ASUHAN KEPERAWATAN BRONKHIOLITIS
1. Pengertian
Bronkiolitis adalah suatu kondisi terjadi terutama pada umur kurang dari 6
bulan dan didahului dengan gejala pilek yang diikuti oleh batuk iritatif
serak, sukar bernafas, dan tidak mau makan.
(Insley, 2005).
Bronkiolitis akut adalah suatu
sindrom obstruksi bronkiolus yang sering diderita bayi atau anak berumur kurang
dari 2 tahun, paling sering pada usia 6 bulan.
(Ngastiyah, 2005).
Bronkiolitis akut adalah penyakit
obstruktif akibat inflamasi akut pada saluran nafas kecil (bronkiolus),
terjadai pada anak berusia kurang dari 2 tahun dengan insidens tertinggi
sekitar usia 6 bulan. (Mansjoer,
2000).
2. Anatomi fisiologi
a. Anatomi saluran nafas (Anonymous, 2009)
GAMBAR 1
ANATOMI SALURAN NAFAS
b. Organ-organ Pernafasan :
1) Hidung
Merupakan saluran udara pertama yang mempunyai 2
lubang, dipisahkan oleh sekat hidung. Di dalamnya terdapat bulu-bulu yang
berfungsi untuk menyaring dan menghangatkan udara.
2) Tekak (faring)
Merupakan
persimpangan antara jalan nafas dan jalan makanan, terdapat didasar tengkorak,
di belakang rongga hidung dan mulut setelah depan ruang tulang leher. Terdapat
epiglotis yang berfungsi menutup laring pada waktu menekan makanan.
3)Laring (pangkal tenggorok)
Merupakan saluran udara dan bertindak sebagai
pembentukan suara terletak didepan bagian faring sampai ketinggian vertebra
servikalis dan masuk ke dalam trakea dibawahnya.
4)Trakea (batang tengkorak)
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh
16-20 cincin yang terdiri dari tulang-tulang rawan yang berbentuk seperti kuku
kuda (huruf C). Sebelah dalam diliputi oleh sel bersilia yang berfungsi untuk
mengeluarkan benda-benda asing yang masuk bersama-sama udara. Percabangan trakea menjadi bronkus kiri dan kanan
disebut karina.
5)Bronkus (cabang tenggorokan)
Merupakan
lanjutan dari trakea yang terdiri dari 2 buah pada ketinggian vertebra
torakalis IV dan V.
6) Paru-Paru
Merupakan sebuah alat tubuh yang sebagian besar
terdiri dari gelembung-gelembung hawa (alveoli). Alveoli ini terdiri dari
sel-sel epitel yang endotel. Jika dibentangkan luas permukaannya ± 90 meter
persegi, pada lapisan inilah terjadi pertukaran udara.
3. Fisiologi Saluran Nafas
Pernafasan (respirasi) adalah peristiwa menghirup
udara yang mengandung oksigen dan menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2
sebagai sisa dari oksidasi keluar dari tubuh. Adapun guna dari pernafasan yaitu
mengambil O2 yang dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk
pembakaran, mengeluarkan CO2 sebagai sisa dari pembakaran yang
dibawa oleh darah ke paru-paru untuk dibuang, menghangatkan dan melembabkan
udara. Pada dasarnya sistem pernafasan terdiri dari suatu rangkaian saluran
udara yang menghantarkan udara luar agar bersentuhan dengan membran kapiler
alveoli. Terdapat beberapa mekanisme yang berperan memasukkan udara kedalam
paru-paru sehingga pertukaran gas dapat berlangsung. Fungsi mekanis pergerakan
udara masuk dan keluar dari paru-paru disebut
sebagai ventilasi atau bernafas. Kemudian adanya pemindahan O2 dan CO2
yang melintasi membran alveolus-kapiler yang disebut dengan difusi sedangkan
pemindahan oksigen dan karbondioksida antara kapiler-kapiler dan sel-sel tubuh
yang disebut dengan perfusi atau pernafasan internal.
Proses bernafas terdiri dari menarik dan mengeluarkan
nafas. Satu kali bernafas adalah satu kali inspirasi dan satu kali ekspirasi.
Bernafas diatur oleh otot-otot pernafasan yang terletak pada sumsum penyambung
(medulla oblongata). Inspirasi
terjadi bila muskulus diafragma telah dapat rangsangan dari nervus prenikus
lalu mengkerut datar. Ekspirasi terjadi pada saat otot-otot mengendor dan
rongga dada mengecil. Proses pernafasan ini terjadi karena adanya perbedaan
tekanan antara rongga pleura dan paru-paru.
Proses
fisiologis pernafasan dimana oksigen dipindahkan dari udara ke dalam
jaringan-jaringan dan karbon dioksida dikeluarkan ke udara ekspirasi dapat
dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama adalah ventilasi, yaitu masuknya campuran gas-gas ke dalam dan keluar
paru-paru. Stadium kedua adalah transportasi yang terdiri dari beberapa aspek
yaitu difusi gas-gas antara alveolus dan kapiler paru-paru (respirasi eksterna)
dan antara darah sistemik dengan sel-sel jaringan, distribusi darah dalam
sirkulasi pulmonal dan penyesuaiannya dengan distribusi udara dalam
alveolus-alveolus dan reaksi kimia, fisik dari oksigen dan karbondioksida
dengan darah. Stadium akhir yaitu respirasi sel dimana metabolit dioksidasi
untuk mendapatkan energi dan karbon dioksida yang terbentuk sebagai sampah
proses metabolisme sel akan dikeluarkan oleh paru-paru. (Hidayat, 2006)
4. Patofisiologi
Dengan
adanya invasi virus ini, menyebabkan timbulnya suatu peradangan sehingga
terjadi edema atau pembengkakan pada mukosa, akumulasi sekret atau lendir yang
menyebabkan obstruksi saluran nafas sehingga terjadi penyempitan lumen pada
bronkiolus. Dengan adanya obstruksi akan meningkatkan resistensi pada jalan
nafas selama inspirasi dan ekspirasi. Tetapi, karena radius saluran nafas lebih
kecil selama fase ekspirasi maka terdapat mekanisme klep, sehingga udara akan
terperangkap. Hal ini akan menyebabkan hiperinflasi pada paru yang merupakan
akibat dari udara yang tidak terabsorpsi oleh karena terjadi kontriksi dan
dapat menyebabkan atelekfasis. Proses ini juga dan ventilasi berkurang (Mansjoer,
2006).
5. Etiologi
Bronkiolitis
akut sebagian besar disebabkan oleh respiratory syncytial virus (50%). Penyebab
lainnya ialah para influenza virus, mycoplasma pneumonial, adenovirus.
(Mansjoer, 2006)
6. Tanda dan Gejala
Bronkiolitis akut biasanya didahului oleh infeksi
saluran nafas bagian atas disertai dengan batuk pilek untuk beberapa hari
biasanya tanpa disertai kenaikan suhu atau hanya subfebris. Anak mulai
mengalami sesak nafas, makin lama makin hebat. Pernafasan dangkal atau cepat disertai
dengan serangan batuk. Terlihat juga pernafasan cuping hidung disertai retraksi
interkostal dan suprasternal, anak menjadi gelisah dan cyanosis. Pada
pemeriksaan terdapat suara perlusi hipersonor, ekspirasi memanjang disertai
dengan mengi (wheezing). Ronchi nyaring halus kadang-kadang terdengar pada
akhir ekspirium atau pada permulaan ekspirium. Pada keadaan yang berat sekali,
suara pernafasan hampir tidak terdengar karena kemungkinan obstruksi hampir
total. Selain itu bronkiolus dapat
menyebabkan cyanosis dan tidak dapat makan. (Ngastiyah, 2005)
7. Menurut Ngastiyah (2006) Komplikasi Bronkiolitis :
Bronkiolitis biasanya dapat menimbulkan komplikasi
yaitu atelektasis hipoksia dan gangguan asam basa (asidosis metabolik,
alkalosis respiratorik dan asidosis respisatorik).
8. Pemeriksaan Diagnostik (Mansjoer, 2006)
a. Foto rontgen menunjukkan hiperinflasi dan atelektasis
b. Pemeriksaan darah, Hb dan
Ht meningkat
c. Analisis gas adalah
hiperkarbia sebagai tanda air trapping,
asidosis metabolik atau respiratorik.
9. Penatalaksanaan Medis (Mansjoer,
2006)
a. Pemberian oksigen 1-2 liter/menit, diberikan bila terdapat tanda hipoksemia seperti : gelisah dan
cyanosis.
b. Cairan intravena (NFD), biasanya diperlukan campuran dektrose 10% : NaCl
0,9% = 3:1 + KCL 10Meq/500 ml cairan
c. Antibiotik diberikan berdasarkan etiologi :
1) Bronkiolitis community
base (Ampisilin 100 mg/kg BB/ hari, letoramfenikol 75 mg/kg BB/hari)
2) Bronkolitis hospital base (Sefatoksin
100 mg/kg BB/hari, Amikasin 10-15 mg/kg BB/hari)
d.
Steroid
e. Bronkodilator (ventolin) diberikan pada
kondisi sekret yang kental.
Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Bronkiolitis
a. PENGKAJIAN
Keluhan utama pada klien bronkiolitis meliputi batuk kering dan produktif
dengan sputum purulen, demam dengan suhu tubuh dapat mencapai > 40o
C dans esak nafas.
Riwayat
penyakit saat ini
Riwayat penyakit saat ini pada klien dengan bronkiolitis bervariasi tingkat
keparahan dan lamanya. Bermula dari gejala batuk-batuk saja, hingga penyakit akut
dengan manifestasi klinis yang berat. Sebagai tanda-tanda terjadinya toksemia
klien dengan bronkiolitis sering mengeluh malaise, demam, badan terasa lemah,
banyak berkeringat, takikardia, takipnea. Sebagai tanda terjadinya iritasi,
keluhan yang di dapatkan terdiri atas batuk, ekspektorasi atau peningkatan
produksi secret dan rasa sakit di bawah sternum. Penting ditanyakan oleh
perawat mengenai obat-obat yang telah atau biasa yang di minum klien untuk
mengurangi keluhannya dan mengkaji kembali apakah obat-obat tersebut masih
relevan untuk dipakai kembali.
Riwayat
penyakit terdahulu
Pada pengkajian riwayat kesehatan terdahulu sering kali mengeluh pernah
mengalami infeksi saluran pernafasan bagian atas dan adanya riwayat alergi pada
pernafasan atas. Perawat harus memperhatikan dan mencatat baik-baik.
Pengkajian
psiko-sosio-spiritual
Pada pengkajian psikologis klien dengan bronkiolitis di dapatkan klien
sering mengalami kecemasan sesuai dengan keluhan yang dialaminya. Dimana adanya
keluhan batuk, sesak nafas dan demam merupakan stressor penting yang membuat
klien cemas. Perawat perlu memberikan dukungan moral dan memfasilitasi
pemenuhan informasi untuk pemenuhan informasi mengenai prognosis penyakit dari
klien.
Kaji
keluhan klien dan keluarga tentang pengobatan yang diberikan (nama, cara kerja,
frekuensi, efek samping, dan tanda-tanda terjadinya kelebihan dosis).
Pengobatan non farmakologi (nonmedicinal interventions) seperti
olahraga secara teratur serta mencegah kontak dengan allergen atau iritan (jika
diketahui penyebab alergi), system pendukung (support system), kemauan
dan tingkat pengetahuan keluarga.
Pemeriksaan
fisik
Keadaan
umum dan tanda-tanda vital
Hasil pemeriksaan tanda-tanda vital pada klien dengan bronkiolitis biasanya
di dapatkan peningkatan suhu tubuh >40oC, frekuensi nfas
meningkat dari frekuensi nafas normal, nadi biasanya meningkat seirama dengan
peningkatan suhu tubuh dan frekuensi pernafasan, serta biasanya tidak ada
masalah dengan tekanan darah.
B1
(Breathing)
Inspeksi.
Klien biasanya mengalami peningkatan usaha dan frekuensi pernafasan ,
biasanya menggunakan otot bantu pernafasan
Palpasi
Taktil
prenitus biasanya normal .
Perkusi
Hasil
pengkajian perkusi menunjukkan adanya bunyi resonan pada seluruh lapang paru.
Auskultasi
Jika abses terisi penuh dengan cairan pus akibat drainase yang buruk, maka
suara nafas melemah. Jika bronkus paten dan drainasenya baik di tambah dengan
adanay konsulidasi di sekitar abses , maka akan terdengar suara nafas bronchial
dan ronkhi basah.
B2(Blood)
Sering di dapatkan kelemahan secara umum. Denyut nadi takikardi. Tekanan
darah biasanya normal. Bunyi jantung tambahan biasanya tidak di dapatkan
berarti tidak mengalami pergeseran.
B3
(brain)
Tingkat kesadaran klien biasanya komposmetis apabila tidak ada komplikasi
penyakit yang serius.
B4
(bladder)
Pengukuran volume output urin berhubungan erat dengan intake cairan. Oleh
karena itu, perawat perlu memonitor adanya oliguria yang merupakan salah satu
tanda awal dari syok.
B5
(bowel)
Klien biasanya sering mengalami mual dan muntah, penurunan nafsu makan, dan
penurunan berat badan.
B6
(bone)
Kelemahan dan kelelahan fisik, secara umum sering menyebabkan klien
memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan aktivitas sehari hari.
b. Diagnosis keperawatan adalah penilaian klinis tentang respon
aktual/potensial terhadap masalah kesehatan / proses kehidupan.
Dari pengkajian yang dilakukan maka
didapatkan diagnosa keperawatan menurut (Doengoes, 2000 dan Lynda Juall, 2000).
1)
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan edema dan
meningkatnya produksi lendir.
2) Bersihan jalan nafas tak efektif,
berhubungan dengan meningkatnya sekresi sekret.
3) Kekurangan volume cairan berhubungan
dengan hilangnya cairan yang tanpa disadari (IWL) secara berlebihan melalui
ekhalasi dan menurunnya intake.
4)
Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi
5) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan meningkatnya metabolisme anoreksia.
6) Ansietass orang tua berhubungan dengan
kurang pengetahuan keluarga tentang kesehatan anak.
7) Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan
kurang informasi mengenai perawatan anaknya.
c. Perencanaan Keperawatan
Perencanaan perawatan diawali dengan
menentukan prioritas bardasarkan Ancaman kehidupan dan kesehatan menurut
Griffth – Kenney Christensen (Wartonah, 2006). Maka dari itu ditemukan
prioritas yaitu :
1)
Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan edema dan
meningkatnya produksi lendir.
2) Bersihan jalan nafas tak efektif
berhubungan dengan meningkatnya sekresi sekret.
3) Kekurangan volume cairan berhubungan
dengan hilangnya cairan yang tanpa disadari (IWL) secara berlebihan melalui
ekhalasi dan menurunnya intake.
4)
Hipetermi berhubungan dengan proses infeksi
5) Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan meningkatnya metabolisme, anoreksia.
6)
Ansietas berhubungan dengan kurangnya informasi
7)
Kurangnya pengetahuan berhubungan dengan kurangnya
informasi mengenai perawatan anaknya.
Rencana perawatan adalah penetapan
intervensi untuk mengurangi menghilangkan dan mencegah masalah Keperawatan.
Rencana keperawatan dibuat berdasarkan diagnosa keperawatan (Doenges, 2000)
1) Kerusakan pertukaran gas berhubungan dengan
edema dan meningkatnya produksi lendir.
a)
Auskultasi area paru
Rasional
: penurunan aliran udara terjadi pada
area konsolidasi dengan cairan.
b)
Auskultasi bunyi nafas (frekuensi dan kedalaman
pernafasan, penggunaan otot bantu dan pergerakan otot.
Rasional
: Takipnea, pernafasan dangkal, dispnea
dan gerakan dada tidak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan dinding
dan cairan paru.
c) Observasi keabu-abuan menyeluruh dan
cyanosis pada jaringan hangat seperti daun telinga, bibir, lidah dan membran
lidah.
Rasional
: menunjukkan hipoksemia sistemik
d)
Beri posisi semi fowler/tinggikan kepala tempat tidur
sesuai kebutuhan toleransi pasien.
Rasional : Meningkatnya ekspansi dada maksimal membuat mudah bernafas
yang meningkatnya kenyamanan pasien.
e)
Kaji toleransi aktivitas
Rasional
: Hipoksemia menurunkan kemampuan untuk
berpartisipasi dalam aktivitas tanpa dispnea berat, takikardia dan disritmia.
f)
Observasi Vital sign terutama nadi
Rasional : Takikardi takipnea dan perubahan pada
tekanan darah terjadi dengan beratnya hipoksemia dan asidosis.
g) Kolaborasi, awasi seri GDA/Nadi Oksimetri
Rasional : Hipoksemia ada berbagai derajat,
tergantung pada jumlah obstruksi jalan nafas, fungsi kardiopulmonal dan ada /
tidaknya syok.
h)
Kolaborasi Pemberian oksigen
Rasional : memaksimalkan sediaan oksigen untuk
pertukaran gas.
2)
Bersihan Jalan Nafas tak efektif
berhubungan dengan meningkatnya sekresi skret/lendir.
Tujuan : jalan
nafas efektif
Intervensi :
a)
Auskultasi area paru
Rasional : Penurunan aliran udara terjadi pada
area konsolidasi dengan cairan.
b)
Auskultasi bunyi nafas kaji frekuensi / kedalaman
pernafasan dan pergerakan dada.
Rasional : Takipnea, pernafasan dangkal dan
gerakan dada tidak simetris, sering terjadi karena ketidaknyamanan dinding dada
dan cairan paru.
c)
Observasi vital sign terutama respirasi tiap 4 jam.
Rasional : membantu mengetahui perkembangan
pasien
d)
Beri posisi fowler / semi fowler sesuai kebutuhan toleransi pasien
Rasional : memungkinkan upaya nafas lebih dalam
dan kuat serta menurunkan ketidaknyamanan dada.
e)
Kolaborasi dalam pemeriksaan DL tiap hari
Rasional : mengetahui perkembangan kondisi
pasien
f)
Berikan minuman air hangat
Rasional : air hangat memobilisasi dan
mengeluarkan sekret.
g) Delegatif
atau kolaboratif dalam pemberian obat bronkodilator sesuai indikasi
Rasional : Alat untuk menurunkan spasme bronkus
dengan memobilisasi sekret.
3) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan hilangnya cairan yang tanpa disadari (IWL) secara berlebihan melalui
ekhalasi dan menurunnya intake.
Tujuan : cairan
adekuat
Intervensi :
a)
Kaji perubahan vital
Rasional : peningkatan suhu/memanjangnya demam
meningkatkan laju metabolik dan kehilangan cairan melalui evaporasi.
b)
Observasi tanda-tanda dihidrasi yaitu tugor kulit,
kelembaban membran mukosa.
Rasional : indikator langsung keadekuatan volume
cairan.
c)
Memonitor intake dan output cairan
Rasional :
memberikan informasi tentang
keadekuatan volume cairan dan kebutuhan penggantian.
d)
Berikan cairan parenteral
Rasional : pemenuhan kebutuhan dasar cairan
menurunkan resiko dehidrasi.
4) Hipertermi berhubungan dengan proses
infeksi
Tujuan :
temperatur tubuh dalam batas normal (36-37oC)
Intevensi :
a) Memonitori suhu tubuh tiap 6 jam.
Rasional : peningkatan suhu/memanjangnya demam
meningkatkan laju metabolik.
b)
Tingkatan intake cairan supaya adekuat
Rasional : peningkatan pemberian cairan
menurunkan peningkatan suhu tubuh.
c)
Beri kompres hangat
Rasional : menurunkan suhu tubuh lewat
vasodilatasi dan pemindahan panas dari tubuh keluar tubuh.
d)
Kolaborasi pemberian antipiretik sesuai program
Rasional :
digunakan sebagai alat penurun panas.
5)
Perubahan Nutrisi berhubungan dengan
anoreksia sekunder terhadap infeksi.
Tujuan : Nutrisi anak adekuat
Intervensi :
a)
Identifikasi penyebab anoreksia
Rasional : pilihan intervensi tergantung
penyebab masalah.
b) Beri makanan sedikit tapi sering dan dalam
keadaan hangat
Rasional : meningkatkan masukan meskipun nafsu
makan mungkin lambat untuk kembali
c)
Kaji kemampuan anak untuk makan
Rasional : mengetahui kemampuan anak dalam
menghabiskan makanan yang diberikan.
d)
Observasi masukan makanan tiap hari
Rasional : mengetahui masukan kalori atau
kualitas kekurangan asupan makanan.
Rasional : membantu
dalam mengidentifikasi mal nukomsumsi makanan
e)
Delegatif dalam pemberian cairan IVFD
Rasional
: Diharapkan dapat memenuhi kebutuhan
nutrisi pasien.
6) Ansietas berhubungan dengan kurang
pengetahuan keluarga tentang kesehatan anak
Tujuan : cemas
berkurang
Intervensi :
a)
Kaji tingkat kecemasan dan pengetahuan orang tua
tentang penyakit dan perawatan anaknya.
Rasional
: Mempengaruhi kemampuan keluarga untuk
menggunakan pengetahuan.
b) Beri HE tentang keadaan dan cara perawatan
anaknya.
Rasional : memberi informasi untuk menambah
pengetahuan keluarga dan dapat memahami keadaan anaknya.
c) Beri motivasi atau dorongan pada keluarga
Rasional
: Meningkatkan proses belajar,
meningkatkan pengambilan keputusan dan mencegah ansietas berhubungan dengan
ketidaktahuan
d) Libatkan keluaraga dalam perawatan pasien
Rasional
: Kelurga mengetahui cara perawatan
pasien serta keluarga kooperatif.
e)
Jelaskan tindakan yang akan dilakukan
Rasional
: Informasi
dapat meningkatkan koping keluarga membantu menurunkan ansietas dan masalah
berlebihan.
7)
Kurang pengetahuan berhubungan dengan
kurangnya informasi mengenai perawatan anaknya
Tujuan :
keluarga tahu tentang penyakit anaknya
Intervensi :
a) Kaji tingkat pengetahuan orang tua,
tentang penyakit dan perawatan anak.
Rasional : mengetahui sejauh mana tingkat
pengetahuan orang tua mengenai penyakit dan perawatan anak.
b)
Beri HE tentang keadaan cara perawatan pasien
Rasional : memberi informasi untuk menambah
pengetahuan keluarga dan dapat memahami keadaan anaknya.
c) Beri kesempatan pada keluarga untuk
bertanya tentang hal-hal yang belum diketahui.
Rasional : keluarga bisa memperoleh informasi
yang lebih jelas.
d) Lakukan evaluasi setelah memberi
penjelasan pada keluarga.
Rasional : mengetahui apakah keluarga sudah
benar-benar mengerti tentang penjelasan yang diberikan.
c.
Pelaksanaan Keperawatan
Implementasi
keperawatan adalah tindakan keperawatan disesuaikan dengan rencana tindakan
keperawatan.
Implementasi
adalah tahap ketiga dari proses keperawatan dimana rencana keperwatan
dilaksanakan, melaksanakan / aktivitas yang lebih ditentukan.
d.
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi
keperawatan adalah : proses berkelanjutan untuk menilai efek dari tindakan
keperawatan pada klien.
Setelah
melaksanakan tindakan keperawatan maka hasil yang diharapkan adalah sesuai
dengan rencana tujuan yaitu :
1)
Pertukaran gas adekuat
2)
Jalan nafas efektif
3)
Cairan adekuat
4)
Suhu
tubuh dalam batas normal (36-37oC)
5)
Kebutuhan nutrisi terpenuhi
6)
Ansietas berkurang / hilang
7)
Orang
tua paham tentang perawatan anaknya.
DAFTAR PUSTAKA
Anonymous.
(2009). Bronchiolitis. Diperoleh
Tanggal 25 Juni 2009, dari http ://
id. Wikipedia.org/wiki/Bronchilitis.
Astawa,
G.S. (2008) .Keperawatan Anak [Diktat
kuliah] .Denpasar : STIKES BALI.
Carpenito,
L. J. (2000). Diagnosa Keperawatan.
(Edisi 6). Jakarta : EGC.
Dongoes,
M. E. (2000). Rencana Asuhan Keperawatan.
(Edisi 3). Jakarta : EGC.
Hidayat,
A. (2006). Pengantar Ilmu Keperawatan
Anak.Jakarta: Salemba Medika.
Insley,
J.( 2005). Vade – mecum pediatric . Jakarta : EGC.
Mansjoer,
A. (2000). Kapita Selekta Kedokteran.
(Edisi 3). Jakarta :
Media Aesculapius.
Ngastiyah.
(2005). Keperawatan Anak Sakit.
Jakarta : EGC
Wartonah.
(2006).Kebutuhan Dasar manusia.Jakarta : Salemba
Medika.
No comments:
Post a Comment