LAPORAN
PENDAHULUAN
SUBARACHNOID
HEMORAGIK (SAH)
A. DEFINISI
Perdarahan subarachnoid adalah keadaan terdapatnya darah
atau masuknya darah ke dalam ruang subarachnoid.
Perdarahan subarachnoid terjadi sebagai akibat kebocoran
nontraumatik atau ruptur aneurisma kongenital pada circulus anterior cerebralis
atau yang lebih jarang akibat arteriovenosa. Gejala timbul dengan onset
mendadak antara lain nyeri kepala hebat, kaku pada leher, dan kehilangan
kesadaran ( Richard, NeuroanatomiKlinik, hal 24 ). Perdarahan subarachnoid
adalah perdarahan tiba – tiba ke dalam rongga diantara otak dan selaput otak (
rongga subarachnoid ). Perdarahan subarachnoid merupakan penemuan yang sering
pada trauma kepala akibat dari yang paling sering adalah robeknya pembuluh
darah leptomeningeal pada vertex dimana terjadi pergerakan otak yang besar
sebagai dampak , atau pada sedikit kasus, akibat rupturnya pembuluh darah serebral
major ( Sitorus, Sistem ventrikel dan Liquor Cerebrospinal ).
B. ETIOLOGI
1. Aneurisma pecah
Aneurisma yang pecah ini berasal dari pembuluh darah
sirkulasi Willisi dan cabang – cabangnya yang terdapat di luar parenkim otak
2. Pecahnya malformasi Arterio Venosa (
MAV )
Terjadi kebocoran arteri venosa secara nontraumatik pada
sirkulasi arteri serebral.
3. Penyebab yang lebih jarang
a. Trauma
b. Kelemahan pembuluh darah akibat
infeksi, misalnya emboli septik dari endokarditis infektif ( aneurisma mikotik
)
c. Hipertensi
d. Ateroklerosis
e. Gangguan pembuluh darah pada sum-
sum tulang belakang dan berbagai jenis tumor.
C. ANATOMI
Otak dibungkus oleh selubung mesodermal, meningens.Lapisan
luarnya adalah pachymeninx atau durameter dan lapisan dalamnya leptomeninx,
dibagi menjadi aracnoid dan piameter.
1. Durameter
Dura kranialis atau pachymeninx atau suatu struktur fibrosa
yang kuat dengan suatu lapisan dalam ( meningeal ) dan lapisan luar (
periosteal ). Kedua lapisan dural yang melapisi otak umumnya bersatu, kecuali
di tempat dimana keduanya berpisah untuk menyediakan ruang bagi sinus venosus (
sebagian besar sinus venosus terletak diantara lapisan – lapisan dural ), dan
tempat dimana lapisan dalam membentuk sekat di antara bagian – bagian otak.
2. Arachnoidea
Membrana archnoidea melekat erat pada permukaan dalam dura
dan hanya terpisah dengannya oleh suatu ruang potensial, yaitu spatium
subdural.Ia menutupi spatium subarachnoideum yang menjadi liquor
cerebrospinalis, cavum subarachnoidalis dan dihubungkan ke piameter oleh
trabekulae dan septa – septa yang membentuk suatu anyaman padat yang menjadi
sistem rongga – rongga yang saling berhubungan.
3. Piameter
Piameter merupakan selaput jaringan penyambung yang tipis
yang menutupi permukaan otak dan membentang ke dalam sulcus, fissure dan
sekitar pembuluh darah di seluruh otak. Piameter juga membentang ke dalam
fissure transversalis di bawah corpus callosum. Di tempat ini piameter membentuk tela choroideus untuk membentuk
pleksus dengan ependim dan pembuluh darah choroideus untuk membentuk pleksus
choroideus dari ventrikel – ventrikel ini. Piameter dan ependim berjalan di atas
atap dari ventrikel keempat dan membentuk tela choroidea di tempat itu.
D. PATOFISIOLOGI
Aneurisma merupakan luka yang disebabkan karena tekanan
hemodinamik pada dinding arteri percabangan dan perlekukan.saccular atau biji
aneurisma dispesifikan untuk arteri intracranial karena dindingnya kehilangan
suatu selaput tipis bagian luar dan mengandung faktor adventitia yang membantu
pembentukan aneurisma. Suatu bagian tambahan yang tidak didukung dalam ruang
subarachnoid. Aneurisma kebanyakan dihasilkan dari terminal
pembagi dalam arteri karotid bagian dalam dan dari cabang utama bagian anterior
pembagi dari lingkaran wilis.
Aneurisma Hampir selalu terletak
dipercabangan arteri, aneurisma itu manifestasi akibat suatu gangguan
perkembangan emrional, sehingga dinamakan juga aneurisma sakular (berbentuk
seperti saku) kongenital. Aneurisma berkembang dari dinding arteri yang
mempunyai kelemahan pada tunika medianya. Tempat ini merupakan tempat dengan
daya ketahanan yang lemah (lokus minoris resaistensiae), yang karena beban
tekanan darah tinggi dapat menggembung dan terbentuklah aneurisma. Aneurismna
dapat juga berkembang akibat trauma, yang biasanya langsung bersambung dengan
vena, sehingga membentuk ”shunt” arterivenous.
Apabila oleh lonjakan tekanan darah atau karena lonjakan intraabdominal,
aneurisma intraserebral itu pecah, maka terjadilah perdarahan yang menimbulkan
gambaran penyakit yang menyerupai perdarahan intraserebral akibat pecahnya
aneurisma Charcot-Bouchard.
E. TANDA DAN GEJALA
1. Gejala prodromal: nyeri kepala hebat
dan perakut, hanya 10 % sementara 90% lainnya tanpa keluhan sakit kepala.
2. Kesadaran sering terganggu, dan
sangat bervariasi dari tak sadar sebentar, sedikit delirium sampai koma.
3. Gejala / tanda rangsangan: kaku
kudug, tanda kernig ada.
4. Fundus okuli 10% penderita mengalami
edema pupil, beberapaa jam setelah perdarahan. Sering terdapat perdarahan
subhialoid karena pecahnya aneurisma pada arteri komunikans anterior atau
arteri karortis interna.
5. Gejala – gejala neurologi fokal:
bergantung pada lokasi lesi.
6. Gangguan saraf otonom: demam setelah
24 jam, demam ringan karena rangsangan mening, dan demam tinggi bila dilihatkan
hipotalamus. Bila berat, maka terjadi ulkus peptikum disertai hematemesis dan
melena ( stress ulcer ), dan seringkali disertai peninggian kadar gula darah,
glukosuria, albuminuria, dan perubahan pada EKG.
7. Terapi dan prognosis bergantung pada
status klinis penderita. Dengan demikian diperlukan peringkat klinis sebagai
suatu pegangan, yaitu:
a. Tingkat I : asimtomatik.
b. TingkatII : nyeri kepala hebat tanpa
defisit neurologik kecuali paralisis nervus kranialis
c. TingkatIII : somnolent dan defisit
ringan.
d. TingkatIV : stupor, hemiparesis atau
hemiplegia, dan mungkin ada regidits awal dan gangguan vegetatif.
e. TingkatV : Koma, regiditas deserebrasi
dan kemudian meninggal dunia.
F. KOMPLIKASI
Pada beberapa keadaan,
gejala awal adalah katastrofik.Pada kasus lain, terutama dengan penundaan
diagnosis, pasien mungkin mengalami perjalanan penyakit yang dipersulit oleh
perdarahan ulang ( 4 % ), hidrosefalus, serangan kejang atau vasospasme.
Perdarahan ulang dihubungkan dengan tingkat mortalitas sebesar 70% dan
merupakan komplikasi segera yang paling memprihatinkan.
G. PEMERIKSAAN
PENUNJANG
1. CT Scan
Pemeriksaan CT Scan berfungsi untuk mengetahui adanya massa
intracranial pada pembesaran ventrikel yang berhubungan dengan darah ( densitas
tinggi ) dalam ventrikel atau dalam ruang subarachnoid.
2. MRI
Hasil tahapan control perdarahan subarachnoid kadang – kadang
tampak MRI lapisan tipis pada sinyal rendah.
3. Pungsi lumbal
Untuk konfirmasi diagnosis. Tidak ada kontraindikasi pungsi
lumbal selama diyakini tidak ada lesi massa dari pemeriksaan pencitraan dan
tidak kelainan perdarahan.
4. EKG dan Foto Thorax
Edema paru dan aritmia jantung dapat terlihat dari rontgen
dada.Kadang terjadi glikosuria.
H. PENATALAKSANAAN
1. Penderita segera dirawat dan tidak
boleh melakukan aktifitas berat.
2. Obat pereda nyeri diberikan untuk
mengatasi sakit kepala hebat.
3. Kadang dipasang selang drainase di
dalam otak untuk mengurangi tekanan.
4. Pembedahan untuk memperbaiki dinding
arteri yang lemah, bisa mengurangi resiko perdarahan fatal di kemudian hari.
5. Sebagian besar ahli bedah
menganjurkan untuk melakukan pembedahan dalam waktu 3 hari setelah timbulnya
gejala. Menunda pembedahan sampai 10 hari atau lebih dapat memungkinkan
terjadinya perdarahan hebat.
6. Pasien dengan SAH memerlukan
observasi neurologik ketat dalam ruang perawatan intensif, kontrol tekanan
darah dan tatalaksana nyeri sementara menunggu perbaaikan aneurisma defisit.
7. Pasien pasien harus menerima
profilaksis serangan kejang dan bloker kanal kalsium untuk vasospasme.
8. Tatalaksana ditujukan pada
resusitasi segera dan pencegahan perdarahan ulang.
9. Tirah baring dan analgesik diberikan
pada awal tatalaksana.
10. Antagonis kalsium nimodipin dapat
menurunkan mor komplikasi dini perdarahan subarachnoid meliputi hidrosefalus
sebagai akibat obstruksi aliran cairan serebrospinal oleh bekuaan darah.
11. Jika pasien sadar atau hanya
terlihat mengantuk, maka pemeriksaan sumber perdarahan dilakukan angiografi
serebral.
12. Identifikasi aneurisma memunkinkan
dilakukan sedini mungkin, dilakukannya intervensi jepitan ( clipping ) leher
aneurisma, atau jika mungkin membungkus ( wropping ) aneurisma tersebut.
13. Malformasi arteriovenosa yang
terjadi tanpa adanya perdarahan,
misalnya epilepsi biasanya tidak ditangani dengan pembedahan.
I. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian
a. Identitas
Pengumpulan data adalah kegiatan dalam menghimpun informasi
dari penderita dan sumber-sumber lain yan meliputi unsur bio psikososio
spiritual yang komprehensif dan dilakukan pada saat penderita masuk.
b. Keluhan utama
Keluhan utama penderita dengan CVA bleeding datang dengan
keluhan kesadaran menurun, kelemahan/kelumpuhan pada anggota badan
(hemiparese/hemiplegi), nyeri kepala hebat.
c. Riwayat penyakit sekarang
Adanya nyeri kepala hebat atau akut pada saat aktivitas,
kesadaran menurun sampai dengan koma, kelemahan/kelumpuhan anggota badan
sebagian atau keseluruhan, terjadi gangguan penglihatan, panas badan.
d. Riwayat penyakit dahulu
Penderita punya riwayat hipertensi atau penyakit lain yang
pernah diderita oleh penderita seperti DM, tumor otak, infeksi paru, TB paru.
e. Riwayat penyakit keluarga
Penyakit keturunan yang pernah dialami keluarga seperti DM,
penyakit lain seperti hipertensi dengan pembuatan genogram.
f. Data biologis
1) Pola nutrisi
Dengan adanya perdarahan di otak dapat berpengaruh atau
menyebabkan gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi karena mual muntah sehingga
intake nutrisi kurang atau menurun.
2) Pola eliminasi
Karena adanya CVA bleeding terjadi perdarahan dibagian
serebral atau subarochnoid, hal ini dapat berpengaruh terhadap reflex tubuh
atau mengalami gangguan dimana salah satunya adalah hilangnya kontrol spingter
sehingga terjadi inkonhnentia atau imobilisasi lama dapat menyebabkan
terjadinya konstipasi.
3) Pola istirahat dan tidur
Penderita mengalami nyeri kepala karena adanya tekanan
intrakronial yang meningkat sehingga penderita mengalami gangguan pemenuhan
tidur dan istirahat.
4) Pola aktivitas
Adanya perdarahan serebral dapat menyebabkan kekakuan motor
neuron yang berakibat kelemahan otot (hemiparese/hemiplegi) sehingga timbul
keterbatasan aktivitas.
5) Pemeriksaan Fisik
a) Keadaan umum
Keadaan umum penderita dalam kesadaran menurun atau
terganggu postur tubuh mengalami ganguan akibat adanya kelemahan pada sisi
tubuh sebelah atau keseluruhan lemah adanya gangguan dalam berbicara kebersihan
diri kurang serta tanda-tanda vital (hipertensi).
b)
Kesadaran
Biasanya penderita dengan CVA bleeding terjadi
perubahan kesadaran dari ringan sampai berat, paralise, hemiplegi, sehingga
penderita mengalami gangguan perawatan diri berupa self toileting, self eating.
c)
Data
penunjang
Penderita mengalami nyeri kepala karena adanya tekanan
intrakronial yang meningkat sehingga penderita mengalami gangguan pemenuhan
tidur dan istirahat
2. Diagnosa
a. Ketidakefektifan pola nafas
berhubungan dengan kerusakan neurologis.
b. Ketidakefektifan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan gangguan aliran darah serebral.
c. Nyeri akut berhubungan dengan agen
injuri biologi (peningkatan akumulasi asam laktat)
3. Intervensi
|
No |
Diagnosa |
NOC |
NIC |
|
1. |
Ketidakefektifan
pola nafas berhubungan dengan kerusakan neurologis. |
a.
Respiratory status : Ventilation b.
Respiratory status : Airway patency c.
Vital sign Status Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama
………..pasien menunjukkan keefektifan pola nafas, dibuktikan dengan kriteria
hasil: a.
Mendemonstrasikan batuk efektif dan suara nafas yang bersih,
tidak ada sianosis dan dyspneu (mampu mengeluarkan sputum, mampu bernafas
dengan mudah, tidakada pursed lips) b.
Menunjukkan jalan nafas yang paten (klien tidak merasa tercekik,
irama nafas, frekuensi pernafasan dalam rentang normal, tidak ada suara nafas
abnormal) c.
Tanda Tanda vital dalam rentang normal (tekanan darah, nadi,
pernafasan) |
a. Posisikan pasien untuk
memaksimalkan ventilasi b. Pasang mayo bila perlu c. Lakukan fisioterapi
dada jika perlu d. Keluarkan sekret
dengan batuk atau suction e. Auskultasi suara
nafas, catat adanya suara tambahan f. Berikan bronkodilator g. Berikan pelembab udara
Kassa basah NaCl Lembab h. Atur intake untuk
cairan mengoptimalkan keseimbangan. i. Monitor respirasi dan
status O2 j. Bersihkan mulut,
hidung dan secret trakea k. Pertahankan jalan
nafas yang paten l. Observasi adanya tanda
tanda hipoventilasi m. Monitor adanya
kecemasan pasien terhadap oksigenasi n. Monitor vital
sign o. Informasikan pada
pasien dan keluarga tentang tehnik relaksasi untuk memperbaiki pola nafas. p. Ajarkan bagaimana
batuk efektif q. Monitor pola nafas |
|
2. |
Ketidakefektifan perfusi jaringan
serebral berhubungan dengan gangguan aliran darah serbral |
a. Circulation status b. Neurologic status c. Tissue Prefusion : cerebral Setelah dilakukan asuhan selama……
ketidakefektifan perfusi jaringan cerebral teratasi dengan kriteria
hasil: a. Tekanan systole dan diastole dalam
rentang yang diharapkan b. Tidak ada ortostatikhipertensi c. Komunikasi jelas d. Menunjukkan konsentrasi dan orientasi e. Pupil seimbang dan reaktif f. Bebas dari aktivitas kejang |
a.
Monitor
TTV b.
Monitor
AGD, ukuran pupil, ketajaman, kesimetrisan dan reaksi c.
Monitor
adanya diplopia, pandangan kabur, nyeri kepala d.
Monitor
level kebingungan dan orientasi e.
Monitor
tonus otot pergerakan f.
Monitor
tekanan intrkranial dan respon nerologis g.
Catat
perubahan pasien dalam merespon stimulus h.
Monitor
status cairan i.
Pertahankan
parameter hemodinamik j.
Tinggikan
kepala 0-45o tergantung pada konsisi pasien dan order medis |
|
3. |
Nyeri
akut berhubungan dengan agen injuri biologi (peningkatan akumulasi asam
laktat) |
a. Pain Level b. Pain control c. Comfort level Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …. Pasien
tidak mengalami nyeri, dengan kriteria hasil: a. Mampu mengontrol nyeri (tahu
penyebab nyeri, mampu menggunakan tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi
nyeri, mencari bantuan) b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang
dengan menggunakan manajemen nyeri. c. Mampu mengenali nyeri (skala,
intensitas, frekuensi dan tanda nyeri) d. Menyatakan rasa nyaman setelah
nyeri berkurang e. Tanda vital dalam rentang normal f. Tidak mengalami gangguan tidur. |
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor
presipitasi b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan c. Bantu pasien dan keluarga untuk
mencari dan menemukan dukungan d. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi
nyeri seperti suhu ruangan, pencahayaan dan kebisingan. e. Kurangi faktor presipitasi nyeri. f. Kaji tipe dan sumber nyeri
untuk menentukan intervensi g. Ajarkan tentang teknik non
farmakologi: napas dala, relaksasi, distraksi, kompres hangat/ dingin h. Berikan analgetik untuk mengurangi
nyeri i. Tingkatkan istirahat j. Berikan informasi tentang nyeri
seperti penyebab nyeri, berapa lama nyeri akan
berkurang dan antisipasi ketidaknyamanan dari prosedur k. Monitor vital sign sebelum dan
sesudah pemberian analgesik pertama kali |
4. Implementasi
Implementasi (pelaksanaan)
keperawatan disesuaikan dengan rencana keperawatan (intervensi), menjelaskan
setiap tindakan yang akan dilakukan dengan pedoman atau prosedur teknis yang
telah ditentukan.
5. Evaluasi
Evaluasi
yang diharapkan:
a. Menunjukkan keefektifan pola nafas
b. Ketidakefektifan perfusi jaringan
cerebral teratasi
c. Pasien tidak mengalami nyeri atau
nyeri berkurang.
DAFTAR
PUSTAKA
Alimul aziz dkk. 2004. Buku saku kebutuhan dasar manusia. EGC: Jakarta.
Bruner &
Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal
Bedah, volume 2. EGC: Jakarta.
Muttaqin,
Arif. Asuhan Keperawatan Klien dengan
Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika. 2008.
Nurarif
Amin Huda,S.Kep.,Ns dan Kusuma Hardhi,S.Kep.,Ns.2013.Asuhan Keperawtan Berdasarkan Diagnosa Medis & NANDA (North
American Nursing Diagnosis Association) NIC-NOC, Jilid 2.
Price, Sylvia
A. (2006). Patofisiologi. Jakarta:
EGC.
No comments:
Post a Comment