BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang Masalah
Skizofrenia Paranoid merupakan
bentuk gangguan psikosis yang paling umum terjadi, seseorang yang menderita Skizofrenia Paranoid pada umumnya akan
mengalami waham kebesaran dan sering di ikuti oleh halusinasi pendengaran (Hawari,
2009). American Psychiatric Association
dalam bukunya (DSM-IV-TR) pada tahun
2013, menyatakan bahwa Skizofrenia
Paranoid merupakan jenis Skizofrenia yang
paling sering di jumpai di seluruh dunia dari pada jenis Skizofrenia yang lain.
Skizofrenia Paranoid
mempunyai gejala utama yaitu halusinasi. Halusinasi merupakan hilangnya
kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan
eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan
tanpa adanya objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan
mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara (Kusumawati, 2010)
American Psychiatric Association (2013) menyatakan bahwa Skizofrenia merupakan penyebab kematian yang mempunyai perbandingan 8 kali lebih tinggi dari angka kematian yang di akibatkan oleh penyakit lain. World Health Organization (WHO) tahun 2016 menyatakan bahwa sekitar 21 juta orang diseluruh dunia terkena Skizofrenia. Sedangkan data tentang prevalensi Skizofrenia di Indonesia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk (Kemenkes, 2014). Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso pada tahun 2017 selama 3 bulan terakhir menunjukkan bahwa prevalensi Skizofrenia sebanyak 801 orang. Data yang didapatkan dari Rekam Medik RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso pada tahun 2017 menunjukkan bahwa selama 3 bulan terakhir kasus Skizofrenia Paranoid sebanyak 3 orang, masih sedikit data yang didapatkan oleh Rumah Sakit mengenai data klien Skizofrenia Paranoid ini dikarenakan keberadaan departemen yang dikhususkan untuk klien jiwa ini masih baru ditetapkan pada tahun 2016.
Skizofrenia Paranoid
terjadi apabila seseorang mengalami stress yang berlebihan, rasa bersalah,
kesepian yang memuncak dan masalah yang tidak dapat diselesaikan. Hal ini dapat
mempengaruhi perilaku menjadi maladaptif seperti sering menyendiri, tertawa
sendiri dan respon verbal yang lambat (Kusumawati, 2010). Skizofrenia Paranoid merupakan
klasifikasi dari Skizofrenia yang
paling banyak terjadi (Rusdi, 2013).
Gejala yang muncul pada Skizofrenia
Paranoid sekitar (70%) adalah halusinasi pendengaran. Prognosis Skizofrenia Paranoid lebih baik
dibandingkan jenis yang lain karena mempunyai respon yang baik di dalam
pengobatan. Halusinasi yang dibiarkan
berkelanjutan, akan membuat seseorang akan terbiasa dikendalikan oleh halusinasinya
dan tidak mampu mematuhi perintah, bahkan dalam fase yang lebih buruk, orang
yang mengalami halusinasi dapat menjadi perilaku kekerasan terhadap diri
sendiri maupun orang lain, bahkan dapat menyebabkan seseorang bunuh diri (Yosep,
2016).
Salah satu intervensi
yang dapat di lakukan pada klien dengan Skizofrenia
Paranoid dengan halusinasi pendengaran adalah terapi musik. Hasil studi (American Musik Therapy Assosiations,
2013), menyatakan bahwa terapi musik dapat digunakan untuk meningkatkan
kesejahteraan, mengatur stress, mengurangi nyeri, mengekspresikan kenyataan,
meningkatkan memori, meningkatkan komunikasi dan peningkatan fisik. Salah satu
jenis musik yang dapat diberikan untuk klien dengan Skizofrenia Paranoid adalah jenis musik klasik (Haydn dan Mozart) yang
dapat digunakan untuk memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial, musik
klasik Mozart memiliki efek yang tidak di miliki komposer lain. Musik klasik
Mozart memiliki kekuatan yang membebaskan, mengobati dan menyembuhkan (Musbikin,
2009).
Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan halusinasi
pendengaran harus dilakukan perawatan intensif, karena bila keadaan dibiarkan
maka akan berkembang menjadi lebih berat sehingga membahayakan diri klien,
orang lain dan lingkungan. Melihat kejadian tersebut maka penulis tertarik
untuk mengangkat masalah ini dalam membuat Studi Kasus dengan judul “Asuhan
Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia
Paranoid dengan Halusinasi
Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso”.
1.2
Batasan
Masalah
Batasan
masalah pada studi kasus ini dibatasi pada Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi
Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.
1.3 Rumusan Masalah
Bagaimanakah Asuhan
Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi
Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso?
1.4 Tujuan Penelitian
1.4.1 Tujuan
Umum
Melaksanakan Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi
Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.
1.4.2 Tujuan Khusus
1) Melakukan pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia
Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H.
Koesnadi Bondowoso
2) Merumuskan
diagnosa keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun
Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso,
3) Menyusun
intervensi keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun
Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.
4) Melaksanakan
tindakan keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun
Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.
5) Melakukan evaluasi keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia
Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H.
Koesnadi Bondowoso.
1.5 Manfaat
Penelitian
1.5.1 Manfaat Teoritis
Penelitian ini bermanfaat
untuk pengembangan pengetahuan khususnya pada Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi
Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.
1.5.2 Manfaat
Praktis
1) Perawat
Sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi tenaga kesehatan,
khususnya perawat di RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso untuk meningkatkan
profesionalisme dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi
Pendengaran.
2)
Rumah Sakit
Sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran.
3) Institusi Pendidikan
Menambah pembendaharaan atau pustaka dan juga sebagai
referensi bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian atau Asuhan Keperawatan
pada klien yang mengalami Skizofrenia
Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran.
4) Klien dan Keluarga
Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai
penyakit jiwa Skizofrenia Paranoid
dengan Halusinasi Pendengaran di rumah.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Skizofrenia Paranoid
2.1.1 Pengertian
Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia Paranoid merupakan
gangguan psikotik yang merusak yang dapat melibatkan gangguan yang khas dalam
berpikir (delusi), persepsi (halusinasi), pembicaraan, emosi dan perilaku. Para
penderita Skizofrenia Paranoid ini tampak
berbeda karena delusi dan halusinasinya, sementara keterampilan kognitif dan
afek mereka utuh. Pada umumnya orang dengan Skizofrenia
Paranoid tidak mengalami disorganisasi dalam pembicaraan atau afek datar. Orang
dengan Skizofrenia Paranoid memiliki
prognosis yang lebih baik dibandingkan tipe Skizofrenia
lainnya karena mempunyai respon yang baik di dalam pengobatan (Durand, 2007).
2.1.2 Epidemiologi
Skizorenia Paranoid
Skizofrenia
Paranoid dapat ditemukan pada
semua kelompok masyarakat di berbagai daerah. Insiden dan prevalensi sepanjang
hidup hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% dari
populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa
dewasa. Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu
15-25 tahun sedangkanpada perempuan lebih lambat yaitu pada usia 25-35 tahun.
Insiden Skizofrenia Paranoid lebih
besar pada laki-laki dibandingkan perempuan (Durand, 2007).
Faktor
penyebab terjadinya Skizofrenia Paranoid
menurut (Yosep, 2016), yaitu :
1)
Faktor
Predisposisi
a)
Faktor Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem syaraf yang
berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladptif.
b)
Faktor Genetik
Pada anggota
keluarga menyebutkan kejadian Skizofrenia
Paranoid pada orang tua (5,6%), saudara kandung (10,1%), anak-anak (12,8%),
dan penduduk secara keseluruhan (0,9%). Kembar identik (twin) memiliki angka kejadian yang lebih besar terkena Skizofrenia Paranoid dibandingakan
kembar tidak identik (praternal),
dengan perbandingan 59,20% dan 15,2%.
c)
Auto Antibody
Menurunnya auto
imun yang mungkin di sebabkan karena infeksi selama kehamilan atau penggunaan
zat kimia seperti dopamine dan neurotransmitter yang berlebihan,
ketidakseimbangan antara dopamine dan neurotransmitter lain terutama serotonin
mengakibatkan masalah pada sistem reseptor dopamine.
d)
Virus
Virus atau
infeksi lain selama kehamilan yang dapat mengganggu perkembangan otak janin dan
komplikasi dalam kehamilan.
e)
Malnutrisi
Kekurangan gizi
berat khususnya malnutrisi karbohidrat dan protein terutama pada trimester
kehamilan dapat mempengaruhi perkembangan otak janin di kemudian hari.
f)
Faktor
Psikologis
Teori
psikodinamika untuk terjadinya respon neurobiologis yang maladaptif. Teori ini
menyalahkan keluarga sebagai penyebab gangguan. Akibatnya, kepercayaan keluarga
terhadap tenaga kesehatan khususnya jiwa menurun.
g)
Faktor
Psikososial
Orang yang sudah
memiliki epigenetik bila mengalami stressor psikososial dalam kehidupannya,
maka berisiko terkena Skizofrenia
Paranoid yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki
faktor epigenetik sebelumnya.
2)
Faktor
Presipitasi
a)
Faktor Biologis
Stressor
biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif meliputi
:
1.
Gangguan dalam
komunikasi dan putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi.
2.
Abnormalitas
dalam mekanisme pintu masuk dalam otak (komunikasi syaraf yang melibatkan
elektrolit) yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi
stimulus.
b)
Faktor
Lingkungan
Ambang toleransi
terhadap stress yang di tentukan secara biologis berinteraksi dengan stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
c)
Faktor Pemicu
Gejala
Faktor pemicu
merupakan precursor stimulus yang sering menimbulkan penyakit baru, seperti :
1.
Kesehatan
2.
Gizi buruk
3.
Kurang tidur
4.
Keletihan
5.
Obat sistem
syaraf pusat
6.
Lingkungan
7.
Sikap dan perilaku,
dll.
|
Faktor Presipitasi |
|
Faktor Predisposisi |
|
Faktor Genetik |
|
Faktor Lingkungan |
|
Pelepasan Neurotransmitter |
|
Merangsang korteks prefrontalis |
|
Aliran darah menurun |
|
Intake glukosa menurun |
|
Atrofi penonjolan dendrit menurun |
|
Halusinogen |
|
Dopamin meningkat |
|
Reseptor D1 dan D2 meningkat |
|
Halusinasi |
|
Delusi |
|
Gangguan Persepsi |
|
Gangguan proses pikir |
|
Waham |
|
Cemas dan agitasi |
|
Perubahan perilaku |
|
Perilaku merusak |
|
Risiko Perilaku Kekerasan |
|
Skizofrenia
Paranoid |
(Gambar 2.1 : Patofisiologi Skizofrenia Paranoid)
Skizofrenia Paranoid dihubungkan dengan faktor genetik dan lingkungan.
Faktor tersebut selalu dihubungkan dengan proses terjadinya Skizofrenia Paranoid. Neurotransmitter
yang berperan dalam proses terjadinya adalah DA, 5HT, Glutamat, Peptide, dan
Norepinephrine. Pada klien yang mengalami Skizofrenia
Paranoid terjadi hiperaktivitas sistem dopaminergik, reseptor dopamine yang
terlibat adalah reseptor dopamine-2 (D2) yang akan di jumpai densitas reseptor
D2 pada jaringan otak klien dengan Skizofrenia
Paranoid (Price, 2006).
Pada
Skizofrenia Paranoid terdapat
penurunan aliran darah dan kadar glukosa, terutama di korteks prefrontalis.
Atrofi penonjolan dendrit dari sel piramidal telah ditemukan pada korteks
prefrontalis. Penonjolan dendrit mengandung sinaps glutamenergik sehingga
mengganggu proses transmisi. Selain itu pada area yang terkena akan menghambat
pembentukan sel piramidal menjadi berkurang (Price, 2006).
Availabilitas
dopamin atau agonis dopamin yang berlebih dapat menimbulkan gejala Skizofrenia Paranoid seperti
halusinogenik, gangguan pada proses pikir dan perilaku seseorang (Price, 2006).
2.1.5 Gambaran Klinis Skizofrenia Paranoid
Rusdi
(2013) dalam Pedoman Penggolongan Dan Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III) menyatakan
kriteria umum Skizofrenia Paranoid yaitu
:
1)
Terdapat
suara-suara halusinasi yang mengancam klien, memberi perintah, atau halusinasi
pendengaran.
2)
Waham dapat
berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), di pengaruhi (delusion of influence) atau “passivity”
(delusion of passivity), serta
keyakinan di kejar-kejar yang beraneka ragam adalah paling khas.
3)
Gangguan
afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik yang relatif
tidak nyata atau tidak menonjol.
2.1.6 Penatalaksanaan
Skizofrenia Paranoid
Dasar
penatalaksanaan Skizofrenia Paranoid melalui
suatu pendekatan holistik (Keliat, 2014), yaitu :
1)
Penatalaksanaan
Medis
a)
Somatoterapi
1.
Memperbaiki
keadaan umum
2.
Pemberian
antipsikosis
Neuroleptika
dosis efektif tinggi (diberikan dalam dosis yang terbagi 2-3kali/hari) seperti
:
Khloropamazin : 75-500 mg (per os)
Injeksi 25-50 mg/hari (intramuskuler)
Perazin : 50 – 60 mg (per os)
Thioridazin : 75-500 mg (per os)
Di utamakan untuk
klien Skizofrenia yang di sertai
dengan penyakit organik misalnya gangguan hepar.
Neuroleptika
dosis efektif rendah (diberikan dalam dosis yang terbagi 1-2kali/hari) seperti
:
Flufenazin HCI : 3-10 mg (per os)
Flufenazin depot : 24 mg/4 minggu (injeksi intramuscular)
Trifluoperazin : 3-20 mg (per os)
Haloperidol : 5-15 mg (per os)
Pimozid : 2-8 mg (per os)
3.
Terapi
Elektrokonvulsi jika perlu (keadaan gaduh gelisah atau stupor yang berat).
2)
Penatalaksanaan
Keperawatan
a)
Psikoterapi
Bertujuan untuk memperkuat fungsi ego dengan cara
psikoterapi agar klien bisa bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya.
b)
Manipulasi
lingkungan, agar lingkungan dapat :
1.
Memahami dan
menerima keadaan klien
2.
Membimbing klien
dalam kehidupan sehari-hari
3.
Memberi
kesibukan atau pekerjaan untuk klien
4.
Mengawasi klien
dalam minum obat teratur dalam jangka waktu lama dan membawa klien untuk
pemeriksaan ulang.
2.1.7 Komplikasi
Skizofrenia Paranoid
Skizofrenia
Paranoid bisa mengakibatkan
trauma emosi, perilaku, kesehatan dan bahkan masalah hokum dan keuangan yang
mempengaruhi setiap bidang kehidupan mereka, komplikasi yang disebabkan oleh Skizofrenia Paranoid menurut (Setiadi,
2013), yaitu :
1)
Bunuh diri
(pikiran dan perilaku)
2)
Perilaku merusak
diri sendiri
3)
Depresi
4)
Penyalahgunaan
obat-obatan dan alcohol
5)
Kemiskinan
6)
Tunawisma
7)
Dipenjara
8)
Konflik keluarga
9)
Ketidakmampuan
untuk bekerja dan bersekolah
10) Gangguan
kesehatan akibat obat antipsikotik
11) Menjadi
korban atau pelaku kejahatan kekerasan
12) Penyakit
jantung dan paru-paru karena merokok
2.2 Konsep
Halusinasi
2.2.1 Pengertian
Halusinasi
Halusinasi
merupakan terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak terdapat
stimulus. Tipe halusinasi yang paling sering terjadi adalah halusinasi
pendengaran (Auditory-hearing voices or
sounds), penglihatan (Visual-seeing
persons or things), penciuman (Olfactory-smelling
odors), perabaan (Tactile-feeling
bodily sensations), pengecapan (Gustatory-experiencing
tastes), dan Cenesthetic &
Kinestetic halucinations (Varcarolis, 2006).
2.2.2 Etiologi
Halusinasi
Faktor
penyebab halusinasi di bagi menjadi 2 faktor (Yosep, 2013) yaitu :
1)
Faktor
Predisposisi
a)
Faktor
Perkembangan
Tugas
perkembangan klien yang terganggu misalnya kontrol dan kehangatan keluarga
menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang
percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.
b)
Faktor
Sosiokultural
Seseorang yang
merasa tidak diterima di lingkungannya sejak bayi (unwanted child) akan merasa di singkirkan, kesepian, dan tidak
percaya pada lingkungannya.
c)
Faktor Biokimia
Mempunyai
pengaruh terhadap gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan yang di alami
oleh seseorang maka di dalam tubuh akan di hasilkan suatu zat yang bersifat halusinogenik
neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP). Akibat stress
yang berkepanjangan akan menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak.
Misalnya terjadi ketidakseimbangan antara acetylcholine
dan dopamine.
d)
Faktor
Psikologis
Tipe kepribadian
lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus dalam penyalahgunaan zat
adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam mengambil
keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien dapat memilih kesenangan sesaat
dan lari dalam nyata menuju alam khayal.
e)
Faktor Genetik
dan Pola Asuh
Penelitian
menunjukkan bahwa anak sehat yang di asuh oleh orang tua yang mengalami Skizofrenia Paranoid cenderung mengalami
Skizofrenia Paranoid. Hasil studi
menunjukkan bahwa hubungan keluarga sangat berpengaruh pada penyakit ini.
2)
Faktor
Presipitasi
a)
Berlebihannya
proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan memproses informasi di
hipotalamus otak.
b)
Mekanisme
penghantar listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan abnormal).
c)
Adanya hubungan
yang bermusuhan, tekanan, isolasi social, perasaan tidak berguna dan putus asa.
2.2.3 Patofisiologi
Halusinasi
|
Risiko Perilaku Kekerasan |
|
(Core Problem) |
|
Gangguan Pemenuhan Kesehatan |
|
Halusinasi |
|
Defisit Perawatan Diri : Mandi dan
Berhias |
|
Isolasi
Sosial |
|
Harga
Diri Rendah |
|
Berduka Disfungsional |
(Gambar 2.2 : Pohon Masalah Halusinasi)
Proses terjadinya halusinasi di
pengaruhi oleh multifaktor di antaranya trauma atau kehilangan seseorang yang
sangat berarti di dalam hidupnya yang menyebabkan berduka disfungsional.
Sehingga klien mengalami rasa tidak mampu dan tidak berdaya lagi dalam
menjalani hidupnya. Saat klien merasa tidak mempunyai siapa-siapa di
lingkungannya, klien akan menarik diri dari lingkungan, klien akan sering
menyendiri dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Halusinasi akan
sering muncul untuk menemani kesendirian yang di alami oleh orang tersebut (Keliat,
2006).
Klien menyerah dan menerima situasi
tersebut, halusinasi akan sering muncul tanpa stimulus yang nyata. Klien akan
menunjukkan gejala seperti berbicara sendiri, tersenyum sendiri dan menunjukkan
respon verbal yang lambat. Halusinasi mulai mengontrol klien sehingga klien
mengalami kecemasan yang sangat berat di tandai dengan tremor dan berkeringat.
Saat itu klien akan merasa orang lain yang berada di sekitarnya mulai terasa
berbahaya dan mengancam, sehingga klien menunjukkan sikap bermusuhan seperti
marah-marah, mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya (Keliat,
2006).
2.2.4 Gambaran
Klinis Halusinasi
Tanda
dan gejala halusinasi menurut (Yosep,
2016) dibagi menurut jenisnya yaitu :
1)
Halusinasi Pendengaran
(Auditory-hearing voices or sounds)
Gejala Subjektif
a)
Mendengar suara
menyuruh bahkan melakukan sesuatu yang berbahaya
b)
Mendengar suara
atau bunyi seseorang
c)
Mendengar suara
yang mengajak bercakap-cakap
d)
Mendengar suara
orang yang sudah meninggal
e)
Mendengar suara
yang mengancam diri klien atau orang lain yang membahayakan
Gejala Objektif
a)
Mengarahkan
telinga pada sumber suara
b)
Bicara atau
tertawa sendiri
c)
Marah tanpa
sebab
d)
Menutup telinga
e)
Mulut
komat-kamit
f)
Ada gerakan
tangan
2)
Halusinasi
Penglihatan (Visual-seeing persons or
things)
Gejala Subjektif
Melihat seseorang yang sudah meninggal, bayangan,
hantu atau sesuatu yang menakutkan
Gejala Objektif
1.
Tatapan mata
pada tempat tertentu
2.
Menunjuk kearah
tertentu
3.
Ketakutan pada
objek yang dilihat
3)
Halusinasi
Penciuman (Olfactory-smelling odors)
Gejala Subjektif
1.
Mencium sesuatu
seperti bau mayat, darah, dll
2.
Klien mengatakan
mencium bau sesuatu
3.
Tipe ini sering
menyertai klien yang mengalami dimensia, kejang atau penyakit serebrovaskular
Gejala Objektif
1.
Ekspresi wajah
seperti mencium sesuatu
2.
Pergerakan
cuping hidung dan mengarahkan hidung pada tempat tertentu
4)
Halusinasi
perabaan (Tactile-feeling bodily
sensations)
Gejala Subjektif
1.
Klien mengatakan
ada sesuatu yang menyentuh kulitnya seperti tangan, binatang atau hantu
2.
Merasakan
sesuatu dipermukaan kulit, seperti panas, dingin dan tersengat aliran listrik
Gejala Objektif
1.
Mengusap,
menggaruk dan meraba permukaan kulit
2.
Terlihat
menggerakkan badan seperti merasakan suatu rabaan
5)
Halusinasi
pengecapan (Gustatory-experiencing tastes)
Gejala Subjektif
Klien seperti sedang merasakan makanan tertentu atau
mengunyah sesuatu
Gejala Objektif
Mengecap sesuatu, mengunyah, meludah dan muntah.
6)
Cenesthetic & Kinestetic halucinations
Gejala Subjektif
Klien merasa
fungsi tubuhnya tidak dapat terdeteksi, misalnya tidak punya otak dan tubuhnya
seperti melayang di udara.
Gejala Objektif
Klien terlihat
menatap tubuhnya sendiri dan merasakan sesuatu yang aneh tentang tubuhnya.
2.2.5
Proses Terjadinya
Halusinasi
Halusinasi dapat berkembang dalam 4 fase (Direja, 2011),
yaitu :
1)
Fase 1 (Non-Psikotik)
Pada tahap ini halusinasi mampu
memberikan rasa nyaman pada klien, tingkat orientasi sedang, pada tahap ini
halusinasi merupakan hal yang menyenangkan bagi klien.
Karakteristik : klien mengalami perasaan mendalam seperti
ansietas, kesepian, rasa bersalah, takut dan mencoba untuk berfokus pada
pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas.
Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak
sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon
verbal lambat jika sedang asyik, diam
dan asyik sendiri.
2)
Fase II (Non-Psikotik)
Pada tahap ini klien biasanya
bersikap menyalahkan dan mengalami kecemasan tingkat berat, secara umum
halusinasi dapat menyebabkan antisipasi.
Karakteristik : Pengalaman sensori menjijikan dan
menakutkan, klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak
dirinya dengan sumber yang dipersepsikan, klien mungkin mengalami dipermalukan
oleh pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain, psikotik ringan.
Perilaku klien :
Meningkatkan tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas seperti
peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Rentang perhatian
menyempit, asyik dengan pengalaman sensorik dan kehilangan kemampuan membedakan
halusinasi.
3)
Fase III (Psikotik)
Pada fase ini klien biasanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri,
tingkat kecemasan berat dan halusinasi tidak dapat ditolak lagi.
Karakteristik :
Pengalaman klien berhenti melakukan perlawanan terhadap halusinasi dan mengarah
pada halusinasi tersebut, kesepian jika sensori halusinasinya berhenti. Klien
mengalami psikotik.
Perilaku klien : Keinginan
yang dikendalikan halusinasi akan lebih diikuti kerusakan berhubungan dengan
orang lain, rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit, adanya
tanda-tanda ansietas berat : berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi
perintah.
4)
Fase IV (Psikotik)
Pada fase ini klien sudah
sangat dikuasai oleh halusinasinya dan klien akan terlihat panik.
Karakteristik :
Pengalaman sensori beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik.
Klien mengalami psikotik berat,
Perilaku klien :
Perilaku tremor akibat panik, potensi kuat, perilaku kekerasan, agitasi,
menarik diri atau katatonik. Tidak mampu berespon terhadap berita komplit dan
lebih satu orang. Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi
klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang control dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain dan
lingkungan.
2.2.6
Rentang Respon Neurobiologis
Perilaku klien dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon neurobiologis
dari yang adaptif ke maladaptif (Stuart, 2007) sebagai berikut :
|
Respon Adaptif |
|
Respon Maladaptif |
|
-
Perilaku logis -
Persepsi akurat -
Emosi konsisten -
Perilaku sesuai - Hubungan sosial harmonis |
|
-
Proses piker kadang terganggu (ilusi) -
Emosi berlebihan/kurang -
Perilaku tidak sesuai/tidak biasanya - Menarik diri |
|
-
Gangguan proses pikir, waham - Halusinasi -
Perubahan proses emosi -
Perilaku tidak terorganisir - Isolasi sosial |
(Gambar 2.3 : Rentang Respon Halusinasi)
Rentang respon
halusinasi menurut (Stuart, 2007), yaitu :
1)
Pikiran
logis yaitu ide yang berjalan secara logis koheren
2)
Persepsi
akurat yaitu proses diterimanya rangsangan melalui panca indera yang didahului
oleh perhatian (Attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada
didalam maupun diluar dirinya.
3)
Emosi
konsisten yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai
banyak koponen fisologik, dan biasanya berlangsung tidak lama.
4)
Perilaku
sesuai yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah
masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya umum yang berlaku.
5)
Hubungan
sosial harmonis yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu
dan kelompok dalam bentuk kerja sama.
6)
Proses
pikir kadang terganggu (ilusi) yaitu misi interprestasi dari persepsi impuls
eksternal melalui alat panca indera yang memproduksi gambaran sensori pada area
tertentu ditolak kemudian diinterprestasikan sesuai dengan kejadian yang telah
dialami sebelumnya.
7)
Emosi
berlebihan atau kurang yaitu manifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan
atau kurang.
8)
Perilaku
tidak sesuai/biasanya yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam
menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya
umum berlaku.
9)
Menarik
diri yaitu percobaan untuk menghindar interaksi dengan orang lain, menghindar
hubungan dengan orang lain.
10) Waham yaitu individu menginterprestasikan sesuatu yang
tidak ada stimulus dari lingkungan.
11) Kerusakan proses emosi yaitu terjadinya kerusakan
manifestasi perasaan
12) Perilaku tidak terorganisir
13) Isolasi sosial yaitu sesuatu keadaan kesepian yang
dialami seseorang karena orang lain mengatakan sikap yang negatif dan mengacam.
2.2.7
Mekanisme Koping Halusinasi
Mekanisme koping halusinasi menurut (Stuart, 2007),
yaitu :
1)
Regresi :
Perasaan yang mendorong klien menjadi pemalas untuk melakukan kegiatan
sehari-hari.
2)
Proyeksi :
menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha mengalihkan tanggung jawab
kepada orang lain.
3)
Menarik diri :
perasaan yang sulit untuk mempercayai orang lain dan selalu sibuk dengan
stimulus internal.
2.2.8
Penatalaksanaan Halusinasi
Penatalaksanaan
Halusinasi menurut (Yosep, 2016),
yaitu :
1)
Penatalaksanaan
Medis
Pemberian
psikofarmakoterapi dengan memberikan obat-obatan anti psikotik, yaitu golongan
Butirofenon :
a)
Halloperidol
b)
Haldol
c)
Serenace
d)
Ludomer
Pada kondisi akut biasanya di berikan dalam bentuk
injeksi 3x5 mg melalui intramuskuler. Pemberian injeksi biasanya dilakukan 3x24
jam, setelah itu klien dapat diberikan obat per oral 3x1,5 mg atau 3x5 mg,
yaitu golongan Fenotazine :
a)
Chlorpromazine
b)
Largactile
c)
Promactile
Diberikan per oral, pada kondisi akut biasanya di
berikan 3x100 mg. Apabila kondisi sudah stabil dosis dapat dikurangi menjadi 1x100
mg pada malam hari saja.
2)
Penatalaksanaan
Keperawatan
a)
Membantu klien untuk
mengontrol halusinasinya
Mencoba
menanyakan kepada klien tentang isi dari halusinasinya (apa yang
didengar/dilihat/dirasakan), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya
halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul da perasaan yang di
rasakan saat muncul halusinasi.
b)
Melatih klien untuk
mengontrol halusinasinya
Untuk membantu klien
dalam mengontrol halusinasinya dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu :
1.
Menghardik
halusinasi
Menghardik
adalah salah satu upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara
menolak halusinasi yang muncul. Klien di latih untuk mengatakan tidak pada
halusinasinya dan tidak memperdulikan ketika halusinasi itu muncul.
2.
Bercakap-cakap
dengan orang lain
Mengontrol
halusinasi bisa juga dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika klien
bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi (pengalihan), fokus
perhatian klien akan beralih dari halusinasi ke percakapan dengan orang lain
tersebut.
3.
Melakukan
aktivitas terjadwal
Melibatkan klien
dalam pemberian terapi modalitas untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi
adalah dengan menyibukkan diri dengan membuat jadwal kegiatan yang teratur dari
bangun pagi hingga tidur malam untuk menyibukkan diri klien.
4.
Menggunakan obat
secara teratur
Agar klien mampu
mengontrol halusinasinya maka perlu dilatih untuk menggunakan obat sesuai
dengan program untuk mencegah kejadian putus obat sehingga menyebabkan klien
mengalami kekambuhan.
c)
Melibatkan
keluarga dalam tindakan
Di antara
penyebab kambuh yang paling sering adalah faktor keluarga dan klien itu
sendiri. Keluarga adalah support system
terdekat dan 24 jam bersama dengan klien. Keluarga yang mendukung klien secara
konsisten akan membuat klien patuh mengikuti program pengobatan. Perawat perlu
memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga bagaimana caranya merawat klien
dengan halusinasi dirumah.
2.2.9 Komplikasi
Halusinasi
Dampak dari
halusinasi jika tidak segera ditangani menurut (Stuart, 2007), yaitu :
1)
Risiko Perilaku
Kekerasan
Hal ini terjadi
saat klien dan halusinasinya cenderung marah-marah dan mencederai diri sendiri,
orang lain dan lingkungan.
2)
Isolasi Sosial
Hal ini terjadi
karena perilaku klien yang cenderung marah-marah makan akan membuat dia di
jauhi oleh orang lain dan di asingkan dari lingkungannya.
3)
Harga Diri
Rendah
Hal ini terjadi
karena klien menjauhi dan mengisolasi dari lingkungan, sehingga klien
beranggapan diri mereka tidak berguna dan tidak mampu.
4)
Defisit
Perawatan Diri
Hal ini terjadi
karena klien merasa tidak berguna dan tidak mampu lagi sehingga klien kurang
memperhatikan kebersihan dirinya.
2.3
Konsep Terapi Musik Klasik
2.3.1
Pengertian Terapi Musik Klasik
Terapi
musik merupakan bentuk terapi yang diberikan pada seseorang menggunakan musik
secara sistematis, terkontrol dan terarah untuk menyembuhkan, merehabilitasi,
mendidik dan melatih anak-anak dan dewasa yang menderita gangguan fisik, mental,
dan emosional (Musbikin, 2009).
Musik
klasik yang dipakai dalam pemberian terapi pada klien yang menderita Skizofrenia Paranoid sangat besar
pengaruhnya. Hal ini disebabkan karena musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu
musik bersifat nyaman, menenangkan, relaksasi, berstruktur dan universal.
Terapi musik klasik adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh semua
orang karena tidak membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasikan
alunan musik. Terapi musik klasik sangat mudah diterima oleh organ pendengaran
yang kemudian melalui saraf pendengaran akan disaluran kebagian otak yang
memproses emosi (sistem limbik) (Djohan, 2006).
Terapi
musik klasik yang efektif menggunakan musik dengan komposisi yang tepat antara
beat, ritme dan harmony yang disesuaikan oleh komposer. Jadi terapi musik yang
efektif memang tidak bisa menggunakan sembarang musik. Musik yang digunakan
dalam pemberian terapi ini adalah musik klasik (Haydn dan
Mozart) yang dapat digunakan untuk memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi
spasial, musik klasik Mozart memiliki efek yang tidak di miliki komposer lain. Musik
klasik Mozart memiliki kekuatan yang membebaskan, mengobati dan menyembuhkan (Musbikin,
2009).
2.3.2
Manfaat
Terapi Musik Klasik
Hasil
riset membuktikan bahwa musik mampu memberikan pengaruh tertentu terhadap
perubahan gelombang otak. Salah satu jenis musik yang dianggap mampu
mempengaruhi otak adalah musik klasik tetapi bukan berarti musik lain tidak
memiliki pengaruh sama sekali (Fauzi, 2006).
Musik
klasik dianggap mampu memberikan efek psikofisik yang menimbulkan kesan
relaksasi, santai, membuat nadi berdetak konstan, memberi ketenangan, dan
menurunkan stress. Tetapi penggunaan musik klasik ini memerlukan pertimbangan
khusus tentang waktu tampilan musik, thap usia perkembangan, latar belakang
budaya, aktivitas motorik dan estetika (Fauzi, 2006).
Musik
klasik Mozart adalah musik klasik yang muncul 250 tahun yang lalu yang
diciptakan oleh Wolgang Amadeus Mozart. Musik klasik muzart memberikan
ketenangan, memperbaiki persepsi spasial, dan memungkinkan pasien untuk
berkomunikasi baik dengan hati maupun pikiran. Musik klasik Mozart juga
memiliki irama, melodi, dan frekuensi yang tinggi sehingga dapat merangsang dan
menguatkan otak (Musbikin, 2009).
Terapi
musik klasik merupakan salah satu intervensi yang bermanfaat bagi orang yang
memiliki gangguan mental abadi (Grocke, 2008). Hasil penelitian yang
menunjukkan bahwa perawatan standar yang ditambah dengan terapi musik terdapat
penurunan yang signifikan secara statistik pada klien dengan halusinasi
pendengaran setelah mendengarkan musik (Musbikin, 2009).
2.3.3
Cara
Kerja Terapi Musik Klasik
Musik
klasik bersifat terapeutik yang artinya dapat menyembuhkan. Musik klasik
menghasilkan rangsangan ritmis yang di tangkap melalui organ pendengaran di
dalam tubuh dan kemudian diolah pada sistem saraf tubuh pada kelenjar otak yang
selanjutnya mereorganisi interpretasi bunyi kedalam ritme internal
pendengarnya. Ritme internal mempengaruhi metabolism tubuh manusia sehingga
prosesnya berlangsung dengan lebih baik sehingga tubuh mampu membentuk sistem
kekebalan yang lebih baik terhadap serangan penyakit (Prabowo & Regina,
2007).
(Gambar
2.4 : Respon otak terhadap terapi musik klasik)
Musik
klasik mempunyai satu kelebian yaitu self-mastery
yaitu kemempuan yang dimiliki untuk mengendalikan diri. Musik klasik mengandung
vibrasi energy yang mampu mengaktifkan sel-sel didalam diri seseorang sehingga
dengan aktifnya sel tersebut sistem kekebalan tubuh seseorang akan meningkat.
Selain itu, musik dapat meningkatkan serotonin dan meningkatkan hormone yang
sama baiknya dengan menurunkan kadar hormon Adrenal
Corticotropine Hormone (ACTH) yang merupakan hormone penyebab stress
(Fauzi, 2006).
(Gambar
2.5 : Otak mengendalikan seluruh organ ditubuh)
2.3.4
Tata
Cara Pemberian Terapi Musik Klasik
Terapi
musik klasik diberikan dalam durasi 10-15 menit per hari. Klien berbaring
dengan posisi yang nyaman dan tempo diberikan lebih lambat yaitu 50-70 ketukan
per menit menggunakan irama yang tenang (Djohan,
2006).
2.3.5
Strategi Pelaksanaan Terapi Musik
1)
Pengertian
Pelaksanaan
terapi musik diberikan dengan memberikan stimulus suara pada klien sehingga
terjadi perubahan perilaku (Djohan, 2006).
2)
Tujuan
a.
Klien mampu
mengenali musik yang didengar
b.
Klien mampu
menikmati musik sampai selesai
c.
Klien mampu
menceritakan perasaan setelah mendengarkan musik
3)
Indikasi
a.
Pasien
halusinasi
b.
Pasien menarik
diri
c.
Pasien harga
diri rendah
4)
Persiapan Alat
a.
Tape
recorder/Hp/Laptop
b.
Lagu khusus yang
di pakai musik klasik Mozart
|
No |
Prosedur |
Nilai |
||
|
A |
Persiapan |
2 |
1 |
0 |
|
1 |
Membuat
kontrak dengan klien yang sesuai indikasi |
|
|
|
|
2 |
Mempersiapkan
alat dan tempat |
|
|
|
|
Score = 4 |
||||
|
NA |
Nilai = Jumlah
Score |
|||
|
No |
Butir yang
dinilai |
Nilai |
||
|
B |
Orientasi |
2 |
1 |
0 |
|
1 |
Mengucapkan
salam terapeutik |
|
|
|
|
2 |
Menanyakan
perasaan klien hari ini |
|
|
|
|
3 |
Menjelaskan
tujuan kegiatan |
|
|
|
|
4 |
Menjelaskan
aturan main a. Klien harus mengikuti kegiatan dari
awal sampai akhir b. Bila ingin berhenti/ kekamar mandi
harus meminta ijin terlebih dulu c.
Lama kegiatan
yang di lakukan 10-15 menit |
|
|
|
|
Score = 8 |
||||
|
NB |
Nilai = Jumlah
Score |
|||
|
No |
Butir yang
dinilai |
Nilai |
||
|
C |
Kerja |
2 |
1 |
0 |
|
1 |
Mengajak klien
untuk memperkenalkan diri (nama, nama panggilan dan asal |
|
|
|
|
2 |
Berikan tepuk
tangan |
|
|
|
|
3 |
Menjelaskan
bahwa akan diputar satu lagu, kemudian klien mendengarkan dan menceritakan
perasaan klien setelah mendengarkan lagu |
|
|
|
|
4 |
Perawat
memutar lagu dan klien mendengarkan |
|
|
|
|
5 |
Kemudian klien
menceritakan perasaannya setelah mendengarkan lagu |
|
|
|
|
6 |
Berikan pujian |
|
|
|
|
Score = 12 |
||||
|
NC |
Nilai = Jumlah
Score |
|||
|
No |
Prosedur |
Nilai |
||
|
D |
Terminasi |
2 |
1 |
0 |
|
1 |
Menanyakan
perasaan klien setelah mendengarkan musik |
|
|
|
|
2 |
Memberikan
pujian |
|
|
|
|
3 |
Menganjurkan
mendengarka musik setiap hari |
|
|
|
|
4 |
Membuat
kontrak kembali untuk pertemuan berikutnya |
|
|
|
|
Nilai = 8 |
||||
|
ND |
Nilai = Jumlah
Score |
|||
(Tabel 2.1 : Strategi Pelaksanaan Terapi Musik
Klasik)
2.4
Konsep Asuhan Keperawatan
2.4.1
Pengkajian
Pengkajian
merupakan tahap awal dan dasar dari proses keperawatan. Tahap pengkajian
terdiri atas pengumpulan data meliputi data biologis, psikologis, sosial dan
spiritual. Data pada pengkajian dalam keperawatan jiwa dapat dikelompokkan
menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penialaian terhadap stressor,
sumber koping dan kemampuan koping yang di miliki oleh klien (Stuart, 2007).
Berbagai
aspek pengkajian sesuai dengan pengkajian umum, pada formulir pengkajian proses
keperawatan menurut (Keliat, 2006) meliputi beberapa faktor, yaitu:
1)
Identitas Klien
dan Penanggung Jawab
Hal-hal yang
perlu dikaji, yaitu nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status, pendidikan,
pekerjaan, alamat.
2)
Alasan Masuk
Rumah Sakit
Umumnya klien
yang mengalami halusinasi di bawa ke Rumah Sakit karena keluarga merasa tidak
mampu merawat, terganggu karena perilaku klien di rumah sehingga di bawa ke Rumah
Sakit untuk mendapatkan pengobatan. Alasan masuk rumah sakit menurut (Keliat,
2014) di bagi menjadi 2, yaitu :
a)
Data Primer
Data yang di
peroleh langsung dari klien melaui observasi dan wawancara.
b)
Data Sekunder
Data yang di
peroleh dari keluarga atau catatan rekam medis di rumah sakit tempat klien di
rawat.
3)
Faktor
Predisposisi
a)
Faktor Perkembangan
Faktor
perkembangan meliputi usia bayi yang tidak terpenuhi, kurangnya asupan makanan
sejak kehamilan, malnutrisi sehingga menyebabkan gangguan tumbuh kembang.
b)
Faktor
Sosiokultural
Tidak diterima
di lingkungannya, merasa di singkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada
lingkungannya.
c)
Faktor Biokimia
Stress yang
berlebihan yang di alami oleh seseorang
d)
Faktor
Psikologis
Mudah kecewa,
mudah putus asa, kecamasan yang tinggi dan cenderung menutup diri.
e)
Faktor Genetik
dan Pola Asuh
Penelitian
menunjukkan bahwa anak sehat yang di asuh oleh orang tua yang mengalami Skizofrenia Paranoid cenderung mengalami
Skizofrenia Paranoid.
4)
Faktor
Presipitasi
a)
Berlebihannya
proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan memproses informasi di hipotalamus
otak.
b)
Mekanisme
penghantar listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan abnormal).
c)
Adanya hubungan
yang bermusuhan, tekanan, isolasi sosial, perasaan tidak berguna dan putus asa.
5)
Faktor Pemicu
a)
Kesehatan
Nutrisi dan
tidur yang kurang, ketidakseimbangan irama sirkandian, kelelahan dan
obat-obatan sistem syaraf pusat.
b)
Lingkungan
Lingkungan sekitar
yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga, kehilangan dan tekanan.
c)
Sikap
Merasa tidak
mampu (harga diri rendah), putus asa (tidak percaya diri), merasa gagal
(kehilangan motivasi), dan tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual.
d)
Faktor Perilaku
Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa
curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak diri,
kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan
keadaan nyata dan tidak nyata.
6)
Untuk
memvalidasi informasi tentang halusinasi yang di perlukan meliputi :
a)
Isi halusinasi
Dapat dikaji
dengan menanyakan pada klien tentang apa yang dirasakan/didengar/dilihat/dicium.
b)
Waktu dan
frekuensi halusinasi
Dikaji dengan
menanyakan secara langsung pada klien kapan halusinasi itu muncul, berapa kali
sehari, seminggu atau sebulan.
c)
Situasi pencetus
halusinasi
Melakukan
observasi situasi seperti apa yang di alami oleh klien saat halusinasi ini akan
muncul.
d)
Respon klien
Untuk menentukan
sejauh mana halusinasi kita bisa mengkaji respon klien apakah klien masih dapat
mengontrol halisinasinya atau klien sudah tidak dapat mengontrolnya.
7)
Pemeriksaan
Fisik
Hal-hal yang
perlu dikaji saat melakukan pemeriksaan fisik adalah tanda-tanda vital (suhu,
nadi, pernafasan dan tekanan darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan
fisik yang di rasakan klien.
Pengkajian pada
status mental meliputi :
a)
Penampilan :
tidak rapi, cara berpakaian tidak serasi.
b)
Pembicaran :
tidak terorganisir atau berbelit-belit.
c)
Aktivitas
motorik : meningkat atau menurun.
d)
Alam perasan :
suasan hati dan emosi.
e)
Afek : sesuai
atau maladaptive seperti tumpul, datar dan ambivalen.
f)
Interaksi : respon
verbal dan non verbal.
g)
Persepsi :
ketidakmampuan menginterpretasikan stilmulus dengan informasi yang ada.
h)
Proses pikir :
proses informasi yang di terima tidak berfungsi dengan baik sehingga
mempengaruhi proses pikir.
i)
Isi pikir :
berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistic.
j)
Tingkat
kesadaran : orientasi waktu, tempat dan orang.
k)
Memori
1.
Memori jangka
panjang : mampu mengingat peristiwa setelah lebih dari satu tahun yang lalu.
2.
Memori janhka
pendek : mampu mengingat peristiwa satu minggu yang lalu dan pada saat dikaji.
l)
Kemampuan
konsentrasi dan berhitung : mampu menyelesaikan tugas dengan berhitung
sederhana.
m)
Kemampuan
penilaian : apakah mempunyai masalah yang ringan sampai dengan berat.
n)
Daya tilik diri
: kemampuan dalam mengambil keputusan tentang diri.
8)
Kebutuhan
Persiapan Pulang
Mengkaji pola
aktivitas sehari-hari termasuk makan dan minum, BAB dan BAK, istirahat tidur,
perawatan diri, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan serta aktivitas di dalam
dan di luar rumah.
9)
Mekanisme Koping
a)
Regresi :
Perasaan yang mendorong klien menjadi pemalas untuk melakukan kegiatan
sehari-hari.
b)
Proyeksi :
menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha mengalihkan tanggung jawab
kepada orang lain.
c)
Menarik diri :
perasaan yang sulit untuk mempercayai orang lain dan selalu sibuk dengan
stimulus internal.
10) Maslah
Psikososial dan Lingkungan
Masalah yang
berhubungan dengan ekonomi, pekerjaan, pendidikan, dan tempat tinggal.
2.4.2
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan
yang muncul pada klien dengan halusinasi menurut (Keliat, 2006), yaitu :
1)
Halusinasi
2)
Risiko Perilaku
Kekerasan
3)
Isolasi Sosial
4)
Harga Diri
Rendah
5)
Berduka
Disfungsional
6)
Defisit
Perawatan Diri
7)
Gangguan
Pemenuhan Kesehatan
2.4.3
Intervensi Keperawatan
Berdasarkan diagnosa keperawatan yang
ada, maka rencana keperawatan disusun sebagai berikut :
Diagnosa 1 : Halusinasi Pendengaran
(Keliat, 2007).
1)
Tujuan
Umum
Klien dapat mengontrol halusinasinya.
2) Tujuan Khusus
a) Klien dapat membina hubungan saling percaya
b)
Klien
dapat mengenal halusinasinya
c)
Klien
dapat mengontrol halusinasinya
d)
Klien
dapat dukungan keluarga dalam mengontol halusinasinya
e)
Klien
dapat memenfaatkan obat dengan baik
3)
Intervensi
SP I : Klien dapat mengontrol
halusinasi dengan cara menghardik.
Intervensi
:
a)
Bina
hubungan saling percaya : dengan menggunakan komunikasi terapeutik, beri salam,
perkenalkan diri, jelaskan tujuan pertemuan, tunjukkan rasa empati, buat kontak
yang jelas.
b)
Identifikasi
halusinasi : isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus, perasaan, dan
respon.
c)
Jelaskan
cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap
dan melakukan kegiatan.
d)
Latih
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.
e)
Masukkan
pada jadwal kegiatan harian.
SP II : Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara
minum obat.
Intervensi :
a) Evaluasi kegiatan menghardik. Beri pujian.
b) Latih cara mengontrol halusinasi dengan cara 6 benar
minum obat yaitu : benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, benar
frekuensi dan kontinuitas minum obat.
c) Masukkan pada jadwal kegiatan harian.
SP III : Klien
dapat mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap.
Intervensi :
a)
Evaluasi
kegiatan menghardik dan minum obat lalu beri pujian.
b)
Latih
cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap.
c)
Masukkan
dalam kegiatan harian.
SP
IV : Klien dapat mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian.
Intervensi :
a) Evaluasi kegiatan menghardik, minum obat dan
bercakap-cakap. Beri pujian.
b) Latih cara mengontrol halusinasi dengan melakukan
kegiatan harian.
c) Masukkan pada jadwal kegiatan.
SP V : Klien dapat mengontrol
halusinasi dengan baik.
Intervensi :
a) Evaluasi semua kegiatan. Dan beri pujian.
b) Latih kegiatan harian.
c) Nilai apakah kemampuan yang di miliki sudah mandiri.
d) Nilai apakah halusinasi terkontrol.
2.4.4 Implementasi
Implementasi
adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan dan berkelanjutan,
mengobservasi respons klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta
menilai data yang baru.
Contoh
Format Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (Keliat, 2014)
|
No |
Tanggal
& Jam |
Implementasi Keperawatan |
Evaluasi |
|
|
|
|
|
(Tabel
2.2 : Format Pelaksanaan Tindakan Keperawatan)
2.4.5 Evaluasi
Evaluasi adalah penilaian dengan cara
membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan
kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dapat dilakukan dengan pendekatan SOAP :
S : Respon subjektif klien terhadap tindakan
keperawatan yang telah dilaksanakan
O : Respon objektif klien terhadap tindakan
yang telah dilaksanakan
A : Analisa ulang data subjektif dan objektif untuk
menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru.
P : Perencanaan atau tidak lanjut berdasarkan
hasil analisa pada respon klien.
Rencana
tindakan lanjut dapat berupa :
1.
Rencana
teruskan, jika masalah tidak berubah
2.
Rencana
dimodifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil
belum memuaskan.
3.
Rencana
dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang, dengan masalah
yang ada serta diagnosa lama dibatalkan
4.
Rencana
selesai jika tujuan sudah tercapai
Contoh Format Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (Keliat, 2014)
|
No |
Tanggal
& Jam |
Implementasi Keperawatan |
Evaluasi |
|
|
|
|
|
(Tabel 2.3
: Format Pelaksanaan Evaluasi Keperawatan)
BAB III
METODE PENULISAN
3.1 Desain Penulisan
Desain penulisan
merupakan hasil akhir pada suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti
berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2008).
Desain
penulisan yang di pakai dalam karya tulis ini adalah studi kasus untuk mengeksplorasi
masalah Asuhan Keperawatan Jiwa pada
klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran
di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.
3.2 Batasan
Istilah
Batasan
istilah adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu
yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati (diukur) itulah
yang merupakan kunci dari batasan istilah. Jadi batasan istilah dirumuskan
untuk kepentingan akurasi, komunikasi, dan replikasi (Nursalam,2008).
Batasan istilah dalam studi kasus ini adalah Asuhan Keperawatan Jiwa pada
klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran
di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.
3.3 Partisipan
Partisipan dalam penelitian adalah subjek
(misalnya manusia : klien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008). Para peneliti dapat memilih beberapa opsi, bergantung pada apakah
person tersebut adalah orang yang marginal, hebat atau biasa (Plummer, 1983
dalan Cresswel, 2014).
Partisipan dalam penyusunan studi kasus ini adalah 1 klien dengan diagnosis medis Skizofrenia Paranoid.
3.4 Lokasi dan
Waktu
Studi kasus (di rumah sakit) lama waktu
sejak klien pertama kali masuk rumah sakit sampai pulang dan atau klien yang
dirawat minimal 3 hari. Jika sebelum 3 hari klien sudah pulang, maka perlu
penggantian klien lainnya yang sejenis, dan bila perlu dapat dianjurkan dalam
bentuk home care.
Pada studikasusini di lakukan Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H.
Koesnadi Bondowoso selama 3 hari.
3.5 Pengumpulan
Data
Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2008). Reaksi yang khas ketika memikirkan pengumpulan data kualitatif
adalah dengan berfokus pada jenis data aktual dan prosedur
pengumpulannya. Akan tetapi, pengumpulan data mencakup pencarian izin,
pelaksanaan sampling kualitatif yang baik, mengembangkan cara-cara untuk
merekam informasi, baik secara digital maupun pada kertas, menyimpan data,
mengantisipasi persoalan etika yang muncul. Peneliti sering kali memilih untuk
melakukan wawancara dan pengamatan.
Pengamatan :
1) Mengumpulkan catatan
lapangan dengan melakukan pengamatan sebagai seorang partisipan.
2) Mengumpulkan catatan
lapangan dengan melakukan pengamatan sebagai seorang pengamatan.
3) Mengumpulkan catatan
lapangan dengan menghabiskan lebih banyak waktu sebagai partisipan daripada
sebagai pengamatan.
4) Mengumpulkan catatan
lapangan dengan menghabiskan lebih banyak waktu sebagai pengamatan daripada
partisipan.
5) Mengumpulkan catatan
lapangan pertama dengan mengamati sebagai “outsider” dan kemudian dengan masuk
ke dalam lingkungan dan mengamati sebagai seorang “insider”.
Wawancara :
1) Melaksanakan tak
terstruktur, wawancara terbuka dan membuat catatan-catatan wawancara
2) Melaksanakan tak
terstruktur, wawancara terbuka, merekam wawancara tersebut, dan menulis
wawancara tersebut.
3) Melaksanakan
wawancara semi terstruktur, merekam wawancara tersebut, dan menulis wawancara
tersebut.
4) Melaksanakan
wawancara kelompok fokus, merekam
wawancara tersebut, dan menulis wawancara tersebut.
5) Melaksanakan beragam
jenis wawancara: e-mail, tatap muka, kelompok focus, kelompok focus online,
telepon.
Dokumen :
1) menulis catatan
lapangan selama studi riset.
2) Meminta seorang
partisipan untuk memelihara jurnal atau diary selama studi riset tersebut.
3) Mengumpulkan surat
pribadi daripada partisipan.
4) Menganalisis dokumen
public (misalnya, memo, notulen, rekaman, dan arsip resmi).
5) Mempelajari
autobiografi dan biografi.
6) Meminta partisipan
untuk membuat foto atau video.
7) Melaksanakan audit
tabel.
8) Meninjau rekam
medis.
Bahan Audiovisual
1) mempelajari bukti
jejak fisik (misalnya, tapak kaki di salju).
2) Merekam dalam video
atau memfilmkan situasi social, individual atau kelompok.
3) Mempelajari halaman
utama website.
4) Mengumpulkan suara
(misalnya, music, tawa anak-anak, klakson mobil).
5) Mengumpulkan email
atau pesan diskusi (misalnya, facebook).
6) Mengumpulkan pesan
teks telepon (misalnya, twitter).
7) Mempelajari benda
atau objek ritual favorit.
3.6 Uji Keabsahan
Data
Uji keabsahan data
dimaksudkan untuk menguji kualitas data dan informasi sehingga menghasilkan
data dengan validitas tinggi. Uji keabsahan data dilakukan dengan cara :
1)
Memperpanjang waktu pengamatan atau tindakan
2)
Sumber informasi tambahan menggunakan triangulasi
data yaitu (klien, keluarga,dan perawat) yang berkaitan dengan masalah yang
akan diteliti.
3.7 Analisis
Data
Analisis data
merupakan suatu proses atau analisa yang dilakukan secara sistematik terhadap data yang telah dikumpulkan dengantujuan supaya bisa dideteksi
(Nursalam, 2008).
Analisa data dalam penelitian dimulai dengan menyiapkan dan
mengorganisasikan data (yaitu, data teks seprti transkrip atau data gambar
seperti foto untuk análisis, kemudian mereduksi data tersebut menjadi tema
melalui proses pengodean dan peringkasan kode dan terakhir menyajikan data
dalam bentuk bagan, tabel atau pembahasan (Cresswell, 2014).
Urutan dalam
análisis data yaitu :
1)
Pengumpulan data
Semua data dikumpulkan dari
hasil (wanwancara, observasi dan dokumen). Kemudian hasilnya ditulis dalam
bentuk catatan lapangan, kemudian di salin dalam bentuk transkrip (catatan
terstruktur).
2)
Mereduksi data
Data dari hasil (wanwancara, observasi dan dokumen) yang
telah disalin dalam bentuk transkrip kemudian dikelompokkan menjadi data
subyektif dan data obyektif, di análisis berdasarkan hasil pemeriksaan
diganostik kemudian dibandingkan dengan normal.
3)
Penyajian data
Penyajian data dapat disajikan
dalam bentuk tabel, gambar, bagan dan teks naratif. Kerahasiaan klien dijaga
dengan mengaburkan identitasnya.
4)
Kesimpulan
Dari data yang disajikan,
kemudian data di bahas dan di bandingkan dengan hasil-hasil penulisan terdahulu
dan secara teoritis dengan perilaku kesehatan. Penarikan kesimpulan dilakukan
dengan cara induksi. Data yang dikumpulakn terkait data pengkajian, diagnosis,
perencanaan, tindakan dan evaluasi.
3.8 Etika Penelitian
Ditemukan etika yang mendasar penyusunan studi kasus terdiri dari :
1) Informed Consent
(Persetujuan menjadi klien)
Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian
yang akan dilaksanakan,
mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden.
Pada Informed
consent juga perlu dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan dipergunakan untuk pengembangan ilmu (Nursalam, 2008).
Informed consent diberikan kepada responden yang diteliti. Peneliti
memberi penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian pada responden, jika
responden bersedia maka harus menandatangani lembar persetujuan dan apabila
responden menolak, peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya(Nursalam,
2008).
2) Anonymity
(Tanpa nama)
Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa
data yang didapat untuk disembunyikan yaitu bias dengan tanpa nama/initial (Nursalam,2008).
3) Confidentiality
(Kerahasiaan)
Subjek berhak untuk meminta bahwa data yang di berikan untuk dirahasiakan (Nursalam, 2008).
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Gambaran Lokasi Pengambilan Data
Lokasi pengambilan data studi kasus Asuhan
Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia
Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran yang dilakukan oleh peneliti di RSU
dr. H. Koesnadi Bondowoso. Alamat Rumah Sakit di Jalan Piere Tendean Nomor 01
Bondowoso. Tempat penelitian di Paviliun Seroja merupakan ruangan yang dikhususkan
untuk klien dengan gangguan jiwa dan didirikan pada tahun bulan Agustus tahun
2015. Terdapat 1 ruangan yang berisi 20 tempat tidur yang dikhususkan untuk
klien yang sudah berada dalam fase maintenance dan terdapat 2 kamar isolasi
yang dikhususkan untuk klien yang masih berada dalam fase akut.
Pada
saat penelitian terdapat 12 orang dengan gangguan jiwa yang dirawat inap di
Paviliun Seroja dengan diagnosa medis paling banyak Skizofrenia diantaranya Skizofrenia
Paranoid, Skizofrenia Hebefrenik, dan
Skizofrenia Simplek. Masalah keperawatan yang muncul seperti Halusinasi
Pendengaran, Waham Kebesaran, Harga Diri Rendah, dan Risiko Perilaku Kekerasan.
Struktur organisasi Paviliun Seroja terdiri dari 11 orang tenaga perawat yang
terdiri dari 1 kepala ruang yaitu Frits Yogyantomo, S.Kep Ns, kepala tim 1
yaitu Subiyanto, S.Kep Ns degan 4 orang perawat pelaksana yaitu Ervan Agung,
S.Kep Ns, Siswanto, Amd.Kep, Yuniah Purwanti, S.Kep Ns, dan Khuratul A’yun,
Amd.Kep, kepala tim 2 yaitu Yeni Irawati, S. Kep Ns dengan 4 orang perawat
pelaksana yaitu Kukuh Febri, S.Kep Ns, Moch. Syamsi, Amd.Kep, Ika Kurnia Dewi,
Amd.Kep dan Dewi Widyawati, Amd.Kep, serta 1 orang administrasi. Klien yang
peneliti ambil merupakan klien yang berada difase maintenance dan menempati
ruangan rawat inap. Penelitian dalam studi kasus ini merupakan Asuhan Keperawatan
Jiwa pada Ny. S yang mengalami Skizofrenia
Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H.
Koesnadi Bondowoso tahun 2017.
4.1.2
Pengkajian Keperawatan
Hasil pengkajian pada
Ny. S tanggal 21 Agustus 2017 pukul 07.00 WIB, pada studi kasus ini diperoleh
dengan cara alloanamnesa yaitu
mengadakan pengamatan atau observasi secara langsung dan menelaah catatan
medis. Pengkajian ini meliputi nama Ny. S jenis kelamin perempuan berusia 27 tahun
(22-03-1990) bertempat tinggal di desa Pejaten Rt 11 Rw 02 Bondowoso.
Pendidikan terakhir Ny. S adalah Sekolah Dasar (SD) dan sampai saat ini Ny. S
tidak pernah bekerja. Ny. S beragama islam dengan status pernikahan janda. Ny.
S saat ini dirawat di Paviliun Seroja dengan No. RM 0-71-45-64. Peneliti
mendapatkan data dan sumber informasi langsung dari klien dan keluarga.
Ny. S mengatakan sering
mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar
bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh klien untuk kabur dari rumah. Keluarga klien mengatakan sudah 4 hari
klien mencoba memaku kepalanya karena tidak bisa tidur. Keluarga juga
mengatakan bahwa sejak 11 bulan klien juga putus obat.
Ny. S berasal dari desa
Pejaten Rt 11 Rw 02 Bondowoso, menurut pengakuan dari keluarga klien sering
sekali kabur dari rumah. Klien berhasil melarikan diri dan kabur selama
berhari-hari untuk mencari suami dan laki-laki yang ada disekitar rumah klien.
Saat ditemukan Ny. S langsung dibawa pulang oleh keluarganya. Pada saat dirumah
klien sering bolak balik kamar mandi untuk mandi. Ny. S juga mengaku tidak bisa
tidur kurang lebih 3 hari, dan klien mendengar bisikan yang memintanya memaku
kepalanya agar dia bisa tidur. Suara bisikan tersebut juga menyuruh klien kabur
dari rumahnya.
Keluarga Ny. S
mengatakan bahwa Ny. S pernah mengalami gangguan jiwa 10 tahun yang lalu. Ny. S
pernah menjalani pengobatan sebelumnya tetapi sudah 11 bulan klien mengalami
putus obat. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Ketidakefektifan
Regimen Terapeutik. Keluarga Ny. S mengatakan bahwa klien
tidak pernah mengalami penyakit fisik dan gangguan tumbuh kembang.
Ny. S dan kluarga mengatakan
bahwa Ny. S pernah mengalami aniaya seksual yaitu pelecehan pada umur 17 tahun yang pelakunya sampai saat ini tidak diketahui dan pada saat kejadian terdapat saksi yaitu salah satu warga desa Pejaten. Saksi tersebut mengatakan bahwa dia
melihat Ny. S bersama dengan beberapa laki-laki yang identitasnya tidak dia
kenal. Masalah biologis yang dialami
oleh klien adalah pelecehan seksual yang dialami oleh klien saat kabur dari
rumahnya. Masalah psikologis yang dialami oleh klien adalah trauma seksual
sehingga menyebabkan gangguan pada persepsi dan sensorinya dan klien mengalami
halusinasi pendengaran. Masalah sosial yang dialami oleh klien adalah dijauhi
oleh tetangga dan orang terdekatnya. Masalah kultural yang dialami klien adalah
klien tidak mau lagi mengikuti semua kegiatan yang ada di desa Pejaten. Masalah
spiritual yang dialami klien adalah klien tidak dapat menjalankan ibadahnya
selama mengalami gangguan jiwa. Masalah
Keperawatan yang dialami Ny. S yaitu Sindrom Pasca Trauma.
Keluarga Ny. S tidak
ada yang mengalami gangguan jiwa sebelumnya. Tidak terdapat gejala bahwa
anggota keluarga Ny. S mengalami gangguan jiwa. Keluarga Ny. S tidak menjalani
pengobatan gangguan jiwa.
Pada saat dilakukan
pengkajian Ny. S berada pada kondisi sadar (composmentis) dengan GCS (4-5-6). Pada
saat dilakukan pemeriksaan tanda vital didapatkan hasil seperti tekanan darah
110/70 mmHg, nadi 80x/menit, suhu 36,7o C, pernafasan 20x/menit. Pada
saat dilakukan pengukuran didapatkan hasil seperti berat badan 34 Kg dan tinggi
badan 138 Cm. Ny. S mengeluh
nyeri di kepalanya karena dipaku.
Pada saat dilakukan
pemeriksaan fisik kepala saat di inspeksi bentuk kepala normal, tidak ada
benjolan, rambut pendek, kusam, tidak ada kutu, terdapat ketombe, terdapat luka
tusukan paku 2 buah. Saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan, nyeri didaerah yang tertusuk paku.
Mata saat di inspeksi bentuk
mata simetris, sklera putih, konjungtiva anemis, pupil berespon terhadap
cahaya, pupil isokor kanan dan kiri, tidak ada lesi. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.
Hidung saat di inspeksi bentuk hidung normal, tidak ada lesi,
tidak ada deformitas tulang, tidak terdapat cairan yang keluar dari hidung.
Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri
tekan.
Mulut saat di inspeksi
bentuk mulut normal, tidak ada lesi, tidak ada perdarahan di gusi, terdapat
karies gigi, gigi kuning, lidah kotor. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.
Telinga saat di
inspeksi bentuk telinga normal,
simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi, tidak ada cairan yang keluar dari
telinga, terdapat banyak serumen di lubang telinga kanan dan kiri, tidak ada
lesi. Pada saat dipalpasi tidak ada
nyeri tekan.
Leher saat di inspeksi bentuk leher normal, tidak ada
pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada lesi. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.
Thorax terdapat 2
bagian yang diperiksa yaitu paru saat di inspeksi bentuk dada normal chest, expansi dada simetris kanan dan kiri,
tidak ada lesi, tidak ada retraksi dada. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan, Vocal Fremitus
teraba sama kanan dan kiri. Pada saat diperkusi suara paru sonor. Pada saat di
auskultasi tidak ada suara nafas tambahan, suara nafas vesikuler. Jantung saat
di inspeksi ictus cordis tidak
terlihat di ICS 5. Pada saat dipalpasi tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan,
tidak terdapat kardiomegali. Pada saat diperkusi suara jantung pekak. Pada saat di auskultasi
bunyi jantung S1 S2 tunggal.
Abdomen saat di
inspeksi bentuk abdomen supel, tidak
ada lesi, tidak ada spider navy. Pada saat di auskultasi bising usus 5x/menit. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan, tidak ada masa (hepatomegali dan
splenomegaly), tidak ada acites. Pada saat diperkusi suara abdomen tympani.
Ekstermitas saat di
inspeksi ekstremitas atas dan bawah
lengkap, tidak ada cacat, tidak ada lesi. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.
Genetalia dan anus saat
di inspeksi bentuk normal, tidak ada
lesi, tidak ada cairan yang keluar, tidak ada hemoroid. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.
Ny. S merupakan anak
terakhir dari 4 bersaudara. Ayah dan ibu Ny. S masih hidup. Ny. S tinggal 1
rumah dengan kedua orang tuanya. Sedangakan 3 saudaranya sudah menikah dan
tinggal dengan keluarganya masing-masing. Pengambilan keputusan dilakukan oleh
orang tua Ny. S, dan pola komunikasi Ny. S tertutup pada orang lain dan
keluarganya.
Ny. S mengatakan
menyukai semua bagian tubuhnya. Ny.
S mengatakan bahwa namanya adalah Ny. S umur 12 tahun, klien empat bersaudara
dan klien anak bungsu, jenis kelamin perempuan,
pendidikan terakhir SD, sudah pernah menikah tetapi bercerai dan
sekarang sudah tidak punya suami. Klien beragama islam. Ny. S mengatakan tidak
punya pekerjaan dan klien tidak punya peran apapun dirumahnya. Ny. S mengatakan
ingin cepat sembuh dan menikah lagi dan ingin segera pulang kerumah. Ny.S
mengatakan malu karena suaminya sudah meninggalkannya. Masalah keperawatan
yang dialami oleh Ny. S yaitu Harga Diri Rendah.
Ny. S mempunyai
keluarga yang terdekat/berarti. Semua keluarganya memberi dukungan pada klien.
Ny. S mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan apapun di masyarakat. Ny. S
mengatakan takut dan selalu curiga jika ada banyak orang disekitarnya. Masalah
Keperawatan yang dialami Ny. S yaitu Gangguan
Proses Pikir (Waham Curiga).
Ny. S mengatakan
beragama Islam. Keluarga Ny. S mengatakan bahwa Ny. S hampir tidak permah
sholat dan selalu menolak ketika diminta sholat dan saat di Rumah Sakit Ny. S
tidak pernah sholat. Masalah Keperawatan
yang di alami yaitu Hambatan Religiositas.
Ny. S berpakaian tidak rapi. Ny. S dalam
berpakaian dirumah
selalu memakai jilbab dan pakaian tertutup. Saat di Rumah Sakit klien tidak mau
diminta untuk mengganti pakaiannya. Kakinya
bau tidak bersih, kuku kaki dan tangan kotor. Masalah Keperawatan yang dialami Ny. S yaitu Defisit
Perawatan Diri (Mandi dan Berhias).
Interaksi saat
wawancara Ny. S kurang kooperatif, pembicaraan inkoheren, ngelantur, selalu
menanyakan pertanyaan yang sama. Kontak mata kurang, nada suara kurang jelas.
Pembicaraan kurang jelas dan tidak bisa dimengerti. Nada suara tidak jelas dan terkadang
tidak mau menjawab pertanyaan dari perawat. Malasah Keperawatan yang dialami
Ny. S yaitu Hambatan Komunikasi Verbal.
Aktivitas motorik Ny. S
kompulsif. Ny. S dalam beraktivitas
tidak ada hambatan ataupun gangguan, ekstremitas atas dan bawah normal bisa
digerakkan. Ny. S mampu melakukan aktivitas seperti menyapu, mengepel.
Kesadaran kuantitatif
Ny. S composmentis, GCS 456 yaitu 4 membuka mata dengan spontan, 5 pembicaraan jelas, dan 6 dapat mengikuti perintah.
Kesadaran kualitatif yaitu adanya limitasi (pembatasan), Ny. S selalu membatasi
diri untuk bergaul dan berbicara dengan temannya. Ny. S selalu merasa takut dan
curiga. Masalah Keperewatan yang
dialami Ny. S yaitu Gangguan Proses Pikir (Waham Curiga).
Orientasi Ny. S pada
orientasi waktu Ny. S mampu menyebutkan hari ini Senin. Tetapi klien melupakan
tanggal, bulan dan tahun. Orientasi tempat Ny. S mampu mengenali dimana tempat
dia berada sekarang RS Umum Bondowoso. Orientasi orang Ny. S mampu menyebutkan
beberapa orang yang dia kenal, teramsuk perawatnya. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Disorientasi
(Waktu dan Orang)
Perasaan Ny. S mengenai
tingkat emosi mengatakan perasaannya
biasa saja dan kadang suka tertawa sendiri. Afek adequat
yaitu perasaan klien sesuai dengan keadaan seperti sedih (klien menangis),
senang (klien tertawa). Persepsi sensori Ny. S mengatakan sering mendengar
bisikan yang menyuruhnya memaku kepalanya agar bisa tidur. Masalah Keperawatan
yang dialami oleh Ny. S yaitu Halusinasi
Pendengaran.
Proses pikir yang di
alami oleh Ny. S yaitu arus pikir sirkumstansial pembicaraan Ny. S yang berbelit-belit
tetapi sampai pada tujuan pembicaraan. Isi pikir yaitu obsesi pikiran yang
selalu muncul yang walaupun klien berusaha untuk menghilangkannya. Bentuk
pikir dereistik yaitu klien mengatakan mendengar bisikan yang menyuruhnya
memaku kepalanya agar bisa tidur. Non realistik yaitu klien mengatakan dirinya saat ini masih berumur 12 tahun
padahal kenyataannya klien berumur 27 tahun. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Gangguan
Proses Pikir (Waham Curiga).
Memori Ny. S pada daya ingat jangka
panjang Ny. S masih ingat kejadian masa lalu, kalau dirinya pernah menikah.
Daya ingat jangka pendek Ny. S masih mengingat kejadian minggu lalu seperti ibu
klien datang menjenguknya. Daya ingat saat ini Ny. S mengatakan masih ingat
kalau tadi pagi sudah makan dan mandi.
Tingkat konsentrasi dan
berhitung Ny. S mampu berhitung 1 sampai 10 secara sederhana.
Kemampuan
penilaian mengalami gangguan ringan. Tingkat kemampuan Ny. S masih baik, artinya klien masih
mampu menerapkan cuci tangan sebelum makan dan mandi pakai sabun. Daya
tilik diri Ny. S menyadari bahwa dirinya sekarang di rawat di RS karena mengalami sakit
bukan gangguan jiwa. Masalah
Keperawatan yang dialami oleh Ny. S
yaitu Gangguan Proses Pikir.
Kebutuhan dasar Ny. S
memerlukan bantuan minimal Ny. S bisa menyiapkan makan secara mandiri dan makan
tanpa bantuan orang lain, tetapi untuk mempersiapkan alat makan dan lauknya
dibantu oleh perawat. Frekuensi makan 3 x sehari yaitu pagi pukul 05.00, siang pukul 12.00, dan
malam pukul 18.00. Ny. S sering tidak menghabiskan porsi makan yang diberikan.
Ny. S mampu makan sendiri tanpa bantuan orang lain. Ny. S mampu mencuci piring
sendiri. BAB/BAK memerlukan bantuan minimal Ny. S mampu
melakukan BAB/BAK secara mandiri tanpa bantuan orang lain, tetapi untuk tempat
kamar mandi dan peralatan mandi disiapkan oleh oleh perawat. Ny. S BAB/BAK sendiri
dikamar mandi /WC. Ny. S BAB 3 x dalam seminggu dan BAK 3 x sehari.
Mandi Ny. S memerlukan bantuan minimal Ny. S mampu melakukan mandi secara
mandiri tanpa bantuan orang lain, tetapi untuk peralatan mandi disiapkan oleh
perawat. Frekuensi mandi 2 x
sehari (pagi dan sore) memakai sabun. Berpakaian/berhias
memerlukan bantuan minimal Ny. S mampu melakukan/memasang pakaian secara
mandiri tanpa bantuan orang lain, tetapi dalam menyiapkan pakaiannya dibantu
oleh perawat. Sampai saat ini Ny. S tidak mau mengganti baju menggunakan baju
pasien, klien masih menggunakan baju yang dia bawa dari rumah. Saat perawat
mencoba mengganti pakaiannya klien menolak dan menghindar. Istirahat dan tidur
Ny. S tidur siang, lama 12.00 s/d 14.00 WIB, tidur malam, lama : 20.00 s/d 05.00 WIB. Aktivitas
sebelum/sesudah tidur membaca doa, merapikan tempat tidur.
Ny. S minum obat 3x
sehari. Saat ini klien sedang menjalani pengobatan di RS agar klien tidak putus
obat kembali. Aktivitas Ny. S dalam ruangan yaitu membereskan tempat tidur dan
melipat pakaian. Aktivitas di luar ruangan mencuci piring, mengikuti senam, dan
mencuci baju.
Mekanisme koping Ny. S
adaptif saat berbicara dengan orang lain. Mekanisme koping maladaptif yang
dilakukan seperti bicara sendiri, lebih sering diam dan menyendiri, tidak mau
bersosialisasi dengan orang lain. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Koping Individu Inefektif.
Masalah psikososial dan
lingkungan yaitu Ny. S tidak mempunyai masalah dengan dukungan kelompok, karena
seluruh anggota keluarganya menginginkan klien untuk sembuh. Ny. S mampu
beradaptasi dengan lingkungan meski membutuhkan waktu yang cukup lama. Ny. S
menjalani pendidikan hanya sampai dikelas IV Sekolah Dasar. Ny. S tidak pernah
bekerja sebelumnya. Ny. S tinggal di desa Pejaten yang dimana warga desanya
selalu mengolok-oloknya jika dia keluar rumah. Ny. S berasal dari keluarga
tidak mampu. Ny. S selalu menolak jika keluarganya mengajaknya berobat ke
pelayanan kesehatan. Masalah Keperawatan
yang dialami oleh Ny. S yaitu Koping Individu Inefektif.
Ny. S merasa dirinya
tidak sakit. Klien selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi klien
hanya merasa panas dalan perutnya. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Defisiensi Pengetahuan.
Diagnosa medis Ny. S Skizofrenia Paranoid. Terapi medis Ny. S
yaitu Trihexypenidile (THP) 2x1mg, Risperidone
2x2mg, Ciprofloxacine 2x500mg Cefotaxime 3x1gr, Asam Mefenamat 3x500mg, Vitamin B1 2x1tab, Vitamin BC 2x1tab.
Berdasarkan data hasil
pengkajian dapat disimpulkan dalam analisa data sebagai berikut :
Pada pengkajian
didapatkan data subjektif seperti Ny. S mengatakan sering mendengar ada bisikan
yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur. Bisikan itu
juga menyuruh Ny. S untuk kabur dari rumah. Keluarga klien mengatakan sudah 4 hari klien mencoba
memaku kepalanya karena tidak bisa tidur kurang lebih sudah 3 hari. Keluarga
juga mengatakan bahwa sejak 11 bulan klien juga putus obat. Sedangkan pada data
objektif didapatkan data seperti Ny. S terkadang berbicara sendiri sambil
memegang kepalanya, Ny.S tampak kebingungan, kontak mata kurang, komunikasi Ny.
S kurang, pembicaraan sulit dimengerti, terdapat 2 bekas luka tusukan paku
dikepala Ny. S, selalu mengatakan ingin pulang, Ny. S tampak menutup diri
dengan orang-orang yang baru, dan Ny. S selalu merasa curiga.
Dari hasil analisa data
diatas dapat disimpulkan masalah keperawatan yang di alami oleh Ny. S adalah
Halusinasi Pendengaran.
![]() |
|||||
|
|||||
|
|||||
![]()
![]()
|
|
|
![]() |
Proses terjadinya halusinasi di pengaruhi oleh multifaktor di antaranya
trauma atau kehilangan seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya yang
menyebabkan berduka disfungsional. Sehingga klien mengalami rasa tidak mampu
dan tidak berdaya lagi dalam menjalani hidupnya. Saat Ny. S merasa tidak
mempunyai siapa-siapa di lingkungannya, Ny. S akan menarik diri dari lingkungan
dan mengalami harga diri rendah, Ny. S akan sering menyendiri dan tidak mau
bersosialisasi dengan orang lain sehingga menyebabkan isolasi sosial.
Halusinasi pendengaran akan sering muncul untuk menemani kesendirian yang di
alami oleh orang tersebut. Ny. S akan merasa tidak mampu merawat dirinya
sendiri sehingga terjadi defisit perawatn diri mandi dan berhias. Ny. S tidak
akan memperdulikan kesehatan fisiknya sehingga terjadi gangguan pemenuhan
kesehatan.
Ny. S menyerah dan menerima situasi tersebut, halusinasi akan sering muncul
tanpa stimulus yang nyata. Klien akan menunjukkan gejala seperti berbicara
sendiri, tersenyum sendiri dan menunjukkan respon verbal yang lambat. Halusinasi
mulai mengontrol Ny. S sehingga Ny. S mengalami kecemasan yang sangat berat di
tandai dengan tremor dan berkeringat. Saat itu klien akan merasa orang lain
yang berada di sekitarnya mulai terasa berbahaya dan mengancam, sehingga klien
menunjukkan sikap bermusuhan seperti marah-marah, mencederai diri sendiri,
orang lain dan lingkungannya.
4.1.3
Diagnosa
Keperawatan
Berdasarkan data hasil
pengkajian Ny. S didapatkan data subjektif seperti Ny. S mengatakan sering
mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar
bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh Ny. S untuk kabur dari rumah. Keluarga klien mengatakan sudah 4 hari
klien mencoba memaku kepalanya karena tidak bisa tidur kurang lebih sudah 3
hari. Keluarga juga mengatakan bahwa sejak 11 bulan klien juga putus obat.
Sedangkan pada data objektif didapatkan data seperti Ny. S terkadang
berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, Ny.S tampak kebingungan, kontak
mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, pembicaraan sulit dimengerti, terdapat 2
bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan
orang-orang yang baru, dan Ny. S selalu merasa curiga.
Dari hasil analisa data
di atas dapat disimpulkan masalah keperawatan yang di alami oleh Ny. S adalah
Halusinasi Pendengaran.
4.1.4
Intervensi Keperawatan
Berdasarkan diagnosa keperawatan Halusinasi Pendengaran tujuan umum yaitu klien
dapat mengontrol halusinasinya secara mandiri. Tujuan khusus klien dapat mengontrol
halusinasi dengan cara menghardik, klien dapat mengontrol halusinasi dengan
cara minum obat dengan benar, klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara
bercakap-cakap, klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara melakukan
kegiatan harian.
Intervensi mengacu pada SP I yaitu klien dapat mengontrol halusinasi dengan
cara menghardik. Dengan cara bina hubungan saling percaya dengan menggunakan
komunikasi terapeutik, beri salam, perkenalkan diri, jelaskan tujuan pertemuan,
tunjukkan rasa empati, buat kontak yang jelas. Identifikasi halusinasi seperti isi,
frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus, perasaan, dan respon. Jelaskan cara
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan
melakukan kegiatan. Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Masukkan
pada jadwal kegiatan harian.
SP II klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara minum obat. Dengan cara
evaluasi kegiatan menghardik dan beri pujian. Latih cara mengontrol halusinasi
dengan cara yang benar minum obat yaitu benar obat, benar dosis, benar waktu,
benar rute, benar frekuensi dan kontinuitas minum obat. Masukkan pada jadwal
kegiatan harian.
SP III klien dapat mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap. Dengan cara
evaluasi kegiatan menghardik dan minum obat lalu beri pujian. Latih cara
mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap. Masukkan dalam kegiatan harian.
SP IV klien dapat mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian.
Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik, minum obat dan bercakap-cakap dan beri
pujian. Latih cara mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian. Masukkan
pada jadwal kegiatan.
SP V klien dapat mengontrol halusinasi dengan baik. Dengan cara evaluasi
semua kegiatan dan beri pujian. Latih kegiatan harian. Nilai apakah kemampuan
yang di miliki sudah mandiri. Nilai apakah halusinasi terkontrol.
Dalam pemberian intervensi keperawatan jiwa selain menggunakan Strategi
Pelaksanaan (SP). Penulis juga menambahkan 1 intervensi tambahan yaitu terapi
musik klasik Haydn dan Mozart. Terapi musik ini diberikan menggunakan Handphone yang terdapat audio beserta
vidio sehingga klien mampu mendengar serta melihat dalam pemberian terapi musik
klasik ini. Terapi musik ini diterapkan pada setiap kali penulis melakukan
Strategi Pelaksanaan (SP).
4.1.5
Implementasi Keperawatan
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Senin, 21-08-17 Pukul 08.00
WIB yaitu pada pukul 08.00
WIB membina hubungan saling percaya dengan menggunakan komunikasi terapeutik, seperti
memberi salam, memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan pertemuan, menunjukkan
rasa empati, membuat kontak yang jelas dengan respon langsung Ny. S tidak
menjawab salam, Ny. S hanya menyebutkan namanya dan tidak ingin bicara lagi,
Ny. S berbicara sendiri dan memegang kepalanya.
Pukul 08.30 WIB mengidentifikasi halusinasi yaitu isi, frekuensi, waktu
terjadi, situasi pencetus, perasaan, dan respon dengan respon langsung Ny. S
tidak mau menceritakan tentang halusinasinya dan kontak mata Ny. S kurang.
Pukul 08.45 WIB menjelaskan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik,
minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan dengan respon langsung Ny. S
tidak kooperatif dan acuh tak acuh terhadap perawat. Pukul 09.00 WIB melatih
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik dengan respon langsung Ny. S tidak
kooperatif. Pukul 09.10 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 09.15
WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny.
S mengatakan tidak menyukai musik dan tidak mau mendengarkan.
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Senin, 21-08-17 Pukul 14.00
WIB yaitu pada pukul 14.00
WIB membina hubungan saling percaya dengan menggunakan komunikasi terapeutik, seperti
memberi salam, memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan pertemuan, menunjukkan
rasa empati, membuat kontak yang jelas dengan respon langsung Ny. S mulai
menjawab salam dengan ragu, Ny. S menyebutkan nama dan umurnya, Ny. S
mengatakan ingin pulang. Pukul 14.30 WIB
mengidentifikasi halusinasi yaitu isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi
pencetus, perasaan, dan respon dengan respon langsung Ny. S tidak mulai menceritakan
tentang halusinasinya, seperti halusinasinya sering muncul pada malam hari,
suara yang didengar adalah suara laki-laki, suara itu meminta Ny. S untuk
memaku kepalanya dan kabur dari rumah, kontak mata Ny. S kurang. Pukul 14.45 WIB menjelaskan cara
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan
melakukan kegiatan dengan respon langsung Ny. S sedikit kooperatif terhadap
perawat. Pukul 15.00 WIB melatih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik
dengan respon langsung Ny. S dapat mengikuti perintah seperti Ny. S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya). Pukul 14.30 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian.
Pukul 14.35 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon
langsung Ny. S mau mendengarkan musik tapi tidak sampai selesai.
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Selasa, 22-08-17 Pukul 07.00
WIB yaitu pada pukul 07.00
WIB melakukan senam rutin dengan Ny. S dengan respon Ny. S mengikuti senam
tetapi tidak mau mengikuti gerakan senam. Pukul 08.00 WIB mengevaluasi kegiatan
menghardik dan beri pujian dengan respon langsung Ny. S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya). Pukul 08.30 WIB
melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara yang benar minum obat yaitu
benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, benar frekuensi dan
kontinuitas minum obat dengan respon langsung Ny. S tidak mampu mengingat cara yang
benar minum obat. Pukul 09.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul
09.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon
langsung Ny. S mau mendengarkan musik tetapi tidak sampai selesai.
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Selasa, 22-08-17 Pukul 14.00
WIB yaitu pada pukul 14.00
WIB mengevaluasi kegiatan menghardik dan beri pujian dengan respon langsung Ny.
S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya). Pukul 14.30 WIB
melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara yang benar minum obat yaitu
benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, benar frekuensi dan
kontinuitas minum obat dengan respon langsung Ny. S mampu mengingat dengan
cukup baik cara yang benar minum obat, Ny. S menyebutkan obat THP dan RPD yang
dia minum 2 kali sehari. Pukul 15.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian.
Pukul 15.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon
langsung Ny. S mau mendengarkan musik tetapi tidak sampai selesai.
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Rabu, 23-08-17 Pukul 07.00
WIB yaitu pada pukul 07.00
WIB melakukan senam rutin dengan Ny. S dengan respon Ny. S mengikuti senam
tetapi tidak mau mengikuti gerakan senam. Pukul 08.00 WIB mengevaluasi kegiatan
menghardik dan minum obat kemudian beri pujian dengan respon langsung Ny. S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu
menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari. Pukul 08.30 WIB
melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan respon
langsung Ny. S tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain disekitarnya karena
merasa malu. Pukul 09.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul
09.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon
langsung Ny. S mau mendengarkan musik sampai selesai.
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Rabu, 23-08-17 Pukul 14.00
WIB yaitu pada pukul 14.00
WIB mengevaluasi kegiatan menghardik dan minum obat kemudian beri pujian dengan
respon langsung Ny. S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu
menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari. Pukul 14.30 WIB
melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan respon
langsung Ny. S mau dan mampu bercakap-cakap dengan orang lain disekitarnya
meskipun masih terlihat malu. Pukul 14.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan
harian. Pukul 14.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan
respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik sampai selesai.
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 07.00
WIB yaitu pada pukul 07.00
WIB melakukan senam rutin dengan Ny. S dengan respon Ny. S mengikuti senam dan
mau mengikuti gerakan senam. Pukul 08.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik,
minum obat kemudian dan bercakap-cakap beri pujian dengan respon langsung Ny. S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu
menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu
bercakap-cakap dengan temannya meskipun terlihat malu. Pukul 08.30 WIB
melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian dengan
respon langsung Ny. S tidak mau melakukan kegiatan harian dan hanya diam duduk
diatas tempat tidur. Pukul 09.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul
09.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon
langsung Ny. S mau mendengarkan musik dan melihat video sampai selesai.
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 14.00
WIB yaitu pada pukul 14.00
WIB mengevaluasi kegiatan menghardik, minum obat kemudian dan bercakap-cakap beri
pujian dengan respon langsung Ny. S
mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan
Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari, Ny. S
mampu bercakap-cakap dengan temannya meskipun terlihat malu. Pukul 14.30 WIB
melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian dengan
respon langsung Ny. S dapat melakukan kegiatan harian seperti membereskan
tempat tidur, mencuci piring dan berjalan ke kamar mandi. Pukul 15.15 WIB memasukkan
pada jadwal kegiatan harian. Pukul 15.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn
dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik dan melihat
video sampai selesai.
Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 07.00
WIB yaitu pada pukul 07.00
WIB mendampingi Ny. S jalan berkeliling Rumah Sakit. Pukul 07.30 WIB melakukan
senam rutin dengan Ny. S dengan respon Ny. S mengikuti senam dan mau mengikuti
gerakan senam. Pukul 08.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik, minum obat
kemudian dan bercakap-cakap beri pujian dengan respon langsung Ny. S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu menyebutkan
obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu bercakap-cakap
dengan temannya meskipun terlihat malu, Ny. S dapat melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur,
mencuci piring dan berjalan ke kamar mandi. Pukul 09.00 WIB memasukkan pada
jadwal kegiatan harian. Pukul 09.15 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn
dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik dan melihat
video sampai selesai.
4.1.6
Evaluasi Keperawatan
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) pada hari Senin, 21-08-17 Pukul 11.00 WIB yaitu subjektif
didapatkan data Ny. S mengatakan namanya sunnati. Objektif didapatkan data Ny.
S
terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang,
komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S
tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah belum teratasi karena Ny. S belum memenuhi SP I. Planning mengulang
Intervensi SP I dipertemuan kedua pukul 14.00 WIB.
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) pada hari Senin, 21-08-17 Pukul 16.00 WIB yaitu subjektif
didapatkan data Ny. S mengatakan namanya sunnati, umur 12 tahun, Ny.
S mengatakan sering mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk
memaku kepalanya agar bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh Ny. S untuk kabur
dari rumah, Ny. S selalu merasa ingin pulang. Objektif didapatkan data Ny.
S
mengikuti
perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, Ny. S
mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya),
kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku
dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan
orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP I dengan cukup baik
dan dapat memperagakan cara menghardik. Planning melanjutkan Intervensi SP II.
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Selasa, 22-08-17 Pukul 11.00
WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering
datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat
mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, Ny. S
mengatakan tidak mengetahui obat apa yang selalu dia minum. Objektif didapatkan
data Ny. S kooperatif, mampu mengikuti perintah, mampu
memperagakan cara menghardik, terkadang berbicara sendiri sambil memegang
kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka
tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri
dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah belum teratasi karena Ny. S belum memenuhi SP II. Planning mengulang
Intervensi SP II.
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Selasa, 22-08-17 Pukul 16.00
WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering
datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat
mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, Ny. S
mengingat berapa macam obat yang dia minum. Objektif didapatkan data Ny. S
mengikuti
perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, Ny. S
mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), Ny. S
dapat mengingat 2 macam obat yang dia minum, terkadang
berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny.
S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S
tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP II dengan cukup baik. Planning
melanjutkan Intervensi SP III.
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Rabu, 23-08-17 Pukul 11.00
WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering
datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat
mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik dan minum
obat, Ny. S mengatakan mengetahui obat apa yang selalu dia minum, Ny. S
mengatakan tidak tau cara bercakap-cakap. Objektif didapatkan data Ny. S
kooperatif, mampu mengikuti perintah, mampu memperagakan cara menghardik dan
dapat menyebutkan cara minum obat dengan yang benar, terkadang berbicara sendiri
sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang,
terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak
menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah belum teratasi karena Ny. S belum memenuhi SP III. Planning mengulang
Intervensi SP III.
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Rabu, 23-08-17 Pukul 16.00
WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering
datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat
mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, minum obat
dan bercakap-cakap, Ny. S mengetahui obat apa yang selalu dia minum, Ny. S
mengatakan mengetahui bagaimana cara bercakap-cakap. Objektif didapatkan data
Ny. S
mengikuti
perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, klien
mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), klien
dapat mengingat 2 macam obat yang dia minum, Ny. S sudah mulai bercakap-cakap
dengan temannya, terkadang berbicara sendiri sambil
memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2
bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP III dengan cukup baik.
Planning melanjutkan Intervensi SP IV.
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 11.00
WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering
datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat
mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik dan minum
obat dan bercakap-cakap, Ny. S mengatakan mengetahui obat apa yang selalu dia
minum, Ny. S mengatakan mengetahui bagaimana cara bercakap-cakap dengan orang
lain untuk mengontrol halusinasinya, Ny. S mengatakan tidak tahu bagaimana cara
melakukan kegiatan harian. Objektif
didapatkan data Ny. S kooperatif, mampu mengikuti perintah,
mampu memperagakan cara menghardik dan dapat menyebutkan cara minum obat dengan
yang benar dan bercakap-cakap dengan temannya, terkadang berbicara sendiri
sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang,
terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S
tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah belum teratasi karena Ny. S belum memenuhi SP IV. Planning mengulang
Intervensi SP IV.
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 16.00
WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering
datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat
mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, minum obat,
bercakap-cakap dan melakukan kegiatan harian, Ny. S mengatakan mengetahui obat
apa yang selalu dia minum, Ny. S mengatakan mengetahui bagaimana cara
bercakap-cakap dengan orang lain untuk mengontrol halusinasinya, Ny. S
mengatakan tahu bagaimana cara melakukan
kegiatan harian. Objektif didapatkan data Ny. S mengikuti
perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, klien
mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), Ny. S
dapat mengingat 2 macam obat yang dia minum, Ny. S sudah mulai bercakap-cakap
dengan temannya dank lien dapat melakukan kegiatan harian seperti mencuci
piring, melipat pakaian dan membereskan tempat tidur, terkadang
berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny.
S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S
tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP IV dengan cukup baik.
Planning melanjutkan Intervensi SP V.
Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan
Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Jumat, 25-08-17 Pukul 11.00
WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering
datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat
mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, minum obat,
bercakap-cakap dan melakukan kegiatan harian. Objektif didapatkan data Ny. S
mengikuti
perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, klien
mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), klien
dapat mengingat 2 macam obat yang dia minum, Ny. S sudah mulai bercakap-cakap
dengan temannya dan mampu melakukan kegiatan harian, terkadang
berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, terdapat 2
bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis
masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP V dengan cukup baik. Planning
melakukan validasi dari SP I sampai dengan SP V.
4.2 Pembahasan
4.2.1
Pengkajian Keperawatan
Pengkajian
merupakan tahap awal dan dasar dari proses keperawatan, tahap yang paling
menentukan bagi tahap berikutnya (Rohmah, 2014).
Melihat data pengkajian dari kasus Ny. S didapatkan data
subjektif seperti Ny. S sering mendengar ada bisikan yang
datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur. Waham yang terjadi pada Ny. S adalah waham curiga
dimana Ny. S selalu mengatakan takut jika bertemu orang-orang yang baru. Melihat hasil rekam medis dan
keterangan yang didapat dari Dokter Spesialis Jiwa menyatakan bahwa Ny. S
mengalami Skizofrenia
Paranoid.
Teori
yang dikemukakan oleh Rusdi (2013)
dalam Pedoman Penggolongan Dan Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III) menyatakan
kriteria umum Skizofrenia Paranoid yaitu
terdapat suara-suara halusinasi yang mengancam klien, memberi perintah, atau
halusinasi pendengaran, waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham
dikendalikan (delusion of control),
di pengaruhi (delusion of influence)
atau “passivity” (delusion of passivity), serta keyakinan
di kejar-kejar yang beraneka ragam adalah paling khas, gangguan afektif,
dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik yang relatif tidak
nyata atau tidak menonjol.
Melihat fakta dan teori yang dijelaskan pada
paragraf sebelumnya antara fakta dan teori terdapat kesamaan tanda dan gejala yaitu
terdapat suara-suara halusinasi yang mengancam klien, memberi perintah, atau
halusinasi pendengaran, waham yang terjadi pada Ny. S adalah waham curiga
dimana Ny. S selalu mengatakan takut jika bertemu orang-orang yang baru.
Sedangkan tanda dan gejala yang tidak dialami oleh Ny. S yaitu Ny. S tidak
mengalami gejala katatonik yang relatif menonjol. Ny. S tidak mengalami gerjala
katatonik yang relatif tidak nyata atau menonjol dikarenakan pengaruh
Neurotransmitter yang berperan menghasilkan Norephinephrine dan Dopamine
menurun sehingga Ny. S tidak mengalami hiperaktivitas sehingga gejala katatonik
tidak mucul. Berdasarkan tanda dan gejala tersebut maka dapat dinyatakan bahwa
Ny. S mengalami Skizofrenia Paranoid.
Skizofrenia Paranoid dihubungkan dengan Neurotransmitter yang berperan
dalam proses terjadinya adalah Norepinephrine. Pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid terjadi
hiperaktivitas sistem dopaminergik. Availabilitas dopamin atau agonis dopamin
yang berlebih dapat menimbulkan gejala Skizofrenia
Paranoid seperti halusinogenik, gangguan pada proses pikir dan perilaku
seseorang (Price, 2006).
Bersadarkan
kasus Ny. S Skizofrenia Paranoid
dipengaruhi karena respon kehilangan orang yang sangat dicintai sehingga
menyebabkan Ny. S mengalami berduka disfungsional dan trauma masa lalu berupa
trauma seksusl yang tidak menyenangkan sehingga Ny. S mengalami sindrom pasca
trauma.
Berdasarkan
fakta dan teori pada paragraf diatas kerusakan persepsi sensori yang dialami
oleh Ny. S ditandai dengan mendengar suara-suara halusinasi yang mengancam
dirinya. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Price (2006) gejala Skizofrenia Paranoid seperti
halusinogenik yaitu terdapat suara-suara halusinasi yang mengancam klien,
memberi perintah, atau halusinasi pendengaran. Sehingga dapat disimpulkan masalah
keperawatan yang terjadi pada Ny. S adalah Halusinasi Pendengaran.
Tanda
dan gejala halusinasi pendengaran yaitu gejala subjektif mendengar suara
menyuruh bahkan melakukan sesuatu yang berbahaya, mendengar suara atau bunyi
seseorang, mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap, mendengar suara orang
yang sudah meninggal, mendengar suara yang mengancam diri klien atau orang lain
yang membahayakan (Yosep, 2016).
Hal
tersebut sesuai dengan fakta yang ditemukan dari hasil pengkajian berdasarkan
kasus Ny. S didapatkan data subjektif seperti Ny. S
sering mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya
agar bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh Ny. S untuk kabur dari rumah.
Melihat fakta dan teori
pada paragraf sebelumnya terdapat kesamaan tanda dan gejala seperti Ny. S mendengar suara menyuruh bahkan melakukan sesuatu
yang berbahaya.
Hasil
pengkajian yang didapatkan dari kasus Ny. S sesuai dengan fakta yang didapat
dilapangan dengan teori yang ditemukan sehingga dapat dinyatakan bahwa Ny. S
mengalami Skizofrenia Paranoid dengan
Halusinasi Pendengaran.
4.2.2
Diagnosa Keperawatan
Diagnosa
keperawatan merupakan penilaian klinis tentang respon individu terhadap masalah
atau proses kehidupan aktual maupun potensial sebagai dasar pemilihan
intervensi keperawatan untuk mencapai hasil perawat yang bertanggung jawab
(Rohmah, 2014).
Diagnosa
keperawatan yang muncul pada tinjauan kasus tersebut yang sesuai dengan teori
adalah Halusinasi Pendengaran. Halusinasi pendengaran (Auditory-hearing voices or sounds) merupakan jenis halusinasi yang
paling banyak terjadi, halusinasi pendengaran merupakan terganggunya persepsi
sensori seseorang seperti mendengar suara-suara yang tidak nyata, dimana tidak
terdapat stimulus (Varcarolis, 2006).
Berdasarkan
data yang didapat dari pengkajian dapat disimpulakan bahwa batasan
karakteristik dan tanda gejala yang dialami oleh Ny. S sesuai dengan diagnosa keperawatan
Halusinasi Pendengaran yang dikemukakan oleh Yosep (2016) yaitu gejala
subjektif mendengar suara menyuruh bahkan melakukan sesuatu yang berbahaya. Pada
kasus Ny. S didapatkan data bahwa Ny. S sering mendengar suara-suara yang mengancam
dan menyuruhnya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur.
Berdasarkan teori dan
fakta yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya, terdapat kesamaan antara
batasan karakteristik yang di dapatkan dari teori dan fakta. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa Ny. S mengalami diagnosa keperawatan Halusinasi Pendengaran.
4.2.3
Intervensi Keperawatan
Intervensi
merupakan pengembangan strategi desain untuk mencegah mengurangi dan mengatasi
masalah-masalah yang telah diidentifikasi dalam diagnostik keperawatan. Desain
perencanaan menggambarkan sejauh mana perawat mampu menetapkan cara
menyelesaikan masalah secara efektif dan efisien (Rohmah, 2014).
Tujuan
umum dilaksanakan intevensi keperawatan pada Ny. S menurut Keliat (2007) antara
lain Ny. S dapat mengontrol
halusinasinya secara mandiri.
Tujuan khusus dilaksanakan intevensi
keperawatan pada Ny. S menurut Keliat (2007) antara lain Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik,
Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara minum obat dengan benar, Ny. S
dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap, Ny. S dapat mengontrol
halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian.
Intervensi
keperawatan yang dipakai dalam kasus Ny. S sesuai dengan teori pada asuhan
keperawatan jiwa dengan diagnosa Halusinasi Pendengaran antara lain intervensi SP I dengan tujuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara
menghardik. Intervensi SP II dengan tujuan Ny. S dapat memenfaatkan obat dengan
baik. Intervensi SP III dengan tujuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi
dengan cara bercakap-cakap. Intervensi SP IV dengan tujuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi
dengan melakukan kegiatan harian. Intervensi SP V dengan tujuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik, Ny. S dapat memenfaatkan obat dengan baik, klien dapat
mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap, klien dapat mengontrol
halusinasi dengan melakukan kegiatan harian.
Intevensi
keperawatan pada keperawatan jiwa diawali dengan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK). Strategi
Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) merupakan . Bentuk Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK) dapat dilihat dalam Lampiran 9.
Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) terdiri dari SP I yaitu Ny.
S dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Dengan cara bina hubungan
saling percaya dengan menggunakan komunikasi terapeutik, beri salam,
perkenalkan diri, jelaskan tujuan pertemuan, tunjukkan rasa empati, buat kontak
yang jelas. Identifikasi halusinasi seperti isi, frekuensi, waktu terjadi,
situasi pencetus, perasaan, dan respon. Jelaskan cara mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan.
Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Masukkan pada jadwal
kegiatan harian. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya SP I adalah agar Ny.
S mampu mengontrol dan menolak halusinasi untuk datang pada dirinya dengan
meyakini bahwa halusinasi itu tidak nyata.
SP II yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara minum obat.
Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik dan beri pujian. Latih cara mengontrol
halusinasi dengan cara yang benar minum obat yaitu benar obat, benar dosis,
benar waktu, benar rute, benar frekuensi dan kontinuitas minum obat. Masukkan
pada jadwal kegiatan harian. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya SP II
adalah agar Ny. S mampu menghidar dari halusinasinya dengan cara mengontrol
halusinasi dengan cara memanfaatkan medika mentosa untuk menghambat produksi
Neurotransmitter, Norephinephrine dan Dopamin.
SP III yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap.
Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik dan minum obat lalu beri pujian. Latih
cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap. Masukkan dalam kegiatan
harian. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya SP III adalah agar Ny. S mampu
mengalihkan halusinasi yang datang kepadanya dengan melakukan interaksi atau
bercakap-cakap dengan orang lain disekitarnya.
SP IV yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan
harian. Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik, minum obat dan bercakap-cakap
dan beri pujian. Latih cara mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan
harian. Masukkan pada jadwal kegiatan. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya
SP IV adalah agar Ny. S mampu menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan ringan
yang dapat membuat pikiran Ny. S dapat teralihkan karena kesibukannya melakukan
kegiatan harian.
SP V yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan baik. Dengan cara
evaluasi semua kegiatan dan beri pujian. Latih kegiatan harian. Nilai apakah
kemampuan yang di miliki sudah mandiri. Nilai apakah halusinasi terkontrol.
Hasil yang diharapkan dari terlaksanannya SP V adalah untuk memvalidasi seluruh
SP yang sudah dijalankan mulai dari SP I sampai dengan SP IV.
Berdasarkan fakta dan teori dari kasus Ny. S didapatkan bahwa
pemberian Strategi Pelaksanaan (SP) I sampai V dapat terlaksana dengan efektif
dan efisien serta dapat memberikan perubahan dan hasil yang signifikan dari
perubahan persepsi sensori yang dialami oleh Ny. S.
Intervensi tambahan yang diberikan kepada Ny. S adalah
terapi musik. Terapi musik ini diberikan karena hasil studi (American Musik Therapy Assosiations,
2013), menyatakan bahwa terapi musik dapat digunakan untuk meningkatkan
kesejahteraan, mengatur stress, mengurangi nyeri, mengekspresikan kenyataan,
meningkatkan memori, meningkatkan komunikasi dan peningkatan fisik. Salah satu
jenis musik yang dapat diberikan untuk klien dengan Skizofrenia Paranoid adalah jenis musik klasik (Haydn dan Mozart) yang
dapat digunakan untuk memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial, musik
klasik Mozart memiliki efek yang tidak di miliki komposer lain. Musik klasik
Mozart memiliki kekuatan yang membebaskan, mengobati dan menyembuhkan (Musbikin,
2009).
Berdasarkan
fakta yang didapatkan pada kasus Ny. S terlihat perbedaan yang cukup signifikan
dari pemberian terapi musik klasik
Haydn dan Mozart. Ny. S mampu menjalankan serta mengingat semua strategi
pelaksanaan setelah diberikan terapi musik ini.
Melihat fakta dan teori diparagraf sebelumnya dapat
disimpulkan bahwa pemberian terapi musik klasik yang diberikan bersamaan dengan
Strategi Pelaksnaan (SP) akan memberikan hasil yang lebih maksimal dan mampu
meningkatkan memori serta kemampuan berkomunikasi pada kasus Ny. S.
4.2.4
Implementasi Keperawatan
Implementasi
merupakan realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah
ditetapkan. Kegiatan dalam implementasi juga meliputi pengumpulan data
berkelanjutan, mengobsevasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan
tindakan, serta menilai data yang baru (Rohmah, 2014).
Implementasi
yang dilakukan kepada Ny. S mengacu pada intervensi yang sudah dibuat
menggunakan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK), Terdapat beberapa
intervensi yang dimodifikasi dengan alternatif lain sehingga Ny. S mendapatkan
pelayanan yang optimal. Misalnya pada saat terapi musik karena tidak ada MP3
player klien mendengarkan musik dengan Handphone.
Pada kasus Ny. S Strategi Pelaksanaan (SP) I dapat
tercapai dalam 2 kali pertemuan atau 1 hari Ny. S dapat mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik dengan respon Ny. S mampu S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) setelah 2 kali pertemuan.
Implementasi SP II tercapai dalam 2 kali pertemuan atau 1 hari Ny. S mampu
mengontrol halusinasi dengan cara minum obat 2 kali sehari dengan teknik yang
benar dengan respon Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2
kali sehari setelah 2 kali pertemuan.
Implementasi SP III tercapai dalam 2 kali pertemuan atau 1 hari Ny. S mampu
mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan respon Ny. S mau dan
mampu bercakap-cakap dengan orang lain disekitarnya meskipun masih terlihat
malu setelah 2 kali pertemuan.
Implementasi SP IV tercapai dalam 2 kali pertemuan atau 1 hari Ny. S mampu
mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian dengan respon Ny. S
dapat melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci
piring dan berjalan ke kamar mandi setelah 2 kali pertemuan.
Implementasi SP V tercapai dalam 1 kali pertemuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi
dengan cara menghardik, Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara minum
obat 3 kali sehari dengan teknik yang benar, Ny. S mampu mengontrol halusinasi
dengan cara bercakap-cakap, Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara
melakukan kegiatan harian dengan respon Ny. S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu
menyebutkan obat THP dan RPD yang
dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu bercakap-cakap dengan temannya
meskipun terlihat malu, Ny. S dapat
melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring dan
berjalan ke kamar mandi setelah 1 kali pertemuan.
Berdasarkan fakta dan teori yang didapatkan Ny. S mampu
melaksanakan SP I sampai SP V dalam 5 hari dengan cukup baik. Pada hari ke-6
saat dilakukan validasi Ny. S mampu mengingat semua yang diajarkan oleh perawat.
Musik
klasik yang dipakai dalam pemberian terapi pada klien yang menderita Skizofrenia Paranoid sangat besar
pengaruhnya. Hal ini disebabkan karena musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu
musik bersifat nyaman, menenangkan, relaksasi, berstruktur dan universal.
Terapi musik klasik adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh semua
orang karena tidak membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasikan
alunan musik. Terapi musik klasik sangat mudah diterima oleh organ pendengaran
yang kemudian melalui saraf pendengaran akan disaluran kebagian otak yang
memproses emosi (sistem limbik) (Djohan, 2006).
Pada setiap pemberian Strategi Pelaksanaan (SP) diikuti
dengan pemberian terapi musik klasik Haydn dan Mozart yang diaplikasikan dengan
menggunakan Handphone genggam audeo
beserta video. Terapi musik ini diberikan dalam waktu 15-30 menit. Ny. S mampu
mendengarkan serta melihat visualisai dari musik klasik Haydn dan Mozart.
Perubahan yang terjadi pada Ny. S cukup baik dan signifikan jika dibandingkan
dengan pemberian intervensi yang hanya menggunakan SPTK tanpa diikuti oleh
terapi musik. Terbukti dengan kemampuan Ny. S yang mampu mengingat dan memperagakan
semua SP yang telah diberikan dengan baik selama 5 hari.
Berdasarkan teori dan fakta yang didapat dari paragraf di
atas dapat disimpulkan bahwa perawatan
standar yang ditambah dengan terapi musik terdapat penurunan yang signifikan
secara statistik pada klien dengan halusinasi pendengaran setelah mendengarkan musik.
Tetapi penggunaan musik klasik ini memerlukan pertimbangan khusus tentang waktu
tampilan musik, tahap usia perkembangan, latar belakang budaya, aktivitas
motorik dan estetika.
4.2.5
Evaluasi Keperawatan
Evaluasi
merupakan penilaian dengan cara membandingkan perubahan dari keadaan klien
(hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap
perencanaan (Rohmah, 2014).
Evaluasi
keperawatan dalam keperawatan jiwa dilakukan 2 kali dalam 1 hari yaitu pada
pertemuan pertama dan pertemuan kedua dengan satu masalah aktual Halusinasi
Pendengaran semua Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) dari
Strategi Pelaksanaan I (SP I) sampai dengan Strategi Pelaksanaan V (SP V) dapat
dilaksanakan dan dilakukan dengan cukup baik oleh Ny. S.
Pada
evaluasi hari pertama setelah dilakukan tindakan tentang bagaimana cara
mengontrol halusinasi dengan cara menghardik hasilnya Ny. S dapat mengingat dan
memperagakan cara menghardik dalam 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama
setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny. S tidak mampu mengingat apa yang
telah di ajarkan oleh perawat tentang cara menghardik. Kemudian pada pertemuan
kedua setelah dievaluasi pada pukul 16.00 WIB Ny. S mampu mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya). Terdapat perubahan yang
didapatkan dari evaluasi pertemuan pertama dan pertemuan kedua dari kasus Ny.
S.
Pada
evaluasi hari kedua Ny. S setelah dilakukan tindakan tentang bagaimana cara
mengontrol halusinasi dengan cara minum obat dengan teknik yang benar hasilnya
Ny. S dapat mengingat dan memperagakan cara minum obat yang benar dalam 2 kali
pertemuan. Pada pertemuan pertama setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny.
S tidak mampu mengingat apa yang telah di ajarkan oleh perawat tentang cara
minum obat dengan teknik yang benar. Kemudian pada pertemuan kedua setelah
dievaluasi pada pukul 16.00 WIB Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari. Terdapat perubahan yang didapatkan dari
evaluasi pertemuan pertama dan pertemuan kedua dari kasus Ny. S.
Pada
pertemuan hari ketiga Ny. S setelah dilakukan tindakan bagaimana cara
mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain hasilnya Ny.
S dapat mengingat dan memperagakan cara bercakap-cakap dalam 2 kali pertemuan.
Pada pertemuan pertama setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny. S tidak
mampu mengingat apa yang telah di ajarkan oleh perawat tentang cara
bercakap-cakap dengan orang lain. Kemudian pada pertemuan kedua setelah
dievaluasi pada pukul 16.00 WIB Ny. S mampu melakukan interaksi dan
bercakap-cakap dengan temannya meskipun masih terlihat malu. Terdapat perubahan yang didapatkan dari
evaluasi pertemuan pertama dan pertemuan kedua dari kasus Ny. S.
Pada
pertemuan hari keempat Ny. S dilakukan tindakan bagaimana cara mengontrol
halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian hasilnya Ny. S dapat mengingat
dan memperagakan cara melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat
tidur dan melipat baju dalam 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama setelah
dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny. S tidak mampu mengingat apa yang telah di
ajarkan oleh perawat tentang cara melakukan kegiatan harian. Kemudian pada
pertemuan kedua setelah dievaluasi pada pukul 16.00 WIB Ny. S mampu melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci
piring dan berjalan ke kamar mandi.
Terdapat
perubahan yang didapatkan dari evaluasi pertemuan pertama dan pertemuan kedua
dari kasus Ny. S.
Pada pertemuan hari kelima Ny. S dilakukan tindakan
bagaimana cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat,
bercakap-cakap dan melakukan kegiatan harian hasilnya Ny. S dapat mengingat dan
memperagakan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap melakukan kegiatan
harian seperti membereskan tempat tidur dan melipat baju dalam 1 kali
pertemuan. Pada pertemuan pertama setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny.
S mampu mengontrol halusinasi dengan cara
melakukan kegiatan harian dengan respon Ny. S mengatakan “Pergi!
Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu
menyebutkan obat THP dan RPD yang
dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu bercakap-cakap dengan temannya
meskipun terlihat malu, Ny. S dapat
melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring dan
berjalan ke kamar mandi setelah 1 kali pertemuan.
Hasil
evaluasi pada Ny. S mampu menjalankan SP I sampai SP V dengan cukup baik dalam
waktu 5 hari. Penulis menyimpulkan bahwa pada kasus Ny. S semua masalah dapat
teratasi sebagian
Pada
setiap kali melakukan Strategi Pelaksanaan (SP) selalu diikuti dengan pemberian
terapi musik klasik Haydn dan Mozart yang dapat mempercepat keberhasilan
pemberian Strategi Pelaksanaan (SP).
Ny.
S mampu mendengarkan terapi tambahan yang diberikan yaitu terapi musik klasik
Haydn dan Mozart dalam waktu 5 hari. Masalah aktual Halusinasi Pendengaran
dapat taratasi sebagian.
Berdasarkan
teori dan fakta pada kasus Ny. S didapatkan kesimpulan bahwa masalah keperwatan
Halusinasi Pendengaran yang dialami oleh Ny. S teratasi sebagian.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan
dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut berdasarkan tujuan khusus, yaitu :
5.1.1 Dalam
pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran tidak semua data
hasil pengkajian sesuai dengan tinjauan teori dan latar belakang penulisan,
mekanisme koping, pola hidup, sifat dan karakter klien, status sosial,
lingkungan sosial budaya, tingkat pengetahuan terhadap sakitnya sangatlah berbeda,
karena mengingat manusia merupakan makhluk yang unik, multidimensi dan
holistik.
5.1.2 Dalam
perumusan diagnosa mengacu pada teori sehingga diagnosa yang ditemukan pada
kasus Ny. S adalah Skizofrenia Paranoid
dengan Halusinasi Pendengaran.
5.1.3 Dalam merencanakan
tindakan keperawatan pada prinsipnya tetap mengacu pada teori dan disesuaikan
dengan kasus yang nyata, intervensi yang digunakan pada Ny. S menggunakan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK)
yang terdiri dari Strategi Pelaksanaan I (SP I) sampai dengan Strategi
Pelaksanaan V (SP V).
5.1.4 Dalam
pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran disesuaikan
dengan rencana tindakan yang telah dibuat sebelumnya.
5.1.5 Dalam melakukan
evaluasi dari hasil pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan dengan melihat
kriteria standart yang telah ditetapkan pada perencanaan. Studi kasus pada
klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid
dengan Halusinasi Pendengaran pada kasus nyata Ny. S dapat teratasi sebagian
pada tanggal 25 Agustus 2017. Dengan kesimpulan masalah yang dialami oleh Ny. S
yang mengalami Skizofrenia Paranoid
dengan Halusinasi Pendengaran dapat menyelesaikan semua Strategi Pelaksanaan
Tindakan Keperawatan (SPTK).
5.2 Saran
5.2.1 Skizofrenia Paranoid merupakan gangguan
jiwa yang sangat mudah mengalami kekambuhan sehingga sangat diperlukan peran
dari anggota keluarga untuk membantu memberikan perawatan lanjutan dirumah
dengan jalan meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai penyakit yang diderita
terutama mengenai tanda dan gejala timbulnya penyakit Skizofrenia Paranoid sebelum klien dipulangkan. Pemanfaatan
fasilitas kesehatan yang ada untuk selalu mengontrol dan melakukan pemeriksaan
ulang (Follow Up) keadaan klien dan pemberian obat yang teratur sangat penting
dalam mencegah kekambuhan klien dengan Skizofrenia
Paranoid.
5.2.2 Klien
dengan Skizofrenia Paranoid pada
umumnya akan mengalami gangguan mental dan psikologis yang labil, sehingga
diperlukan keterbukaan klien dan perawat dalam proses perawatannya. Selain itu
dalam perawatan diperlukan lingkungan yang mendukung serta komunikasi dengan
mengacu pada Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK).
5.2.3 Mengingat
Skizofrenia Paranoid merupakan
penyakit yang sangat rentan mengalami kekambuhan maka perawat perlu memberikan health education dan melibatkan keluarga
yang tinggal satu rumah dengan klien. Sehingga keluarga dapat melakukan
perawatan secara mandiri setelah klien pulang.
5.2.4 Masyarakat
di Indonesia masih heterogen dan masih sangat perlu penyebarluasan pengertian
tentang Skizofrenia Paranoid. Faktor
predisposisi dan faktor presipitasi serta penatalaksanaan pada klien dengan Skizofrenia Paranoid dengan penyuluhan
kesehatan secara langsung oleh petugas kesehatan ataupun tidak langsung melalui
media massa, siaran radio dan televisi.
5.2.5 Klien
dengan Skizofrenia Paranoid akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda
sehingga pada saat pengkajian tidak semua data pada klien sama dengan teori
sehingga diperlukan suatu pendekatan atau proses keperawatan untuk mempermudah
klien dalam perawatan sehingga klien dapat sembuh dari penyakitnya.
American Psychiatric Assosiation.
2013. Diagnostic and Statistical Manual
of Mental Disorder. Edisi ke-4. USA : American
Psychiatric Publishing.
American Music Therapi
Assosiations. 2013. What is Music Therapy? Available from http://www.musictherapy.rg/ (Diakses pada tanggal
27 April 2017 Pukul 13.35 WIB).
Anna,
Budi K. 2006. Proses Keperawatan Jiwa
Edisi 2. Jakarta : EGC.
Anna,
Budi K. 2014. Standar Asuhan Keperawatan.
Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.
Creswell, John W. 2014. Penelitian Kualitatif dan Desain Riset. Yogyakarta : Pustaka
Pelajar.
Data
Rekam Medik. 2017. RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso tentang Klien Skizofrenia Paranoid. Tidak dipublikasikan.
Dinas
Kesehatan. 2016. Data Klien Skizofrenia
Kabupaten Bondowoso. Tidak dipublikasikan.
Direja,
Ade Herman S. 2011. Buku Asuhan
Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika.
Djohan.
2006. Terapi Musik : Teori dan Aplikasi.
Yogyakarta : Galangpress.
Durand,
V. M, Barlow. 2007. Essential Of Abnormal
Psychologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Fauzi,
A. 2006. Pengaruh Musik bagi Kecerdasan
Anak. Jakarta : Harmoni.
Grocke,
D. Bloch, S & Castle, D. 2008. Is
There Role of Music Therapy. .Available
from http://musictherapy.com
(Diakses
pada tanggal 27 April 2017 Pukul 14.11 WIB).
Hawari,
Dadang. 2009. Pendekatan Holistik Pada
Gangguan Jiwa Skizofrenia. FKUI : Jakarta
Herdman
Heather. 2017. Diagnosis Keperawatan NANDA. Jakarta : EGC
Kementrian
Kesehatan. 2014. Data Klien Skizofrenia.
Available from http://Kemenkes.go.id
(Diakses pada tanggal 27 April 2017 Pukul 13.15 WIB).
Kusumawati,
Farida & Hartono Yudi. 2010. Buku
Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika.
Maslim,
Rusdi. 2013. Pedoman Penggolongan dan
Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III). Jakarta : PT Nuh Jaya.
Moorhead
Sue. 2017. Nursing Interventions And Classifications.
Jakarta : EGC
Moorhead
Sue. 2017. Nursing Outcomes And Classifications.
Jakarta : EGC
Musbikin,
I. 2009. Kehebatan Music untuk Mengasah
Kecerdasan Anak. Jogjakarta : Power Books (IHDINA).
Nursalam. 2008. Konsep
dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta :
Salembang Medika.
Prabowo,
H & Regina, H. 2007. Treatment Meta
Music Untuk Menurunkan Stress. Available
from http://repository.gunadarma.ac.id
(Diakses pada tanggal 27 April 2017 Pukul 14.15 WIB).
Price,
S. A. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC.
Potter
& Perry. 2007. Buku Ajar Fundamental
Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik, Edisi 4, Volume 2. Jakarta : EGC.
Rohmah,
Nikmatur. 2014. Proses Keperawatan Teori
& Aplikasi. Jakarta : Ar Ruzz Medika.
Stuart,
Gail. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa
Edisi ke-5. Jakarta : EGC
Setiadi.
2013. Konsep dan Penulisan Riset
Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.
Varcarolis,
E,M. Carson, V.B. Shoemaker, N.C. 2006. Foundation
of Pdychiatric Mental Health Nursing Edisi 5. USA : Saunders Elsevier.
WHO.
2016. The World Health Report. Available
from http://www.who.int.whr/2016/en.com
(Diakses pada tanggal 27 April 2017 Pukul 13.55 WIB).
Yosep,
Iyus. 2016. Buku Ajar Keperawatan Jiwa
dan Advance Mental Health Nursing. Bandung : PT Refika Aditama


No comments:
Post a Comment