November 19, 2020

LAPORAN PENDAHULUAN ASUHAN KEPERAWATAN GANGGUAN KONSEP DIRI SESUAI SDKI, SLKI DAN SIKI

 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Konsep diri adalah citra subjektif dari diri dan percampuran yang kompleks dari perasaan, sikap dan persepsi bawa sadar maupun sadar. Konsep diri memberikan kita kerangka acuan yang mempengaruhi manajemen kita terhadap situasi dan hubungan kita terhadap situasi dan hubungan kita dengan orang lain.

Kita mulai membentuk konsep diri saat usia muda. Masa remaja adalah waktu yang kritis ketika banyak hal secara kontinu mempengaruhi konsep diri. Jika seseorang anak mempunyai masa kanak-kanak yang aman dan stabil, maka konsep diri masa remaja anak tersebut secara mengejutkan akan sangat stabil. Ketidaksesuaian antara aspek tertentu dari kepribadian dan konsep diri dapat menjadi sumber stress atau konflik.

Konsep diri seseorang dinyatakan melalui sikap dirinya yang merupakan aktualisasi orang tersebut. Manusia sebagi organisme yang memiliki dorongan untuk berkembang yang pada akhirnya menyebabkan ia sadar akan keberadaan dirinya. Perkembangan yang berlangsung tersebut kemudian membantu pembentukan konsep diri individu yang bersangkutan. Perasaan individu bahwa ia tidak memiliki kemampuan yang ia miliki. Padahal segala keberhasilan banyak bergantung kepada cara individu memandang kualitas kemampuan yang dimiliki.

Konsep diri merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap dirinya. Terdapat beberapa penyebab gangguan konsep diri yang dibagi atas jenis-jenisnya. Gangguan konsep diri dibagi menjadi persepsi diri, citra tubuh, harga diri, penampilan peran, dan identitas diri.

 

1.2       Rumusan Masalah

1.2.1 Apa definisi gangguan konsep diri ?

1.2.2 Apa saja etiologi gangguan konsep diri ?

1.2.3 Apa saja jenis gangguan konsep diri ?

1.2.4 Bagaimana rentang respon gangguan konsep diri?

1.2.5 Bagaimana patofisiologi masalah gangguan konsep diri?

1.2.6 Bagaimana manifestasi klinis gangguan konsep diri?

1.2.7 Apa dampak gangguan konsep diri?

1.2.8 Bagaimana mekanisme koping gangguan konsep diri?

1.2.9 Bagaimana WOC gangguan konsep diri ?

1.2.10 Bagaimana penatalaksanaan gangguan konsep diri ?

1.2.11 Bagaimana perkembangan konsep diri berdasarkan usia ?

1.2.12 Apa saja diagnosa keperawatan gangguan konsep diri ?

1.2.13 Bagaimana asuhan keperawatan gangguan konsep diri ?

 

1.3       Tujuan Penulisan

1.3.1 Mengetahui definisi gangguan konsep diri

1.3.2 Mengetahui etiologi gangguan konsep diri

1.3.3 Mengetahui jenis gangguan konsep diri

1.2.4 Mengetahui rentang respon gangguan konsep diri

1.2.5 Mengetahui patofisiologi masalah gangguan konsep diri

1.2.6 Mengetahui manifestasi klinis gangguan konsep diri

1.2.7 Mengetahui dampak gangguan konsep diri

1.2.8 Mengetahui mekanisme koping gangguan konsep diri

1.2.9 Mengetahui WOC gangguan konsep diri

1.2.10 Mengetahui penatalaksanaan gangguan konsep diri

1.2.11 Mengetahui perkembangan konsep diri berdasarkan usia

1.2.12 Mengetahui diagnosa keperawatan gangguan konsep diri

1.2.13 Mengetahui asuhan keperawatan gangguan konsep diri

 

1.4       Manfaat Penulisan

1.4.1 Mahasiswa

Kita sebagai mahasiswa harus mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan gangguan konsep diri dalam mengembangkan ilmu yang sudah kita dapat.

1.4.2 Pembaca

Agar pembaca mengetahui asuhan keperawatan pasien dengan gangguan konsep diri ilmu dengan benar.

1.4.3 Institut

Untuk menambah refrensi tentang asuhan keperawatan pasien dengan gangguan konsep diri.


 

BAB 2

PEMBAHASAN

 

2.1       Definisi Konsep Diri

            Konsep diri merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap dirinya. Konsep diri ini berkembang secara bertahap sesuai dengan tahap perkembangan psikososial seseorang. Secara umum konsep diri adalah semua tanda, keyakinan dan pendirian yang merupakan suatu pengetahuan individu tentang dirinya yang dapat memengaruhi hubungannya dengan orang lain, termasuk karakter, kemampuan, nilai, ide dan tujuan (Hidayat, 2006:238).

Diri merupakan bagian paling kompleks dari semua kualitas manusia. Diri adalah kerangka acuan dimana seseorang mempersepsi dan mengevaluasi dunia. Konsep diri terdiri semua nilai-nilai, keyakinan dan ide-ide yang berkonstribusi terhadap pengetahuan diri dan memengaruhi hubungan seseorang tentang karakteristik dan kemampuan pribadi serta tujuan dan cita-cita seseorang (Stuart,2016:213).

 

2.2       Etiologi Konsep Diri

2.2.1    Faktor predisposisi gangguan konsep diri :

2.2.1.1 Biologi : Harapan akan struktur, bentuk dan fungsi tubuh yang tidak tercapai karena dirawat atau sakit. Stresor fisik atau jasmani yang lain seperti : suhu dingin atau panas, suara bising, rasa nyeri atau sakit, kelelahan fisik, lingkungan yg tidak memadai dan pencemaran (polusi) udara atau zat kimia.

2.2.1.2 Psikologi Penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistis, kegagalan yang berulang, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistis. Stressor yang lain adalah konflik, tekanan, krisis dan kegagalan.

2.2.1.3  Sosio kultural Stereotipi peran gender, tuntutan peran kerja, harapan peran budaya, tekanan dari kelompok sebaya dan perubahan struktur sosial.

2.2.2 Faktor predisposisi gangguan citra tubuh :

2.2.2.1 Kehilangan / kerusakan bagian tubuh.

2.2.2.2 Perubahan ukuran, bentuk dan penampilan tubuh.

2.2.2.3 Proses patologik penyakit dan dampaknya terhadap struktur maupun fungsi tubuh.

2.2.2.4 Prosedur pengobatan seperti radiasi, transplantasi dan kemoterapi.

2.2.3 Faktor predisposisi gangguan harga diri :

2.2.3.1 Penolakan dari orang lain.

2.2.3.2 Kurang penghargaan.

2.2.3.3 Pola asuh yang salah

2.2.3.4 Kesalahan dan kegagalan yang berulang.

2.2.3.5 Tidak mampu mencapai standar yang ditentukan.

2.2.4 Faktor predisposisi gangguan peran :

2.2.4.1 Transisi peran yang sering terjadi pada proses perkembangan, perubahan situasi dan keadaan sehat sakit.

2.2.4.2 Ketegangan peran, ketika individu menghadapi dua harapan yang bertentangan secara terus menerus yang tidak terpenuhi.

2.2.4.3 Keraguan peran, ketika individu kurang pengetahuan tentang harapan peran yang spesifik dan bingung tentang tingkah laku peran yang sesuai.

2.2.4.4 Peran yang terlalu banyak.

2.2.5 Faktor predisposisi gangguan identitas diri :

2.2.5.1 Ketidakpercayaan orang tua pada anak.

2.2.5.2 Tekanan dari teman sebaya.

2.2.5.3 Perubahan struktur sosial (Stuart,2016 : 221).

2.2.6 Faktor presipitasi gangguan konsep diri dapat disebabkan oleh faktor dari dalam atau faktor dari luar individu terdiri dari :

2.2.6.1 Trauma seperti penganiayaan seksual dan psikologis atau menyaksikan peristiwa yang mengancam kehidupan.

2.2.6.2 Ketegangan peran adalah perasaan frustasi ketika individu merasa tidak adekuat melakukan peran atau melakukan peran yang bertentangan dengan 7 hatinya atau tidak merasa cocok dalam melakukan perannya. Ada 3 jenis transisi peran yaitu :

a) Perkembangan transisi, yaitu perubahan normatif yang berkaitan dengan pertumbuhan. Pertumbuhan ini termasuk tahap perkembangan dalam kehidupan individu atau keluarga dan norma – norma budaya, nilai – nilai, serta tekanan untuk menyesuaikan diri.

b) Situasi transisi peran adalah bertambah atau berkurangnya anggota keluarga melalui peristiwa penting dalam kehidupan individu seperti kelahiran atau kematian.

c) Transisi peran sehat sakit terjadi akibat pergeseran dari keadaan sehat ke keadaan sakit. Transisi ini dapat dicetuskan oleh :

1) Perubahan ukuran dan bentuk, penampilan atau fungsi tubuh.

2) Perubahan fisik yang berkaitan dengan tumbuh kembang normal.

3) Prosedur medis dan perawatan (Stuart,2016 : 221).

 

2.3       Jenis Konsep Diri

2.3.1 Persepsi diri seseorang tentang realitas dipilih dan didasarkan pada pengalaman konsisten dengan pandangan seseorang saat ini terhadap diri. Cara seseorang berperilaku adalah hasil dari bagaimana seseorang mempersepsikan situasi. Bukan peristiwa itu sendiri yang memunculkan respons tertentu melainkan pengalaman subjektif individu terhadap peristiwa itu. Persepsi diri sulit untuk berubah namun ada cara untuk mengubah persepsi, termasuk memodifikasi proses kognitif, mengkonsumsi obat-obatan, mengalami gangguan sensorik, dan menciptakan perubahan biokimia dalam tubuh (Stuart,2016:214).

2.3.2  Citra tubuh adalah jumlah dari sikap sadar dan bawah sadar seseorang terhadap tubuh sendiri. Hal ini termasuk persepsi sekarang dan masa lalu serta perasaan tentang ukuran, fungsi, bentuk/penampilan, dan potensi. Citra tubuh terus berubah saat persepsi dan pengalaman baru terjadi dalam kehidupan. Eksistensi tubuh menjadi penting dalam mengembangkan citra tubuh seseorang. Pakaian menjadi identitas tubuh, seperti halnya barang milik seseorang (Stuart,2016:214).

2.3.3 Ideal diri merupakan persepsi seseorang mengenai bagaimana berperilaku berdasarkan standar pribadi tertentu. Standar ini mungkin menggambarkan tipe seseorang yang diinginkan atau aspirasi, tujuan, atau nilai-nilai yang ingin dicapai. Ideal diri menimbulkan harapan diri berdasarkan norma-norma masyarakat, yang dicobanya untuk menyesuaikan diri (Stuart,2016:214-215).

2.3.4 Harga diri merupakan penilaian harga diri pribadi seseorang, berdasarkan seberapa baik perilakunya cocok dengan ideal diri. Seberapa sering seseorang mencapai tujuan secara langsung mempengaruhi perasaan kompeten (harga diri tinggi) atau rendah diri (harga diri rendah). Harga diri tinggi adalah perasaan penerimaan diri, tanpa syarat, meskipun salah, kalah dan gagal, sebagai pembawaan yang berharga dan penting. Harga diri yang tinggi telah dikaitkan dengan ansietas yang rendah, fungsi kelompok yang efektif, penerimaan, dan toleransi dari yang lain (Stuart,2016:215-216).

2.3.5  Penampilan peran adalah sekumpulan pola perilaku yang diharapkan secara sosial berhubungan dengan fungsi seseorang dalam kelompok sosial yang berbeda. Perilaku peran berkaitan erat dengan konsep diri dan identitas, dan gangguan peran yang sering melibatkan konflik antara fungsi independen dan dependen. Harga diri tinggi dihasilkan dari peran yang memenuhi kebutuhan dan sesuai dengan ideal diri seseorang.

2.3.6 Identitas diri merupakan kesadaran diri yang didasarkan pada observasi dan penilaian diri. Hal ini tidak terkait dengan satu prestasi, aktivitas, karakteristik, atau peran. Identitas berbeda dari konsep diri yaitu perasaan berbeda dari orang lain. Orang dengan rasa identitas positif melihat dirinya sebagai individu yang unik dan berharga (Stuart,2016:216)

2.4       Rentang Respon Konsep Diri

 

 

 

2.5       Patofisiologi Gangguan Konsep Diri

Proses terjadinya gangguan konsep diri didefinisikan sebagai semua pikiran, keyakinan,dan kepercayaan yang membuat seseorang mengetahui tentang dirinya dan mempengaruhi hubungannya denga orang lain. Konsep diri tidak terbentuk sejak lahir namun dipelajari. Salah satu komponen konsep diri yaitu harga diri dimana harga diri adalah penilaian individu tentang pencapaian diri dengan menganalisa seberapa jauh perilaku sesuai dengan ideal diri. Sedangkan harga diri rendah adalah menolak dirinya sebagai sesuatu yang berharga dan tidak bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Jika individu sering gagal maka cenderung harga diri rendah. Harga diri diperoleh dari diri sendiri dan orang lain, aspek utama adalah diterima dan menerima penghargaan dari orang lain. Gangguan harga diri digambarkan sebagai perasaan yang negetif terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal mencapai keinginan, mengkritik diri sendiri, penurunan produktifitas, perasaan tidak mampu, mudah tersinggung dan menarik diri secar sosial. Faktor yang mempengaruhi harga diri meliputi penolakan orang tua, harapan orang tua yang tidak realistik, kegagalan yang berulang kali, kurang mempunyai tanggung jawab personal, ketergantungan pada orang lain dan ideal diri yang tidak realistik (Keliat, 2001).

 

2.6       Manifestasi Klinis Gangguan Konsep Diri

Tanda dan gejala perilaku yang berhubungan dengan gangguan konsep diri antara lain:

2.6.1 Mengkritik diri sendiri atau orang lain

2.6.2 Perasaan dirinya sangat penting yang berlebih-lebihan

2.6.3 Perasaan tidak mampu

2.6.4 Rasa bersalah

2.6.5 Sikap negatif pada diri sendiri

2.6.6 Sikap pesimis pada kehidupan

2.6.7 Keluhan sakit fisik

2.6.8 Pandangan hidup yang terpolarisasi

2.6.9 Menilak kemampuan diri sendiri

2.6.10 Pengurangan diri/mengejek diri sendiri

2.6.11 Perasaan cemas dan takut

2.6.12 Merasionalisasi penolakan atau menjauh dari umpan balik positif

2.6.13 Ketidakmampuan menentukan tujuan (Wijayaningsih, 2015 : 50).

 

2.7       Dampak Gangguan Konsep Diri

Akibat dari perubahan konsep diri adalah sebagai berikut :

2.7.1 Perubahan penampilan peran

Mekanisme : Berubah atau berhentinya fungsi peran seseorang yang disebabkan oleh penyakit merupakan akibat dari gangguan konsep diri.

2.7.2 Keputusasaan

Mekanisme : merupakan persepsi bahwa tindakan seseorang tidak akan mempengaruhi hasil karena kurang percaya diri dengan kemampuan karena menganggap dirinya tidak mampu.

 

2.7.3 Menarik diri

Mekanisme : perilaku menarik diri merupakan percobaan untuk menghindari interaksi dengan orang lain, karena menganggap dirinya tidak pantas berada di lingkungan tersebut yang merupakan akibat dari gangguan konsep diri ( Keliat, 2001 ).

 

2.8       Mekanisme Koping Gangguan Konsep Diri

Mekanisme koping terdiri dari pertahanan koping jangka pendek atau jangka panjang serta penggunaan mekanisme pertahanan ego untuk melindungi diri sendiri dalam menghadapi persepsi diri yang menyakitkan.

Pertahanan jangka pendek mencakup berikut ini :

2.8.1 Aktivitas yang memberikan pelarian sementara dari krisis identitas diri (misalnya konser musik, menonton televisi secara obsesif)

2.8.2 Aktivitas yang memberikan identitas pengganti sementara (misalnya ikut serta dalam klub sosial, agama, politik, kelompok, gerakan, atau geng).

2.8.3 Aktivitas yang sementara menguatkan atau meningkatkan perasaan diri yang tidak menentu (misal : olahraga yang kompetitif, prestasi akademik, kontes untuk mendapatkan popularitas).

2.8.4 Aktivitas yang merupakan upaya jangka pendek untuk membuat identitas di luar dari hidup yang tidak bermakna saat ini (misalnya: penyalahgunaan obat).

Pertahanan jangka panjang mencakup berikut ini Stuart ( 2016 ) :

2.8.1 Penutupan identitas adalah adopsi identitas prematur yang diinginkan oleh orang terdekat tanpa memperhatikan keinginan, aspirasi, atau potensi diri individu.

2.8.2 Identitas negatif adalah asumsi identitas yang tidak sesuai dengan nilai dan harapan yang diterima masyarakat.

2.8.3 Mekanisme pertahanan ego termasuk penggunaan fantasi, disosiasi, isolasi, proyeksi, pengalihan (displacement), splitting, berbalik marah terhadap diri sendiri, dan amuk (Stuart,2016 : 224).

 

2.9       WOC Gangguan Konsep Diri

2.10     Penatalaksanaan Gangguan Konsep Diri

Penatalaksanaan Keperawatan dibagi menjadi empat yaitu :

2.10.1 Memberi kesempatan untuk berhasil

2.10.2 Menanamkan gagasan

2.10.3 Mendorong aspirasi

2.10.4 Membantu membentuk koping

 

 

Penatalaksanaan Medis yaitu :

2.10.1 Clorpromazine ( CPZ ) Untuk sindrom psikosis yaitu berat dalam kemampuan menilai realitas, kesadaran diri terganggu, waham, halusinasi, gangguan perasaan dan perilaku aneh, tidak bekerja, hubungan sosial dan melakukan aktivitas rutin. Efek saamping : sedasi, gangguan otonomik serta endokrin (Keliat, 2001).

2.10.2 Trihexyphenidyl ( THP ) Untuk segala jenis penyakit Parkinson, termasuk pascaa enchepalitis dan idiopatik. Efeksamping : hypersensitive terhadap trihexyphenidyl, psikosis berat, psikoneurosis dan obstruksi saluran cerna (Keliat, 2001)

2.10.3 Haloperidol ( HPL ) Berdaya berat dalam kemampuan menilai realitaas dalaam fungsi netral serta fungsi kehidupan sehari-hari. Efek samping : sedasi, gangguan otonomik dan endokrin (Keliat, 2001).

2.10.4 Terapi okupasi / rehabilitasi Terapi yang terarah bagi pasien, fisik maupun mental dengan menggunakan aktivitas terpilih sebagai media. Aktivitas tersebut berupa kegiatan yang direncanakan sesuai tujuan (Keliat, 2001)

2.10.5 Psikoterapi Psikoterapi yang dapat membantu penderita adalah psikoterapi suportif dan individual atau kelompok serta bimbingan yang praktis dengan maksud untuk mengembalikan penderita ke masyarakat (Keliat, 2001)

 

 

2.11     Perkembangan Konsep Diri Berdasarkan Usia

Setiap manusia mengalami tumbuh dan kembang, dimana dalam perkembangan manusia akan mengalami perubahan sesuai dengan usianya. Di bawah ini adalah tahap perkembangan konsep diri manusia sesuai dengan tahapan umur manusia, yaitu :

2.11.1 Usia 0-1 Tahun

1) Trust.

2) Berhubungan dengan lingkungan.

2.11.2 Usia 1-3 tahun

1)   Belajar dan mengontrol bahasa.

2)   Mulai beraktivits mandiri dan otonomi.

3)   Menyukai diri sendiri.

4)   Menyukai tubuh sendiri.

2.11.3 Usia 3-6 tahun

1)   Berinisiatif.

2)   Mengenal jenis kelamin.

3)   Meningkatkan kesadaran diri.

4)   Meningkatkan kemampuan bahasa.

2.11.4 Usia 6-12 tahun

1)   Berhubungan dengan kelompok sebaya.

2)   Tumbuh harga diri dengan kemampuan baru yang dimiliki.

3)   Menyadari kekurangan dan kelebihan.

2.11.5 Usia 12-20 tahun

1)   Menerima perubahan-perubahan.

2)   Eksplorasi tujuan dan masa depan.

3)   Merasa positif pada diri sendiri.

4)   Memahami hal-hal terkait seksualitas.

2.11.6 Usia 20-40 tahun

1)   Hubungan yang intim dengan pasangan, keluarga, dan orang-orang terpenting.

2)   Stabil.

3)   Positif pada diri sendiri.

2.11.7 Usia 40-60

1)   Dapat menerima kemunduran.

2)   Mencapai tujuan hidup.

3)   Menunjukan proses penuaan.

2.11.8 Usia 60 tahun keatas

1)   Perasaan positif, menemukan makna hidup.

2)   Melihat kepada kelanjutan keturunannya.

 

2.12     Diagnosa Keperawatan Konsep Diri

Masalah-masalah konsep diri berkaitan dengan perasaan-perasaan ansietas, bermusuhan dan rasa bersalah. perasaan ini sering menimbulkan proses penyebaran diri dan sirkuler bagi individu yang dapat menimbulkan respons koping maladaftif yang paling hebat. Respons dapat terlihat dalam berbagai pengalaman yang mengancam integritas fisik dan integritas sistem seseorang.

 

 

Diagnosa yang mungkin muncul sebagai berikut :

Subkategori: Integritas Ego.

0080 Ansietas.

0081 Berduka.

0082 Distres Spiritual.

0083 Gagguan Citra Tubuh.

0084 Gangguan Identitas Diri.

0085 Gangguan Persepsi Sensori.

0086 Harga Diri Rendah Kronis.

0087 Harga Diri Rendah Situasional.

0088 Keputusasaan.

0089 Kesiapan Peningkatan Konsep Diri.

0090 Kesiapan Peningkatan Koping Keluarga.

0091 Kesiapan Peningkatan Koping Komunitas.

0092 Ketidakberdayaan.

0093 Ketidakmampuan Koping Keluarga.

0094 Koping Defensif.

0095 Koping Komunitas Tidak Efektif.

0096 Koping Tidak Efektif.

0097 Penurunan Koping Keluarga.

0098 Penyangkalan Tidak Efektif.

0099 Perilaku Kesehatan Cenderung Berisiko.

0100 Risiko Distres Spiritual.

0101 Risiko Harga Diri Rendah Kronis.

0102 Risiko Harga Diri Rendah Situasional.

0103 Risiko Ketidakberdayaan.

0104 Sindrom Pasca Trauma.

 

 

2.13     Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Konsep Diri

2.13.1 Pengkajian Keperawatan

a) Faktor predisposisi

1) Faktor predisposisi gangguan citra tubuh

· Kehilangn / Kerusakan bagian tubuh ( anatomi dan fungsi )

· Perubahan ukuran,bentuk dan penampilan tubuh

  ( akibat pertumbuhan dan perkembangan penyakit )

· Proses patologis  penyakit dan dampak terhadap struktur maupun fungsi tubuh

· Prosedur pengobatan seperti radiasi kemoterapi dan transplantasi

2) faktor predis posisi gangguan identitas diri

·  Ketidak percayaan orang tua terhadap anak

·  Tekanan dari teman sebaya

·  Perubahan struktur sosial

3) faktor predis posisi gangguan harga diri

·  Penolakan dari orang lain

·  Kurang penghargaan

· Pola asuh yang salah,terlalu di larang,terlalu di control,terlalau di turuti, terlalu di tuntut tidak konsisiten

· Persaingan antar saudara

· Kesalahan dan kegagalan yang berulang

· Tidak mamapu mencapai standart yang di tentukan

4) faktor predis posisi gangguan peran

· Transisi peran yang sering terjadi pada proses perkembangan, perubahan situasi dan keadaaan sehat sakit

· Ketegangan peran, ketika individu menghadapi dua harapan yang bertantangan secara terus menerusa yang tidak terpenuhi

· Keraguan peran, ketika individu kurang pengetahuan tentang harapan peran yang spesifik dan bingung tentang tingkah laku yang spesifik dan bingung tentang tingkah laku peran yang sesuai

· Peran yang terlalu banyak

b) Faktor presitasi

1) Trauma

Masalah spesifik sehubngan dan konsep diri adalah situasi yang membuat individu sulit menyesuaikan diri / tidak dapat menerima khususnya trauma emosi seperti penganiayaan fisik , sksualiatas dan psikologis pada masa anak-anak atau merasaa terancam/menyaksikan kejadian berupa tindak kejahatan.

2) Ketegangan peran

Ketegangan peran adalah perasaan frustasi ketika individu merasa tidak adekuat melakukan peran/melakukan peran yang bertentangan  dengan hatinya/tidak merasa cocok dalam melakukan perannya.

c) Perubahan perilaku

1) Perubahan perilaku pada gangguan citra tubuh

·  Menolak menyentuh/melihat bagian tubuh tertentu

·  Menolak bercermin

·  Menolak usaha rehabilitasi menyangkal cacat tubuh

·  Usaha pengobatan mandiri yang tidak tepat

2) Perubahan perilaku yang berhubungan dengan harga diri rendah

·  Mengkritik diri sendiri

·  Merasa bersalah dan khawatir

·  Merasa tidak mampu

·  Menunda keputusan

·  Gangguan berhubungan

3) Perubahan perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi

·  Kepribadian yang bertentangan

·  Perasaaan hampa

·  Kekacauan identistas seksual

·  Kecemasan yang tinggi

4) perubahan perilaku yang berhubungan dengan depersonalisasi

·  Afektif

·  Kehilangan identitas diri

·  Merasa asing dengan dirir sendiri

·  Perasaaan tidak nyata

·  Merasa sangat terisolasi

·  Persepsi

·  Halusinasi pendengaran

·  Kekuasaan identitas seksual

·  Gsnggusn citra tubuh

·  Kognitif

·  Bingung

·  Diser pentasi waktu

·  Gangguan berpikir

·  Perilaku

·  Pasif

·  Kurang spontanitasi

·  Kurang pengendalian diri

d) Mekanisme koping

Klien gangguan konsep diri menggunakan mekanisme koping yang dapat di kategorikan  menjadi 2 yaitu :

1) Koping jangka pendek, karakteristik nya :

· Aktivitas yang dapat memeberi kesempatan lari sementara dari kritis. Misalnya : menonton TV, kerja keras, olah raga

· Aktivitas yang dapat memberikan identitas pengganti sementara. Misalnya : ikut kegistsn sosisl,politik,agama

2) Koping jangka panjang

Dikategorikan dalampenutupan identitas negatif.

Penutupan identitas : adopsi identitas prematur yang di inginkan orang yang penting dalam individu tanpa mempaertahankan ke inginan. Identitas negatif adalah asumsi identitas yang tidak wajar untuk dapat di terima oleh nilai dan harapan masyarakat. Mekanisme pertahanan ego yang sering di pakai adalah :

· Fantasi

Kemamapuan menggunakan tanggapan yang sudah ada untuk untuk mendpat tanggapan baru.

· Disosisalisasi

Respon yang tidsak sesuai dengan stimulus.

· Isolasi

Menghindarkan diri dari interaksi dengan lingkungan luar.

· Proyeksi

Kelemahan dan kekurangan pada diri sendiri di lontarkan pada orang lain.

2.13.2 Diagnosa Keperawatan

Masalah gangguan konsep diri berhubungan dengan rasa bersalah sering menimbulkan kekacauan dan mengakibatkan respon koping yang maladaptif. Respon ini dapat dilihat bervariasi pada berbagai individu, yang mengalami ancaman integritas diri atau harga diri. Masalah keperawatan dan contoh diagnosa keperawatan lengkap yang berkaitan dengan gangguan konsep diri, lihat tabel berikut ini.

Masalah keperawatan yang berhubungan dengan konsep diri yaitu :

Masalah keperawatan uatama

Contoh diagnosa keperawatan yang lengkap

1. Gangguan gambaran diri

1) Gangguan gambaran diri berhubungan dengan harga diri rendah

2) Gangguan gambaran diri berhubungan dengan defisit perawatan diri

2. Gangguan identitas diri

1) Gangguan identitas diri berhubungan dengan perubahan penampilan peran

2) Gangguan identitas berhubungan dengan keracunan obat yang dimanifestasika dengan control impuls yang kacau dan hilang

3. Gangguan penampilan peran

1) Gangguan penampilan peran berhubungan dengan harga diri rendah

4. Gangguan harga diri rendah

1) Harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri yang tidak realistik

2) Harga diri rendah berhubungan dengan ideal diri terlalu tinggi

 

 

 

 

 

 

 


 

2.13.3 Intervensi Keperawatan

No

Diagnosa

(SDKI)

Tujuan dan Kreteria Hasil

(SLKI)

Intervensi

(SIKI)

1.

D.0083

Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan struktur/bentuk tubuh (missal: amputasi trauma, Luka bakar).

Gejala dan dan  tanda mayor

Subjektif :

-Mengungkapkan kecacatan/ kehilangan bagian tubuh

Objektif :

-Kehilangan bagian tubuh

-fungsi/ struktur tubuh berubah / hilang

 

 

 

 

Gejala dan tanda minor

Subjektif :

-Tidak mau mengungkapkan kecacatan/ kehilangan bagian tubuh

-Mengungkapkan kekhawatiran  pada penolakan / reaksi orang lain

-Mengungkapkan perubhan gaya hidup

Objektif :

-Menyambungkan / menunjuk bagian tubuh secara berlebihan

-Menghindari melihat atau  menyentuh bagian tubuh

-Fokus berlebihan  pada bagian tubuh

-Respon non verbal pada perubahan dan  presepsi tubuh

-Fokus  pada penampilan dan kekuatan masa lalu

-Hubungan Sosial berubah

Kondisi klinis terkait :

1.Mastektomi

2.Amputasi

3.Jerawat

4.Parut/ Luka Bakar

5.Obesitas

6.Hiperpegmentasi pada kehamilan

7.Gangguan Psikiatrik  

L.09067

Ekspektasi meningkat

Kreteria Hasil :

-Melihat Bagian tubuh membaik

-Menyentuh Bagian  tubuh membaik

-Verbalisasi  kecacatan bagian tubuh membaik

-Verbalisasi kehilangan bagian tubuh membaik

-Verbalisasi kekhawatiran pada penolakan/ reaksi orang lain menurun

-Menyembunyikan bagian tubuh berlebihan

-Menunjukkan bagian tubuh berlebihan Menurun

- Fokus pada bagian tubuh menurun

 

-Fokus pada penampilan pada masa lalu menurun

-Hubungan social membaik

I.09305 Promosi citra tubuh

Observasi :

-Identifikasi harapan citra tubuh berdasarkan tahap perkembngan

-Identifikasi perubhan citra tubuh yang mengakibatkan isolasi social

-Monitor apakah pasien bisa melihat bagian tubuh yyang berubah

Terapeutik :

-Diskusikan perubahan tubuh dan fungsinya

-Diskusikan perbedaan penampilan fisik terhadap harga diri

-Diskusikan kondisi stress yang mempunyai citra tubuh missal, luka, penyyakit, pembedahan

-Diskusikan presepsi psien dan keluarga tentang perubhan citra tubuh

Edukasi :

-Jelaskan  kepada keluar ga tentang perawatan perubahan citra tubuh

-Anjurkan mengungkapkan gambaran diri terhadap citra tubuh

-Latih fungsi tubuh yang dimiliki

-Latih peningkatan penampilan missal berdandan

-Latih pengungkapan kemampuan diri kepda orang lain maupun kelompok.

 


 

 

 

No

Diagnosa

(SDKI)

Tujuan dan Kreteria Hasil

(SLKI)

Intervensi

(SIKI)

2.

D.0084

Gangguan identitas diri berhubungan dengan  peran sosial

Gejala dan tanda mayor

Subjektif :

-Presepsi terhadap diri berubah

-Bingung dengan nilai-nilai budaya , tujuan hidup, jenis kelamin dan atau nilai-nilai ideal

-Perasaan  yang fluktuatif terhadap diri

Objektif :

-Prilaku tidak konsisten

-Hubungan yang tidak efektif

-Strategi koping tidak efektif

-Penampilan  peran tidak efektif

 

Kondisi klinis terkait :

-Gangguan  Austik

-Gangguan orientasi seksual

-Priode perkembangan  remaja

L.09070

Identitas Diri

Ekspetasi Membaik

Kreteria Hasil :

-Hubungan  efektif yyang meningkat

-Strategi koping  efektif meningkat

-Penampilan  peran efektif meningkat

-Perasaan  fluktuatif terhadap ditri menurun

-Kebingungan dengan  tujuan  hidup menurun

-Kebingungan dengan  nilai-nilai budaya menurun

-Presepsi terhadap diri membaik

I.09311  Promosi Kesadaran Diri

Observasi :

-Identifikasi keadaan emosional saat ini

-identifikasi respon yang ditunjukkan berbagai situasi

Terapeutik :

-Diskusikan tentang pikiran perilaku atau respon terhadap kondisi

-Ungkapan penyangkalan tentang kenyataan

-Motivasi dalam meningkatkan kemampuan belajar

Edukasi :

-Anjurkan mengenali pikiran dan perasaan tentang diri

-Anjurkan mengungkapkan perasaan (mis, marah atau depresi)

-Anjurkan mengidentifikasi perasaan bersalah

-Anjurkan  mengubah  pandangan diri sebagai korban

-Ajarkan cara membuat prioritas hidup

-Latih  kemampuan positif diri yang dimiliki.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

No

Diagnosa

( SDKI )

Tujuan dan Kriteria

Hasil

( SLKI )

Intervensi

(SLKI )

3.

D. 0086

Harga diri rendah kronis berhubungan dengan kurangnya pengakuan dari orang lain.

Gejala dan Tanda Mayor

Subyektif :

-     -Menilai diri negatif (Misal : Tidak berguna, tidak tertolong)

-     -Merasaa malu atau bersalah

-     -Merasa tidak mampu melakukan apapun

-     -Meremehkan kemampuan mengatasi masalah

-     -Merasa tidak memiliki kelebihan atau kemampuan positif

-     -Melebih-lebihkan penilaian negative tentang diri sendiri

-     -Menolak penilai positif tentang diri sendiri

-     Objektif :

-     -Enggan mencoba hal yang baru

-     -Berjalan menunduk

-     -Postur tubuh menunduk

Gejala dan Tanda Minor

Subjektif :

-     -Merasa sulit konsentrasi

-     -Sulit tidur

-     -Mengungkapkan keputusan

Objektif :

-     -Kontak mata kurang

-     -Lesu dan tidak bergairah

-     -Berbicara pelan dan lilit

-     -Pasif

-     -Sulit membuat keputusan

Kondisi Klinis Terkait :

-Cidera traumatis

-Pembedahan

-Kehamilan

-Stroke

-Penyalahgunaan zat

-Dimensia

-Penyakit kronis

-Pengalaman tidak menyenangkan

L. 09069 Harga Diri Ekspektasi Meningkat

-    -Penilaian diri positif miningkat

-    -Minat mencoba hal baru

-    -Berjalan menampakkan wajah

-    -Postur tubuh menampakkan wajah

-    -Konsentrasi meningkat

-    -Kontak mata meningkat

-    -Percaya diri berbicara meningkat

-    -Kempuan membuat ke putusan meningkat

-    -Perasaan malu menurun

-    -Perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun

-    -Perasaan bersalah menurun

-    -Meremehkan kemampuan mengatasi masalah menurun

09308 Promosi Harga Diri

Observasi :

-    -Identifikasi budaya, agama, ras, jenis kelamin dan usia tentang harga diri

-    -Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri

-    -Monitor tingkat harga diri setiap waktu sesuai kebutuhan

Terapeutik :

-    -Motivasi terlibat dalam verbalisasi positif untuk diri sendiri

-    -Motivasi menerima tantangan atau hal baru

-    -Diskusikan pengalaman yang meningkatkan harg diri

-    -Diskusikan alas an mengkritik diri atau rasa bersalah

-    -Berikan umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan

-    -Fasilitasi lingkungan dan aktifitas yang meningkatkan harga diri

Edukasi :

-    -Jelaskan kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan konsep diri pasien

-    -Anjurkan mengidentifikasi kekuatan yang dimiliki

-    -Anjurkan mempertahankan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain

-    -Anjurkan membuka diri tehadap kritik negatif

-    -Latih pernyataan atau kemampuan positif diri

-    -Latih cara berfikir dan berperilaku positif

-    -Latih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani masalah.

 


 

BAB 3

CONTOH KASUS

 

PENGKAJIAN KEPERAWATAN KESEHATAN JIWA

 

I.              IDENTITAS KLIEN

Nama                                : Nn. I

Umur                                : 14 tahun (22-03-2006)              

Pendidikan                       : SD                

Agama                              : Islam

Status                                : -

Alamat                               : Ardisaeng RT 03 RW 02 Kec. Pakem Kab. Bondowoso

Pekerjaan                         : Tidak Bekerja

Jenis Kelamin                  : Perempuan

No. RM                             : -

Sumber Informasi           : Klien dan Keluarga

 

II.           ALASAN MASUK

Data Primer

Klien mengatakan sering merasa malu dan tidak percaya diri ketika berada di keramaian, klien lebih suka menyendiri dan menutup diri dari lingkungannya.

 

 

Data Sekunder

Keluarga klien mengatakan sudah 4 bulan klien tidak mau keluar rumah dan mengurung diri di kamarnya, tidak mau makan dan bicara bahkan BAK dan BAB di tempat tidurnya.

 

III.        FAKTOR PRESIPITASI

Klien berasal dari desa Ardisaeng RT 03 RW 02 Kec. Pakem Kab. Bondowoso, menurut pengakuan dari keluarga klien sering sekali mengurung diri dikamar dan tidak mau keluar sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu. Klien tidak merespon saat di ajak bicara, kontak mata kurang dan tidak suka bersosialisasi dengan orang lain. Saat klien di paksa keluar rumah, maka klien akan marah dan menangis seperti bayi. Klien akan kembali ke kamarnya dan menutup pintu agar tidak ada orang yang masuk.

Klien tidak mempunyai riwayat penyakit fisik (-), kejang (-), dan napza (-).

 

IV.        FAKTOR PREDISPOSISI

A.    RIWAYAT PENYAKIT LALU

1.      Pernah mengalami gangguan jiwa di masa lalu :

Ya, keluarga klien mengatakan bahwa klien pernah mengalami gangguan jiwa 4 tahun yang lalu.

Pengobatan sebelumnya :

Klien tidak pernah menjalani pengobatan sebelumnya.

Masalah Keperawatan : Tidak ada

2.      Pernah mengalami penyakit fisik (termasuk gangguan tumbuh kembang)

Tidak, keluarga klien mengatakan bahwa klien tidak pernah mengalami penyakit fisik dan gangguan tumbuh kembang

Masalah Keperawatan : Tidak ada

B.     RIWAYAT TRAUMA

NNo

Trauma

Usia

Pelaku

Korban

Saksi

11.

Aniaya fisik

-

-

-

-

22.

Aniaya seksual

-

-

-

-

33.

Penolakan

10th

Teman sebaya

Nn. I

Guru

44.

Kekerasan dalam keluarga

-

-

-

-

55.

Tindakan kriminal

-

-

-

-

 

1.      Pengalaman masa lalu yang tidak menyenangkan (Bio, Psiko, Sosio, Kultural dan Spiritual)

Keluarga klien juga klien sendiri mengatakan pernah mengalami penolakan oleh teman-teman sebaya nya yaitu tidak punya teman pada umur 10th dan saksinya adalah Guru sekolahnya

Masalah Keperawatan : Sindrom Pasca Trauma

 

C.    RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA

1.    Anggota keluarga yang gangguan jiwa?

Kalau ada                        : Tidak ada.

Hubungan keluarga       : Keluarga klien tidak ada yang mengalami gangguan jiwa sebelumnya.

Gejala                            :Tidak terdapat gejala bahwa anggota keluarga klien mengalami gangguan jiwa.

Riwayat pengobatan     :Keluarga klien tidak menjalani pengobatan gangguan jiwa.

Masalah Keperawatan : Tidak ada

 

V.           PEMERIKSAAN FISIK

1.    Keadaan Umum      : Composmentis

GCS                             : 4-5-6

2.    Tanda-Tanda Vital

Tekanan Darah : 110/70 mmHg

Nadi                              : 80x/menit

Suhu                             : 36,7o C

Pernafasan                    : 20x/menit

3.    Ukur

Berat Badan                 : 34 Kg

Tinggi Badan                : 138 Cm

4.    Keluhan Fisik         

Klien tidak mengatakan apa-apa.

5.    Pemeriksaan Fisik  

a)      Kepala

I : bentuk kepala normal, benjolan (-), rambut pendek, kusam, tidak ada kutu, terdapat ketombe.

P : tidak ada nyeri tekan.

b)     Mata

I : bentuk mata simetris, sklera putih, konjungtiva anemis, pupil berespon terhadap cahaya, pupil isokor kanan dan kiri, tidak ada lesi.

P : tidak ada nyeri tekan.

c)      Hidung

I : bentuk hidung normal, tidak ada lesi, tidak ada deformitas tulang, tidak terdapat cairan yang keluar dari hidung.

P : tidak ada nyeri tekan.

d)     Mulut

I : Bentuk mulut normal, tidak ada lesi, tidak ada perdarahan di gusi, terdapat karies gigi, gigi kuning, lidah kotor.

P : tidak ada nyeri tekan.         

e)      Telinga

I : bentuk telinga normal, simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi, tidak ada cairan yang keluar dari telinga, terdapat banyak serumen di lubang telinga kanan dan kiri, tidak ada lesi.

P : tidak ada nyeri tekan.

 

f)       Leher    

I : bentuk leher normal, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada lesi.

P : tidak ada nyeri tekan.

g)      Dada

Paru

I : bentuk dada normal chest, expansi dada simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi, tidak ada retraksi dada.

P : tidak ada nyeri tekan, Vocal Fremitus teraba sama kanan dan kiri.

P : suara paru sonor.

A : tidak ada suara nafas tambahan, suara nafas vesikuler.

Jantung

I : ictus cordis tidak terlihat di ICS 5

P : tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat cardiomegaly.

P : suara jantung pekak.

A : bunyi jantung S1 S2 tunggal.

h)     Abdomen

I : bentuk abdomen supel, tidak ada lesi, tidak ada spider navy.

A : bising usus 5x/menit.

P : tidak ada nyeri tekan, tidak ada masa (hepatomegaly dan splenomegaly), tidak ada acites.

P : suara abdomen tympani.

i)        Ekstermitas

I : ekstremitas atas dan bawah lengkap, tidak ada cacat, tidak ada lesi.

P : tidak ada nyeri tekan, kekuatan otot    

 

j)       Genetalia dan Anus

I : bentuk normal, tidak ada lesi, tidak ada cairan yang keluar, tidak ada hemoroid.

P : tidak ada nyeri tekan.

 

VI.        PENGKAJIAN PSIKOSOSIAL (sebelum dan sesudah sakit)

1.    Genogram :

10th

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Keterangan:

Laki-laki

Laki-laki meninggal

Menikah

Pasien dengan umur

Keturunan

Tinggal serumah

Perempuan meninggal

Perempuan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


2.    Konsep Diri

a)      Citra Diri

Klien tidak mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya, bahkan tidak ada kontak mata.

b)     Identitas Diri

Klien tidak mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya, bahkan tidak ada kontak mata.

c)      Peran     

Klien tidak mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya, bahkan tidak ada kontak mata.

d)   Ideal diri 

  Klien tidak mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya, bahkan tidak ada kontak mata.

e)    Harga diri          

Klien tidak mau mengatakan apapun dan menunduk saat ditanya, bahkan tidak ada kontak mata.

Masalah keperawatan : Harga Diri Rendah

3.      Hubungan Sosial

a)      Orang yang berarti/terdekat :

Dikeluarga : klien mempunyai keluarga yang terdekat/berarti. Semua keluarganya memberi dukungan pada klien.

b)     Peran serta dalam kegiatan kelompok/masyarakat  :

Klien tidak pernah mengikuti kegiatan apapun di masyarakat.

 

c)      Hambatan dalam berhubungan dengan orang lain :

Klien selalu malu dan menghindar saat ada banyak orang disekitarnya.

Masalah Keperawatan : Isolasi Sosial

4.      Spiritual

a)      Nilai dan keyakinan

Klien beragama Islam

b)     Kegiatan ibadah

Di rumah : keluarga klien mengatakan klien hampir tidak permah sholat dan selalu menolak ketika diminta sholat.

Di Rumah Sakit : klien tidak pernan sholat.

Masalah Keperawatan : Distress Spiritual

 

VII.     STATUS MENTAL

1.    Penampilan

Klien berpakaian tidak rapi

Klien dalam berpakaian dirumah selalu memakai jilbab dan pakaian tertutup. Saat di Rumah Sakit klien tidak mau diminta untuk mengganti pakaiannya. Kakinya bau tidak bersih, kuku kaki dan tangan kotor.

Masalah Keperawatan : Defisit Perawatan Diri (Mandi dan Berhias)

2.    Interaksi selama wawancara

Klien kurang kooperatif

Pembicaraan inkoheren, confulsif, tidak menjawab pertanyaan, menundukkan kepala. Kontak mata kurang, nada suara kurang jelas.

3.    Pembicaraan

Kurang jelas dan tidak bisa dimengerti. Nada suara tidak jelas dan terkadang tidak mau menjawab pertanyaan dari perawat.

Malasah Keperawatan : Kerusakan Komunikasi Verbal

4.    Aktivitas motoric

Kompulsif

Klien dalam beraktivitas tidak ada hambatan ataupun gangguan, ekstremitas atas dan bawah normal bisa digerakkan. Tapi klien tidak mau melakukan aktivitas.

Masalah Keperawatan : Tidak ada

5.    Kesadaran

a.    Kuantitatif : Composmentis

GCS456         E4 : Membuka mata dengan spontan

                     V5 : Bicara jelas

                     M6 :Dapat mengikuti perintah

a)      Kualitatif

Limitasi (Pembatasan)

Klien selalu membatasi diri untuk bergaul dan berbicara dengan

temannya. Klien selalu merasa malu dan diam.

Masalah Keperewatan : Harga Diri Rendah

6.      Orientasi

a)    Waktu : klien tidak mampu menyebutkan tanggal, bulan dan tahun.

b)   Tempat : klien tidak mampu mengenali dimana tempat dia berada sekarang RS Umum Bondowoso.

c)    Orang : klien tidak mampu menyebutkan beberapa orang yang dia kenal, teramsuk perawatnya.

Masalah Keperawatan : Disorientasi (Waktu, Tempat dan Orang)

7.    Perasaan

a)      Emosi

Klien tidak mengatakan apapun.                                   

b)      Afek

Klien tidak menunjukkan ekspresi apapun, ekspresi datar tidak sesuai dengan keadaan seperti sedih (klien menangis), senang (klien tertawa).

Masalah Keperawatan :

8.      Persepsi – Sensorik

Klien tidak mau bicara.

Masalah Keperawatan : Tidak ada

9.    Proses pikir

a)      Arus Pikir

Tidak mau bicara

Masalah Keperawatan : Tidak ada

b)     Isi Pikir

Merasa malu dan tidak berguna

Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah

c)    Bentuk Pikir

Merasa malu dan tidak berguna

Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah

10.  Memori

a)      Daya ingat jangka panjang : Tidak ada

b)      Daya ingat jangka pendek : Tidak ada

c)      Daya ingat saat ini : Tidak ada

Masalah Keperawatan : Gangguan Memori

11.  Tingkat konsentrasi dan berhitung

Klien tidak mau berhitung

Masalah Keperawatan : Tidak ada

12.  Kemampuan penilaian

Gangguan

Tingkat kemampuan klien masih baik, tapi klien tidak mau mengatakan apapun.

Masalah Keperawatan : Kerusakan Komunikasi Verbal

13.  Daya tilik diri

Klien tidak menyadari bahwa dirinya sekarang di rawat di RS

Masalah Keperawatan : Disorientasi (Tempat)

 

VIII.   KEBUTUHAN DASAR PASIEN

1.    Makan

Bantuan minimal

Klien bisa menyiapkan makan secara mandiri dan makan tanpa bantuan orang lain, tetapi untuk mempersiapkan alat makan dan lauknya dibantu oleh perawat.

Frekuensi makan 3 x sehari :     Pagi  : Jam 07.00

    Siang : Jam 12.00

    Malam : Jam 18.00

Klien sering tidak menghabiskan porsi makan yang diberikan.

Klien mampu makan sendiri tanpa bantuan orang lain.

2.    BAB/BAK

Bantuan total

Klien melakukan BAB/BAK di tempat tidur.

Frekuensi BAB 1 x sehari (Pagi)

Frekuensi BAK tidak bisa di hitung

3.    Mandi

Bantuan total

Klien tidak pernah mandi dan harus di bantu serta peralatan mandi disiapkan oleh perawat.

Frekuensi mandi 2 x sehari (pagi dan sore) memakai sabun.

4.    Berpakaian/berhias

Bantuan total

Klien tidak bisa melakukan/memasang pakaian secara mandiri tanpa bantuan orang lain, dan dalam menyiapkan pakaiannya dibantu oleh perawat. Saat perawat mencoba mengganti pakaiannya klien menolak dan menghindar.

5.    Istirahat dan tidur

Tidur siang, lama : 12.00 s/d 14.00 WIB

Tidur  malam, lama : 20.00 s/d 05.00 WIB

Aktivitas sebelum/sesudah tidur : -

6.    Penggunaan obat

Klien minum obat 3x sehari

7.    Pemeliharaan kesehatan

Saat ini klien sedang menjalani pengobatan di RS.

8.    Aktivitas dalam ruangan

Klien tidak mau beraktivitas

9.    Aktivitas di luar ruangan

Duduk diam dan merenung

Masalah Keperawatan : Harga Diri Rendah

 

IX.        MEKANISME KOPING

Adaptif

Maladaptif

 

Bicara sendiri

 

Lebih sering diam

 

Tidak bersosialisasi dengan orang lain

(menyendiri)

          Masalah Keperawatan : Koping Individu Inefektif

 

X.           MASALAH PSIKOSOSIAL DAN LINGKUNGAN

1.    Masalah dengan dukungan kelompok, spesifiknya :

Klien tidak mempunyai masalah dengan dukungan kelompok, karena seluruh anggota keluarganya menginginkan klien untuk sembuh.

 

2.    Masalah berhubungan dengan lingkungan, spesifiknya :

Klien mampu beradaptasi dengan lingkungan meski membutuhkan waktu yang cukup lama.

3.    Masalah dengan pendidikan, spesifiknya :

Klien menjalani pendidikan hanya sampai di Sekolah Menengah Pertama dan tidak sampai lulus.

4.    Masalah dengan pekerjaan, spesifiknya :

Klien tidak pernah bekerja sebelumnya.

5.    Masalah dengan perumahan, spesifiknya :

Klien tinggal di desa Ardisaeng yang dimana teman sebayanya selalu mengucilkan saat bertemu dengannya.

6.    Masalah dengan ekonomi, spesifiknya :

Klien berasal dari keluarga menengah kebawah.

7.    Masalah dengan pelayanan kesehatan, spesifiknya :

Klien selalu menolak jika keluarganya mengajaknya berobat ke pelayanan kesehatan.

Masalah Keperawatan : Koping Individu Inefektif

 

XI.        PENGETAHUAN KURANG TENTANG

Apakah klien mempunyai masalah yang berkaitan dengan pengetahuan yang kurang tentang suatu hal?

Penyakit/gangguan jiwa               

Masalah Keperawatan : Defisiensi Pengetahuan

 

XII.     ASPEK MEDIS

Diagnosa medis : Skizofrenia Paranoid

Terapi medik :      Citalopram (Celexa)                 1x20mg

                               Fluoxetine (Prozac)                1x10mg

                               Amitriptyline                          1x25mg


 

XIII. ANALISA DATA

NO

DATA

DIAGNOSA KEPERAWATAN

1

Data Subjektif :

-     -Klien merasa tidak berguna dan malu karena di kucilkan dan tidak punya teman. Merasa tidak mampu melakukan apapun karena teman sebayanya selalu menjauhi dan mengucilkannya

Data Objektif :

-     Klien tidak mau melakukan apapun hanya berbaring dan duduk termenung, berjalan menunduk. Kontak mata kurang dan tidak merespon saat di ajak bicara/pasif.

Harga Diri Rendah

 

XIII.  WOC

Gangguan Pemenuhan Kesehatan

Risiko Perilaku Kekerasan

Isolasi Sosial

 

 

 


   

(Core Problem)

Defisit Perawatan Diri : Mandi dan Berhias

Harga Diri Rendah

                       

 


Koping Individu Inefektif

   

Syndrome Pasca Trauma

 

 

 

 

 

 


XIV.  DAFTAR MASALAH KEPERAWATAN

1.      Syndrome Pasca Trauma

2.      Koping Individu Inefektif

3.      Harga Diri Rendah

4.      Isolasi Sosial

5.      Resiko Perilaku Kekerasan

6.      Defisit Perawatan Diri

7.      Gangguan Pemenuhan Kesehatan

 

XV.     PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.      Harga Diri Rendah

 

 


 


XVI. INTERVENSI, IMPLEMENTASI DAN EVALUASI KEPERAWATAN

Tanggal

Diagnosa

Keperawatan

Intervensi

Keperawatan

Tujuan dan

Kriteria Hasil

Pukul

Implementasi Keperawatan

Evaluasi Keperawatan

Kamis. 03/09/20

Pukul 10.00 WIB

Harga Diri Rendah

Observasi :

-    -Identifikasi agama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri

-    -Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri

-    -Monitor tingkat harga diri setiap waktu

Terapeutik :

-    -Motivasi untuk terlibat dalam pembicaraan positif untuk diri sendiri

-    -Motivasi menerima hal baru

-    -Diskusikan pengalaman yang meningkatkan harga diri

-    -Berikan umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan

-    -Fasilitasi lingkungan dan aktifitas yang meningkatkan harga diri

Edukasi :

-    -Jelaskan kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien

-    -Anjurkan mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

-    -Anjurkan melakukan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain

-    -Latih cara berfikir dan berperilaku positif

-Latih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani masalah

Ekspektasi Meningkat

-    -Penilaian diri positif miningkat

-    -Minat mencoba hal baru

-    -Berjalan menampakkan wajah

-    -Konsentrasi meningkat

-    -Kontak mata meningkat

-    -Percaya diri berbicara meningkat

-    -Kempuan membuat ke putusan meningkat

-    -Perasaan malu menurun

-    -Perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun

-    -Perasaan bersalah menurun

-Meremehkan kemampuan mengatasi masalah menurun

 

10.00

 

10.03

 

10.05

 

 

10.09

 

 

10.12

 

10.15

 

10.20

 

 

10.25

 

 

10.23

 

10.25

 

 

10.27

 

10.30

Observasi :

-    -Melakukan identifikasi nama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri

-    -Melakukan monitoring verbalisasi yang merendahkan diri sendiri

-    - Melakukan monitoring tingkat harga diri setiap waktu

Terapeutik :

-    -Memberi motivasi untuk terlibat dalam pembicaraan positif untuk diri sendiri

-    -Memberi motivasi menerima hal baru

-    -Melakukan diskusi pengalaman yang meningkatkan harga diri

-    -Memberikan umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan

Edukasi :

-    -Menjelaskan kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien

-    -Menganjurkan mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

-    - Menganjurkan melakukan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain

-    -Melatih cara berfikir dan berperilaku positif

-Melatih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani masalah

 

-Klien tidak mampu menjawab dan tidak mau bicara

-Klien hanya diam dan menunduk

-Kontak mata kurang saat di ajak bicara

 

-Klien tidak mau bicara dengan orang lain

 

-Klien tidak merespon

 

-Klien menolak berdiskusi

 

-Klien tidak merespon

 

 

-Keluarga sangat menerima dan mendengarkan saran yang diberikan

-Keluarga klien akan berusaha membujuk klien

-Keluarga klien sangat kooperatif

 

-Keluarga setuju dan menerima

 

-Keluarga klien sudah berusaha mengikuti instruksi perawat

 

 

 

 

 

                               


 

Tanggal

Diagnosa

Keperawatan

Intervensi

Keperawatan

Tujuan dan

Kriteria Hasil

Pukul

Implementasi Keperawatan

Evaluasi Keperawatan

Jumat. 04/09/20

Pukul 09.00 WIB

Harga Diri Rendah

Observasi :

-    -Identifikasi agama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri

-    -Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri

-    -Monitor tingkat harga diri setiap waktu

Terapeutik :

-    -Motivasi untuk terlibat dalam pembicaraan positif untuk diri sendiri

-    -Motivasi menerima hal baru

-    -Diskusikan pengalaman yang meningkatkan harga diri

-    -Berikan umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan

-    -Fasilitasi lingkungan dan aktifitas yang meningkatkan harga diri

Edukasi :

-    -Jelaskan kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien

-    -Anjurkan mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

-    -Anjurkan melakukan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain

-    -Latih cara berfikir dan berperilaku positif

-Latih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani masalah

Ekspektasi Meningkat

-    -Penilaian diri positif miningkat

-    -Minat mencoba hal baru

-    -Berjalan menampakkan wajah

-    -Konsentrasi meningkat

-    -Kontak mata meningkat

-    -Percaya diri berbicara meningkat

-    -Kempuan membuat ke putusan meningkat

-    -Perasaan malu menurun

-    -Perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun

-    -Perasaan bersalah menurun

-Meremehkan kemampuan mengatasi masalah menurun

 

09.00

 

09.03

 

09.05

 

 

09.09

 

 

09.12

 

09.15

 

09.20

 

 

 

09.25

 

 

09.27

 

09.30

 

 

09.37

 

09.40

Observasi :

-    -Melakukan identifikasi nama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri

-    -Melakukan monitoring verbalisasi yang merendahkan diri sendiri

-    - Melakukan monitoring tingkat harga diri setiap waktu

Terapeutik :

-    -Memberi motivasi untuk terlibat dalam pembicaraan positif untuk diri sendiri

-    -Memberi motivasi menerima hal baru

-    -Melakukan diskusi pengalaman yang meningkatkan harga diri

-    -Memberikan umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan

-     

Edukasi :

-    -Menjelaskan kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien

-    -Menganjurkan mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

-    - Menganjurkan melakukan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain

-    -Melatih cara berfikir dan berperilaku positif

-Melatih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani masalah

 

-Klien hanya tersenyum malu

 

-Klien hanya diam dan menunduk

-Kontak mata mulai terlihat saat di ajak bicara

 

-Klien menghindari pembicaraan

 

-Klien hanya tersenyum malu

 

-Klien menolak berdiskusi

 

-Klien tidak merespon

 

 

 

-Keluarga sangat menerima dan mendengarkan saran yang diberikan

-Keluarga klien akan berusaha membujuk klien

-Keluarga klien sangat kooperatif

 

-Keluarga setuju dan menerima

 

-Keluarga klien sudah berusaha mengikuti instruksi perawat

 

 

 

 


 

Tanggal

Diagnosa

Keperawatan

Intervensi

Keperawatan

Tujuan dan

Kriteria Hasil

Pukul

Implementasi Keperawatan

Evaluasi Keperawatan

Sabtu. 05/09/20

Pukul 11.00 WIB

Harga Diri Rendah

Observasi :

-    -Identifikasi agama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri

-    -Monitor verbalisasi yang merendahkan diri sendiri

-    -Monitor tingkat harga diri setiap waktu

Terapeutik :

-    -Motivasi untuk terlibat dalam pembicaraan positif untuk diri sendiri

-    -Motivasi menerima hal baru

-    -Diskusikan pengalaman yang meningkatkan harga diri

-    -Berikan umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan

-    -Fasilitasi lingkungan dan aktifitas yang meningkatkan harga diri

Edukasi :

-    -Jelaskan kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien

-    -Anjurkan mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

-    -Anjurkan melakukan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain

-    -Latih cara berfikir dan berperilaku positif

-Latih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani masalah

Ekspektasi Meningkat

-    -Penilaian diri positif miningkat

-    -Minat mencoba hal baru

-    -Berjalan menampakkan wajah

-    -Konsentrasi meningkat

-    -Kontak mata meningkat

-    -Percaya diri berbicara meningkat

-    -Kempuan membuat ke putusan meningkat

-    -Perasaan malu menurun

-    -Perasaan tidak mampu melakukan apapun menurun

-    -Perasaan bersalah menurun

-Meremehkan kemampuan mengatasi masalah menurun

 

11.00

 

11.05

 

11.09

 

 

11.15

 

 

11.17

 

11.20

 

11.25

 

 

 

11.29

 

 

11.33

 

11.35

 

 

11.20

 

11.27

Observasi :

-    -Melakukan identifikasi nama, jenis kelamin dan usia tentang harga diri

-    -Melakukan monitoring verbalisasi yang merendahkan diri sendiri

-    - Melakukan monitoring tingkat harga diri setiap waktu

Terapeutik :

-    -Memberi motivasi untuk terlibat dalam pembicaraan positif untuk diri sendiri

-    -Memberi motivasi menerima hal baru

-    -Melakukan diskusi pengalaman yang meningkatkan harga diri

-    -Memberikan umpan balik positif atas penigkatan mencapai tujuan

-     

Edukasi :

-    -Menjelaskan kepada keluarga pentingnya dukungan dalam perkembangan harga diri pasien

-    -Menganjurkan mengidentifikasi kemampuan yang dimiliki

-    - Menganjurkan melakukan kontak mata saat berkomunikasi dengan orang lain

-    -Melatih cara berfikir dan berperilaku positif

-Melatih meningkatkan kepercayaan pada kemampuan dalam menangani masalah

 

-Klien hanya mampu menyebut namanya yaitu Nn. I

-Klien menunduk da berkata malu

-Kontak mata mulai terlihat saat di ajak bicara

 

-Klien hanya mau berbicara dengan 1 orang yaitu ibunya

 

-Klien hanya tersenyum malu

 

-Klien menolak berdiskusi

 

-Klien menunduk malu

 

 

 

-Keluarga sangat menerima dan mendengarkan saran yang diberikan

-Keluarga klien akan berusaha membujuk klien

-Keluarga klien sangat kooperatif

 

-Keluarga setuju dan menerima

 

-Keluarga klien sudah berusaha mengikuti instruksi perawat

 

 


BAB 4

PENUTUP

 

4.1       Kesimpulan

Konsep diri merupakan bagian dari masalah kebutuhan psikososial yang tidak didapat sejak lahir, akan tetapi dapat dipelajari sebagai hasil dari pengalaman seseorang terhadap dirinya. Terdapat beberapa penyebab gangguan konsep diri yang dibagi atas jenis-jenisnya. Gangguan konsep diri dibagi menjadi persepsi diri, citra tubuh, harga diri, penampilan peran, dan identitas diri.

 

4.2       Saran

Melalui laporan ini kami menyarankan agar pembaca tidak berhenti sampai disini saja menggali ilmu tentang Asuhan Keperawatan pada klien dengan Gangguan Konsep Diri. Kami berharap agar pembaca dapat menggali ilmu dan memahami pembelajaran mengingat peran perawat harus mengerti dan memahami mengenai gangguan konsep diri.  Agar tindakan serta penanganan terhadap masalah ini dapat tercapai sesuai dengan harapan.

Laporan ini masih banyak mempunyai kekurangan dalam hal-hal penulisan maka dari itu kami mengharapkan saran yang bersifat membangun untuk perbaikan dari laporan ini. Akhir kata kami ucapkan terimakasih.


 

DAFTAR PUSTAKA

 

Damaiyanti, Mukhripah, and Iskandar. 2012. Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Refika Aditama.

Hidayat, A. A. (2006). Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia. Jakarta: Salemba Medika.

Kusumawati, Farida, and Yudi Hartono. 2010. Buku Ajar Asuhan Keperawatan Jiwa. Jakarta: Salemba Medika.

Stuart, G. W. (2016). Keperawatan Kesehatan Jiwa Stuart. Singapore: Elsevier. Wijayaningsih, K. S. (2015). Praktik Klinik Keperawatan Jiwa. Jakarta: Trans Info Media

Yosep, Iyus. 2007. Keperawatan Jiwa. Bandung: Refika Aditama.

Tim Pokja SDKI DPP PPNI. 2017. Standar Diagnosis Keperawatan Indonesia : Definisi & Indikator Diagnostik. Jakarta Selatan : DPP PPNI.

Tim Pokja SLKI DPP PPNI. 2017. Standar Luaran Keperawatan Indonesia : Definisi & Kriteria Hasil Keperawatan. Jakarta Selatan : DPP PPNI.

Tim Pokja SIKI DPP PPNI. 2017. Standar Intervensi Keperawatan Indonesia : Definisi & Tindakan Keperawatan. Jakarta Selatan : DPP PPNI.

Tyo, Sulis. 2013. "Asuhan Keperawatan Gangguan Konsep Diri." Blogspot.com. Sept 1 2020. Accessed September 2th 2020. http://lebah-kreatif.blogspot.com/asuhan-keperawatan-gangguan-konsep-diri.html.




LAMPIRAN

 

 


 



 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


                                                                                                                    

 

 

No comments:

Post a Comment

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...