LAPORAN PENDAHULUAN
BATU SALURAN KEMIH
A. SISTEM PERKEMIHAN
Sistem kemih terdiri dari organ pembentuk air kemih dan struktur-struktur yang menyalurkan air kemih dari ginjal ke seluruh tubuh. Ginjal adalah sepasang organ berbentuk kacang yang terletak di belakang rongga abdomen, satu di setiap sisi kolumna vertebralis sedikit di atas garis pinggang. Setiap ginjal dialiri darah oleh arteri renalis dan vena renalis. Ginjal mengolah plasma yang mengalir ke dalamnya untuk menghasilkan air kemih, menahan bahan-bahan tertentu dan mengeliminasi bahan-bahan yang tidak diperlukan ke dalam air kemih. Setelah terbentuk air kemih akan mengalir ke sebuah rongga pengumpul sentral, pelvis ginjal yang terletak pada bagian dalam sisi medial di pusat (inti) kedua ginjal. Dari pelvis ginjal, air kemih kemudian disalurkan ke dalam ureter, sebuah duktus berdinding otot polos yang keluar dari batas medial dekat dengan pangkal (bagian proksimal) arteri dan vena renalis. Terdapat dua ureter yang menyalurkan air kemih dari setiap ginjal ke sebuah kandung kemih. Kandung kemih adalah sebuah kantong rongga yang dapat direnggangkan dan volumenya disesuaikan dengan mengubah-ubah status kontraktil otot polos di dindingnya dan menyimpan air kemih secara temporer. Secara berkala, air kemih dikosongkan dari kandung kemih keluar tubuh melalui saluran uretra. Uretra pada wanita berbentuk lurus dan pendek. Uretra pria jauh lebih panjang dan melengkung dari kandung kemih ke luar tubuh, melewati kelanjar prostat dan penis (Lina, Nur.2008).
Organ pada saluran kemih
Ginjal adalah organ yang berfungsi sebagai penyaring darah yang terletak di belakang dinding abdomen, terbenam dalam gumpalan lemak yang melindunginya. Ginjal terdiri dari dua bagian kanan dan kiri. Ureter merupakan saluran kecil yang menghubungkan antara ginjal dengan kandung kemih (vesica urinaria). Kandung kemih merupakan kantong muscular yang bagian dalamnya dilapisi oleh membran mukosa dan terletak di depan organ pelvis lainnya sebagai tempat menampung air kemih yang dibuang dari ginjal melalui ureter sebagai hasil buangan penyaringan darah. Saluran kemih (uretra) merupakan saluran dari vesica urinaria menuju keluar. Pada wanita panjangnya 3-4 cm sedangkan pada pria lebih panjang dan merupakan bagian organ reproduksi31. Fungsi ginjal salah satunya ditujukan untuk mempertahankan homeostasis terutama berperan dalam mempertahankan stabilitas volume dan komposisi elektrolit cairan ekstrasel (CES). Dengan menyesuaikan jumlah air dan berbagai konstituen plasma yang akan disimpan di dalam tubuh atau dikeluarkan melalui air kemih. Ginjal mampu mempertahankan stabilitas volume dan komposisi elektrolit di dalam rentang yang sangat sempit,
cocok bagi kehidupan walupun pemasukan dan pengeluaran konstituen-konstituen tersebut melalui jalan lain sangat bervariasi. Jika terdapat kelebihan air atau elektrolit tertentu di CES misalnya garam (NaCl), ginjal dapat mengeliminasi kelebihan tersebut dalam air kemih. Jika terjadi kekurangan sebenarnya tidak dapat memberi tambahan konstituen yang kurang tersebut melalui air kemih sehingga dapat menyimpan lebih banyak zat tersebut yang didapat dari makanan. Contoh utama adalah defisit H2O, walaupun seseorang tidak mengkonsumsi H2O, ginjal harus menghasilkan 1 liter H2O dalam air kemih
setiap hari untuk melaksanakan fungsi penting lain sebagai pembersih tubuh. Selain berperan penting dalam mengekskresikan keseimbangan cairan dan elektrolit, ginjal juga merupakan jalan penting untuk mengeluarkan berbagai zat sisa metabolik yang toksik dan senyawa-senyawa asing di dalam tubuh. Zat-zat itu tidak dapat dikeluarkan dalam bentuk padat, harus diekskresikan dalam bentuk cairan sehingga ginjal minimal harus menghasilkan 500 ml air kemih berisi zat sisa per hari.
Fungsi ginjal spesifik ditujukan untuk mampertahankan kestabilan
lingkungan cairan eksternal(CES).
Mempertahankan keseimbangan air dalam tubuh.
Mengatur jumlah dan konsentrasi sebagian besar ion cairan ekstra sel termasuk Na, Cl, K, HCO3, Ca, Mg, SO4, PO4 dan H. Fluktuasi konsentrasi sebagian elektrolit ini dalam CES dapat menimbulkan pengaruh besar.
Memelihara volume plasma yang sesuai yang berperan dalam pengaturan panjang jangka panjang tekanan darah arteri. Fungsi ini dilaksanakan melalui peran ginjal sebagai pengatur keseimbangan garam dan air.
Membantu memelihara kaseimbangan asam basa tubuh dengan mengeluarkan H dan HCO3 melalui air kemih.
Memelihara osmolaritas (konsentrasi zat terlarut berbagai cairan tubuh).
Mengekskresikan dan mengeliminasi produk-produk sisa (buangan) metabolisme tubuh, misalnya urea, asam urat, kreatinin. Jika dibiarkan menumpuk zat-zat tersebut bersifat toksik, terutama bagi otak.
Mengekskresikan banyak senyawa asing misalnya obat, bahan tambahan pada makanan, pestisida, dan bahan-bahan eksogen non nutrisi lainnya yang berhasil masuk ke tubuh.
Mengekskresikan eritropoetin, suatu hormon yang dapat merangsang pembentukan sel darah merah.
Mengekskresikan renin, suatu hormon enzimatik yang memicu reaksi berantai yang penting dalam proses konservasi garam oleh ginjal.
Mengubah vitamin D menjadi bentuk aktifnya
Gangguan fungsi ginjal akibat BSK pada dasarnya akibat obstruksi dan
infeksi sekunder. Obstruksi menyebabkan perubahan strukstur dan fungsi pada
traktus urinarius dan dapat berakibat disfungsi atau insufisiensi ginjal akibat
kerusakan dari paremkim ginjal
B. PENGERTIAN
Batu Saluran Kemih (BSK) adalah penyakit dimana didapatkan material keras seperti batu yang terbentuk di sepanjang saluran kemih baik saluran kemih atas (ginjal dan ureter) dan saluran kemih bawah (buli-buli dan uretra) yang dapat menyebabkan nyeri, perdarahan, penyumbatan aliran kemih dan infeksi. Batu ini bisa terbentuk di dalam ginjal (batu ginjal) maupun di dalam buli-buli (batu buli- buli). Batu ini terbentuk dari pengendapan garam kalsium, magnesium, asam urat dan sistein (Chang, 2009 dalam Mira, 2014).
Penyakit batu saluran kemih yang selanjutnya disingkat BSK adalah
terbentuknya batu yang disebabkan oleh pengendapan substansi yang terdapat
dalam air kemih yang jumlahnya berlebihan atau karena faktor lain yang
mempengaruhi daya larut substansi. (Lina, Nur. 2008)
C. ETIOLOGI
1. Faktor intrinsik
Adalah faktor yang berasal dari dalam individu itu sendiri. Yaitu umur, jenis kelamin, genetik dan kelainan anatomis tubuh,
Umur atau usia : semua kelompok usia mungkin mengalami penyakit ini, penyakit ini ,lebih banyak ditemukan pada kelompok usia produktif hal ini mungkin terjadi karena gaya hidup sangat mempengaruhi kelompok usia pada masa ini.
Jenis kelamin : yang lebih sering mengalami batu saluran kemih adalah laki-laki. Batu saluran kemih empat kali lebih banyak dialami oleh laki-laki bila dibandingkan dengan perempuan kecuali pada batu struvit, lebih sering dialami oleh perempuan. Batu saluran kemih terbentuk pada laki-laki dengan usia sekitar 20-70 tahun dengan seseorang dan keluarga yang memiliki penyakit batu.
Genetik : dapat menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi terjadinya batu saluran kemih pada seseorang, seseorang yang memiliki riwayat keluarga dengan batu ginjal, memiliki resiko 5,346 kali mengalami penyakit yang sama.
Sedangkan kelainan anatomis dapat menyebabkan penyakit batu saluran kemih karena dapat mempengaruhi proses eliminasi dan pembuatan urin.
2. Faktor ekstrinsik
Kondisi geografis, iklim dan cuaca memepengaruhi terbentuknya batu saluran kemih, iklim dan cuaca yang panas menyebabkan tubuh lebih banyak mengeluarkan keringat bila dibandingkan dengan urin. Jika seseorang berkeringat berat terutama dalam kondisi cuaca yang panas dan tidak mengkonsumsi cairan yang cukup maka ia meningkatkan resiko mengalami penyakit batu.
Asupan air menjadi salah satu yang penting karena mempengaruhi kekentalan urin serta pelarutan zat-zat dalam tubuh
Diet mempengaruhi terjadinya batu saluran kemih karena kelebihan zat dalam tubuh akan dibuang dalam urin sehingga mempengaruhi kekentalan urin, diet yang dapat menyebabkan pembentukan batu saluran kemih yaitu diet tinggi protein, tinggi kalsium, tinggi purin, dan tinggi oksalat.
Faktor selanjutnya adalah penggunaan obat-obatan dan jamu. Obat-obatan yang dapat mempengaruhi batu saluran kemih adalah obat yang mengandung tinggi kalsium, tinggi oksalatdan lain-lain, contohnya antasida dosis tinggi atau suplemen tinggi kalsium.
Faktor aktivitas dan pekerjaan mempengaruhi pembentukan batu saluran kemih karena sedikitnya pergerakan sesorang dapat menyebabkan statisnya urin sehingga zat-zat didalam urin memiliki kemungkinan untuk mengendap.
Infeksi saluran kemih biasanya menghasilkan batu struvit , selain itu faktor ini lebih banyak terjadi pada wanita bila dibandingkan dengan laki-laki,.
D. JENIS BATU SALURAN KEMIH
Batu Kalsium
Batu kalsium yang dapat terbentuk dalam saluran kemih ada dua macam, yaitu batu kalsium oksalat dan batu kalsium phospat. Batu kalsium oksalat lebih banyak ditemukan pada pasien bila dibandingkan dengan batu kalsium phospat. Batu kalsium oksalat terbentuk akibat tingginya kadar kalsium dan oksalat yang diekskresikan di dalam urin. Sedangkan batu kalsium phospat terbentuk karena kombinasi dan tingginya kadar kalsium alkali atau asam dalam urin sehingga menyebabkan pH urin meningkat.
Batu Asam Urat
Batu jenis ini, terjadi pada seseorang dengan kadar asam uratnya tinggi. Batu ini terbentuk pada 10 % dari klien dengan batu ginjal. Diet tinggi purin dan protein hewan adalah salah satu penyebab terjadinya batu jenis ini, batu ini dapat membuat batu asam urat sendiri ataupun dengan kalsium.
Batu struvit
Batu struvit adalah jenis batu yang terbentuk akibat infeksi dalam saluran kemih. Batu struvit lebih banyak terjadi pada wanita bila dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini mungkin terjadi karena uretra wanita lebih pendek bila dibandingkan dengan pria sehingga wanita lebih rentan mengalami infeksi saluran kemih.
Batu cystine
Batu cystine adalah batu yang terbentuk akibat penyakit genetik. Penyakit genetik ini menyebabkan ginjal menghasilkan cystine di dalam urin. Terdapatnya cystine di dalam urin memungkinkan terjadnya batu jenis ini terutama jika cystine yang terbentuk terakumulasi.
Batu staghorn
Adalah batu ginjal yang menempati lebih dari satu collecting system, yaitu batu pielum yang berekstensi ke satu atau lebih kaliks. Istilah batu staghorn parsial di gunakan jika batu menempati sebagian cabang collecting system, sedangkan istilah batu staghorn komplit di gunakan jika batu menempati seluruh collecting system. Komposisi tersering batu cetak ginjal adalah kombinasi magnesium amonium fosfat dan kalsium karbonat
E. MANIFESTASI KLINIS
Gejala-gejala BSK menurut Lina, Nur. 2008 antara lain:
1. Nyeri
BSK bagian atas seringkali menyebabkan nyeri karena turunnya BSK ke ureter yang sempit. Kolik ginjal dan nyeri ginjal adalah dua tipe nyeri yang berasal dari ginjal. BSK pada kaliks dapat menyebabkan obstruksi, sehingga memberikan gejala kolik ginjal, sedangkan BSK non obstruktif hanya memberikan gejala nyeri periodik. Batu pada pelvis renalis dengan diameter lebih dari 1 cm umumnya menyebabkan obstruksi pada uretropelvic juction sehingga menyebabkan nyeri pada tulang belakang. Nyeri tersebut akan dijalarkan sepanjang perjalanan ureter dan testis. Pada BSK ureter bagian tengah akan dijalarkan di daerah perut bagian bawah, sedangkan pada BSK distal, nyeri dijalarkan ke suprapubis vulva (pada wanita) dan skrotum pada (pria).
2. Hematuria
Pada penderita BSK seringkali terjadi hematuria (air kemih berwarna seperti air teh) terutama pada obstruksi ureter.
Infeksi
BSK jenis apapun seringkali berhubungan dengan infeksi sekunder akibat obstruksi dan stasis di proksimal dari sumbatan. Keadaan yang cukup berat terjadi apabila terjadi pus yang berlanjut menjadi fistula renokutan.
3. Demam
Adanya demam yang berhubungan dengan BSK merupakan kasus darurat karena dapat menyebabkan urosepsis.
Mual dan muntah
Obstruksi saluran kemih bagian atas seringkali menyebabkan mual dan muntah,
dapat juga disebabkan oleh uremia sekunder
Sedangkan menurut Buntaram, Muthia Arsll.2015, gejala yang terlihat pada pasien batu saluran kemih yaitu seperti nyeri yang hebat pada daerah ginjal yang nantinya akan beradiasi ke daerah lain. Selain itu juga terdapat hematuria, demam, takikardia, hipotensi, mual dan muntah.
F. PATOFISIOLOGI
Secara pasti etiologi batu saluran kemih belum diketahui dan sampai sekarang banyak teori dan faktor yang berpengaruh untuk terjadinya batu saluran kemih, yaitu:
1. Teori Fisiko-Kimiawi
Hal yang melatarbelakangi terbentuknya BSK ini adalah karena adanya terbentuknya proses kimia, fisika maupun gabungan fisiko kimiawi
2. Teori Supersaturasi
Supersaturasi air kemih dengan garam-garamnya pembentuk batu merupakan dasar terpenting dan merupakan syarat terjadinya pengendapan. Apabila kelarutan suatu produk tinggi dibandingkan titik endapannya maka terjadi supersaturasi sehingga menimbulkan terbentuknya kristal dan pada akhirnya akan terbentuk batu
3. Teori nukleasi
Nidus atau nucleus yang terbentuk, akan menjadi inti presipitasi yang kemudian terjadi. Zat atau keadaan yang dapat bersifat sebagai nidus adalah ulserasi mukosa, gumpalan darah, tumpukan sel epitel, pus, bakteri, jaringan nekrotik iskemi yang berasal dari neoplasma atau infeksi dan benda asing
4. Teori tidak adanya inhibitor
Supersaturasi kalsium, oksalat dan asam urat dalam urin dipengaruhi oleh adanya inhibitor kristalisasi. Magnesium, sitrat dan 3 pirofosfat telah diketahui dapat menghambat nukleasi spontan kristal kalsium. Beberapa jenis glikosaminoglikans, seperti khondroitin sulfat dapat menghambat pertumbuhan kristal kalsium yang telah terbentuk sebelumnya. Zat lain yang mempunyai peranan inhibitor antara lain : asam ribonukleat, asam amino terutama alanin, sulfat, fluoride dan seng
5. Teori epitaksi
Epitaksi adalah peristiwa pengendapan suatu kristal di atas permukaan kristal lain
Teori Kombinasi
BSK dapat terbentuk berdasarkan campuran dari beberapa teori yang ada.
6. Teori Infeksi
Teori terbentuknya BSK juga dapat terjadi karena adanya infeksi dari kuman tertentu
Teori terbentuknya batu struvit
Batu struvit disebut juga batu infeksi mempunyai komposisi magnesium amonium fosfat. Terjadinya batu jenis ini dipengaruhi pH air kemih ≥7,2 dan terdapat amonium dalam air kemih, misalnya terdapat bakteri pemecah urea (urea splitting bacteria). Bakteri penghasil urease sebagian besar gram negatif yaitu golongan Proteus,
Klebsiela, Providensia dan Pseudomonas. Ada juga bakteri gram positif yaitu Stafilokokus, Mikrokokus dan Corinebakterium serta golongan mikoplasma, seperti T strain mikoplasma dan Ureaplasma urelithikum
7. Teori nano bacteria
Nano bakteria merupakan bakteri terkecil dengan diameter 50- 200 nanometer yang hidup dalam darah, ginjal dan air kemih. Dinding sel bakteri ini mengeras membentuk cangkang kalsium (karbonat apatit). Kristal karbonat apatit ini akan mengadakan agregasi dan membentuk inti batu
8. Teori vaskuler
Pada penderita batu saluran kemih sering didapat adanya penyakit hipertensi dan kadar kolesterol darah yang tinggi
Hipertensi
Pada penderita hipertensi 83% mempunyai perkapuran ginjal sedangkan pada orang yang tidak hipertensi yang mempunyai perkapuran ginjal sebanyak 52%. Hal ini disebabkan aliran darah pada papilla ginjal berbelok 1800 dan aliran darah berubah dari aliran laminer menjadi turbulensi. Pada penderita hipertensi aliran turbulen ini berakibat pengendapan ion-ion kalsium papilla
Kolesterol
Adanya kadar kolesterol yang tinggi dalam darah akan disekresi melalui glomerulus ginjal dan tercampur didalam air kemih. Adanya butiran kolesterol tersebut akan merangsang agregasi dengan kristal kalsium oksalat dan kalsium fosfat sehingga terbentuk batu
G. WOC
H. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Urinalisa
Warna kuning, coklat atau gelap warna : normal kekuning- kuningan , abnormal merah menunjukkan hematuria ( kemungkinan obstruksi urine, kalkulus renalis, tumor, kegagalan ginjal)
Laboratorium
Darah lengkap : Hb, Ht abnormal bila pasien dehidrasi berat atau polisitemia
Hormon parathyroid mungkin menngkat bila ada gagal ginjal ( PTH merangsang reasorbsi kalsium dari tulang )
Foto KUB ( Kidney Ureter Bladder )
Menunjukkan ukuran ginjal, ureter dan bladder serta menunjukkan adanya batu disekitar saluran kemih
Endoskopi ginjal
Menentukan pelvis ginjal, dan untuk mengeluarkan batu yang kecil
USG Urologi
Untuk menentukan perubahan obstruksi dan lokasi batu
EKG (Elektrokardiografi)
Menunjukkan ketidakseimbangan cairan, asam basa dan elektrolit
Foto rontgen/BOF
Menunjukkan adanya batu di dalam kandung kemih yang abnormal menunjukkan adanya kalkuli atau perubahan anatomic pada area ginjal dan sepanjang ureter.
Nyeri ketok
Nyeri ketok CVA kiri (+), nyeri pada saat perkusi pemeriksaan fisik abdomen pada area costo vertebra angel.
I. PENATALAKSANAAN
Tujuan utama adalah untuk menyingkirkan batu, menetukan jenis batu, mencegah penghancuran nefron, mengontrol infeksi, dan mengatasi obstruksi yang mungkin terjadi
Terapi farmakologis dan nutrisi
Agens analgesik opioid ( untuk mencegah syok dan sinkope) dan obat-obatan anti inflamasi nonsteroid (NSAID)
Contoh : Tolmetin, Aspirin, ibuprofen.
Peningkatan asupan cairan untuk membantu pengeluaran batu, kecuali pasien mengalami muntah, pasien dengan batu ginjal harus minum delapan samapai sepuluh gelas air setiap hari atau resepkan cairan IV untuk menjaga urine tetap encer
Untuk batu kalsium : kurangi protein diet dan asupan natrium; asupan cairan bebas ( tidak dibatasi ); medikasi untuk mengasamkan urine, seperti ammonim klorida dan diuretik tiazid jika produksi parathormon meningkat.
Untuk batu urat ; diet rendah purin dan protein terbatas; allopurinol (Zyloprim)
Untuk batu sistin ; diet rendah protein ; alkalinisasi urine ; peningkatan cairan
Untuk batu oksalat; encerkan urine; pembatasan asupan oksalat ( bayam, straubery, cokelat, teh, kacang)
Penatalaksanaan medis menurut Mira, 2014 yaitu:
Medikamentosa Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang berukuran lebih kecil yaitu dengan diameter kurang dari 5 mm, karena diharapkan batu dapat keluar tanpa intervensi medis. Analgesik dapat diberikan untuk meredakan nyeri dan mengusahakan agar batu dapat keluar sendiri secara spontan .
ESWL (Extracorporeal Shockwave Lithotripsy) Merupakan tindakan non-invasif dan tanpa pembiusan, pada tindakan ini digunakan gelombang kejut eksternal yang dialirkan melalui tubuh untuk memecah batu.
Endourologi Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan BSK yang terdiri atas memecah batu, dan kemudian mengeluarkannya dari saluran kemih melalui alat yang dimasukan langsung kedalam saluran kemih. Alat tersebut dimasukan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit.
Tindakan Operasi Penanganan BSK, biasanya terlebih dahulu diusahakan untuk mengeluarkan batu secara spontan tanpa pembedahan/operasi. Tindakan bedah dilakukan jika batu tidak merespon terhadap bentuk penanganan lainnya. Nama dari tindakan pembedahan tersebut tergantung dari lokasi dimana batu berada
J. KOMPLIKASI
Batu saluran kemih selain memicu terjadinya renal colic, ada beberapa komplikasi yang perlu diwaspadai ialah :
Sumbatan : akibat pecahan batu
Infeksi : akibat desiminasi partikel batu ginjal atau bakteri akibat obstruksi
Kerusakan fungsi ginjal : akibat sumbatan yang lama sebelum pengobatan dan pengangkatan batu ginjal.
CKD (Cronic Kidney Disease) : terjadi karena fungsi ginjal tidak bekerja dengan baik, sehingga darah tidak di absorbsi dan urine tidak dapat keluar maka terjadi penumpukan cairan.
K. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
Anamnase:
Identitas : meliputi nama, umur, alamat pasien.
Keluhan Utama : keluhan yang paling dirasakan
Riwayat Penyakit Dahulu : pasien pernah menderita penmyakit yang sama
Riwayat Penyakit Sekarang : perjalanan penyakit dari keluhan utama sampai pasien dirawat dirumah sakit
Riwayat Penyakit Keluarga : keluarga mungkin menderita sakit seperti yang di derita pasien.
Pemeriksaan fisik menunjukkan :
Nyeri batu dalam pelvis ginjal menyebabkan nyeri pekak dan konstan
Mual dan muntah serta kemungkinan diare
Perubahan warna urin atau pola berkemih contoh ; urine keruh dan bau menyengat bila infeksi terjadi
Gambaran hasil pemeriksaan fisik
Pengkajian
Aktivitas atau istirahat
Pekerjaan monoton
Pekerjaan dimana pasien terpajan pada lingkungan bersuhu tinggi
Keterbatasan aktivitas atau mobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya (penyakit tak sembuh, cedera medulla spinalis)
Sirkulasi
Peningkatan Tekanan darah, nadi
Kulit kemerahan dan hangat, pucat
Eliminasi
Riwayat adanya ISK kronis, obstruksi sebelumnya ( kalkulus )
Penurunan haluaran urine, kandung kemih penuh
Rasa terbakar, dorongan berkemih
Diare
Olisuria, hematuria, priuria
Perubahan pola berkemih
Makanan atau cairan
Mual, muntah
Nyeri tekan abdomen
Diet tinggi purin kalsium oksalat dan fosfat
Ketidakcukupan pemasukan cairan tidak minum air dengan cukup
Distensi abdominal, penurunan, tak adanya bising usus, muntah
Nyeri dan ketidaknyamanan
Episode akut, nyeri berat, nyeri kolik, lokasi tergantung pada lokasi batu, contoh pada panggul di rgion sudut kostovertebral dapat menyebar ke punggung, abdomn turun ke lipat paha atau genetalia
Nyeri dapat digambarkan
sebagai akut hebat, tidak hilang dengan posisi atau tindakan lain
PEMERIKSAAN FISIK HEAD TOE TOE
Kepala
Bentuk kepala, adakah kelainan, uraikan bentuk rambut seperti hitam, pendek, lurus, alopsia
Mata
Kesimetrisan : simetris kiri dan kanan
Konjungtiva : adakah tanda tanda anemis,
Sklera : ikterik, atau tidak
Mulut dan gigi
Rongga mulut : kotor atau tidak
Lidah kotor atau tidak
Adakah karies gigi atau karang gigi
Thoraks dan jantung
I :Bentuk dada normal atau tidak, adakah lesi, adakah tanda – tanda retraksi dada, kesimterisan ekspansi dada
P: Adakah nyeri tekan
P: Bunyi normal atau tidak
A: Adakah bunyi nafas tambahan
Jantung :
I :bentuk, ictus cordis nampak atau tidak, adakah lesi atau tidak,
P: adakah nyeri tekan, ictus cordis teraba atau tidak
P: normal atau tidak
A: normal atau tidak, adakah bunyi mur mur atau galop
Abdomen
I: bentuk, adanya pembesaran pada abdomen bawah bagian belakang
A:suara bising usus
P: akan taraba masa bila keadaan sudah lanjut
P: Timpani
Genetalia
Observasi adanya lesi, eritema, fisura,
Adakah nyeri tekan atau massa
Rectum dan anus
I: adakah hemoroid, lesi, kemerahan
P :adakah nyeri tekan atau massa
Kulit dan integumen
Amati adanya perubahan dan pengurangan pigmentasi,pucat, kemerahan, sianosis, lesi kulit ikterik
L. POLA FUNGSI KESEHATAN
Pola persepsi dan penanganan kesehatan
Klien biasanya tinggal pada lingkungan dengan temperatur panas dan lingkungan dengan kadar mineral kalsium yang tinggi pada air. Terdapat riwayat penggunaan alkohol, obat-obatan seperti antibiotik, antihipertensi, natrium bikarbonat, alopurinol dan sebagainya.aktifitas olahraga biasanya tidak pernah diakukan.
Pola nutrisi dan metabolisme
adanya asupan dengan diet tinggi purin, kalsium oksalat dan fosfat. Terdapat juga ketidakcukupan intake cairan. Klien BSK dapat mengalami mual muntah, nyeri tekan abdomen
Pola eliminasi
Pada klien BSK terdapat riwayat adanya ISK kronis, adanya obstruksi sebelumnya sehingga dapat mengalami penurunan haluaran urin, kandung kemih terasa penuh, rasa terbakar saat berkemih, sering berkemih dan adanya diare
Pola istirahat-tidur
Klien BSK dapat mengalami gangguan pola tidur apabila nyeri timbul pada malam hari atau saat istirahat
Pola aktivitas
Adanya riwayat keterbatasan aktifitas, pekerjaan monoton ataupun immobilisasi sehubungan dengan kondisi sebelumnya.
Pola hubungan dan peran
di dapatkan riwayat klien tentang peran dalam keluarga dan masyarakat, interaksi dengan keluarga dan orang lain serta hubungan kerja, adakah perubahan atau gangguan.
Pola persepsi dan konsep diri
Klien dapat melaporkan adanya perasaan gugup atau kecemasan yang dirasakan sebagai akibat kurangnya pengetahuan tentang kondisi, diagnosa dan tindakan atau operasi
Pola kognitif-peseptual
Di dapatkan adanya keluhan nyeri, nyeri dapat akut ataupun kolik tergantung lokasi batu,
Pola reproduksi seksual
Dikaji tentang pengetahuan fungsi seksual, adakah perubahan dalam hubungan seksual karena perubahan kondisi yang dialami
Pola koping dan penanganan stress
Dikaji tentang mekanisme klien terhadap stress, penyebab stress yang mungkin diketahui, bagaimana mengambil keputusan
Pola tata nilai dan kepercayaan
Bagaimana praktek religius klien, dengan apa klien mendapatkan sumber kekuatan atau makna.
M. DAFTAR DIAGNOSA KEPERAWATAN
Nyeri akut
Gangguan Eliminsi Urine
Retensi urine
Resti Kekurangan Volume Cairan
Ketidakseimbangan Nutrisi Kurang dari keubutuhan tubuh
Intoleransi Aktivitas
Defisiensi Pengetahuan
Ansietas
N. INTERVENSI KEPERAWATAN
Nyeri Akut :
Definisi: pengalaman sensori dan emosi yang tidak menyenangkan akibat adanya kerusakan jaringan yang aktual atau potensial, atau digambarkan dengan istilah seperti (International Association for the Study of Pain).
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam nyeri klien teratasi
KriteriaHasil :
Memperlihatkan tekhnik relaksasi
Skala Nyeri 0
Mengenali faktor penyebab dan menggunakan tindakan untuk memodifikasi factor tersebut
Melaporkan nyeri kepada penyedia pelayanan kesehatan
Tidak mengalami gangguan dalam frekuensi pernafasan, frekuensi jantung, atau tekanan darah
Rencana Intervensi:
RENCANA INTERVENSI :
Manajemen nyeri
Lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meiputi lokasi, karakteristik, awitan, durasi, frekuensi, kualitas,
Observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan
Observasi tanda – tanda vital
Minta pasien untuk menilai nyeri atau ketidaknyamanan pada skala 0-10
Berikan informasi kepada klien dan keluarga tentang penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung, dan antisipasi ketidaknyamanan akibat procedure
Lakukan Kolaborasi dengan dokter pemberian analgesik sesuai indikasi dan dosis.
RASIONAL :
Mengetahui intensitas yeri yang dialami klien
Mengenali dan mengetahui tingkt nyeri yang ialami kien melalui isyarat nonverbal
Mengetahui keadaan umum klien
Mampu mengetahui dan menilai tingkat perkembangan skala nyeri yang dialami pasien
Memotivasi klien dan memberikan pengetahuan serta menambah wawasan kepada klien dan kelurga tentang konsep nyeri
Pemberian analgesik sesuai indikasi mampu mengurangi tingkat nyeri yang dialami pasien
Gangguan Eliminasi Urin
Definisi: disfungsi pada eliminasi urine
Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam masalah klien teratasi
KriteriaHasil :
Kandung kemih kosong secara penuh
Eliminasi secara mandiri
Tidak ada spasme bladder
Pengeluaran urin tanpa nyeri
Rencana Intervensi:
RENCANA INTERVENSI :
Lakukan penilaian kemih yang komprehensif berfokus pada inkontinensia ( misalnya output urin, pola berkemih)
Pantau asupan dan keluaran
Pantau tingkat distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi
Sediakan waktu yang cukup untuk pengosongan kandung kemih ( 10 menit)
Anjurkan pasien atau keluarga untuk mencatat atau merekam hasil output urin
Lakukan kolaborasi devngan dokter pemasangan selang kateter sesuai indikasi
RASIONAL :
Mengetahui tingkat pengeluaran urine pda pasien
Mengetahui tingkat perkembangan asupan dan pengeluaran serta mampu untuk membandingkan keduanya
Merasakan adanya urin dan seberapa banyak berada dalam kandung kemih
memeberikan kesempatan kandung kemih untuk rangsang kemih
Mengetahui jumlah urin yang keluar
Memepermudah pasien dalm proses pengeluaran urin atau berkemih
Kekurangan Volume Cairan
Definisi: penurunan cairan intravaskuler, interstisial, atau intrasel. Diagnosa ini merujuk pada dehidrasi yang merupakan kehilangan cairan saja tanpa perubahan kadar natrium.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 kekurangan volume cairan klien terpenuhi
KriteriaHasil :
Memiliki konsentrasi urin yang normal
Menampilkan hidrasi yang baik
Memiliki asupan cairan oral/intravena yang adekuat
Tidak menampilkan haus yang tidak normal
Memiliki keseimbangan asupan dan haluaran yang seimbang dalam 24 jam
Rencana Intervensi:
RENCANA INTERVENSI :
Pertahankan keakuratan catatan asupan dan haluaran.
Identifikasi kemungkinan penyebab ketidakseimbangan elektrolit.
Pantau status hidrasi ( membran mukus, tekanan ortostatik, keadekuatan denyut nadi ).
Ajarkan keluarga tentang cara memantau asupan dan haluaran.
Berikan terapi intravena sesuai program
RASIONAL :
Mempermudah dalam observasi
mengetahui penyebab untuk menentukan intervensi penyelesaian.
mengetahui keadaan umum pasien
mengurangi risiko kekurangan voume cairan semakin bertambah.
Mengurangi kekurangan cairan
O. REFERENSI
Brunner dan Sudart. 2015. Keperawatan Medikal Bedah edisi 12. Jakarta: EGC
Huda Amin. 2015. Aplikasi Asuhan Keperawatan Bedasarkan Diagnosa Medis dan Nanda NIC-NOC. Yogyakarta: Mediaction
Lina, Nur.2008.Faktor-Faktor Risiko Kejadian Batu Saluran Kemih Pada Laki-Laki.Semarang:UNDIP
Mira.2014.Hubungan Batu Saluran Kemih Dengan Penyakit Ginjal Kronik Di Rumah Sakit An-Nur Yogyakarta Periode Tahun 2012-2013.Surakarta:UNMUH
Ratu, G dan Hardjoeno, Badji.2013. Profil Analisis Batu Saluran Kemih Di Laboratorium Patologi Klinik
Wilkinson Judith. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan edisi 9 NANDA NIC-NOC. Jakarta: EGC
No comments:
Post a Comment