October 20, 2025

KOMPRES AIR HANGAT PADA ANAK

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.  LATAR BELAKANG

     Anak merupakan sumber daya suatu bangsa. Anak harus hidup bahagia dan sejahtera agar tumbuh dan berkembang dengan optimal untuk melaksnakan tugas-tugas pembangunan yang akan datang. Menurut Departemen Kesehatan RI (1993) ciri anak sehat adalah tumbuh dengan baik, tingkat perkembangannya sesuai dengan tingkat umurnya, tampak aktif/gesit dan gembira, mata bersih dan bersinar, nafsu makan baik, bibir dan lidah tampak segar, pernapasan tidak berbau, kulit dan rambut tampak bersih dan tidak kering, serta mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan. Anak juga rentang dengan sakit, hal ini dipengaruhi oleh sistem imunitas yang kurang, wilayah yang tropis yang baik tempat berkembang biaknya kuman dan sebagainya. Terjadinya perubahan cuaca tersebut mempengaruhi kondisi anak. Kondisi anak dari sehat menyebabkan tubuh bereaksi untuk meningkatkan suhu tubuh yang disebut demam (Damayanti, 2008).

     Demam pada anak biasanya disebabkan oleh agen mikrobiolog yang dapat dikenali dan demam menghilang pada masa yang pendek (Nelson,2000). Peningkatan suhu tubuh anak sangat berpengaruh terhadap fisiologis organ tubuhnya, karena luas permukaan tubuh relatif kecil dibandingkan pada orang dewasa, menyebabkan ketidakseimbangan organ tubuhnya. Peningkatan suhu tubuh yang terlalu tinggi dapat menyebabkan dehidrasi, latergi, penurunan nafsu makan termasuk kejang yang mengancam kehidupannya lebih lanjut dapat menyebabkan terganggunya proses tumbuh kembang anak (Reiga, 2010).

     Data anak yang demam dalam waktu enam bulan terakhir (februari-juli 2014) di ruang anak RSUD Gerung sebanyak 24 orang.   Peran perawat adalah seperangkat tingkah laku yang diharapkan oleh orang lain terhadap seseorang sesuai kedudukannya dalam suatu system. Peran dipengaruhi oleh keadaan sosial baik dari dalam maupun dari luar dan bersifat stabil. Peran adalah bentuk dari perilaku yang diharapkan dari seseorang pada situasi sosial tertentu, Pemberi Asuhan Keperawatan, Pembuat Keputusan Klinis, Pelindung dan Advokat Klien, Manager Kasus, Rehabilitator, Pemberi Kenyamanan, Komunikator, Penyuluh, kolaborator, Edukator, Konsultan, Pembaharu.

     Dalam mengatasi demam salah satu tindakan keperawatan adalah kompres hangat. Dalam hal ini termasuk peran perawat manager kasus dan pemberi asuhan keperawatan. Selain itu juga dalam mengajarkan kompres hangat dengan tekhnik tepid sponge merupakan salah satu peran perawat sebagai penyuluh.

     Dari uraian di atas maka kami dari kelompok manajemen anak ingin mengangkat analisis jurnal tentang efektivitas kompres hangat (tepid sponge) terhadap penurunan suhu tubuh.

 

B.  TUJUAN

1.  Tujuan umum

Mempelajari tentang tindakan keperawatan yang up to date berdasarkan epidemologi masalah.

2.  Tujuan khusus

a.  Mahasiswa mampu mengetahui manfaat kompres hangat tekhnik sponge.

b.  Mahasiswa mampu mengetahui tindakan keperawatan tentang penurunan suhu tubuh.


C.  MANFAAT

1.  Teoritis

Diharapkan mahasiswa mengerti tentang kompres hangat dengan tekhnik tepid sponge.

2.  Praktisi

Diharapkan perawat di ruang Anak RSUD Gerun mengaplikasikan kompres hangat (tekhnik tepid sponge)


 

BAB II

TINJAUAN TEORI

A.  Konsep suhu tubuh

1.  Pengertian

     Suhu tubuh merupakan panas yang dihasilkan oleh tubuh dan diatur oleh suatu pusat di dalam hipotalamus dari otak. Pusat ini bereaksi terhadap darah yang melaluinya. Bila diukur di dalam mulut atau anus, suhu yang terbaca menunjukkan “suhu tengah” dari tubuh, yaitu suhu dariorgan – organ rongga dada dan rongga perut serta dari otak. Suhu mulutnormal berkisar antara 36,0°-37,5°C, suhu rektal/anus sedikit lebih tinggi. Suhu yang terbaca di ketiak dan lipat paha sedikit lebih rendah (Ignatavicius, 2002).

     Suhu adalah besaran yang menyatakan derajat panas dingin suatu benda dan alat yang digunakan untuk mengukur suhu adalah thermometer. Dalam kehidupan sehari-hari masyarakat untuk mengukur suhu cenderung menggunakan indera peraba. Tetapi dengan adanya perkembangan teknologi maka diciptakanlah termometer untuk mengukur suhu dengan valid. Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk perpindahan maupun gerakan di tempat berupa getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun benda, makin tinggi suhu benda tersebut. Suhu juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer. Empat macam termometer yang paling dikenal adalah Celsius, Reamur, Fahrenheit dan Kelvin. Manusia dan binatang menyusui mempunyai kemampuan untuk memelihara suhu tubuh relative konstan dan berlawanan dengan suhu lingkungan. Kepentingan dipertahankan suhu tubuh pada manusia adalah berhubungan dengan reaksi kimia didalam tubuh kita. Misalnya kenaikan suhu 10 derajat Celcius bisa mempercepat proses biologis 2-3 kalinya. Suhu inti (core temperature) manusia berfluktuasi +1 derajat Celcius dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya paling rendah adalah pada waktu pagi hari (jam 4-6 subuh) dan mencapai puncaknya pada sore hari (jam 2-3 sore).

     Suhu tubuh adalah perbedaan antara jumlah panas yang dproduksi oleh proses tubuh dan jumlah panas yang hilang ke lingkungan luar.adapun tempat pengukuran suhu tubuh:suhu inti yaitu suhu jaringan dalam relatif konstan seperti rektum, membran timpani, esofagus, arteri pulmoner, kandung kemiih dan suhu permukaan seperti kulit, aksila, oral. Rasa suhu mempunyai dua submodalitas yaitu rasa dingin dan rasa panas. Reseptor dingin/panas berfungsi mengindrai rasa panas dan refleks pengaturan suhu tubuh. Reseptor ini dibantu oleh reseptor yang terdapat di dalam system syaraf pusat.

     Dengan pengukuran waktu reaksi, dapat dinyatakan bahwa kecepatan hantar untuk rasa dingin lebih cepat dibandingkan dengan kecepatan hantaran rasa panas.Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh.

     Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point). Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk melakukan serangkaian mekanisme untuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap. Dengan anestesi blok rasa dingin/panas dapat diblok sehingga objektif maupun subjektif rasa dingin dan panas dapat dipisah yaitu:

a.  Rasa suhu kulit yang tetap (rasa suhu static). Bila seseorang berendam di air hangat maka mula-mula rasa hangat akan dialami oleh orang tersebut. Lama-kelamaan rasa hangat tidak lagi dirasakan dan kalau ia keluar dari air dan masuk kembali maka ia akan merasakan hangat kembali. Hal ini terjadi karena suhu tubuh beradaptasi secara penuh terhadap suhu kulit yang baru. Adaptasi penuh ini terjadi pada uhu netral (suhu nyaman). Rasa hangat yang mantap akan dirasakan bila suhu berada di atas 36C dan rasa dingin dirasakan pada suhu 17C.

b.  Rasa suhu kulit yang berubah (rasa suhu dinamik). Pada pengindraan suhu kulit yang berubah tiga parameter tertentu. Suhu awal kulit, kecepatan perubahan suhu dan luas kulit yang terpapar tehadap rangsangan suhu. Pada suhu kulit yang rendah, ambang rasa hangat tinggi sedangkan untuk rasa dingin rendah. Bila suhu meninkat ambang rasa hangat menurun dan ambang rasa dingin meningkat. Kecepatan perubahan suhu berpengaruh terhadap timbulnya rasa panas/dingin. Luasnya daerah kulit yang terpapar juga berpengaruh pada rasa timbulnya panas/dingin.

c.  Titik rasa dingin dan panas. Pada permukaan kulit bagian-bagian yang peka terhadap rangsangan dingin dan panas terlokasi pada titik-titik tertentu. Kepadatan titik-titik rasa suhu lebih rendah dibandingkan dengan titik rasa raba/tekan. Titik rasa dingin lebih banyak dibandingkan dengan titik rasa panas. Kulit wajah daerah yang paling peka terhadap rasa suhu. Kepadatan titik-titik rasa dingin paling tinggi.

d.  Sifat-sifat reseptor suhu:

1)  Selalu mengeluarkan impuls pada suhu kulit yang konstan frekuensinya bergantung pada suhu kulit itu sendiri.

2)  Pada penurunan/peningkatan suhu akan terjadi perubahan frekuensi impuls.

3)  Tidak peka terhadap rangsangan lain.

4)  Ambang rangsang sesuai dengan kepekaan rasa suhu manusia terhadap rangsang suhu dikulit.

5)  Mempunyai daerah reseptif yang sempit, setiap serat eferen mensarafi satu atau beberapa titik rasa suhu saja.

2.  Macam–macam suhu tubuh

     Macam-macam suhu tubuh menurut (Tamsuri Anas 2007):

a.   Hipotermi, bila suhu tubuh kurang dari 36°C

b.   Normal, bila suhu tubuh berkisar antara 36–37,5°C

c.   Febris/pireksia, bila suhu tubuh antara 37,5–40°C

d.   Hipertermi, bila suhu tubuh lebih dari 40°C

     Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti (core temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, seperti kranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37°C).

     Selain itu, ada suhu permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 20°C sampai 40°C.

3.  Fisiologi Suhu Tubuh

     Berdasarkan distribusi suhu di dalam tubuh, dikenal suhu inti(core temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada jaringan dalam, sepertikranial, toraks, rongga abdomen, dan rongga pelvis. Suhu ini biasanya dipertahankan relatif konstan (sekitar 37°C). selain itu, ada suhu permukaan (surface temperatur), yaitu suhu yang terdapat pada kulit, jaringan sub kutan, dan lemak. Suhu ini biasanya dapat berfluktuasi sebesar 20°C sampai 40°C (Corwin, 2001).

a.  Reseptor panas dan dingin terletak dalam kulit. Saat suhu tubuh meningkat, hypothalamus mengirimkan sinyal saraf menuju kelenjar keringat dan menyebakan pelepasan air sekitar 1-2 liter perjam untuk mendinginkan tubuh.

b.  Hipothalamus juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah di kulit membuat lebih banyak darah mengalir ke area tersebut dan menebabkan panas terlepas dari permukaan kulit.

c.  Saat suhu tubuh menurun, kelenjar keringat mengkerut dan produksi keringat berkurang. Jika suhu tubuh terus menerus berkurang, tubuh akan menjaga thermiogenesis, dengan cara meningkatkan laju metabolisme dan dengan menggigil.

d.  Kehilangan air lewat kulit berlangsung dalam dua cara, penguapan dan berkeringat.

4.  Penghasil Suhu Tubuh

a.  Laju metabolisme basal (basal metabolisme rate, BMR) di semuasel tubuh.

b.  Laju cadangan metabolisme yang disebabkan aktivitas otot(termasuk kontraksi otot akibat menggigil).

c.  Metabolisme tambahan akibat pengaruh hormon tiroksin dansebagian kecil hormon lain, misalnya hormon pertumbuhan (growthhormone dan testosteron).

d.  Metabolisme tambahan akibat pengaruh epineprine, norepineprine,dan rangsangan simpatis pada sel.

e.  Metabolisme tambahan akibat peningkatan aktivitas kimiawi didalam sel itu sendiri terutama bila temperatur menurun.

5.  Sistem Pengaturan Suhu Tubuh

     Tubuh manusia merupakan organ yang mampu menghasilkan panas secara mandiri dan tidak tergantung pada suhu lingkungan. Tubuh manusia memiliki seperangkat sistem yang memungkinkan tubuh menghasilkan, mendistribusikan, dan mempertahankan suhu tubuh dalam keadaan konstan. Panas yang dihasilkan tubuh sebenarnya merupakan produk tambahan proses metabolisme yang utama (Corwin, 2001). Suhu tubuh manusia cenderung berfluktuasi setiap saat. Banyak faktor yang dapat menyebabkan fluktuasi suhu tubuh. Untuk mempertahankan suhu tubuh manusia dalam keadaan konstan, diperlukan regulasi suhu tubuh. Suhu tubuh manusia diatur dengan mekanisme umpan balik (feed back) yang diperankan oleh pusat pengaturan suhu di hipotalamus. Apabila pusat temperatur hipotalamus mendeteksi suhu tubuh yang terlalu panas, tubuh akan melakukan mekanisme umpan balik. Mekanisme umpan balik ini terjadi bila suhu inti tubuh telah melewati batas toleransi tubuh untuk mempertahankan suhu, yang disebut titik tetap (set point).

     Titik tetap tubuh dipertahankan agar suhu tubuh inti konstan pada 37°C. Apabila suhu tubuh meningkat lebih dari titik tetap, hipotalamus akan merangsang untuk melakukan serangkaian mekanismeuntuk mempertahankan suhu dengan cara menurunkan produksi panas dan meningkatkan pengeluaran panas sehingga suhu kembali pada titik tetap (Smletzer, 2002).

     Proses kehilangan panas melalui kulit dimungkinkan karena panas diedarkan melalui pembuluh darah dan juga disuplai langsung ke fleksus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran dalam fleksus arteriovenosa yang cukup tinggi (kadang mencapai 30% total curah jantung) akan menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien. Dengan demikian, kulit merupakan radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh. Di samping itu di dalam kulit juga terdapat reseptor berbagai macam sensasi, sati di antaranya oleh termoreseptor. Bagaimana kulit berperan sebagai pengatur suhu, dapat dijelaskan sebagai berikut. Bila tubuh merasa panas, ada kecendrungan tubuh meningkatkan kehilangan panas ke lingkungan; bila tubuh merasa dingin, maka kecendrungannya menurunkan kehilangan panas. Jumlah panas yang hilang ke lingkungan melalui radiasi dan konduksi–konveksi sangat di tentukan oleh perbadaan suhu antara kilit dan lingkungan eksterna.

     Bagian pusat tubuh merupakan ruang yang memiliki suhu yang di jaga tetap sekitar 37 derajat C. Mengelilingi pusat tubuh adalah lapisan kulit dimana terjadi pertukaran panas antara tubuh dan lingkungan luar. Dalam usaha memelihara kekonstanan suhu pusat tubuh, kapasitas insulatif dan suhu kulit dapat di atur ke berbagai gradient suhu antara kulit dan lingkungan eksterna, dengan cara demikian mempengaruhi tingkat kehilangan panas. Kapasitas insulatif kulit dapat di ubah-ubah dengan mengontrol jumlah darah yang mengalir melalui kulit. Darah yang mengalir ke kulit melayani 2 fungsi. Pertama, menyediakan pasok makanan ke kulit. Kedua, karena darah di pompa ke kulit dari jantung, maka darah membawa panas dari pusat tubuh ke kulit. Aliran darah ke kulit terutama berfungsi meregulasi suhu. Pada suhu kamar yang normal, 20-30 lebih darah mengalir melalui kulit untuk keperluan nutrisi.

     Pada proses termoregulasi, aliran darah kulit dapat sangat berubah-ubah, dari 400 ml sampai 2.500 ml/menit. Lebih banyak darah mencapai kulit dari pusat tubuh yang panas, maka suhu kulit lebih dekat ke suhu pusat. Pembuluh darah kutaneus menghadapi keefektivan kulit sebagai suatu insulator dengan membawa panas ke permukaan, dimana suhu ini dapat hilang dari tubuh melalui radiasi dan konduksi–konveksi. Jadi, vasodilatasi pembuluh darah kulit, yang memungkinkan peningkatan peningkatan aliran darah panas ke kulit, akan meningkatkan kehilangan panas. Sebaliknya vasokontriksi pembuluh darah kulit mengurangi aliran darah ke kulit, dengan demikian menjaga suhu pusat tubuh konstan,dimana darah diinsulasi dari lingkungan eksternal, jadi menurunkan kehilangan panas. Bagaimanapun, kulit bukan merupakan insulator yang sempurna, Bahkan dengan vasokonstriksi yang maksimum. Meskipun aliran darah ke kulit minimal, sebagian panas tetap di transfer melalui konduksi dari organ lebih dalam ke permukaan kulit dan kemudian di lepaskan dari kulit ke lingkungan.

     Respon-respon vasomotor kulit ini dikoordinasi oleh hipotalamus melalui jalur system saraf simpatik. Aktifitas simpatik yang di tingkatkan ke pembuluh kutaneus menghasilkan penghematan panas vasokonstiksi untuk merespon suhu dingin,sedangkan penurunan aktivitas simpatetik menghasilkan kehilangan panas vasodilatasi pembuluh darah kulit sebagai respon terhadap suhu panas. Kulit sebagai organ pengatur panas. Suhu tubuh seseorang adalah tetap, meskipun terjadi perubahan suhu lingkungan. Hal ini dipertahankan karena penyesuaian antara panas yang hilang dan panas yang dihasilkan, yang diatur oleh pusat pengatur panas. Pusat ini segera menyadari bila ada perubahan pada panas tubuh, karena suhu darah yang mengalir melalui medulla oblongata. Suhu normal (sebelah dalam) tubuh, yaitu suhu visera dan otak adalah 36-37C. Suhu kulit sedikit lebih rendah. Persyarafan vaso-motortik mengendalikan anterior kutan dengan 2 cara, yaitu vaso-dilatasi dan vaso-kontriksi. Pada vaso-dilatasi anteriol memekar, kulit menjadi lebih panas, dan kelebihan panas cepat terpancar dan hilang, dan juga hilang karena kelenjar keringat bertambah aktif, dan karena itu terjadi penguapan cairan dari permukaan tubuh. Pada vaso-kontriksi pembuluh darah dalam kulit mengerut, kulit menjadi pucat dan dingin, keringat hampir dihentikan, dan hilangnya panas dibatasi. Dengan pengendalian ini pelepasan panas ditambah atau dikurangi sesuai kebutuhan tubuh. Kulit adalah organ utama yang berurusan dengan.

     Panas dilepas oleh kulit dengan berbagai cara yaitu:

a.  Dengan penguapan, jumlah keringat yang dibuat tergantung dari banyaknya darah yang mengalir melalui pembuluh darah kulit.

b.  Dengan pemancaran, panas yang dilepas ke udara sekitarnya.

c.  Dengan konduksi, panas dialihkan ke benda yang disentuh, seperti pakaian.

d.  Dengan konveksi (pengaliran) karena mengalirnya udara yang telah panas, maka udara yang menyentuh permukaan tubuh diganti dengan udara yang lebih dingin.

     Cara mendinginkan tubuh yang terlampau panas, baik dengan membiarkan udara mengalir menyentuh kulit dengan cara mengipas, mengusap badan, atau merendam kedalam air dingin.

6.  Mekanisme Kehilangan Panas Melalui Kulit

a.  Radiasi

        Radiasi adalah mekanisme kehilangan panas tubuh dalam bentuk gelombang panas inframerah. Gelombang inframerah yang dipancarkan dari tubuh memiliki panjang gelombang 5–20 mikrometer. Tubuh manusia memancarkan gelombang panas ke segala penjuru tubuh. Radiasi merupakan mekanisme kehilangan panas paling besar pada kulit (60%) atau 15% seluruh mekanisme kehilangan panas. Panas adalah energi kinetic pada gerakan molekul. Sebagian besar energi pada gerakan ini dapat di pindahkan ke udara bila suhu udara lebih dingin dari kulit.

        Sekali suhu udara bersentuhan dengan kulit, suhu udara menjadi sama dan tidak terjadi lagi pertukaran panas, yang terjadi hanya proses pergerakan udara sehingga udara baru yang suhunya lebih dingin dari suhu tubuh.

b.  Konduksi
        Konduksi adalah perpindahan panas akibat paparan langsung kulit dengan benda-benda yang ada di sekitar tubuh. Biasanya proses kehilangan panas dengan mekanisme konduksi sangat kecil. Sentuhan dengan benda umumnya memberi dampak kehilangan suhu yang kecil karena dua mekanisme, yaitu kecenderungan tubuh untuk terpapar langsung dengan benda relative jauh lebih kecil dari pada paparan dengan udara, dan sifat isolator benda menyebabkan proses perpindahan panas tidak dapat terjadi secara efektif terus menerus.

c.  Evaporasi
        Evaporasi (penguapan air dari kulit) dapat memfasilitasi perpindahan panas tubuh. Setiap satu gram air yang mengalami evaporasi akan menyebabkan kehilangan panas tubuh sebesar 0,58 kilokalori. Pada kondisi individu tidak berkeringat, mekanisme evaporasi berlangsung sekitar 450–600 ml/hari. Hal ini menyebabkan kehilangan panas terus menerus dengan kecepatan 12–16 kalori per jam. Evaporasi ini tidak dapat dikendalikan karena evaporasi terjadi akibat difusi molekul air secara terus menerus melalui kulit dan system pernafasan.

d.  Konveksi
        Perpindahan panas dengan perantaraan gerakan molekul, gas atau cairan. Misalnya pada waktu dingin udara yang diikat/dilekat pada tubuh akan menjadi dipanaskan (dengan melalui konduksi dan radiasi) kurang padat, naik dan diganti udara yang lebih dingin. Biasanya ini kurang berperan dalam pertukaran panas.


 

B.  Konsep Kompres Hangat

1.  Pengertian

     Kompres hangat adalah memberikan rasa hangat pada daerah tertentu dengan menggunakan cairan atau alat yang menimbulkan hangat pada bagian tubuh yang memerlukan. Tindakan ini selain untuk melancarkan sirkulasi darah juga untuk menghilangkan rasa sakit, merangsang peristaltic usus, pengeluaran getah radang menjadi lancar, serta memberikan ketenangan dan kesenangan pada klien. Pemberian kompres dilakukan pada radang persendian, kekejangan otot, perut kembung, dan kedinginan.

2.  Tujuan Kompres Hangat

Kompres Hangat

a.  Memperlancar sirkulasi darah

b.  Menurunkan suhu tubuh

c.  Mengurangi rasa sakit

d.  Memberi rasa hangat,nyaman dan tenang pada klien

e.  Memperlancar pengeluaran eksudat

f.  Merangsang peristaltik usus

3.  Pengaruh Kompres Hangat

     Efek dari kompres hangat untuk meningklatkan aliran darah ke bagian yang terinjuri. Pemberian kompres hangat yang berkelanjutan berbahaya terhadap sel epitel, menyebabkan kemerahan, kelemahan local, dan bisa terjadi kelepuhan. Kompres hangat diberikan satu jam atau lebih.

4.  Metode Kompres hangat

     kompres menggunakan air hangat didasarkan bahwa kompres dengan menggunakan air dingin itu sebenarnya tidak begitu efektif menurunkan panas. Karena kontak dengan air dingin maka pembuluh darah yang kontak dengan kain kompres dingin akan menyempit (vasokonstriksi) sehingga menyulitkan pengeluaran panas. Pusat pengatur suhu menerima informasi bahwa suhu tubuh sedang berada dalam kondisi hangat, maka suhu tubuh butuh untuk segera diturunkan. Apalagi, saat demam kita memang merasa kedinginan meskipun tubuh kita justru mengalami peningkatan suhu. Kompres air hangat memiliki beberapa keuntungan, disamping membantu mengurangi rasa dingin, air hangat juga menjadikan tubuh terasa lebih nyaman. Memperbaiki sirkulasi.

Perlengkapan

a.  Botol kantong air panas

1)  Botol air panas dengan tutupnya

2)  Sarung botol

3)  Air panas dan sebuah termometer

b.  Bantalan pemanas elektrik

1)  Bantalan elektrik dan pengontrolnya

2)  Sarung (gunakan bahan yang kedap air jika kemungkinan bagian bawah bantalan akan menjadi lembap)

3)  Pengikat kasa (pilihan)

c.  Bantalan akutermia

1)  Bantalan

2)  Air suling

3)  Unit pengontrol

4)  Sarung

5)  Pengikat plasa atau plaster

d.  Kemasan pemanasan disposabel

  Satu atau dua buah kemasan pemanas disposabel yang telah dipersiapkan secara komersial

Pelaksanaan

a.  Jelaskan kepada klien apa yang akan anda lakukan, mengapa hal tersebut perlu dilakukan, dan bagaimana klien dapat bekerja sama. Diskusikan bagaimana hasilnya akan digunakan untuk merencanakan perawatan atau terapi selajutnya.

b.  Cuci tangan dan observasi prosedur pengendalian infeksi yang tepat

c.  Berikan privasi klien

d.  Berikan kompres panas

Memberikan Kompres Panas

a.   Bayi/anak

Suhu air dalam botol air panas harus 40,5-46oC untuk anak-anak kurang dari 2 tahun.

b.   Lansia

1)  berikan perhatian khusus saat mengkaji area yang akan diterapi dan ketika mengefaluasi efek terapi karena lensia memiliki banyak kondisi yang merupakan predisposisi terjadinya cidera pada pemberian kompres.

2)  Laporkan penyimpangan yang signifikan dari normal kepada dokter.

5.  Hal-hal yang Perlu Diperhatikan dalam Memberikan Hangat

a.  Jangan letakan kantong air hangat di bagian tubuh yang telanjang, lapisi kantong dengan kain flanel atau handuk.

b.  Kantong air hangat yang diletakkan diatas bagian badan tertentu hanya boleh terisi sepertiganya untuk menghindari berat yang tidak diperlukan.

c.  Pada penggunaan kompres hangat yang berlangsung lama, jangan lupa memeriksa kulit penderita.

d.  kompres hangat tidak diberikan di kepala karena dapat menyebabkan pembuluh darah di area tersebut mengalami dilatasi dan menyebabkan sakit kepala.

e.  Kompres hangat tidak boleh diberikan di perut jika mengalami radang/infeksi usus buntu.

C.  Kompres Hangat Teknik Tepid Sponge

1.  Pengertian Kompres Hangat Teknik Tepid Sponge

    Tepid sponge adalah sebuah teknik kompres hangat yang menggabungkan teknik kompres blok pada pembuluh darah besar superficial dengan teknik seka. Telah di uji di berbagai negara dimana di setiap publikasi riset menghasilkan kesimpulan yang bervariasi. Namun fakta menunjukkan bahwa pemberian acetaminophen yang diiringi dengan pemberian hydrotheraphy Tepid Sponge memiliki keunggulan dalam mempercepat penurunan suhu anak dengan demam pada satu jam pertama dibandingkan dengan anak yang hanya diberi acetaminophen saja (Wilson, 1995).

    Temperatur tubuh yang mencapia 39 o C akan mengakibatkan kulit hangat, kemerahan, dan nyeri kepala. Pemilihan tepid sponge sebagai terapi dapat menurunkan suhu dan mengurangi ansietas yang diakibatkan oleh penyakitnya (Janis, 2010).

2.  Tujuan Tepid Sponge

Tujuan Utama dari tepid sponge adalah menurunkan suhu klien khususnya pada anak dengan demam.

3.  Manfaat Tepid Sponge

Menurut Janis (2010) manfaat dari pemberian tepid sponge adalah menurunkan suhu tubuh yang sedang mengalami demam, memberikan rasa nyaman, mengurangi nyeri dan ansietas yang diakibatkan oleh penyakit yang mendasari demam. Tepid sponge juga sangat bermanfaat pada anak yang memiliki riwayat kejang demam dan penyakit liver (Wilson, 1995)

4.  Teknik tepid sponge

a.  Persiapan

1)  Handuk/saputangan

2)  Selimut

3)  Baju mandi (jika ada)

4)  Perlak

5)  Handschoen

6)  Thermometer

7)  Mangkuk atau bak berisi air hangat

b.  Pelaksanaan

1)   Mengkaji kondisi klien

2)   Menjelaskan prosedur yang akan dilaksanakan kepada klien

3)   Membawa peralatan ke dekat klien

4)   Mencuci tangan

5)   Menutup pintu dan jendela sebelum memulai prosedur

6)   Mengatur posisi klien senyaman mungkin

7)   Menempatkan perlak dibawah klien

8)   Memakai sarung tangan

9)   Membuka pakaian klien dengan hati-hati

10) Mengisi bak dengan air hangat. Suhu air 28-32 o C (Alves et all., 2008).

11) Memasukkan handuk/saputangan ke dalam bak.

12) Memeras handuk/ saputangan dan menempatkan handuk/saputangan di dahi, ketiak, dan selangkangan.

13) Mengusap bagian ekstremitas klien selama lima menit. Kemudian bagian punggung klien selama 5-10 menit)

14) Memonitor respon klien

15) Mengganti pakaian klien dengan pakaian yang tipis dan menyerap keringat

16) Mengganti sprei (bila memungkinkan) dan memindahkan perlak dan alat-alat yang dipakai

17) Mendokumentasikan tindakan


 

BAB III

JURNAL

1.  HASIL PENELITIAN

     Adapun beberapa penelitian yang berkaitan dengan tepid sponge yaitu:

a.  Berdasarkan penelitian Djuwariyah (2012), yang berjudul efektivitas penurunan suhu tubuh menggunakan kompres air hangat dan kompres plester pada anak dengan demam di ruang kanthil Rumah sakit umum daerah banyumas menyimpulkan bahwa rata-rata penurunan suhu tubuh sebelum diberikan kompres air hangat adalah 38,39 terjadi penurunan setelah diberikan kompres air hangat yaitu menjadi 37,68 (dengan selisih sebesar 0,71). Setelah dilakukan perhitungan menggunakan uji t-paired diperoleh t hitung 17,99 dan p value 0,0001 (p value < 0,05), maka dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan suhu tubuh sebelum dan sesudah diberikan kompres air hangat. Setelah dilakukan perhitungan menggunakan uji t-paired diperoleh t hitung 2,21 (p value 0,035). Karena nilai p jauh lebih kecil dari 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat penurunan suhu tubuh sebelum dan sesudah diberikan kompres plester. Penurunan suhu tubuh yang lebih efektif adalah kompres air hangat dibaandingkan kompres plester.

b.  Penelitian Mohammad Ali Hamid 2011 yang berjudul keektifan kompres Tepid Sponge yang dilakukan ibu dalam menurunkan demam pada anak, mangatakan ada pengaruh signifikan hasil dari penelitiannya dengan hasil penelitian 0,000 berarti < 0,05.

c.  Hasil penelitian Karian Indah Permatasari 2012, Perbedaan efektivitas kompres air hangat dan kompres air biasa terhadap penurunan suhu tubuh pada anak dengan demam di RSUD Tugurejo Semarang, mengatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kompres air hangat dengan kompres air biasa.

d.  Penelitian Puji Melasi 2013 yang berjudul Pengaruh tepid sponge bath dengan air hangat terhadap penurunan suhu tubuh pada anak usia todler dan prasekolah yang mengalami demam di UGD rumah sakit ibu dan anak family jakarta menyimpulkan bahwa Hasil uji t tidak berpasangan menunjukkan penurunan suhu tubuh post test I nilai pada kelompok kontrol 0.21°C (+ 0.68), kelompok intervensi 0.39 °C (+ 0.574), p value 0.086 (p > 0.05), post test II nilai pada kelompok kontrol 0.74 °C (+ 0.718), kelompok intervensi 0.89 °C (+ 0.574), p value 0.193 (p > 0.05). Penelitian ini menunjukkan tidak ada perbedaan yang bermakna dalam penurunan suhu tubuh antara kelompok intervensi maupun kelompok kontrol, tetapi ada kecenderungan bahwa pemberian antipiretik yang disertai tepid sponge bath mengalami penurunan suhu tubuh yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian antipiretik saja.

e.  Penelitian yang dilakukan oleh Ns Sri Haryani S.kep pengaruh kompres Tepid Sponge hangat terhadap penurunan suhu tubuh pada anak 1-10 tahun dengan hipertermia, mendapatkan hasil bahwa menggunakan terapi tepid sponge dapat mengatasi hipertermia tanpa menggunakan farmakologi.


 

BAB IV

PEMBAHASAN

A.  Pembahasan Hasil jurnal

1.  Kompres air hangat efektif dalam menurunkan suhu tubuh pada anak karena infeksi. Hal ini dikarenakan bahwa Kompres air hangat mempengaruhi suhu tubuh dengan cara memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi), memberi tambahan nutrisi dan oksigen untuk sel dan membuang sampah-sampah tubuh, meningkatkan suplai darah ke area-area tubuh, mempercepat penyembuhan dan dapat menyejukkan. Selain itu, pemberian kompres hangat akan memberikan sinyal ke hipotalamus melalui sumsum tulang belakang. Ketika reseptor yang peka terhadap panas di hipotalamus dirangsang, system efektor mengeluarkan sinyal yang memulai berkeringat dan vasodilatasi perifer. Perubahan ukuran pembuluh darah diatur oleh pusat vasomotor pada medulla oblongata pada tangkai otak, di bawah pengaruh hipotalamik bagian anterior sehingga terjadi vasodilatasi. Terjadinya vasodilatasi ini menyebabkan pembuangan atau kehilangan energy atau panas melalui kulit meningkat (berkeringat), diharapkan akan terjadi penurunan suhu tubuh sehingga mencapai keadaan normal kembali. Menurut ikatan dokter anak Indonesia, tubuh dapat melepaskan panas melalui empat cara yaitu radiasi, konveksi atau konduksi. Secara umum, enam puluh persen panas dilepas secara radiasi, yaitu transfer dari permukaan kulit melalui permukaan luar dengan gelombang electromagnet. Seper emat bagian lainnya dilepas melalui penguapan dari kulit dan paru, dalam bentuk air yang diubah dari bentuk cair menjadi gas, 243 kj (58kkal) dilepaskan untuk setiap 100 mL air. Konveksi adalah pemindahan panas melalui penggerakan udara atau cairan yang menyelimuti permukaan kulit, sedangkan konduksi adalah pemindahan panas antara dua objek secara langsung pada suhu berbeda. Pada kompres air hangat ini merupakan pelepasan panas melalui penguapan dari kulit. Susunan saraf pusat sebagai pengatur suhu tubuh yaitu dari daerah spesifik IL-1 preoptik dan hipotalamus anterior, yang mengandung sekelompok saraf termosentif yang berlokasi di dinding rostral ventrikel III, disebut juga sebagai korpus kalosum lamina terminalis (OVTL) yaitu batas antara sirkulasi dan otak. Saraf termosensitif ini terpengaruhi oleh daerah yang dialiri darah dan masukan dari reseptor kulit dan otot. Saraf sensitive terhadap hangat terpengaruhi dan meningkat dengan penghangatan atau penurunan dingin, sedang saraf sensitive terhadap dingin meningkat dengan pendinginan atau penurunan dengan penghangatan. Hasil akhir mekanisme kompleks ini adalah peningkatan thermostatic set point yang akan member isyarat serabut saraf eferen, terutama serabut simpatis untuk memulai menahan panas (vasokontriksi) dan produksi panas (menggigil). Peningkatan set point kembali normal apabila terjadi penurunan konsentrasi IL-1 atau pemberian intervensi seperti kompres air hangat, dimana kompres air hangat ini menggunakan air hangat-hangat kuku yaitu dengan cara mengompres seluruh bagian tubuh anak. Prostaglandin E2 diketahui mempengaruhi secara negative feed back dalam pelepasan IL-1, sehingga mengakhiri mekanisme yang awalnya diinduksi demam. Vasopresin (AVP) bereaksi dalam susunan saraf pusat untuk mengurangi pyrogen induced fevers. Kembalinya suhu menjadi normal diawali oleh vasodilatasi dan berkeringat melalui peningkatan aliran darah kulit yang dikendalikan serabut simpatis.

     Sedangkan Efektifitas Kompres Plester dilakukan dengan cara menempelkan plester dibagian tubuh tertentu, seperti dahi, ketiak dan lipatan paha. Hal ini dikarenakan pada daerah tersebut merupakan daerah yang mempunyai pembuluh-pembuluh darah besar. Kompres plester membantu pembuluh darah tepi di kulit melebar hingga pori-pori jadi terbuka yang selanjutnya memudahkan pengeluaran panas dari dalam tubuh, sehingga tubuh dapat mengalami penurunan suhu tubuh. Plester kompres siap pakai yang banyak terdapat di apotek. Plester kompres ini dibuat dari bahan hydrogel on polyacrylate-basis dengan kandungan paraben dan mentol yang diformulasikan sehingga mampu mempercepat proses pemindahan panas dari tubuh ke plester kompres. Paraben adalah serbuk kristal putih, yang mudah larut dalam methanol, ethanol dan sulit larut dalam air yang mempunyai sifat antibakteri. Kompres plester merupakan kompres yang sederhana menunjukkan bahwa adanya penurunan suhu pada anak dengan demam. Akan tetapi lebih efektif kompres hangat. Menurut peneliti hal tersebut dikarenakan kompres air hangat mempunyai fungsi untuk memperlebar pembuluh darah (vasodilatasi), member tambahan nutrisi dan oksigen untuk sel, membantu meningkatkan suplai darah ke area-area tubuh, sehingga dapat menurunkan suhu tubuh. Salah satu hasil penelitian menyebutkan bahwa, efek teknik pemberian kompres air hangat pada daearh dahi terhadap penurunan suhu tubuh. Peneliti menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil penurunan berdasarkan cara dan letak pengkompresan.

2.  Tepid sponge sangat mempengaruhi penurunan suhu dikarenakan tekhnik ini mengompres ke bagian tubuh tertentu, hal ini sangat mempengaruhi pelebaran pembuluh darah yang bisa mempengaruhi penurunan suhu tubuh.

3.  Dalam pemberian kompres hangat pada aksila sebagai daerah letak pembuluh darah besar merupakan upaya memberikan rangsangan pada area preoptik hipotalamus agar menurunkan suhu tubuh. Sinyal hangat yang dibawa oleh darah ini menuju hipotalamus akan merangsang area preoptik mengakibatkan pengeluaran sinyal oleh sistem efektor. Sinyal ini akan menyebabkan terjadinya pengeluaran panas tubuh yang lebih melalui dua mekanisme yaitu dilatasi pembuluh darah perifer dan berkeringat (Potter dan Perry,2005). Hal ini sesuai dengan tekhnik tepid sponge yang dimana melakukan dengan tekhnik blok dengan seka. Tekhik ini menggunakan kompres blok tidak hanya di satu tempat saja, melainkan langsung dibeberapa tempat yang memiliki pembuluh darah besar. Selain itu masih ada perlakuan tambahan yaitu dengan memberikan seka di beberapa area tubuh sehingga perlakuan yang terapkan terhadap klien pada tekhnik ini akan semakin komplek dan rumit dibandingkan dengan tehnik yang lain. Namun dengan kompres blok langsung diberbagai tempat ini akan menfasilitas penyampaian sinyal ke hipotalamus dengan lebih gencar.  Selain itu pemberian seka akan mempercepat pelebaran pembuluh darah perifer akan menfasilitasi perpindahan panas dari tubuh kelingkungan sekitar yang akan semakin memperecepat penurunan suhu tubuh (Reiga, 2010).

4.  Febris adalah suatu keadaan dimana individu mengalami atau beresiko mengalami peningkatan suhu tubuh secara terus menerus di atas 37,8oc karena faktor eksternal (Copernito, 2009). Dalam hal ini kompres hangat diperlukan karena reseptor panas dan dingin terletak dalam kulit. Saat suhu tubuh meningkat, hypothalamus mengirimkan sinyal saraf menuju kelenjar keringat dan menyebakan pelepasan air sekitar 1-2 liter perjam untuk mendinginkan tubuh. Selain itu juga hipothalamus juga menyebabkan pelebaran pembuluh darah di kulit membuat lebih banyak darah mengalir ke area tersebut dan menebabkan panas terlepas dari permukaan kulit. Sehingga mempercepat proses evaporasi dan konduksi yang pada akhirnya dapat menurunkan suhu tubuh.

     Sedangkan untuk kompres air biasa, bahwa air dingin dalam kompres dapat menimbulkan efek mengigil pada pasien. Hal ini dingin dari air kompres tersebut menghambat rangsangan vasodilatasi sehingga memperlambat proses evaporasi dan konduksi yang pada akhirnya memperlambat menurunkan suhu tubuh.

5.  Usia sangat mempengaruhi metabolisme tubuh akibat mekanisme hormonal sehingga memberi efek tidak langsung terhadap suhu tubuh. Pada neonatus dan bayi, terdapat mekanisme pembentukan panas melalui pemecahan (metabolisme) lemak coklat sehingga terjadi proses termogenesis tanpa menggigil (Soedarmo, 2008).  Dalam hal ini tekhnik tepid sponge sangat tepat digunakan untuk usia neonatus dan bayi, hal ini dikarenakan tekhnik ini dilakukan dengan cara mengompres ke seluruh tubuh. Dengan demikian turunnya suhu terjadi lewat panas tubuh yang digunakan untuk menguapkan air pada kain kompres, karena air hangat membantu darah tepi di kulit melebar sehngga pori-pori menjadi terbuka yang selanjutnya memudahkan pengeluaran panas dari dalam tubuh. Selain itu juga suhu di luar yang hangat, maka tubuh akan menganggap suhu di luar cukup panas yang membuat tubuh bereaksi menurunkan suhu (Perry 1990). Dari hasil penelitian memang tidak ada perbedaan yang signifikan karena obat antipiretik langsung ke pusat sistem hipotalamus.


 

BAB V

PENUTUP

A.  KESIMPULAN

1.  Hasil dari analisis jurnal dapat kami simpulkan bahwa kompres hangat dengan tekhnik tepid sponge efektif dalam penurunan suhu tubuh pada anak.

2.  Menurut Janis (2010) manfaat dari pemberian tepid sponge adalah menurunkan suhu tubuh yang sedang mengalami demam, memberikan rasa nyaman, mengurangi nyeri dan ansietas yang diakibatkan oleh penyakit yang mendasari demam. Tepid sponge juga sangat bermanfaat pada anak yang memiliki riwayat kejang demam dan penyakit liver (Wilson, 1995).

3.  Salah satu tindakan keperawatan yang menurunkan demam adalah kompres hangat tekhnik sponge.   

B.  SARAN

1. Teoritis

Mahasiswa mampu mengetahui tentang manfaat tindakan keperawatan yang up to date.

2. Untuk praktisi

Di harapkan untuk rumah sakit, khususnya ruang anak RSUD Gerung untuk melakukan tindakan keperawatan (kompres hangat tekhnik tepid sponge) untuk menurunkan  suhu tubuh pada anak.

No comments:

Post a Comment

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...