LAPORAN
PENDAHULUAN
CVA
EMBOLI
1.
Pengertian
Stroke/Gangguan Pembuluh Darah Otak
(GPDO)/Cerebro Vascular Disease (CVD)/Cerebro Vascular Accident (CVA) merupakan
suatu kondisi kehilangan fungsi otak secara mendadak yang diakibatkan oleh
gangguan suplai darah ke bagian otak (Brunner & Suddarth, 2000: 94) atau
merupakan suatu kelainan otak baik secara fungsional maupun struktural yang
disebabkan oleh keadaan patologis pembuluh darah serebral atau dari seluruh
sistem pembuluh darah otak (Doengoes, 2000: 290).
Cedera serebrovaskular atau stroke
meliputi awitan tiba-tiba defisit neurologis karena insufisiensi suplai darah
ke suatu bagian dari otak. Insufisiensi suplai darah disebabkan oleh trombus,
biasanya sekunder terhadap arterisklerosis, terhadap embolisme berasal dari
tempat lain dalam tubuh, atau terhadap perdarahan akibat ruptur arteri
(aneurisma) (Lynda Juall Carpenito, 1995).
Menurut WHO stroke adalah adanya defisit
neurologis yang berkembang cepat akibat gangguan fungsi otak fokal (atau
global) dengan gejala-gejala yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang
menyebabkan kematian tanpa adanya penyebab lain yang jelas selain vaskuler.
(Hendro Susilo, 2000)
Istilah stroke atau penyakit
serebrovaskular mengacu kepada setiap
gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan atau
berhentinya aliran darah melalui sistem
suplai arteri otak. Istilah stroke biasanya digunakan secara spesifik untuk
menjelaskan infark serebrum. Istilah yang masih lama dan masih sering digunakan adalah cerebrovaskular
accident (CVA) (Price, 2006).
Stroke atau cedera serebrovaskular (CVA)
adalah kehilangan fungsi otak yang
diakibatkan oleh berhentinya suplai darah ke bagian otak. Yang biasanya diakibatkan oleh trombosis, embolisme,
iskemia dan hemoragi (Smeltzer, 2002).
Stroke
merupakan penyakit neurologis yang sering
dijumpai dan harus ditangani secara tepat. Stroke merupakan kelainan
fungsi otak yang timbul mendadak yang
disebabkan karena terjadinya gangguan peredaran
darah otak yang bisa terjadi pada siapa saja (Muttaqin, 2008).
Gejala stroke dapat bersifat fisik,
psikologis dan perilaku. Gejala fisik
yang paling khas adalah paralisis, kelemahan, hilangnya sensasi diwajah,
lengan atau tungkai disalah satu sisi
tubuh, kesulitan berbicara, kesulitan menelan dan hilangnya sebagian penglihatan disatu sisi.
Seorang dikatakan terkena stroke jika
salah satu atau kombinasi apapun dari gejala diatas berlangsung selama
24 jam atau lebih (Feigin, 2007).
Stroke merupakan penyakit
serebrovaskuler yang mengacu kepada
setiap gangguan neurologik mendadak yang terjadi akibat pembatasan
atau terhentinya aliran darah melalui
sistem suplai arteri di otak (Price & Wilson, 2006).
2.
Klasifikasi
Dikenal bermacam-macam klasifikasi
stroke berdasarkan atas patologi anatomi
(lesi), stadium dan lokasi (sistem pembuluh darah) (Misbach, 1999).
a.
Berdasarkan
patologi anatomi dan penyebabnya:
1)
Stroke
iskemik
Stroke
iskemik yaitu tersumbatnya pembuluh darah yang menyebabkan aliran darah ke otak
sebagian atau keseluruhan terhenti. Hampir 85% disebabkan oleh sumbatan karena bekuan
darah, penyempitan sebuah arteri atau beberapa arteri yang mengarah ke otak dan
karena embolus (kotoran) yang terlepas
dari jantung atau arteri ekstrakranii (arteri yang berada di luar tengkorak) yang menyebabkan sumbatan
di satu atau beberapa arteri intrakranii
(arteri yang ada di dalam tengkorak). Gangguan darah, peradangan, dan infeksi
merupakan penyebab sekitar 5-10 persen terjadinya stroke hemoragi dan menjadi
penyebab tersering pada orang berusia muda (Mansjoer, 2000). Stroke iskemik
dibagi menjadi :
·
Transient
Ischemic Attack (TIA)
Gangguan
neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam
saja. Gejala yang timbul akan hilang dengan spontan dan sempurna dalam waktu
kurang dari 24 jam.
·
Trombosis
serebri
Stroke
trombotik yaitu stroke yang disebabkan karena adanya penyumbatan lumenpembuluh
darah otak karena trombus yang makin lama makin menebal, sehingaaliran darah
menjadi tidak lancar.Penurunan aliran darah ini menyebabkan iskemia.Trombosis
serebri adalah obstruksi aliran darah yang terjadi padaproses oklusi satu atau
lebih pembuluh darah local
·
Emboli
serebri
Infark
iskemik dapat diakibatkan oleh emboli yang timbul dari lesi ateromatusyang
terletak pada pembuluh yang lebih distal.Gumpalan-gumpalan kecil dapatterlepas
dari trombus yang lebih besar dan dibawa ke tempat-tempat lain dalamaliran
darah. Bila embolus mencapai arteri yang terlalu sempit untuk dilewati danmenjadi
tersumbat, aliran darah fragmen distal akan terhenti, mengakibatkaninfark
jaringan otak distal karena kurangnya nutrisi dan oksigen. Embolimerupakan 32%
dari penyebab stroke non hemoragik.
Stroke emboli terjadi karena adanya gumpalan dari jantung
atau lapisan lemak yang lepas.Sehingga, terjadi penyumbatan pembuluh darah yang
mengakibatkan darah tidak bisa mengaliri oksigen dan nutrisi ke otak. Eemboli
ekstrakranial dapat disebabkan juga oleh :
a)
Embolus
yang dilepaskan oleh arteria karotis atau vertebralis, dapat berasal
dari “plaque athersclerotique” yang berulserasi atau dari trombus
yang melekat pada intima arteri akibat trauma tumpul pada daerah leher.
b)
Embolisasi
kardiogenik dapat terjadi pada:
·
Penyakit
jantung dengan “shunt” yang menghubungkan bagian kanan dan bagian kiri atrium
atau ventrikel.
·
Penyakit
jantung rheumatoid akut atau menahun yang meninggalkan gangguan pada katup
mitralis.
·
Fibrilasi
atrium
·
Infarksio
kordis akut
·
Embolus
yang berasal dari vena pulmonalis
·
Kadang-kadang
pada kardiomiopati, fibrosis endrokardial, jantung miksomatosus sistemik
c)
Embolisasi
akibat gangguan sistemik dapat terjadi sebagai
·
Embolia
septik, misalnya dari abses paru atau bronkiektasis
·
Metastasis
neoplasma yang sudah tiba di paru
·
Embolisasi
lemak dan udara atau gas N (seperti penyakit “caisson”).
Emboli dapat berasal dari jantung, arteri ekstrakranial,
ataupun dari right-sided circulation (emboli paradoksikal).Penyebab
terjadinya emboli kardiogenik adalah trombi valvular seperti pada mitral
stenosis, endokarditis, katup buatan), trombi mural (seperti infark miokard,
atrial fibrilasi, kardiomiopati, gagal jantung kongestif) dan atrial miksoma.
Sebanyak 2-3 persen stroke emboli diakibatkan oleh infark miokard dan 85 persen
di antaranya terjadi pada bulan pertama setelah terjadinya infark miokard
2)
Stroke
hemoragik
Stroke
hemoragi adalah stroke yang disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak. Hampir 70 persen kasus
stroke hemoragi terjadi pada
penderitahipertensi (Ngoerah, 1991).Stroke hemoragi disebabkan oleh
perdarahan ke dalam jaringan otak atau
ke dalam ruang subaraknoid, yaitu ruang sempit antara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak. Ini
adalah jenis stroke yang paling mematikan. Stroke hemoragik dibagi menjadi :
a)
Perdarahan
intraserebral
b)
Perdarahan
subarakhnoid
b.
Berdasarkan
stadium:
1)
Transient
Ischemic Attack (TIA) yaitu serangan stroke sementara yang berlangsung kurang dari 24 jam.
2)
Reversible
Ischemic Neurologic Defisit (RNID) yaitu gejala neurologis akan menghilang
antara >24 jam sampai dengan 21 hari.
3)
Stroke
in evolution yaitu kelainan atau defisit
neurologik berlangsung secara bertahap dari yang ringan sampai menjadi
berat.
4)
Completed
stroke yaitu kelainan neurologis sudah
menetap dan tidak berkembang lagi (Ngoerah, 1991).
c.
Berdasarkan
lokasi (sistem pembuluh darah):
1) Tipe karotis
2) Tipe vertebrobasiler
3.
Etiologi
a.
Trombosis
(bekuan darah didalam pembuluh darah otak dan leher). Aterosklerosis serebral dan pelambatan
sirkulasi serebral adalah penyebab
utama, trombosis serebral merupakan penyebab yang umum pada serangan stroke.
b.
Embolisme
serebral (bekuan darah atau material lain yang dibawa ke otak dari bagian tubuh yang lain).
Abnormalitas patologik pada jantung
kiri, seperti endokarditis, infeksi, penyakit jantung rematik dan infark miokard serta infeksi pulmonal
adalah tempat-tempat asal emboli.
Embolus biasanya menyumbat arteri serebral tengah atau cabang-cabang yang merusak sirkulasi
serebral.
c.
Iskemia
(penurunan aliran darah ke area otak). Iskemia serebral (insufisiensi suplai darah ke otak) terutama
karena konstriksi ateroma pada arteri
yang menyuplai darah ke otak.
d.
Hemoragi
serebral (pecahnya pembuluh darah serebral dengan perdarahan kedalam jaringan otak atau ruang
sekitar otak). Hemoragi dapat terjadi diluar durameter (hemoragi ekstradural
dan epidural), dibawah durameter
(hemoragi subdural), diruang
subarakhnoid (hemoragi subarakhnoid) atau didalam subtansi otak (hemoragi intraserebral) (Smeltzer, 2002).
4.
Faktor Resiko
Faktor resiko untuk terjadinya stroke
dapat diklasifikasikanberdasarkan kemungkinannya untuk dimodifikasi atau tidak
(nonmodifiable, modifiable, atau potentially modifiable) dan bukti yang kuat
(well documented atau less well documented) (Goldstein,2006).
a.
Non
modifiable risk factors :
·
Usia
·
Jenis
kelamin
·
Berat
badan lahir rendah
·
Ras/etnis
·
genetik
b.
Modifiable
risk factors
1)
Well-documented
and modifiable risk factors
·
Hipertensi
·
Paparan
asap rokok
·
Diabetes
·
Atrial
fibrilasi dan beberapa kondisi jantung tertentu
·
Dislipidemia
·
Stenosis
arteri karotis
·
Sickle
cell disease
·
Terapi
hormonal pasca menopause
·
Diet
yang buruk
·
Inaktivitas
fisik
·
Obesitas
2)
Less
well-documented and modifiable risk factors
·
Sindroma
metabolik
·
Penyalahgunaan
alkohol
·
Penggunaan
kontrasepsi oral
·
Sleep-disordered
breathing
·
Nyeri
kepala migren
·
Hiperhomosisteinemia
·
Peningkatan
lipoprotein
·
Peningkatan
lipoprotein-associated phospholipase
·
Hypercoagulability
·
Inflamasi
·
Infeksi
5.
Patofisiologi (Pathway Terlampir)
a.
Patogenesis
umum
Gangguan pasokan aliran darah otak dapat terjadi dimana
saja di dalam arteri – arteri yang membentuk sirkulus Willisi : arteri karotis
interna dan sistem vertebrobasilar atau semua cabang – cabangnya. Secara umum,
apabila aliran darah ke jaringan otak terputus selama 15 sampai 20 menit, akan
terjadi infark atau kematian jaringan. Proses patologik yang mendasari mungkin
salah satu dari berbagai proses yang terjadi di dalam pembuluh darah yang
memperdarahi otak. Patologinya dapat berupa, (1) keadaan penyakit pada pembuluh
darah itu sendiri, seperti aterosklerosis dan thrombosis, robeknya dinding
pembuluh darah, atau peradangan; (2) berkurangnya perfusi akibat gangguan
status aliran darah, misalnya syok hiperviskositas darah; (3) gangguan aliran
darah akibat bekuan atau embolus infeksi yang berasal dari jantung atau pembuluh
ekstrakranium; atau (4) ruptur vascular didalam jaringan otak atau ruang
subaraknoid. Berdasarkan patogenesis stroke, maka perjalanan sakit akan
dijabarkan dibawah ini menjadi:
1)
Stadium
prapatogenesis, yaitu stadium sebelum terjadi gejala stroke. Stadium ini
umumnya penderita sudah mempunyai faktor risiko atau memiliki gaya hidup yang
mengakibatkan penderita menderita penyakit degeneratif.
2)
Stadium
patogenesis, yaitu stadium ini dimulai saat terbentuk lesi patologik sampai
saat lesi tersebut menetap. Gangguan fungsi otak disini adalah akibat adanya
lesi pada otak. Lesi ini umumnya mengalami pemulihan sampai akhirnya terdapat
lesi yang menetap. Secara klinis defisit neurologik yang terjadi juga mengalami
pemulihan sampai taraf tertentu.
3)
Stadium
pascapatogenesis, yaitu stadium ini secara klinis ditandai dengan defisit
neurologik yang cenderung menetap. Usaha yang dapat dilakukan adalah
mengusahakan adaptasi dengan lingkungan atau sedapat mungkin lingkungan
beradaptasi dengan keadaan penderita. Sehubungan dengan penalataksanaanya maka
stadium patogenoesis dapat dibagi menjadi tiga fase, yaitu :
·
Fase
hiperakut atau fase emergensi. Fase ini berlangsung selama 0 – 3 / 12 jam pasca
onset. Penatalaksanaan fase ini lebih ditujukkan untuk menegakkan diagnosis dan
usaha untuk membatasi lesi patologik yang terbentuk.
·
Fase
akut. Fase ini berlangsung sesudah 12 jam – 14 hari pasca onset.
Penatalaksanaan pada fase ini ditujukkan untuk prevensi terjadinya komplikasi,
usaha yang sangat fokus pada restorasi/rehabilitasi dini dan usaha preventif
sekunder.
·
Fase
subakut. Fase ini berlangsung sesudah 14 hari – kurang dari 180 hari pasca
onset dan kebanyakan penderita sudah tidak dirawat di rumah sakit serta
penatalaksanaan lebih ditujukkan untuk usaha preventif sekunder serta usaha
yang
fokus
pada neuro restorasi / rehabilitasi dan usaha menghindari komplikasi.
6.
Manifestasi Klinis
Menurut Hudak dan Gallo dalam bukunya Keperawatan Kritis:
Pendekatan Holistik (1996: 258-260), terdapat manifestasi akibat stroke, yaitu:
a.
Defisit
Motorik
·
Hemiparese, hemiplegia
·
Distria (kerusakan otot-otot bicara)
·
Disfagia (kerusakn otot-otot menelan)
b.
Defisit
Sensori
·
Defisit visual (umum karena jaras visual
terpotong sebagian besar pada hemisfer serebri)
̵
Hemianopsia homonimosa (kehilangan pandangan
pada setengah bidang pandang pada sisi yang sama)
̵
Diplopia (penglihatan ganda)
̵
Penurunan ketajaman penglihatan
·
Tidak memberikan atau hilangnya respon
terhadap sensasi superfisial (sentuhan, nyeri, tekanan, panas dan dingin)
·
Tidak memberikan atau hilangnya respon
terhadap proprioresepsi (pengetahuan tentang posisi bagian tubuh)
c.
Defisit
Perseptual (Gangguan dalam merasakan dengan tepat dan menginterpretasi diri
dan/atau lingkungan)
·
Gangguan skem/maksud tubuh (amnesia atau
menyangkal terhadap ekstremitas yang mengalami paralise; kelainan unilateral)
·
Disorientasi (waktu, tempat, orang)
·
Apraksia (kehilangan kemampuan untuk
menggunakan obyek-obyek dengan tepat)
·
Agnosia (ketidakmampuan untuk
mengidentifikasi lingkungan melalui indera)
·
Kelainan dalam menemukan letak obyek dalam
ruang, memperkirakan ukurannya dan menilai jauhnya
·
Kerusakan memori untuk mengingat letak
spasial obyek atau tempat
·
Disorientasi kanan kiri
d.
Defisit
Bahasa/Komunikasi
·
Afasia ekspresif (kesulitan dalam mengubah
suara menjadi pola-pola bicara yang dapat difahami) - dapat berbicara dengan
menggunakan respons satu kata
·
Afasia reseptif (kerusakan kelengkapan kata
yang diucapkan - mampu untuk berbicara, tetapi menggunakan kata-kata dengan
tidak tepat dan tidak sadar tentang kesalahan ini)
·
Afasia global (kombinasi afasia ekspresif dan
reseptif) – tidak mampu berkomunikasi pada setiap tingkat
·
Aleksia (ketidakmampuan untuk mengerti kata
yang dituliskan)
·
Agrafasia (ketidakmampuan untuk
mengekspresikan ide-ide dalam tulisan)
e.
Defisit
Intelektual
·
Kehilangan memori
·
Rentang perhatian singkat
·
Peningkatan distraktibilitas (mudah buyar)
·
Penilaian buruk
·
Ketidakmampuan untuk mentransfer pembelajaran
dari satu situasi ke situasi yang lain
·
Ketidakmampuan untuk menghitung, memberi
alasan atau berpikir secara abstrak
f.
Disfungsi
Aktivitas Mental dan Psikologis
·
Labilitas emosional (menunjukkan reaksi
dengan mudah atau tidak tepat)
·
Kehilangan kontrol diri dan hambatan sosial
·
Penurunan toleransi terhadap stres
·
Ketakutan, permusuhan, frustasi, marah
·
Kekacauan mental dan keputusasaan
·
Menarik diri, isolasi
· Depresi
g.
Gangguan
Eliminasi (Kandung kemih dan usus)
·
Lesi unilateral karena stroke mengakibatkans
sensasi dan kontrol partial kandung kemin, sehingga klien sering mengalami
berkemih, dorongan dan inkontinensia urine.
·
Jika lesi stroke ada pada batang otak, maka
akan terjadi kerusakan lateral yang mengakibatkan neuron motorik bagian atas
kandung kemih dengan kehilangan semua kontrol miksi
·
Kemungkinan untuk memulihkan fungsi normal
kandung kemih sangat baik
·
Kerusakan fungsi usus akibat dari penurunan
tingkat kesadaran, dehidrasi dan imobilitas
·
Konstipasi dann pengerasan feses
h.
Gangguan
Kesadaran
Berikut adalah tabel perbedaan antara CVA
infark dan CVA Bleeding :
|
Gejala (anamnesa) |
Infark |
Perdarahan |
|
Permulaan
(awitan) Waktu
(saat “serangan”) Peringatan Nyeri
Kepala Kejang Muntah Kesadaran
menurun |
Sub
akut/kurang mendadak Bangun
pagi/istirahat +
50% TIA +/- - - Kadang
sedikit |
Sangat
akut/mendadak Sedang
aktifitas - +++ + + +++ |
|
Koma/kesadaran
menurun Kaku
kuduk Kernig pupil
edema Perdarahan
Retina Bradikardia Penyakit
lain Pemeriksaan: Darah
pada LP X
foto Skedel Angiografi CT
Scan Opthalmoscope Lumbal
pungsi ·
Tekanan ·
Warna · Eritrosit Arteriografi EEG |
+/- - - - - hari
ke-4 Tanda
adanya aterosklerosis di retina, koroner, perifer. Emboli pada ke-lainan
katub, fibrilasi, bising karotis - + Oklusi,
stenosis Densitas
berkurang (lesi
hypodensi) Crossing
phenomena Silver
wire art Normal Jernih <
250/mm3 oklusi di
tengah |
+++ ++ + + + sejak
awal Hampir
selalu hypertensi, aterosklerosis, HHD + Kemungkinan
pergeseran glandula pineal Aneurisma.
AVM. massa intra hemisfer/ vaso-spasme. Massa
intrakranial densitas bertambah. (lesi
hyperdensi) Perdarahan
retina atau corpus vitreum Meningkat Merah >1000/mm3 ada
shift shift
midline echo |
7.
Pemeriksaan Penunjang
a. Anamnesis
Proses anamnesis akan ditemukan kelumpuhan anggota gerak
sebelah badan, mulut mencong atau bicara pelo, dan tidak dapat berkomunikasi
dengan baik. Keadaan ini timbul sangat mendadak, dapat sewaktu bangun tidur,
sedang bekerja, ataupun sewaktu istirahat.
b. Pemeriksaan
fisik
Penentuan keadaan kardiovaskular penderita serta fungsi
vital seperti tekanan darah kiri dan kanan, nadi, pernafasan, tentukan juga
tingkat kesadaran penderita.Jika kesadaran menurun, tentukan skor dengan skala
koma glasglow agar pemantauan selanjutnya lebih mudah, tetapi seandainya
penderita sadar tentukan berat kerusakan neurologis yang terjadi, disertai
pemeriksaan saraf – saraf otak dan motorik apakah fungsi komunikasi masih baik
atau adakah disfasia. Jika kesadaran menurun dan nilai skala koma glasglow
telah ditentukan, setelah itu lakukan pemeriksaan refleks – refleks batang otak
yaitu :
·
Reaksi
pupil terhadap cahaya.
·
Refleks
kornea.
·
Refleks
okulosefalik.
Keadaan
(refleks) respirasi, apakah terdapat pernafasan Cheyne Stoke, hiperventilasi
neurogen, kluster, apneustik dan ataksik.Setelah itu tentukan kelumpuhan yang
terjadi pada saraf – saraf otak dan anggota gerak.Kegawatan kehidupan sangat
erat hubungannya dengan kesadaran menurun, karena makin dalam penurunan
kesadaran, makin kurang baik prognosis neurologis maupun kehidupan.Kemungkinan
perdarahan intra serebral dapat luas sekali jika terjadi perdarahan –
perdarahan retina atau preretina pada pemeriksaan funduskopi.
c.
Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan
penunjang dilakukan dengan cek laboratorium, pemeriksaan neurokardiologi,
pemeriksaan radiologi, penjelasanya adalah sebagai berikut :
1)
Laboratorium.
·
Pemeriksaan
darah rutin.
·
Pemeriksaan
kimia darah lengkap.
·
Gula
darah sewaktu.
·
Stroke
akut terjadi hiperglikemia reaktif.Gula darah dapat mencapai 250 mg dalam serum
dan kemudian berangsur – angsur kembali turun.
·
Kolesterol,
ureum, kreatinin, asam urat, fungsi hati, enzim SGOT/SGPT/CPK, dan profil lipid
(trigliserid, LDH-HDL kolesterol serta total lipid).
·
Pemeriksaan
hemostasis (darah lengkap).
·
Waktu
protrombin.
·
Kadar
fibrinogen.
·
Viskositas
plasma.
·
Pemeriksaan
tambahan yang dilakukan atas indikasi Homosistein.
2)
Pemeriksaan
neurokardiologi
Sebagian
kecil penderita stroke terdapat perubahan elektrokardiografi.Perubahan ini dapat
berarti kemungkinan mendapat serangan infark jantung, atau pada stroke dapat
terjadi perubahan – perubahan elektrokardiografi sebagai akibat perdarahan otak
yang menyerupai suatu infark miokard. Pemeriksaan khusus atas indikasi misalnya
CK-MB follow up nya akan memastikan diagnosis. Pada pemeriksaan EKG dan
pemeriksaan fisik mengarah kepada kemungkinan adanya potensial source of
cardiac emboli (PSCE) maka pemeriksaan echocardiografi terutama transesofagial
echocardiografi (TEE) dapat diminta untuk visualisasi emboli cardial.
3)
Pemeriksaan
radiologi
·
CT-scan
otak
Perdarahan
intraserebral dapat terlihat segera dan pemeriksaan ini sangat penting karena
perbedaan manajemen perdarahan otak dan infark otak. Pada infark otak,
pemeriksaan CT-scan otak mungkin tidak memperlihatkan gambaran jelas jika
dikerjakan pada hari – hari pertama, biasanya tampak setelah 72 jam serangan.
Jika ukuran infark cukup besar dan hemisferik. Perdarahan/infark di batang otak
sangat sulit diidentifikasi, oleh karena itu perlu dilakukan pemeriksaan MRI
untuk memastikan proses patologik di batang otak.
·
Pemeriksaan
foto thoraks.
·
Dapat
memperlihatkan keadaan jantung, apakah terdapat pembesaran ventrikel kiri yang
merupakan salah satu tanda hipertensi kronis pada penderita stroke dan adakah
kelainan lain pada jantung.
·
Dapat
mengidentifikasi kelainan paru yang potensial mempengaruhi proses manajemen dan
memperburuk prognosis.
8.
Penatalaksanaan
Tujuan intervensi adalah berusaha
menstabilkan tanda-tanda vital dengan melakukan tindakan sebagai berikut:
·
Mempertahankan
saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendiryang sering,
oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.
·
Mengendalikan
tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk untuk usaha memperbaiki
hipotensi dan hipertensi.
·
Berusaha
menentukan dan memperbaiki aritmia jantung.
·
Menempatkan
pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat mungkin pasien harus
dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.
·
Mengendalikan
hipertensi dan menurunkan TIK
Dengan meninggikan kepala 15-30 menghindari flexi dan
rotasi kepala yang berlebihan,
Pengobatan Konservatif
·
Vasodilator
meningkatkan aliran darah serebral (ADS) secara percobaan, tetapi maknanya:
pada tubuh manusia belum dapat dibuktikan.
·
Dapat
diberikan histamin, aminophilin, asetazolamid, papaverin intra arterial.
·
Anti
agregasi thrombosis seperti aspirin digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan
agregasi thrombosis yang terjadi sesudah ulserasi alteroma.
·
Anti
koagulan dapat diresepkan untuk mencegah terjadinya/ memberatnya trombosis atau
emboli di tempat lain di sistem kardiovaskuler.
Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran
darah serebral :
·
Endosterektomi
karotis membentuk kembali arteri karotis, yaitu dengan membuka arteri karotis
di leher.
·
Revaskularisasi
terutama merupakan tindakan pembedahan dan manfaatnya paling dirasakan oleh
pasien TIA.
·
Evaluasi
bekuan darah dilakukan pada stroke akut
·
Ugasi
arteri karotis komunis di leher khususnya pada aneurisma
9.
Asuhan Keperawatan
a.
Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses
keperawatan untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada
tindakan keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu
pengumpulan data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan.
(Lismidar, 1990)
1)
Pengumpulan
data
Pengumpulan
data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang
menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif,
tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien.
(Marilynn E. Doenges et al, 1998)
2)
Data
demografi
Meliputi
nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register,
diagnose medis.
3)
Keluhan
utama
Didapatkan
keluhan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat
berkomunikasi. (Jusuf Misbach, 1999)
4)
Riwayat
penyakit sekarang
Serangan
stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang
melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang
sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan
fungsi otak yang lain. (Siti Rochani, 2000) Sedangkan stroke infark tidak
terlalu mendadak, saat istirahat atau bangun pagi, kadang nyeri copula, tidak
kejang dan tidak muntah, kesadaran masih baik.
5)
Riwayat
penyakit dahulu
Adanya
riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma
kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan,
aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan. (Donna D. Ignativicius,
1995)
6)
Riwayat
penyakit keluarga
Biasanya
ada riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus.
(Hendro Susilo, 2000)
7)
Riwayat
psikososial
Stroke
memang suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan
dan perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini
dapat mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.(Harsono,
1996)
8)
Pola-pola
fungsi kesehatan
Y Pola
persepsi dan tata laksana hidup sehat
Biasanya ada riwayat perokok, penggunaan alkohol,
penggunaan obat kontrasepsi oral.
Y Pola
nutrisi dan metabolisme
Adanya
gejala nafsu makan menurun, mual muntah pada fase akut, kehilangan sensasi
(rasa kecap) pada lidah, pipi, tenggorokan, disfagia ditandai dengan kesulitan
menelan, obesitas (Doengoes, 2000: 291)
Y Pola
eliminasi
Gejala menunjukkan adanya perubahan pola berkemih seperti
inkontinensia urine, anuria. Adanya distensi abdomen (distesi bladder
berlebih), bising usus negatif (ilius paralitik), pola defekasi biasanya
terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik usus.(Doengoes, 1998 dan
Doengoes, 2000: 290)
Y Pola
aktivitas dan latihan
Gejala menunjukkan danya kesukaran untuk
beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/ hemiplegi,
mudah lelah.
Tanda yang muncul adalah gangguan tonus
otot (flaksid, spastis), paralitik (hemiplegia) dan terjadi kelemahan umum,
gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran (Doengoes, 1998, 2000: 290)
Y Pola
tidur dan istirahat
Biasanya klien mengalami kesukaran untuk
istirahat karena kejang otot/nyeri otot
Y Pola
hubungan dan peran
Adanya perubahan hubungan dan peran karena klien
mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.
Y Pola
persepsi dan konsep diri
Klien merasa tidak berdaya, tidak ada harapan, mudah
marah, tidak kooperatif.
Y Pola
sensori dan kognitif
Pada pola sensori klien mengalami gangguan penglihatan/
kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka dan ekstremitas yang
sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan memori dan proses
berpikir.
Y Pola
reproduksi seksual
Biasanya terjadi penurunan gairah seksual akibat dari
beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti hipertensi, antagonis
histamin.
Y Pola
penanggulangan stress
Klien
biasanya mengalami kesulitan untuk memecahkan masalah karena gangguan proses
berpikir dan kesulitan berkomunikasi.
Y Integritas
ego
Terdapat gejala perasaan tak berdaya,
perasaan putus asa dengan tanda emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah,
sedih dan gembira, kesulian mengekspresikan diri (Doengoes, 2000: 290)
Y Pola
tata nilai dan kepercayaan
Klien biasanya jarang melakukan ibadah karena tingkah
laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
(Marilynn E. Doenges, 2000)
9)
Pemeriksaan
fisik
Y Keadaan
umum
·
Kesadaran: umumnya mengelami
penurunan kesadaran
·
Suara bicara: kadang
mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa bicara
·
Tanda-tanda vital: tekanan
darah meningkat, denyut nadi bervariasi
Y Pemeriksaan
integumen
·
Kulit: jika klien kekurangan
O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan maka turgor kulit kan
jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda dekubitus terutama pada
daerah yang menonjol karena
klien stroke hemoragik harus bed
rest 2-3 minggu
·
Kuku : perlu dilihat adanya
clubbing finger, cyanosis
·
Rambut : umumnya tidak ada
kelainan
Y Pemeriksaan
kepala dan leher
·
Kepala : bentuk
normocephalik
·
Muka : umumnya tidak
simetris yaitu mencong ke salah satu sisi
·
Leher : kaku kuduk jarang
terjadi (Satyanegara, 1998)
Y Pemeriksaan
dada
Pada pernafasan kadang didapatkan suara nafas terdengar
ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak teratur akibat
penurunan refleks batuk dan menelan, adanya hambatan jalan nafas.Merokok
merupakan faktor resiko.
Y Pemeriksaan
abdomen
Didapatkan penurunan peristaltik usus akibat bed rest
yang lama, dan kadang terdapat kembung.
Y Pemeriksaan
inguinal, genetalia, anus
Kadang terdapat incontinensia atau retensio urine
Y Pemeriksaan
ekstremitas
Sering didapatkan kelumpuhan pada salah
satu sisi tubuh.
Y Pemeriksaan
neurologi
·
Pemeriksaan nervus
cranialis: Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII central.
Penglihatan menurun, diplopia, gangguan rasa pengecapan dan penciuman,
paralisis atau parese wajah.
·
Pemeriksaan motorik: Hampir
selalu terjadi kelumpuhan/ kelemahan pada salah satu sisi tubuh, kelemahan,
kesemutan, kebas, genggaman tidak sama, refleks tendon melemah secara
kontralateral, apraksia
·
Pemeriksaan sensorik: Dapat
terjadi hemihipestesi, hilangnya rangsang sensorik kontralteral.
·
Pemeriksaan refleks
·
Pada fase akut reflek
fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa hari refleks
fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.
·
Sinkop/pusing, sakitkepala,
gangguan status mental/tingkat kesadaran, gangguan fungsi kognitif seperti
penurunan memori, pemecahan masalah, afasia, kekakuan nukhal, kejang, dll
(Jusuf Misbach, 1999, Doengoes, 2000: 291)
2.
Diagnosa
yang muncul.
1) Resiko
peningkatan TIK berhubungan dengan
penambahan isi otak sekunder
terhadap perdarahan otak .
2) Intoleransi
aktifitas (ADL) berhubungan dengan kehilangan kesadaran,kelumpuhan.
3) Kerusakan
mobilitas fisik berhubungan dengan kelemahan dan kelumpuhan.
4) Defisit
perawatan diri berhubungan dengan kelemahan dan kelumpuhan.
5) Kecemasan
(ancaman kematian) berhubungan dengan
kurang informasi prognosis dan
terapi.Kurang pengetahuan prognosis dan terapi berhubungan dengan kurang
informasi, salah interpretasi.
6) Resiko
injury berhubungan dengan kelemahan dan kelumpuhan, penurunan kesadaran.
7) Gangguan
nutrisi (kurang dari kebutuhan tubuh) berhubungan dengankesulitan
menelan(disfagia), hemiparese dan hemiplegi.
8) Inkoninensia
uri berhubungan dengan defisit neurologis.
9) Inkontinensia
alfi berhubungan dengan kerusakan mobilitas dan kerusakan neurologis.
10) Resiko
kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan mobilitas, parise dan
paralise.
11) Kerusakan
komunikasi verbal berhubungan dengan ketidakmampuan bicara verbal atau tidak
mampu komunikasi.
12) Gangguan
persepsi sensori: perabaan yang berhubungan dengan penekanan pada saraf
sensori.
13) Resiko
terjadinya: kekeringan kornea, Pneumonia ortostatik sekunder kehilangan kesadaran.
c. Rencana Keperawatan
|
Diagnosa
Keperawatan |
Tujuan |
Intervensi |
|
Ketidakefektifan
Perfusi jaringan serebral b.d aliran darah ke otak terhambat. |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan suplai aliran darah keotak lancar
dengan kriteria hasil: - Nyeri
kepala / vertigo berkurang sampai de-ngan hilang - Berfungsinya
saraf dengan baik - Tanda-tanda
vital stabil |
Monitorang
neurologis 1. Monitor
ukuran, kesimetrisan, reaksi dan bentuk pupil 2. Monitor
tingkat kesadaran klien 3. Monitir
tanda-tanda vital 4. Monitor
keluhan nyeri kepala, mual, muntah 5. Monitor
respon klien terhadap pengobatan 6. Hindari
aktivitas jika TIK meningkat 7. Observasi
kondisi fisik klien Terapi
oksigen 1. Bersihkan
jalan nafas dari sekret 2. Pertahankan
jalan nafas tetap efektif 3. Berikan
oksigen sesuai intruksi 4. Monitor
aliran oksigen, kanul oksigen dan sistem humidifier 5. Beri
penjelasan kepada klien tentang pentingnya pemberian oksigen 6. Observasi
tanda-tanda hipo-ventilasi 7. Monitor
respon klien terhadap pemberian oksigen 8. Anjurkan
klien untuk tetap memakai oksigen selama aktifitas dan tidur |
|
Kerusakan
komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi ke otak |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan klien mampu untuk berkomunikasi
lagi dengan kriteria hasil: - dapat
menjawab pertanyaan yang diajukan perawat - dapat
mengerti dan memahami pesan-pesan melalui gambar - dapat
mengekspresikan perasaannya secara verbal maupun nonverbal |
1. Libatkan
keluarga untuk membantu memahami / memahamkan informasi dari / ke klien 2. Dengarkan
setiap ucapan klien dengan penuh perhatian 3. Gunakan
kata-kata sederhana dan pendek dalam komunikasi dengan klien 4. Dorong
klien untuk mengulang kata-kata 5. Berikan
arahan / perintah yang sederhana setiap interaksi dengan klien 6. Programkan
speech-language teraphy 7. Lakukan
speech-language teraphy setiap interaksi dengan klien |
|
Defisit
perawatan diri; mandi,berpakaian, makan, |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan, diharapkan kebutuhan mandiri klien terpenuhi,
dengan kriteria hasil: - Klien
dapat makan dengan bantuan orang lain / mandiri - Klien
dapat mandi de-ngan bantuan orang lain - Klien
dapat memakai pakaian dengan bantuan orang lain / mandiri - Klien
dapat toileting dengan bantuan alat |
1 Kaji
kamampuan klien untuk perawatan diri 2 Pantau
kebutuhan klien untuk alat-alat bantu dalam makan, mandi, berpakaian dan
toileting 3 Berikan
bantuan pada klien hingga klien sepenuhnya bisa mandiri 4 Berikan
dukungan pada klien untuk menunjukkan aktivitas normal sesuai kemampuannya 5 Libatkan
keluarga dalam pemenuhan kebutuhan perawatan
diri klien |
|
Kerusakan
mobilitas fisik b.d kerusakan neurovas-kuler |
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan selama, diharapkan klien dapat melakukan
pergerakan fisik dengan kriteria hasil : - Tidak
terjadi kontraktur otot dan footdrop - Pasien
berpartisipasi dalam program latihan - Pasien
mencapai keseimbangan saat duduk - Pasien
mampu menggunakan sisi tubuh yang tidak sakit untuk kompensasi hilangnya
fungsi pada sisi yang parese/plegi |
1 Ajarkan
klien untuk latihan rentang gerak aktif pada sisi ekstrimitas yang sehat 2 Ajarkan
rentang gerak pasif pada sisi ekstrimitas yang parese / plegi dalam toleransi
nyeri 3 Topang
ekstrimitas dengan bantal untuk mencegah atau mangurangi bengkak 4 Ajarkan
ambulasi sesuai dengan tahapan dan kemampuan klien 5 Motivasi
klien untuk melakukan latihan sendi seperti yang disarankan 6 Libatkan
keluarga untuk membantu klien latihan sendi |
|
Resiko
kerusakan integritas kulit b.d immobilisasi fisik |
Setelah
dilakukan tindakan perawatan selama, diharapkan pasien mampu mengetahui
dan mengontrol resiko dengan kriteria hasil : - Klien
mampu menge-nali tanda dan gejala adanya resiko luka tekan - Klien
mampu berpartisi-pasi dalam pencegahan resiko luka tekan (masase sederhana,
alih ba-ring, manajemen nutrisi, manajemen tekanan). |
1 Beri
penjelasan pada klien tentang: resiko adanya luka tekan, tanda dan gejala
luka tekan, tindakan pencegahan agar tidak terjadi luka tekan) 2 Berikan
masase sederhana - Ciptakan
lingkungan yang nyaman - Gunakan
lotion, minyak atau bedak untuk pelicin - Lakukan
masase secara teratur - Anjurkan
klien untuk rileks selama masase - Jangan
masase pada area kemerahan utk menghindari kerusakan kapiler - Evaluasi
respon klien terhadap masase 3 Lakukan
alih baring - Ubah
posisi klien setiap 30 menit- 2 jam - Pertahankan
tempat tidur sedatar mungkin untuk mengurangi kekuatan geseran - Batasi
posisi semi fowler hanya 30 menit - Observasi
area yang tertekan (telinga, mata kaki, sakrum, skrotum, siku, ischium,
skapula) 4 Berikan
manajemen nutrisi - Kolaborasi
dengan ahli gizi - Monitor
intake nutrisi - Tingkatkan
masukan protein dan karbohidrat untuk memelihara ke-seimbangan nitrogen
positif 5 Berikan
manajemen tekanan - Monitor
kulit adanya kemerahan dan pecah-pecah - Beri
pelembab pada kulit yang kering dan pecah-pecah - Jaga
sprei dalam keadaan bersih dan kering - Monitor
aktivitas dan mobilitas klien - Beri
bedak atau kamper spritus pada area yang tertekan |
|
Resiko
Aspirasi berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran |
Setelah
dilakukan tindakan perawatan, diharapkan tidak terjadi aspirasi pada pasien
dengan kriteria hasil : - Dapat
bernafas dengan mudah,frekuensi pernafasan normal - Mampu
menelan,mengunyah tanpa terjadi aspirasi |
Aspiration
Control Management : - Monitor
tingkat kesadaran, reflek batuk dankemampuan menelan - Pelihara
jalan nafas - Lakukan
saction bila diperlukan - Haluskan
makanan yang akan diberikan - Haluskan
obat sebelum pemberian |
|
Resiko
Injuri berhubungan dengan penurunan tingkat kesadaran |
Setelah
dilakukan tindakan perawatan, diharapkan tidak terjadi trauma pada pasien
dengan kriteria hasil: - bebas
dari cedera - mampu
menjelaskan factor resiko dari lingkungan dan cara untuk mencegah cedera - menggunakan
fasilitas kesehatan yang ada |
Risk
Control Injury - menyediakan
lingkungan yang aman bagi pasien - memberikan
informasi mengenai cara mencegah cedera - memberikan
penerangan yang cukup - menganjurkan
keluarga untuk selalu menemani pasien |
|
Pola
nafas tidak efektif berhubungan dengan penurunan kesadaran |
Setelah
dilakukan tindakan perawatan, diharapkan pola nafas pasien efektif dengan
kriteria hasil : -
Menujukkan jalan nafas paten ( tidak merasa tercekik, irama nafas normal,
frekuensi nafas normal,tidak ada suara nafas tambahan -
Tanda-tanda vital dalam batas normal |
Respiratori
Status Management - Pertahankan
jalan nafas yang paten - Observasi
tanda-tanda hipoventilasi - Berikan
terapi O2 - Dengarkan
adanya kelainan suara tambahan - Monitor
vital sign |
DAFTAR PUSTAKA
Johnson, M., et all. 2002. Nursing Outcomes Classification (NOC) Second Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Mansjoer, A dkk. 2007. Kapita
Selekta Kedokteran, Jilid Kedua. Jakarta: Media Aesculapius FKUI
Mc Closkey, C.J., et
all. 2002. Nursing Interventions Classification (NIC) Second
Edition. New Jersey: Upper Saddle River
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan
Keperawatan Klien dengan Gangguan Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba
Medika
NANDA, 2012, Diagnosis Keperawatan
NANDA : Definisi dan Klasifikasi.
Price, A. Sylvia.2006 Patofisiologi
Konsep Klinis Proses-proses Penyakit edisi 4. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Santosa, Budi. 2007. Panduan
Diagnosa Keperawatan NANDA 2005-2006. Jakarta: Prima Medika
Smeltzer, dkk. 2002. Buku Ajar
Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth Edisi 8 Vol 2. alih
bahasa H. Y. Kuncara, Andry Hartono, Monica Ester, Yasmin asih. Jakarta: EGC
Carpenito, L.J., 1999, Rencana Asuhan dan Dokumentasi
Keperawatan, EGC, Jakarta.
Doengoes, M.E., 2000, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman
untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, EGC, Jakarta.
Hudak, C.M., Gallo, B.M., 1986, Keperawatan Kritis : Pendekatan
Holistik, EGC, Jakarta.
Long, B.C., 1996, Perawatan Medikal Bedah, Yayasan
Ikatan Alumni, Pendidikan Keperawatan, Padjajaran,
Bandung.
Lumban Tobing, S.M., 1998, Neurologi Klinik Pemeriksaan Fisik
dan Mental, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
Price, S.A., dan Wilson, L.M, 1995,
Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-proses Penyakit, EGC, Jakarta.
No comments:
Post a Comment