BAB
I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Anak
merupakan sumber daya suatu bangsa. Anak harus hidup bahagia dan sejahtera agar
tumbuh dan berkembang dengan optimal untuk melaksnakan tugas-tugas pembangunan
yang akan datang. Menurut Departemen Kesehatan RI (1993) ciri anak sehat adalah
tumbuh dengan baik, tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya,
tampak aktif/gesit dan gembira, mata bersih dan bersinar, nafsu makan baik,
bibir dan lidah tampak segar, pernapasan tidak berbau, kulit dan rambut tampak
bersih dan tidak kering, serta mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anak
juga rentang dengan sakit, hal ini dipengaruhi oleh sistem imunitas yang
kurang, wilayah yang tropis yang baik tempat berkembang biaknya kuman dan
sebagainya. Terjadinya perubahan cuaca tersebut mempengaruhi kondisi anak.
Kondisi anak dari sehat menyebabkan tubuh bereaksi untuk meningkatkan suhu
tubuh yang disebut demam (Damayanti, 2008).
Demam
pada anak biasanya disebabkan oleh agen mikrobiolog yang dapat dikenali dan
demam menghilang pada masa yang pendek (Nelson,2000). Peningkatan suhu tubuh
anak sangat berpengaruh terhadap fisiologis organ tubuhnya, karena luas
permukaan tubuh relatif kecil dibandingkan pada orang dewasa, menyebabkan ketidakseimbangan
organ tubuhnya. Peningkatan suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat menyebabkan
dehidrasi, latergi, penurunan nafsu makan termasuk kejang yang mengancam
kehidupannya lebih lanjut dapat menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang
anak (Reiga, 2010).
Data
anak yang demam dalam waktu enam
bulan terakhir (februari-juli 2014) di ruang anak RSUD Gerung
sebanyak 24 orang. Peran perawat adalah seperangkat tingkah
laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya
dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam
maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang
diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu, Pemberi Asuhan
Keperawatan, Pembuat Keputusan Klinis, Pelindung dan Advokat Klien, Manager
Kasus, Rehabilitator, Pemberi Kenyamanan, Komunikator, Penyuluh, kolaborator,
Edukator, Konsultan, Pembaharu.
Dalam
mengatasi demam salah satu tindakan keperawatan adalah kompres hangat. Dalam
hal ini termasuk peran perawat manager kasus dan pemberi asuhan keperawatan.
Selain itu juga dalam mengajarkan kompres hangat dengan tekhnik tepid sponge merupakan salah satu peran
perawat sebagai penyuluh.
Dari
uraian di atas maka kami dari kelompok manajemen anak ingin mengangkat analisis
jurnal tentang efektivitas kompres hangat (tepid
sponge) terhadap penurunan suhu tubuh.
B. TUJUAN
1. Tujuan umum
Mempelajari
tentang tindakan keperawatan yang up to date berdasarkan epidemologi masalah.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui manfaat kompres
hangat tekhnik sponge.
b. Mahasiswa mampu mengetahui tindakan
keperawatan tentang penurunan suhu tubuh.
C. MANFAAT
1. Teoritis
Diharapkan
mahasiswa mengerti tentang kompres hangat dengan tekhnik tepid sponge.
2. Praktisi
Diharapkan
perawat di ruang Anak RSUD Gerun
mengaplikasikan kompres hangat (tekhnik tepid
sponge)
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A. Konsep suhu tubuh
1. Pengertian
Suhu tubuh merupakan
panas yang dihasilkan oleh tubuh dan diatur oleh suatu pusat di dalam
hipotalamus dari otak. Pusat ini bereaksi terhadap darah yang melaluinya. Bila
diukur di dalam mulut atau anus, suhu yang terbaca menunjukkan “suhu tengah”
dari tubuh, yaitu suhu dariorgan – organ rongga dada dan rongga perut serta
dari otak. Suhu mulutnormal berkisar antara 36,0°-37,5°C, suhu rektal/anus
sedikit lebih tinggi. Suhu yang terbaca di ketiak dan lipat paha sedikit lebih
rendah (Ignatavicius, 2002).
Suhu
adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang
digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari
masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi
dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk
mengukur suhu dengan valid. Suhu menunjukkan derajat panas
benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut.
Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi
yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda
masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di
tempat berupa getaran.
Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda
tersebut. Suhu juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer.
Empat macam termometer yang paling dikenal adalah Celsius, Reamur, Fahrenheit
dan Kelvin. Manusia dan binatang menyusui mempunyai kemampuan untuk memelihara
suhu tubuh relative konstan dan berlawanan dengan suhu lingkungan. Kepentingan
dipertahankan suhu tubuh pada manusia adalah berhubungan dengan reaksi kimia
didalam tubuh kita. Misalnya kenaikan suhu 10 derajat Celcius bisa mempercepat
proses biologis 2-3 kalinya. Suhu inti (core temperature) manusia berfluktuasi +1
derajat Celcius dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya paling rendah adalah pada
waktu pagi hari (jam 4-6 subuh) dan mencapai puncaknya pada sore hari (jam 2-3
sore).
Suhu
tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang dproduksi oleh proses tubuh dan
jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar.adapun tempat pengukuran suhu
tubuh:suhu inti yaitu suhu jaringan dalam relatif konstan seperti rektum,
membran timpani, esofagus, arteri pulmoner, kandung kemiih dan suhu permukaan
seperti kulit, aksila, oral. Rasa suhu
mempunyai dua submodalitas yaitu rasa dingin dan rasa panas. Reseptor
dingin/panas berfungsi mengindrai rasa panas dan refleks pengaturan suhu tubuh.
Reseptor ini dibantu oleh reseptor yang terdapat di dalam system syaraf pusat.
Dengan pengukuran waktu reaksi, dapat dinyatakan bahwa
kecepatan hantar untuk rasa dingin lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan
hantaran rasa panas.Suhu tubuh manusia cenderung
berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu
tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan,
diperlukan regulasi suhu tubuh.
Suhu
tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang
diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur
hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan
mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh
telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut
titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh
inti konstan pada 37°C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap,
hipotalamus akan merangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk
mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran
panas sehingga suhu kembali pada titik tetap. Dengan anestesi blok rasa dingin/panas dapat diblok
sehingga objektif maupun subjektif rasa dingin dan panas dapat dipisah yaitu:
a. Rasa suhu kulit yang tetap (rasa suhu static). Bila
seseorang berendam di air hangat maka mula-mula rasa hangat akan dialami oleh
orang tersebut. Lama-kelamaan rasa hangat tidak lagi dirasakan dan kalau ia
keluar dari air dan masuk kembali maka ia akan merasakan hangat kembali. Hal
ini terjadi karena suhu tubuh beradaptasi secara penuh terhadap suhu kulit yang
baru. Adaptasi penuh ini terjadi pada uhu netral (suhu nyaman). Rasa hangat
yang mantap akan dirasakan bila suhu berada di atas 36C dan rasa dingin
dirasakan pada suhu 17C.
b. Rasa suhu kulit yang berubah (rasa suhu dinamik). Pada
pengindraan suhu kulit yang berubah tiga parameter tertentu. Suhu awal kulit,
kecepatan perubahan suhu dan luas kulit yang terpapar tehadap rangsangan suhu.
Pada suhu kulit yang rendah, ambang rasa hangat tinggi sedangkan untuk rasa
dingin rendah. Bila suhu meninkat ambang rasa
hangat menurun dan ambang rasa dingin meningkat. Kecepatan perubahan suhu
berpengaruh terhadap timbulnya rasa panas/dingin. Luasnya daerah kulit yang
terpapar juga berpengaruh pada rasa timbulnya panas/dingin.
c. Titik rasa dingin dan panas. Pada permukaan kulit
bagian-bagian yang peka terhadap rangsangan dingin dan panas terlokasi pada
titik-titik tertentu. Kepadatan titik-titik rasa suhu lebih rendah dibandingkan
dengan titik rasa raba/tekan. Titik rasa dingin lebih banyak dibandingkan
dengan titik rasa panas. Kulit wajah daerah yang paling peka terhadap rasa
suhu. Kepadatan titik-titik rasa dingin paling tinggi.
d. Sifat-sifat reseptor suhu:
1) Selalu
mengeluarkan impuls pada suhu kulit yang konstan frekuensinya bergantung pada
suhu kulit itu sendiri.
2) Pada
penurunan/peningkatan suhu akan terjadi perubahan frekuensi impuls.
3) Tidak
peka terhadap rangsangan lain.
4) Ambang
rangsang sesuai dengan kepekaan rasa suhu manusia terhadap rangsang suhu
dikulit.
5) Mempunyai
daerah reseptif yang sempit, setiap serat eferen mensarafi satu atau beberapa
titik rasa suhu saja.
2. Macam–macam suhu tubuh
Macam-macam
suhu tubuh menurut (Tamsuri Anas 2007):
a.
Hipotermi, bila suhu tubuh kurang
dari 36°C
b.
Normal, bila suhu tubuh berkisar
antara 36–37,5°C
c.
Febris/pireksia, bila suhu tubuh
antara 37,5–40°C
d.
Hipertermi, bila suhu tubuh lebih
dari 40°C
Berdasarkan
distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperatur),
yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks, rongga
abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan
(sekitar 37°C).
Selain
itu, ada suhu permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat
pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi
sebesar 20°C sampai 40°C.
3. Fisiologi Suhu Tubuh
Berdasarkan distribusi
suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti(core temperatur), yaitu suhu yang
terdapat pada jaringan dalam, sepertikranial, toraks, rongga abdomen, dan
rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37°C).
selain itu, ada suhu permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat
pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi
sebesar 20°C sampai 40°C (Corwin, 2001).
a. Reseptor
panas dan dingin terletak dalam kulit. Saat suhu tubuh meningkat, hypothalamus
mengirimkan sinyal saraf menuju kelenjar keringat dan menyebakan pelepasan air
sekitar 1-2 liter perjam untuk mendinginkan tubuh.
b. Hipothalamus
juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah di kulit membuat lebih banyak darah
mengalir ke area tersebut dan menebabkan panas terlepas dari permukaan kulit.
c. Saat
suhu tubuh menurun, kelenjar keringat mengkerut dan produksi keringat
berkurang. Jika suhu tubuh terus menerus berkurang, tubuh akan menjaga
thermiogenesis, dengan cara meningkatkan laju metabolisme dan dengan menggigil.
d. Kehilangan
air lewat kulit berlangsung dalam dua cara, penguapan dan berkeringat.
4. Penghasil Suhu Tubuh
a. Laju
metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR) di semuasel tubuh.
b. Laju
cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot(termasuk kontraksi otot
akibat menggigil).
c. Metabolisme
tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dansebagian kecil hormon lain,
misalnya hormon pertumbuhan (growthhormone dan testosteron).
d. Metabolisme
tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine,dan rangsangan simpatis pada
sel.
e. Metabolisme
tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi didalam sel itu sendiri terutama
bila temperatur menurun.
5. Sistem Pengaturan Suhu Tubuh
Tubuh manusia
merupakan organ yang mampu menghasilkan panas secara mandiri dan tidak
tergantung pada suhu lingkungan. Tubuh manusia memiliki seperangkat sistem yang
memungkinkan tubuh menghasilkan, mendistribusikan, dan mempertahankan suhu
tubuh dalam keadaan konstan. Panas yang dihasilkan tubuh sebenarnya merupakan
produk tambahan proses metabolisme yang utama (Corwin, 2001). Suhu tubuh
manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat
menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam
keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur
dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan
suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh
yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan
balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh
untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point).
Titik
tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. Apabila suhu
tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk
melakukan serangkaian mekanismeuntuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan
produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada
titik tetap (Smletzer, 2002).
Proses
kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui
pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui
anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam
fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah
jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat
efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk
keseimbangan suhu tubuh. Di samping itu
di dalam kulit juga terdapat reseptor berbagai macam sensasi, sati di antaranya
oleh termoreseptor. Bagaimana kulit berperan sebagai pengatur suhu, dapat
dijelaskan sebagai berikut. Bila tubuh merasa panas, ada kecendrungan tubuh
meningkatkan kehilangan panas ke lingkungan; bila tubuh merasa dingin, maka
kecendrungannya menurunkan kehilangan panas. Jumlah panas yang hilang ke
lingkungan melalui radiasi dan konduksi–konveksi sangat di tentukan oleh
perbadaan suhu antara kilit dan lingkungan eksterna.
Bagian pusat tubuh merupakan ruang yang memiliki suhu
yang di jaga tetap sekitar 37 derajat C. Mengelilingi pusat tubuh adalah lapisan kulit dimana
terjadi pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan luar. Dalam usaha
memelihara kekonstanan suhu pusat tubuh, kapasitas insulatif dan suhu kulit
dapat di atur ke berbagai gradient suhu antara kulit dan lingkungan eksterna,
dengan cara demikian mempengaruhi tingkat kehilangan panas.
Kapasitas insulatif kulit dapat di ubah-ubah dengan mengontrol jumlah darah yang mengalir
melalui kulit. Darah yang mengalir ke kulit melayani 2 fungsi. Pertama,
menyediakan pasok makanan ke kulit. Kedua, karena darah di pompa ke kulit dari
jantung, maka darah membawa panas dari pusat tubuh ke kulit. Aliran darah ke
kulit terutama berfungsi meregulasi suhu. Pada suhu kamar yang normal, 20-30
lebih darah mengalir melalui kulit untuk keperluan nutrisi.
Pada proses termoregulasi, aliran darah kulit dapat
sangat berubah-ubah, dari 400 ml sampai 2.500 ml/menit. Lebih banyak darah
mencapai kulit dari pusat tubuh yang panas, maka suhu kulit lebih dekat ke suhu
pusat. Pembuluh darah kutaneus menghadapi keefektivan kulit sebagai suatu
insulator dengan membawa panas ke permukaan, dimana suhu ini dapat hilang dari
tubuh melalui radiasi dan konduksi–konveksi. Jadi, vasodilatasi pembuluh darah
kulit, yang memungkinkan peningkatan peningkatan aliran darah panas ke kulit,
akan meningkatkan kehilangan panas. Sebaliknya vasokontriksi pembuluh darah
kulit mengurangi aliran darah ke kulit, dengan demikian menjaga suhu pusat
tubuh konstan,dimana darah diinsulasi dari lingkungan eksternal, jadi
menurunkan kehilangan panas. Bagaimanapun, kulit bukan
merupakan insulator yang sempurna, Bahkan dengan vasokonstriksi yang maksimum.
Meskipun aliran darah ke kulit minimal, sebagian panas tetap di transfer
melalui konduksi dari organ lebih dalam ke permukaan kulit dan kemudian di lepaskan
dari kulit ke lingkungan.
Respon-respon
vasomotor kulit ini dikoordinasi oleh hipotalamus melalui jalur system saraf
simpatik. Aktifitas simpatik yang di tingkatkan ke pembuluh kutaneus
menghasilkan penghematan panas vasokonstiksi untuk merespon suhu
dingin,sedangkan penurunan aktivitas simpatetik menghasilkan kehilangan panas
vasodilatasi pembuluh darah kulit sebagai respon terhadap suhu panas. Kulit sebagai organ pengatur panas. Suhu tubuh
seseorang adalah tetap, meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini
dipertahankan karena penyesuaian antara panas yang hilang dan panas yang
dihasilkan, yang diatur oleh pusat pengatur panas. Pusat ini segera menyadari bila ada perubahan pada panas
tubuh, karena suhu darah yang mengalir melalui medulla oblongata. Suhu normal
(sebelah dalam) tubuh, yaitu suhu visera dan otak adalah 36-37C. Suhu kulit sedikit
lebih rendah. Persyarafan
vaso-motortik mengendalikan anterior kutan dengan 2 cara, yaitu vaso-dilatasi
dan vaso-kontriksi. Pada vaso-dilatasi anteriol memekar, kulit menjadi lebih panas,
dan kelebihan panas cepat terpancar dan hilang, dan juga hilang karena kelenjar
keringat bertambah aktif, dan karena itu terjadi penguapan cairan dari
permukaan tubuh. Pada vaso-kontriksi pembuluh darah dalam kulit mengerut, kulit
menjadi pucat dan dingin, keringat hampir dihentikan, dan hilangnya panas
dibatasi. Dengan pengendalian ini pelepasan panas ditambah atau dikurangi
sesuai kebutuhan tubuh. Kulit adalah organ utama yang berurusan dengan.
Panas
dilepas
oleh kulit dengan berbagai cara yaitu:
a. Dengan
penguapan, jumlah keringat yang dibuat tergantung dari banyaknya darah yang
mengalir melalui pembuluh darah kulit.
b. Dengan
pemancaran, panas yang dilepas ke udara sekitarnya.
c. Dengan
konduksi, panas dialihkan ke benda yang disentuh, seperti pakaian.
d. Dengan
konveksi (pengaliran) karena mengalirnya udara yang telah panas, maka udara
yang menyentuh permukaan tubuh diganti
dengan udara yang lebih dingin.
Cara
mendinginkan tubuh yang terlampau panas, baik dengan membiarkan udara mengalir menyentuh
kulit dengan cara mengipas, mengusap badan, atau merendam kedalam air dingin.
6. Mekanisme Kehilangan Panas Melalui Kulit
a. Radiasi
Radiasi
adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas
inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang
gelombang 5–20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala
penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada
kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas. Panas adalah energi
kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat di
pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit.
Sekali
suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi
lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara sehingga
udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh.
b. Konduksi
Konduksi adalah perpindahan panas
akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh.
Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil.
Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena
dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda
relative jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator
benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif
terus menerus.
c. Evaporasi
Evaporasi
(penguapan air dari kulit) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap
satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh
sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme
evaporasi berlangsung sekitar 450–600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan
panas terus menerus dengan kecepatan 12–16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak
dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara
terus menerus melalui kulit dan system pernafasan.
d. Konveksi
Perpindahan panas dengan
perantaraan gerakan molekul, gas atau cairan. Misalnya pada waktu dingin udara
yang diikat/dilekat pada tubuh akan menjadi dipanaskan (dengan melalui konduksi
dan radiasi) kurang padat, naik dan diganti udara yang lebih dingin. Biasanya
ini kurang berperan dalam pertukaran panas.
B. Konsep Kompres Hangat
1. Pengertian
Kompres hangat adalah
memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat
yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Tindakan ini selain
untuk melancarkan sirkulasi darah juga untuk menghilangkan rasa sakit,
merangsang peristaltic usus, pengeluaran getah radang menjadi lancar, serta
memberikan ketenangan dan kesenangan pada klien. Pemberian kompres dilakukan
pada radang persendian, kekejangan otot, perut kembung, dan kedinginan.
2. Tujuan Kompres Hangat
Kompres
Hangat
a. Memperlancar
sirkulasi darah
b. Menurunkan
suhu tubuh
c. Mengurangi
rasa sakit
d. Memberi
rasa hangat,nyaman dan tenang pada klien
e. Memperlancar
pengeluaran eksudat
f. Merangsang
peristaltik usus
3. Pengaruh Kompres Hangat
Efek dari kompres
hangat untuk meningklatkan aliran darah ke bagian yang terinjuri. Pemberian
kompres hangat yang berkelanjutan berbahaya terhadap sel epitel, menyebabkan
kemerahan, kelemahan local, dan bisa terjadi kelepuhan. Kompres hangat
diberikan satu jam atau lebih.
4. Metode Kompres hangat
kompres menggunakan
air hangat didasarkan bahwa kompres dengan menggunakan air dingin itu
sebenarnya tidak begitu efektif menurunkan panas. Karena kontak dengan air
dingin maka pembuluh darah yang kontak dengan kain kompres dingin akan
menyempit (vasokonstriksi) sehingga menyulitkan pengeluaran panas. Pusat
pengatur suhu menerima informasi bahwa suhu tubuh sedang berada dalam kondisi
hangat, maka suhu tubuh butuh untuk segera diturunkan. Apalagi, saat demam kita
memang merasa kedinginan meskipun tubuh kita justru mengalami peningkatan suhu.
Kompres air hangat memiliki beberapa keuntungan, disamping membantu mengurangi
rasa dingin, air hangat juga menjadikan tubuh terasa lebih nyaman. Memperbaiki
sirkulasi.
Perlengkapan
a. Botol
kantong air panas
1) Botol
air panas dengan tutupnya
2) Sarung
botol
3) Air
panas dan sebuah termometer
b. Bantalan
pemanas elektrik
1) Bantalan
elektrik dan pengontrolnya
2) Sarung
(gunakan bahan yang kedap air jika kemungkinan bagian bawah bantalan akan
menjadi lembap)
3) Pengikat
kasa (pilihan)
c. Bantalan
akutermia
1) Bantalan
2) Air
suling
3) Unit
pengontrol
4) Sarung
5) Pengikat
plasa atau plaster
d. Kemasan
pemanasan disposabel
Satu
atau dua buah kemasan pemanas disposabel yang telah dipersiapkan secara
komersial
Pelaksanaan
a. Jelaskan
kepada klien apa yang akan anda lakukan, mengapa hal tersebut perlu dilakukan,
dan bagaimana klien dapat bekerja sama. Diskusikan bagaimana hasilnya akan
digunakan untuk merencanakan perawatan atau terapi selajutnya.
b. Cuci
tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi yang tepat
c. Berikan
privasi klien
d. Berikan
kompres panas
Memberikan
Kompres Panas
a.
Bayi/anak
Suhu air dalam botol air panas harus
40,5-46oC untuk anak-anak kurang dari 2 tahun.
b.
Lansia
1) berikan
perhatian khusus saat mengkaji area yang akan diterapi dan ketika mengefaluasi
efek terapi karena lensia memiliki banyak kondisi yang merupakan predisposisi
terjadinya cidera pada pemberian kompres.
2) Laporkan
penyimpangan yang signifikan dari normal kepada dokter.
5. Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Memberikan
Hangat
a. Jangan
letakan kantong air hangat di bagian tubuh yang telanjang, lapisi kantong
dengan kain flanel atau handuk.
b. Kantong
air hangat yang diletakkan diatas bagian badan tertentu hanya boleh terisi
sepertiganya untuk menghindari berat yang tidak diperlukan.
c. Pada
penggunaan kompres hangat yang berlangsung lama, jangan lupa memeriksa kulit
penderita.
d. kompres
hangat tidak diberikan di kepala karena dapat menyebabkan pembuluh darah di
area tersebut mengalami dilatasi dan menyebabkan sakit kepala.
e. Kompres
hangat tidak boleh diberikan di perut jika mengalami radang/infeksi usus buntu.
C. Kompres Hangat Teknik Tepid
Sponge
1. Pengertian Kompres Hangat Teknik Tepid
Sponge
Tepid sponge adalah sebuah teknik kompres hangat yang
menggabungkan teknik kompres blok pada pembuluh darah besar superficial dengan
teknik seka. Telah di uji di berbagai negara dimana di setiap publikasi riset
menghasilkan kesimpulan yang bervariasi. Namun fakta menunjukkan bahwa
pemberian acetaminophen yang diiringi dengan pemberian hydrotheraphy Tepid
Sponge memiliki keunggulan dalam mempercepat penurunan suhu anak dengan
demam pada satu jam pertama dibandingkan dengan anak yang hanya diberi acetaminophen
saja (Wilson, 1995).
Temperatur tubuh yang mencapia 39 o C akan mengakibatkan kulit hangat,
kemerahan, dan nyeri kepala. Pemilihan tepid sponge sebagai terapi dapat
menurunkan suhu dan mengurangi ansietas yang diakibatkan oleh penyakitnya
(Janis, 2010).
2. Tujuan Tepid Sponge
Tujuan
Utama dari tepid sponge adalah menurunkan suhu klien khususnya pada anak
dengan demam.
3. Manfaat Tepid Sponge
Menurut Janis (2010) manfaat dari
pemberian tepid sponge adalah menurunkan suhu tubuh yang sedang
mengalami demam, memberikan rasa nyaman, mengurangi nyeri dan ansietas yang
diakibatkan oleh penyakit yang mendasari demam. Tepid sponge juga sangat
bermanfaat pada anak yang memiliki riwayat kejang demam dan penyakit liver
(Wilson, 1995)
4. Teknik tepid sponge
a. Persiapan
1) Handuk/saputangan
2) Selimut
3) Baju mandi (jika ada)
4) Perlak
5) Handschoen
6) Thermometer
7) Mangkuk atau bak berisi air hangat
b. Pelaksanaan
1)
Mengkaji
kondisi klien
2)
Menjelaskan
prosedur yang akan dilaksanakan kepada klien
3)
Membawa
peralatan ke dekat klien
4)
Mencuci
tangan
5)
Menutup
pintu dan jendela sebelum memulai prosedur
6)
Mengatur
posisi klien senyaman mungkin
7)
Menempatkan
perlak dibawah klien
8)
Memakai
sarung tangan
9)
Membuka
pakaian klien dengan hati-hati
10) Mengisi bak dengan air hangat. Suhu air
28-32 o C
(Alves et all., 2008).
11) Memasukkan handuk/saputangan ke dalam
bak.
12) Memeras handuk/ saputangan dan
menempatkan handuk/saputangan di dahi, ketiak, dan selangkangan.
13) Mengusap bagian ekstremitas klien selama
lima menit. Kemudian bagian punggung klien selama 5-10 menit)
14) Memonitor respon klien
15) Mengganti pakaian klien dengan pakaian
yang tipis dan menyerap keringat
16) Mengganti sprei (bila memungkinkan) dan
memindahkan perlak dan alat-alat yang dipakai
17) Mendokumentasikan tindakan
BAB
III
JURNAL
1. HASIL PENELITIAN
Adapun
beberapa penelitian yang berkaitan dengan tepid sponge yaitu:
a. Berdasarkan penelitian Djuwariyah (2012), yang berjudul efektivitas
penurunan suhu tubuh menggunakan kompres air hangat dan kompres plester pada
anak dengan demam di ruang kanthil Rumah sakit umum daerah banyumas
menyimpulkan bahwa rata-rata penurunan suhu tubuh sebelum diberikan kompres air
hangat adalah 38,39 terjadi penurunan setelah diberikan kompres air hangat
yaitu menjadi 37,68 (dengan selisih sebesar 0,71). Setelah dilakukan
perhitungan menggunakan uji t-paired diperoleh t hitung 17,99 dan p
value 0,0001 (p value < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat
penurunan suhu tubuh sebelum dan sesudah diberikan kompres air hangat. Setelah
dilakukan perhitungan menggunakan uji t-paired diperoleh t hitung 2,21 (p
value 0,035). Karena nilai p jauh lebih kecil dari 0,05, maka dapat
disimpulkan bahwa terdapat penurunan suhu tubuh sebelum dan sesudah diberikan
kompres plester. Penurunan suhu tubuh yang lebih efektif adalah kompres air
hangat dibaandingkan kompres plester.
b. Penelitian Mohammad Ali Hamid 2011
yang berjudul keektifan kompres Tepid
Sponge yang dilakukan ibu dalam menurunkan demam pada anak, mangatakan ada
pengaruh signifikan hasil dari penelitiannya dengan hasil penelitian 0,000
berarti < 0,05.
c. Hasil penelitian Karian Indah
Permatasari 2012, Perbedaan efektivitas kompres air hangat dan kompres air
biasa terhadap penurunan suhu tubuh pada anak dengan demam di RSUD Tugurejo
Semarang, mengatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kompres air
hangat dengan kompres air biasa.
d. Penelitian Puji Melasi 2013 yang
berjudul Pengaruh tepid sponge bath dengan air hangat terhadap penurunan suhu
tubuh pada anak usia todler dan prasekolah yang mengalami demam di UGD rumah
sakit ibu dan anak family jakarta menyimpulkan bahwa Hasil uji t tidak
berpasangan menunjukkan penurunan suhu tubuh post test I nilai pada kelompok
kontrol 0.21°C (+ 0.68), kelompok intervensi 0.39 °C (+ 0.574), p value 0.086
(p > 0.05), post test II nilai pada kelompok kontrol 0.74 °C (+ 0.718),
kelompok intervensi 0.89 °C (+ 0.574), p value 0.193 (p > 0.05). Penelitian
ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam penurunan suhu tubuh
antara kelompok intervensi maupun kelompok kontrol, tetapi ada kecenderungan
bahwa pemberian antipiretik yang disertai tepid sponge bath mengalami penurunan
suhu tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian antipiretik saja.
e. Penelitian yang dilakukan oleh Ns Sri
Haryani S.kep pengaruh kompres Tepid Sponge hangat terhadap penurunan suhu tubuh
pada anak 1-10 tahun dengan hipertermia, mendapatkan hasil bahwa menggunakan
terapi tepid sponge dapat mengatasi hipertermia tanpa menggunakan farmakologi.
BAB
IV
PEMBAHASAN
A.
Pembahasan Hasil jurnal
1.
Kompres air hangat efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada anak
karena infeksi. Hal ini dikarenakan bahwa Kompres air hangat mempengaruhi suhu
tubuh dengan cara memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi), memberi tambahan nutrisi dan
oksigen untuk sel dan membuang sampah-sampah tubuh, meningkatkan suplai darah
ke area-area tubuh, mempercepat penyembuhan dan dapat menyejukkan. Selain itu, pemberian kompres
hangat akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka
terhadap panas di hipotalamus dirangsang, system efektor mengeluarkan sinyal
yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh
darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata pada tangkai otak, di
bawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi.
Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan atau kehilangan energy atau
panas melalui kulit meningkat (berkeringat), diharapkan akan terjadi penurunan
suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali. Menurut ikatan dokter anak
Indonesia, tubuh dapat melepaskan panas melalui empat cara yaitu radiasi,
konveksi atau konduksi. Secara umum, enam puluh persen panas dilepas secara
radiasi, yaitu transfer dari permukaan kulit melalui permukaan luar dengan
gelombang electromagnet. Seper emat bagian lainnya dilepas melalui penguapan
dari kulit dan paru, dalam bentuk air yang diubah dari bentuk cair menjadi gas,
243 kj (58kkal) dilepaskan untuk setiap 100 mL air. Konveksi adalah pemindahan
panas melalui penggerakan udara atau cairan yang menyelimuti permukaan kulit,
sedangkan konduksi adalah pemindahan panas antara dua objek secara langsung
pada suhu berbeda. Pada kompres air hangat ini merupakan pelepasan panas
melalui penguapan dari kulit. Susunan saraf pusat sebagai pengatur suhu tubuh
yaitu dari daerah spesifik IL-1 preoptik dan hipotalamus anterior, yang
mengandung sekelompok saraf termosentif yang berlokasi di dinding rostral
ventrikel III, disebut juga sebagai korpus kalosum lamina terminalis (OVTL)
yaitu batas antara sirkulasi dan otak. Saraf termosensitif ini terpengaruhi
oleh daerah yang dialiri darah dan masukan dari reseptor kulit dan otot. Saraf
sensitive terhadap hangat terpengaruhi dan meningkat dengan penghangatan atau
penurunan dingin, sedang saraf sensitive terhadap dingin meningkat dengan pendinginan
atau penurunan dengan penghangatan. Hasil akhir mekanisme kompleks ini adalah
peningkatan thermostatic set point yang akan member isyarat serabut
saraf eferen, terutama serabut simpatis untuk memulai menahan panas
(vasokontriksi) dan produksi panas (menggigil). Peningkatan set point kembali
normal apabila terjadi penurunan konsentrasi IL-1 atau pemberian intervensi
seperti kompres air hangat, dimana kompres air hangat ini menggunakan air
hangat-hangat kuku yaitu dengan cara mengompres seluruh bagian tubuh anak.
Prostaglandin E2 diketahui mempengaruhi secara negative feed back dalam
pelepasan IL-1, sehingga mengakhiri mekanisme yang awalnya diinduksi demam.
Vasopresin (AVP) bereaksi dalam susunan saraf pusat untuk mengurangi pyrogen
induced fevers. Kembalinya suhu menjadi normal diawali oleh vasodilatasi
dan berkeringat melalui peningkatan aliran darah kulit yang dikendalikan
serabut simpatis.
Sedangkan Efektifitas Kompres Plester
dilakukan dengan cara menempelkan plester dibagian tubuh tertentu, seperti
dahi, ketiak dan lipatan paha. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut
merupakan daerah yang mempunyai pembuluh-pembuluh darah besar. Kompres plester
membantu pembuluh darah tepi di kulit melebar hingga pori-pori jadi terbuka
yang selanjutnya memudahkan pengeluaran panas dari dalam tubuh, sehingga tubuh dapat
mengalami penurunan suhu tubuh. Plester kompres siap pakai yang banyak terdapat
di apotek. Plester kompres ini dibuat dari bahan hydrogel on polyacrylate-basis
dengan kandungan paraben dan mentol yang diformulasikan sehingga mampu
mempercepat proses pemindahan panas dari tubuh ke plester kompres. Paraben
adalah serbuk kristal putih, yang mudah larut dalam methanol, ethanol dan sulit
larut dalam air yang mempunyai sifat antibakteri. Kompres plester merupakan
kompres yang sederhana menunjukkan bahwa adanya penurunan suhu pada anak dengan
demam. Akan tetapi lebih efektif kompres hangat. Menurut peneliti hal tersebut
dikarenakan kompres air hangat mempunyai fungsi untuk memperlebar pembuluh
darah (vasodilatasi), member tambahan nutrisi dan oksigen untuk sel, membantu
meningkatkan suplai darah ke area-area tubuh, sehingga dapat menurunkan suhu
tubuh. Salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa, efek teknik pemberian
kompres air hangat pada daearh dahi terhadap penurunan suhu tubuh. Peneliti
menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil penurunan berdasarkan cara dan
letak pengkompresan.
2. Tepid sponge sangat mempengaruhi
penurunan suhu dikarenakan tekhnik ini mengompres ke bagian tubuh tertentu, hal
ini sangat mempengaruhi pelebaran pembuluh darah yang bisa mempengaruhi
penurunan suhu tubuh.
3. Dalam pemberian kompres hangat pada
aksila sebagai daerah letak pembuluh darah besar merupakan upaya memberikan
rangsangan pada area preoptik hipotalamus agar menurunkan suhu tubuh. Sinyal
hangat yang dibawa oleh darah ini menuju hipotalamus akan merangsang area
preoptik mengakibatkan pengeluaran sinyal oleh sistem efektor. Sinyal ini akan
menyebabkan terjadinya pengeluaran panas tubuh yang lebih melalui dua mekanisme
yaitu dilatasi pembuluh darah perifer dan berkeringat (Potter dan Perry,2005). Hal
ini sesuai dengan tekhnik tepid sponge yang
dimana melakukan dengan tekhnik blok dengan seka. Tekhik ini menggunakan
kompres blok tidak hanya di satu tempat saja, melainkan langsung dibeberapa
tempat yang memiliki pembuluh darah besar. Selain itu masih ada perlakuan
tambahan yaitu dengan memberikan seka di beberapa area tubuh sehingga perlakuan
yang terapkan terhadap klien pada tekhnik ini akan semakin komplek dan rumit
dibandingkan dengan tehnik yang lain. Namun dengan kompres blok langsung
diberbagai tempat ini akan menfasilitas penyampaian sinyal ke hipotalamus
dengan lebih gencar. Selain itu
pemberian seka akan mempercepat pelebaran pembuluh darah perifer akan
menfasilitasi perpindahan panas dari tubuh kelingkungan sekitar yang akan
semakin memperecepat penurunan suhu tubuh (Reiga, 2010).
4. Febris adalah suatu keadaan dimana
individu mengalami atau beresiko mengalami peningkatan suhu tubuh secara terus
menerus di atas 37,8oc karena faktor eksternal (Copernito, 2009). Dalam
hal ini kompres hangat diperlukan karena reseptor
panas dan dingin terletak dalam kulit. Saat suhu tubuh meningkat, hypothalamus
mengirimkan sinyal saraf menuju kelenjar keringat dan menyebakan pelepasan air
sekitar 1-2 liter perjam untuk mendinginkan tubuh. Selain itu juga hipothalamus
juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah di kulit membuat lebih banyak darah
mengalir ke area tersebut dan menebabkan panas terlepas dari permukaan kulit.
Sehingga mempercepat proses evaporasi dan konduksi yang pada akhirnya dapat
menurunkan suhu tubuh.
Sedangkan untuk
kompres air biasa, bahwa air dingin dalam kompres dapat menimbulkan efek
mengigil pada pasien. Hal ini dingin dari air kompres tersebut menghambat
rangsangan vasodilatasi sehingga memperlambat proses evaporasi dan konduksi
yang pada akhirnya memperlambat menurunkan suhu tubuh.
5. Usia sangat mempengaruhi metabolisme
tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek tidak langsung terhadap
suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas
melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses
termogenesis tanpa menggigil (Soedarmo, 2008).
Dalam hal ini tekhnik tepid sponge
sangat tepat digunakan untuk usia neonatus dan bayi, hal ini dikarenakan
tekhnik ini dilakukan dengan cara mengompres ke seluruh tubuh. Dengan demikian
turunnya suhu terjadi lewat panas tubuh yang digunakan untuk menguapkan air
pada kain kompres, karena air hangat membantu darah tepi di kulit melebar
sehngga pori-pori menjadi terbuka yang selanjutnya memudahkan pengeluaran panas
dari dalam tubuh. Selain itu juga suhu di luar yang hangat, maka tubuh akan
menganggap suhu di luar cukup panas yang membuat tubuh bereaksi menurunkan suhu
(Perry 1990). Dari hasil penelitian memang tidak ada perbedaan yang signifikan
karena obat antipiretik langsung ke pusat sistem hipotalamus.
BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1. Hasil dari analisis jurnal dapat kami
simpulkan bahwa kompres hangat dengan tekhnik tepid sponge efektif dalam penurunan suhu tubuh pada anak.
2. Menurut Janis (2010) manfaat dari
pemberian tepid sponge adalah menurunkan suhu tubuh yang sedang
mengalami demam, memberikan rasa nyaman, mengurangi nyeri dan ansietas yang
diakibatkan oleh penyakit yang mendasari demam. Tepid sponge juga sangat
bermanfaat pada anak yang memiliki riwayat kejang demam dan penyakit liver
(Wilson, 1995).
3. Salah satu tindakan keperawatan yang
menurunkan demam adalah kompres hangat tekhnik sponge.
B. SARAN
1. Teoritis
Mahasiswa mampu
mengetahui tentang manfaat tindakan keperawatan yang up to date.
2. Untuk praktisi
Di harapkan untuk rumah
sakit, khususnya ruang anak RSUD Gerung untuk melakukan tindakan keperawatan (kompres
hangat tekhnik tepid sponge) untuk
menurunkan suhu tubuh pada anak.
No comments:
Post a Comment