
July until August 2017 Practice at Hospital Saiful Anwar Malang
On October TOEFL Test at University Of Jember

Computer Skills : Programming, Microsoft Word, Microsoft Excel, Microsoft Power Point.

PERSONALITY
Be Honest
Study Hard
Good attitude
Can work with team
Fast adaptations
Can operating computer
Responsible

Thanks for your attention.


Greeting,


(Lubbabul Jannah)

June 07, 2017

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN CHRONIC KIDNEY DISEASE DAN HEMODIALISA

LAPORAN PENDAHULUAN
ASUHAN KEPERAWATAN
CKD (CHRONIC KIDNEY DISEASE)

A.   PENGERTIAN
Chronic Kidney Disease atau penyakit Gagal Ginjal Kronik adalah suatu penyakit dimana fungsi organ ginjal mengalami penurunan hingga akhirnya tidak lagi mampu bekerja sama sekali dalam hal penyaringan pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat kimia tubuh seperti sodium dan kalium didalam darah atau produksi urin. Penyakit gagal ginjal berkembang secara perlahan kearah yang semakin buruk dimana ginjal sama sekali tidak lagi mampu bekerja sebagaimana fungsinya. Dalam dunia kedokteran dikenal 2 macam jenis gagal ginjal yaitu gagal ginjal akut dan gagal ginjal kronis.
Gagal Ginjal Kronik adalah penyimpangan progresif, fungsi ginjal yang tidak dapat pulih dimana kemampuan tubuh untuk mempertahakan keseimbangan metabolik, cairan dan elektrolit mengalami kegagalan, yang mengakibatkan uremia.
Kidney Disease Outcomes Quality Initiative (K/DOQI) mengklasifikasikan gagal ginjal kronis sebagai berikut:
Stadium 1: kerusakan masih normal (GFR >90 mL/min/1.73 m2)
Stadium 2: ringan (GFR 60-89 mL/min/1.73 m2)
Stadium 3: sedang (GFR 30-59 mL/min/1.73 m2)
Stadium 4: gagal berat (GFR 15-29 mL/min/1.73 m2)
Stadium 5: gagal ginjal terminal (GFR <15 mL/min/1.73 m2)
Pada gagal ginjal kronis tahap 1 dan 2 tidak menunjukkan tanda-tanda kerusakan ginjal termasuk komposisi darah yang abnormal atau urin yang abnormal.

B.   ETIOLOGI
1.      Infeksi saluran kemih (ISK)
2.      Atheriosklerosis
3.      Zat Toksik
4.      Nefropati obstruktif misalnya saluran kemih bagian atas: kalkuli neoplasma, fibrosis netroperitoneal. Saluran kemih bagian bawah: hipertropi prostat, striktur uretra, anomali kongenital pada leher kandung kemih dan uretra. Misal; batu, neoplasma, fibrosis retroperitoneal, hipertropi prostat, striktur urethra.
5.      Batu saluran kencing yang menyebabkan hidrolityasis
6.      Obstruksi aliran urine yang terletak disebelah proksimal dan vesika urinaria dapat mengakibatkan penimbunan cairan bertekanan dalam pelvis ginjal dan ureter. Hal ini sudah cukup untuk mengakibatkan atrofi hebat pada parenkim ginjal. Keadaan ini disebut hidronefrotis. Disamping itu, obstruksi yang terjadi di bawah vesika urinaria sering disertai refulks vesikoureter dan infeksi pada ginjal. Penyebab umum obstruksi adalah jaringan parut ginjal atau uretra, batu, neoplasma, hipertrofi prostat, kelainan kongenital, pada leher vesika urinaria dan uretra, serta penyempitan uretra.

C.   MANIFESTASI KLINIS
1.     Gangguan kardiovaskuler
Hipertensi, nyeri dada, dan sesak nafas akibat perikarditis, effusi perikardiac dan gagal jantung akibat penimbunan cairan, gangguan irama jantung dan edema.
2.     Gannguan Pulmoner
Nafas dangkal, kussmaul, batuk dengan sputum kental dan riak, suara krekels.
3.     Gangguan  gastrointestinal
Anoreksia, nausea, dan fomitus yang berhubungan dengan metabolisme protein dalam usus, perdarahan pada saluran gastrointestinal, ulserasi dan perdarahan mulut, nafas bau ammonia.
4.     Gangguan  muskuloskeletal
Resiles leg sindrom (pegal pada kakinya sehingga selalu digerakan), burning feet syndrom (rasa kesemutan dan terbakar, terutama ditelapak kaki), tremor, miopati (kelemahan dan hipertropi otot – otot ekstremitas).
5.     Gangguan Integumen
Kulit berwarna pucat akibat anemia dan kekuning – kuningan akibat penimbunan urokrom, gatal – gatal akibat toksik, kuku tipis dan rapuh.
6.     Gangguan endokrim
Gangguan seksual : libido fertilitas dan ereksi menurun, gangguan menstruasi dan aminore. Gangguan metabolic glukosa, gangguan metabolic lemak dan vitamin D.
7.     Gangguan cairan elektrolit dan keseimbangan asam dan basa
biasanya retensi garam dan air tetapi dapat juga terjadi kehilangan natrium dan dehidrasi, asidosis, hiperkalemia, hipomagnesemia, hipokalsemia.
8.     System hematologi
anemia yang disebabkan karena berkurangnya produksi eritopoetin, sehingga rangsangan eritopoesis pada sum – sum tulang berkurang, hemolisis akibat berkurangnya masa hidup eritrosit dalam suasana uremia toksik, dapat juga terjadi gangguan fungsi trombosis dan trombositopeni.

D.   PATOFISIOLOGI
Pada waktu terjadi kegagalan ginjal sebagian nefron (termasuk glomerulus dan tubulus) diduga utuh sedangkan yang lain rusak (hipotesa nefron utuh). Nefron-nefron yang utuh hipertrofi dan memproduksi volume filtrasi yang meningkat disertai reabsorpsi walaupun dalam keadaan penurunan GFR / daya saring. Metode adaptif ini memungkinkan ginjal untuk berfungsi sampai ¾ dari nefron–nefron rusak. Beban bahan yang harus dilarut menjadi lebih besar daripada yang bisa direabsorpsi berakibat diuresis osmotik disertai poliuri dan haus. Selanjutnya karena jumlah nefron yang rusak bertambah banyak oliguri timbul disertai retensi produk sisa. Titik dimana timbulnya gejala-gejala pada pasien menjadi lebih jelas dan muncul gejala-gejala khas kegagalan ginjal bila kira-kira fungsi ginjal telah hilang 80% - 90%. Pada tingkat ini fungsi renal yang demikian nilai kreatinin clearance turun sampai 15 ml/menit atau lebih rendah itu. ( Barbara C Long, 1996, 368)
            Fungsi renal menurun, produk akhir metabolisme protein (yang normalnya diekskresikan ke dalam urin) tertimbun dalam darah. Terjadi uremia dan mempengaruhi setiap sistem tubuh. Semakin banyak timbunan produk sampah maka gejala akan semakin berat. Banyak gejala uremia membaik setelah dialisis. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1448). Perjalanan umum gagal ginjal progresif dapat dibagi menjadi tiga stadium yaitu:
1.       Stadium 1 (penurunan cadangan ginjal)
Ditandai dengan kreatinin serum dan kadar Blood Ureum Nitrogen (BUN) normal dan penderita asimtomatik.
2.       Stadium 2 (insufisiensi ginjal)
Lebih dari 75% jaringan yang berfungsi telah rusak (Glomerulo filtration Rate besarnya 25% dari normal). Pada tahap ini Blood Ureum Nitrogen mulai meningkat diatas normal, kadar kreatinin serum mulai meningklat melabihi kadar normal, azotemia ringan, timbul nokturia dan poliuri.
3.       Stadium 3 (Gagal ginjal stadium akhir / uremia)
Timbul apabila 90% massa nefron telah hancur, nilai glomerulo filtration rate 10% dari normal, kreatinin klirens 5-10 ml permenit atau kurang. Pada tahap ini kreatinin serum dan kadar blood ureum nitrgen meningkat sangat mencolok dan timbul oliguri. (Price, 1992: 813-814)


E.  WOC



F.    PEMERIKSAAN PENUNJANG
  1. Pemeriksaan Laboratorium
Laboratorium darah : BUN, Kreatinin, elektrolit (Na, K, Ca, Phospat), Hematologi (Hb, trombosit, Ht, Leukosit), protein, antibody (kehilangan protein dan immunoglobulin) 
  1. Pemeriksaan Urin : Warna, PH, BJ, kekeruhan, volume, glukosa, protein, sedimen, SDM, keton, SDP, TKK/CCT
  2. Pemeriksaan EKG : Untuk melihat adanya hipertropi ventrikel kiri, tanda perikarditis, aritmia, dan gangguan elektrolit (hiperkalemi, hipokalsemia)
  3. Pemeriksaan USG : Menilai besar dan bentuk ginjal, tebal korteks ginjal, kepadatan parenkim ginjal, anatomi system pelviokalises, ureter proksimal, kandung kemih serta prostate
  4. Pemeriksaan Radiologi : Renogram, Intravenous Pyelography, Retrograde Pyelography, Renal Aretriografi dan Venografi, CT Scan, MRI, Renal Biopsi, pemeriksaan rontgen dada, pemeriksaan rontgen tulang, foto polos abdomen
G.  PENATALAKSANAAN
                 1. Diet TKRPRG
                 2. Diet Rendah Protein (20-40 gr/hr), dan tinggi kalori menghilangkan gejala anoreksoa dan neusea dari unemia, menyebabkan penurunan ureum dan perbaikan gejala. Hindari masukan yang berlebihan dari K dan garam.
                 3. Diuretik loop, selain obat anti hipertensi.
                 4. Untuk mencegah hiperkalemi : drunetik hemat kalium, penghambat ACE dan obat anti inflamasi non steroid.
                 5. Mencegah dan tatalaksana  penyakit tulang ginjal.
                 6. Hiperfosfatemia dikontrol dengan obat yang meningkat fosfat seperti aluminium (300-1800 mg) atau kalsium karbonat (500-3000 mg).
                 7. Modifikasi terapi obat dengan fungsi ginjal
                 8. Banyak obat-obat yang harus diturunkan dosisnya karena metabolik tosik dan dikeluarkan oleh ginjal. Misal : digoksin, aminoglikosoid, analgesik, opiat, amfosterisin, dan alapurinol.
                 9. Persiapan dralisis dan program transplantasi.


H.  PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Pengkajian
a.       Identitas klien.
Pada kasus GGK dapat terjadi pada segala usia dan semua jenis kelamin (tidak ada perbandingan aantara pria dan wanita).
b.       Keluhan utama.
Biasanya klien mengeluh.
c.       Riwayat kesehatan.
-          Riwayat kesehatan sekarang.
Pada kasus GGK faktor yang mempengaruhi dan memperberat hingga klien MRS adalah falig, malaise, gagal tumbuh, pucat dan mudah lecet, rapuh, leukonika, lidah kering, berselaput, fundus hipertensif, mata merah, gagal jantung, anoreksia, edema paru, efusi pleura, penurunan libido, anemia defisiensi imun, mudah mengalami pendarahan.
-          Riwayat penyakit dahulu.
Biasanya klien sebelum di diagnosa GGK klien pernah sakit seperti : glomerolus nefritis, netropati analgesik, ginjal polikistik, penyebab lain seperti : HT, obstruksi GOUT.
-          Riwayat penyakit keluarga.
Gambaran mengenai kesehatan dan adakah penyakit keturunan atau menular.
d.      Pola-pola fungsi kesehatan.
-          Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat.
Perubahan penatalaksanaan dan pemeliharaan kesehatan sehingga dapat menimbulkan perawatan diri.
-          Pola nutrisi dan metabolisme.
Pada klien GGK akan terjadi anoerksia, nourea dan vomitus yang berhubungan dengan gangguan metabolisme protein di dalam usus.
-          Pola eliminasi.
Klien akan menunjukkan perubahan warna urine, abdomen kembung, diare, konstipasi.
-          Pola aktifitas dan istirahat.
Pada penderita GGK akan terjadi kelelahan ekstrim, kelemahan otot, kehilangan tonus, penurunan gerak rentang.
-          Pola persepsi dan konsep diri.
Klien tidak bisa menjalankan tugasnya sehari-hari yang disebabkan oleh perawatan yang lama
-          Pola sensori dan kognitif.
-          Pola reproduksi dan seksual.
Akan terjadi penurunan libido, impotensi, amenore, galaktose.
-          Pola hubungan peran.
Kesulitan menentukan kondisi contoh tak mampu bekerja, mempertahankan fungsi peran biasanya dalam keluarga.
-          Pola penanggulangan stress
Biasanya penderita GGK mengalami fraktrus stress contoh finansial, hubungan dan sebabnya, perasaan tidak berdaya, tidak da harapan, tidak ada kekuatan, menolak, ansietas, takut, marah, mudah tersinggung, perubahan kepribadian.
-          Pola tata nilai dan kepercayaan.
Tidak terjadi gangguan pada pola tata nilai dan kepercayaan.
e.       Pemeriksaan fisik.
-          Status kesehatan umum.
-          Sistem respirasi.
Nafas pendek, batuk denga atau tanpa sputum kental dan banyak, tekipnea batuk produktif dengan sputum merah darah encer (edema paru).
-          Kulit, rambut, kuku.
Pada klien GGK ditemukan dalam pemeriksaan pada kulit yaitu kulit kuning, perubahan turgor kulit (kering), bintik-bintik perdarahan kecil dan lebih besar dikulit. Penyebaran proses pengapuran di kulit, pada kuku tipis dan rapuh serta pada rambut tipis.
-          Kepala, leher.
Pada klien GGK mengeluh sakit kepala, muka pucat memerah, tidak adanya pembesaran tiroid.
-          Mata.
Pada klien GGK mata mengalami pandangan kabur.
-          Telingga, hidung, mulut, tenggorokan.
Pada GGK telinga hidung dan tenggorokan tidak mengalami gangguan pada mulut ditemukan adanya perdarahan pada gusi dan lidah.
-          Pada thorax dan abdomen.
Pada pemeriksaan abdomen dan thorak ditemukan adanya nyeri pada dada dan abdomen ditemukan disternsi perut (asietas atau penumpukan cairan, pembesaran heper pada stadium akhir).
-          Sistem kardiovaskuler.
GGK berlanjut menjadi tekanan darah tinggi, detak jantung menjadi irreguler ( termasuk detak jantung yang mengancam kehidupan atau terjadi fibrilasi), pembengkakan, gagal ginjal kongestif.
-          Sistem genitourinaria.
Karena ginjal kehilangan kesanggupan mengekskresi natrium, penderita mengalami retensi natrium dan kelebihan natrium sehingga penderita mengalami iritasi dan menjadi lemah. Pengeluaran urine mengalami penurunan serta mempengaruhi komposisi kimianya, berkurangnya frekwensi kencing, urine sedikit, urine tidak ada pada gagal ginjal, perut mengembung, diare atau justru sulit BAB, perubahan warna urine misalnya :
Kuning, coklat, merah, gelap, urin sedikit dan beda negatif.
-          Sistem gastrointestinal.
Pada saluran pencernaan terjadi peradangan ulserasi pada sebagaian besar alat pencernaan. Gejala lainnya adalah terasa metal di mulut, nafas bau amonia, nafsu makan menurun, mual muntah, perut mengembung, diare atau justru sulit BAB.
-          Sistem muskuloskeletal
Pada GGK adanya kelemahan otot atau kekuatan otot hilang. Kurangnya respon-respon otot dan tulang. Ketidakseimbangan mineral dan hormon, tulang terasa sakit , kehilangan tulang, mudah patah, defisit kalsium dalam otak, mata, gusi, persendian, jantung, bagian dalam dan pembuluh darah. Fraktur atau otak tulang, penumpukan CaPO4 pada jaringan lunak , sendi pembatasan gerak sendi.
-          Sistem endokrin.
Pada GGK memberikan pertumbuhan lambat pada anak-anak. Kurang subur serta nafsu sex menurun pada kedua jenis kelamin. Menstruasi berkurang bahkan dapat berhenti sama sekali. Impotensi dan produksi sperma menurun serta peningkatan kadar gula darah seperti pada diabetes.
-          Sistem persyarafan.
Pada klien GGK sindroma tungkai bergerak-gerak salah satu pertanda kerusakan saraf, rasa sakit seperti terbakar, gatal pada kaki dan tungkai, juga dijumpai otot menjadi kram dan bergerak-gerak, daya ingat berkurang, mengantuk, iritabilitas, bingung, koma dan kejang.

I.      DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.          Kelebihan volume cairan
2.          Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
3.          Intoleransi aktivitas
4.          Risiko ketidakefektifan perfusi jaringan
5.          Penurunan curah jantung
6.          Gangguan citra tubuh
7.          Gangguan pertukaran gas
8.          Disfungsi seksual
9.          Risiko ketidakefektifan fungsi ginjal
10.      Risiko infeksi
11.      Risiko kerusakan integritas kulit


J.       INTERVENSI KEPERAWATAN
1.      Kelebihan Volume Cairan : Peningkatan retensi cairan isotonik
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan kelebihan volume cairan dapat berkurang dan volume cairan pasien seimbang.
Kriteria Hasil :
1. Serum kreatinin kembali ke rentang yang diharapkan (0.7 – 7.2 mg/dL)
2. Nilai BUN kembali ke rentang yang diharapkan (8.00-50.00 mg/dl)
3. Tidak ada odema
4. Volume cairan pasien seimbang (intake=output)
5. Tidak ada hematuria
Rencana Intervensi:
RENCANA INTERVENSI
RASIONAL
1.    Memonitor level abnormal elektrolit serum
2.      Memonitor hasil pemeriksaan laboratorium yang berkaitan dengan keseimbangan cairan
3.      Monitor intake dan output

4.      Monitor haluaran urine (jumlah dan warna)
5.      Monitor tanda-tanda vital

6.      Berikan obat diuretic sesuai indikasi
1.    Indikasi adanya kelainan metabolisme cairan dan elektrolit
2.    Indikator adanya perubahan keseimbangan cairan

3.    Indicator menentukan keseimbangan cairan
4.    Monitor haluaran urine apakah ada retensi dan uremia
5.    Tanda vital berperan pada perkembangan kondisi pasien 
6.    Diuretik berfungsi dalam menurunkan penumpukan cairan sehingga mengurangi edema

2.      Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh : asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolic
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3×24 jam diharapkan pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien tercukupi dan seimbang
Kriteria Hasil  :
1.    Intake nutrisi tercukupi
2.    Asupan makanan dan cairan tercukupi
3.    Penurunan terjadinya mual muntah
4.    Pasien mengalami peningkatan berat badan
Rencana Intervensi:
RENCANA INTERVENSI
RASIONAL
1.      Kaji status nutrisi pasien



2.      Kaji frekuensi mual, durasi, tingkat keparahan, faktor frekuensi, presipitasi yang menyebabkan mual.
3.      Timbang BB

4.      Anjurkan pasien makan sedikit demi sedikit tapi sering.
5.      Jaga kebersihan mulut, anjurkan untuk selalu melalukan oral hygiene..
6.      Berikan informasi yang tepat terhadap pasien tentang kebutuhan nutrisi yang tepat dan sesuai.
7.      Kolaborasi pemberian diet TKRPRG
1.      Pengkajian penting dilakukan untuk mengetahui status nutrisi pasien sehingga dapat menentukan intervensi yang diberikan.
2.      Penting untuk mengetahui karakteristik mual dan faktor-faktor yang menyebabkan mual
3.      Monitoring penurunan dan peningkatan BB
4.      Makan sedikit demi sedikit dapat meningkatkn intake nutrisi.
5.      Mulut yang bersih dapat meningkatkan nafsu makan
6.      Informasi yang diberikan dapat memotivasi pasien untuk meningkatkan intake nutrisi.
7.      Memenuhi keb. gizi pasien


3.      Intoleransi Aktivitas : ketidakcukupan energy psikologis atau fisiologis untuk mempertahankan atau menyelesaikan aktivitas kehidupan sehari-hari yang harus atau yang ingin di lakukan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakaan keperawatan selama  3 x24 jam diharapkan kondisi klien stabil saat aktivitas dan dapat melakukan aktivitas secara mandiri
Kriteria Hasil :
1.      TTV dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg
N : 60-100x/menit
S : 35,5 – 37,5oC
RR : 16 – 24x/menit
2.      Pasien tidak nampak kelelahan dan lesu
3.      Pasien dapat beraktivitas secara mandiri
Rencana Intervensi:
RENCANA INTERVENSI
RASIONAL
1.    Monitor kemampuan aktivitas pasien sehari-hari
2.    Monitor TTV
3.    Bantu klien memilih aktivitas yang sesuai dengan kondisi.

\

4.    Bantu klien untuk melakukan aktivitas/latihan fisik secara teratur.
5.    Kolaborasi dengan tim kesehatan lain untuk merencanakan , monitoring program aktivitasi klien.
1.      Mengetahui setiap perkembangan yang muncul segera setelah terapi aktivitas
2.      Mengetahui keadaan umum yang di alami pasien
3.      Aktivitas yang teralau berat dan tidak sesuai dengan kondisi klian dapat memperburuk toleransi terhadap latihan.
4.      Mengkaji setiap aspek klien terhadap terapi latihan yang dierencanakan

5.      Meningkatkan program latihan untuk membantu aktivitas pasien




KONSEP HEMODIALISA

A. DEFINISI
Dialisis merupakan suatu proses yang di gunakan untuk mengeluarkan cairan dan produk limbah dari dalam tubuh ketika ginjal tidak mampu melaksanakan proses tersebut. Tujuan dialisis adalah untuk mempertahankan kehidupan dan kesejahteraan pasien sampai fungsi ginjal pulih kembali. Metode terapi mencakup  hemodialisis, hemofiltrasi dan peritoneal dialisis.
Pada dialisis molekul solut berdifusi lewat membran semipermeabel dengan cara mengalir dari sisis cairan yang lebih pekat (konsentarsi solut lebih tinggi) ke cairan yang lebih encer (kondisi solut yang lebih rendah). Cairan mengalir lewat membran semipermeabel dengan cara osmosis atau ultrafiltrasi (aplikasi tekanan exsternal pada membran) pada hemodialisis membran merupakan bagian dari dialeser atau ginjal artifisial. Pada perritoneal dialisis, merupakan peritoneum atau lapisan dinding abdomen berfungsi sebagai membran semipermeabel .
Tisher dan Wilcox (1997) hemodialisa didefinisikan sebagai pergerakan larutan dan air dari darah pasien melewati membran semipermeabel (dializer) ke dalam dialisat. Dializer juga dapat dipergunakan untuk memindahkan sebagian besar volume cairan.
Hemodialisa adalah menggerakkan cairan dari partikel-pertikel lewat membran semi permiabel yang mempunyai pengobatan yang bisa membantu mengembalikan keseimbangan cairan dan elektrolit yang normal, mengendalikan asam dan basa, dan membuang zat-zat toksis dari tubuh. ( Long, C.B. : 381).
Membran selaput semipermiabel adalah lembar tipis, berpori-pori, terbuat dari selulosa atau bahan sintetik. Ukuran pori-pori membrane memungkinkan difusi zat dengan berat molekul rendah seperti urea, kreatinin, dan asam urat berdifusi. Molekul air juga sangat kecil dan bergerak bebas melalui membran, tetapi kebanyakan protein plasma, bakteri dan sel darah terlalu besar untuk melewati pori-pori membrane. Perbedaan konsentrasi zat pada dua kompartemen disebut gradian konsentrasi.

B. EPIDEMIOLOGI
Hemodialisis di Indonesia mulai tahun 1970 dan sampai sekarang telah dapatdilaksanakan di banyak rumah sakit rujukan. Kualitas hidup yang diperoleh cukup baik danpanjang umur yang tertinggi sampai sekarang 14 tahun.Indonesia termasuk Negara dengantingkat penderita gagal ginjal yang cukup tinggi.Saat ini jumlah penderita gagal ginjalmencapai 4500 orang. Dari jumlah itu banyak penderita yang meninggal dunia akibat tidakmampu berobat atau cuci darah (hemodialisis) karena biaya yang sangat mahal.



C. ETIOLOGI
Hemodialisa dilakukan kerena pasien menderita gagal ginjal akut dan kronik akibat dari : azotemia, simtomatis berupa enselfalopati, perikarditis, uremia, hiperkalemia berat, kelebihan cairan yang tidak responsive dengan diuretic, asidosis yang tidak bisa diatasi, batu ginjal, dan sindrom hepatorenal.

D. PATOFISIOLOGI
Ginjal adalah organ penting bagi hidup manusia yang mempunyai fungsi utama untuk menyaring / membersihkan darah. Gangguan pada ginjal bisa terjadi karena sebab primer ataupun sebab sekunder dari penyakit lain. Gangguan pada ginjal dapat menyebabkan terjadinya gagal ginjal atau kegagalan fungsi ginjal dalam menyaring / membersihkan darah. Penyebab gagal ginjal dapat dibedakan menjadi gagal ginjal akut maupun gagal ginjal kronik. Dialisis merupakan salah satu modalitas pada penanganan pasien dengan gagal ginjal, namun tidak semua gagal ginjal memerlukan dialisis. Dialisis sering tidak diperlukan pada pasien dengan gagal ginjal akut yang tidak terkomplikasi, atau bisa juga dilakukan hanya untuk indikasi tunggal seperti hiperkalemia. Faktor-faktor yang harus dipertimbangkan sebelum melalui hemodialisis pada pasien gagal ginjal kronik terdiri dari keadaan penyakit penyerta dan kebiasaan pasien. Waktu untuk terapi ditentukan oleh kadar kimia serum dan gejala-gejala.Hemodialisis biasanya dimulai ketika bersihan kreatin menurun dibawah 10 ml/mnt, yang biasanya sebanding dengan kadar kreatinin serum 8-10 mge/dL namun demikian yang lebih penting dari nilai laboratorium absolut adalah terdapatnya gejala-gejala uremia.

E. TUJUAN
Menurut Havens dan Terra (2005) tujuan dari pengobatan hemodialisa antara lain :
a.    Menggantikan fungsi ginjal dalam fungsi ekskresi, yaitu membuang sisa-sisa metabolisme dalam tubuh, seperti ureum, kreatinin, dan sisa metabolisme yang lain.
b.    Menggantikan fungsi ginjal dalam mengeluarkan cairan tubuh yang seharusnya dikeluarkan sebagai urin saat ginjal sehat.
c.    Meningkatkan kualitas hidup pasien yang menderita penurunan fungsi ginjal.
d.   Menggantikan fungsi ginjal sambil menunggu program pengobatan yang lain.
Menurut PERNEFRI (2003) waktu atau lamanya hemodialisa disesuaikan dengan kebutuhan individu. Tiap hemodialisa dilakukan 4 – 5 jam dengan frekuensi 2 kali seminggu. Hemodialisa idealnya dilakukan 10 – 15 jam/minggu dengan Blood flow (QB) 200–300 mL/menit. Sedangkan menurut Corwin (2000) hemodialisa memerlukan waktu 3 – 5 jam dan dilakukan 3 kali seminggu. Pada akhir interval 2 – 3 hari diantara hemodialisa, keseimbangan garam, air, dan pH sudah tidak normal lagi. Hemodialisa ikut berperan menyebabkan anemia karena sebagian sel darah merah rusak dalam proses hemodialisa.


F. PRINSIP PRINSIP YANG MENDASARI HEMODIALIASIS
            Tujuan hemodialisis adalah untuk mengambil zat-zat nitrogen toksik dari dalam darah dan mengeluarkan air yang berlebihan. Pada hemodialisis aliran darah yang penuh dengan toksin dan limbah nitrogen dialihkan dari tubuh pasien ke tempat darah tersebut dibersihkan dan kemudian di kembalikan lagi ke tubuh pasien. Ada tiga prinsip yang mendasar kerja hemodialisis yaitu: difusi, osmosis dan ultra filtrasi.
Toksin dan zat limbah di dalam darah di keluarkan melalui proses difusi dengan cara bergerak dari darah yang memiliki konsentrasi lebih tinggi ke cairan dialisis dengan konsenterasi yang lebih rendah. 
Air yang berlebihan di keluarkan dari dalam tubuh di keluarkan melalui proses osmosis. Pengeluaran air dapat di kendalikan dengan menciptakan gradien tekanan, dengan kata lain bergerak dari daerah dengan tekanan yang lebih  tinggi (tubuh pasien) ke tekanan yang lebih rendah (cairan dialist).
Gradient ini dapat di tingkatkan melalui penambahan tekanan negatif yang dikenal sebagai ultrafiltasi pada mesin dialis. Tekanan negatif diterapkan pada alat  fasilitasi pengeluaran air. Karena pasien tidak dapat mengekresikan air, kekuatan ini di perlukan untuk mengeluarkan  cairan hingga tercapai isovolemia (keseimbangan cairan).

G. KOMPONEN HEMODIALISA
1.  Dialyzer / Ginjal Buatan
Suatu alat yang digunakan untuk mengeluarkan sisa metabolisme tubuh, bila fungsi kedua ginjal sudah tidak memadai lagi, mengatur keseimbangan cairan dan elektrolit, mengeluarkan racun-racun atau toksin yang merupakan komplikasi dari Gagal Ginjal. Sedangkan fungsi hormonal/ endokrin tidak dapat diambil alih oleh ginjal buatan. Dengan demikian ginjal buatan hanya berfungsi sekitar 70-80 % saja dari ginjal alami yang normal.
Macam-macam ginjal buatan :
a.  Paraller-Plate Diyalizer
Ginjal pertama kali ditemukan dan sudah tidak dipakai lagi, karena darah dalam ginjal ini sangat banyak sekitar 1000 cc, disamping cara menyiapkannya sangat sulit dan membutuhkan waktu yang lama.
b.  Coil Dialyzer
Ginjal buatan yang sudah lama dan sekarang sudah jarang dipakai karena volume darah dalam ginjal buatan ini banyak sekitar 300 cc, sehingga bila terjadi kebocoran pada ginjal buatan darah yang terbuang banyak. Ginjal ini juga memerlukan mesin khusus, cara menyiapkannya juga memerlukan waktu yang lama.
c.  Hollow Fibre Dialyzer
Ginjal buatan yang sangat banyak saat ini karena volume darah dalam ginjal buatan sangat sedikit sekitar 60-80 cc, disamping cara menyiapkannya mudah dan cepat.
2.  Dialisat
Adalah cairan yang terdiri dari air, elektrolit dan zat-zat lain supaya mempunyai tekanan osmotik yang sama dengan darah.
Fungsi Dialisat pada dialisit:
a.  Untuk mengeluarkan dan menampung cairan dan sisa metabolisme
b.  Untuk mencegah kehilangan zat-zat vital dari tubuh selama dialisa
Tabel perbandingan darah dan dialisat :
Komponen elektrolit
Darah
Dialisat
Natrium/sodium
136mEq/L
134mEq/L
Kalium/potassium
4,6mEq/L
2,6mEq/L
Kalsium
4,5mEq/L
2,5mEq/L
Chloride
106mEq/L
106mEq/L
Magnesium
1,6mEq/L
1,5mEq/L

Ada 3 cara penyediaan cairan dialisat :
a.  Batch Recirculating
Cairan dialisat pekat dicampur air yang sudah diolah dengan perbandingan  1 : 34 hingga 120 L dimasukan dalam tangki air kemudian mengalirkannya ke ginjal buatan dengan kecepatan 500 – 600 cc/menit.
b.  Batch Recirculating/single pas
Hampir sama dengan cara batch recirculating hanya sebagian langsung buang.
c.  Proportioning Single pas
Air yang sudah diolah dan dialisat pekat dicampus secara konstan oleh porpropotioning dari mesin cuci darah dengan perbandingan air : dialisat = 34 : 1 cairan yang sudah dicampur tersebut dialirkan keginjal buatan secara langsung dan langsung dibuang, sedangkan kecepatan aliran 400 – 600 cc/menit.


3.  Akses Vaskular Hemodialisis
Untuk melakukan hemodialysis intermiten jangka panjang, maka perlu ada jalan masuk kedalam sistem vascular penderita. Darah harus keluar dan masuk tubuh penderita dengan kecepatan 200 sampai 400 ml/menit. Teknik akses vascular diklasifikasikan sebagai berikut :
1.  Akses Vaskuler Eksternal (Sementara)
a.  Pirauarteriovenosa (AV) atau system kanula diciptakan dengan menempatkan ujung kanula dari teflon dalam arteri dan sebuah vena yang berdekatan. Ujung kanula dihubungkan dengan selang karet silicon dan suatu sambungan teflon yang melengkapi pirau.
b. Kateter vena femoralis sering dipakai pada kasus gagal ginjal akut bila diperlukan akses vascular sementara, atau bila teknik akses vaskuler lain tidak dapat berfungsi. Terdapat dua tipe kateter dialysis femoralis. Kateter saldon adalah kateter berlumen tunggal yang memerlukan akses kedua. Tipe kateter femoralis yang lebih baru memiliki lumen ganda, satu lumen untuk mengeluarkan darah menuju alat dialysis dan satu lagi untuk mengembalikan darah ketubuh penderita. Komplikasi pada kateter vena femoralis adalah laserasi arteria femoralis, perdarahan, thrombosis, emboli, hematoma, daninfeksi.
c.  Kateter vena subklavia semakin banyak dipakai sebagai alat akses vascular karena pemasangan yang mudah dan komplikasinya lebih sedikit disbanding kateter vena femoralis. Kateter vena subklavia mempunyai lumen ganda untuk aliran masuk dan keluar. Kateter vena subklavia dapat digunakan sampai empat minggu sedangkan kateter vena femoralis dibuang setelah satu sampai dua hari setelah pemasangan. Komplikasi yang disebabkan oleh katerisasi vena subklavia serupa dengan katerisasi vena femoralis yang termasuk pneumotoraks robeknya arteria subklavia, perdarahan, thrombosis, embolus, hematoma, dan infeksi.
2.  AksesVaskular Internal (Permanen)
a. Fistula
Fistula yang lebih permanen dibuat melalui pembedahan  yang (biasanya dilakukan pada lengan bawah) dengan cara menghubungkan atau menyambungkan  (anastomosis) pembuluh aretri dengan vena secara side to-side (dihubungkan antar-sisi) atau end-to-side (dihubungkan antara ujung dan sisi pembuluh darah). Segmen-arteri fistula diganakan untuk aliran darah arteri dan segmen vena digunakan untuk memasukan kembali (reinfus) darah yang sudah didialisis. Umur fistula AV adalah empat tahun dan komplikasinya lebih sedikit dengan pirau AV. Masalah yang paling utama adalah nyeri pada pungsi vena terbentuknya aneurisma, trombosis, kesulitan hemostatis pasca dialisis, dan iskemia pada tangan.
b.   Tandur
Dalam menyediakan lumen sebagai tempat penusukan jarum dialisis, sebuah tandur dapat dibuat dengan cara menjahit sepotong pembuluh arteri atau vena dari sapi, material  Gore-Tex (heterograft) atau tandur vena safena dari pasien sendiri. Biasanya tandur tersebut dibuat bila pembuluh darah pasien sendiri tidak cocok untuk dijadikan fistula.Tandur biasanya dipasang pada lengan bawah, lengan atas atau paha bagian atas. Pasien dengan sistem vaskuler yang terganggu, seperti pasien diabetes, biasanya memerlukan pemasangan tandur sebelum menjalani hemodialisis. Karena tandur tersebut merupakan pembuluh drah artifisial risiko infeksi akan meningkat. Komplikasitandur AV samadengan fistula AV.trombosis, infeksi, aneurisma dan iskemia tangan yang disebabkan oleh pirau darah melalui prosthesis dan jauh dari sirkulasi distal.(Sylvia, 2005: 975)

H. INDIKASI
1.  Gagal ginjal akut
2.  Gagal ginjal kronik, bila laju filtrasi gromelurus kurang dari 5 ml/menit
3.  Kalium serum lebih dari 6 mEq/l
4.  Ureum lebih dari 200 mg/dl
5.  pH darah kurang dari 7,1
6.  Anuria berkepanjangan, lebih dari 5 hari
7.  Intoksikasi obat dan zat kimia
8.  Sindrom Hepatorenal
9.  Fluid overload
The National Kidney Foundation USA menyarankan apabila :
LFG ≤ 10ml /menit/1,73m2
Indikasi absolut untuk dimulainya hemodialisis:
1. Perikarditis
2. Keadaan overload sampai menimbulkan gejala-gejala oedem paru
3. Hipertensi berat dan progresif
4. Uremic Bleeding
5. Mual muntah yang persisten
6. Kreatinin serum ≥ 10 mg%

I. KONTRA INDIKASI
Menurut Thiser dan Wilcox (1997) kontra indikasi dari hemodialisa adalah hipotensi yang tidak responsif terhadap presor, penyakit stadium terminal, dan sindrom otak organik. Sedangkan menurut PERNEFRI (2003) kontra indikasi dari hemodialisa adalah tidak mungkin didapatkan akses vaskuler pada hemodialisa, akses vaskuler sulit, instabilitas hemodinamik dan koagulasi. Kontra indikasi hemodialisa yang lain diantaranya adalah penyakit alzheimer, demensia multi infark, sindrom hepatorenal, sirosis hati lanjut dengan ensefalopati dan keganasan lanjut (PERNEFRI, 2003).
Tidak dilakukan pada pasien yang mengalami suhu yang tinggi.Cairan dialysis pada suhu tubuh akan meningkatkan kecepatan difusi, tetapi suhu yang terlalu tinggi menyebabkan hemodialysis sel-sel darah merah sehingga kemungkinan penderita akan meninggal.

J. PENATALAKSANAAN HEMODIALISIS JANGKA PANJANG
Diet dan masalah cairan
Diet merupakan faktor penting bagi pasien yang menjalani hemodialisis mengingat adanya efek uremia. Apabila ginjal yang rusak tidak mampu mengeksresikan produk akhir metabolisme, substansi yang bersifat asam ini akan menumpuk dalam serum pasien dan bekerja sebagai racun atau toksik. Gejala yang terjadi akibat penumpukan tersebut secara kolektif dikenal sebagai gejala uremik dan akan  mempengaruhi setiap sistem tubuh. Lebih banyak toksin yang menumpuk, lebih berat gejala yang timbul. Diet rend protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan dengan demikian meminimalkan gejala. Penumpukan cairan juga dapat terjadi dan dapat mengakibatkan gagal jantung kongestif serta edema paru. Dengan demikian, pembatasan cairan juga merupakan bagian dengan resep diet untuk pasien ini.
Dengan penggunaan hemodialisis yang efektif, asupan makanan pasien dapat diperbaiki meskipun biasanya memerlukan beberapa penyesuaian atau pembatasan pada asupan protein, natrium, kalium dan cairan. Berkaitan dengan pembatasan protein, maka protein dari makanan harus memiliki nilai biologis yang tinggi dan tersusun dari asam-amino esensial untuk mencegah penggunaan protein yang buruk serta mempertahankan keseimbangan nitrogen yang positif. Contoh protein dengan nilai biologis yang tinggi adalah telur, daging, susu dan ikan.
Dampak Diet Rendah Protein. Diet yang bersifat membatasi akan merubah gaya hidup dan dirasakan pasien sebagai gangguan serta tidak disukai bagi banyak penderita gagal ginjal kronis. Karena makanan dan minuman merupakan aspek penting dalam sosialisasi, pasien sering merasa disingkirkan ketika berada bersama orang-orang lain karena hanya ada beberapa pilihan makanan saja yang tersedia baginya. Jika pembatasan ini dibiasakan, komplikasi yang dapat membawa kematian seperti hiperkalemia dan edema paru dapat terjadi.
Pertimbangan medikasi
Banyak obat yang dieksresikan seluruhnya atau sebagian melalui ginjal. Pasien yang memerlukan obat-obatan (preparat glikosida jantung, antibiotik, antiaritmia, antihipertensi) harus dipantau dengan ketat untuk memastikan agar kadar obat-obat ini dalam darah dan jaringan dapat dipertahankan tanpa menimbulkan akumulasi toksik.
Beberapa obat akan dikeluarkan dari darah pada saat dialisis oleh karena itu, penyesuaian dosis oleh dokter mungkin diperlukan. Obat-obat yang terikat dengan protein tidak akan dikeluarkan selama dialisis. Pengeluaran metabolit obat yang lain bergantung pada berat dan ukuran molekulnya. Apabila seorang pasien menjalani dialisis, semua jenis obat dan dosisnya harus dievaluasi dengan cermat. Pasien harus mengetahui kapan minum obat dan kapan menundanya. Sebagai contoh, jika obat antihipertensi diminum pada hari yang sama dengan saat menjalani hemodialisis, efek hipotensi dapat terjadi selama hemodialisis dan menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya.

K. KOMPLIKASI HEMODIALISA
Menurut Tisher dan Wilcox (1997) serta Havens dan Terra (2005) selama tindakan hemodialisa sering sekali ditemukan komplikasi yang terjadi, antara lain:
a. Kram otot
Kram otot pada umumnya terjadi pada separuh waktu berjalannya hemodialisa sampai mendekati waktu berakhirnya hemodialisa. Kram otot seringkali terjadi pada ultrafiltrasi (penarikan cairan) yang cepat dengan volume yang tinggi.
b. Hipotensi
Terjadinya hipotensi dimungkinkan karena pemakaian dialisat asetat, rendahnya dialisat natrium, penyakit jantung aterosklerotik, neuropati otonomik, dan kelebihan tambahan berat cairan.
c. Aritmia
Hipoksia, hipotensi, penghentian obat antiaritmia selama dialisa, penurunan kalsium, magnesium, kalium, dan bikarbonat serum yang cepat berpengaruh terhadap aritmia pada pasien hemodialisa.
d. Sindrom ketidakseimbangan dialisa
Sindrom ketidakseimbangan dialisa dipercaya secara primer dapat diakibatkan dari osmol-osmol lain dari otak dan bersihan urea yang kurang cepat dibandingkan dari darah, yang mengakibatkan suatu gradien osmotik diantara kompartemen-kompartemen ini. Gradien osmotik ini menyebabkan perpindahan air ke dalam otak yang menyebabkan oedem serebri. Sindrom ini tidak lazim dan biasanya terjadi pada pasien yang menjalani hemodialisa pertama dengan azotemia berat.
e. Hipoksemia
Hipoksemia selama hemodialisa merupakan hal penting yang perlu dimonitor pada pasien yang mengalami gangguan fungsi kardiopulmonar.
f. Perdarahan
Uremia menyebabkan ganguan fungsi trombosit. Fungsi trombosit dapat dinilai dengan mengukur waktu perdarahan. Penggunaan heparin selama hemodialisa juga merupakan faktor risiko terjadinya perdarahan.
g. Ganguan pencernaan
Gangguan pencernaan yang sering terjadi adalah mual dan muntah yang disebabkan karena hipoglikemia. Gangguan pencernaan sering disertai dengan sakit kepala.
h. Infeksi atau peradangan bisa terjadi pada akses vaskuler.
i. Pembekuan darah bisa disebabkan karena dosis pemberian heparin yang tidak adekuat ataupun kecepatan putaran darah yang lambat.
L. ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HEMODIALISIS
Pengkajian
a.  Keluhan utama
Keluhan utama pada pasien hemodialisa adalah :
a.  Sindrom uremia
b.  Mual, muntah, perdarahan GI.
c.  Pusing, nafas kusmaul, koma.
d.  Perikarditis, cardiar aritmia
e.  Edema, gagal jantung, edema paru
f.   Hipertensi
Tanda-tanda dan gejala uremia yang mengenai system tubuh (mual, muntah, anoreksia berat, peningkatan letargi, konfunsi mental), kadar serum yang meningkat. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1397)
b.  Riwayat penyakit sekarang
Pada pasien penderita gagal ginjal kronis (stadium terminal). (Brunner & Suddarth, 2001: 1398)
c.  Riwayat obat-obatan
Pasien yang menjalani dialisis, semua jenis obat dan dosisnya harus dievaluasi dengan cermat. Terapi antihipertensi, yang sering merupakan bagian dari susunan terapi dialysis, merupakan salah satu contoh di mana komunikasi, pendidikan dan evaluasi dapat memberikan hasil yang berbeda. Pasien harus mengetahui kapan minum obat dan kapan menundanya. Sebagai contoh, obat antihipertensi diminum pada hari yang sama dengan saat menjalani hemodialisis, efek hipotensi dapat terjadi selama hemodialisis dan menyebabkan tekanan darah rendah yang berbahaya. (Brunner & Suddarth, 2001: 1401)
d.  Psikospiritual
Penderita hemodialisis jangka panjang sering merasa kuatir akan kondisi penyakitnya yang tidak dapat diramalkan. Biasanya menghadapi masalah financial, kesulitan dalam mempertahankan pekerjaan, dorongan seksual yang menghilang serta impotensi, dipresi akibat sakit yang kronis dan ketakutan terhadap kematian.(Brunner & Suddarth, 2001: 1402)
Prosedur kecemasan merupakan hal yang paling sering dialami pasien yang pertama kali dilakukan hemodialisis. (Muttaqin, 2011: 267)
e.  ADL (Activity Day Life)
Nutrisi : pasien dengan hemodialisis harus diet ketat dan pembatasan cairan masuk untuk meminimalkan gejala seperti penumpukan cairan yang dapat mengakibatkan gagal jantung kongesti serta edema paru, pembatasan pada asupan protein akan mengurangi penumpukan limbah nitrogen dan dengan demikian meminimalkan gejala, mual muntah. (Brunner & Suddarth, 2001 : 1400)
Eliminasi   : Oliguri dan anuria untuk gagal
Aktivitas : dialisis menyebabkan perubahan gaya hidup pada keluarga. Waktu yang diperlukan untuk terapi dialisis akan mengurangi waktu yang tersedia untuk melakukan aktivitas sosial dan dapat menciptakan konflik, frustasi. Karena waktu yang terbatas dalam menjalani aktivitas sehai-hari.
f.  Pemeriksaan fisik
BB : Setelah melakukan hemodialisis biasanya berat badan akan menurun.
TTV: Sebelum dilakukan prosedur hemodialisis biasanya denyut nadi dan tekanan darah diatas rentang normal. Kondisi ini harus di ukur kembali pada saat prosedur selesai dengan membandingkan hasil pra dan sesudah prosedur. (Muttaqin, 2011: 268)
Manifestasi klinik
a.       Kulit        : kulit kekuningan, pucat, kering dan bersisik, pruritus atau gatal-gatal
b.      Kuku        : kuku tipis dan rapuh
c.       Rambut    : kering dan rapuh
d.      Oral           : halitosis / faktor uremic, perdarahan gusi
e.       Lambung   : mual, muntah, anoreksia, gastritis ulceration.
f.       Pulmonary  : uremic “lung” atau pnemonia
g.      Asam basa   : asidosis metabolik
h.      Neurologic   : letih, sakit kepala, gangguan tidur, gangguan otot : pegal
i.        Hematologi : perdarahan
g.  Pemeriksaan Penunjang
Kadar kreatinin serum diatas 6 mg/dl pada laki-laki, 4mg/dl pada perempuan, dan GFR 4 ml/detik. (Sylvia A. Potter, 2005 : 971)

M. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a.  Pre HD
1.      Pola nafas tidak efektif b.d edema paru, asidosis metabolic, Hb ≤ 7 gr/dl, Pneumonitis dan Perikarditis d.dPenggunaan otot aksesoris untuk bernafas, Pernafasan cuping hidung, Perubahan kedalaman nafas, dan Dipneu
2.      Kelebihan volume cairan b.d penurunan haluaran urine, diet cairan berlebih, retensi cairan & natrium b.dPerubahan berat badan dalam waktu sangat singkat, Gelisah, Efusi pleura, Oliguria, Asupa melebihi haluran, Edema, Dispnea, Penurunan hemoglobin, Perubahan pola pernapasan , dan Perubahan tekanan darah
3.      Ketidakseimbangan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh b.d anoreksia, mual & muntah, pembatasan diet dan perubahan membrane mukosa oral d.d nyeri abdomen bising usus hiperaktif, kurang makanan, diare, kurang minat pada makanan, dan berat badan 20% atau lebih dibawah berat badan ideal.
4.      Ansietas b.d krisis situasional d.d gelisah, wajah tegang, bingung, tampak waspada, ragu/tidak percaya diri dan khawatir
5.      Kerusakan integritas kulit b.d Gangguan sirkulasi, Iritasi zat kimia, Defisit cairan d.d Kerusakan jaringan (Mis. Kornea, membrane mukosa, integument, atau subkutan) dan Kerusakan jaringan.
b.  Intra HD
1.      Resiko cedera b.d akses vaskuler & komplikasi sekunder terhadap penusukan & pemeliharaan akses vaskuler.
2.      Risiko terjadi perdarahan b.d penggunaan heparin dalam proses hemodialisa
c.  Post HD
1.      Intoleransi aktivitas b.d keletihan, anemia, retensi produk sampah dan prosedur dialisis d,d menyatakan merasa lemah, menyatakan merasa letih, dispnea setelah beraktifitas, ketidaknyamanan setelah beraktifitas, dan respon tekanan darah abnormal terhadap aktivitas.
2.      Risiko Harga diri rendah b.d ketergantungan, perubahan peran dan perubahan citra tubuh dan fungsi seksual d.d gangguan citra tubuh, Mengungkapkan perasaan yang mencerminkan perubahan individudalam penampilan, Respon nonverbal terhadap persepsi perubahan pada tubuh (mis;penampilan,steruktur,fungsi), Fokus pada perubahan, Perasaan negatif tentang sesuatu
3.      Resiko infeksi b.d prosedur invasif berulang


N. REFERENSI

Herdman Heather. 2017.  Diag nosis Keperawatan NANDA. Jakarta : EGC
Moorhead Sue.  2017. Nursing Interventions And Classifications. Jakarta : EGC
Moorhead Sue.  2017. Nursing Outcomes And Classifications. Jakarta : EGC
Price Silvia, Lorraine. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis dan Konsep Penyakit. Jakarta : EGC





LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...