November 19, 2020

STUDI KASUS UNTUK PROGRAM STUDI D3 KEPERAWATAN (KEPERAWATAN JIWA SKIZOFRENIA PARANOID DENGAN HALUSINASI PENDENGARAN LENGKAP METODE PENELITIAN)

 

BAB I

PENDAHULUAN

1.1              Latar Belakang Masalah

Skizofrenia Paranoid merupakan bentuk gangguan psikosis yang paling umum terjadi, seseorang yang menderita Skizofrenia Paranoid pada umumnya akan mengalami waham kebesaran dan sering di ikuti oleh halusinasi pendengaran (Hawari, 2009). American Psychiatric Association dalam bukunya (DSM-IV-TR) pada tahun 2013, menyatakan bahwa Skizofrenia Paranoid merupakan jenis Skizofrenia yang paling sering di jumpai di seluruh dunia dari pada jenis Skizofrenia yang lain.

Skizofrenia Paranoid mempunyai gejala utama yaitu halusinasi. Halusinasi merupakan hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal (pikiran) dan rangsangan eksternal (dunia luar). Klien memberi persepsi atau pendapat tentang lingkungan tanpa adanya objek atau rangsangan yang nyata. Sebagai contoh klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara (Kusumawati, 2010)

American Psychiatric Association (2013) menyatakan bahwa Skizofrenia merupakan penyebab kematian yang mempunyai perbandingan 8 kali lebih tinggi dari angka kematian yang di akibatkan oleh penyakit lain. World Health Organization (WHO) tahun 2016 menyatakan bahwa sekitar 21 juta orang diseluruh dunia terkena Skizofrenia. Sedangkan data tentang prevalensi Skizofrenia di Indonesia mencapai sekitar 400.000 orang atau sebanyak 1,7 per 1.000 penduduk (Kemenkes, 2014). Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bondowoso pada tahun 2017 selama 3 bulan terakhir menunjukkan bahwa prevalensi Skizofrenia sebanyak 801 orang. Data yang didapatkan dari Rekam Medik RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso pada tahun 2017 menunjukkan bahwa selama 3 bulan terakhir kasus Skizofrenia Paranoid sebanyak 3 orang, masih sedikit data yang didapatkan oleh Rumah Sakit mengenai data klien Skizofrenia Paranoid ini dikarenakan  keberadaan departemen yang dikhususkan untuk klien jiwa ini masih baru ditetapkan pada tahun 2016.

Skizofrenia Paranoid terjadi apabila seseorang mengalami stress yang berlebihan, rasa bersalah, kesepian yang memuncak dan masalah yang tidak dapat diselesaikan. Hal ini dapat mempengaruhi perilaku menjadi maladaptif seperti sering menyendiri, tertawa sendiri dan respon verbal yang lambat (Kusumawati, 2010).  Skizofrenia Paranoid merupakan klasifikasi dari Skizofrenia yang paling banyak terjadi (Rusdi, 2013). Gejala yang muncul pada Skizofrenia Paranoid sekitar (70%) adalah halusinasi pendengaran. Prognosis Skizofrenia Paranoid lebih baik dibandingkan jenis yang lain karena mempunyai respon yang baik di dalam pengobatan.  Halusinasi yang dibiarkan berkelanjutan, akan membuat seseorang akan terbiasa dikendalikan oleh halusinasinya dan tidak mampu mematuhi perintah, bahkan dalam fase yang lebih buruk, orang yang mengalami halusinasi dapat menjadi perilaku kekerasan terhadap diri sendiri maupun orang lain, bahkan dapat menyebabkan seseorang bunuh diri (Yosep, 2016).

Salah satu intervensi yang dapat di lakukan pada klien dengan Skizofrenia Paranoid dengan halusinasi pendengaran adalah terapi musik. Hasil studi (American Musik Therapy Assosiations, 2013), menyatakan bahwa terapi musik dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan, mengatur stress, mengurangi nyeri, mengekspresikan kenyataan, meningkatkan memori, meningkatkan komunikasi dan peningkatan fisik. Salah satu jenis musik yang dapat diberikan untuk klien dengan Skizofrenia Paranoid adalah jenis musik klasik (Haydn dan Mozart) yang dapat digunakan untuk memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial, musik klasik Mozart memiliki efek yang tidak di miliki komposer lain. Musik klasik Mozart memiliki kekuatan yang membebaskan, mengobati dan menyembuhkan (Musbikin, 2009).

Upaya yang dapat dilakukan untuk mengatasi klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan halusinasi pendengaran harus dilakukan perawatan intensif, karena bila keadaan dibiarkan maka akan berkembang menjadi lebih berat sehingga membahayakan diri klien, orang lain dan lingkungan. Melihat kejadian tersebut maka penulis tertarik untuk mengangkat masalah ini dalam membuat Studi Kasus dengan judul “Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso”.

 

1.2              Batasan Masalah

Batasan masalah pada studi kasus ini dibatasi pada Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.

 

  

1.3       Rumusan Masalah

            Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso?

 

1.4       Tujuan Penelitian

1.4.1    Tujuan Umum

Melaksanakan Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.

1.4.2    Tujuan Khusus           

1) Melakukan pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso

2) Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso,

3) Menyusun intervensi keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.

4) Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.

5) Melakukan evaluasi keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.

 

1.5       Manfaat Penelitian

1.5.1    Manfaat Teoritis

Penelitian ini bermanfaat untuk pengembangan pengetahuan khususnya pada Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.

1.5.2    Manfaat Praktis

1) Perawat

Sebagai tambahan ilmu pengetahuan bagi tenaga kesehatan, khususnya perawat di RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso untuk meningkatkan profesionalisme dalam memberikan Asuhan Keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran.

2) Rumah Sakit

Sebagai bahan masukan dan pertimbangan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran.  

            3) Institusi Pendidikan

Menambah pembendaharaan atau pustaka dan juga sebagai referensi bagi mahasiswa dalam melakukan penelitian atau Asuhan Keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran.

            4) Klien dan Keluarga

Meningkatkan pengetahuan klien dan keluarga mengenai penyakit jiwa Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di rumah.


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1       Konsep Skizofrenia Paranoid

2.1.1    Pengertian Skizofrenia Paranoid

Skizofrenia Paranoid merupakan gangguan psikotik yang merusak yang dapat melibatkan gangguan yang khas dalam berpikir (delusi), persepsi (halusinasi), pembicaraan, emosi dan perilaku. Para penderita Skizofrenia Paranoid ini tampak berbeda karena delusi dan halusinasinya, sementara keterampilan kognitif dan afek mereka utuh. Pada umumnya orang dengan Skizofrenia Paranoid tidak mengalami disorganisasi dalam pembicaraan atau afek datar. Orang dengan Skizofrenia Paranoid memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan tipe Skizofrenia lainnya karena mempunyai respon yang baik di dalam pengobatan (Durand, 2007).

 

2.1.2    Epidemiologi Skizorenia Paranoid

            Skizofrenia Paranoid dapat ditemukan pada semua kelompok masyarakat di berbagai daerah. Insiden dan prevalensi sepanjang hidup hampir sama di seluruh dunia. Gangguan ini mengenai hampir 1% dari populasi dewasa dan biasanya onsetnya pada usia remaja akhir atau awal masa dewasa. Pada laki-laki biasanya gangguan ini mulai pada usia lebih muda yaitu 15-25 tahun sedangkanpada perempuan lebih lambat yaitu pada usia 25-35 tahun. Insiden Skizofrenia Paranoid lebih besar pada laki-laki dibandingkan perempuan (Durand, 2007).

 2.1.3    Etiologi Skizorenia Paranoid

Faktor penyebab terjadinya Skizofrenia Paranoid menurut (Yosep, 2016), yaitu :

1)      Faktor Predisposisi

a)      Faktor Biologis

Abnormalitas perkembangan sistem syaraf yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladptif.

b)      Faktor Genetik

Pada anggota keluarga menyebutkan kejadian Skizofrenia Paranoid pada orang tua (5,6%), saudara kandung (10,1%), anak-anak (12,8%), dan penduduk secara keseluruhan (0,9%). Kembar identik (twin) memiliki angka kejadian yang lebih besar terkena Skizofrenia Paranoid dibandingakan kembar tidak identik (praternal), dengan perbandingan 59,20% dan 15,2%.

c)        Auto Antibody

Menurunnya auto imun yang mungkin di sebabkan karena infeksi selama kehamilan atau penggunaan zat kimia seperti dopamine dan neurotransmitter yang berlebihan, ketidakseimbangan antara dopamine dan neurotransmitter lain terutama serotonin mengakibatkan masalah pada sistem reseptor dopamine.

d)     Virus

Virus atau infeksi lain selama kehamilan yang dapat mengganggu perkembangan otak janin dan komplikasi dalam kehamilan.

 

e)      Malnutrisi

Kekurangan gizi berat khususnya malnutrisi karbohidrat dan protein terutama pada trimester kehamilan dapat mempengaruhi perkembangan otak janin di kemudian hari.

f)       Faktor Psikologis

Teori psikodinamika untuk terjadinya respon neurobiologis yang maladaptif. Teori ini menyalahkan keluarga sebagai penyebab gangguan. Akibatnya, kepercayaan keluarga terhadap tenaga kesehatan khususnya jiwa menurun.

g)      Faktor Psikososial

Orang yang sudah memiliki epigenetik bila mengalami stressor psikososial dalam kehidupannya, maka berisiko terkena Skizofrenia Paranoid yang lebih besar dibandingkan dengan orang yang tidak memiliki faktor epigenetik sebelumnya.

2)      Faktor Presipitasi

a)      Faktor Biologis

Stressor biologis yang berhubungan dengan respon neurobiologis yang maladaptif meliputi :

1.      Gangguan dalam komunikasi dan putaran umpan balik otak yang mengatur proses informasi.

2.      Abnormalitas dalam mekanisme pintu masuk dalam otak (komunikasi syaraf yang melibatkan elektrolit) yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif menanggapi stimulus.

b)      Faktor Lingkungan

Ambang toleransi terhadap stress yang di tentukan secara biologis berinteraksi dengan stressor lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.

c)      Faktor Pemicu Gejala

Faktor pemicu merupakan precursor stimulus yang sering menimbulkan penyakit baru, seperti :

1.      Kesehatan

2.      Gizi buruk

3.      Kurang tidur

4.      Keletihan

5.      Obat sistem syaraf pusat

6.      Lingkungan

7.      Sikap dan perilaku, dll.


 

Faktor Presipitasi

Faktor Predisposisi

2.1.4    Patofisiologi Skizofrenia Paranoid

Faktor Genetik

Faktor Lingkungan

Pelepasan Neurotransmitter

Merangsang korteks prefrontalis

Aliran darah menurun

Intake glukosa menurun

Atrofi penonjolan dendrit menurun

Halusinogen

Dopamin meningkat

Reseptor D1 dan D2 meningkat

Halusinasi

Delusi

Gangguan Persepsi

Gangguan proses pikir

Waham

Cemas dan agitasi

Perubahan perilaku

Perilaku merusak

Risiko Perilaku Kekerasan

Skizofrenia Paranoid

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


(Gambar 2.1 : Patofisiologi Skizofrenia Paranoid)

 

 

 

Skizofrenia Paranoid dihubungkan dengan faktor genetik dan lingkungan. Faktor tersebut selalu dihubungkan dengan proses terjadinya Skizofrenia Paranoid. Neurotransmitter yang berperan dalam proses terjadinya adalah DA, 5HT, Glutamat, Peptide, dan Norepinephrine. Pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid terjadi hiperaktivitas sistem dopaminergik, reseptor dopamine yang terlibat adalah reseptor dopamine-2 (D2) yang akan di jumpai densitas reseptor D2 pada jaringan otak klien dengan Skizofrenia Paranoid (Price, 2006).

Pada Skizofrenia Paranoid terdapat penurunan aliran darah dan kadar glukosa, terutama di korteks prefrontalis. Atrofi penonjolan dendrit dari sel piramidal telah ditemukan pada korteks prefrontalis. Penonjolan dendrit mengandung sinaps glutamenergik sehingga mengganggu proses transmisi. Selain itu pada area yang terkena akan menghambat pembentukan sel piramidal menjadi berkurang (Price, 2006).

Availabilitas dopamin atau agonis dopamin yang berlebih dapat menimbulkan gejala Skizofrenia Paranoid seperti halusinogenik, gangguan pada proses pikir dan perilaku seseorang (Price, 2006).

 

 

 

 

 

 

 

2.1.5    Gambaran Klinis Skizofrenia Paranoid

Rusdi (2013) dalam Pedoman Penggolongan Dan Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III) menyatakan kriteria umum Skizofrenia Paranoid yaitu :

1)      Terdapat suara-suara halusinasi yang mengancam klien, memberi perintah, atau halusinasi pendengaran.

2)      Waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), di pengaruhi (delusion of influence) atau “passivity” (delusion of passivity), serta keyakinan di kejar-kejar yang beraneka ragam adalah paling khas.

3)      Gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik yang relatif tidak nyata atau tidak menonjol.

 

2.1.6    Penatalaksanaan Skizofrenia Paranoid

Dasar penatalaksanaan Skizofrenia Paranoid melalui suatu pendekatan holistik (Keliat, 2014), yaitu :

1)      Penatalaksanaan Medis

a)      Somatoterapi

1.      Memperbaiki keadaan umum

2.      Pemberian antipsikosis

Neuroleptika dosis efektif tinggi (diberikan dalam dosis yang terbagi 2-3kali/hari) seperti :

Khloropamazin      : 75-500 mg (per os)

                                Injeksi 25-50 mg/hari (intramuskuler)

Perazin                   : 50 – 60 mg (per os)

Thioridazin            : 75-500 mg (per os)

Di utamakan untuk klien Skizofrenia yang di sertai dengan penyakit organik misalnya gangguan hepar.

Neuroleptika dosis efektif rendah (diberikan dalam dosis yang terbagi 1-2kali/hari) seperti :

Flufenazin HCI     : 3-10 mg (per os)

Flufenazin depot   : 24 mg/4 minggu (injeksi intramuscular)

Trifluoperazin        : 3-20 mg (per os)

Haloperidol           : 5-15 mg (per os)

Pimozid                 : 2-8 mg (per os)

3.      Terapi Elektrokonvulsi jika perlu (keadaan gaduh gelisah atau stupor yang berat).

2)      Penatalaksanaan Keperawatan

a)      Psikoterapi

Bertujuan untuk memperkuat fungsi ego dengan cara psikoterapi agar klien bisa bersosialisasi dengan orang lain di lingkungannya.

b)     Manipulasi lingkungan, agar lingkungan dapat :

1.      Memahami dan menerima keadaan klien

2.      Membimbing klien dalam kehidupan sehari-hari

3.      Memberi kesibukan atau pekerjaan untuk klien

4.      Mengawasi klien dalam minum obat teratur dalam jangka waktu lama dan membawa klien untuk pemeriksaan ulang.

 

 

2.1.7    Komplikasi Skizofrenia Paranoid

            Skizofrenia Paranoid bisa mengakibatkan trauma emosi, perilaku, kesehatan dan bahkan masalah hokum dan keuangan yang mempengaruhi setiap bidang kehidupan mereka, komplikasi yang disebabkan oleh Skizofrenia Paranoid menurut (Setiadi, 2013), yaitu :

1)      Bunuh diri (pikiran dan perilaku)

2)      Perilaku merusak diri sendiri

3)      Depresi

4)      Penyalahgunaan obat-obatan dan alcohol

5)      Kemiskinan

6)      Tunawisma

7)      Dipenjara

8)      Konflik keluarga

9)      Ketidakmampuan untuk bekerja dan bersekolah

10)   Gangguan kesehatan akibat obat antipsikotik

11)   Menjadi korban atau pelaku kejahatan kekerasan

12)   Penyakit jantung dan paru-paru karena merokok

 

 

 

 

 

 

 

2.2       Konsep Halusinasi

2.2.1    Pengertian Halusinasi

Halusinasi merupakan terganggunya persepsi sensori seseorang, dimana tidak terdapat stimulus. Tipe halusinasi yang paling sering terjadi adalah halusinasi pendengaran (Auditory-hearing voices or sounds), penglihatan (Visual-seeing persons or things), penciuman (Olfactory-smelling odors), perabaan (Tactile-feeling bodily sensations), pengecapan (Gustatory-experiencing tastes), dan Cenesthetic & Kinestetic halucinations (Varcarolis, 2006).

           

2.2.2    Etiologi Halusinasi

Faktor penyebab halusinasi di bagi menjadi 2 faktor (Yosep, 2013) yaitu :

1)      Faktor Predisposisi

a)      Faktor Perkembangan

Tugas perkembangan klien yang terganggu misalnya kontrol dan kehangatan keluarga menyebabkan klien tidak mampu mandiri sejak kecil, mudah frustasi, hilang percaya diri dan lebih rentan terhadap stress.

b)      Faktor Sosiokultural

Seseorang yang merasa tidak diterima di lingkungannya sejak bayi (unwanted child) akan merasa di singkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.

c)      Faktor Biokimia

Mempunyai pengaruh terhadap gangguan jiwa. Adanya stress yang berlebihan yang di alami oleh seseorang maka di dalam tubuh akan di hasilkan suatu zat yang bersifat halusinogenik neurokimia seperti Buffofenon dan Dimetytranferase (DMP). Akibat stress yang berkepanjangan akan menyebabkan teraktivasinya neurotransmitter otak. Misalnya terjadi ketidakseimbangan antara acetylcholine dan dopamine.

d)   Faktor Psikologis

Tipe kepribadian lemah dan tidak bertanggung jawab mudah terjerumus dalam penyalahgunaan zat adiktif. Hal ini berpengaruh pada ketidakmampuan klien dalam mengambil keputusan yang tepat demi masa depannya. Klien dapat memilih kesenangan sesaat dan lari dalam nyata menuju alam khayal.

e)      Faktor Genetik dan Pola Asuh

Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang di asuh oleh orang tua yang mengalami Skizofrenia Paranoid cenderung mengalami Skizofrenia Paranoid. Hasil studi menunjukkan bahwa hubungan keluarga sangat berpengaruh pada penyakit ini.

2)      Faktor Presipitasi

a)      Berlebihannya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan memproses informasi di hipotalamus otak.

b)      Mekanisme penghantar listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan abnormal).

c)      Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi social, perasaan tidak berguna dan putus asa.

 

2.2.3    Patofisiologi Halusinasi

Risiko Perilaku Kekerasan

 

 


(Core Problem)

Gangguan Pemenuhan Kesehatan

Halusinasi

 

     

Defisit Perawatan Diri : Mandi dan Berhias

Isolasi Sosial

                       

 


Harga Diri Rendah

     

Berduka Disfungsional

 

 

 

 


(Gambar 2.2 : Pohon Masalah Halusinasi)

 

            Proses terjadinya halusinasi di pengaruhi oleh multifaktor di antaranya trauma atau kehilangan seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya yang menyebabkan berduka disfungsional. Sehingga klien mengalami rasa tidak mampu dan tidak berdaya lagi dalam menjalani hidupnya. Saat klien merasa tidak mempunyai siapa-siapa di lingkungannya, klien akan menarik diri dari lingkungan, klien akan sering menyendiri dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Halusinasi akan sering muncul untuk menemani kesendirian yang di alami oleh orang tersebut (Keliat, 2006).

            Klien menyerah dan menerima situasi tersebut, halusinasi akan sering muncul tanpa stimulus yang nyata. Klien akan menunjukkan gejala seperti berbicara sendiri, tersenyum sendiri dan menunjukkan respon verbal yang lambat. Halusinasi mulai mengontrol klien sehingga klien mengalami kecemasan yang sangat berat di tandai dengan tremor dan berkeringat. Saat itu klien akan merasa orang lain yang berada di sekitarnya mulai terasa berbahaya dan mengancam, sehingga klien menunjukkan sikap bermusuhan seperti marah-marah, mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya (Keliat, 2006).

 

2.2.4    Gambaran Klinis Halusinasi

Tanda dan gejala halusinasi  menurut (Yosep, 2016) dibagi menurut jenisnya yaitu :

1)      Halusinasi Pendengaran (Auditory-hearing voices or sounds)

Gejala Subjektif

a)      Mendengar suara menyuruh bahkan melakukan sesuatu yang berbahaya

b)      Mendengar suara atau bunyi seseorang

c)      Mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap

d)     Mendengar suara orang yang sudah meninggal

e)      Mendengar suara yang mengancam diri klien atau orang lain yang membahayakan

Gejala Objektif

a)      Mengarahkan telinga pada sumber suara

b)      Bicara atau tertawa sendiri

c)      Marah tanpa sebab

d)     Menutup telinga

e)      Mulut komat-kamit

f)       Ada gerakan tangan

2)      Halusinasi Penglihatan (Visual-seeing persons or things)

Gejala Subjektif

Melihat seseorang yang sudah meninggal, bayangan, hantu atau sesuatu yang menakutkan

Gejala Objektif

1.      Tatapan mata pada tempat tertentu

2.      Menunjuk kearah tertentu

3.      Ketakutan pada objek yang dilihat

3)          Halusinasi Penciuman (Olfactory-smelling odors)

Gejala Subjektif

1.      Mencium sesuatu seperti bau mayat, darah, dll

2.      Klien mengatakan mencium bau sesuatu

3.      Tipe ini sering menyertai klien yang mengalami dimensia, kejang atau penyakit serebrovaskular

Gejala Objektif

1.      Ekspresi wajah seperti mencium sesuatu

2.      Pergerakan cuping hidung dan mengarahkan hidung pada tempat tertentu

4)      Halusinasi perabaan (Tactile-feeling bodily sensations)

Gejala Subjektif

1.      Klien mengatakan ada sesuatu yang menyentuh kulitnya seperti tangan, binatang atau hantu

2.      Merasakan sesuatu dipermukaan kulit, seperti panas, dingin dan tersengat aliran listrik

Gejala Objektif

1.      Mengusap, menggaruk dan meraba permukaan kulit

2.      Terlihat menggerakkan badan seperti merasakan suatu rabaan

5)      Halusinasi pengecapan (Gustatory-experiencing tastes)

Gejala Subjektif

Klien seperti sedang merasakan makanan tertentu atau mengunyah sesuatu

Gejala Objektif

Mengecap sesuatu, mengunyah, meludah dan muntah.

6)   Cenesthetic & Kinestetic halucinations

Gejala Subjektif

Klien merasa fungsi tubuhnya tidak dapat terdeteksi, misalnya tidak punya otak dan tubuhnya seperti melayang di udara.

Gejala Objektif

Klien terlihat menatap tubuhnya sendiri dan merasakan sesuatu yang aneh tentang tubuhnya.

 

 

 

 

 

 

2.2.5        Proses Terjadinya Halusinasi

Halusinasi dapat berkembang dalam 4 fase (Direja, 2011), yaitu :

1)      Fase 1 (Non-Psikotik)

Pada tahap ini halusinasi mampu memberikan rasa nyaman pada klien, tingkat orientasi sedang, pada tahap ini halusinasi merupakan hal yang menyenangkan bagi klien.

Karakteristik : klien mengalami perasaan mendalam seperti ansietas, kesepian, rasa bersalah, takut dan mencoba untuk berfokus pada pikiran yang menyenangkan untuk meredakan ansietas.

Perilaku klien : tersenyum atau tertawa yang tidak sesuai, menggerakkan bibir tanpa suara, pergerakan mata cepat, respon verbal  lambat jika sedang asyik, diam dan asyik sendiri.

2)      Fase II (Non-Psikotik)

Pada tahap ini klien biasanya bersikap menyalahkan dan mengalami kecemasan tingkat berat, secara umum halusinasi dapat menyebabkan antisipasi.

Karakteristik : Pengalaman sensori menjijikan dan menakutkan, klien mulai lepas kendali dan mungkin mencoba untuk mengambil jarak dirinya dengan sumber yang dipersepsikan, klien mungkin mengalami dipermalukan oleh pengalaman sensori dan menarik diri dari orang lain, psikotik ringan.

Perilaku klien : Meningkatkan tanda-tanda sistem syaraf otonom akibat ansietas seperti peningkatan denyut jantung, pernapasan, dan tekanan darah. Rentang perhatian menyempit, asyik dengan pengalaman sensorik dan kehilangan kemampuan membedakan halusinasi.

3)      Fase III (Psikotik)

Pada fase ini klien biasanya tidak dapat mengontrol dirinya sendiri, tingkat kecemasan berat dan halusinasi tidak dapat ditolak lagi.

Karakteristik : Pengalaman klien berhenti melakukan perlawanan terhadap halusinasi dan mengarah pada halusinasi tersebut, kesepian jika sensori halusinasinya berhenti. Klien mengalami psikotik.

Perilaku klien : Keinginan yang dikendalikan halusinasi akan lebih diikuti kerusakan berhubungan dengan orang lain, rentang perhatian hanya beberapa detik atau menit, adanya tanda-tanda ansietas berat : berkeringat, tremor, tidak mampu mematuhi perintah.

4)      Fase IV (Psikotik)

Pada fase ini klien sudah sangat dikuasai oleh halusinasinya dan klien akan terlihat panik.

Karakteristik : Pengalaman sensori beberapa jam atau hari jika tidak ada intervensi terapeutik. Klien mengalami psikotik berat,

Perilaku klien : Perilaku tremor akibat panik, potensi kuat, perilaku kekerasan, agitasi, menarik diri atau katatonik. Tidak mampu berespon terhadap berita komplit dan lebih satu orang. Halusinasi berubah menjadi mengancam, memerintah dan memarahi klien. Klien menjadi takut, tidak berdaya, hilang control dan tidak dapat berhubungan secara nyata dengan orang lain dan lingkungan.

 

2.2.6        Rentang Respon Neurobiologis

Perilaku klien dapat diidentifikasi sepanjang rentang respon neurobiologis dari yang adaptif ke maladaptif (Stuart, 2007) sebagai berikut :

Respon Adaptif

Respon Maladaptif

 


 

- Perilaku logis

- Persepsi akurat

- Emosi konsisten

- Perilaku sesuai

- Hubungan sosial     harmonis

 

 

- Proses piker kadang terganggu (ilusi)

- Emosi berlebihan/kurang

- Perilaku tidak sesuai/tidak biasanya

- Menarik diri

- Gangguan proses pikir, waham

- Halusinasi

- Perubahan proses emosi

- Perilaku tidak terorganisir

- Isolasi sosial

 

 

 

 

 

 

 

 


(Gambar 2.3 : Rentang Respon Halusinasi)

 

Rentang respon halusinasi menurut (Stuart, 2007), yaitu :

1)      Pikiran logis yaitu ide yang berjalan secara logis koheren

2)      Persepsi akurat yaitu proses diterimanya rangsangan melalui panca indera yang didahului oleh perhatian (Attention) sehingga individu sadar tentang sesuatu yang ada didalam maupun diluar dirinya.

3)      Emosi konsisten yaitu manifestasi perasaan yang konsisten atau afek keluar disertai banyak koponen fisologik, dan biasanya berlangsung tidak lama.

4)      Perilaku sesuai yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam penyelesaian masalah masih dapat diterima oleh norma-norma sosial dan budaya umum yang berlaku.

5)      Hubungan sosial harmonis yaitu hubungan yang dinamis menyangkut hubungan antar individu dan kelompok dalam bentuk kerja sama.

6)      Proses pikir kadang terganggu (ilusi) yaitu misi interprestasi dari persepsi impuls eksternal melalui alat panca indera yang memproduksi gambaran sensori pada area tertentu ditolak kemudian diinterprestasikan sesuai dengan kejadian yang telah dialami sebelumnya.

7)      Emosi berlebihan atau kurang yaitu manifestasi perasaan atau afek keluar berlebihan atau kurang.

8)      Perilaku tidak sesuai/biasanya yaitu perilaku individu berupa tindakan nyata dalam menyelesaikan masalahnya tidak diterima oleh norma-norma sosial atau budaya umum berlaku.

9)      Menarik diri yaitu percobaan untuk menghindar interaksi dengan orang lain, menghindar hubungan dengan orang lain.

10)  Waham yaitu individu menginterprestasikan sesuatu yang tidak ada stimulus dari lingkungan.

11)  Kerusakan proses emosi yaitu terjadinya kerusakan manifestasi perasaan

12)  Perilaku tidak terorganisir

13)  Isolasi sosial yaitu sesuatu keadaan kesepian yang dialami seseorang karena orang lain mengatakan sikap yang negatif dan mengacam.

2.2.7        Mekanisme Koping Halusinasi

Mekanisme koping halusinasi menurut (Stuart, 2007), yaitu :

1)      Regresi : Perasaan yang mendorong klien menjadi pemalas untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

2)      Proyeksi : menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.

3)   Menarik diri : perasaan yang sulit untuk mempercayai orang lain dan selalu sibuk dengan stimulus internal.

 

2.2.8        Penatalaksanaan Halusinasi

Penatalaksanaan Halusinasi menurut (Yosep, 2016), yaitu :

1)      Penatalaksanaan Medis

Pemberian psikofarmakoterapi dengan memberikan obat-obatan anti psikotik, yaitu golongan Butirofenon :

a)      Halloperidol

b)      Haldol

c)      Serenace

d)     Ludomer

Pada kondisi akut biasanya di berikan dalam bentuk injeksi 3x5 mg melalui intramuskuler. Pemberian injeksi biasanya dilakukan 3x24 jam, setelah itu klien dapat diberikan obat per oral 3x1,5 mg atau 3x5 mg, yaitu golongan Fenotazine :

a)      Chlorpromazine

b)      Largactile

c)      Promactile

Diberikan per oral, pada kondisi akut biasanya di berikan 3x100 mg. Apabila kondisi sudah stabil dosis dapat dikurangi menjadi 1x100 mg pada malam hari saja.

2)      Penatalaksanaan Keperawatan

a)      Membantu klien untuk mengontrol halusinasinya

Mencoba menanyakan kepada klien tentang isi dari halusinasinya (apa yang didengar/dilihat/dirasakan), waktu terjadi halusinasi, frekuensi terjadinya halusinasi, situasi yang menyebabkan halusinasi muncul da perasaan yang di rasakan saat muncul halusinasi.

b)      Melatih klien untuk mengontrol halusinasinya

Untuk membantu klien dalam mengontrol halusinasinya dapat dilakukan dengan 4 cara yaitu :

1.      Menghardik halusinasi

Menghardik adalah salah satu upaya mengendalikan diri terhadap halusinasi dengan cara menolak halusinasi yang muncul. Klien di latih untuk mengatakan tidak pada halusinasinya dan tidak memperdulikan ketika halusinasi itu muncul.

2.      Bercakap-cakap dengan orang lain

Mengontrol halusinasi bisa juga dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain. Ketika klien bercakap-cakap dengan orang lain maka terjadi distraksi (pengalihan), fokus perhatian klien akan beralih dari halusinasi ke percakapan dengan orang lain tersebut.

3.      Melakukan aktivitas terjadwal

Melibatkan klien dalam pemberian terapi modalitas untuk mengurangi resiko halusinasi muncul lagi adalah dengan menyibukkan diri dengan membuat jadwal kegiatan yang teratur dari bangun pagi hingga tidur malam untuk menyibukkan diri klien.

4.      Menggunakan obat secara teratur

Agar klien mampu mengontrol halusinasinya maka perlu dilatih untuk menggunakan obat sesuai dengan program untuk mencegah kejadian putus obat sehingga menyebabkan klien mengalami kekambuhan.

c)      Melibatkan keluarga dalam tindakan

Di antara penyebab kambuh yang paling sering adalah faktor keluarga dan klien itu sendiri. Keluarga adalah support system terdekat dan 24 jam bersama dengan klien. Keluarga yang mendukung klien secara konsisten akan membuat klien patuh mengikuti program pengobatan. Perawat perlu memberikan pendidikan kesehatan pada keluarga bagaimana caranya merawat klien dengan halusinasi dirumah.

 

 

 

2.2.9    Komplikasi Halusinasi

Dampak dari halusinasi jika tidak segera ditangani menurut (Stuart, 2007), yaitu :

1)      Risiko Perilaku Kekerasan

Hal ini terjadi saat klien dan halusinasinya cenderung marah-marah dan mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungan.

2)      Isolasi Sosial

Hal ini terjadi karena perilaku klien yang cenderung marah-marah makan akan membuat dia di jauhi oleh orang lain dan di asingkan dari lingkungannya.

3)      Harga Diri Rendah

Hal ini terjadi karena klien menjauhi dan mengisolasi dari lingkungan, sehingga klien beranggapan diri mereka tidak berguna dan tidak mampu.

4)      Defisit Perawatan Diri

Hal ini terjadi karena klien merasa tidak berguna dan tidak mampu lagi sehingga klien kurang memperhatikan kebersihan dirinya.

 

 

 

 

 

 

 

2.3              Konsep Terapi Musik Klasik

2.3.1        Pengertian Terapi Musik Klasik

Terapi musik merupakan bentuk terapi yang diberikan pada seseorang menggunakan musik secara sistematis, terkontrol dan terarah untuk menyembuhkan, merehabilitasi, mendidik dan melatih anak-anak dan dewasa yang menderita gangguan fisik, mental, dan emosional (Musbikin, 2009).

Musik klasik yang dipakai dalam pemberian terapi pada klien yang menderita Skizofrenia Paranoid sangat besar pengaruhnya. Hal ini disebabkan karena musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu musik bersifat nyaman, menenangkan, relaksasi, berstruktur dan universal. Terapi musik klasik adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh semua orang karena tidak membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasikan alunan musik. Terapi musik klasik sangat mudah diterima oleh organ pendengaran yang kemudian melalui saraf pendengaran akan disaluran kebagian otak yang memproses emosi (sistem limbik) (Djohan, 2006).

Terapi musik klasik yang efektif menggunakan musik dengan komposisi yang tepat antara beat, ritme dan harmony yang disesuaikan oleh komposer. Jadi terapi musik yang efektif memang tidak bisa menggunakan sembarang musik. Musik yang digunakan dalam pemberian terapi ini adalah musik klasik (Haydn dan Mozart) yang dapat digunakan untuk memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial, musik klasik Mozart memiliki efek yang tidak di miliki komposer lain. Musik klasik Mozart memiliki kekuatan yang membebaskan, mengobati dan menyembuhkan (Musbikin, 2009).

 

2.3.2        Manfaat Terapi Musik Klasik

Hasil riset membuktikan bahwa musik mampu memberikan pengaruh tertentu terhadap perubahan gelombang otak. Salah satu jenis musik yang dianggap mampu mempengaruhi otak adalah musik klasik tetapi bukan berarti musik lain tidak memiliki pengaruh sama sekali (Fauzi, 2006).

Musik klasik dianggap mampu memberikan efek psikofisik yang menimbulkan kesan relaksasi, santai, membuat nadi berdetak konstan, memberi ketenangan, dan menurunkan stress. Tetapi penggunaan musik klasik ini memerlukan pertimbangan khusus tentang waktu tampilan musik, thap usia perkembangan, latar belakang budaya, aktivitas motorik dan estetika (Fauzi, 2006).

Musik klasik Mozart adalah musik klasik yang muncul 250 tahun yang lalu yang diciptakan oleh Wolgang Amadeus Mozart. Musik klasik muzart memberikan ketenangan, memperbaiki persepsi spasial, dan memungkinkan pasien untuk berkomunikasi baik dengan hati maupun pikiran. Musik klasik Mozart juga memiliki irama, melodi, dan frekuensi yang tinggi sehingga dapat merangsang dan menguatkan otak (Musbikin, 2009).

Terapi musik klasik merupakan salah satu intervensi yang bermanfaat bagi orang yang memiliki gangguan mental abadi (Grocke, 2008). Hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perawatan standar yang ditambah dengan terapi musik terdapat penurunan yang signifikan secara statistik pada klien dengan halusinasi pendengaran setelah mendengarkan musik (Musbikin, 2009).

 

 

2.3.3        Cara Kerja Terapi Musik Klasik

Musik klasik bersifat terapeutik yang artinya dapat menyembuhkan. Musik klasik menghasilkan rangsangan ritmis yang di tangkap melalui organ pendengaran di dalam tubuh dan kemudian diolah pada sistem saraf tubuh pada kelenjar otak yang selanjutnya mereorganisi interpretasi bunyi kedalam ritme internal pendengarnya. Ritme internal mempengaruhi metabolism tubuh manusia sehingga prosesnya berlangsung dengan lebih baik sehingga tubuh mampu membentuk sistem kekebalan yang lebih baik terhadap serangan penyakit (Prabowo & Regina, 2007).

(Gambar 2.4 : Respon otak terhadap terapi musik klasik)

 

Musik klasik mempunyai satu kelebian yaitu self-mastery yaitu kemempuan yang dimiliki untuk mengendalikan diri. Musik klasik mengandung vibrasi energy yang mampu mengaktifkan sel-sel didalam diri seseorang sehingga dengan aktifnya sel tersebut sistem kekebalan tubuh seseorang akan meningkat. Selain itu, musik dapat meningkatkan serotonin dan meningkatkan hormone yang sama baiknya dengan menurunkan kadar hormon Adrenal Corticotropine Hormone (ACTH) yang merupakan hormone penyebab stress (Fauzi, 2006).

(Gambar 2.5 : Otak mengendalikan seluruh organ ditubuh)

 

2.3.4        Tata Cara Pemberian Terapi Musik Klasik

Terapi musik klasik diberikan dalam durasi 10-15 menit per hari. Klien berbaring dengan posisi yang nyaman dan tempo diberikan lebih lambat yaitu 50-70 ketukan per menit menggunakan irama yang tenang (Djohan, 2006).

 

2.3.5        Strategi Pelaksanaan Terapi Musik

1)      Pengertian

Pelaksanaan terapi musik diberikan dengan memberikan stimulus suara pada klien sehingga terjadi perubahan perilaku (Djohan, 2006).

2)      Tujuan

a.       Klien mampu mengenali musik yang didengar

b.      Klien mampu menikmati musik sampai selesai

c.       Klien mampu menceritakan perasaan setelah mendengarkan musik

3)      Indikasi

a.       Pasien halusinasi

b.      Pasien menarik diri

c.       Pasien harga diri rendah

4)      Persiapan Alat

a.       Tape recorder/Hp/Laptop

b.      Lagu khusus yang di pakai musik klasik Mozart

 

No

Prosedur

Nilai

A

Persiapan

2

1

0

1

Membuat kontrak dengan klien yang sesuai indikasi

 

 

 

2

Mempersiapkan alat dan tempat

 

 

 

Score = 4

NA

Nilai = Jumlah Score

 

No

Butir yang dinilai

Nilai

B

Orientasi

2

1

0

1

Mengucapkan salam terapeutik

 

 

 

2

Menanyakan perasaan klien hari ini

 

 

 

3

Menjelaskan tujuan kegiatan

 

 

 

4

Menjelaskan aturan main

a.       Klien harus mengikuti kegiatan dari awal sampai akhir

b.       Bila ingin berhenti/ kekamar mandi harus meminta ijin terlebih dulu

c.        Lama kegiatan yang di lakukan 10-15 menit

 

 

 

Score = 8

NB

Nilai = Jumlah Score

No

Butir yang dinilai

Nilai

C

Kerja

2

1

0

1

Mengajak klien untuk memperkenalkan diri (nama, nama panggilan dan asal

 

 

 

2

Berikan tepuk tangan

 

 

 

3

Menjelaskan bahwa akan diputar satu lagu, kemudian klien mendengarkan dan menceritakan perasaan klien setelah mendengarkan lagu

 

 

 

4

Perawat memutar lagu dan klien mendengarkan

 

 

 

5

Kemudian klien menceritakan perasaannya setelah mendengarkan lagu

 

 

 

6

Berikan pujian

 

 

 

Score = 12

NC

Nilai = Jumlah Score

 

No

Prosedur

Nilai

D

Terminasi

2

1

0

1

Menanyakan perasaan klien setelah mendengarkan musik

 

 

 

2

Memberikan pujian

 

 

 

3

Menganjurkan mendengarka musik setiap hari

 

 

 

4

Membuat kontrak kembali untuk pertemuan berikutnya

 

 

 

Nilai = 8

ND

Nilai = Jumlah Score

 

(Tabel 2.1 : Strategi Pelaksanaan Terapi Musik Klasik)

 

 

 

2.4              Konsep Asuhan Keperawatan

2.4.1        Pengkajian

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar dari proses keperawatan. Tahap pengkajian terdiri atas pengumpulan data meliputi data biologis, psikologis, sosial dan spiritual. Data pada pengkajian dalam keperawatan jiwa dapat dikelompokkan menjadi faktor predisposisi, faktor presipitasi, penialaian terhadap stressor, sumber koping dan kemampuan koping yang di miliki oleh klien (Stuart, 2007).

Berbagai aspek pengkajian sesuai dengan pengkajian umum, pada formulir pengkajian proses keperawatan menurut (Keliat, 2006) meliputi beberapa faktor, yaitu:

1)      Identitas Klien dan Penanggung Jawab

Hal-hal yang perlu dikaji, yaitu nama, umur, jenis kelamin, agama, suku, status, pendidikan, pekerjaan, alamat.

2)      Alasan Masuk Rumah Sakit

Umumnya klien yang mengalami halusinasi di bawa ke Rumah Sakit karena keluarga merasa tidak mampu merawat, terganggu karena perilaku klien di rumah sehingga di bawa ke Rumah Sakit untuk mendapatkan pengobatan. Alasan masuk rumah sakit menurut (Keliat, 2014) di bagi menjadi 2, yaitu :

a)      Data Primer

Data yang di peroleh langsung dari klien melaui observasi dan wawancara.

 

b)      Data Sekunder

Data yang di peroleh dari keluarga atau catatan rekam medis di rumah sakit tempat klien di rawat.

3)      Faktor Predisposisi

a)      Faktor Perkembangan

Faktor perkembangan meliputi usia bayi yang tidak terpenuhi, kurangnya asupan makanan sejak kehamilan, malnutrisi sehingga menyebabkan gangguan tumbuh kembang.

b)      Faktor Sosiokultural

Tidak diterima di lingkungannya, merasa di singkirkan, kesepian, dan tidak percaya pada lingkungannya.

c)      Faktor Biokimia

Stress yang berlebihan yang di alami oleh seseorang

d)   Faktor Psikologis

Mudah kecewa, mudah putus asa, kecamasan yang tinggi dan cenderung menutup diri.

e)      Faktor Genetik dan Pola Asuh

Penelitian menunjukkan bahwa anak sehat yang di asuh oleh orang tua yang mengalami Skizofrenia Paranoid cenderung mengalami Skizofrenia Paranoid.

4)      Faktor Presipitasi

a)      Berlebihannya proses informasi pada sistem syaraf yang menerima dan memproses informasi di hipotalamus otak.

b)      Mekanisme penghantar listrik di syaraf terganggu (mekanisme penerimaan abnormal).

c)      Adanya hubungan yang bermusuhan, tekanan, isolasi sosial, perasaan tidak berguna dan putus asa.

5)      Faktor Pemicu

a)      Kesehatan

Nutrisi dan tidur yang kurang, ketidakseimbangan irama sirkandian, kelelahan dan obat-obatan sistem syaraf pusat.

b)      Lingkungan

Lingkungan sekitar yang memusuhi, masalah dalam rumah tangga, kehilangan dan tekanan.

c)      Sikap

Merasa tidak mampu (harga diri rendah), putus asa (tidak percaya diri), merasa gagal (kehilangan motivasi), dan tidak mampu memenuhi kebutuhan spiritual.

d)     Faktor Perilaku

Respon klien terhadap halusinasi dapat berupa curiga, ketakutan, perasaan tidak aman, gelisah, bingung, perilaku merusak diri, kurang perhatian, tidak mampu mengambil keputusan serta tidak dapat membedakan keadaan nyata dan tidak nyata.

 

 

 

 

6)      Untuk memvalidasi informasi tentang halusinasi yang di perlukan meliputi :

a)      Isi halusinasi

Dapat dikaji dengan menanyakan pada klien tentang apa yang dirasakan/didengar/dilihat/dicium.

b)      Waktu dan frekuensi halusinasi

Dikaji dengan menanyakan secara langsung pada klien kapan halusinasi itu muncul, berapa kali sehari, seminggu atau sebulan.

c)      Situasi pencetus halusinasi

Melakukan observasi situasi seperti apa yang di alami oleh klien saat halusinasi ini akan muncul.

d)     Respon klien

Untuk menentukan sejauh mana halusinasi kita bisa mengkaji respon klien apakah klien masih dapat mengontrol halisinasinya atau klien sudah tidak dapat mengontrolnya.

7)      Pemeriksaan Fisik

Hal-hal yang perlu dikaji saat melakukan pemeriksaan fisik adalah tanda-tanda vital (suhu, nadi, pernafasan dan tekanan darah), berat badan, tinggi badan serta keluhan fisik yang di rasakan klien.

Pengkajian pada status mental meliputi :

a)      Penampilan : tidak rapi, cara berpakaian tidak serasi.

b)      Pembicaran : tidak terorganisir atau berbelit-belit.

c)      Aktivitas motorik : meningkat atau menurun.

d)     Alam perasan : suasan hati dan emosi.

e)      Afek : sesuai atau maladaptive seperti tumpul, datar dan ambivalen.

f)       Interaksi : respon verbal dan non verbal.

g)      Persepsi : ketidakmampuan menginterpretasikan stilmulus dengan informasi yang ada.

h)      Proses pikir : proses informasi yang di terima tidak berfungsi dengan baik sehingga mempengaruhi proses pikir.

i)        Isi pikir : berisikan keyakinan berdasarkan penilaian realistic.

j)        Tingkat kesadaran : orientasi waktu, tempat dan orang.

k)      Memori

1.      Memori jangka panjang : mampu mengingat peristiwa setelah lebih dari satu tahun yang lalu.

2.      Memori janhka pendek : mampu mengingat peristiwa satu minggu yang lalu dan pada saat dikaji.

l)        Kemampuan konsentrasi dan berhitung : mampu menyelesaikan tugas dengan berhitung sederhana.

m)    Kemampuan penilaian : apakah mempunyai masalah yang ringan sampai dengan berat.

n)      Daya tilik diri : kemampuan dalam mengambil keputusan tentang diri.

8)      Kebutuhan Persiapan Pulang

Mengkaji pola aktivitas sehari-hari termasuk makan dan minum, BAB dan BAK, istirahat tidur, perawatan diri, pengobatan dan pemeliharaan kesehatan serta aktivitas di dalam dan di luar rumah.

9)      Mekanisme Koping

a)      Regresi : Perasaan yang mendorong klien menjadi pemalas untuk melakukan kegiatan sehari-hari.

b)      Proyeksi : menjelaskan perubahan suatu persepsi dengan berusaha mengalihkan tanggung jawab kepada orang lain.

c)      Menarik diri : perasaan yang sulit untuk mempercayai orang lain dan selalu sibuk dengan stimulus internal.

10)   Maslah Psikososial dan Lingkungan

Masalah yang berhubungan dengan ekonomi, pekerjaan, pendidikan, dan tempat tinggal.

 

2.4.2        Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan yang muncul pada klien dengan halusinasi menurut (Keliat, 2006), yaitu :

1)      Halusinasi

2)      Risiko Perilaku Kekerasan

3)      Isolasi Sosial

4)      Harga Diri Rendah

5)      Berduka Disfungsional

6)      Defisit Perawatan Diri

7)      Gangguan Pemenuhan Kesehatan

 

 

 

2.4.3        Intervensi Keperawatan

            Berdasarkan diagnosa keperawatan yang ada, maka rencana keperawatan disusun sebagai berikut :

            Diagnosa 1 : Halusinasi Pendengaran (Keliat, 2007).

1)      Tujuan Umum

Klien dapat mengontrol halusinasinya.

2)      Tujuan Khusus

a)      Klien dapat membina hubungan saling percaya

b)      Klien dapat mengenal halusinasinya

c)      Klien dapat mengontrol halusinasinya

d)     Klien dapat dukungan keluarga dalam mengontol halusinasinya

e)      Klien dapat memenfaatkan obat dengan baik

3)      Intervensi

SP I : Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

Intervensi :

a)      Bina hubungan saling percaya : dengan menggunakan komunikasi terapeutik, beri salam, perkenalkan diri, jelaskan tujuan pertemuan, tunjukkan rasa empati, buat kontak yang jelas.

b)      Identifikasi halusinasi : isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus, perasaan, dan respon.

c)      Jelaskan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan.

d)     Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik.

e)      Masukkan pada jadwal kegiatan harian.

SP II : Klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara minum obat.

Intervensi :

a)      Evaluasi kegiatan menghardik. Beri pujian.

b)      Latih cara mengontrol halusinasi dengan cara 6 benar minum obat yaitu : benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, benar frekuensi dan kontinuitas minum obat.

c)      Masukkan pada jadwal kegiatan harian.

SP III : Klien dapat mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap.

Intervensi :

a)      Evaluasi kegiatan menghardik dan minum obat lalu beri pujian.

b)      Latih cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap.

c)      Masukkan dalam kegiatan harian.

SP IV : Klien dapat mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian.

Intervensi :

a)      Evaluasi kegiatan menghardik, minum obat dan bercakap-cakap. Beri pujian.

b)      Latih cara mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian.

c)      Masukkan pada jadwal kegiatan.

 

 

 

SP V : Klien dapat mengontrol halusinasi dengan baik.

Intervensi :

a)      Evaluasi semua kegiatan. Dan beri pujian.

b)      Latih kegiatan harian.

c)      Nilai apakah kemampuan yang di miliki sudah mandiri.

d)     Nilai apakah halusinasi terkontrol.

 

2.4.4    Implementasi

Implementasi adalah realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam pelaksanaan juga meliputi pengumpulan dan berkelanjutan, mengobservasi respons klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data yang baru.

            Contoh Format Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (Keliat, 2014)

No

Tanggal & Jam

Implementasi Keperawatan

Evaluasi

 

 

 

 

 

(Tabel 2.2 : Format Pelaksanaan Tindakan Keperawatan)

 

2.4.5    Evaluasi

Evaluasi adalah penilaian dengan cara membandingkan perubahan keadaan pasien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan. Evaluasi dapat dilakukan dengan pendekatan SOAP :

S    : Respon subjektif klien terhadap tindakan keperawatan yang telah dilaksanakan

O   : Respon objektif klien terhadap tindakan yang telah dilaksanakan

A   : Analisa ulang data subjektif dan objektif untuk menyimpulkan apakah masalah masih tetap atau muncul masalah baru.

P    : Perencanaan atau tidak lanjut berdasarkan hasil analisa pada respon klien.

Rencana tindakan lanjut dapat berupa :

1.      Rencana teruskan, jika masalah tidak berubah

2.      Rencana dimodifikasi jika masalah tetap, semua tindakan sudah dijalankan tetapi hasil belum memuaskan.

3.      Rencana dibatalkan jika ditemukan masalah baru dan bertolak belakang, dengan masalah yang ada serta diagnosa lama dibatalkan

4.      Rencana selesai jika tujuan sudah tercapai

Contoh Format Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (Keliat, 2014)

No

Tanggal & Jam

Implementasi Keperawatan

Evaluasi

 

 

 

 

 

(Tabel 2.3 : Format Pelaksanaan Evaluasi Keperawatan)

 

 BAB III

METODE PENULISAN

3.1       Desain Penulisan

Desain penulisan merupakan hasil akhir pada suatu tahap keputusan yang dibuat oleh peneliti berhubungan dengan bagaimana suatu penelitian bisa diterapkan (Nursalam, 2008).

Desain penulisan yang di pakai dalam karya tulis ini adalah studi kasus untuk mengeksplorasi masalah Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.

 

3.2       Batasan Istilah

Batasan istilah adalah definisi berdasarkan karakteristik yang diamati dari sesuatu yang didefinisikan tersebut. Karakteristik yang dapat diamati (diukur) itulah yang merupakan kunci dari batasan istilah. Jadi batasan istilah dirumuskan untuk kepentingan akurasi, komunikasi, dan replikasi (Nursalam,2008).

Batasan istilah dalam studi kasus ini adalah Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso.

 3.3       Partisipan

Partisipan dalam penelitian adalah subjek (misalnya manusia : klien) yang memenuhi kriteria yang telah ditetapkan (Nursalam, 2008). Para peneliti dapat memilih beberapa opsi, bergantung pada apakah person tersebut adalah orang yang marginal, hebat atau biasa (Plummer, 1983 dalan Cresswel, 2014).

Partisipan dalam penyusunan studi kasus ini adalah 1 klien dengan diagnosis medis Skizofrenia Paranoid.

 

3.4       Lokasi dan Waktu

Studi kasus (di rumah sakit) lama waktu sejak klien pertama kali masuk rumah sakit sampai pulang dan atau klien yang dirawat minimal 3 hari. Jika sebelum 3 hari klien sudah pulang, maka perlu penggantian klien lainnya yang sejenis, dan bila perlu dapat dianjurkan dalam bentuk home care.

Pada studikasusini di lakukan Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso selama 3 hari.

 

3.5       Pengumpulan Data

Pengumpulan data adalah suatu proses pendekatan kepada subjek dan proses pengumpulan karakteristik subjek yang diperlukan dalam suatu penelitian (Nursalam, 2008). Reaksi yang khas ketika memikirkan pengumpulan data kualitatif adalah dengan berfokus pada jenis data aktual dan prosedur pengumpulannya. Akan tetapi, pengumpulan data mencakup pencarian izin, pelaksanaan sampling kualitatif yang baik, mengembangkan cara-cara untuk merekam informasi, baik secara digital maupun pada kertas, menyimpan data, mengantisipasi persoalan etika yang muncul. Peneliti sering kali memilih untuk melakukan wawancara dan pengamatan.

Pengamatan :

1)      Mengumpulkan catatan lapangan dengan melakukan pengamatan sebagai seorang partisipan.

2)      Mengumpulkan catatan lapangan dengan melakukan pengamatan sebagai seorang pengamatan.

3)      Mengumpulkan catatan lapangan dengan menghabiskan lebih banyak waktu sebagai partisipan daripada sebagai pengamatan.

4)      Mengumpulkan catatan lapangan dengan menghabiskan lebih banyak waktu sebagai pengamatan daripada partisipan.

5)      Mengumpulkan catatan lapangan pertama dengan mengamati sebagai “outsider” dan kemudian dengan masuk ke dalam lingkungan dan mengamati sebagai seorang “insider”.

Wawancara :

1)      Melaksanakan tak terstruktur, wawancara terbuka dan membuat catatan-catatan wawancara

2)      Melaksanakan tak terstruktur, wawancara terbuka, merekam wawancara tersebut, dan menulis wawancara tersebut.

3)      Melaksanakan wawancara semi terstruktur, merekam wawancara tersebut, dan menulis wawancara tersebut.

4)      Melaksanakan wawancara kelompok fokus, merekam wawancara tersebut, dan menulis wawancara tersebut.

5)      Melaksanakan beragam jenis wawancara: e-mail, tatap muka, kelompok focus, kelompok focus online, telepon.

Dokumen :

1)      menulis catatan lapangan selama studi riset.

2)      Meminta seorang partisipan untuk memelihara jurnal atau diary selama studi riset tersebut.

3)      Mengumpulkan surat pribadi daripada partisipan.

4)      Menganalisis dokumen public (misalnya, memo, notulen, rekaman, dan arsip resmi).

5)      Mempelajari autobiografi dan biografi.

6)      Meminta partisipan untuk membuat foto atau video.

7)      Melaksanakan audit tabel.

8)      Meninjau rekam medis.

Bahan Audiovisual

1)      mempelajari bukti jejak fisik (misalnya, tapak kaki di salju).

2)      Merekam dalam video atau memfilmkan situasi social, individual atau kelompok.

3)      Mempelajari halaman utama website.

4)      Mengumpulkan suara (misalnya, music, tawa anak-anak, klakson mobil).

5)      Mengumpulkan email atau pesan diskusi (misalnya, facebook).

6)      Mengumpulkan pesan teks telepon (misalnya, twitter).

7)      Mempelajari benda atau objek ritual favorit.

 

 

3.6       Uji Keabsahan Data

            Uji keabsahan data dimaksudkan untuk menguji kualitas data dan informasi sehingga menghasilkan data dengan validitas tinggi. Uji keabsahan data dilakukan dengan cara :

1)      Memperpanjang waktu pengamatan atau tindakan

2)      Sumber informasi tambahan menggunakan triangulasi data yaitu (klien, keluarga,dan perawat) yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti.

 

3.7       Analisis Data

Analisis data merupakan suatu proses atau analisa yang dilakukan secara sistematik terhadap data yang telah dikumpulkan dengantujuan supaya bisa dideteksi (Nursalam, 2008).

            Analisa data dalam penelitian dimulai dengan menyiapkan dan mengorganisasikan data (yaitu, data teks seprti transkrip atau data gambar seperti foto untuk análisis, kemudian mereduksi data tersebut menjadi tema melalui proses pengodean dan peringkasan kode dan terakhir menyajikan data dalam bentuk bagan, tabel atau pembahasan (Cresswell, 2014).

Urutan dalam análisis data yaitu :

1)      Pengumpulan data

     Semua data dikumpulkan dari hasil (wanwancara, observasi dan dokumen). Kemudian hasilnya ditulis dalam bentuk catatan lapangan, kemudian di salin dalam bentuk transkrip (catatan terstruktur).

 

2)      Mereduksi data

     Data dari hasil  (wanwancara, observasi dan dokumen) yang telah disalin dalam bentuk transkrip kemudian dikelompokkan menjadi data subyektif dan data obyektif, di análisis berdasarkan hasil pemeriksaan diganostik kemudian dibandingkan dengan normal.

3)      Penyajian data

     Penyajian data dapat disajikan dalam bentuk tabel, gambar, bagan dan teks naratif. Kerahasiaan klien dijaga dengan mengaburkan identitasnya.

4)      Kesimpulan

     Dari data yang disajikan, kemudian data di bahas dan di bandingkan dengan hasil-hasil penulisan terdahulu dan secara teoritis dengan perilaku kesehatan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan cara induksi. Data yang dikumpulakn terkait data pengkajian, diagnosis, perencanaan, tindakan dan evaluasi.

 

3.8       Etika Penelitian

            Ditemukan etika yang mendasar penyusunan studi kasus terdiri dari :

1)      Informed Consent (Persetujuan menjadi klien)

Subjek harus mendapatkan informasi secara lengkap tentang tujuan penelitian yang akan dilaksanakan, mempunyai hak untuk bebas berpartisipasi atau menolak menjadi responden. Pada Informed consent juga perlu dicantumkan bahwa data yang diperoleh hanya akan dipergunakan untuk pengembangan ilmu (Nursalam, 2008).

Informed consent diberikan kepada responden yang diteliti. Peneliti memberi penjelasan mengenai maksud dan tujuan penelitian pada responden, jika responden bersedia maka harus menandatangani lembar persetujuan dan apabila responden menolak, peneliti tidak akan memaksa dan tetap menghormati haknya(Nursalam, 2008).

2)      Anonymity (Tanpa nama)

Subjek mempunyai hak untuk meminta bahwa data yang didapat untuk disembunyikan yaitu bias dengan tanpa nama/initial (Nursalam,2008).

3)      Confidentiality (Kerahasiaan)

Subjek berhak untuk meminta bahwa data yang di berikan untuk dirahasiakan (Nursalam, 2008).      

 

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1       Hasil Penelitian

4.1.1    Gambaran Lokasi Pengambilan Data

            Lokasi pengambilan data studi kasus Asuhan Keperawatan Jiwa pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran yang dilakukan oleh peneliti di RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso. Alamat Rumah Sakit di Jalan Piere Tendean Nomor 01 Bondowoso. Tempat penelitian di Paviliun Seroja merupakan ruangan yang dikhususkan untuk klien dengan gangguan jiwa dan didirikan pada tahun bulan Agustus tahun 2015. Terdapat 1 ruangan yang berisi 20 tempat tidur yang dikhususkan untuk klien yang sudah berada dalam fase maintenance dan terdapat 2 kamar isolasi yang dikhususkan untuk klien yang masih berada dalam fase akut.

Pada saat penelitian terdapat 12 orang dengan gangguan jiwa yang dirawat inap di Paviliun Seroja dengan diagnosa medis paling banyak Skizofrenia diantaranya Skizofrenia Paranoid, Skizofrenia Hebefrenik, dan Skizofrenia Simplek. Masalah keperawatan yang muncul seperti Halusinasi Pendengaran, Waham Kebesaran, Harga Diri Rendah, dan Risiko Perilaku Kekerasan. Struktur organisasi Paviliun Seroja terdiri dari 11 orang tenaga perawat yang terdiri dari 1 kepala ruang yaitu Frits Yogyantomo, S.Kep Ns, kepala tim 1 yaitu Subiyanto, S.Kep Ns degan 4 orang perawat pelaksana yaitu Ervan Agung, S.Kep Ns, Siswanto, Amd.Kep, Yuniah Purwanti, S.Kep Ns, dan Khuratul A’yun, Amd.Kep, kepala tim 2 yaitu Yeni Irawati, S. Kep Ns dengan 4 orang perawat pelaksana yaitu Kukuh Febri, S.Kep Ns, Moch. Syamsi, Amd.Kep, Ika Kurnia Dewi, Amd.Kep dan Dewi Widyawati, Amd.Kep, serta 1 orang administrasi. Klien yang peneliti ambil merupakan klien yang berada difase maintenance dan menempati ruangan rawat inap. Penelitian dalam studi kasus ini merupakan Asuhan Keperawatan Jiwa pada Ny. S yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran di Paviliun Seroja RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso tahun 2017.

 

4.1.2        Pengkajian Keperawatan

Hasil pengkajian pada Ny. S tanggal 21 Agustus 2017 pukul 07.00 WIB, pada studi kasus ini diperoleh dengan cara alloanamnesa yaitu mengadakan pengamatan atau observasi secara langsung dan menelaah catatan medis. Pengkajian ini meliputi nama Ny. S jenis kelamin perempuan berusia 27 tahun (22-03-1990) bertempat tinggal di desa Pejaten Rt 11 Rw 02 Bondowoso. Pendidikan terakhir Ny. S adalah Sekolah Dasar (SD) dan sampai saat ini Ny. S tidak pernah bekerja. Ny. S beragama islam dengan status pernikahan janda. Ny. S saat ini dirawat di Paviliun Seroja dengan No. RM 0-71-45-64. Peneliti mendapatkan data dan sumber informasi langsung dari klien dan keluarga.

Ny. S mengatakan sering mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh klien untuk kabur dari rumah. Keluarga klien mengatakan sudah 4 hari klien mencoba memaku kepalanya karena tidak bisa tidur. Keluarga juga mengatakan bahwa sejak 11 bulan klien juga putus obat.

Ny. S berasal dari desa Pejaten Rt 11 Rw 02 Bondowoso, menurut pengakuan dari keluarga klien sering sekali kabur dari rumah. Klien berhasil melarikan diri dan kabur selama berhari-hari untuk mencari suami dan laki-laki yang ada disekitar rumah klien. Saat ditemukan Ny. S langsung dibawa pulang oleh keluarganya. Pada saat dirumah klien sering bolak balik kamar mandi untuk mandi. Ny. S juga mengaku tidak bisa tidur kurang lebih 3 hari, dan klien mendengar bisikan yang memintanya memaku kepalanya agar dia bisa tidur. Suara bisikan tersebut juga menyuruh klien kabur dari rumahnya.

Keluarga Ny. S mengatakan bahwa Ny. S pernah mengalami gangguan jiwa 10 tahun yang lalu. Ny. S pernah menjalani pengobatan sebelumnya tetapi sudah 11 bulan klien mengalami putus obat. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Ketidakefektifan Regimen Terapeutik. Keluarga Ny. S mengatakan bahwa klien tidak pernah mengalami penyakit fisik dan gangguan tumbuh kembang.

Ny. S dan kluarga mengatakan bahwa Ny. S pernah mengalami aniaya seksual yaitu pelecehan pada umur 17 tahun yang pelakunya sampai saat ini tidak diketahui dan pada saat kejadian terdapat saksi yaitu salah satu warga desa Pejaten. Saksi tersebut mengatakan bahwa dia melihat Ny. S bersama dengan beberapa laki-laki yang identitasnya tidak dia kenal. Masalah biologis yang dialami oleh klien adalah pelecehan seksual yang dialami oleh klien saat kabur dari rumahnya. Masalah psikologis yang dialami oleh klien adalah trauma seksual sehingga menyebabkan gangguan pada persepsi dan sensorinya dan klien mengalami halusinasi pendengaran. Masalah sosial yang dialami oleh klien adalah dijauhi oleh tetangga dan orang terdekatnya. Masalah kultural yang dialami klien adalah klien tidak mau lagi mengikuti semua kegiatan yang ada di desa Pejaten. Masalah spiritual yang dialami klien adalah klien tidak dapat menjalankan ibadahnya selama mengalami gangguan jiwa. Masalah Keperawatan yang dialami Ny. S yaitu Sindrom Pasca Trauma.

Keluarga Ny. S tidak ada yang mengalami gangguan jiwa sebelumnya. Tidak terdapat gejala bahwa anggota keluarga Ny. S mengalami gangguan jiwa. Keluarga Ny. S tidak menjalani pengobatan gangguan jiwa.

Pada saat dilakukan pengkajian Ny. S berada pada kondisi sadar (composmentis) dengan GCS (4-5-6). Pada saat dilakukan pemeriksaan tanda vital didapatkan hasil seperti tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 80x/menit, suhu 36,7o C, pernafasan 20x/menit. Pada saat dilakukan pengukuran didapatkan hasil seperti berat badan 34 Kg dan tinggi badan           138 Cm. Ny. S mengeluh nyeri di kepalanya karena dipaku.

Pada saat dilakukan pemeriksaan fisik kepala saat di inspeksi bentuk kepala normal, tidak ada benjolan, rambut pendek, kusam, tidak ada kutu, terdapat ketombe, terdapat luka tusukan paku 2 buah. Saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan, nyeri didaerah yang tertusuk paku.

Mata saat di inspeksi bentuk mata simetris, sklera putih, konjungtiva anemis, pupil berespon terhadap cahaya, pupil isokor kanan dan kiri, tidak ada lesi. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.

Hidung saat di inspeksi bentuk hidung normal, tidak ada lesi, tidak ada deformitas tulang, tidak terdapat cairan yang keluar dari hidung. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.

Mulut saat di inspeksi bentuk mulut normal, tidak ada lesi, tidak ada perdarahan di gusi, terdapat karies gigi, gigi kuning, lidah kotor. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.

Telinga saat di inspeksi bentuk telinga normal, simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi, tidak ada cairan yang keluar dari telinga, terdapat banyak serumen di lubang telinga kanan dan kiri, tidak ada lesi. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.

Leher saat di inspeksi bentuk leher normal, tidak ada pembesaran kelenjar thyroid, tidak ada lesi. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.

Thorax terdapat 2 bagian yang diperiksa yaitu paru saat di inspeksi bentuk dada normal chest, expansi dada simetris kanan dan kiri, tidak ada lesi, tidak ada retraksi dada. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan, Vocal Fremitus teraba sama kanan dan kiri. Pada saat diperkusi suara paru sonor. Pada saat di auskultasi tidak ada suara nafas tambahan, suara nafas vesikuler. Jantung saat di inspeksi ictus cordis tidak terlihat di ICS 5. Pada saat dipalpasi tidak ada lesi, tidak ada nyeri tekan, tidak terdapat kardiomegali. Pada saat diperkusi  suara jantung pekak. Pada saat di auskultasi bunyi jantung S1 S2 tunggal.

Abdomen saat di inspeksi bentuk abdomen supel, tidak ada lesi, tidak ada spider navy. Pada saat di auskultasi bising usus 5x/menit. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan, tidak ada masa (hepatomegali dan splenomegaly), tidak ada acites. Pada saat diperkusi suara abdomen tympani.

Ekstermitas saat di inspeksi ekstremitas atas dan bawah lengkap, tidak ada cacat, tidak ada lesi. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.

Genetalia dan anus saat di inspeksi bentuk normal, tidak ada lesi, tidak ada cairan yang keluar, tidak ada hemoroid. Pada saat dipalpasi tidak ada nyeri tekan.

Ny. S merupakan anak terakhir dari 4 bersaudara. Ayah dan ibu Ny. S masih hidup. Ny. S tinggal 1 rumah dengan kedua orang tuanya. Sedangakan 3 saudaranya sudah menikah dan tinggal dengan keluarganya masing-masing. Pengambilan keputusan dilakukan oleh orang tua Ny. S, dan pola komunikasi Ny. S tertutup pada orang lain dan keluarganya.

Ny. S mengatakan menyukai semua bagian tubuhnya. Ny. S mengatakan bahwa namanya adalah Ny. S umur 12 tahun, klien empat bersaudara dan klien anak bungsu, jenis kelamin perempuan,  pendidikan terakhir SD, sudah pernah menikah tetapi bercerai dan sekarang sudah tidak punya suami. Klien beragama islam. Ny. S mengatakan tidak punya pekerjaan dan klien tidak punya peran apapun dirumahnya. Ny. S mengatakan ingin cepat sembuh dan menikah lagi dan ingin segera pulang kerumah.    Ny.S mengatakan malu karena suaminya sudah meninggalkannya. Masalah keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Harga Diri Rendah.

Ny. S mempunyai keluarga yang terdekat/berarti. Semua keluarganya memberi dukungan pada klien. Ny. S mengatakan tidak pernah mengikuti kegiatan apapun di masyarakat. Ny. S mengatakan takut dan selalu curiga jika ada banyak orang disekitarnya. Masalah Keperawatan yang dialami Ny. S yaitu Gangguan Proses Pikir (Waham Curiga).

Ny. S mengatakan beragama Islam. Keluarga Ny. S mengatakan bahwa Ny. S hampir tidak permah sholat dan selalu menolak ketika diminta sholat dan saat di Rumah Sakit Ny. S tidak pernah sholat. Masalah Keperawatan yang di alami yaitu Hambatan Religiositas.

 Ny. S berpakaian tidak rapi. Ny. S dalam berpakaian dirumah selalu memakai jilbab dan pakaian tertutup. Saat di Rumah Sakit klien tidak mau diminta untuk mengganti pakaiannya. Kakinya bau tidak bersih, kuku kaki dan tangan kotor. Masalah Keperawatan yang dialami Ny. S yaitu Defisit Perawatan Diri (Mandi dan Berhias).

Interaksi saat wawancara Ny. S kurang kooperatif, pembicaraan inkoheren, ngelantur, selalu menanyakan pertanyaan yang sama. Kontak mata kurang, nada suara kurang jelas. Pembicaraan kurang jelas dan tidak bisa dimengerti. Nada suara tidak jelas dan terkadang tidak mau menjawab pertanyaan dari perawat. Malasah Keperawatan yang dialami Ny. S yaitu Hambatan Komunikasi Verbal.

Aktivitas motorik Ny. S kompulsif. Ny. S dalam beraktivitas tidak ada hambatan ataupun gangguan, ekstremitas atas dan bawah normal bisa digerakkan. Ny. S mampu melakukan aktivitas seperti menyapu, mengepel.

Kesadaran kuantitatif Ny. S composmentis, GCS 456 yaitu 4 membuka mata dengan spontan, 5 pembicaraan jelas, dan 6 dapat mengikuti perintah. Kesadaran kualitatif yaitu adanya limitasi (pembatasan), Ny. S selalu membatasi diri untuk bergaul dan berbicara dengan temannya. Ny. S selalu merasa takut dan curiga. Masalah Keperewatan yang dialami Ny. S yaitu Gangguan Proses Pikir (Waham Curiga).

Orientasi Ny. S pada orientasi waktu Ny. S mampu menyebutkan hari ini Senin. Tetapi klien melupakan tanggal, bulan dan tahun. Orientasi tempat Ny. S mampu mengenali dimana tempat dia berada sekarang RS Umum Bondowoso. Orientasi orang Ny. S mampu menyebutkan beberapa orang yang dia kenal, teramsuk perawatnya. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Disorientasi (Waktu dan Orang)

Perasaan Ny. S mengenai tingkat emosi mengatakan perasaannya biasa saja dan kadang suka tertawa sendiri. Afek adequat yaitu perasaan klien sesuai dengan keadaan seperti sedih (klien menangis), senang (klien tertawa). Persepsi sensori Ny. S mengatakan sering mendengar bisikan yang menyuruhnya memaku kepalanya agar bisa tidur. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Halusinasi Pendengaran.

Proses pikir yang di alami oleh Ny. S yaitu arus pikir sirkumstansial pembicaraan Ny. S yang berbelit-belit tetapi sampai pada tujuan pembicaraan. Isi pikir yaitu obsesi pikiran yang selalu muncul yang walaupun klien berusaha untuk menghilangkannya. Bentuk pikir dereistik yaitu klien mengatakan mendengar bisikan yang menyuruhnya memaku kepalanya agar bisa tidur. Non realistik yaitu klien mengatakan dirinya saat ini masih berumur 12 tahun padahal kenyataannya klien berumur 27 tahun. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Gangguan Proses Pikir (Waham Curiga).

Memori Ny. S pada daya ingat jangka panjang Ny. S masih ingat kejadian masa lalu, kalau dirinya pernah menikah. Daya ingat jangka pendek Ny. S masih mengingat kejadian minggu lalu seperti ibu klien datang menjenguknya. Daya ingat saat ini Ny. S mengatakan masih ingat kalau tadi pagi sudah makan dan mandi.

Tingkat konsentrasi dan berhitung Ny. S mampu berhitung 1 sampai 10 secara sederhana. Kemampuan penilaian mengalami gangguan ringan. Tingkat kemampuan Ny. S masih baik, artinya klien masih mampu menerapkan cuci tangan sebelum makan dan mandi pakai sabun. Daya tilik diri Ny. S menyadari bahwa dirinya sekarang di rawat di RS karena mengalami sakit bukan gangguan jiwa. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Gangguan Proses Pikir.

Kebutuhan dasar Ny. S memerlukan bantuan minimal Ny. S bisa menyiapkan makan secara mandiri dan makan tanpa bantuan orang lain, tetapi untuk mempersiapkan alat makan dan lauknya dibantu oleh perawat. Frekuensi makan 3 x sehari yaitu pagi pukul 05.00, siang pukul 12.00, dan malam pukul 18.00. Ny. S sering tidak menghabiskan porsi makan yang diberikan. Ny. S mampu makan sendiri tanpa bantuan orang lain. Ny. S mampu mencuci piring sendiri. BAB/BAK memerlukan bantuan minimal Ny. S mampu melakukan BAB/BAK secara mandiri tanpa bantuan orang lain, tetapi untuk tempat kamar mandi dan peralatan mandi disiapkan oleh oleh perawat. Ny. S BAB/BAK sendiri dikamar mandi /WC. Ny. S BAB 3 x dalam seminggu dan BAK 3 x sehari. Mandi Ny. S memerlukan bantuan minimal Ny. S mampu melakukan mandi secara mandiri tanpa bantuan orang lain, tetapi untuk peralatan mandi disiapkan oleh perawat. Frekuensi mandi 2 x sehari (pagi dan sore) memakai sabun. Berpakaian/berhias memerlukan bantuan minimal Ny. S mampu melakukan/memasang pakaian secara mandiri tanpa bantuan orang lain, tetapi dalam menyiapkan pakaiannya dibantu oleh perawat. Sampai saat ini Ny. S tidak mau mengganti baju menggunakan baju pasien, klien masih menggunakan baju yang dia bawa dari rumah. Saat perawat mencoba mengganti pakaiannya klien menolak dan menghindar. Istirahat dan tidur Ny. S tidur siang, lama 12.00 s/d 14.00 WIB, tidur  malam, lama : 20.00 s/d 05.00 WIB. Aktivitas sebelum/sesudah tidur membaca doa, merapikan tempat tidur.

Ny. S minum obat 3x sehari. Saat ini klien sedang menjalani pengobatan di RS agar klien tidak putus obat kembali. Aktivitas Ny. S dalam ruangan yaitu membereskan tempat tidur dan melipat pakaian. Aktivitas di luar ruangan mencuci piring, mengikuti senam, dan mencuci baju.

Mekanisme koping Ny. S adaptif saat berbicara dengan orang lain. Mekanisme koping maladaptif yang dilakukan seperti bicara sendiri, lebih sering diam dan menyendiri, tidak mau bersosialisasi dengan orang lain. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Koping Individu Inefektif.

Masalah psikososial dan lingkungan yaitu Ny. S tidak mempunyai masalah dengan dukungan kelompok, karena seluruh anggota keluarganya menginginkan klien untuk sembuh. Ny. S mampu beradaptasi dengan lingkungan meski membutuhkan waktu yang cukup lama. Ny. S menjalani pendidikan hanya sampai dikelas IV Sekolah Dasar. Ny. S tidak pernah bekerja sebelumnya. Ny. S tinggal di desa Pejaten yang dimana warga desanya selalu mengolok-oloknya jika dia keluar rumah. Ny. S berasal dari keluarga tidak mampu. Ny. S selalu menolak jika keluarganya mengajaknya berobat ke pelayanan kesehatan. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Koping Individu Inefektif.

Ny. S merasa dirinya tidak sakit. Klien selalu mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja, tetapi klien hanya merasa panas dalan perutnya. Masalah Keperawatan yang dialami oleh Ny. S yaitu Defisiensi Pengetahuan.

Diagnosa medis Ny. S Skizofrenia Paranoid. Terapi medis Ny. S yaitu Trihexypenidile (THP) 2x1mg, Risperidone     2x2mg, Ciprofloxacine 2x500mg Cefotaxime 3x1gr, Asam Mefenamat  3x500mg, Vitamin B1 2x1tab, Vitamin BC 2x1tab.

Berdasarkan data hasil pengkajian dapat disimpulkan dalam analisa data sebagai berikut :

Pada pengkajian didapatkan data subjektif seperti Ny. S mengatakan sering mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh Ny. S untuk kabur dari rumah. Keluarga klien mengatakan sudah 4 hari klien mencoba memaku kepalanya karena tidak bisa tidur kurang lebih sudah 3 hari. Keluarga juga mengatakan bahwa sejak 11 bulan klien juga putus obat. Sedangkan pada data objektif didapatkan data seperti Ny. S terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, Ny.S tampak kebingungan, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, pembicaraan sulit dimengerti, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, selalu mengatakan ingin pulang, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, dan Ny. S selalu merasa curiga.

Dari hasil analisa data diatas dapat disimpulkan masalah keperawatan yang di alami oleh Ny. S adalah Halusinasi Pendengaran.


 

Gangguan Pemenuhan Kesehatan

 

(Core Problem)

 

 

 

 


           

Defisit Perawatan Diri : Mandi dan Berhias

 

Isolasi Sosial

 

                       

 


Harga Diri Rendah

 

           

 

 

 


Proses terjadinya halusinasi di pengaruhi oleh multifaktor di antaranya trauma atau kehilangan seseorang yang sangat berarti di dalam hidupnya yang menyebabkan berduka disfungsional. Sehingga klien mengalami rasa tidak mampu dan tidak berdaya lagi dalam menjalani hidupnya. Saat Ny. S merasa tidak mempunyai siapa-siapa di lingkungannya, Ny. S akan menarik diri dari lingkungan dan mengalami harga diri rendah, Ny. S akan sering menyendiri dan tidak mau bersosialisasi dengan orang lain sehingga menyebabkan isolasi sosial. Halusinasi pendengaran akan sering muncul untuk menemani kesendirian yang di alami oleh orang tersebut. Ny. S akan merasa tidak mampu merawat dirinya sendiri sehingga terjadi defisit perawatn diri mandi dan berhias. Ny. S tidak akan memperdulikan kesehatan fisiknya sehingga terjadi gangguan pemenuhan kesehatan.

Ny. S menyerah dan menerima situasi tersebut, halusinasi akan sering muncul tanpa stimulus yang nyata. Klien akan menunjukkan gejala seperti berbicara sendiri, tersenyum sendiri dan menunjukkan respon verbal yang lambat. Halusinasi mulai mengontrol Ny. S sehingga Ny. S mengalami kecemasan yang sangat berat di tandai dengan tremor dan berkeringat. Saat itu klien akan merasa orang lain yang berada di sekitarnya mulai terasa berbahaya dan mengancam, sehingga klien menunjukkan sikap bermusuhan seperti marah-marah, mencederai diri sendiri, orang lain dan lingkungannya.

 

4.1.3        Diagnosa Keperawatan

Berdasarkan data hasil pengkajian Ny. S didapatkan data subjektif seperti Ny. S mengatakan sering mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh Ny. S untuk kabur dari rumah. Keluarga klien mengatakan sudah 4 hari klien mencoba memaku kepalanya karena tidak bisa tidur kurang lebih sudah 3 hari. Keluarga juga mengatakan bahwa sejak 11 bulan klien juga putus obat. Sedangkan pada data objektif didapatkan data seperti Ny. S terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, Ny.S tampak kebingungan, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, pembicaraan sulit dimengerti, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, dan Ny. S selalu merasa curiga.

Dari hasil analisa data di atas dapat disimpulkan masalah keperawatan yang di alami oleh Ny. S adalah Halusinasi Pendengaran.

 

 

 

 

4.1.4        Intervensi Keperawatan

Berdasarkan diagnosa keperawatan Halusinasi Pendengaran tujuan umum yaitu klien dapat mengontrol halusinasinya secara mandiri. Tujuan khusus klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara minum obat dengan benar, klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap, klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian.

Intervensi mengacu pada SP I yaitu klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Dengan cara bina hubungan saling percaya dengan menggunakan komunikasi terapeutik, beri salam, perkenalkan diri, jelaskan tujuan pertemuan, tunjukkan rasa empati, buat kontak yang jelas. Identifikasi halusinasi seperti isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus, perasaan, dan respon. Jelaskan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan. Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Masukkan pada jadwal kegiatan harian.

SP II klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara minum obat. Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik dan beri pujian. Latih cara mengontrol halusinasi dengan cara yang benar minum obat yaitu benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, benar frekuensi dan kontinuitas minum obat. Masukkan pada jadwal kegiatan harian.

SP III klien dapat mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap. Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik dan minum obat lalu beri pujian. Latih cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap. Masukkan dalam kegiatan harian.

SP IV klien dapat mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian. Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik, minum obat dan bercakap-cakap dan beri pujian. Latih cara mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian. Masukkan pada jadwal kegiatan.

SP V klien dapat mengontrol halusinasi dengan baik. Dengan cara evaluasi semua kegiatan dan beri pujian. Latih kegiatan harian. Nilai apakah kemampuan yang di miliki sudah mandiri. Nilai apakah halusinasi terkontrol.

Dalam pemberian intervensi keperawatan jiwa selain menggunakan Strategi Pelaksanaan (SP). Penulis juga menambahkan 1 intervensi tambahan yaitu terapi musik klasik Haydn dan Mozart. Terapi musik ini diberikan menggunakan Handphone yang terdapat audio beserta vidio sehingga klien mampu mendengar serta melihat dalam pemberian terapi musik klasik ini. Terapi musik ini diterapkan pada setiap kali penulis melakukan Strategi Pelaksanaan (SP).


 

4.1.5        Implementasi Keperawatan

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Senin, 21-08-17 Pukul 08.00 WIB yaitu pada pukul 08.00 WIB membina hubungan saling percaya dengan menggunakan komunikasi terapeutik, seperti memberi salam, memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan pertemuan, menunjukkan rasa empati, membuat kontak yang jelas dengan respon langsung Ny. S tidak menjawab salam, Ny. S hanya menyebutkan namanya dan tidak ingin bicara lagi, Ny. S berbicara sendiri dan memegang kepalanya.  Pukul 08.30 WIB mengidentifikasi halusinasi yaitu isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus, perasaan, dan respon dengan respon langsung Ny. S tidak mau menceritakan tentang halusinasinya dan kontak mata Ny. S kurang. Pukul 08.45 WIB menjelaskan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan dengan respon langsung Ny. S tidak kooperatif dan acuh tak acuh terhadap perawat. Pukul 09.00 WIB melatih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik dengan respon langsung Ny. S tidak kooperatif. Pukul 09.10 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 09.15 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mengatakan tidak menyukai musik dan tidak mau mendengarkan.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Senin, 21-08-17 Pukul 14.00 WIB yaitu pada pukul 14.00 WIB membina hubungan saling percaya dengan menggunakan komunikasi terapeutik, seperti memberi salam, memperkenalkan diri, menjelaskan tujuan pertemuan, menunjukkan rasa empati, membuat kontak yang jelas dengan respon langsung Ny. S mulai menjawab salam dengan ragu, Ny. S menyebutkan nama dan umurnya, Ny. S mengatakan ingin pulang.  Pukul 14.30 WIB mengidentifikasi halusinasi yaitu isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus, perasaan, dan respon dengan respon langsung Ny. S tidak mulai menceritakan tentang halusinasinya, seperti halusinasinya sering muncul pada malam hari, suara yang didengar adalah suara laki-laki, suara itu meminta Ny. S untuk memaku kepalanya dan kabur dari rumah, kontak mata Ny. S  kurang. Pukul 14.45 WIB menjelaskan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan dengan respon langsung Ny. S sedikit kooperatif terhadap perawat. Pukul 15.00 WIB melatih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik dengan respon langsung Ny. S dapat mengikuti perintah seperti Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya). Pukul 14.30 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 14.35 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik tapi tidak sampai selesai.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Selasa, 22-08-17 Pukul 07.00 WIB yaitu pada pukul 07.00 WIB melakukan senam rutin dengan Ny. S dengan respon Ny. S mengikuti senam tetapi tidak mau mengikuti gerakan senam. Pukul 08.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik dan beri pujian dengan respon langsung Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya).  Pukul 08.30 WIB melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara yang benar minum obat yaitu benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, benar frekuensi dan kontinuitas minum obat dengan respon langsung Ny. S tidak mampu mengingat cara yang benar minum obat. Pukul 09.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 09.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik tetapi tidak sampai selesai.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Selasa, 22-08-17 Pukul 14.00 WIB yaitu pada pukul 14.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik dan beri pujian dengan respon langsung Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya).  Pukul 14.30 WIB melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara yang benar minum obat yaitu benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, benar frekuensi dan kontinuitas minum obat dengan respon langsung Ny. S mampu mengingat dengan cukup baik cara yang benar minum obat, Ny. S menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari. Pukul 15.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 15.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik tetapi tidak sampai selesai.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Rabu, 23-08-17 Pukul 07.00 WIB yaitu pada pukul 07.00 WIB melakukan senam rutin dengan Ny. S dengan respon Ny. S mengikuti senam tetapi tidak mau mengikuti gerakan senam. Pukul 08.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik dan minum obat kemudian beri pujian dengan respon langsung  Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari.  Pukul 08.30 WIB melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan respon langsung Ny. S tidak mau bercakap-cakap dengan orang lain disekitarnya karena merasa malu. Pukul 09.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 09.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik sampai selesai.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Rabu, 23-08-17 Pukul 14.00 WIB yaitu pada pukul 14.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik dan minum obat kemudian beri pujian dengan respon langsung  Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari.  Pukul 14.30 WIB melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan respon langsung Ny. S mau dan mampu bercakap-cakap dengan orang lain disekitarnya meskipun masih terlihat malu. Pukul 14.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 14.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik sampai selesai.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 07.00 WIB yaitu pada pukul 07.00 WIB melakukan senam rutin dengan Ny. S dengan respon Ny. S mengikuti senam dan mau mengikuti gerakan senam. Pukul 08.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik, minum obat kemudian dan bercakap-cakap beri pujian dengan respon langsung  Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu bercakap-cakap dengan temannya meskipun terlihat malu.  Pukul 08.30 WIB melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian dengan respon langsung Ny. S tidak mau melakukan kegiatan harian dan hanya diam duduk diatas tempat tidur. Pukul 09.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 09.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik dan melihat video sampai selesai.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 14.00 WIB yaitu pada pukul 14.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik, minum obat kemudian dan bercakap-cakap beri pujian dengan respon langsung  Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu bercakap-cakap dengan temannya meskipun terlihat malu.  Pukul 14.30 WIB melatih cara mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian dengan respon langsung Ny. S dapat melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring dan berjalan ke kamar mandi. Pukul 15.15 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 15.30 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik dan melihat video sampai selesai.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 07.00 WIB yaitu pada pukul 07.00 WIB mendampingi Ny. S jalan berkeliling Rumah Sakit. Pukul 07.30 WIB melakukan senam rutin dengan Ny. S dengan respon Ny. S mengikuti senam dan mau mengikuti gerakan senam. Pukul 08.00 WIB mengevaluasi kegiatan menghardik, minum obat kemudian dan bercakap-cakap beri pujian dengan respon langsung  Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu bercakap-cakap dengan temannya meskipun terlihat malu, Ny. S dapat melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring dan berjalan ke kamar mandi. Pukul 09.00 WIB memasukkan pada jadwal kegiatan harian. Pukul 09.15 WIB memberikan terapi musik klasik Haydn dan Mozart dengan respon langsung Ny. S mau mendengarkan musik dan melihat video sampai selesai.

    

 

 

 

 

 


 

4.1.6        Evaluasi Keperawatan

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Senin, 21-08-17 Pukul 11.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan namanya sunnati. Objektif didapatkan data Ny. S terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah belum teratasi karena Ny. S belum memenuhi SP I. Planning mengulang Intervensi SP I dipertemuan kedua pukul 14.00 WIB.

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) pada hari Senin, 21-08-17 Pukul 16.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan namanya sunnati, umur 12 tahun, Ny. S mengatakan sering mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh Ny. S untuk kabur dari rumah, Ny. S selalu merasa ingin pulang. Objektif didapatkan data Ny. S mengikuti perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP I dengan cukup baik dan dapat memperagakan cara menghardik. Planning melanjutkan Intervensi SP II.


 

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Selasa, 22-08-17 Pukul 11.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, Ny. S mengatakan tidak mengetahui obat apa yang selalu dia minum. Objektif didapatkan data Ny. S kooperatif, mampu mengikuti perintah, mampu memperagakan cara menghardik, terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah belum teratasi karena Ny. S belum memenuhi SP II. Planning mengulang Intervensi SP II.

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Selasa, 22-08-17 Pukul 16.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, Ny. S mengingat berapa macam obat yang dia minum. Objektif didapatkan data Ny. S mengikuti perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), Ny. S dapat mengingat 2 macam obat yang dia minum, terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP II dengan cukup baik. Planning melanjutkan Intervensi SP III.

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Rabu, 23-08-17 Pukul 11.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik dan minum obat, Ny. S mengatakan mengetahui obat apa yang selalu dia minum, Ny. S mengatakan tidak tau cara bercakap-cakap. Objektif didapatkan data Ny. S kooperatif, mampu mengikuti perintah, mampu memperagakan cara menghardik dan dapat menyebutkan cara minum obat dengan yang benar, terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah belum teratasi karena Ny. S belum memenuhi SP III. Planning mengulang Intervensi SP III.

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Rabu, 23-08-17 Pukul 16.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, minum obat dan bercakap-cakap, Ny. S mengetahui obat apa yang selalu dia minum, Ny. S mengatakan mengetahui bagaimana cara bercakap-cakap. Objektif didapatkan data Ny. S mengikuti perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, klien mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), klien dapat mengingat 2 macam obat yang dia minum, Ny. S sudah mulai bercakap-cakap dengan temannya, terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP III dengan cukup baik. Planning melanjutkan Intervensi SP IV.

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 11.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik dan minum obat dan bercakap-cakap, Ny. S mengatakan mengetahui obat apa yang selalu dia minum, Ny. S mengatakan mengetahui bagaimana cara bercakap-cakap dengan orang lain untuk mengontrol halusinasinya, Ny. S mengatakan tidak tahu bagaimana cara melakukan kegiatan harian.             Objektif didapatkan data Ny. S kooperatif, mampu mengikuti perintah, mampu memperagakan cara menghardik dan dapat menyebutkan cara minum obat dengan yang benar dan bercakap-cakap dengan temannya, terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah belum teratasi karena Ny. S belum memenuhi SP IV. Planning mengulang Intervensi SP IV.

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Kamis, 24-08-17 Pukul 16.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan harian, Ny. S mengatakan mengetahui obat apa yang selalu dia minum, Ny. S mengatakan mengetahui bagaimana cara bercakap-cakap dengan orang lain untuk mengontrol halusinasinya, Ny. S mengatakan  tahu bagaimana cara melakukan kegiatan harian. Objektif didapatkan data Ny. S mengikuti perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, klien mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), Ny. S dapat mengingat 2 macam obat yang dia minum, Ny. S sudah mulai bercakap-cakap dengan temannya dank lien dapat melakukan kegiatan harian seperti mencuci piring, melipat pakaian dan membereskan tempat tidur, terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, komunikasi Ny. S kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S tampak menutup diri dengan orang-orang yang baru, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP IV dengan cukup baik. Planning melanjutkan Intervensi SP V.

Hasil evaluasi dalam Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) yang dilaksanakan pada hari Jumat, 25-08-17 Pukul 11.00 WIB yaitu subjektif didapatkan data Ny. S mengatakan suara itu masih sering datang dan mengganggunya terutama pada malam hari, Ny. S mengatakan dapat mengingat apa yang diajarkan oleh perawat tentang cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan harian. Objektif didapatkan data Ny. S mengikuti perintah perawat dan mulai kooperatif, saat diminta untuk menghardik, klien mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya), klien dapat mengingat 2 macam obat yang dia minum, Ny. S sudah mulai bercakap-cakap dengan temannya dan mampu melakukan kegiatan harian, terkadang berbicara sendiri sambil memegang kepalanya, kontak mata kurang, terdapat 2 bekas luka tusukan paku dikepala Ny. S, Ny. S selalu merasa curiga. Analisis masalah teratasi sebagian karena Ny. S dapat memenuhi SP V dengan cukup baik. Planning melakukan validasi dari SP I sampai dengan SP V.


4.2       Pembahasan

4.2.1        Pengkajian Keperawatan

Pengkajian merupakan tahap awal dan dasar dari proses keperawatan, tahap yang paling menentukan bagi tahap berikutnya (Rohmah, 2014).

Melihat data  pengkajian dari kasus Ny. S didapatkan data subjektif seperti Ny. S sering mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur. Waham yang terjadi pada Ny. S adalah waham curiga dimana Ny. S selalu mengatakan takut jika bertemu orang-orang yang baru. Melihat hasil rekam medis dan keterangan yang didapat dari Dokter Spesialis Jiwa menyatakan bahwa Ny. S mengalami Skizofrenia Paranoid.

Teori yang dikemukakan oleh Rusdi (2013) dalam Pedoman Penggolongan Dan Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III) menyatakan kriteria umum Skizofrenia Paranoid yaitu terdapat suara-suara halusinasi yang mengancam klien, memberi perintah, atau halusinasi pendengaran, waham dapat berupa hampir setiap jenis, tetapi waham dikendalikan (delusion of control), di pengaruhi (delusion of influence) atau “passivity” (delusion of passivity), serta keyakinan di kejar-kejar yang beraneka ragam adalah paling khas, gangguan afektif, dorongan kehendak dan pembicaraan, serta gejala katatonik yang relatif tidak nyata atau tidak menonjol.

Melihat fakta dan teori yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya antara fakta dan teori terdapat kesamaan tanda dan gejala yaitu terdapat suara-suara halusinasi yang mengancam klien, memberi perintah, atau halusinasi pendengaran, waham yang terjadi pada Ny. S adalah waham curiga dimana Ny. S selalu mengatakan takut jika bertemu orang-orang yang baru. Sedangkan tanda dan gejala yang tidak dialami oleh Ny. S yaitu Ny. S tidak mengalami gejala katatonik yang relatif menonjol. Ny. S tidak mengalami gerjala katatonik yang relatif tidak nyata atau menonjol dikarenakan pengaruh Neurotransmitter yang berperan menghasilkan Norephinephrine dan Dopamine menurun sehingga Ny. S tidak mengalami hiperaktivitas sehingga gejala katatonik tidak mucul. Berdasarkan tanda dan gejala tersebut maka dapat dinyatakan bahwa Ny. S mengalami Skizofrenia Paranoid.

Skizofrenia Paranoid dihubungkan dengan Neurotransmitter yang berperan dalam proses terjadinya adalah Norepinephrine. Pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid terjadi hiperaktivitas sistem dopaminergik. Availabilitas dopamin atau agonis dopamin yang berlebih dapat menimbulkan gejala Skizofrenia Paranoid seperti halusinogenik, gangguan pada proses pikir dan perilaku seseorang (Price, 2006).

Bersadarkan kasus Ny. S Skizofrenia Paranoid dipengaruhi karena respon kehilangan orang yang sangat dicintai sehingga menyebabkan Ny. S mengalami berduka disfungsional dan trauma masa lalu berupa trauma seksusl yang tidak menyenangkan sehingga Ny. S mengalami sindrom pasca trauma.

Berdasarkan fakta dan teori pada paragraf diatas kerusakan persepsi sensori yang dialami oleh Ny. S ditandai dengan mendengar suara-suara halusinasi yang mengancam dirinya. Hal ini sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Price (2006) gejala Skizofrenia Paranoid seperti halusinogenik yaitu terdapat suara-suara halusinasi yang mengancam klien, memberi perintah, atau halusinasi pendengaran. Sehingga dapat disimpulkan masalah keperawatan yang terjadi pada Ny. S adalah Halusinasi Pendengaran.

Tanda dan gejala halusinasi pendengaran yaitu gejala subjektif mendengar suara menyuruh bahkan melakukan sesuatu yang berbahaya, mendengar suara atau bunyi seseorang, mendengar suara yang mengajak bercakap-cakap, mendengar suara orang yang sudah meninggal, mendengar suara yang mengancam diri klien atau orang lain yang membahayakan (Yosep, 2016).

Hal tersebut sesuai dengan fakta yang ditemukan dari hasil pengkajian berdasarkan kasus Ny. S didapatkan data subjektif seperti Ny. S sering mendengar ada bisikan yang datang kepada dirinya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur. Bisikan itu juga menyuruh Ny. S untuk kabur dari rumah.

Melihat fakta dan teori pada paragraf sebelumnya terdapat kesamaan tanda dan gejala seperti Ny. S mendengar suara menyuruh bahkan melakukan sesuatu yang berbahaya.

Hasil pengkajian yang didapatkan dari kasus Ny. S sesuai dengan fakta yang didapat dilapangan dengan teori yang ditemukan sehingga dapat dinyatakan bahwa Ny. S mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran.

 

4.2.2        Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan merupakan penilaian klinis tentang respon individu terhadap masalah atau proses kehidupan aktual maupun potensial sebagai dasar pemilihan intervensi keperawatan untuk mencapai hasil perawat yang bertanggung jawab (Rohmah, 2014).

Diagnosa keperawatan yang muncul pada tinjauan kasus tersebut yang sesuai dengan teori adalah Halusinasi Pendengaran. Halusinasi pendengaran (Auditory-hearing voices or sounds) merupakan jenis halusinasi yang paling banyak terjadi, halusinasi pendengaran merupakan terganggunya persepsi sensori seseorang seperti mendengar suara-suara yang tidak nyata, dimana tidak terdapat stimulus (Varcarolis, 2006).

Berdasarkan data yang didapat dari pengkajian dapat disimpulakan bahwa batasan karakteristik dan tanda gejala yang dialami oleh Ny. S sesuai dengan diagnosa keperawatan Halusinasi Pendengaran yang dikemukakan oleh Yosep (2016) yaitu gejala subjektif mendengar suara menyuruh bahkan melakukan sesuatu yang berbahaya. Pada kasus Ny. S didapatkan data bahwa Ny. S sering mendengar suara-suara yang mengancam dan menyuruhnya untuk memaku kepalanya agar bisa tidur.

Berdasarkan teori dan fakta yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya, terdapat kesamaan antara batasan karakteristik yang di dapatkan dari teori dan fakta. Sehingga dapat disimpulkan bahwa Ny. S mengalami diagnosa keperawatan Halusinasi Pendengaran.

 

4.2.3        Intervensi Keperawatan

Intervensi merupakan pengembangan strategi desain untuk mencegah mengurangi dan mengatasi masalah-masalah yang telah diidentifikasi dalam diagnostik keperawatan. Desain perencanaan menggambarkan sejauh mana perawat mampu menetapkan cara menyelesaikan masalah secara efektif dan efisien (Rohmah, 2014).

Tujuan umum dilaksanakan intevensi keperawatan pada Ny. S menurut Keliat (2007) antara lain Ny. S dapat mengontrol halusinasinya secara mandiri.

Tujuan khusus dilaksanakan intevensi keperawatan pada Ny. S menurut Keliat (2007) antara lain Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara minum obat dengan benar, Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap, Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian.

Intervensi keperawatan yang dipakai dalam kasus Ny. S sesuai dengan teori pada asuhan keperawatan jiwa dengan diagnosa Halusinasi Pendengaran antara lain intervensi SP I dengan tujuan Ny. S  dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Intervensi SP II dengan tujuan Ny. S dapat memenfaatkan obat dengan baik. Intervensi SP III dengan tujuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap. Intervensi SP IV dengan tujuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian. Intervensi SP V dengan tujuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, Ny. S dapat memenfaatkan obat dengan baik, klien dapat mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap, klien dapat mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian.

Intevensi keperawatan pada keperawatan jiwa diawali dengan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK). Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) merupakan . Bentuk Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) dapat dilihat dalam Lampiran 9.

Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) terdiri dari SP I yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Dengan cara bina hubungan saling percaya dengan menggunakan komunikasi terapeutik, beri salam, perkenalkan diri, jelaskan tujuan pertemuan, tunjukkan rasa empati, buat kontak yang jelas. Identifikasi halusinasi seperti isi, frekuensi, waktu terjadi, situasi pencetus, perasaan, dan respon. Jelaskan cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan. Latih mengontrol halusinasi dengan cara menghardik. Masukkan pada jadwal kegiatan harian. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya SP I adalah agar Ny. S mampu mengontrol dan menolak halusinasi untuk datang pada dirinya dengan meyakini bahwa halusinasi itu tidak nyata.

SP II yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara minum obat. Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik dan beri pujian. Latih cara mengontrol halusinasi dengan cara yang benar minum obat yaitu benar obat, benar dosis, benar waktu, benar rute, benar frekuensi dan kontinuitas minum obat. Masukkan pada jadwal kegiatan harian. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya SP II adalah agar Ny. S mampu menghidar dari halusinasinya dengan cara mengontrol halusinasi dengan cara memanfaatkan medika mentosa untuk menghambat produksi Neurotransmitter, Norephinephrine dan Dopamin.

SP III yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap. Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik dan minum obat lalu beri pujian. Latih cara mengontrol halusinasi dengan bercakap-cakap. Masukkan dalam kegiatan harian. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya SP III adalah agar Ny. S mampu mengalihkan halusinasi yang datang kepadanya dengan melakukan interaksi atau bercakap-cakap dengan orang lain disekitarnya.

SP IV yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian. Dengan cara evaluasi kegiatan menghardik, minum obat dan bercakap-cakap dan beri pujian. Latih cara mengontrol halusinasi dengan melakukan kegiatan harian. Masukkan pada jadwal kegiatan. Hasil yang diharapkan dari terlaksananya SP IV adalah agar Ny. S mampu menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan ringan yang dapat membuat pikiran Ny. S dapat teralihkan karena kesibukannya melakukan kegiatan harian.

SP V yaitu Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan baik. Dengan cara evaluasi semua kegiatan dan beri pujian. Latih kegiatan harian. Nilai apakah kemampuan yang di miliki sudah mandiri. Nilai apakah halusinasi terkontrol. Hasil yang diharapkan dari terlaksanannya SP V adalah untuk memvalidasi seluruh SP yang sudah dijalankan mulai dari SP I sampai dengan SP IV.

Berdasarkan fakta dan teori dari kasus Ny. S didapatkan bahwa pemberian Strategi Pelaksanaan (SP) I sampai V dapat terlaksana dengan efektif dan efisien serta dapat memberikan perubahan dan hasil yang signifikan dari perubahan persepsi sensori yang dialami oleh Ny. S.

Intervensi tambahan yang diberikan kepada Ny. S adalah terapi musik. Terapi musik ini diberikan karena hasil studi (American Musik Therapy Assosiations, 2013), menyatakan bahwa terapi musik dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan, mengatur stress, mengurangi nyeri, mengekspresikan kenyataan, meningkatkan memori, meningkatkan komunikasi dan peningkatan fisik. Salah satu jenis musik yang dapat diberikan untuk klien dengan Skizofrenia Paranoid adalah jenis musik klasik (Haydn dan Mozart) yang dapat digunakan untuk memperbaiki konsentrasi ingatan dan persepsi spasial, musik klasik Mozart memiliki efek yang tidak di miliki komposer lain. Musik klasik Mozart memiliki kekuatan yang membebaskan, mengobati dan menyembuhkan (Musbikin, 2009).

Berdasarkan fakta yang didapatkan pada kasus Ny. S terlihat perbedaan yang cukup signifikan dari pemberian terapi musik klasik Haydn dan Mozart. Ny. S mampu menjalankan serta mengingat semua strategi pelaksanaan setelah diberikan terapi musik ini.

Melihat fakta dan teori diparagraf sebelumnya dapat disimpulkan bahwa pemberian terapi musik klasik yang diberikan bersamaan dengan Strategi Pelaksnaan (SP) akan memberikan hasil yang lebih maksimal dan mampu meningkatkan memori serta kemampuan berkomunikasi pada kasus Ny. S.

 

4.2.4        Implementasi Keperawatan

Implementasi merupakan realisasi rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Kegiatan dalam implementasi juga meliputi pengumpulan data berkelanjutan, mengobsevasi respon klien selama dan sesudah pelaksanaan tindakan, serta menilai data yang baru (Rohmah, 2014).

Implementasi yang dilakukan kepada Ny. S mengacu pada intervensi yang sudah dibuat menggunakan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK), Terdapat beberapa intervensi yang dimodifikasi dengan alternatif lain sehingga Ny. S mendapatkan pelayanan yang optimal. Misalnya pada saat terapi musik karena tidak ada MP3 player klien mendengarkan musik dengan Handphone.

Pada kasus Ny. S Strategi Pelaksanaan (SP) I dapat tercapai dalam 2 kali pertemuan atau 1 hari Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik dengan respon Ny. S mampu S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) setelah 2 kali pertemuan.

Implementasi SP II tercapai dalam 2 kali pertemuan atau 1 hari Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara minum obat 2 kali sehari dengan teknik yang benar dengan respon Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari setelah 2 kali pertemuan.

Implementasi SP III tercapai dalam 2 kali pertemuan atau 1 hari Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan respon Ny. S mau dan mampu bercakap-cakap dengan orang lain disekitarnya meskipun masih terlihat malu setelah 2 kali pertemuan.

Implementasi SP IV tercapai dalam 2 kali pertemuan atau 1 hari Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian dengan respon Ny. S dapat melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring dan berjalan ke kamar mandi setelah 2 kali pertemuan.

Implementasi SP V tercapai dalam 1 kali pertemuan Ny. S dapat mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara minum obat 3 kali sehari dengan teknik yang benar, Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap, Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian dengan respon Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu bercakap-cakap dengan temannya meskipun terlihat malu, Ny. S dapat melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring dan berjalan ke kamar mandi setelah 1 kali pertemuan.

Berdasarkan fakta dan teori yang didapatkan Ny. S mampu melaksanakan SP I sampai SP V dalam 5 hari dengan cukup baik. Pada hari ke-6 saat dilakukan validasi Ny. S mampu mengingat semua yang diajarkan oleh perawat.

Musik klasik yang dipakai dalam pemberian terapi pada klien yang menderita Skizofrenia Paranoid sangat besar pengaruhnya. Hal ini disebabkan karena musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu musik bersifat nyaman, menenangkan, relaksasi, berstruktur dan universal. Terapi musik klasik adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh semua orang karena tidak membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasikan alunan musik. Terapi musik klasik sangat mudah diterima oleh organ pendengaran yang kemudian melalui saraf pendengaran akan disaluran kebagian otak yang memproses emosi (sistem limbik) (Djohan, 2006).

Pada setiap pemberian Strategi Pelaksanaan (SP) diikuti dengan pemberian terapi musik klasik Haydn dan Mozart yang diaplikasikan dengan menggunakan Handphone genggam audeo beserta video. Terapi musik ini diberikan dalam waktu 15-30 menit. Ny. S mampu mendengarkan serta melihat visualisai dari musik klasik Haydn dan Mozart. Perubahan yang terjadi pada Ny. S cukup baik dan signifikan jika dibandingkan dengan pemberian intervensi yang hanya menggunakan SPTK tanpa diikuti oleh terapi musik. Terbukti dengan kemampuan Ny. S yang mampu mengingat dan memperagakan semua SP yang telah diberikan dengan baik selama 5 hari.

Berdasarkan teori dan fakta yang didapat dari paragraf di atas dapat disimpulkan bahwa perawatan standar yang ditambah dengan terapi musik terdapat penurunan yang signifikan secara statistik pada klien dengan halusinasi pendengaran setelah mendengarkan musik. Tetapi penggunaan musik klasik ini memerlukan pertimbangan khusus tentang waktu tampilan musik, tahap usia perkembangan, latar belakang budaya, aktivitas motorik dan estetika.

 

4.2.5        Evaluasi Keperawatan

Evaluasi merupakan penilaian dengan cara membandingkan perubahan dari keadaan klien (hasil yang diamati) dengan tujuan dan kriteria hasil yang dibuat pada tahap perencanaan (Rohmah, 2014).

Evaluasi keperawatan dalam keperawatan jiwa dilakukan 2 kali dalam 1 hari yaitu pada pertemuan pertama dan pertemuan kedua dengan satu masalah aktual Halusinasi Pendengaran semua Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) dari Strategi Pelaksanaan I (SP I) sampai dengan Strategi Pelaksanaan V (SP V) dapat dilaksanakan dan dilakukan dengan cukup baik oleh Ny. S.

Pada evaluasi hari pertama setelah dilakukan tindakan tentang bagaimana cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik hasilnya Ny. S dapat mengingat dan memperagakan cara menghardik dalam 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny. S tidak mampu mengingat apa yang telah di ajarkan oleh perawat tentang cara menghardik. Kemudian pada pertemuan kedua setelah dievaluasi pada pukul 16.00 WIB Ny. S mampu mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya). Terdapat perubahan yang didapatkan dari evaluasi pertemuan pertama dan pertemuan kedua dari kasus Ny. S.

Pada evaluasi hari kedua Ny. S setelah dilakukan tindakan tentang bagaimana cara mengontrol halusinasi dengan cara minum obat dengan teknik yang benar hasilnya Ny. S dapat mengingat dan memperagakan cara minum obat yang benar dalam 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny. S tidak mampu mengingat apa yang telah di ajarkan oleh perawat tentang cara minum obat dengan teknik yang benar. Kemudian pada pertemuan kedua setelah dievaluasi pada pukul 16.00 WIB Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari. Terdapat perubahan yang didapatkan dari evaluasi pertemuan pertama dan pertemuan kedua dari kasus Ny. S.

Pada pertemuan hari ketiga Ny. S setelah dilakukan tindakan bagaimana cara mengontrol halusinasi dengan cara bercakap-cakap dengan orang lain hasilnya Ny. S dapat mengingat dan memperagakan cara bercakap-cakap dalam 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny. S tidak mampu mengingat apa yang telah di ajarkan oleh perawat tentang cara bercakap-cakap dengan orang lain. Kemudian pada pertemuan kedua setelah dievaluasi pada pukul 16.00 WIB Ny. S mampu melakukan interaksi dan bercakap-cakap dengan temannya meskipun masih terlihat malu. Terdapat perubahan yang didapatkan dari evaluasi pertemuan pertama dan pertemuan kedua dari kasus Ny. S.

Pada pertemuan hari keempat Ny. S dilakukan tindakan bagaimana cara mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian hasilnya Ny. S dapat mengingat dan memperagakan cara melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur dan melipat baju dalam 2 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny. S tidak mampu mengingat apa yang telah di ajarkan oleh perawat tentang cara melakukan kegiatan harian. Kemudian pada pertemuan kedua setelah dievaluasi pada pukul 16.00 WIB Ny. S mampu melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring dan berjalan ke kamar mandi. Terdapat perubahan yang didapatkan dari evaluasi pertemuan pertama dan pertemuan kedua dari kasus Ny. S.

Pada pertemuan hari kelima Ny. S dilakukan tindakan bagaimana cara mengontrol halusinasi dengan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap dan melakukan kegiatan harian hasilnya Ny. S dapat mengingat dan memperagakan cara menghardik, minum obat, bercakap-cakap melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur dan melipat baju dalam 1 kali pertemuan. Pada pertemuan pertama setelah dievaluasi pada pukul 11. 00 WIB Ny. S mampu mengontrol halusinasi dengan cara melakukan kegiatan harian dengan respon Ny. S mengatakan “Pergi! Pergi! Kamu tidak nyata” (sambil menutup telinganya) dan Ny. S mampu menyebutkan obat THP dan RPD yang dia minum 2 kali sehari, Ny. S mampu bercakap-cakap dengan temannya meskipun terlihat malu, Ny. S dapat melakukan kegiatan harian seperti membereskan tempat tidur, mencuci piring dan berjalan ke kamar mandi setelah 1 kali pertemuan.

Hasil evaluasi pada Ny. S mampu menjalankan SP I sampai SP V dengan cukup baik dalam waktu 5 hari. Penulis menyimpulkan bahwa pada kasus Ny. S semua masalah dapat teratasi sebagian

Pada setiap kali melakukan Strategi Pelaksanaan (SP) selalu diikuti dengan pemberian terapi musik klasik Haydn dan Mozart yang dapat mempercepat keberhasilan pemberian Strategi Pelaksanaan (SP).

Ny. S mampu mendengarkan terapi tambahan yang diberikan yaitu terapi musik klasik Haydn dan Mozart dalam waktu 5 hari. Masalah aktual Halusinasi Pendengaran dapat taratasi sebagian.

Berdasarkan teori dan fakta pada kasus Ny. S didapatkan kesimpulan bahwa masalah keperwatan Halusinasi Pendengaran yang dialami oleh Ny. S teratasi sebagian.

 

 BAB V

PENUTUP

5.1       Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan hal-hal sebagai berikut berdasarkan tujuan khusus, yaitu :

5.1.1    Dalam pengkajian keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran tidak semua data hasil pengkajian sesuai dengan tinjauan teori dan latar belakang penulisan, mekanisme koping, pola hidup, sifat dan karakter klien, status sosial, lingkungan sosial budaya, tingkat pengetahuan terhadap sakitnya sangatlah berbeda, karena mengingat manusia merupakan makhluk yang unik, multidimensi dan holistik.

5.1.2    Dalam perumusan diagnosa mengacu pada teori sehingga diagnosa yang ditemukan pada kasus Ny. S adalah Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran.

5.1.3    Dalam merencanakan tindakan keperawatan pada prinsipnya tetap mengacu pada teori dan disesuaikan dengan kasus yang nyata, intervensi yang digunakan pada Ny. S menggunakan Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK) yang terdiri dari Strategi Pelaksanaan I (SP I) sampai dengan Strategi Pelaksanaan V (SP V).

5.1.4    Dalam pelaksanaan tindakan keperawatan pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran disesuaikan dengan rencana tindakan yang telah dibuat sebelumnya.

5.1.5    Dalam melakukan evaluasi dari hasil pelaksanaan tindakan keperawatan dilakukan dengan melihat kriteria standart yang telah ditetapkan pada perencanaan. Studi kasus pada klien yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran pada kasus nyata Ny. S dapat teratasi sebagian pada tanggal 25 Agustus 2017. Dengan kesimpulan masalah yang dialami oleh Ny. S yang mengalami Skizofrenia Paranoid dengan Halusinasi Pendengaran dapat menyelesaikan semua Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK).

 

5.2       Saran

5.2.1    Skizofrenia Paranoid merupakan gangguan jiwa yang sangat mudah mengalami kekambuhan sehingga sangat diperlukan peran dari anggota keluarga untuk membantu memberikan perawatan lanjutan dirumah dengan jalan meningkatkan pengetahuan keluarga mengenai penyakit yang diderita terutama mengenai tanda dan gejala timbulnya penyakit Skizofrenia Paranoid sebelum klien dipulangkan. Pemanfaatan fasilitas kesehatan yang ada untuk selalu mengontrol dan melakukan pemeriksaan ulang (Follow Up) keadaan klien dan pemberian obat yang teratur sangat penting dalam mencegah kekambuhan klien dengan Skizofrenia Paranoid.

5.2.2    Klien dengan Skizofrenia Paranoid pada umumnya akan mengalami gangguan mental dan psikologis yang labil, sehingga diperlukan keterbukaan klien dan perawat dalam proses perawatannya. Selain itu dalam perawatan diperlukan lingkungan yang mendukung serta komunikasi dengan mengacu pada Strategi Pelaksanaan Tindakan Keperawatan (SPTK).

5.2.3    Mengingat Skizofrenia Paranoid merupakan penyakit yang sangat rentan mengalami kekambuhan maka perawat perlu memberikan health education dan melibatkan keluarga yang tinggal satu rumah dengan klien. Sehingga keluarga dapat melakukan perawatan secara mandiri setelah klien pulang.

5.2.4    Masyarakat di Indonesia masih heterogen dan masih sangat perlu penyebarluasan pengertian tentang Skizofrenia Paranoid. Faktor predisposisi dan faktor presipitasi serta penatalaksanaan pada klien dengan Skizofrenia Paranoid dengan penyuluhan kesehatan secara langsung oleh petugas kesehatan ataupun tidak langsung melalui media massa, siaran radio dan televisi.

5.2.5    Klien dengan Skizofrenia Paranoid akan memiliki karakteristik yang berbeda-beda sehingga pada saat pengkajian tidak semua data pada klien sama dengan teori sehingga diperlukan suatu pendekatan atau proses keperawatan untuk mempermudah klien dalam perawatan sehingga klien dapat sembuh dari penyakitnya.

 

 DAFTAR PUSTAKA

American Psychiatric Assosiation. 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder. Edisi ke-4. USA : American Psychiatric Publishing.

American Music Therapi Assosiations. 2013. What is Music Therapy? Available from http://www.musictherapy.rg/ (Diakses pada tanggal 27 April 2017 Pukul 13.35 WIB).

Anna, Budi K. 2006. Proses Keperawatan Jiwa Edisi 2. Jakarta : EGC.

Anna, Budi K. 2014. Standar Asuhan Keperawatan. Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Indonesia.

Creswell, John W. 2014. Penelitian Kualitatif dan Desain Riset. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Data Rekam Medik. 2017. RSU dr. H. Koesnadi Bondowoso tentang Klien Skizofrenia Paranoid. Tidak dipublikasikan.

Dinas Kesehatan. 2016. Data Klien Skizofrenia Kabupaten Bondowoso. Tidak dipublikasikan.

Direja, Ade Herman S. 2011. Buku Asuhan Keperawatan Jiwa. Yogyakarta : Nuha Medika.

Djohan. 2006. Terapi Musik : Teori dan Aplikasi. Yogyakarta : Galangpress.

Durand, V. M, Barlow. 2007. Essential Of Abnormal Psychologi. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

Fauzi, A. 2006. Pengaruh Musik bagi Kecerdasan Anak. Jakarta : Harmoni.

Grocke, D. Bloch, S & Castle, D. 2008. Is There Role of Music Therapy. .Available from  http://musictherapy.com (Diakses pada tanggal 27 April 2017 Pukul 14.11 WIB).

Hawari, Dadang. 2009. Pendekatan Holistik Pada Gangguan Jiwa Skizofrenia. FKUI : Jakarta

Herdman Heather. 2017.  Diagnosis Keperawatan NANDA. Jakarta : EGC

Kementrian Kesehatan. 2014. Data Klien Skizofrenia. Available from http://Kemenkes.go.id (Diakses pada tanggal 27 April 2017 Pukul 13.15 WIB).

Kusumawati, Farida & Hartono Yudi. 2010. Buku Ajar Keperawatan Jiwa. Jakarta : Salemba Medika.

Maslim, Rusdi. 2013. Pedoman Penggolongan dan Gangguan Jiwa III (PPDGJ-III). Jakarta : PT Nuh Jaya.

Moorhead Sue.  2017. Nursing Interventions And Classifications. Jakarta : EGC

Moorhead Sue.  2017. Nursing Outcomes And Classifications. Jakarta : EGC

Musbikin, I. 2009. Kehebatan Music untuk Mengasah Kecerdasan Anak. Jogjakarta : Power Books (IHDINA).

Nursalam. 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta : Salembang  Medika.

Prabowo, H & Regina, H. 2007. Treatment Meta Music Untuk Menurunkan Stress. Available from http://repository.gunadarma.ac.id (Diakses pada tanggal 27 April 2017 Pukul 14.15 WIB).

Price, S. A. 2006. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi 6. Jakarta : EGC.

Potter & Perry. 2007. Buku Ajar Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik, Edisi 4, Volume 2. Jakarta : EGC.

Rohmah, Nikmatur. 2014. Proses Keperawatan Teori & Aplikasi. Jakarta : Ar Ruzz Medika.

Stuart, Gail. 2007. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi ke-5. Jakarta : EGC

Setiadi. 2013. Konsep dan Penulisan Riset Keperawatan. Yogyakarta : Graha Ilmu.

Varcarolis, E,M. Carson, V.B. Shoemaker, N.C. 2006. Foundation of Pdychiatric Mental Health Nursing Edisi 5. USA : Saunders Elsevier.

WHO. 2016. The World Health Report. Available from http://www.who.int.whr/2016/en.com (Diakses pada tanggal 27 April 2017 Pukul 13.55 WIB).

Yosep, Iyus. 2016. Buku Ajar Keperawatan Jiwa dan Advance Mental Health Nursing. Bandung : PT Refika Aditama

 

 

LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA

 LAPORAN PENDAHULUAN ANEMIA A. Konsep Dasar Anemia 1. Pengertian Anemia Anemia adalah keadaan rendahnya jumlah sel darah merah dan kadar...