July 14, 2018

LAPORAN KASUS

                         
LAPORAN KASUS 
ASUHAN KEPERAWATAN PADA TN “A” DENGAN STEMI DENGAN TINDAKAN PCI DIRUANG CVCU RUMAH SAKIT UMUM
Dr. SYAIFUL ANWAR MALANG

No. Register       : 11295510
Ruang              : CVCU
Tgl MRS/Jam        : 10/07/2016 jam 07.30 wib
Tgl Pengkajian Jam : 11/07/2016 jam 07.30 wib
Diagnosa Medis     : STEMI

A.  PENGKAJIAN
1. Identitas
a. Biodata Klien
-          Nama          : Tn. “A”
-          Jenis Kelamin      : Laki-Laki
-          Umur          : 67 tahun
-          Agama         : Islam
-          Suku/Bangsa   : Jawa/Indonesia
-          Pendidikan    : SD
-          Pekerjaan     : Petani
-          Alamat        : DS Ganjaran RT 2/1 Gondang
                 Legi Malang
b. Biodata Penanggung jawab
-          Nama          : ny. “H”
-          Jenis Kelamin      : Perempuan
-          Umur          : 38 tahun
-          Agama         : Islam
-          Suku/Bangsa   : Jawa/Indonesia
-          Pendidikan    : SD
-          Pekerjaan     : Pedagang
-          Alamat        : DS Ganjaran RT 2/1 Gondang
                 Legi Malang
-          Hubungan dengan klien : Anak Klien
2. Riwayat Kesehatan
a. Keluhan Utama
Klien mengatakan sesak nafas dan nyeri dada Sebelah kiri
b. Riwayat Penyakit Sekarang
1. Alasan Masuk Rumah Sakit
Pada tanggal 10 juli 2016 jam  wib  saat klien hendak beristirahat pada saat itu klien tiba-tiba merasakan (nyeri) seperti ditekan benda berat di bagian dada kiri terasa seperti ditusuk-tusuk, skala nyeri klien 7-8 nyeri berat, meskipun diistirahatkan nyeri dan rasa berat pada dada sebelah kiri tidak bisa hilang, kemudian oleh keluarga klien dibawa ke rumah sakit dr saiful anwar malang. Klien sampai di IGD RSSA Malang jam 10.30 setelah diobservasi dan diberikan terapi maka pada tanggal 11 juli 2016 jam 04.15 wib klien dipindahkan ke ruang CVCU bed 4 yang sekarang ditemapati klien.
2. Keluhan Saat Didata
Klien mengatakan, lemah, cepat lelah, tampak terpasang kanul nasal 4 lpm, tampak terpasang kateter dengan UP 150cc.
c. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan tidak pernah mengalami penyakit seperti ini sebelumyna, klien juga mengatakan kalau  memiliki riwayat tekanan darah tinggi.
Genogram
 














Keterangan :               

            : Laki - laki
            : Perempuan
            : Klien
            : Tinggal serumah
            : Meninggal









Klien memiliki 4 orang anak, semuanya telah menikah dan satu diantaranya tinggal terpisah dengan klien, sementara klien tinggal bersama istrinya dan 3 orang anaknya.

Data Psikologis
a. Status emosi
Klien mengatakan menerima keadaannya saat ini dan berharap penyakitnya tidak menjadi lebih parah sebagaimana yang dialami oleh orang lain, maka dari itu klien selalu mematuhi setiap tindakan perawatan dan pengobatan yang dilakukan terhadap dirinya.
b. Konsep diri
1. Body Image
Klien memandang dirinya sebagai seorang yang sakit yang membutuhkan pertolongan, sehingga klien memiliki motivasi yang baik untuk sembuh
2. Self Ideal
Sebagai seorang yang sakit yang membutuhkan pertolongan klien mengatakan memiliki kemauan yang tinggi untuk sembuh dan kembali sehat  seperti dulu lagi

3. Self eksteem
Klien mengatakan tidak merasa harga dirinya menjadi rendah karena penyakit adalah sebuah cobaan dari Allah swt dan setiap orang pasti pernah mengalami yang namanya sakit hanya saja yang membedakan adalah berat ringannya penyakit dan kesabaran  dalam menghadapinya
4. Role
Klien mengatakan dengan penyakit yang dihadapinya sekarang klien tidak bisa lagi melaksanakan perannya sebagai seorang suami dan kepala rumah tangga yang biasanya setiap hari mencari nafkah untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya.
5. Identity
Klien mengatakan tidak merasa kehilangan atau terganggu identitas dirinya sebagai orang tua ataupun kakek dari cucu-cucunya serta identitasnya sebagai warga masyarakat





3. Data Sosial
a. Pendidikan
Klien adalah seorang petani yang hanya tamatan SD sehingga dalam kehidupan soaial klien tidak memiliki status sosial yang tinggi
b. Sumber penghasilan
Klien mengatakan bahwa sumber penghasilan yang digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari  adalah dari hasilnya sendiri menjadi petani.
c. Pola Komunikasi
Pola komunikasi yang dilakukan dalam keluarga adalah dengan musyawarah dan mufakat pada waktu-waktu tertentu, misalnya sehabis sholat magrib atau isya
d. Peran Sosial
Klien mengatakan tidak memiliki peran strategis dalam kehidupan bermasyarakat.
4. Data Spiritual
Klien mengatakan selama dirumah sakit tetap dapat melakukan ibadah  walaupun dengan berbaring serta tetap berdoa untuk kesembuhan petnakitnya
5. Pola Aktifitas
POLA AKTIVITAS
DIRUMAH
DIRUMAH SAKIT
1. Pola nutrisi
-          Makan









-          Minum


Klien mengatakan makan 3 kali sehari dengan jenis makanan nasi dan lauk pauk, klien tidak memiliki masalah dengan makanan serta tidak memiliki makanan pantangan

Minum ±7-8 gelas perhari air putih memiliki kebiasaan minum teh atau kopi

Klien makan 3 kali sehari dari menu yang disajikan rumah sakit, satu porsi dapat dihabiskan  dan tidak memiliki masalah dalam hal makanan



Klien minum air putih ± 4-5 gelas sehari, klien mendapatkan program pengaturan cairan .
2. Eliminasi
-          BAB










-          BAK

Klien mengatakan kebiasaan BAB 1 kali sehari namun kadang-kadang 1 kali 2 hari, konsistensi lembek, warna kuning dan bau khas feces klien tidak meiliki masalah dalam BAB

Klien mengatakan biasa BAK 3-4 kali perhari warna kuning kadang jernih, bau khas, klien tidak memiliki masalah dalam BAK

Klien mengatakan belum BAB selama masuk rumah sakit sejak 3 hari yang lalu







Tampak terpasang kateter dengan UP 150 cc, warna kuning pekat dan, bau khas urine.
3. Aktivitas
Klien mengatakan biasa dirumah mencari nafkah untuk kebutuhan keluarganya
Klien hanya berbaring ditampat tidur ruang perawatan dan tidak dianjurkan untuk melakukan mobilisasi berlebihan karena masih pada proses pemulihan, ADL dibantu.
4. Istirahat/tidur
Klien mengatakan   jarang tidur siang dan tidur malam jam 21.00 samapi jam 04.00 subuh, klien dapat tidur dengan nyenyak
Klien mengatakan dapat tidur seperti pola tidur dirumah  bahkan lebih, namun sesekali terbangun karena kegiatan tindakan diruang rawat
5. Personal hygiene
Klien biasa mandi 2 kali sehari pagi dan sore dengan sabun dan sikat gigi sekali saja
Klien tetap diseka 2 kali sehari dan sikat gigi
6.      Ketergantungan
Dalam memenuhi seluruh pola aktivitas klien dapat melakukannya secara mandiri.
Dalam pemenuhan ADL klien selalu dibantu oleh keluarga karena pasien belum diperbolehkan untuk melakukan ambulasi secara berlebihan

6. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum    : lemah
b. Kesadaran       : Composmentis GCS : 456
c. Keadaan Fisik
1. Tinggi Badan : 168cm
2. Berat Badan   : 48kg
d. Tanda-tanda vital
1. Tensi    :130/60mmHg
2. Nadi     :89x/mnt
3. Suhu     :36,70C
4. Respirasi : 25x/mnt
e. Kepala
1. Wajah
Bentuk normochepal, kebersihan baik
2. Rambut
Bersih tidak berketombe
3. Kulit Kepala
Bersih tidak ada lesi, tidak ada massa pada kulit kepala



4. Mata
Konjungtiva merah muda, sclera tidak pucat, penglihatan masih baik, tidak ditemukan kelainan pada mata
5. Hidung
Bersih, tidak ada polip, penciuman baik masih  mampu membedakan bau dan wangi, tidak teraba massa, tidak terdapat pernapasan cuping hidung
6. Telinga
Bentuk simetris, tidak ada serumen, kebersihan baik, pendengaran masih baik
7. Mulut
Mukosa mulut lembab, bibir tampak lembab, gigi dan geligi sebagaian telah tanggal
8. Lidah
Bersih, tidak ada hiperemi, masih mampu membedakan beberapa macam rasa
9. Leher
Tidak tampak peninggian JVP
f. Dada dan thorak
1. Inspeksi :tampak tarikan dinding dada, sesak napas
2. Palpasi : Tidak teraba massa, tidak terdapat nyeri tekan
3. Perkusi : Terdengar suara sonor pada dinding dada
4. Auskultasi :Terdengar bunyi jantung S1 dan S2 tunggal
g. Abdomen
1. Inspeksi : Bentuk flat tidak ada distensi abdomen
2. Auskultasi  : Bising usus (+), frekwensi 15 kali/menit
3. Perkusi: terdapat suara sonor pada regio kuadran bawah dan regio kiri atas serta suara pekak pada regio kanan atas
4. Palpasi  : tidak teraba adanya massa pada masing-masing kuadran tidak teraba adanya pembesaran hati
h. Ekstremitas
1. Atas
Klien mengangkat tangan dengan hati-hati, tidak terdapat hemiplegia pada kedua ekstremitas, kekuatan otot 5
2. Bawah
3. Tidak terdapat hemiplegia pada ekstremitas kanan, kekuatan otot 5
i. Genetalia
Tidak dilakukan pengkajian



7. Data Penunjang
Hasil pemeriksaan laboratorium tanggal 10/07/2016
Pemeriksaan
Hasil
Nilai normal
Enzim jantung
Troponin I


Enzim jantung
-          CK MC 

Elektrolit
-          Natrium
-          Kalium
-          klotida

12,19 g/dl   




378U/L


   138 mmol/L
4,31 mmol/L
107 mmol/L

Negative < 1.0




39-30


136-148 mmol/L
3,5-5,0 mmol/L
98-106 mmol/L

8. Terapi
02 4lpm
Infus ns 0,9% 500 cc/24 jam
Drip dobutamin 8 gram
Drip heparin 250 gram
Injeksi lansoprazole 30 mg
Injeksi ondanseton  4 mg
Injeksi ceptriaxon 1 gram
9.    Data Senjang
Subyektif
-          Klien mengeluh nyeri dada kiri
P :nyeri setelah beraktifitas dan tidak biasa
   berkurang dengan istirahat
Q : nyeri seperti ditusuk-tusuk
R : didada kiri
S : Skala berat (7-8)
T : saat aktivitas dan istirahat
-          klien mengatakan lemah, cepat lelah.

Obyektif
-          klien meringis
-          klien tampak lemah hanya berbaring di tempat tidur.
-          TD : 130/60 mmHg
-          N : 89x/menit
-          R : 25x/menit
-          Tampak terpasang kanul nasal dengan 4 lpm
-          ADL dibantu
-          Klien hanya bedrest ditempat tidur

B.  ANALISA DATA
Nama        : Tn “M”
Ruang       : CVCU
No. Register    : 11299132

No
Tgl
Analisa Data
Etiologi
Masalah
1
2
3
4
5


S : klien mengatakan lemah, cepat lelah
O :
-          Klien mengatakan lemah
-          Akral dingin
-          terpasang kateter dengan produksi urin 150 cc
-       TD : 130/60 mmHg
-       N : 89x/menit
-       R : 25x/menit

Factor yang dapat dimodifikasi (merokok, alcohol, hipertensi, diabetes.)
 

Kandungan bercampur dengan darah
 

Melekat pada pembuluh darah

Oklusi arteri koroner

Aliran darah koroner menurun

Kematian jaringan
 

Penurunan aliran darah
 
gagal pompa ventrikel kiri

penurunan cardiac output
Penurunan curah jantung berhubungan dengan infark otot jantung


S : klien mengatakan lemah
O :klien tampak lemah
-          Klien hanya berdiam diri ditempat tidur
-   klien dibantu untuk makan minum dan minum obat.

Factor yang dapat dimodifikasi (merokok, alcohol, hipertensi, diabetes.)
 

Kandungan bercampur dengan darah
 

Melekat pada pembuluh darah

Oklusi arteri koroner

Aliran darah koroner menurun
 

Kematian jaringan
 

Penurunan aliran darah
 

gagal pompa ventrikel kiri

penurunan cardiac output

Hipoksia

Kelemahan

Gangguan aktifitas fisik

Ganguan aktivitas fisik berhubungan dengan kelemahan, fisik.


S:
Klien mengatakan      lemah
O:
Klien lemah,
Klien dibantu dalam makan minum, dan minum obat
TTV :
-       TD : 130/60 mmHg
-       N : 89x/menit
-       R : 25x/menit



Factor yang dapat dimodifikasi (merokok, alcohol, hipertensi, diabetes.)
 

Kandungan bercampur dengan darah
 

Melekat pada pembuluh darah

Oklusi arteri koroner

Aliran darah koroner menurun
 

Kematian jaringan
 

Penurunan aliran darah
 

gagal pompa ventrikel kiri

penurunan cardiac output

Hipoksia

Kelemahan

Gangguan aktifitas fisik.

Defisit perawatan diri









C.  RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN
Nama             : Tn “A”
Ruang           : CVCU
No. Register      :

Diagnosa Keperawatan
Tujuan
Rencana tindakan
Rasionalisasi
1
2
3
4
Penurunan curah jantung berhubungan dengan infark otot jantung
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2 x 24 jam kriteria :
-      Ferfusi jaringan cardio membaik
1. Auskultasi suara jantung
2. Batasi aktifitas yang dapat memperberat kerja jantung
3. Monitoring ttv
4.  Mengedukasi klien dan keluarga klien untuk terus minum obat seumur hidup.
1. Untuk mengetahui suara jantung tambahan, s3, s4.
2. Untuk meringankan kerja jantung.
3. Untuk memantau cardiac output
4. Untuk mencegah kekambuhan
Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan kelamahan fisik
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan  mobilisasi klie klien terpenuhi dengan kriteria hasil:
-       Klien meningkat dalam aktifitas fisiknya
1. Monitoring vital sign
2.  Membantu pasien mobilisasi dan kebutuhan dasar klien
1. Untuk monitoring vital sign klien
2. Membantu mobilisasi klien
3. Untuk monitoring vital sign klien

Deficit perawatan diri
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam diharapkan  perawatan diri klien terpenuhi dengan kriteria hasil:
-          Klien tampak bersih
-          Klien merasa nyaman.
-          Menyeka klien 2 kali sehari
-          Membantu klien makan minum
-          Membantu klien minum obat.

-          Untuk kebersihan diri kilen
-          karena klien harus bedrest total maka klien dalam hal makan minum obat, harus tetap dibantu






D.  IMPLEMENTASI
Nama        : Tn “A”
Ruang       : 5
No. Register     : 11299132

No
Tgl
No. Dx
Implementasi
 Paraf
1
2
3
4
6
1
11/07/11



























12/07/16



















I














II





III






I












II





III










































-          Auskultasi suara jantung
-          Batasi aktifitas yang dapat memperberat kerja jantung
-          Monitoring ttv
-          Lakukan penilaian sirkulasi ferifer
-          Edukasi klen untuk minum obat seumur hidup

-          Monitoring vital sign
-          Membantu pasien untuk tirah baring.

-          Menyeka klien 2 kali sehari
-          Membantu klien makan minum
-          Membantu klien minum obat.

-          Auskultasi suara jantung
-          Batasi aktifitas yang dapat memperberat kerja jantung
-          Monitoring ttv
-          Lakukan penilaian sirkulasi ferifer
-          Edukasi klen untuk minum obat seumur hidup

-          Monitoring vital sign
-          Membantu pasien untuk tirah baring.

-          Menyeka klien 2 kali sehari
-          Membantu klien makan minum
-          Membantu klien minum obat.





E.  EVALUASI
No
Tgl
No. Dx
Evaluasi
1
2
3
4
1.
11/07/16
I
S :
-          klien mengatakan hanya berdiam diri ditempat tidur
-          Klien mengatakan faham dan akan meminum obat dengan rutin

O :
-            Klien dibantu dalam makan, minum, mobilisasi, dan minum obat,
-            Bunyi jantung normal S1, S2 tunggal tidak ada bunyi jantung tambahan.
-            Akral hangat.
-            Klie faham dan akan meminum obatnya dengan rutin dirumah.
-          TD   : 120/66 mmHg
-          N    : 80 x/menit
-          Suhu : 360C
-          R : 22 x/menit

A : Masalah teratasi sebagian
P : intervensi dilanjutkan


II


3.

III
S : klien mengatakan baru pulang rehab
    jantung
O : klien tampak pergi rehab jantung
    ADL dibantu
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan semua intervensi
4.
12/07/16

I

5.

II
S : klien mengatakan hanya beristirahat
    ditempat tidur
O : klien tampak istirahat di tempat
    tidur, akral angat,
    Semua kebutuhan ADL dibantu
A : Masalah teratasi semua
P : intervensi dihentikan
6.

III
S : klien mengatakan baru pulang rehab
    jantung
O : klien tampak pergi rehab jantung  
A : Masalah belum teratasi
P : Lanjutkan semua intervensi



TERAPI OKSIGEN

TERAPI OKSIGEN

A.  DEFINISI
Terapi oksigen merupakan Salah satu dari terapi pernafasan dalam mempertahankan oksigenasi jaringan yang adekuat adalah terapi oksigen (O2).
Terapi oksigen merupakan suatu upaya yang dilakukan oleh tenaga kesehatan termasuk keperawatan terhadap adanya gangguan pemenuhan oksigen pada klien. Pengetahuan perawat yang memadai terhadap proses respirasi dan indikasi serta metode pemberian oksigen merupakan bekal bagi perawat agar asuhan yang diberikan tepat guna dengan resiko seminimal mungkin.

B.  TUJUAN
1.    Dapat mengontrol konsentrasi oksigen udara inspirasi.
2.    Tahanan jalan nafas yang rendah.
3.    Tidak terjadi penumpukan CO2.
4.    Efisien.
5.    Nyaman untuk pasien.
6.    Dalam pemberian terapi oksigen perlu diperhatikan “Humidification”. Hal ini penting diperhatikan oleh karena udara yang normal dihirup telah mengalami humidfikasi sedangkan oksigen yang diperoleh dari sumber oksigen (tabung O2) merupakan udara kering yang belum terhumidifikasi, humidifikasi yang adekuat dapat mencegah komplikasi pada pernafasan.

C.  INDIKASI
1.    Klien dengan kadar oksigen arteri rendah dari hasil analisa gas darah.
2.    Klien dengan peningkatan kerja nafas, dimana tubuh berespon terhadap keadaan hipoksemia melalui peningkatan laju dan dalamnya pernafasan serta adanya kerja otot-otot tambahan pernafasan.
3.    Klien dengan peningkatan kerja miokard, dimana jantung berusaha untuk mengatasi gangguan oksigen melalui peningkatan laju pompa jantung yang adekuat.

D.  METODE PEMBERIAN OKSIGEN
Pemberian oksigen dibagi menjadi 2 tehnik yaitu :
1.    Sistem aliran rendah.
Sistem aliran rendah diberikan untuk menambah konsentrasi udara ruangan, menghasilkan FiO2 yang bervariasi tergantung pada tipe pernafasan dengan patokan volume tidal klien. Ditujukan untuk klien yang memerlukan oksigen, namun masih mampu bernafas dengan pola pernafasan normal, misalnya klien dengan Volume Tidal 500 ml dengan kecepatan pernafasan 16 – 20 kali permenit.
Contoh system aliran rendah yaitu :
a.    Keteter Nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen secara kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi 24% – 44%.
1)   Kentungan
Pemberian oksigen stabil, klien bebas bergerak, makan dan berbicara, murah dan nyaman serta dapat juga dipakai sebagai kateter penghisap.  
2)   Kerugian
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen yang lebih dari 45%, tehnik memasukan kateter nasal lebih sulit dari pada kanula nasal, dapat terjadi distensi lambung, dapat terjadi iritasi selaput lendir nasofaring, aliran dengan lebih dari 6 liter/mnt dapat menyebabkan nyeri sinus dan mengeringkan mukosa hidung, serta kateter mudah tersumbat.
b.    Kanul nasal
Merupakan suatu alat sederhana yang dapat memberikan oksigen kontinyu dengan aliran 1 – 6 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen sama dengan kateter nasal.
1)   Keuntungan.
Pemberian oksigen stabil dengan volume tidal dan laju pernafasan teratur, pemasangannya mudah dibandingkan kateter nasal, klien bebas makan, bergerak, berbicara, lebih mudah ditolerir klien dan terasa nyaman.
2)   Kerugian.
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen lebih dari 44%, suplai oksigen berkurang bila klien bernafas melalui mulut, mudah lepas karena kedalaman kanul hanya 1 cm, dapat mengiritasi selaput lendir.
c.    Sungkup muka sederhana.
Merupakan alat pemberian oksigen kontinu atau selang seling 5 – 8 liter/mnt dengan konsentrasi oksigen 40 – 60%.
1)   Keuntungan.
Konsentrasi oksigen yang diberikan lebih tinggi dari kateter atau kanula nasal, sistem humidifikasi dapat ditingkatkan melalui pemilihan sungkup berlobang besar, dapat digunakan dalam pemberian terapi aerosol.
2)   Kerugian.
Tidak dapat memberikan konsentrasi oksigen kurang dari 40%, dapat menyebabkan penumpukan CO2 jika aliran rendah.
d.   Sungkup muka dengan kantong Rebreathing.
Suatu teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi tinggi yaitu 60 – 80% dengan aliran 8 – 12 liter/mnt
1)   Keuntungan.
Konsentrasi oksigen lebih tinggi dari sungkup muka sederhana, tidak mengeringkan selaput lendir .
2)   Kerugian.
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong oksigen bisa terlipat.
e.    Sungkup Muka dengan Kantong Non Rebreathing.
Teknik pemberian oksigen dengan konsentrasi oksigen mencapai 99% dengan aliran 8 – 12 liter/mnt dimana udara inspirasi tidak bercampur dengan udara ekspirasi.
1)   Keuntungan.
Konsentrasi oksigen yang diperoleh dapat mencapi 100%, tidak mengeringkan selaput lendir.
2)   Kerugian.
Kantong oksigen bisa terlipat.
2.    System aliran tinggi.
Teknik pemberian oksigen dimana FiO2 lebih stabil dan tidak dipengaruhi oleh tipe pernafasan, sehingga dengan tehnik ini dapat menambahkan konsentrasi oksigen yang lebih tepat dan teratur. Contoh tehnik sistem aliran tinggi adalah sungkup muka dengan ventury.
Prinsip pemberian O2 dengan alat ini yaitu gas yang dialirkan dari tabung akan menuju ke sungkup yang kemudian akan dihimpit untuk mengatur suplai ooksigen sehingga tercipta tekanan negatif, akibatnya udara luar dapat diisap dan aliran udara yang dihasilkan lebih banyak. Aliran udara pada alat ini sekitas 4 – 14 liter/mnt dengan konsentrasi 30 – 55%.
a.    Keuntungan.
Konsentrasi oksigen yang diberikan konstan sesuai dengan petunjuk pada alat dan tidak dipengaruhi perubahan pola nafas terhadap FiO2, suhu dan kelembaban gas dapat dikontrol serta tidak terjadi penumpukan CO2.
b.    Kerugian.
Tidak dapat memberikan oksigen konsentrasi rendah, jika aliran lebih rendah dapat menyebabkan penumpukan CO2, kantong oksigen bisa terlipat.

E.   BAHAYA PEMBERIAN OKSIGEN
Pemberian oksigen bukan hanya memberikan efek terapi tetapi juga dapat menimbulkan efek merugikan, antara lain :
1.    Kebakaran.
Oksigen bukan zat pembakar tetapi dapat memudahkan terjadinya kebakaran, oleh karena itu klein dengan terapi pemberian oksigen harus menghindari : Merokok, membuka alat listrik dalam area sumber oksigen, menghindari penggunaan listrik tanpa “Ground”.
2.    Depresi ventilasi.
Pemberian oksigen yang tidak dimonitor dengan konsentrasi dan aliran yang tepat pada klien dengan retensi CO2 dapat menekan ventilasi.
3.    Keracunan oksigen.
Dapat terjadi bila terapi oksigen yang diberikan dengan konsentrasi tinggi dalam waktu relatif lama. Keadaan ini dapat merusak struktur jaringan paru seperti atelektasis dan kerusakan surfaktan. Akibatnya proses difusi di paru akan terganggu.

DAFTAR PUSTAKA
       Alimul aziz dkk. 2004. Buku saku kebutuhan dasar manusia. EGC: Jakarta.
Bruner & Suddarth. (2001). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, volume 2. EGC: Jakarta.
Doenges. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan Pendokumentasian perawatan pasien. Jakarta: EGC. 
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jilid 1.UI: Media.
Michellia, 2012. Acute Lungs Oedema (ALO). www.scribd.com. Diakses Tanggal 29 november  2016
Price, Sylvia A. (2006). Patofisiologi. Jakarta: EGC.

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...