BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Konsep diri adalah
citra subjektif dari diri dan percampuran yang kompleks dari perasaan, sikap
dan persepsi bawa sadar maupun sadar. Konsep diri memberikan kita kerangka
acuan yang mempengaruhi manajemen kita terhadap situasi dan hubungan kita
terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain.
Kita mulai membentuk
konsep diri saat usia muda. Masa remaja adalah waktu yang kritis ketika banyak
hal secara kontinu mempengaruhi konsep diri. Jika seseorang anak mempunyai masa
kanak-kanak yang aman dan stabil, maka konsep diri masa remaja anak tersebut
secara mengejutkan akan sangat stabil. Ketidaksesuaian antara aspek tertentu
dari kepribadian dan konsep diri dapat menjadi sumber stress atau konflik.
Konsep diri seseorang
dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut.
Manusia sebagi organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada
akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang
berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang
bersangkutan. Perasaan individu bahwa ia tidak memiliki kemampuan yang ia
miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu
memandang kualitas kemampuan yang dimiliki.
Konsep diri merupakan
bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan
tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap
dirinya. Terdapat beberapa penyebab gangguan konsep diri yang dibagi atas
jenis-jenisnya. Gangguan konsep diri dibagi menjadi persepsi diri, citra tubuh,
harga diri, penampilan peran, dan identitas diri.
1.2 Rumusan
Masalah
1.2.1 Apa definisi gangguan konsep diri ?
1.2.2 Apa saja etiologi gangguan konsep diri ?
1.2.3 Apa saja jenis gangguan konsep diri ?
1.2.4 Bagaimana rentang respon gangguan konsep
diri?
1.2.5 Bagaimana patofisiologi masalah gangguan konsep diri?
1.2.6 Bagaimana manifestasi klinis gangguan konsep diri?
1.2.7 Apa dampak gangguan konsep diri?
1.2.8 Bagaimana mekanisme koping gangguan
konsep diri?
1.2.9
Bagaimana WOC gangguan konsep diri ?
1.2.10 Bagaimana penatalaksanaan gangguan
konsep diri ?
1.2.11 Bagaimana perkembangan konsep diri berdasarkan usia ?
1.2.12 Apa saja diagnosa keperawatan gangguan konsep
diri ?
1.2.13 Bagaimana asuhan keperawatan gangguan konsep diri ?
1.3 Tujuan Penulisan
1.3.1 Mengetahui definisi gangguan konsep diri
1.3.2
Mengetahui etiologi gangguan konsep diri
1.3.3 Mengetahui jenis gangguan konsep diri
1.2.4
Mengetahui rentang
respon gangguan konsep diri
1.2.5
Mengetahui patofisiologi
masalah gangguan konsep diri
1.2.6
Mengetahui manifestasi
klinis gangguan
konsep diri
1.2.7
Mengetahui dampak gangguan konsep diri
1.2.8
Mengetahui mekanisme
koping gangguan konsep diri
1.2.9
Mengetahui WOC gangguan konsep diri
1.2.10
Mengetahui penatalaksanaan
gangguan konsep diri
1.2.11 Mengetahui perkembangan konsep diri berdasarkan usia
1.2.12
Mengetahui diagnosa
keperawatan gangguan konsep diri
1.2.13 Mengetahui asuhan keperawatan gangguan konsep diri
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Mahasiswa
Kita
sebagai mahasiswa harus mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan gangguan
konsep diri dalam mengembangkan ilmu yang sudah kita dapat.
1.4.2 Pembaca
Agar
pembaca mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan gangguan konsep diri ilmu
dengan benar.
1.4.3 Institut
Untuk
menambah refrensi tentang asuhan keperawatan pasien dengan gangguan konsep
diri.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Definisi
Konsep Diri
Konsep
diri merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat
sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman
seseorang terhadap dirinya. Konsep diri ini berkembang secara bertahap sesuai
dengan tahap perkembangan psikososial seseorang. Secara umum konsep diri adalah
semua tanda, keyakinan dan pendirian yang merupakan suatu pengetahuan individu
tentang dirinya yang dapat memengaruhi hubungannya dengan orang lain, termasuk
karakter, kemampuan, nilai, ide dan tujuan (Hidayat, 2006:238).
Diri
merupakan bagian paling kompleks dari semua kualitas manusia. Diri adalah
kerangka acuan dimana seseorang mempersepsi dan mengevaluasi dunia. Konsep diri
terdiri semua nilai-nilai, keyakinan dan ide-ide yang berkonstribusi terhadap
pengetahuan diri dan memengaruhi hubungan seseorang tentang karakteristik dan
kemampuan pribadi serta tujuan dan cita-cita seseorang (Stuart,2016:213).
2.2 Etiologi Konsep Diri
2.2.1 Faktor
predisposisi gangguan konsep
diri :
2.2.1.1 Biologi
: Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena
dirawat atau sakit. Stresor fisik atau jasmani yang lain seperti : suhu dingin
atau panas, suara bising, rasa nyeri atau sakit, kelelahan fisik, lingkungan yg
tidak memadai dan pencemaran (polusi) udara atau zat kimia.
2.2.1.2 Psikologi
Penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang
berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang
lain dan ideal diri yang tidak realistis. Stressor yang lain adalah konflik,
tekanan, krisis dan kegagalan.
2.2.1.3 Sosio kultural
Stereotipi peran gender, tuntutan peran kerja, harapan peran budaya, tekanan
dari kelompok sebaya dan perubahan struktur sosial.
2.2.2 Faktor
predisposisi gangguan citra tubuh :
2.2.2.1 Kehilangan / kerusakan bagian
tubuh.
2.2.2.2 Perubahan ukuran, bentuk dan
penampilan tubuh.
2.2.2.3 Proses
patologik penyakit dan dampaknya terhadap struktur maupun fungsi tubuh.
2.2.2.4 Prosedur
pengobatan seperti
radiasi, transplantasi dan kemoterapi.
2.2.3 Faktor predisposisi gangguan harga
diri :
2.2.3.1 Penolakan dari orang lain.
2.2.3.2 Kurang penghargaan.
2.2.3.3 Pola asuh yang salah
2.2.3.4 Kesalahan dan kegagalan yang
berulang.
2.2.3.5 Tidak mampu mencapai standar yang
ditentukan.
2.2.4 Faktor predisposisi gangguan peran :
2.2.4.1 Transisi
peran yang sering terjadi pada proses perkembangan, perubahan situasi dan
keadaan sehat sakit.
2.2.4.2 Ketegangan
peran, ketika individu menghadapi dua harapan yang bertentangan secara terus
menerus yang tidak terpenuhi.
2.2.4.3 Keraguan
peran, ketika individu kurang pengetahuan tentang harapan peran yang spesifik
dan bingung tentang tingkah laku peran yang sesuai.
2.2.4.4 Peran
yang terlalu banyak.
2.2.5 Faktor predisposisi gangguan
identitas diri :
2.2.5.1 Ketidakpercayaan orang tua pada
anak.
2.2.5.2 Tekanan dari teman sebaya.
2.2.5.3 Perubahan struktur sosial
(Stuart,2016 : 221).
2.2.6 Faktor
presipitasi gangguan konsep
diri dapat
disebabkan oleh faktor dari dalam atau faktor dari luar individu terdiri dari :
2.2.6.1
Trauma
seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan peristiwa yang
mengancam kehidupan.
2.2.6.2
Ketegangan
peran adalah perasaan frustasi ketika individu merasa tidak adekuat melakukan
peran atau melakukan peran yang bertentangan dengan 7 hatinya atau tidak merasa
cocok dalam melakukan perannya. Ada 3 jenis transisi peran yaitu :
a) Perkembangan transisi, yaitu
perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Pertumbuhan ini termasuk
tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma – norma
budaya, nilai – nilai, serta tekanan untuk menyesuaikan diri.
b) Situasi transisi peran adalah
bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui peristiwa penting dalam
kehidupan individu seperti kelahiran atau kematian.
c) Transisi peran sehat sakit terjadi
akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini dapat
dicetuskan oleh :
1) Perubahan ukuran dan bentuk,
penampilan atau fungsi tubuh.
2) Perubahan fisik yang berkaitan dengan
tumbuh kembang normal.
3)
Prosedur medis dan perawatan (Stuart,2016 : 221).
2.3 Jenis Konsep Diri
2.3.1 Persepsi
diri seseorang tentang realitas dipilih dan didasarkan pada pengalaman
konsisten dengan pandangan seseorang saat ini terhadap diri. Cara seseorang
berperilaku adalah hasil dari bagaimana seseorang mempersepsikan situasi. Bukan
peristiwa itu sendiri yang memunculkan respons tertentu melainkan pengalaman
subjektif individu terhadap peristiwa itu. Persepsi diri sulit untuk berubah
namun ada cara untuk mengubah persepsi, termasuk memodifikasi proses kognitif,
mengkonsumsi obat-obatan, mengalami gangguan sensorik, dan menciptakan
perubahan biokimia dalam tubuh (Stuart,2016:214).
2.3.2 Citra tubuh adalah
jumlah dari sikap sadar dan bawah sadar seseorang terhadap tubuh sendiri. Hal
ini termasuk persepsi sekarang dan masa lalu serta perasaan tentang ukuran,
fungsi, bentuk/penampilan, dan potensi. Citra tubuh terus berubah saat persepsi
dan pengalaman baru terjadi dalam kehidupan. Eksistensi tubuh menjadi penting
dalam mengembangkan citra tubuh seseorang. Pakaian menjadi identitas tubuh,
seperti halnya barang milik seseorang (Stuart,2016:214).
2.3.3 Ideal
diri merupakan
persepsi seseorang mengenai bagaimana berperilaku berdasarkan standar pribadi
tertentu. Standar ini mungkin menggambarkan tipe seseorang yang diinginkan atau
aspirasi, tujuan, atau nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri menimbulkan
harapan diri berdasarkan norma-norma masyarakat, yang dicobanya untuk
menyesuaikan diri (Stuart,2016:214-215).
2.3.4 Harga
diri merupakan
penilaian harga diri pribadi seseorang, berdasarkan seberapa baik perilakunya
cocok dengan ideal diri. Seberapa sering seseorang mencapai tujuan secara
langsung mempengaruhi perasaan kompeten (harga diri tinggi) atau rendah diri
(harga diri rendah). Harga diri tinggi adalah perasaan penerimaan diri, tanpa
syarat, meskipun salah, kalah dan gagal, sebagai pembawaan yang berharga dan
penting. Harga diri yang tinggi telah dikaitkan dengan ansietas yang rendah,
fungsi kelompok yang efektif, penerimaan, dan toleransi dari yang lain
(Stuart,2016:215-216).
2.3.5 Penampilan peran adalah
sekumpulan pola perilaku yang diharapkan secara sosial berhubungan dengan
fungsi seseorang dalam kelompok sosial yang berbeda. Perilaku peran berkaitan
erat dengan konsep diri dan identitas, dan gangguan peran yang sering
melibatkan konflik antara fungsi independen dan dependen. Harga diri tinggi
dihasilkan dari peran yang memenuhi kebutuhan dan sesuai dengan ideal diri
seseorang.
2.3.6 Identitas
diri merupakan
kesadaran diri yang didasarkan pada observasi dan penilaian diri. Hal ini tidak
terkait dengan satu prestasi, aktivitas, karakteristik, atau peran. Identitas
berbeda dari konsep diri yaitu perasaan berbeda dari orang lain. Orang dengan
rasa identitas positif melihat dirinya sebagai individu yang unik dan berharga
(Stuart,2016:216)
2.4 Rentang
Respon
Konsep Diri
2.5 Patofisiologi Gangguan Konsep Diri
Proses
terjadinya gangguan konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran,
keyakinan,dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan
mempengaruhi hubungannya denga orang lain. Konsep diri tidak terbentuk sejak
lahir namun dipelajari. Salah satu komponen konsep diri yaitu harga diri dimana
harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa
seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Sedangkan harga diri rendah
adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggung
jawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka cenderung
harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek
utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain. Gangguan harga
diri digambarkan sebagai perasaan
yang negetif
terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa
gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan produktifitas,
perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri secar sosial. Faktor
yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua
yang tidak realistik, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung
jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak
realistik (Keliat, 2001).
2.6 Manifestasi Klinis Gangguan Konsep Diri
Tanda
dan gejala perilaku
yang berhubungan dengan gangguan konsep diri antara lain:
2.6.1 Mengkritik diri sendiri atau orang
lain
2.6.2 Perasaan dirinya sangat penting
yang berlebih-lebihan
2.6.3 Perasaan tidak mampu
2.6.4 Rasa bersalah
2.6.5 Sikap negatif pada diri sendiri
2.6.6 Sikap pesimis pada kehidupan
2.6.7 Keluhan sakit fisik
2.6.8 Pandangan hidup yang terpolarisasi
2.6.9 Menilak kemampuan diri sendiri
2.6.10 Pengurangan diri/mengejek diri
sendiri
2.6.11 Perasaan cemas dan takut
2.6.12 Merasionalisasi penolakan atau
menjauh dari umpan balik positif
2.6.13 Ketidakmampuan menentukan tujuan
(Wijayaningsih, 2015 : 50).
2.7 Dampak Gangguan Konsep Diri
Akibat dari perubahan konsep diri adalah sebagai berikut
:
2.7.1 Perubahan penampilan peran
Mekanisme
: Berubah atau berhentinya fungsi peran seseorang yang disebabkan oleh penyakit
merupakan akibat dari gangguan konsep diri.
2.7.2 Keputusasaan
Mekanisme
: merupakan persepsi bahwa tindakan seseorang tidak akan mempengaruhi hasil
karena kurang percaya diri dengan kemampuan karena menganggap dirinya tidak
mampu.
2.7.3 Menarik
diri
Mekanisme
: perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan
orang lain, karena menganggap dirinya tidak pantas berada di lingkungan
tersebut yang merupakan akibat dari gangguan konsep diri ( Keliat, 2001 ).
2.8 Mekanisme
Koping
Gangguan
Konsep
Diri
Mekanisme
koping terdiri dari pertahanan koping jangka pendek atau jangka panjang serta
penggunaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri sendiri dalam
menghadapi persepsi diri yang menyakitkan.
Pertahanan
jangka pendek mencakup berikut ini :
2.8.1 Aktivitas
yang memberikan pelarian sementara dari krisis identitas diri (misalnya konser
musik, menonton televisi secara obsesif)
2.8.2 Aktivitas
yang memberikan identitas pengganti sementara (misalnya ikut serta dalam klub
sosial, agama, politik, kelompok, gerakan, atau geng).
2.8.3 Aktivitas
yang sementara menguatkan atau meningkatkan perasaan diri yang tidak menentu (misal
: olahraga yang kompetitif, prestasi akademik, kontes untuk mendapatkan
popularitas).
2.8.4 Aktivitas
yang merupakan upaya jangka pendek untuk membuat identitas di luar dari hidup
yang tidak bermakna saat ini (misalnya: penyalahgunaan obat).
Pertahanan
jangka panjang mencakup berikut ini Stuart ( 2016 ) :
2.8.1 Penutupan
identitas adalah adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang terdekat
tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi, atau potensi diri individu.
2.8.2 Identitas
negatif adalah asumsi identitas yang tidak sesuai dengan nilai dan harapan yang
diterima masyarakat.
2.8.3 Mekanisme
pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi, disosiasi,
isolasi, proyeksi, pengalihan (displacement), splitting, berbalik marah terhadap diri
sendiri, dan amuk (Stuart,2016 : 224).
2.9 WOC Gangguan Konsep Diri
2.10 Penatalaksanaan
Gangguan Konsep Diri
Penatalaksanaan
Keperawatan dibagi
menjadi empat yaitu :
2.10.1 Memberi kesempatan untuk berhasil
2.10.2 Menanamkan gagasan
2.10.3 Mendorong aspirasi
2.10.4 Membantu membentuk koping
Penatalaksanaan
Medis yaitu :
2.10.1 Clorpromazine
( CPZ ) Untuk sindrom psikosis yaitu berat dalam kemampuan menilai realitas,
kesadaran diri terganggu, waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku
aneh, tidak bekerja, hubungan sosial dan melakukan aktivitas rutin. Efek
saamping : sedasi, gangguan otonomik serta endokrin (Keliat, 2001).
2.10.2 Trihexyphenidyl
( THP ) Untuk segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pascaa enchepalitis dan
idiopatik. Efeksamping : hypersensitive terhadap trihexyphenidyl, psikosis
berat, psikoneurosis dan obstruksi saluran cerna (Keliat, 2001)
2.10.3 Haloperidol
( HPL ) Berdaya berat dalam kemampuan menilai realitaas dalaam fungsi netral
serta fungsi kehidupan sehari-hari. Efek samping : sedasi, gangguan otonomik
dan endokrin (Keliat, 2001).
2.10.4 Terapi
okupasi / rehabilitasi Terapi yang terarah bagi pasien, fisik maupun mental
dengan menggunakan aktivitas terpilih sebagai media. Aktivitas tersebut berupa
kegiatan yang direncanakan sesuai tujuan (Keliat, 2001)
2.10.5 Psikoterapi
Psikoterapi yang dapat membantu penderita adalah psikoterapi suportif dan
individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk
mengembalikan penderita ke masyarakat (Keliat, 2001)
2.11 Perkembangan
Konsep Diri Berdasarkan Usia
Setiap
manusia mengalami tumbuh dan kembang, dimana dalam perkembangan manusia akan
mengalami perubahan sesuai dengan usianya. Di bawah ini adalah tahap
perkembangan konsep diri manusia sesuai dengan tahapan umur manusia, yaitu :
2.11.1 Usia 0-1 Tahun
1) Trust.
2) Berhubungan dengan lingkungan.
2.11.2 Usia 1-3
tahun
1) Belajar dan mengontrol bahasa.
2) Mulai beraktivits mandiri dan otonomi.
3) Menyukai diri sendiri.
4) Menyukai tubuh sendiri.
2.11.3 Usia 3-6
tahun
1) Berinisiatif.
2) Mengenal jenis kelamin.
3) Meningkatkan kesadaran diri.
4) Meningkatkan kemampuan bahasa.
2.11.4 Usia 6-12
tahun
1) Berhubungan dengan kelompok sebaya.
2) Tumbuh harga diri dengan kemampuan baru yang dimiliki.
3) Menyadari kekurangan dan kelebihan.
2.11.5 Usia 12-20
tahun
1) Menerima perubahan-perubahan.
2) Eksplorasi tujuan dan masa depan.
3) Merasa positif pada diri sendiri.
4) Memahami hal-hal terkait seksualitas.
2.11.6 Usia 20-40
tahun
1) Hubungan yang intim dengan pasangan, keluarga, dan
orang-orang terpenting.
2) Stabil.
3) Positif pada diri sendiri.
2.11.7 Usia 40-60
1) Dapat menerima kemunduran.
2) Mencapai tujuan hidup.
3) Menunjukan proses penuaan.
2.11.8 Usia 60
tahun keatas
1) Perasaan positif, menemukan makna hidup.
2)
Melihat
kepada kelanjutan keturunannya.
2.12 Diagnosa
Keperawatan Konsep Diri
Masalah-masalah konsep diri berkaitan
dengan perasaan-perasaan ansietas, bermusuhan dan rasa bersalah. perasaan ini
sering menimbulkan proses penyebaran diri dan sirkuler bagi individu yang dapat
menimbulkan respons koping maladaftif yang paling hebat. Respons dapat terlihat
dalam berbagai pengalaman yang mengancam integritas fisik dan integritas sistem
seseorang.
Diagnosa yang mungkin muncul sebagai
berikut :
Subkategori:
Integritas Ego.
0080
Ansietas.
0081
Berduka.
0082
Distres Spiritual.
0083
Gagguan Citra Tubuh.
0084
Gangguan Identitas Diri.
0085
Gangguan Persepsi Sensori.
0086
Harga Diri Rendah Kronis.
0087
Harga Diri Rendah Situasional.
0088
Keputusasaan.
0089
Kesiapan Peningkatan Konsep Diri.
0090
Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga.
0091
Kesiapan Peningkatan Koping Komunitas.
0092
Ketidakberdayaan.
0093
Ketidakmampuan Koping Keluarga.
0094
Koping Defensif.
0095
Koping Komunitas Tidak Efektif.
0096
Koping Tidak Efektif.
0097
Penurunan Koping Keluarga.
0098
Penyangkalan Tidak Efektif.
0099
Perilaku Kesehatan Cenderung Berisiko.
0100
Risiko Distres Spiritual.
0101
Risiko Harga Diri Rendah Kronis.
0102
Risiko Harga Diri Rendah Situasional.
0103
Risiko Ketidakberdayaan.
0104
Sindrom Pasca Trauma.
2.13 Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Gangguan Konsep Diri
2.13.1 Pengkajian Keperawatan
a) Faktor predisposisi
1) Faktor predisposisi gangguan citra
tubuh
· Kehilangn
/ Kerusakan bagian tubuh ( anatomi dan fungsi )
· Perubahan
ukuran,bentuk dan penampilan tubuh
( akibat pertumbuhan
dan perkembangan penyakit )
· Proses
patologis penyakit dan dampak terhadap
struktur maupun fungsi tubuh
· Prosedur
pengobatan seperti radiasi kemoterapi dan transplantasi
2)
faktor predis posisi gangguan identitas diri
· Ketidak
percayaan orang tua terhadap anak
· Tekanan
dari teman sebaya
· Perubahan
struktur sosial
3) faktor predis posisi gangguan harga
diri
· Penolakan
dari orang lain
· Kurang
penghargaan
· Pola
asuh yang salah,terlalu di larang,terlalu di control,terlalau di turuti,
terlalu di tuntut tidak konsisiten
· Persaingan
antar saudara
· Kesalahan
dan kegagalan yang berulang
· Tidak
mamapu mencapai standart yang di tentukan
4) faktor predis posisi gangguan peran
· Transisi
peran yang sering terjadi pada proses perkembangan, perubahan situasi dan
keadaaan sehat sakit
· Ketegangan
peran, ketika individu menghadapi dua harapan yang bertantangan secara terus
menerusa yang tidak terpenuhi
· Keraguan
peran, ketika individu kurang pengetahuan tentang harapan peran yang spesifik
dan bingung tentang tingkah laku yang spesifik dan bingung tentang tingkah laku
peran yang sesuai
· Peran
yang terlalu banyak
b) Faktor presitasi
1) Trauma
Masalah spesifik sehubngan dan konsep
diri adalah situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri / tidak dapat
menerima khususnya trauma emosi seperti penganiayaan fisik , sksualiatas dan
psikologis pada masa anak-anak atau merasaa terancam/menyaksikan kejadian
berupa tindak kejahatan.
2) Ketegangan peran
Ketegangan
peran adalah perasaan frustasi ketika individu merasa tidak adekuat melakukan
peran/melakukan peran yang bertentangan dengan
hatinya/tidak merasa cocok dalam melakukan perannya.
c) Perubahan perilaku
1) Perubahan perilaku pada gangguan citra
tubuh
· Menolak
menyentuh/melihat bagian tubuh tertentu
· Menolak
bercermin
· Menolak
usaha rehabilitasi menyangkal cacat tubuh
· Usaha
pengobatan mandiri yang tidak tepat
2) Perubahan perilaku yang berhubungan
dengan harga diri rendah
· Mengkritik
diri sendiri
· Merasa
bersalah dan khawatir
· Merasa
tidak mampu
· Menunda
keputusan
· Gangguan
berhubungan
3) Perubahan perilaku yang berhubungan
dengan depersonalisasi
· Kepribadian
yang bertentangan
· Perasaaan
hampa
· Kekacauan
identistas seksual
· Kecemasan
yang tinggi
4) perubahan perilaku yang berhubungan
dengan depersonalisasi
· Afektif
· Kehilangan
identitas diri
· Merasa
asing dengan dirir sendiri
· Perasaaan
tidak nyata
· Merasa
sangat terisolasi
· Persepsi
· Halusinasi
pendengaran
· Kekuasaan
identitas seksual
· Gsnggusn
citra tubuh
· Kognitif
· Bingung
· Diser
pentasi waktu
· Gangguan
berpikir
· Perilaku
· Pasif
· Kurang
spontanitasi
· Kurang
pengendalian diri
d) Mekanisme
koping
Klien
gangguan konsep diri menggunakan mekanisme koping yang dapat di
kategorikan menjadi 2 yaitu :
1) Koping jangka pendek, karakteristik nya :
· Aktivitas
yang dapat memeberi kesempatan lari sementara dari kritis. Misalnya : menonton TV, kerja keras, olah raga
· Aktivitas
yang dapat memberikan identitas pengganti sementara. Misalnya : ikut kegistsn
sosisl,politik,agama
2) Koping jangka panjang
Dikategorikan dalampenutupan
identitas negatif.
Penutupan identitas : adopsi
identitas prematur yang di inginkan orang yang penting dalam individu tanpa
mempaertahankan ke inginan. Identitas
negatif adalah
asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat di terima oleh nilai dan harapan
masyarakat. Mekanisme
pertahanan ego yang sering di pakai adalah :
· Fantasi
Kemamapuan menggunakan tanggapan
yang sudah ada untuk untuk mendpat tanggapan baru.
· Disosisalisasi
Respon yang tidsak sesuai dengan
stimulus.
· Isolasi
Menghindarkan diri dari interaksi
dengan lingkungan luar.
· Proyeksi
Kelemahan dan kekurangan pada diri
sendiri di lontarkan pada orang lain.
2.13.2 Diagnosa Keperawatan
Masalah gangguan konsep diri
berhubungan dengan rasa bersalah sering menimbulkan kekacauan dan mengakibatkan
respon koping yang maladaptif. Respon ini dapat dilihat bervariasi pada
berbagai individu, yang mengalami ancaman integritas diri atau harga diri.
Masalah keperawatan dan contoh diagnosa keperawatan lengkap yang berkaitan
dengan gangguan konsep diri, lihat tabel berikut ini.
Masalah keperawatan yang berhubungan dengan konsep diri yaitu :
|
Masalah keperawatan uatama |
Contoh diagnosa keperawatan yang lengkap |
|
1. Gangguan gambaran diri |
1) Gangguan gambaran diri berhubungan
dengan harga diri rendah 2) Gangguan gambaran diri
berhubungan dengan defisit perawatan diri |
|
2. Gangguan identitas diri |
1) Gangguan identitas diri
berhubungan dengan perubahan penampilan peran 2) Gangguan identitas berhubungan
dengan keracunan obat yang dimanifestasika dengan control impuls yang kacau
dan hilang |
|
3. Gangguan penampilan peran |
1) Gangguan penampilan peran
berhubungan dengan harga diri rendah |
|
4. Gangguan harga diri rendah |
1) Harga diri rendah berhubungan
dengan ideal diri yang tidak realistik 2) Harga diri rendah
berhubungan dengan ideal diri terlalu tinggi |
2.13.3 Intervensi Keperawatan
|
No |
Diagnosa (SDKI) |
Tujuan dan
Kreteria Hasil (SLKI) |
Intervensi (SIKI) |
|
1. |
D.0083 Gangguan citra tubuh berhubungan dengan
perubahan struktur/bentuk tubuh (missal: amputasi trauma, Luka bakar). Gejala dan dan tanda mayor Subjektif : -Mengungkapkan
kecacatan/ kehilangan bagian tubuh Objektif : -Kehilangan
bagian tubuh -fungsi/
struktur tubuh berubah / hilang Gejala dan tanda
minor Subjektif : -Tidak
mau mengungkapkan kecacatan/ kehilangan bagian tubuh -Mengungkapkan
kekhawatiran pada penolakan / reaksi
orang lain -Mengungkapkan
perubhan gaya hidup Objektif : -Menyambungkan
/ menunjuk bagian tubuh secara berlebihan -Menghindari
melihat atau menyentuh bagian tubuh -Fokus
berlebihan pada bagian tubuh -Respon
non verbal pada perubahan dan presepsi
tubuh -Fokus pada penampilan dan kekuatan masa lalu -Hubungan
Sosial berubah Kondisi klinis
terkait : 1.Mastektomi 2.Amputasi 3.Jerawat 4.Parut/
Luka Bakar 5.Obesitas 6.Hiperpegmentasi
pada kehamilan 7.Gangguan
Psikiatrik |
L.09067 Ekspektasi
meningkat Kreteria Hasil : -Melihat
Bagian tubuh membaik -Menyentuh
Bagian tubuh membaik -Verbalisasi kecacatan bagian tubuh membaik -Verbalisasi
kehilangan bagian tubuh membaik -Verbalisasi
kekhawatiran pada penolakan/ reaksi orang lain menurun -Menyembunyikan
bagian tubuh berlebihan -Menunjukkan
bagian tubuh berlebihan Menurun -
Fokus pada bagian tubuh menurun -Fokus
pada penampilan pada masa lalu menurun -Hubungan
social membaik |
I.09305
Promosi citra tubuh Observasi : -Identifikasi harapan citra tubuh
berdasarkan tahap perkembngan -Identifikasi perubhan citra tubuh
yang mengakibatkan isolasi social -Monitor apakah pasien bisa melihat
bagian tubuh yyang berubah Terapeutik : -Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya -Diskusikan perbedaan penampilan fisik
terhadap harga diri -Diskusikan kondisi stress yang
mempunyai citra tubuh missal, luka, penyyakit, pembedahan -Diskusikan
presepsi psien dan keluarga tentang perubhan citra tubuh Edukasi : -Jelaskan kepada keluar ga tentang perawatan perubahan citra tubuh -Anjurkan
mengungkapkan gambaran diri terhadap citra tubuh -Latih fungsi
tubuh yang dimiliki -Latih
peningkatan penampilan missal berdandan -Latih
pengungkapan kemampuan diri kepda orang lain maupun kelompok. |
|
No |
Diagnosa (SDKI) |
Tujuan dan
Kreteria Hasil (SLKI) |
Intervensi (SIKI) |
|
2. |
D.0084 Gangguan
identitas diri berhubungan dengan
peran sosial Gejala dan tanda
mayor Subjektif : -Presepsi
terhadap diri berubah -Bingung
dengan nilai-nilai budaya , tujuan hidup, jenis kelamin dan atau nilai-nilai
ideal -Perasaan yang fluktuatif terhadap diri Objektif : -Prilaku
tidak konsisten -Hubungan
yang tidak efektif -Strategi
koping tidak efektif -Penampilan peran tidak efektif Kondisi klinis
terkait : -Gangguan Austik -Gangguan
orientasi seksual -Priode
perkembangan remaja |
L.09070 Identitas
Diri Ekspetasi
Membaik Kreteria Hasil : -Hubungan efektif yyang meningkat -Strategi
koping efektif meningkat -Penampilan peran efektif meningkat -Perasaan fluktuatif terhadap ditri menurun -Kebingungan
dengan tujuan hidup menurun -Kebingungan
dengan nilai-nilai budaya menurun -Presepsi
terhadap diri membaik |
I.09311 Promosi Kesadaran Diri Observasi : -Identifikasi
keadaan emosional saat ini -identifikasi
respon yang ditunjukkan berbagai situasi Terapeutik : -Diskusikan
tentang pikiran perilaku atau respon terhadap kondisi -Ungkapan
penyangkalan tentang kenyataan -Motivasi
dalam meningkatkan kemampuan belajar Edukasi : -Anjurkan
mengenali pikiran dan perasaan tentang diri -Anjurkan
mengungkapkan perasaan (mis, marah atau depresi) -Anjurkan
mengidentifikasi perasaan bersalah -Anjurkan mengubah
pandangan diri sebagai korban -Ajarkan
cara membuat prioritas hidup -Latih kemampuan positif diri yang dimiliki. |
|
No |
Diagnosa (
SDKI ) |
Tujuan
dan Kriteria Hasil (
SLKI ) |
Intervensi (SLKI
) |
|
3. |
D. 0086 Harga
diri rendah kronis berhubungan dengan kurangnya pengakuan dari orang lain. Gejala dan Tanda
Mayor Subyektif : -
-Menilai
diri negatif
(Misal
: Tidak berguna, tidak tertolong) -
-Merasaa
malu atau bersalah -
-Merasa
tidak mampu melakukan apapun -
-Meremehkan
kemampuan mengatasi masalah -
-Merasa
tidak memiliki kelebihan atau kemampuan positif -
-Melebih-lebihkan penilaian negative tentang
diri sendiri -
-Menolak
penilai positif tentang diri sendiri -
Objektif
: -
-Enggan
mencoba hal yang baru -
-Berjalan
menunduk -
-Postur
tubuh menunduk Gejala dan Tanda
Minor Subjektif : -
-Merasa
sulit konsentrasi -
-Sulit
tidur -
-Mengungkapkan
keputusan Objektif : -
-Kontak
mata kurang -
-Lesu
dan tidak bergairah -
-Berbicara
pelan dan lilit -
-Pasif -
-Sulit
membuat keputusan Kondisi
Klinis Terkait : -Cidera traumatis -Pembedahan -Kehamilan -Stroke -Penyalahgunaan zat -Dimensia -Penyakit kronis -Pengalaman tidak menyenangkan |
L. 09069 Harga Diri
Ekspektasi Meningkat -
-Penilaian
diri positif miningkat -
-Minat
mencoba hal baru -
-Berjalan
menampakkan wajah -
-Postur
tubuh menampakkan wajah -
-Konsentrasi
meningkat -
-Kontak
mata meningkat -
-Percaya
diri berbicara meningkat -
-Kempuan
membuat ke putusan meningkat -
-Perasaan
malu menurun -
-Perasaan
tidak mampu melakukan apapun menurun -
-Perasaan
bersalah menurun -
-Meremehkan
kemampuan mengatasi masalah menurun |
09308 Promosi Harga Diri Observasi : -
-Identifikasi
budaya, agama, ras, jenis kelamin dan usia tentang harga diri -
-Monitor
verbalisasi yang merendahkan diri sendiri -
-Monitor
tingkat harga diri setiap waktu sesuai kebutuhan Terapeutik : -
-Motivasi
terlibat dalam verbalisasi positif untuk diri sendiri -
-Motivasi
menerima tantangan atau hal baru -
-Diskusikan
pengalaman yang meningkatkan harg diri -
-Diskusikan
alas an mengkritik diri atau rasa bersalah -
-Berikan
umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan -
-Fasilitasi
lingkungan dan aktifitas yang meningkatkan harga diri Edukasi : -
-Jelaskan
kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan konsep diri pasien -
-Anjurkan
mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki -
-Anjurkan
mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain -
-Anjurkan
membuka diri tehadap kritik negatif -
-Latih
pernyataan atau kemampuan positif diri -
-Latih
cara berfikir dan berperilaku positif -
-Latih
meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani masalah. |
BAB 3
CONTOH KASUS
PENGKAJIAN
KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA
I.
IDENTITAS
KLIEN
Nama : Nn. I
Umur : 14 tahun (22-03-2006)
Pendidikan : SD
Agama
: Islam
Status : -
Alamat : Ardisaeng RT 03 RW 02 Kec. Pakem Kab. Bondowoso
Pekerjaan :
Tidak
Bekerja
Jenis
Kelamin : Perempuan
No.
RM : -
Sumber
Informasi : Klien
dan Keluarga
II.
ALASAN
MASUK
Data
Primer
Klien mengatakan sering merasa malu dan tidak percaya diri ketika berada di
keramaian, klien lebih suka menyendiri dan menutup diri dari lingkungannya.
Data Sekunder
Keluarga klien
mengatakan sudah 4 bulan klien tidak mau keluar rumah dan mengurung diri
di kamarnya, tidak mau makan dan bicara bahkan BAK dan BAB di tempat tidurnya.
III.
FAKTOR
PRESIPITASI
Klien berasal dari desa Ardisaeng RT 03 RW 02 Kec. Pakem Kab. Bondowoso, menurut
pengakuan dari keluarga klien sering sekali mengurung diri dikamar dan tidak mau keluar sampai berhari-hari
bahkan berminggu-minggu. Klien tidak merespon saat di ajak bicara, kontak mata
kurang dan tidak suka bersosialisasi dengan orang lain. Saat klien di paksa
keluar rumah, maka klien akan marah dan menangis seperti bayi. Klien akan
kembali ke kamarnya dan menutup pintu agar tidak ada orang yang masuk.
Klien tidak mempunyai riwayat penyakit fisik (-),
kejang (-), dan napza (-).
IV.
FAKTOR
PREDISPOSISI
A.
RIWAYAT
PENYAKIT LALU
1.
Pernah
mengalami gangguan jiwa di masa lalu :
Ya, keluarga klien mengatakan bahwa
klien pernah mengalami gangguan jiwa 4
tahun yang lalu.
Pengobatan
sebelumnya :
Klien tidak pernah menjalani pengobatan
sebelumnya.
Masalah Keperawatan : Tidak ada
2.
Pernah
mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang)
Tidak, keluarga klien mengatakan bahwa klien tidak
pernah mengalami penyakit fisik dan gangguan tumbuh kembang
Masalah
Keperawatan : Tidak
ada
B.
RIWAYAT
TRAUMA
|
NNo |
Trauma |
Usia |
Pelaku |
Korban |
Saksi |
|
11. |
Aniaya fisik |
- |
- |
- |
- |
|
22. |
Aniaya seksual |
- |
- |
- |
- |
|
33. |
Penolakan |
10th |
Teman sebaya |
Nn. I |
Guru |
|
44. |
Kekerasan dalam keluarga |
- |
- |
- |
- |
|
55. |
Tindakan kriminal |
- |
- |
- |
- |
1.
Pengalaman
masa lalu yang tidak menyenangkan (Bio, Psiko, Sosio, Kultural dan Spiritual)
Keluarga klien juga klien sendiri
mengatakan pernah mengalami penolakan
oleh teman-teman sebaya nya yaitu tidak punya teman pada umur 10th dan saksinya adalah Guru
sekolahnya
Masalah
Keperawatan : Sindrom
Pasca Trauma
C.
RIWAYAT
PENYAKIT KELUARGA
1.
Anggota
keluarga yang gangguan jiwa?
Kalau ada :
Tidak ada.
Hubungan keluarga : Keluarga klien tidak ada yang mengalami
gangguan jiwa sebelumnya.
Gejala :Tidak terdapat gejala bahwa anggota
keluarga klien mengalami gangguan jiwa.
Riwayat pengobatan :Keluarga klien tidak menjalani pengobatan
gangguan jiwa.
Masalah
Keperawatan : Tidak ada
V.
PEMERIKSAAN
FISIK
1.
Keadaan
Umum : Composmentis
GCS : 4-5-6
2.
Tanda-Tanda
Vital
Tekanan Darah :
110/70 mmHg
Nadi :
80x/menit
Suhu :
36,7o C
Pernafasan :
20x/menit
3.
Ukur
Berat Badan :
34 Kg
Tinggi Badan :
138 Cm
4.
Keluhan
Fisik
Klien tidak
mengatakan apa-apa.
5.
Pemeriksaan
Fisik
a)
Kepala
I
: bentuk
kepala normal, benjolan (-), rambut pendek, kusam, tidak ada kutu, terdapat
ketombe.
P
: tidak
ada nyeri tekan.
b)
Mata
I
: bentuk
mata simetris, sklera putih, konjungtiva anemis, pupil berespon terhadap
cahaya, pupil isokor kanan dan kiri, tidak ada lesi.
P
: tidak
ada nyeri tekan.
c)
Hidung
I
: bentuk
hidung normal, tidak ada lesi, tidak ada deformitas tulang, tidak terdapat cairan
yang keluar dari hidung.
P : tidak
ada nyeri tekan.
d)
Mulut
I
: Bentuk
mulut normal, tidak ada lesi, tidak ada perdarahan di gusi, terdapat karies
gigi, gigi kuning, lidah kotor.
P
: tidak
ada nyeri tekan.
e)
Telinga
I
: bentuk
telinga normal, simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi, tidak ada cairan yang
keluar dari telinga, terdapat banyak serumen di lubang telinga kanan dan kiri,
tidak ada lesi.
P
: tidak
ada nyeri tekan.
f)
Leher
I
: bentuk
leher normal, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada lesi.
P
: tidak
ada nyeri tekan.
g)
Dada
Paru
I
: bentuk
dada normal chest, expansi dada simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi, tidak
ada retraksi dada.
P
: tidak
ada nyeri tekan, Vocal Fremitus teraba sama kanan dan kiri.
P
:
suara paru sonor.
A
:
tidak ada suara nafas tambahan, suara nafas vesikuler.
Jantung
I
: ictus
cordis tidak terlihat di ICS 5
P
:
tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat cardiomegaly.
P
:
suara jantung pekak.
A
:
bunyi jantung S1 S2 tunggal.
h)
Abdomen
I
: bentuk
abdomen supel, tidak ada lesi, tidak ada spider navy.
A
: bising
usus 5x/menit.
P
: tidak
ada nyeri tekan, tidak ada masa (hepatomegaly dan splenomegaly), tidak ada
acites.
P
: suara
abdomen tympani.
i)
Ekstermitas
I
: ekstremitas
atas dan bawah lengkap, tidak ada cacat, tidak ada lesi.
P
: tidak
ada nyeri tekan, kekuatan otot
j)
Genetalia
dan Anus
I
: bentuk
normal, tidak ada lesi, tidak ada cairan yang keluar, tidak ada hemoroid.
P
: tidak
ada nyeri tekan.
VI.
PENGKAJIAN
PSIKOSOSIAL (sebelum dan sesudah sakit)
1.
10th
Keterangan:
Laki-laki Laki-laki meninggal Menikah Pasien dengan umur Keturunan Tinggal serumah Perempuan meninggal Perempuan
2.
Konsep
Diri
a)
Citra
Diri
Klien tidak
mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya, bahkan tidak ada kontak mata.
b)
Identitas
Diri
Klien tidak mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya,
bahkan tidak ada kontak mata.
c)
Peran
Klien tidak mau mengatakan
apapun dan menunduk saat ditanya, bahkan tidak ada kontak mata.
d)
Ideal
diri
Klien
tidak mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya,
bahkan tidak ada kontak mata.
e)
Harga
diri
Klien tidak mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya,
bahkan tidak ada kontak mata.
Masalah keperawatan : Harga
Diri Rendah
3.
Hubungan
Sosial
a)
Orang
yang berarti/terdekat :
Dikeluarga : klien mempunyai keluarga yang
terdekat/berarti. Semua keluarganya memberi dukungan pada klien.
b)
Peran
serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat :
Klien tidak pernah mengikuti kegiatan apapun di
masyarakat.
c)
Hambatan
dalam berhubungan dengan orang lain :
Klien selalu
malu dan menghindar saat ada banyak orang disekitarnya.
Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial
4.
Spiritual
a)
Nilai
dan keyakinan
Klien beragama
Islam
b)
Kegiatan
ibadah
Di rumah : keluarga klien
mengatakan klien hampir tidak permah
sholat dan selalu menolak ketika diminta sholat.
Di Rumah Sakit : klien tidak pernan
sholat.
Masalah
Keperawatan : Distress Spiritual
VII.
STATUS
MENTAL
1.
Penampilan
Klien berpakaian tidak rapi
Klien dalam berpakaian dirumah selalu memakai jilbab dan pakaian
tertutup. Saat di Rumah Sakit klien tidak mau diminta untuk mengganti
pakaiannya. Kakinya bau
tidak bersih, kuku kaki dan tangan kotor.
Masalah
Keperawatan : Defisit Perawatan Diri (Mandi dan
Berhias)
2.
Interaksi
selama wawancara
Klien kurang kooperatif
Pembicaraan inkoheren, confulsif, tidak menjawab pertanyaan, menundukkan kepala.
Kontak mata kurang, nada suara kurang jelas.
3.
Pembicaraan
Kurang jelas dan tidak bisa dimengerti. Nada suara
tidak jelas dan terkadang tidak mau menjawab pertanyaan dari perawat.
Malasah
Keperawatan : Kerusakan Komunikasi Verbal
4.
Aktivitas
motoric
Kompulsif
Klien
dalam beraktivitas tidak ada hambatan ataupun gangguan, ekstremitas atas dan
bawah normal bisa digerakkan. Tapi klien tidak mau melakukan aktivitas.
Masalah
Keperawatan : Tidak ada
5.
Kesadaran
a. Kuantitatif : Composmentis
GCS456 E4 : Membuka mata dengan
spontan
V5 : Bicara jelas
M6 :Dapat
mengikuti perintah
a)
Kualitatif
Limitasi (Pembatasan)
Klien selalu membatasi diri untuk
bergaul dan berbicara dengan
temannya. Klien selalu merasa malu dan diam.
Masalah
Keperewatan : Harga
Diri Rendah
6.
Orientasi
a) Waktu
: klien tidak mampu
menyebutkan tanggal, bulan dan tahun.
b) Tempat
: klien tidak
mampu mengenali dimana tempat dia berada sekarang RS Umum Bondowoso.
c) Orang
: klien tidak mampu
menyebutkan beberapa orang yang dia kenal, teramsuk perawatnya.
Masalah
Keperawatan : Disorientasi (Waktu, Tempat dan Orang)
7.
Perasaan
a) Emosi
Klien tidak mengatakan apapun.
b) Afek
Klien
tidak menunjukkan ekspresi apapun, ekspresi datar tidak
sesuai dengan keadaan seperti sedih (klien menangis), senang (klien tertawa).
Masalah
Keperawatan :
8.
Persepsi
– Sensorik
Klien tidak mau bicara.
Masalah
Keperawatan : Tidak ada
9.
Proses
pikir
a)
Arus
Pikir
Tidak mau bicara
Masalah
Keperawatan : Tidak
ada
b)
Isi
Pikir
Merasa
malu dan tidak berguna
Masalah
Keperawatan : Harga Diri
Rendah
c)
Bentuk
Pikir
Merasa
malu dan tidak berguna
Masalah Keperawatan : Harga
Diri Rendah
10. Memori
a)
Daya ingat jangka panjang : Tidak ada
b)
Daya ingat jangka pendek : Tidak ada
c)
Daya ingat saat ini : Tidak ada
Masalah
Keperawatan : Gangguan
Memori
11. Tingkat konsentrasi dan berhitung
Klien tidak
mau berhitung
Masalah
Keperawatan : Tidak ada
12. Kemampuan penilaian
Gangguan
Tingkat kemampuan klien masih baik, tapi klien tidak mau mengatakan
apapun.
Masalah
Keperawatan : Kerusakan
Komunikasi Verbal
13. Daya tilik diri
Klien tidak menyadari bahwa dirinya sekarang di rawat di RS
Masalah
Keperawatan : Disorientasi
(Tempat)
VIII. KEBUTUHAN DASAR PASIEN
1.
Makan
Bantuan
minimal
Klien bisa menyiapkan makan secara mandiri dan makan
tanpa bantuan orang lain, tetapi untuk mempersiapkan alat makan dan lauknya
dibantu oleh perawat.
Frekuensi makan 3 x sehari : Pagi : Jam 07.00
Siang : Jam 12.00
Malam : Jam 18.00
Klien sering tidak menghabiskan
porsi makan yang diberikan.
Klien mampu makan sendiri
tanpa bantuan orang lain.
2.
BAB/BAK
Bantuan total
Klien
melakukan BAB/BAK di tempat
tidur.
Frekuensi
BAB 1 x sehari (Pagi)
Frekuensi
BAK tidak bisa di hitung
3.
Mandi
Bantuan total
Klien
tidak pernah mandi dan harus di bantu serta peralatan mandi
disiapkan oleh perawat.
Frekuensi
mandi 2 x sehari (pagi dan sore) memakai sabun.
4.
Berpakaian/berhias
Bantuan total
Klien
tidak
bisa melakukan/memasang pakaian secara mandiri tanpa bantuan orang lain, dan dalam menyiapkan pakaiannya dibantu
oleh perawat. Saat perawat
mencoba mengganti pakaiannya klien menolak dan menghindar.
5.
Istirahat
dan tidur
Tidur siang, lama : 12.00
s/d 14.00 WIB
Tidur malam, lama : 20.00 s/d 05.00 WIB
Aktivitas
sebelum/sesudah tidur : -
6.
Penggunaan
obat
Klien minum obat 3x sehari
7.
Pemeliharaan
kesehatan
Saat ini klien sedang menjalani
pengobatan di RS.
8.
Aktivitas
dalam ruangan
Klien
tidak mau beraktivitas
9.
Aktivitas
di luar ruangan
Duduk
diam dan merenung
Masalah
Keperawatan : Harga Diri
Rendah
IX.
MEKANISME
KOPING
|
Adaptif |
Maladaptif |
|
|
Bicara
sendiri |
|
|
Lebih
sering diam |
|
|
Tidak
bersosialisasi dengan orang lain (menyendiri) |
Masalah Keperawatan : Koping
Individu Inefektif
X.
MASALAH
PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN
1. Masalah
dengan dukungan kelompok, spesifiknya :
Klien tidak mempunyai masalah dengan dukungan
kelompok, karena seluruh anggota keluarganya menginginkan klien untuk sembuh.
2. Masalah
berhubungan dengan lingkungan, spesifiknya :
Klien mampu beradaptasi dengan lingkungan meski
membutuhkan waktu yang cukup lama.
3. Masalah
dengan pendidikan, spesifiknya :
Klien menjalani pendidikan hanya sampai di Sekolah Menengah Pertama dan tidak sampai lulus.
4. Masalah
dengan pekerjaan, spesifiknya :
Klien tidak pernah bekerja sebelumnya.
5. Masalah
dengan perumahan, spesifiknya :
Klien tinggal di desa Ardisaeng yang dimana teman sebayanya selalu mengucilkan saat bertemu dengannya.
6. Masalah
dengan ekonomi, spesifiknya :
Klien berasal dari keluarga menengah kebawah.
7. Masalah
dengan pelayanan kesehatan, spesifiknya :
Klien selalu menolak jika keluarganya mengajaknya
berobat ke pelayanan kesehatan.
Masalah
Keperawatan : Koping Individu Inefektif
XI.
PENGETAHUAN
KURANG TENTANG
Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan
pengetahuan yang kurang tentang suatu hal?
Penyakit/gangguan jiwa
Masalah
Keperawatan : Defisiensi Pengetahuan
XII.
ASPEK
MEDIS
Diagnosa medis : Skizofrenia
Paranoid
Terapi medik : Citalopram
(Celexa) 1x20mg
Fluoxetine (Prozac) 1x10mg
Amitriptyline 1x25mg
XIII. ANALISA DATA
|
NO |
DATA |
DIAGNOSA
KEPERAWATAN |
|
1 |
Data Subjektif : - -Klien merasa tidak berguna dan malu karena di kucilkan dan tidak punya teman. Merasa
tidak mampu melakukan apapun karena teman sebayanya selalu menjauhi dan mengucilkannya Data Objektif : - Klien tidak mau melakukan apapun hanya berbaring dan
duduk termenung, berjalan menunduk. Kontak mata kurang dan tidak merespon saat di ajak bicara/pasif. |
Harga Diri Rendah |
XIII. WOC
Gangguan Pemenuhan Kesehatan Risiko Perilaku Kekerasan Isolasi Sosial
(Core Problem) Defisit Perawatan Diri : Mandi dan
Berhias Harga Diri Rendah
Koping Individu Inefektif
Syndrome Pasca
Trauma
XIV. DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN
1.
Syndrome Pasca Trauma
2.
Koping Individu Inefektif
3.
Harga Diri
Rendah
4.
Isolasi Sosial
5.
Resiko Perilaku Kekerasan
6.
Defisit
Perawatan Diri
7.
Gangguan
Pemenuhan Kesehatan
XV.
PRIORITAS
DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.
Harga Diri Rendah
XVI. INTERVENSI, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN
|
Tanggal |
Diagnosa Keperawatan |
Intervensi Keperawatan |
Tujuan dan Kriteria Hasil |
Pukul |
Implementasi Keperawatan |
Evaluasi Keperawatan |
|
Kamis. 03/09/20 Pukul 10.00 WIB |
Harga Diri Rendah |
Observasi
: -
-Identifikasi
agama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri -
-Monitor
verbalisasi yang merendahkan diri sendiri -
-Monitor
tingkat harga diri setiap waktu Terapeutik : -
-Motivasi
untuk terlibat
dalam pembicaraan positif
untuk diri sendiri -
-Motivasi
menerima hal baru -
-Diskusikan
pengalaman yang meningkatkan harga diri -
-Berikan
umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan -
-Fasilitasi
lingkungan dan aktifitas yang meningkatkan harga diri Edukasi : -
-Jelaskan
kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien -
-Anjurkan
mengidentifikasi kemampuan
yang dimiliki -
-Anjurkan
melakukan
kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain -
-Latih
cara berfikir dan berperilaku positif -Latih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan
dalam menangani masalah |
Ekspektasi
Meningkat -
-Penilaian diri positif miningkat -
-Minat mencoba hal baru -
-Berjalan menampakkan wajah -
-Konsentrasi meningkat -
-Kontak mata meningkat -
-Percaya diri berbicara meningkat -
-Kempuan membuat ke putusan meningkat -
-Perasaan malu menurun -
-Perasaan tidak mampu melakukan apapun
menurun -
-Perasaan bersalah menurun -Meremehkan
kemampuan mengatasi masalah menurun |
10.00 10.03 10.05 10.09 10.12 10.15 10.20 10.25 10.23 10.25 10.27 10.30 |
Observasi
: -
-Melakukan identifikasi
nama, jenis
kelamin dan usia tentang harga diri -
-Melakukan monitoring verbalisasi yang merendahkan
diri sendiri -
- Melakukan monitoring tingkat harga diri setiap waktu Terapeutik : -
-Memberi
motivasi untuk
terlibat dalam pembicaraan
positif untuk diri
sendiri -
-Memberi
motivasi menerima hal baru -
-Melakukan diskusi
pengalaman yang meningkatkan harga diri -
-Memberikan
umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan Edukasi : -
-Menjelaskan
kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien -
-Menganjurkan
mengidentifikasi kemampuan
yang dimiliki -
- Menganjurkan
melakukan
kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain -
-Melatih
cara berfikir dan berperilaku positif -Melatih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan
dalam menangani masalah |
-Klien tidak mampu menjawab dan tidak mau bicara -Klien hanya diam dan menunduk -Kontak mata kurang saat di ajak bicara -Klien tidak mau bicara dengan orang lain -Klien tidak merespon -Klien menolak berdiskusi -Klien tidak merespon -Keluarga sangat menerima dan mendengarkan saran yang
diberikan -Keluarga klien akan berusaha membujuk klien -Keluarga klien sangat kooperatif -Keluarga setuju dan menerima -Keluarga klien sudah berusaha mengikuti instruksi
perawat |
|
Tanggal |
Diagnosa Keperawatan |
Intervensi Keperawatan |
Tujuan dan Kriteria Hasil |
Pukul |
Implementasi Keperawatan |
Evaluasi Keperawatan |
|
Jumat. 04/09/20 Pukul 09.00 WIB |
Harga Diri Rendah |
Observasi
: -
-Identifikasi
agama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri -
-Monitor
verbalisasi yang merendahkan diri sendiri -
-Monitor
tingkat harga diri setiap waktu Terapeutik : -
-Motivasi
untuk terlibat
dalam pembicaraan positif
untuk diri sendiri -
-Motivasi
menerima hal baru -
-Diskusikan
pengalaman yang meningkatkan harga diri -
-Berikan
umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan -
-Fasilitasi
lingkungan dan aktifitas yang meningkatkan harga diri Edukasi : -
-Jelaskan
kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien -
-Anjurkan
mengidentifikasi kemampuan
yang dimiliki -
-Anjurkan
melakukan
kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain -
-Latih
cara berfikir dan berperilaku positif -Latih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan
dalam menangani masalah |
Ekspektasi
Meningkat -
-Penilaian diri positif miningkat -
-Minat mencoba hal baru -
-Berjalan menampakkan wajah -
-Konsentrasi meningkat -
-Kontak mata meningkat -
-Percaya diri berbicara meningkat -
-Kempuan membuat ke putusan meningkat -
-Perasaan malu menurun -
-Perasaan tidak mampu melakukan apapun
menurun -
-Perasaan bersalah menurun -Meremehkan
kemampuan mengatasi masalah menurun |
09.00 09.03 09.05 09.09 09.12 09.15 09.20 09.25 09.27 09.30 09.37 09.40 |
Observasi
: -
-Melakukan identifikasi
nama, jenis
kelamin dan usia tentang harga diri -
-Melakukan monitoring verbalisasi yang merendahkan
diri sendiri -
- Melakukan monitoring tingkat harga diri setiap waktu Terapeutik : -
-Memberi
motivasi untuk
terlibat dalam pembicaraan
positif untuk diri
sendiri -
-Memberi
motivasi menerima hal baru -
-Melakukan diskusi
pengalaman yang meningkatkan harga diri -
-Memberikan
umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan -
Edukasi : -
-Menjelaskan
kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien -
-Menganjurkan
mengidentifikasi kemampuan
yang dimiliki -
- Menganjurkan
melakukan
kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain -
-Melatih
cara berfikir dan berperilaku positif -Melatih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan
dalam menangani masalah |
-Klien hanya tersenyum malu -Klien hanya diam dan menunduk -Kontak mata mulai terlihat saat di ajak bicara -Klien menghindari pembicaraan -Klien hanya tersenyum malu -Klien menolak berdiskusi -Klien tidak merespon -Keluarga sangat menerima dan mendengarkan saran yang
diberikan -Keluarga klien akan berusaha membujuk klien -Keluarga klien sangat kooperatif -Keluarga setuju dan menerima -Keluarga klien sudah berusaha mengikuti instruksi
perawat |
|
Tanggal |
Diagnosa Keperawatan |
Intervensi Keperawatan |
Tujuan dan Kriteria Hasil |
Pukul |
Implementasi Keperawatan |
Evaluasi Keperawatan |
|
Sabtu. 05/09/20 Pukul 11.00 WIB |
Harga Diri Rendah |
Observasi
: -
-Identifikasi
agama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri -
-Monitor
verbalisasi yang merendahkan diri sendiri -
-Monitor
tingkat harga diri setiap waktu Terapeutik : -
-Motivasi
untuk terlibat
dalam pembicaraan positif
untuk diri sendiri -
-Motivasi
menerima hal baru -
-Diskusikan
pengalaman yang meningkatkan harga diri -
-Berikan
umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan -
-Fasilitasi
lingkungan dan aktifitas yang meningkatkan harga diri Edukasi : -
-Jelaskan
kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien -
-Anjurkan
mengidentifikasi kemampuan
yang dimiliki -
-Anjurkan
melakukan
kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain -
-Latih
cara berfikir dan berperilaku positif -Latih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan
dalam menangani masalah |
Ekspektasi
Meningkat -
-Penilaian diri positif miningkat -
-Minat mencoba hal baru -
-Berjalan menampakkan wajah -
-Konsentrasi meningkat -
-Kontak mata meningkat -
-Percaya diri berbicara meningkat -
-Kempuan membuat ke putusan meningkat -
-Perasaan malu menurun -
-Perasaan tidak mampu melakukan apapun
menurun -
-Perasaan bersalah menurun -Meremehkan
kemampuan mengatasi masalah menurun |
11.00 11.05 11.09 11.15 11.17 11.20 11.25 11.29 11.33 11.35 11.20 11.27 |
Observasi
: -
-Melakukan identifikasi
nama, jenis
kelamin dan usia tentang harga diri -
-Melakukan monitoring verbalisasi yang merendahkan
diri sendiri -
- Melakukan monitoring tingkat harga diri setiap waktu Terapeutik : -
-Memberi
motivasi untuk
terlibat dalam pembicaraan
positif untuk diri
sendiri -
-Memberi
motivasi menerima hal baru -
-Melakukan diskusi
pengalaman yang meningkatkan harga diri -
-Memberikan
umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan -
Edukasi : -
-Menjelaskan
kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien -
-Menganjurkan
mengidentifikasi kemampuan
yang dimiliki -
- Menganjurkan
melakukan
kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain -
-Melatih
cara berfikir dan berperilaku positif -Melatih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan
dalam menangani masalah |
-Klien hanya mampu menyebut namanya yaitu Nn. I -Klien menunduk da berkata malu -Kontak mata mulai terlihat saat di ajak bicara -Klien hanya mau berbicara dengan 1 orang yaitu ibunya -Klien hanya tersenyum malu -Klien menolak berdiskusi -Klien menunduk malu -Keluarga sangat menerima dan mendengarkan saran yang
diberikan -Keluarga klien akan berusaha membujuk klien -Keluarga klien sangat kooperatif -Keluarga setuju dan menerima -Keluarga klien sudah berusaha mengikuti instruksi
perawat |
BAB 4
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Konsep diri merupakan
bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan
tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap
dirinya. Terdapat beberapa penyebab gangguan konsep diri yang dibagi atas
jenis-jenisnya. Gangguan konsep diri dibagi menjadi persepsi diri, citra tubuh,
harga diri, penampilan peran, dan identitas diri.
4.2 Saran
Melalui laporan ini kami
menyarankan agar pembaca tidak berhenti sampai disini saja menggali ilmu
tentang Asuhan Keperawatan
pada klien dengan Gangguan Konsep Diri. Kami
berharap agar pembaca dapat menggali ilmu dan memahami pembelajaran mengingat peran perawat harus mengerti dan
memahami mengenai gangguan konsep diri. Agar tindakan serta
penanganan terhadap masalah ini dapat tercapai sesuai dengan harapan.
Laporan ini masih banyak
mempunyai kekurangan dalam hal-hal penulisan maka dari itu kami mengharapkan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan dari laporan ini. Akhir
kata kami ucapkan terimakasih.
DAFTAR PUSTAKA
Damaiyanti, Mukhripah,
and Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Refika
Aditama.
Hidayat, A. A. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar
Manusia. Jakarta: Salemba Medika.
Kusumawati, Farida, and
Yudi Hartono. 2010. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta:
Salemba Medika.
Stuart, G. W. (2016). Keperawatan Kesehatan Jiwa
Stuart. Singapore: Elsevier. Wijayaningsih,
K. S. (2015).
Praktik Klinik Keperawatan Jiwa. Jakarta: Trans Info Media
Yosep, Iyus.
2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.
Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi
& Indikator Diagnostik. Jakarta Selatan : DPP PPNI.
Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2017. Standar Luaran Keperawatan Indonesia :
Definisi & Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta Selatan : DPP PPNI.
Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2017. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia :
Definisi & Tindakan Keperawatan. Jakarta Selatan : DPP PPNI.
Tyo, Sulis. 2013. "Asuhan
Keperawatan Gangguan Konsep Diri." Blogspot.com. Sept 1 2020. Accessed September 2th
2020.
http://lebah-kreatif.blogspot.com/asuhan-keperawatan-gangguan-konsep-diri.html.
LAMPIRAN
No comments:
Post a Comment