LAPORAN
PENDAHULUAN
CVA ICH
A. Definisi
Stroke adalah
disfungsi neurologis yang umum dan timbul secara mendadak sebagai akibat dari
adanya gangguan suplai darah ke otak dengan tanda dan gejala sesuai dengan daerah
otak yang terganggu (WHO, 1989).
Stroke atau
penyakit serebrovaskular mengacu pada setiap gangguan neurologik mendadak yang
terjadi akibat pembatasan atau terhentinya aliran darah melalui sistem suplai
arteri otak ( Sylvia A. Price, 2006 )
Stroke merupakan penyakit peredarah darah otak yang diakibatkan oleh
tersumbatnya aliran darah ke otak atau pecahnya pembuluh darah di otak,
sehingga suplai darah ke otak berkurang (Smltzer & Bare, 2005).
Stroke
hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh
perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena
trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan
kapiler. (Djoenaidi Widjaja et. al, 1994)
Stroke
hemoragik yaitu suatu kerusakan pembuluh darah otak sehingga menyebabkan
perdarahan pada area tersebut. Hal ini menyebabkan gangguan fungsi saraf (Haryono, 2002)
Stroke
hemoragik terjadi karena salah satu pembuluh darah di otak (aneurisma,
mikroaneurisma, kelainan pembuluh darah kongenital) pecah atau robek. Keadan
penderita stroke hemoragik umumnya lebih parah. Kesadaran umumnya
menurun.Mereka berada dalam keadaan somnolen, osmnolen, spoor, atau koma pada
fase akut.
Stroke
hemoragik adalah disfungsi neurologi fokal yang akut dan disebabkan oleh
perdarahan primer substansi otak yang terjadi secara spontan bukan oleh karena
trauma kapitis, disebabkan oleh karena pecahnya pembuluh arteri, vena dan
kapiler (Widjaja, 1994).
Stroke perdarahan intraserebral atau
perdarahan intraserebral primer adalah suatu sindroma yang ditandai adanya
perdarahan spontan ke dalam substansi otak (Gilroy, 2000).
B. Epidemiologi
Perdarahan intraserebral dua kali lebih banyak
dibanding perdarahan subarakhnoid (PSA) dan lebih berpotensi menyebabkan
kematian atau disabilitas dibanding infark serebri atau PSA (Broderick dkk,
1999). Sekitar 10% kasus stroke disebabkan oleh PIS. Sumber data dari Stroke
Data Bank (SDB), (Caplan, 2000) menyebutkan bahwa setidaknya 1 dari 10 kasus
stroke disebabkan oleh perdarahan parenkim otak. Populasi dimana frekuensi
hipertensinya tinggi, seperti Amerika-Afrika dan orang-orang Cina, Jepang dan keturunan Thai, memiliki
frekuensi yang tinggi terjadinya PIS.
Angka
kejadiannya berkisar antara 12-15 per 100.000 penduduk per tahun dan lebih
sering dijumpai pada laki-laki, usia tua, dan orang Asia Afrika. Dalam suatu
studi populasi yang dilakukan pada 1.041 penderita PIS, 50% pendarahan terjadi
di subkortikal dalam, 35% di substansia alba (lobar), 10% di serebelum, dan 6%
di batang otak. Angka kematian PIS dalam 30 hari setelah serangan stroke
mencapai 35-52%. Dari jumlah ini, setengah
diantaranya meninggal dalam dua hari pertama setelah serangan stroke. Sekitar
40% kasus PIS disertai pendarahan intraventrikular. Keadaan ini mengakibatkan
hidrosefalus akut, peningkatan TIK, serta peningkatan mortalitas dan kecacatan.
Perdarahan
intraserebral dapat terjadi pada rentang umur yang lebar, dapat terjadi pada
dekade tujuh puluh, delapan puluh dan sembilan puluh. Walaupun persentase
tertinggi kasus stroke pada usia dibawah 40 tahun adalah kasus perdarahan, PIS
sering juga terjadi pada usia yang lebih lanjut. Usia lanjut dan hipertensi
merupakan faktor resiko paling penting dalam PIS. Perdarahan intraserebral
terjadi sedikit lebih sering pada pria dibanding wanita dan lebih sering pada
usia muda dan setengah-baya pada ras kulit hitam dibanding kulit putih di usia
yang sama (Broderick, 1999).
C. Etiologi
1. Perdarahan
serebri
Stroke PIS
(perdarahan intra serebri) biasanya terjadi pada saat seseorang sedang aktif
bekerja. PIS dapat mengganggu fungsi motorik volunter karena perdarahannya
biasanya terjadi di arteri dalam (arteri cerebri) yang berdekatan dengan
ganglia basalis dan kapsula interna. Gangguan yang terjadi pada PIS
biasanya adalah paralisis dan kerusakan korteks motorik.
Beberapa penyebab Perdarahaan Intra
Serebrum (PIS):
a. Perdarahan intracerebrum hipertensif
b. Perdarahan subaraknoid (PSA)
1) Ruptura aneorisma sakular (berry)
2) Ruptura malformasi arteriovena (MAV)
3) Trauma
Pardarahan
Subarakhnoid (PSA) memiliki dua kausa utama: ruptur suatu aneurisma vaskular
dan trauma kepala. Karena perdarahan dapat masif dan ekstravasi darah ke dalam
ruang subaraknoid lapisan meningen dapat berlangsung cepat. Penyebab tingginya
angka kematian ini adalah bahwa empat penyulit dapat menyebabkan iskemia otak
serta morbiditas dan mortalitas “tipe lambat” yang dapat terjadi lama setelah
perdarahan terkendali. Penyulit-penyulit tersebut adalah:
a. Vasopasme reaktif disertai infark
Sekitar 3
sampai 12 hari setelah pendarahan itu, arteri di otak dapat kontrak
(kejang), membatasi aliran darah ke otak. Kemudian jaringan otak tidak
mendapatkan oksigen yang cukup dan dapat mati seperti pada
stroke iskemik. Vasospasm dapat menyebabkan gejala mirip dengan
stroke iskemik, seperti kelemahan atau hilangnya sensasi pada satu sisi tubuh,
kesulitan menggunakan atau memahami bahasa, vertigo, dan koordinasi terganggu.
b. Ruptur ulang
Bagi pasien
yang bertahan hidup setelah perdarahan awal, ruptur ulang atau perdarahan ulang
adalah penyulit paling berbahaya pada masa pasca perdarahan dini.
c. Hiponatremia
d. Hidrosefalus
Dalam waktu
24 jam, darah dari perdarahan subarachnoid dapat membeku. Darah
beku ini dapat mengganggu aliran cairan serebrospinal yang terletak di
sekitar otak. Akibatnya,darah terakumulasi dalam otak, peningkatan tekanan
dalam tengkorak. Hydrocephalus akan menyebabkan gejala seperti sakit kepala,
mengantuk, kebingungan, mual, dan muntah-muntah dan dapat meningkatkan risiko
koma dan kematian (Sylvia A. Price dan
Wilson, 2006).
a. Penyalahgunaan kokain, amfetamin
b. Perdarahan akibat tumor otak
c. Infark hemoragik
d. Perdarahan sistemik termasuk terapi
antigulan.
2. Pecahnya
aneurisma
Biasanya
perdarahan serebri terjadi akibat aneurisme yang pecah maka penderita biasanya
masih muda dan 20% mempunyai lebih dari satu aneurisme. Dan salah satu dari
ciri khas aneurisme adalah kecendrungan mengalami perdarahan ulang (Sylvia A. Price, 1995).
3. Aterosklerosis
(trombosis)
40 % kaitannya dengan
kerusakan lokal dinding akibat anterosklerosis. Proses aterosklerosis ditandai
dengan plak berlemak pada lapisan intima arteri besar. Bagian intima arteri
serebri menjadi tipis dan berserabut, sedangkan sel-sel ototnya menghilang.
Lumina elastika interna robek dan berjumbal sehingga lumen pembuluh sebagian
berisi oleh materi sklerotik tersebut.
4. Embolisme
Embolisme serebri
termasuk urutan kedua dari penyebab utama stroke. Kebanyakan emboli serebri
berasal dari suatu trombus dalam jantung, sehingga masalah yang dihadapi
sesungguhnya merupakan perwujudan penyakit jantung, jarang terjadi berasal dari
plak ateromatosa sinus carotikus (carotisintema). Setiap batang otak dapat
mengalami embolisme tetapi biasanya embolus akan menyumbat bagian-bagian yang
sempit.
5. Penyebab
lain (dapat menimbulkan infark atau perdarahan).
· Trombosis sinus
dura
· Diseksi arteri
karotis atau vertebralis
· Vaskulitis
sistem saraf pusat
· Penyakit
moya-moya (oklusi arteri besar intrakranial yang progresif)
· Kondisi
hyperkoagulasi
· Penyalahgunaan
obat (kokain dan amfetamin)
· Kelainan
hematologis (anemia sel sabit, polisitemia atau leukemia)
· Miksoma atrium.
Faktor risiko
Faktor risiko adalah faktor yang meningkatkan
risiko untuk terjadinya suatu penyakit (Fletcher
dkk, 1992). Faktor risiko stroke dikelompokan menjadi dua, yaitu
faktor-faktor yang tidak dapat diubah dan yang dapat diubah (Bustami,
2007). Penjabaran faktor risiko tersebut sebagai berikut (Sacco dkk, 1996).
Faktor risiko stroke
yang tidak dapat dimodifikasi adalah :
|
Faktor Risiko |
Keterangan |
|
Umur |
Umur merupakan
faktor risiko yang paling kuat untuk stroke. Sekitar 30% dari stroke
terjadi sebelum usia 65; 70% terjadi pada mereka yang 65 ke atas. Risiko
stroke adalah dua kali ganda untuk setiap 10 tahun di atas 55 tahun |
|
Seks |
Pria lebih berisiko
terkena stroke dari pada wanita, tetapi penelitian menyimpulkan bahwa lebih
banyak wanita yang meninggal karena stroke. Risiko stroke pria 1,25 lebih
tinggi dan pada wanita. Tetapi serangan stroke pada pria terjadi di usia
lebih muda sehingga tingkat kelangsungan hidup lebih tinggi. Sementara,
wanita lebih berpotensi terserang stroke pada usia lanjut hingga kemungkinan
meninggal karena penyakit itu lebih besar. |
|
Keturunan, sejarah
stroke dalam keluarga |
Stroke juga terkait
dengan keturunan. Faktor genetik yang sangat berperan antara lain adalah
tekanan darah tinggi, penyakit jantung, diabetes dan cacat pada bentuk
pembuluh darah, gaya dan pola hidup keluarga dapat mendukung risiko stroke.
Cacat pada bentuk pembuluh darah (cadasil) mungkin merupakan faktor genetik
yang paling berpengaruh dibandingkan faktor risiko stroke lainnya. |
Faktor resiko stroke yang
dapat dimodifikasi adalah:
|
Faktor Risiko |
Keterangan |
|
Hipertensi |
Hipertensi merupakan
faktor risiko utama yang menyebabkan pengerasan dan penyumbatan arteri.
Penderita hipertensi memiliki faktor risiko stroke empat hingga enam kali
lipat dibandingkan orang yang bebas hipertensi. Sekitar 40-90% penderita
stroke ternyata mengidap hipertensi sebelum terkena stroke. Secara medis,
tekanan darah di atas 140—90 tergolong dalam penyakit hipertensi. Oleh karena
dampak hipertensi pada keseluruhan risiko stroke menurun seiring dengan
pertambahan umur. Pada orang berusia lanjut, faktor lain di luar hipertensi
berperan lebih besar terhadap risiko stroke. Pada seorang yang tidak
menderita hipertensi, risiko stroke meningkat terus hingga usia 90, menyamai risiko
stroke pada seorang yang menderita hipertensi. Sejumlah penelitian
menunjukkan, obat-obatan anti hipertensi dapat mengurangi risiko stroke
sebesar 38% dan pengurangan angka kematian akibat stroke sebesar 40%. |
|
Diabetes mellitus |
Setelah faktor
risiko stroke yang lain telah dikendalikan, diabetes meningkatkan risiko
stroke tromboemboli sekitar dua kali lipat hingga tiga kali lipat
berbanding orang-orang tanpa diabetes. Diabetes dapat mempengaruhi individu
untuk mendapat iskemia serebral melalui percepatan aterosklerosis pembuluh
darah yang besar, seperti arteri koronari, arteri karotid atau dengan efek
lokal pada mikrosirkulasi serebral. |
|
Penyakit jantung |
Individu dengan
penyakit jantung dari jenis apa pun memiliki lebih dari dua kali lipat risiko
stroke dibandingkan dengan mereka yang fungsi jantungnya normal. Penyakit Arteri
koroner → Indikator kuat kedua dari keberadaan penyakit difusvaskular
aterosklerotik dan potensi sumber emboli dari thrombi mural karena
Miocardiofarction. Gagal Jantung
kongestif, penyakit jantung hipertensi → Berhubungan dengan meningkatnya
kejadian stroke Fibrilasi atrial →
Sangat terkait dengan stroke emboli dan fibrilasi atrial karena penyakit
jantung rematik; meningkatkan risiko stroke sebesar 17 kali. Lainnya → Berbagai
lesi jantung lainnya telah dikaitkan dengan stroke,seperti prolaps katup
mitral, patent foramen ovale, defek septum atrium, aneurisma septum
atrium, dan lesi aterosklerotik dan trombotik dari ascending aorta. |
|
Karotis bruits |
Karotis bruits
menunjukkan peningkatan risiko kejadian stroke, meskipun risiko untuk stroke
secara umum dan tidak untuk stroke khusus dalam distribusi arteri dengan
bruit. |
|
Merokok |
Beberapa laporan,
termasuk meta-analisis angka studi menunjukkan bahwa merokok jelas
menyebabkan peningkatan risiko stroke untuk segala usia dan kedua jenis
kelamin. Tingkat risiko berhubungan dengan jumlah batang rokok yang
dihisap. Penghentian merokok mengurangi risiko. |
|
Peningkatan
hematokrit |
Penigkatan
viskositas menyebabkan gejala stroke ketika hematokrit melebihi 55%. Penentu
utama viskositas darah keseluruhan adalah dari isi sel darah merah, plasma
protein terutamanya fibrinogen memainkan peranan penting. Ketika
viskositas meningkat hasil dari polisitemia, hyperfibrinogenemia, atau
paraproteinemia, biasanya menyebabkan gejala umum, seperti sakit kepala,
kelesuan, tinnitus, dan penglihatan
kabur. Infark otak fokal dan oklusi vena retina jauh kurang umum, dan dapat
mengikuti disfungsi trombosit akibat trombositosis. Perdarahan Intraserebral
dan subarachnoid kadang-kadang dapat terjadi. |
|
Peningkatan tingkat
fibrinogen dan kelainan sistem pembekuan |
Tingkat fibrinogen
tinggi merupakan faktor risiko untuk stroke trombotik. Kelainan sistem
pembekuan darah juga telah dicatat, seperti antitrombin III dan kekurangan
protein C serta protein S dan berhubungan dengan vena thrombotic. |
|
Hemoglobinopathy |
Sickle-cell
disease → Dapat menyebabkan infark iskemik atau hemoragik intraserebral dan
perdarahan subaraknoid, vena sinus dan trombosis vena kortikal. Keseluruhan kejadian
stroke dalam Sickle-cell disease adalah 6-15%. Paroxysmal Nocturnal Hemoglobinuria
→ Dapat mengakibatkan trombosis vena serebral |
|
Penyalahgunaan obat |
Obat yang telah
berhubungan dengan stroke termasuk methamphetamines, norepinefrin , LSD,
heroin, dan kokain. Amfetamin menyebabkan sebuah vaskulitis nekrosis yang
dapat mengakibatkan pendarahan petechial menyebar, atau fokus bidang iskemia
dan infark. Heroin dapat timbulkan sebuah hipersensitivitas vaskular
menyebabkan alergi. Perdarahan subarachnoid dan difarction otak telah
dilaporkan setelah penggunaan kokain. |
|
Hiperlipidemia |
Meskipun tingkat
kolesterol tinggi telah jelas berhubungan dengan penyakit jantung koroner,
namun hubungannya dengan stroke kurang jelas. Peningkatan kolesterol
tidak muncul untuk menjadi faktor risiko untuk aterosklerosis karotis,
khususnya pada laki-laki di bawah 55 tahun. Kejadian hiperkolesterolemia
menurun dengan bertambahnya usia. Kolesterol berkaitan dengan perdarahan
intraserebral atau perdarahan subarachnoid. Tidak ada hubungan yang jelas
antara tingkat kolesterol dan infark lakunar. |
|
Kontrasepsi oral Pil |
KB, estrogen tinggi
yang dilaporkan meningkatkan risiko stroke pada wanita muda. Penurunan
kandungan estrogen menurunkan masalah ini, tetapi tidak dihilangkan sama
sekali. Ini adalah faktor risiko paling kuat pada wanita yang lebih dari 35
tahun . Mekanisme diduga meningkatkan koagulasi karena stimulasi estrogen
tentang produksi protein liver atau jarang penyebab autoimun. |
|
Diet |
Konsumsi alkohol →
Ada peningkatan risiko infark otak, dan perdarahan subarakhnoid dikaitkan
dengan penyalahgunaan alkohol pada orang dewasa muda. Mekanisme dimana
etanol dapat menghasilkan stroke termasuk efek pada tekanan
darah, platelet, osmolalitas plasma, hematokrit, dan sel-sel darah
merah. Selain itu, alkohol bisa menyebabkan miokardiopati, aritmia, dan
perubahan di darah aliran otak dan autoregulasi. Kegemukan → Diukur
dengan berat tubuh relatif atau body mass indexs, obesitas telah secara
konsisten meramalkan stroke. Asosiasi dengan stroke dapat dijelaskan sebagian
oleh adanya hipertensi dan diabetes. Sebuah berat relatif lebih dari 30%
di atas rata-rata kontributor independen ke-atherosklerotik infark otak
berikutnya. |
|
Penyakit pembuluh
darah perifer |
Karena bisa
menyebabkan robeknya pembuluh darah. |
|
Infeksi |
Infeksi meningeal
dapat mengakibatkan infark serebral melalui pengembangan perubahan inflamasi
dalam dinding pembuluh darah. Sifilis meningovaskular dan mucormycosis
dapat menyebabkan arteritis otak dan infark. |
|
Homosistinemia atau
homosistinuria |
Predisposisi
trombosis arteri atau vena di otak. Estimasi risiko stroke di usia muda
adalah 10-16%. |
|
Stres |
Hampir setiap orang
pernah mengalami stres. Stres psiokososial dapat menyebabkan depresi.
Jika depresi berkombinasi dengan faktor risiko lain (misalnya, aterosklerosis
berat, penyakit jantung atau hipertensi) dapat memicu terjadinya stroke.
Depresi meningkatkan risiko terkena stroke sebesar 2 kali. |
D. Klasifikasi
- Stroke dapat diklasifikasikan menurut
patologi dan gejala kliniknya, yaitu
a. Stroke Haemorhagi
Merupakan
perdarahan serebral dan mungkin perdarahan subarachnoid.Disebabkan oleh
pecahnya pembuluh darah otak pada daerah otak tertentu.Biasanya kejadiannya
saat melakukan aktivitas atau saat aktif, namun bisa juga terjadi saat
istirahat. Kesadaran pasien umumnya menurun.
b. Stroke Non Haemorhagic
Dapat berupa
iskemia atau emboli dan thrombosis serebral, biasanya terjadisaat setelah lama
beristirahat, baru bangun tidur atau di pagi hari. Tidak terjadiperdarahan
namun terjadi iskemia yang menimbulkan hipoksia dan selanjutnyadapat timbul
edema sekunder . Kesadaran umummnya baik.
- Menurut perjalanan penyakit atau
stadiumnya:
a. TIA ( Trans Iskemik Attack)
Gangguan
neurologis setempat yang terjadi selama beberapa menit sampai beberapa jam saja. Gejala yang timbul akan
hilangdengan spontan dan sempurna dalam waktu kurang dari 24 jam.
b. Stroke involusi
Stroke yang
terjadi masih terus berkembang dimana gangguan neurologis terlihat semakin berat dan
bertambah buruk. Proses dapat berjalan 24 jam atau beberapa hari.
c. Stroke komplit
Gangguan
neurologi yang timbul sudah menetap atau permanen. Sesuai dengan istilahnya stroke komplit dapat diawali
oleh serangan TIA
berulang.
Stroke Haemorhagi merupakan perdarahan serebral dan
mungkin perdarahan subarachnoid. Disebabkan oleh pecahnya pembuluh darah otak
pada daerah otak tertentu. Biasanya kejadiannya saat melakukan aktivitas atau
saat aktif, namun bisa juga terjadi saat istirahat. Kesadaran pasien umumnya
menurun. Stroke Haemorhagi dibagi dua, yaitu:
a. Perdarahan
Intraserebral
Pecahnya
pembuluh darah (mikroaneurisma) terutama karena hypertensi mengakibatkan darah
masuk ke dalam jaringan otak, membentuk massa yang menekan jaringan otak dan
menimbulkan edema otak. Peningkatan TIK yang terjadi cepat, dapat mengakibatkan
kematian mendadak karena herniasi otak. Perdarahan intraserebral yang
disebabkan karena hypertensi sering dijumpai di daerah putamen, talamus, pons
dan serebelum.
b. Perdarahan
Subarachnoid
Perdarahan
ini berasal dari pecahnya aneurisma berry atau AVM. Aneurisma yang pecah ini
berasal dari pembuluh darah sirkulasi Willisi dan cabang-cabangnya yang
terdapat di luar parenkim otak (Juwono, 1993: 19). Pecahnya arteri dan
keluarnya ke ruang sub arachnoid menyebabkan TIK meningkat mendadak,
meregangnya struktur peka nyeri dan vasospasme pembuluh darah serebral yang
berakibat disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan kesadaran) maupun
fokal (hemiparese, gangguan hemi sensorik, afasia, dll) (Siti Rohani, 2000).
Pecahnya
arteri dan keluarnya darah keruang subarakhnoid mengakibatkan tarjadinya
peningkatan TIK yang mendadak, meregangnya struktur peka nyeri, sehinga timbul
nyeri kepala hebat. Sering pula dijumpai kaku kuduk dan tanda-tanda rangsangan
selaput otak lainnya. Peningkatam TIK yang mendadak juga mengakibatkan perdarahan
subhialoid pada retina dan penurunan kesadaran. Perdarahan subarakhnoid dapat
mengakibatkan vasospasme pembuluh darah serebral. Vasospasme ini seringkali
terjadi 3-5 hari setelah timbulnya perdarahan, mencapai puncaknya hari ke 5-9,
dan dapat menghilang setelah minggu ke 2-5. Timbulnya vasospasme diduga karena
interaksi antara bahan-bahan yang berasal dari darah dan dilepaskan kedalam
cairan serebrospinalis dengan pembuluh arteri di ruang subarakhnoid. Vasispasme
ini dapat mengakibatkan disfungsi otak global (nyeri kepala, penurunan
kesadaran) maupun fokal (hemiparese, gangguan hemisensorik, afasia
danlain-lain).
Otak dapat
berfungsi jika kebutuhan O2 dan glukosa otak dapat terpenuhi. Energi yang
dihasilkan didalam sel saraf hampir seluruhnya melalui proses oksidasi. Otak
tidak punya cadangan O2 jadi kerusakan, kekurangan aliran darah otak walau
sebentar akan menyebabkan gangguan fungsi. Demikian pula dengan kebutuhan
glukosa sebagai bahan bakar metabolisme otak, tidak boleh kurang dari 20 mg%
karena akan menimbulkan koma. Kebutuhan glukosa sebanyak 25 % dari seluruh
kebutuhan glukosa tubuh, sehingga bila kadar glukosa plasma turun sampai 70 %
akan terjadi gejala disfungsi serebral. Pada saat otak hipoksia, tubuh berusaha
memenuhi O2 melalui proses metabolik anaerob, yang dapat menyebabkan dilatasi
pembuluh darah otak.
Perbedaan
perdarahan Intra Serebral (PIS) dan Perdarahan Sub Arachnoid (PSA)
|
Gejala |
PIS |
PSA |
|
Timbulnya Nyeri
Kepala Kesadaran Kejang Tanda
rangsangan Meningeal. Hemiparese Gangguan
saraf otak |
Dalam
1 jam Hebat Menurun Umum +/- ++ + |
1-2
menit Sangat
hebat Menurun
sementara Sering
fokal +++ +/- +++ |
E. Manifestasi Klinis
Gambaran klinis yang sering terjadi antara
lain;
1. Nyeri kepala akut dan terasa
berat,
2. leher bagian belakang kaku,
3. muntah,
4. penurunan kesadaran yang
berkembang cepat sampai keadaan koma
5. Pasien dengan perdarahan pada lobus
temporal atau lobus frontal dapat mengalami seizure/kejang tiba-tiba yang dapat diikuti kelumpuhan
kontralateral
6. 90% menunjukkan adanya darah dalam cairan serebrospinal (bila perdarahan
besar dan atau letak dekat ventrikel), dari semua pasien ini 70-75% akan
meninggal dalam waktu 1-30 hari, biasanya diakibatkan karena meluasnya
perdarahan sampai ke system ventrikel, herniasi lobus temporalis, dan penekanan
mesensefalon, atau mungkin disebabkan karena perembasan darah ke pusat-pusat
yang vital (Hieckey, 1997; Smletzer & Bare, 2005).
|
Gejala CVA sesuai dengan
Area arteri yang terkena |
|||||
|
|
hemiparesis |
dysphasia |
Perubahan
visual |
Penurunan
level kesadaran |
ataksia |
|
karotid |
v |
v |
v |
v |
|
|
Cerebral
tengah |
v |
v |
v |
v |
|
|
vertebrobasilar |
|
|
v |
|
v |
|
|
|||||
Tabel 2. Gejala CVA berdasarkan Area yang Terkena serangan
Keterangan:
Ø
Hemiparesis :
paralisis/kelumpuhan otot pada salah satu sisi tubuh
Ø
Dysphasia : kesulitan dalam mengucapkan
atau menyusun kata-kata
Ø
Perubahan visual :
perubahan lapang pandang penderita. Contoh lapang pandang penderita stroke
tergantung pada area otak yang mengalami gangguan. Berikut adalah perubahan
lapang pandang yang dapat terjadi:
Ø
Penurunan level kesadaran :
penurunan Glasgow coma scale
Ø
Ataksia : kegagalan otak
untuk mengontrol pergerakan tubuh, sehingga gerakan tubuh menjadi tidak
terkendali
|
manifestasi jangka pendek |
manifestasi jangka panjang |
|
- Deteriorasi neurologic - Resiko kegagalan respirasi |
- Fungsi motorik terganggu - Apasia - Emosi labil - Ketidakmampuan dalam memenuhi ADL - Pengabaian unilateral - Homonymous hemianopsia |
F. Patofisiologi
Hemoragik serebral (pecahnya pembuluh darah serebral sehingga terjadi
perdarahan ke dalam jaringan otak atau area sekitar), hemoragik dapat terjadi
di epidural, subdural, dan intraserebral. (Hudak & Gallo, 2005; Ranakusuma,
2002). Stroke hemoragik terjadi perdarahan yang berasal dari pecahnya arteri
penetrans yang merupakan cabang dari pembuluh darah superfisial dan berjalan tegak
lurus menuju parenkim otak yang di bagian distalnya berupa anyaman kapiler.
Aterosklerosis dapat terjadi dengan bertambahnya umur dan adanya hipertensi
kronik, sehingga sepanjang arteri penetrans terjadi aneurisma kecil-kecil
dengan diameter 1 mm. Peningkatan tekanan darah yang terus menerus akan
mengakibatkan pecahnya aneurisme ini, sehingga dapat terjadi perdarahan dalam
parenkim otak yang bisa mendorong struktur otak dan merembas ke sekitarnya
bahkan dapat masuk kedalam ventrikel atau ke ruang intrakranial.
Perdarahan intracranial biasanya disebabkan oleh karena ruptur arteri
serebri. Ekstravasasi darah terjadi di daerah otak dan atau subaraknoid,
sehingga jaringan yang ada disekitarnya akan tergeser dan tertekan. Darah ini
sangatn mengiritasi jaringan otak, sehingga dapat mengakibatkan vasospasme pada
arteri di sekitar perdarahan. Spasme ini dapat menyebar ke seluruh hemisfer
otak dan sirkulus willis. Bekuan darah yang semula lunak akhirnya akan larut
dan mengecil. Daerah otak disekitar bekuan darah dapat membengkak dan mengalami
nekrosis, karena kerja enzim-enzim maka bekuan darah akan mencair, sehingga
terbentuk suatu rongga. Sesudah beberapa bulan semua jaringan nekrotik akan
diganti oleh astrosit dan kapiler-kapiler baru sehingga terbentuk jalinan
desekitar rongga tadi. Akhirnya rongga-rongga tersebut terisi oleh astroglia
yang mengalami proliferasi (Price & Willson, 2002).
Kebanyakan kasus PIS terjadi pada pasien dengan hipertensi kronik.
Keadaan ini menyebabkan perubahan arteriosklerotik pembuluh darah kecil,
terutama pada cabang-cabang arteri serebri media, yang mensuplai ke dalam basal
ganglia dan kapsula interna. Pembuluh-pembuluh darah ini menjadi lemah,
sehingga terjadi robekan dan reduplikasi pada lamina interna, hialinisasi
lapisan media dan akhirnya terbentuk aneurisma kecil yang dikenal dengan
aneurisma Charcot-Bouchard. Hal yang sama dapat terjadi pembuluh darah yang
mensuplai pons dan serebelum. Rupturnya satu dari pembuluh darah yang lemah
menyebabkan perdarahan ke dalam substansi otak (Gilroy,2000; Ropper, 2005).
Perdarahan subaraknoid sering dikaitkan dengan pecahnya aneurisma. Kebanyakan aneurisma mengenai sirkulus wilisi. Hipertensi atau gangguan perdarahan mempermudah kemungkinan terjadinya ruptur, dan sering terdapat lebih dari satu aneurisma. Gangguan neurologis tergantung letak dan beratnya perdarahan. Pembuluh yang mengalami gangguan biasanya arteri yang menembus otak seperti cabang cabang lentikulostriata dari arteri serebri media yang memperdarahi sebagian dari 3 ganglia basalis dan sebagian besar kapsula interna. Timbulnya penyakit ini mendadak dan evolusinya dapat cepat dan konstan, berlangsung beberapa menit, beberapa jam, bahkan beberapa hari.
Factor resiko
1.
perdarahan arteriovena
atau adanya ruptur.
2. CT Scan
Memperlihatkan
secara spesifik letak oedema, posisi hematoma,
adanya jaringan otak yang infark atau iskemia serta posisinya secara pasti. CT scan merupakan pemeriksaan paling sensitif
untuk PIS dalam beberapa jam pertama setelah perdarahan. CT-scan dapat diulang
dalam 24 jam untuk menilai stabilitas.
3. Pungsi lumbal
Tekanan yang meningkat dan di
sertai dengan bercak darah pada cairan lumbal menunjukkan adanya haemoragia
pada sub arachnoid atau perdarahan pada intrakranial. Peningkatan jumlah
protein menunjukan adanya proses inflamasi.
4. MRI (Magnetic Imaging Resonance)
Dengan
menggunakan gelombang magnetic untuk menentukan posisi serta besar/ luas
terjadinya perdarahan otak.
5. USG Dopler
Untuk mengidentifikasi adanya
penyakit arteriovena (masalah sistem karotis).
6. EEG
Melihat masalah yang timbul
dampak dari jaringan yang infark sehingga menurunnya impuls listrik dalam
jaringan otak.
7. Pemeriksaan Laboratorium
- Pemeriksaan darah lengkap
Untuk mengetahui adanya anemia, trombositopenia dan leukositosis yang
dapat menjadi factor risiko stroke hemoragik
- Pemeriksaan glukosa darah
Untuk mengetahui kadar glukosa darah sebagai sumber bahan bakar untuk
metabolism sel otak. Apabila kadar glukosa darah yang terlalu rendah maka akan
dapat terjadi kerusakan pada jaringan otak
- Pemeriksaan analisa gas darah
Untuk mengetahui gas darah yang disuplai ke jaringan otak sebagai sumber
untuk metabolisme
- Pemeriksaan serum elektrolit
- Pemeriksaan LED (Laju Endap Darah)
Mengetahui adanya hiperviskositas yang dapat menjadi factor risiko
stroke hemoragik
- Pemeriksaan faal hemostatis
Untuk mengetahui adanya risiko perdarahan sebagai komplikasi dan
pencetus stroke hemoragik
I. Penatalaksanaan Stroke
Menurut American Hearth Association (AHA), algorithm CVA sebagai berikut
:
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan
faktor-faktor kritis sebagai berikut:
1. Berusaha menstabilkan tanda-tanda
vital dengan:
2. Mempertahankan saluran nafas yang
paten yaitu lakukan pengisapan lendir yang sering, oksigenasi, kalau perlu
lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.
3. Mengontrol tekanan darah berdasarkan
kondisi pasien, termasuk usaha memperbaiki hipotensi dan hipertensi.
4.
Berusaha
menemukan dan memperbaiki aritmia jantung.
5. Merawat kandung kemih, sedapat
mungkin jangan memakai kateter.
6. Menempatkan pasien dalam posisi yang
tepat, harus dilakukan secepat mungkin pasien harus dirubah posisi tiap 2 jam
dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.
Pengobatan Konservatif
1.Vasodilator meningkatkan aliran darah
serebral (ADS) secara percobaan, tetapi maknanya :pada tubuh manusia belum
dapat dibuktikan.
2.Dapat diberikan histamin, aminophilin,
asetazolamid, papaverin intra arterial.
3.Anti agregasi thrombosis seperti aspirin
digunakan untuk menghambat reaksi pelepasan agregasi thrombosis yang terjadi
sesudah ulserasi alteroma.
Pengobatan Pembedahan
Tujuan utama adalah memperbaiki aliran darah serebral:
1.Endosterektomi karotis membentuk kembali
arteri karotis, yaitu dengan membuka arteri karotis di leher.
2.Revaskularisasi terutama merupakan tindakan
pembedahan dan manfaatnya paling dirasakan oleh pasien TIA.
3.Evaluasi bekuan darah dilakukan pada stroke
akut
4.Ugasi arteri karotis komunis di leher
khususnya pada aneurisma.
J. ASUHAN
KEPERAWATAN KLIEN DENGAN STROKE
1.
Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan
untuk mengenal masalah klien, agar dapat memberi arah kepada tindakan
keperawatan. Tahap pengkajian terdiri dari tiga kegiatan, yaitu pengumpulan
data, pengelompokkan data dan perumusan diagnosis keperawatan. (Lismidar, 1990)
a. Pengumpulan data
Pengumpulan
data adalah mengumpulkan informasi tentang status kesehatan klien yang
menyeluruh mengenai fisik, psikologis, sosial budaya, spiritual, kognitif,
tingkat perkembangan, status ekonomi, kemampuan fungsi dan gaya hidup klien.
(Marilynn E. Doenges et al, 1998)
1) Data demografi
Meliputi
nama, umur (kebanyakan terjadi pada usia tua), jenis kelamin, pendidikan,
alamat, pekerjaan, agama, suku bangsa, tanggal dan jam MRS, nomor register,
diagnose medis.
2) Keluhan utama
Didapatkan
keluhan kelemahan anggota gerak sebelah badan, bicara pelo, dan tidak dapat
berkomunikasi.
3) Riwayat penyakit sekarang
Serangan
stroke hemoragik seringkali berlangsung sangat mendadak, pada saat klien sedang
melakukan aktivitas. Biasanya terjadi nyeri kepala, mual, muntah bahkan kejang
sampai tidak sadar, disamping gejala kelumpuhan separoh badan atau gangguan
fungsi otak yang lain. (Siti Rochani, 2000) Sedangkan stroke infark tidak
terlalu mendadak, saat istirahat atau bangun pagi, kadang nyeri copula, tidak
kejang dan tidak muntah, kesadaran masih baik.
4) Riwayat penyakit dahulu
Adanya
riwayat hipertensi, diabetes militus, penyakit jantung, anemia, riwayat trauma
kepala, kontrasepsi oral yang lama, penggunaan obat-obat anti koagulan,
aspirin, vasodilator, obat-obat adiktif, kegemukan. (Donna D. Ignativicius,
1995)
5) Riwayat penyakit keluarga
Biasanya ada
riwayat keluarga yang menderita hipertensi ataupun diabetes militus. (Hendro
Susilo, 2000)
6) Riwayat psikososial
Stroke memang
suatu penyakit yang sangat mahal. Biaya untuk pemeriksaan, pengobatan dan
perawatan dapat mengacaukan keuangan keluarga sehingga faktor biaya ini dapat
mempengaruhi stabilitas emosi dan pikiran klien dan keluarga.(Harsono, 1996)
7) Pola-pola fungsi kesehatan
a) Pola persepsi dan tata laksana hidup
sehat
Biasanya ada riwayat perokok,
penggunaan alkohol, penggunaan obat kontrasepsi oral.
b) Pola nutrisi dan metabolisme
Adanya gejala nafsu makan menurun,
mual muntah pada fase akut, kehilangan sensasi (rasa kecap) pada lidah, pipi,
tenggorokan, disfagia ditandai dengan kesulitan menelan, obesitas (Doengoes,
2000: 291)
c) Pola eliminasi
Gejala menunjukkan adanya perubahan
pola berkemih seperti inkontinensia urine, anuria. Adanya distensi abdomen
(distesi bladder berlebih), bising usus negatif (ilius paralitik), pola
defekasi biasanya terjadi konstipasi akibat penurunan peristaltik
usus.(Doengoes, 1998 dan Doengoes, 2000: 290)
d) Pola aktivitas dan latihan
Gejala menunjukkan danya kesukaran
untuk beraktivitas karena kelemahan, kehilangan sensori atau paralise/
hemiplegi, mudah lelah.
Tanda yang muncul adalah gangguan
tonus otot (flaksid, spastis), paralitik (hemiplegia) dan terjadi kelemahan
umum, gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran (Doengoes, 1998, 2000:
290)
e) Pola tidur dan istirahat
Biasanya klien mengalami kesukaran
untuk istirahat karena kejang otot/nyeri otot
f) Pola hubungan dan peran
Adanya perubahan hubungan dan peran
karena klien mengalami kesukaran untuk berkomunikasi akibat gangguan bicara.
g) Pola persepsi dan konsep diri
1. Klien merasa tidak berdaya, tidak ada
harapan, mudah marah, tidak kooperatif.
h) Pola sensori dan kognitif
Pada pola sensori klien mengalami
gangguan penglihatan/ kekaburan pandangan, perabaan/sentuhan menurun pada muka
dan ekstremitas yang sakit. Pada pola kognitif biasanya terjadi penurunan
memori dan proses berpikir.
i) Pola reproduksi seksual
Biasanya terjadi penurunan gairah
seksual akibat dari beberapa pengobatan stroke, seperti obat anti kejang, anti
hipertensi, antagonis histamin.
j) Pola penanggulangan stress
Klien biasanya mengalami kesulitan
untuk memecahkan masalah karena gangguan proses berpikir dan kesulitan
berkomunikasi.
k) Integritas ego
Terdapat gejala perasaan tak berdaya,
perasaan putus asa dengan tanda emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah,
sedih dan gembira, kesulian mengekspresikan diri (Doengoes, 2000: 290)
Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien biasanya jarang melakukan
ibadah karena tingkah laku yang tidak stabil, kelemahan/kelumpuhan pada salah
satu sisi tubuh. (Marilynn E. Doenges, 2000)
8)
Pemeriksaan
fisik
a) Keadaan umum
·
Kesadaran:
umumnya mengelami penurunan kesadaran
·
Suara
bicara: kadang mengalami gangguan yaitu sukar dimengerti, kadang tidak bisa
bicara
·
Tanda-tanda
vital: tekanan darah meningkat, denyut nadi bervariasi
b) Pemeriksaan integumen
·
Kulit:
jika klien kekurangan O2 kulit akan tampak pucat dan jika kekurangan cairan
maka turgor kulit kan jelek. Di samping itu perlu juga dikaji tanda-tanda
dekubitus terutama pada daerah
yang menonjol karena
klien stroke hemoragik harus bed
rest 2-3 minggu
·
Kuku
: perlu dilihat adanya clubbing finger, cyanosis
·
Rambut
: umumnya tidak ada kelainan
c) Pemeriksaan kepala dan leher
·
Kepala
: bentuk normocephalik
·
Muka
: umumnya tidak simetris yaitu mencong ke salah satu sisi
·
Leher
: kaku kuduk jarang terjadi (Satyanegara, 1998)
d) Pemeriksaan dada
Pada pernafasan kadang didapatkan suara
nafas terdengar ronchi, wheezing ataupun suara nafas tambahan, pernafasan tidak
teratur akibat penurunan refleks batuk dan menelan, adanya hambatan jalan
nafas. Merokok merupakan faktor resiko.
e) Pemeriksaan abdomen
Didapatkan penurunan peristaltik usus
akibat bed rest yang lama, dan kadang terdapat kembung.
f) Pemeriksaan inguinal, genetalia, anus
Kadang terdapat incontinensia atau
retensio urine
g) Pemeriksaan ekstremitas
Sering
didapatkan kelumpuhan pada salah satu sisi tubuh.
h) Pemeriksaan neurologi
·
Pemeriksaan
nervus cranialis: Umumnya terdapat gangguan nervus cranialis VII dan XII
central. Penglihatan menurun, diplopia, gangguan rasa pengecapan dan penciuman,
paralisis atau parese wajah.
·
Pemeriksaan
motorik: Hampir selalu terjadi kelumpuhan/ kelemahan pada salah satu sisi
tubuh, kelemahan, kesemutan, kebas, genggaman tidak sama, refleks tendon
melemah secara kontralateral, apraksia
·
Pemeriksaan
sensorik: Dapat terjadi hemihipestesi, hilangnya rangsang sensorik
kontralteral.
·
Pemeriksaan
refleks
·
Pada
fase akut reflek fisiologis sisi yang lumpuh akan menghilang. Setelah beberapa
hari refleks fisiologis akan muncul kembali didahuli dengan refleks patologis.
·
Sinkop/pusing,
sakitkepala, gangguan status mental/tingkat kesadaran, gangguan fungsi kognitif
seperti penurunan memori, pemecahan masalah, afasia, kekakuan nukhal, kejang,
dll (Jusuf Misbach, 1999, Doengoes, 2000: 291)
2) Pemeriksaan penunjang
a. Pemeriksaan radiologi
b. Pemeriksaan laboratorium
K.
Diagnosa Keperawatan yang Mungkin Muncul
1.
Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
2.
Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan kognitif-motorik akibat
hemoragik serebral
3.
Gangguan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi ke otak
4.
Resiko injuri
5.
Deficit perawatan diri : mandi, makan, berpakaian, toileting b.d
gangguan kognitif-motorik akibat hemoragik serebral
L.
Tujuan Rencana Intervensi (NOC)
1.
Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
a.
Tissue perfusion : cerebral (tekanan intakranial dalam
batas normal, tekanan darah dalam batas normal (90-120/60-80) mmHg, MAP antara
30-40 mmHg, penurunan level kesadaran tidak terjadi, gangguan kognitif tidak
terjadi)
2.
Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan kognitif-motorik akibat
hemoragik serebral
a.
Immobility consequences : physiological ( tidak ada decubitus,
tidak terjadi kontraktur sendi, tidak ada thrombosis vena )
3.
Gangguan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi ke otak
a.
Communication (klien mampu menggunakan bahasa verbal, klien mampu menggunakan
bahasa non-verbal, klien mengerti bahasa yang disampaikan orang lain, klien
mampu melakukan komunikasi dua arah dengan orang lain)
4.
Resiko injuri
a.
Falls prevention behavior (terdapat tepi pengaman pada
bed klien, dilakukan asistensi terhadap mobilisasi klien)
5.
Deficit perawatan diri : mandi, makan, berpakaian, toileting b.d
gangguan kognitif-motorik akibat hemoragik serebral
a.
Self care : ADL (klien mendapat bantuan untuk makan, berpakaian, toileting,
mandi, oral hygiene)
M.
Intervensi Keperawatan (NIC)
1.
Resiko ketidakefektifan perfusi jaringan serebral
a.
Cerebral perfusion promotion
-
Monitor status neurologi
-
Monitor protrombine time dan parsial thrombin time
-
Lakukan plebotomi untuk memantau level analisa darah lengkap
-
Hindari hiperfleksi pada leher
-
Kolaborasikan dengan tim medis tentang pemberian posisi head of
bed antara 15-30°, dan monitor respon pasien terhadap posisi kepala
-
Kolaborasi pemberian antikoagulan
-
Monitor tanda-tanda perdarahan
2.
Gangguan mobilitas fisik b.d gangguan kognitif-motorik akibat
hemoragik serebral
a.
Pressure ulcer prevention
-
Observasi keadaan kulit setiap hari, terutama area yang memiliki
resiko tinggi luka tekan
-
Lakukan perubahan posisi 1-2 jam sekali
-
Hindari kerutan pada linen
-
Gunakan air hangat dan sabun lembut saat memandikan
-
Gunakan pengganjal/bantal pada area-area resiko tinggi luka
tekan seperti sacrum, siku, tungkai
-
Edukasi keluarga untuk melaporkan adanya kerusakan integritas
kulit
b.
Exercise therapy : joint mobility
-
Kaji keterbatasan gerak sendi klien
-
Buatkan jadwal melaksanakan range of motion
-
Ajarkan range of motion
-
Ajarkan keluarga untuk melakukan latihan ROM pada pasien
-
Kaji adanya nyeri pada saat melakukan exercise
3.
Gangguan komunikasi verbal b.d penurunan sirkulasi ke otak
a.
Communication enhancement : speech deficit
-
Ajak keluarga untuk menerjemahkan maksud verbal klien jika
diperlukan
-
Dengarkan klien dengan seksama
-
Gunakan kata-kata yang sederhana dan mudah dimengerti
-
Jangan berteriak kepada klien
-
Beri dukungan kepada klien untuk melafalkan kata-kata dengan
benar
-
Gunakan bahasa non verbal/gestur jika diperlukan
4.
Resiko injuri
a.
Fall prevention
-
Kaji adanya gangguan lingkungan yang berpotensi meningkatkan
resiko jatuh klien
-
Identifikasi perilaku klien yang menimbulkan resiko jatuh
-
Monitor adanya kelianan mobilisasi, keseimbangan, dan level
kelemahan klien
-
Asistensi klien pada saat ambulasi/mobilisasi
-
Gunakan bedside rails untuk mencegah klien jatuh dari tempat
tidur
-
Ajarkan klien untuk meminta bantuan kepada orang lain jika ingin
melakukan ambulasi/mobilisasi
5.
Defisit perawatan diri : mandi, makan, berpakaian, toileting b.d
gangguan kognitif-motorik akibat hemoragik serebral
a.
Self care assistance
-
Kaji batasan kemampuan klien dalam melakukan ADL dan perawatan
diri
-
Fasilitasi peralatan hygiene klien
-
Bantu klien memenuhi ADL dan perawatan diri
-
Tetapkan jadwal melakukan ADL perawatan diri untuk klien seperti
sistensi mandi, makan, dll.
-
Mandirikan klien sesuai dengan kemampuannya dalam melaksanakan
ADL dan perawatan diri, bantu jika diperlukan
Daftar Pustaka
Bulechek GM, Butcher HW,
Dochterman JM. 2008. Nursing Intervention Classification (NIC) ed5. St
Louis: Mosby Elsevier.
Corwin,
EJ. 2009. Buku Saku Patofisiologi ed 3. Jakarta: EGC.
Davey,
P. 2005. At A Glance Medicine. Jakarta: Erlangga.
Herdman
H. 2012. NANDA International Nursing Diagnoses: Definitions and
Classifications 2012-2014. Oxford: Wiley Blacwell.
Mitchell,
et al. 2008. Buku Saku Dasar Patologis Penyakit ed.7. Jakarta: EGC.
Morrhead
S, Johnson M, Maas ML, Swanson E. 2008. Nursing Outcomes Classification
(NOC) ed4. St Louis: Mosby Elsevier.
Smeltzer,
S., and Barre, B. 2010. Medical Surgical
Nursing. Philadelphia : Davis Comp.
Williams, SH., Hopper. 2003. Understanding
Medical Surgical Nursing. Philadelphia: Davis Comp.
No comments:
Post a Comment